PAHLAWAN GUNUNG

Bubu The Hero of the MountainRubah kecil Bubu sangat gembira. Perlombaan besar “Pahlawan Gunung” akan dilangsungkan keesokan harinya. Para hewan yang paling berani dan terkuat serta masyarakat akan ikut serta di dalamnya.

Bubu ingin melihat perlombaan itu dan bertemu dengan para pahlawan terkenal di dunia. Ia dengan teliti mempelajari petanya. Perlombaan akan berlangsung di puncak gunung, di kediaman penyihir burung hantu, Boran. Bubu akan mengalami perjalanan panjang besoknya…

Malam itu, Bubu tidak bisa tidur nyenyak sampai larut malam. Ia sedang melihat puncak yang sangat jauh itu, membayangkan tentang perlombaan. Ia tidak sabar menunggu datangnya pagi.

Ia bangun pagi lebih awal, menyikat giginya dan buru- buru makan sarapannya. Ia akan melakukan perjalanan jauh, maka ia harus makan makanan yang bergizi. Sarapan yang disiapkan oleh ibunya sangat lezat.

Bubu berjanji kepada ibunya bahwa ia akan berhati- hati dan kembali sebelum gelap, dan kemudian ia segera pergi ke gunung. Ia melewati padang rumput, berjalan mengelilingi bukit berbatu, dan tiba- tiba, ketika menyeberangi sungai, ia mendengar seseorang berteriak minta tolong…

Bubu celingukan dan melihat seekor kumbang yang tercebur di sungai. Lereng tepi sungai terlalu curam untuk si kumbang kecil— ia tidak bisa meloloskan diri dari sungai!— lalu ia mengayunkan kaki- kaki dan sungutnya dengan panik. Bubu mencari- cari sebuah pelampung atau ranting kayu, tetapi ia tidak menemukan apapun yang berguna. Karena waktu semakin mendesak, Bubu menenggelamkan ekornya ke dalam air yang dingin dan berteriak kepada si kumbang agar meraihnya.

Dalam beberapa saat si kumbang merebahkan diri di rerumputan, berjemur di bawah matahari— lelah tetapi sangat senang karena tertolong. Bubu pun sangat lelah, tetapi ia tidak punya waktu untuk beristirahat. Ia memeras ekornya yang mengembang karena air, dan tergesa- gesa menuju ke perlombaan.

Ia selanjutnya melihat seekor kelinci kecil di depannya yang sedang menangis dengan sedih. Ia telah kehilangan salah satu sarung tangannya dan tidak tahu cara menemukannya.

Bubu sedang tergesa- gesa untuk melihat perlombaan, tetapi ia memutuskan untuk membantu si kelinci. Ia menundukkan hidung besarnya yang peka ke tanah dan mulai mengendus- endus mencari sarung tangan si kelinci. Si kelinci mengikutinya dengan harapan.

Tidak lama kemudian Bubu menemukan sarung tangannya, terjatuh di pinggir jalan kecil. Tidak ada yang bisa sembunyi dari hidung si rubah. Si kelinci sangat gembira, dan menyeringai lebar, melompat- lompat pulang bersama sarung tangannya. Bubu buru- buru pergi ke gunung.

Ketika mendaki lereng gunung yang curam, Bubu bertemu dengan tiga semut merah yang mengangkat sebuah pintu baru untuk pos pengawasan semut yang terletak tinggi di atas gunung— para semut mengawasi kebakaran hutan dari sana. Pintunya sangat berat dan ketiga semut itu terengah- engah.

Bubu memutuskan untuk membantu mereka, meski ia sudah terlambat untuk datang ke perlombaan. Ia membawa pintu yang berat itu, dan bersama- sama dengan para semut membawanya naik ke gunung.

Akhirnya mereka sampai ke pos pengawasan para semut merah dan menyusun, bersama- sama memasang pintu di tempat yang benar. Para semut duduk di tanah, lelah dan puas. Bubu juga lelah, tetapi tidak ada waktu untuk beristirahat; ia meneruskan perjalanan, mendaki puncak.

Walaupun ia akhirnya sampai ke puncaknya, perlombaan sudah selesai. Panah- panah yang patah, sasaran panah dan pedang- pedang sudah berserakan di padang rumput puncak… tetapi semua pahlawan sudah tidak ada.

Bubu duduk dengan sedih di tanah. Ia sangat ingin melihat perlombaan dan bertemu dengan para pahlawan hebat di dunia, tetapi ia telah melewatkan semuanya.

Tiba- tiba ia mendengar kepakan sayap. Ia mendongak dan melihat penyihir burung hantu, Boran mendarat di hadapannya.

“Jangan sedih, Bubu. Kau tidak melewatkan apapun yang menarik sebetulnya. Lihat, aku memiliki benda istimewa untukmu” dan si burung hantu memberi Bubu sebuah batu kristal. “Di sini terukir: PAHLAWAN GUNUNG— ini adalah penghargaan kehormatan terbesar yang bisa didapatkan seseorang dalam perlombaan!”

“Tetapi… mengapa?” tanya Bubu sangat terkejut. “Aku belum melakukan tindakan kepahlawanan yang hebat.”

“Apakah ada tindakan yang lebih kepahlawanan daripada semua perbuatan kecil yang sudah kau lakukan hari ini?” Boran tersenyum. “Kau melewatkan perlombaan yang sangat ingin kau lihat, untuk membantu si kumbang, si kelinci dan tiga semut merah. Kaulah pahlawan gunung yang sebenarnya.”

Bubu sudah mengatur untuk pulang sebelum makan malam dan bercerita kepada orang tuanya apa yang sudah terjadi. Semua orang di rumah gembira dan sangat bangga padanya. Setelah makan malam, Bubu pergi tidur karena kelelahan dan puas. Ia ingin tidur malam yang nyenyak— mungkin saja besok pengalaman baru sedang menunggunya dan ada yang memerlukan perbuatan mulianya.

.

.

(Terjemahan dari Hero of the Mountain | penulis: IVAN PARVOV)

Advertisements

AYO BERTEMAN LAGI

Lets be Friens Again

Ini cerita tentang aku dan adikku.

Kami selalu bersama- sama, tetapi kadang adikku menjadi seorang pengganggu. Terutama saat aku sedang menjaganya.

Namun ia adalah pendengar yang baik ketika aku membacakan dongen sebelum tidur.

Kadangkala aku tidak mau berbagi barang dengannya sama sekali. Tetapi ia adalah bajak laut yang hebat!

Suatu hari adikku melakukan hal yang buruk sekali.

Ia pikir kura-kura kesayanganku butuh banyak latihan.

Lalu ia membebaskannya di kolam!

Ketika aku melihat apa yang telah ia lakukan, ku sangat marah, marah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ku kejar- kejar ia sampai ingin menghajarnya.

Namun orang tuaku tidak suka ide itu dan buru- buru memisahkan kami.

Adikku meminta maaf, tetapi aku merasa itu tidak cukup! Aku sangat marah.

Ia bahkan menawari untuk membelikanku seekor kura- kura yang baru dengan uang tabungannya. Tetapi aku tidak mau yang baru. Aku ingin kura- kuraku kembali!

Orang tuaku tidak mau tahu. Mereka seperti melindunginya. Aku pergi ke kamarku dan menghantam pintu kamar sekerasnya.

Kupikirkan banyak cara untuk menghukum adikku.

Aku berusaha untuk tidur tetapi tidak bisa.

Hingga kurasakan badanku sakit semua dan demam!

Aku sangat malas beranjak dari tempat tidur. Sementara itu, adikku sedang menyanyi dan menari di kebun. Sepertinya ia menikmati waktu terbaik dalam hidupnya.

Aku satu-satunya orang yang sedang kesal dan adikku tidak mempedulikan itu. Kura- kuraku sudah hilang! Bagaimana bisa ia melupakannya semudah itu? Aku masih marah, marah, MARAH!

Kutinju bantal- bantalku berkali- kali dan sekeras- kerasnya, dengan berteriak kencang… hingga merasa jauh lebih baik.

Akhirnya aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku bangun dan memakai sepatuku. Kemudian aku pergi ke luar di mana adikku sedang memberi makan anjing kami.

Ku berkata padanya, “Aku akan membantumu,” dan ia tersenyum.

“Ngomong- ngomong,” kulanjutkan setelah beberapa saat, “masalah kura- kura tidak apa- apa. Aku sudah tidak marah.”

“Apa itu berarti kita berteman lagi?” tanya adikku.

“Ya,” kataku. “Kita berteman lagi.”

Aku terkejut bagaimana bisa semudah itu mengatakannya. Lalu ku bertanya padanya, “Apa kau mau pergi ke toko hewan peliharaan denganku?”

“Untuk membeli seekor kura- kura baru?”

“Tidak,” kataku dan tersenyum.

“Kita akan membeli sepasang hamster,” kataku. “Satu untukku dan satu untukmu. Kita rawat mereka di akuarium yang lama.”

Adikku menggandeng tanganku dan kami berangkat.

.

.

[Terjemahan dari Lets Be Friends Again|HANS WILHELM]

Anak Penyihir

Pada suatu hari, hiduplah seorang penyihir yang jahat dan buruk rupa. Ia seburuk puding kismis yang gosong. Ia memiliki seorang anak, yang bernama Broccolina, dan ia juga tidak lebih baik daripada ibunya. Si penyihir ingin mengajari anaknya ilmu- sihir, agar bisa meneruskan jejaknya.

Namun, belum seberapa ilmu yang diajarkan oleh ibunya, Broccolina tidak sedikit pun tertarik. Ia tidak pernah mau menjadi tukang sihir maupun pekerja rumah tangga. Ia hanya ingin menjadi cantik.

Broccolina sangat mengkhawatirkan dengan penampilan buruknya, dan ia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan cermin, untuk merias wajah. Ia memoles wajahnya dengan pewarna dan mengecat kuku- kukunya sampai terlihat berkilau. Ia menata rambutnya setiap pagi, siang, dan malam, dalam berbagai bentuk yang menurutnya pantas. Ia ingin terlihat secantik mungkin, tetapi kenyataannya bahwa semua yang sudah dilakukannya hanya membuat penampilannya semakin jelek.

Suatu hari, ibunya telah pergi ke suatu tempat yang jauh. Ia berpesan kepada Broccolina untuk tetap mengaduk ramuan sihir, yang sedang direbus, sampai ia kembali.

“Mengapa aku yang harus melakukannya?” Broccolina protes.

“Kau tahu aku sangat benci mengaduk ramuan. Sendok besar ini mengelupaskan cat warna kukuku, dan uap nya membuat riasan wajahku luntur.”

“Ini harus dikerjakan!” kata ibunya sambil berjalan ke luar pintu.

“Aku akan kembali segera mungkin. Saat ini juga, teruslah mengaduk periuk itu!”

“Ini tidak adil!” Broccolina menggerutu.

Ia mengambil sendok besar dan memulai mengaduk.

Setelah beberapa lama, ia mendengar suara yang aneh di telinganya. Itu seperti sekawanan lebah yang terbang di atasnya. Ia mendongak ke atas untuk melihat apa itu.

“Oh!” ia memekik. Itu adalah bidadari baik hati, yang terbang di atasnya.

Mata Broccolina terbelalak saat melihatnya.

“Sungguh cantik bidadari itu! Seandainya aku bisa secantik dia!” ia berkata dengan iri sambil menatap sang bidadari.

“Bagaimana dia bisa sangat cantik? Pasti ada rahasianya,” ia berpikir.

“Jika aku bisa menangkapnya, mungkin aku bisa mendapatkan rahasianya. Ya, aku harus cepat dan menangkapnya.” Ia meninggalkan periuk mendidih di atas tungku, dan berlari ke dalam rumah untuk mengambil karpet ajaib.

Tetapi ibunya telah membawanya pergi.

“Oh, tidak!” ia merengut. Ia sangat kecewa karena tidak dapat menangkap sang bidadari. Ia kembali ke tempat ketel besar itu, dan mendongkol.

“Oh, bagaimana caranya agar aku bisa menjadi secantik itu?”

Ia berpikir, berpikir, dan berpikir, tetapi belum ada hal yang muncul di dalam pikirannya.

Tiba- tiba ia mendapatkan sebuah ide.

“Mungkin ibuku mempunyai resep ramuan di buku- buku sihirnya, yang untuk membuat diriku cantik seperti bidadari itu. Pasti, ia pasti punya.”

Kemudian ia berlari kembali ke dalam rumah, dan menuju ke lemari ibunya.

Ia menggeledah lemari, mencari- cari resep, membolak- balik semua buku resep sihir ibunya satu per satu. Akan tetapi ia tidak menemukan resep apapun untuk menjadi cantik seperti bidadari. Ia sangat kecewa. Ia tidak berhenti memikirkan sang bidadari cantik itu. Ia mondar- mandir dan agak emosi, tidak ingin menyerah begitu saja.

“Baiklah,” ia berpikir, “aku akan membuat sendiri resep itu, untuk menjadikanku cantik.”

Ia kemudian kembali ke tempat periuk yang sudah mendidih itu dan mengaduknya, ia masih mencoba memikirkan resepnya. “Apa bahan- bahan yang harus kugunakan untuk membuat ramuan sihir itu?” ia bertanya kepada dirinya sendiri. Ia berpikir dan berpikir, tetapi ia tidak bisa berpikir tentang cara menjadikannya cantik.

Selang beberapa lama, Broccolina merasakan ada sesuatu yang menjilati pergelangan kakinya. Itu adalah kucing abu- abu ibunya. “Pergi,” ia berkata. Kucing itu menggeliat manja di kaki Broccolina, mengeong. Ia sepertinya kesepian. Broccolina, yang sudah sejak tadi marah, menjadi semakin marah karena itu.

“Kubilang pergi!” ia membentak.

Ketika kucing itu tidak mau pergi, Broccolina menarik ekornya dan melemparkannya ke luar pintu. ‘Yeeoow!’ Kucing malang itu meraung dan berlari dengan menaikkan ekornya.

Tidak disadarinya, sebuah ekor yang sangat panjang muncul dari punggung Broccolina. Tetapi, ia masih asyik melamun jika ia menjadi secantik bidadari, hingga ia tidak mempedulikan itu. Ia mengaduk ramuannya lebih cepat, memikirkan bahan- bahan yanga harus ia masukkan.

Burung gagak ibunya melihat sesuatu yang aneh yang muncul di punggung Broccolina dan bergoyang- goyang. Dikiranya itu adalah ular, lalu ia mematuk dan menariknya keluar.

Broccolina marah karena terganggu lagi. Ia memukul burung gagak itu menggunakan sendok pengaduk. Kaki kurus burung gagak itu terlukai oleh sendok itu dan beberapa cairan ramuan tumpah di atas tanah.

Burung gagak yang malang itu memekik kesakitan dan buru- buru pergi dengan kaki pincang. Broccolina memang sengaja, ia tidak peduli telah memukul burung gagak itu. Bahkan ia tidak meminta maaf kepadanya. Ia melanjutkan mengaduk ramuan di panci besar itu. Tidak lama kemudian, ada luka- luka kecil yang muncul ke seluruh tubuhnya. Namun, ia terus memikirkan untuk menjadi cantik, hingga ia tidak menyadarinya.

Seekor kambing, yang akan disembelih ibunya untuk makan malam, mencium bau ramuan ajaib yang menetes di tanah. Ia bangun tidur dari tempat tidur jeraminya lalu menjilati tetesan ramuan itu, sebab ia sangat haus. Hal itu membuat marah Broccolina dan bahkan semakin marah, kemudian ia menendang kambing itu. Kasihan sekali, kambing yang kehausan itu berjalan sempoyongan, ketakutan dan kesakitan.

Dan, tidak berlangsung lama, Broccolina memiliki jenggot abu- abu seperti kambing itu, yang tumbuh meruncing dari dagunya dan rambutnya menjadi kasar dan kaku seperti jerami. Namun Broccolina tidak memperhatikan itu, karena ia sangat sibuk, memikirkan tentang bahan- bahan yang harus ia masukkan untuk membuat ramuan kecantikan.

Sapi yang ada di kandang, melihat rambut jerami Broccolina yang segar dan menggiurkan. Ia sangat lapar dan berpikir bahwa itu adalah tumpukan jerami, jadi ia datang untuk memakannya.

Broccolina, tanpa menyadari mengapa sapi itu mendatanginya, dengan marah melemparkan kayu bakar kepadanya. Kayu itu mengenai tanduknya dan kemudian sapi yang malang itu kabur, melenguh ketakutan.

Selang beberapa detik kemudian, dua benjolan muncul dari dua sisi kepala Broccolina dan tumbuh menjadi dua tanduk yang besar. Namun, ia tetap tidak memperhatikan!

Ketika anjing penjaga ibunya melihat makhluk asing ini, ia tidak mengetahui bahwa itu adalah Broccolina. Ia meloncat- loncat di hadapannya, menggonggong, dan menggeram.

Broccolina begitu terganggu karena gonggongannya lalu ia memukul anjing itu dengan penutup panci besar itu. Benda itu mengenai mulut si anjing sehingga ia berlari ketakutan sambil berteriak- teriak.

Tiba- tiba setengah dari semua gigi Broccolina jatuh ke dalam panci besar itu, saat ia mengaduk ramuan. Tetapi Broccolina tidak mengetahuinya, sebab ia sangat keras memikirkan cara menjadi cantik seperti bidadari.

Burung beo kecil terbangun karena mendengar keributan. Ketika ia melihat Broccolina, ia menjadi ketakutan dan terbang ke sana kemari di dalam sangkarnya.

“Oh! Broccolina,” burung beo itu berteriak, “apa yang terjadi padamu? Kau menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan kau menjadi terburuk yang pernah kulihat,” burung beo mengoceh, merasa ngeri. Broccolina geram. Ia menggoyang- goyangkan sangkarnya dan memaki- makinya. Saat ia memaki, suaranya serak dan menjadi parau, seperti berkuak- kuak.

“Oh! Ada apa ini?” Broccolina sangat kebingungan dan merasa ada yang salah. Ia berlari menuju cermin.

Saat ia melihat dirinya di cermin, ia sangat terkejut.

“Oh, tidak! Tidak, tidaaaak…” ia berteriak histeris.

“Oh, tidak, aku ingin menjadi cantik seperti bidadari.”

Ia berlari ke luar rumah, berteriak- teriak dengan kasar. Ia menjadi semakin marah. Ia menangis meraung- raung dan berguling- guling di tanah, mengutuk bidadari.

Mendengar raungan Broccolina, sang bidadari, yang terbang dalam perjalanan ke surga, datang untuk melihat apa yang terjadi. Ketika Broccolina melihat sang bidadari, ia sangat marah dan dengki.

“Kau bidadari jahat! Kau bidadari jahat!” Broccolina berteriak dengan marah, sambil mengangkat tangannya.

“Mengapa kau terbang di atasku? Sejak saat itu aku ingin menjadi bidadari sepertimu.”

Sang bidadari mendengarkan dengan tenang. Broccolina memprotes.

“Lihat apa yang terjadi padaku? Akhirnya aku menjadi mengerikan. Kau harus bertanggung jawab untuk semua ini. Sekarang, kau harus bilang kepadaku, rahasia menjadi cantik seperti bidadari. Kecuali aku akan mengajarkanmu sebuah pelajaran saat aku menangkapmu,” Broccolina berteriak dengan geram.

Sang bidadari mendengarkan dengan sepenuh hati dan berbicara kepadanya dengan tenang.

“Broccolina, tidak ada ramuan sihir yang bisa membuat siapa pun cantik seperti bidadari. Ini bukanlah rahasia. Jika kau mencintai dan menyayangi sesama, bersikaplah rendah hati dan sabar, dan hanya melakukan perbuatan baik, saat itulah kau terlihat cantik seperti bidadari. Cinta di dalam hatimu untuk sesama yang sesungguhnya membuatmu cantik.”

Dengan mulut ternganga, Broccolina mendengarkan dengan sungguh- sungguh nasihat bidadari.

“Beberapa waktu yang lalu, kau memperlakukan hewan- hewan malang ini dengan tidak baik. Itulah mengapa kau menjadi buruk. Semakin hatimu terisi dengan amarah dan dendam, keburukan datang kepadamu,” kata sang bidadari.

“Broccolina, sekarang kau harus menemui siapa pun yang sudah kau sakiti, dan rawatlah hingga mereka sembuh. Kau harus menyayangi mereka dan berbicara kepada mereka dengan penuh kasih sayang. Kau tidak boleh berbicara kasar kepada siapa pun. Maka suaramu akan menjadi lebih baik.” Sang bidadari kemudian pergi, mengepakkan sayap emasnya.

Broccolina berlari- lari dengan panik, mencari si kucing, si burung gagak, si kambing, sapi, anjing dan burung beo. Mereka semua bersembunyi darinya, di belakang kandang, memar- memar, dan merasa sangat ketakutan dan kesakitan. Ketika melihatnya, mereka semakin ketakutan. Tetapi saat ia berkata kepada mereka dengan baik, mereka menjadi terkejut, lupa akan ketakutan dan kesakitan yang mereka alami. Broccolina merawat mereka dengan sepenuh hati dan menyembuhkan luka- luka mereka dengan sabar.

Mereka semua senang dan kagum mendengar perkataan baik dari mulutnya. Sedikit demi sedikit, saat ia berbicara dengan baik kepada mereka, suaranya berubah menjadi lembut dan lembut. Saat ia mengobati luka- luka para hewan itu dengan penug kesabaran, kulitnya menjadi bersih dan memancarkan cahaya.

Ketika ia merawat mereka dengan kasih sayang, rambutnya menjadi halus dan berkilau. Ketika ia memperhatikan mereka dengan sorot mata yang lembut, matanya menjadi lebih bercahaya dan bening. Sedikit demi sedikit, ia menjadi cantik, seperti bidadari.

Dengan cepat, dua benjolan yang muncul di punggungnya berubah menjadi sayap- sayap yang indah.

“Oh!” ia terkejut, sangat bahagia dengan perubahannya. Ia melayang di udara, sambil mengepakkan sayapnya. Broccolina akhirnya menjadi bidadari dan terbang menuju surga. Setelah itu ia tidak pernah menyakiti siapa pun dan selalu menyayangi semuanya.
Diterjemahkan dari The Witch’s Daughter/ penulis: Janaki Sooriyarachchi