Rumah Darurat Pino

Di hari Sabtu yang istimewa, SD Taman Siswa mengadakan acara lomba antar sekolah. Sebagai tuan rumah, Bu Astri selaku kepala sekolah menyambut dengan hangat para murid perwakilan dari sekolah lain beserta guru pendampingnya. Setiap sekolah mengambil 5 sampai 7 murid untuk diikutkan dalam perlombaan. Dan lomba yang diadakan adalah lomba kesenian, dan keterampilan.

Acara dimulai pukul setengah delapan pagi, di halaman dalam sekolah dasar Taman Siswa. Halaman dalam sekolah itu cukup luas untuk peserta lomba yang kurang lebih ada 100 orang. Pino dan keempat kawannya, yaitu Darma, Tasya, Meida, dan Janu, sudah menempatkan diri di kotak nomor 3. Guru pendamping mereka adalah Pak Wasis, yang juga menjadi guru kesenian dan keterampilan.

“Anak- anak, semua peralatan dan perlengkapan lomba sudah siap?” tanya Pak Wasis memastikan.

“SUDAH, PAK!” jawab mereka serempak.

Pino ditunjuk teman- temannya menjadi ketua kelompok. Jadi, ia harus mampu bertanggung jawab atas kekompakan kelompoknya. Ia sendiri memiliki ide untuk membuat rumah- rumahan yang terbuat dari gypsum. Sebab, ia berpikir karyanya akan bermanfaat dan bisa ditinggali. Dari kelompok kotak nomor 4, terdengar suara keributan, yang agak mengganggu konsentrasi kelompok lainnya, termasuk kelompok Pino.

“Kita mau membuat apa sih?” kata Asta kepada ketua regu mereka. “Aku bingung.”

“Asta, jangan ngambek begitu. Kita ‘kan mau membuat gedung bertingkat seperti yang ada di Dubai itu,” kata Denis sombong sambil melirik kelompok Pino.

Pino melihat banyak triplek di kotak nomor 4. Dan lem kayu, dan tali. Gedung bertingkat di Dubai? pikirnya. Ia kemudian tersadar setelah Janu menyikut kakinya, yang terlihat gemetaran. “Kau gugup, kawan?” tanya Janu sambil mengerjakan tugasnya.

“Sstt, iya sedikit. Kulihat sketsa gambar mereka bagus sekali. Gedung bertingkat di Dubai,” kata Pino dengan rasa kagum.

“Sebaiknya kau lebih memperhatikan karya kita, Pino. Ini ‘kan idemu,” kata Meida menyela. “Walaupun sketsanya tidak sebagus mereka, tetapi aku yakin karya kita berguna.”

“Betul itu,” timpal Darma.

Sementara Tasya sedang memotong- motong plastik besar sesuai dengan polanya. Pino memutuskan untuk mulai membentuk kerangka rumah yang terbuat dari triplek tebal dan lebih tebal dari milik kelompok kotak nomor 4. Saat Pino sudah selesai membuat rangka bangunan, tiba- tiba Denis menertawakannya.

“Kau mau menginap di rumah itu ya? Hahaha…,” ejek Denis. “Waktu kurang 30 menit lagi, dan temanmu masih megaduk- aduk gypsum. Oh, semoga saja tidak hujan,” ejeknya lagi.

“Heh, dasar sombong, kau lebih baik membantu teman- temanmu itu daripada terus- terusan mengganggu kami. Lihat triplek kalian banyak yang patah karena terlalu tipis, hahaha…,” kata Tasya membalas ejekan Denis.

“Eh, sudah- sudah, tenang anak- anak!” kata Pak Wasis tiba- tiba.

Pino mencoba untuk tetap tenang dan sabar karena ia yang dituakan, meskipun badannya paling kecil. Darma mulai membuat tembok- tembok rumah dengan adonan gypsum dan dibantu oleh Janu. Pino dan yang lainnya membantu merapikan. Darma sangat senang mengutak- atik bangunan sehingga ia sudah paham strategi membangun rumah- rumahan yang baik.

Waktu tinggal 15 menit lagi, hari semakin siang dan panas. “Wah, ternyata kita tidak perlu menyalakan alat pengering rambut,” kata Darma senang. Ia sudah menyelesaikan tugasnya, dan kemudian memasang atapnya. Pino membantu Darma melekatkan atap ke kerangkanya. Dan akhirnya rumah- rumahan Pino dan kawan- kawannya selesai dengan sempurna.

Namun, panas yang terik malah membuat lemnya mencair di beberapa tempat. Dan waktu tinggal 5 menit lagi. Pino menjadi khawatir jika karyanya gagal dan tidak menang. Ia melihat ada warna yang aneh yang menempel di tembok gypsum yang sudah dicat warna biru muda. Ia kemudian meminta Darma dan Janu untuk memperbaikinya.

“Bagaimana, Darma?” tanya Pino panik.

“Tenang, bro, lemnya aman. Ini bukan cairan lem, tetapi air yang masih tersisa di gypsum,” kata Darma dengan tenang.

“Kalau seperti itu terus, bagaimana kalau gypsumnya pecah?” tanya Asta tiba- tiba.

Darma diam sejenak untuk memikirkan cara aman di detik- detik terakhir perlombaan. Ia memegang tembok luar, dan terasa basah. Kemudian ia menempelkan tangannya ke tembok dalam, dan rasanya… Hm…, Darma tersenyum.

“Eh, lihat warna temboknya!” pekik Tasya. “Indah sekali.”

“Ternyata yang kau khawatirkan tidak terjadi, Pino. Itu adalah proses pengeringan alami, jadi rumah kita tidak akan hancur,” kata Darma menenangkan Pino.

Setelah tembok- temboknya kering, Janu akan menempelkan plastik anti air transparan di atap dan tembok. Meida yang bertugas merapikannya. Setelah itu alarm berbunyi tanda waktu berkarya sudah selesai.

“Hahahahaha…,” tawa Denis ketika ia melihat kelompok Pino mengangkat rumah kecil hasil karyanya bersama teman- temannya. “Kau seperti pawang hujan, Pino. Panas- panas begini rumahmu memakai jas hujan. Kau sudah yakin akan hujan hari ini, ya?” ejek Denis.

Pino tidak menghiraukan ejekan Denis. Ia dan teman- temannya berkumpul di samping karya mereka untuk mengisi data di lembaran daftar karya lomba. Bu Sisil, yang menjadi salah satu juri lomba melihat- lihat hasil karya kelompok Pino. Ia tidak berkata apa- apa dan terus mencatat. Setelah semua peserta lomba selesai dengan urusan data- mendata, Bu Astri mengumumkan bahwa hasil penilaian akan diberikan setelah pukul 12 siang, paling lambat pukul 1 siang. Semua hasil karya ditinggal di tempat yang sudah disediakan, dan semua peserta tidak boleh menyentuhnya lagi.

Pino dan kawan- kawannya senang karena bisa menyelesaikan karyanya, sekaligus deg- deg-an karena ini adalah lomba. Pak Wasis menemui Pino untuk memberikan jajanan dan jus jeruk, serta memberikan selamat atas kekompakan kelompoknya.

“Tanganmu dingin sekali, Pino. Apa kau sakit?” kata Pak Wasis khawatir.

“Tidak, Pak, Pino hanya gugup, hihi…” sela Darma dengan becanda.

“Oh, tidak usah khawatir, menang atau kalah itu tidak penting. Yang terpenting adalah kalian bisa menyelesaikan tugas dengan baik tanpa ribut. Dan siapa tahu rumah kecil itu bisa berguna,” Pak Wasis berkata. “Ayo semua, ini dimakan dulu,”

Di saat istirahat, Pino masih memandangi rumah kecilnya yang berada di lapangan basket. Cuaca panas tiba- tiba berubah menjadi mendung. Aroma tanah basah mulai tercium. Walaupun di lapangan basket sudah dipasang terop, tetapi Pino khawatir rumah kecilnya tidak bisa bertahan lama jika tidak segera diambil. Dan ternyata, gerimis sudah mendahului penilaian para juri.

“Pak, apa kami boleh mengambil karya kami? Karena sudah gerimis, dan saya takut jika air hujan semakin deras dan merusak hasil karya kami,” kata Pino khawatir.

“Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa- apa pada karya kalian,” kata Pak Wasis tenang.

Tidak hanya hujan yang membuat Pino khawatir, tetapi juga ada seekor anak anjing yang sejak tadi menggonggong mencari induknya. Anak anjing itu milik Pak Parmin, si penjaga sekolah. Beliau sudah tua namun belum pikun, dan masih senang merawat sekolah Pino. Gerimis tipis semakin menebal, tetapi tidak sampai hujan deras. Anak anjing itu tiba- tiba menghilang, suara gonggongan kecilnya sudah tidak kedengaran.

Dan waktu untuk penilaian sudah habis. Pukul setengah 1 siang sudah bisa dimumkan hasil penilaian karya seni oleh para juri. Saat itu juga gerimis sudah berhenti. Namun, semua peserta lomba belum diperbolehkan menyentuh karyanya. Dua orang juri mengambil lima buah hasil karya saja yang dinilai paling bagus. Pino melihat rumah kecilnya juga diangkat dan dijajarkan bersama karya- karya terpilih lainnya.

“Kau lihat itu, bro, rumah kecil biasa kita menjadi luar biasa jika pindah tempat di sana,” kata Janu senang kepada Pino.

Tasya dan Meida juga senang dan deg-deg-an. Sementara kelompok Denis kepalanya semakin mendongak ke atas, sebab miniatur gedung Burj Khalifa mereka berada diurutan nomor 2. Dan hasil karya kategori paling indah adalah…

Kelompok Kotak Nomor 2, yaitu Taman Flora Mini.

Tepuk tangan riuh bergema di lapangan. Peserta kelompok kotak nomor 2 mendapat penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya kategori paling indah. Setelah keramaian berhenti, Bu Sisil mengumumkan bahwa hasil karya dengan kategori paling baik adalah…

Peserta Kelompok Kotak Nomor 3, yaitu Rumah Darurat Pino.

“YEYY!” teriak Tasya dan Meida bersamaan. Pino dan kawan- kawannya maju ke depan untuk mendapatkan penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya terbaik. Bu Astri dan Pak Wasis ikut bertepuk tangan dengan meriah dan bangga.

“Dan sesuai dengan namanya, ya,” kata Bu Sisil kemudian, “ada seekor anak anjing yang berlindung di rumah mini ini rupanya,”

Bu Sisil kemudian menyerahkan anak anjing itu kepada Pak Parmin yang sudah mencari- carinya sejak tadi pagi. Dan memberi selamat kepada Pino dan kawan- kawan atas keberhasilan mereka.

Selanjutnya, hasil karya dengan kategori paling kreatif adalah… Peserta Kelompok Kotak Nomor 5, yaitu Lukisan Otomatis. Dan hasil karya dengan kategori paling canggih adalah Peserta Kelompok Kotak Nomor 7, yaitu Kulkas Dimana Saja.

Denis kelihatan kecewa karena ia pikir perlombaan ini ada juara 1, 2 dan 3. Pino bisa melihat Denis dan kelompoknya menunduk lesu karena hasil karya mereka hanya masuk kategori paling mirip dengan aslinya.

 

Penulis: DCS

Advertisements

Rumah untuk Tikus

Di sebuah rumah, di dalam ruangan yang sangat gelap, keheningan malam hari membangunkan Whiskers. Ia menguap.

Whiskers melompat untuk menjelajah. Sinar lampu kuning pucat membuat bayangan ungu di lantai. Rumah yang sepi…

Ia berlari di sepanjang gang yang terang. Rumah ini sangat cocok untuk seekor tikus yang lapar.

Hidung merah mudanya menempel di karpet, Whiskers mencium aroma yang luar biasa. Ia menyelip ke bawah pintu berwarna cokelat tua di ujung ruang utama.

Dengan cepat Whiskers memanjat ke sebuah selimut tebal dan sangat lebar. Ia buru- buru melintasi medan yang tidak rata dan meluncur ke gundukan curam, dan licin.

Ia berguling ke kepingan kacang, remah- remah roti dan potongan keripik. Baru saja ia mau memakannya, gundukan selimut itu bergerak di bawah kakinya. Teriakan menggemparkan ruangan, mengerikan Whiskers.

Ia terpental. Melambung ke awang- awang bersama keripik dan selimut. Cahaya terang menyilaukan matanya. Ia melompat ke lantai dan berlari menuju pintu. Ketika ia berjalan keluar, sebuah benda menimpa ekornya dengan keras.

Whiskers berlari kencang menuju tempat tidurnya yang hangat dan bersembunyi di bawah adiknya. “Ada keributan apa ini?” teriak Cheesepuff, seekor tikus putih kecil.

“Ada monster besar di rumah ini,” kata Whiskers gelagapan, “sebesar gunung yang matanya bersinar, menyilaukan dan pemukul ekor yang mengerikan.”

Cheesepuff mengendus udara dan tubuhnya gemetaran, “Itu manusia. Sudah kubilang padamu rumah ini tidak aman. Kita harus pindah. Kita perlu rumah khusus tikus.”

“Tetapi,” kata Whiskers, “rumah ini rumah kita.”

“Lalu mereka yang harus pergi,” Cheesepuff menegaskan.

“Tidak,” kata Whiskers, “kita harus tinggal bersama- sama.”

Keesokan harinya mobil van oranye berhenti di depan rumah. Seorang pria berkemeja putih meletakkan jebakan lengket ke seluruh rumah dan berikutnya di tempat perburuan kesukaan Whiskers dan Cheesepuff.

Malamnya, Whiskers mengendus- endus baki beraroma lezat dan dengan hati- hati ia mencelupkan kakinya ke dalam bubur yang kelihatan lezat. Kakinya terjebak, menempel di dalam bubur itu lalu ia berteriak kencang memanggil adiknya. Cheesepuff menyentakkan dan menarik ekornya hingga kakinya keluar dari bubur yang lengket itu.

Tikus- tikus itu menunggu beberapa hari agar jebakan itu hilang. Mereka sangat lapar. Kemudian Whiskers mempunyai ide. “Ayo kita memberikan manusia itu sebuah hadiah, lalu mungkin mereka akan membiarkan kita untuk tinggal.”

Menurut Cheesepuff itu bukan ide yang bagus, dan ia bersembunyi di tempat tidurnya sementara Whiskers dengan hati- hati mengambil sayuran segar dan bunga- bunga. Ia menarik sebuah tas kecil dari kotak harta karun mereka dan mengisinya penuh dengan wewangian bunga lavender dan bunga- bunga merah muda.

Cheesepuff melihat saat Whiskers meletakkan hadiah mereka dengan baki mengerikan itu di ruang keluarga. Ia menandai seluruh tas itu dengan cap kakinya.

Esok hari, tikus- tikus itu mendengar teriakan, suara, dan tangisan. Segera, semua jebakan menghilang.

Ketika tikus kakak- beradik itu mengintip dapur malam itu, ada sebuah bungkusan besar di mana jebakan itu diletakkan. Whiskers curiga. “Jangan terlalu dekat,” ia berbisik seraya melihat sesuatu yang aneh.

“Tetapi mereka memberikan kita sebuah hadiah yang indah,” kata Cheesepuff sambil mengendus kertas pembungkus berwarna merah muda bermotif bulat- bulat dengan hidungnya.

Kedua tikus itu menyobek kertasnya dan menemukan sebuah susunan benda yang membuat mereka ingin tahu. Whiskers berguling- guling ke serutan kayu yang lembut di lantai dan menceburkan diri ke sebuah mangkok yang penuh dengan kepingan kacang, remah- remah kue dan potongan keripik. Ia berlari ke roda besar yang terus berputar dan berputar. Cheesepuff mengikutinya dan menemukan sebuah wortel di tempat lain.

“Aku basah kuyup,” teriaknya ketika ia bersandar pada botol minuman. “Inilah rumah!” kata Cheesepuff. “Benar- benar rumah kita. Sebuah rumah yang dibuat sesuai ukuran kita.”

Diterjemahkan dari A House for A Mouse | penulis: REBECCA WESTBERG

Hari yang Sibuk Kodok Barnaby

Di hari yang cerah kodok Barnaby sedang menyanyikan lagu “Seorang Polisi” dari Mikado.

Mikado adalah sebuah pertunjukan musik yang diciptakan oleh Pak Gilbert dan Pak Sulivan dan sering dinyanyikan oleh para kodok, sebab suara mereka sangat bersemangat.

Barnaby mengambil suara tinggi dengan mendongak ke langit.

Tiba- tiba ia berhenti menyanyi.

Ada burung Ork putih yang sangat besar melintas di angkasa.

Ork itu akan memangsa kodok Barnaby kecil untuk sarapan.

Barnaby melompat ke benda terdekatnya untuk berlindung. Ternyata ini adalah ember susu yang terbalik.

Dari celah bawah ember, Barnaby melihat Daisy Mazy, si gadis pemerah susu yang datang untuk memerah susu si Butterpob sapi.

Barnaby perlu tempat lain untuk bersembunyi. Ia sangat berharap sebisa mungkin.

Melompat,

Melompat- lompat,

Melompat, melompat, dan melompat…

Barnaby menceburkan diri ke bak air milik Percy si babi agar aman. Ork putih besar masih berputar- putar di atasnya di angkasa.

Mendengar suara percikan air, si Babi ingat ia sedang haus, lalu berlari menuju bak air itu.

Barnaby melihat Percy berlari sangat kencang dan terlihat sangat kehausan.

Barnaby tidak mau dirinya ikut terminum dan masuk ke dalam tubuh Percy.

Kemudian Barnaby berenang dan melompat sangat tinggi, ia mendarat di dekat tempat kubangan air.

Bukan tempat terbaik untuk bersembunyi karena terlalu sempit dan dingin.

Sebuah bekas wajan yang dibuang oleh seorang petani.

Barnaby kebigungan, apa yang harus ia lakukan.

Ketika si Percy babi berlari mendekatinya.

Kaki belakang Percy menyandung tangkai panci wajan itu. Membuat kodok Barnaby terlempar keluar dan terguling- guling.

Tidak pernah terbayangkan jika Barnaby terbang dengan sangat tinggi sekali. Namun, ia mampu, pikirnya.

Yang akhirnya melambung tinggi ke angkasa.

Ork putih besar melihat sarapannya terpelanting ke atas, lalu ia mengepakkan sayapnya berbalik arah untuk menyambar Barnaby yang malang.

Kodok Barnaby, ia terjun ke bawah.

Namun Ork putih besar hampir dekat, tidak ada yang bisa menghalanginya.

Ia bisa menangkap Barnaby kecil, tidak diragukan lagi.

Tiba- tiba ,

Dengan ceburan agak keras,

Barnaby mendarat ke kolam perairan sawah.

Barnaby bersembunyi di balik rumput- rumput liar dan bebatuan,

di dalam dasar kolam perairan sawah.

Yang Barnaby pikirkan,

ia tidak mau pindah,

Ia cukup senang, untuk satu hari yang cerah.

Diterjemahkan dari Barnaby Frog Busy Day | author: Tony J Moon

Bunga- Bunga Teman Lebah Busy

Lebah Busy (baca: bizzi) sangat sibuk. Ia harus mengunjungi banyak bunga untuk mendapatkan nektar (sari bunga) dan serbuk sari agar dia dapat membuat madu.

Pertama, ia pergi ke tempat bunga poppy. Bunga poppy memiliki empat mahkota bunga. “Halo, Poppy,” kaya Lebah Busy. “Bolehkah aku mengambil sedikit nektar untuk diminum, dan serbuk sari untuk dibuat menjadi madu?”

“Tentu saja kau boleh mengambilnya,” bunga poppy menjawab.

“Terima kasih,” kata Lebah Busy. “Ada yang bisa kulakukan untuk membalas budi?”

“Iya,” kata poppy. “Aku ingin kau membawa beberapa serbuk sari ini kepada bunga poppy yang lain.”

“Apa itu?” tanya Lebah Busy.

“Serbuk sari adalah serbuk khusus bunga,” poppy menjelaskan. “Setiap bunga membutuhkan serbuk sari dari bunga lain yang masih sama jenisnya sehingga bisa membuat biji.”

“Aku mengerti,” kata Lebah Busy. “Aku akan menemukan poppy yang lain segera!”

Dan dengan membawanya, Lebah Busy terbang untuk mencari bunga poppy yang lain.

“Halo, Poppy,” kata Lebah Busy. “Aku membawakan beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih banyak,” kata poppy. “Kau mau nektar lagi?”

“Iya mau,” kata Lebah Busy, dan dia minum nektarnya.

Poppy mengambil sedikit serbuk sari. “Sekarang aku bisa membuat bijiku, dan tahun depan biji- bijj ini akan tumbuh menjadi bunga- bunga poppy.”

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi Daisy. Bunga- bunga daisy memiliki lebih dari sepuluh mahkota bunga, dan tengahnya berwarna kuning.

“Halo, Daisy,” kata Lebah Busy. “Bolehkah aku mengambil sedikit serbuk sari dan nektar?”

“Boleh saja,” kata daisy, “tetapi kau harus berjanji untuk membawakan beberapa serbuk sari ini kepada daisy lainnya.”

“Aku berjanji aku mau,” kata Lebah Busy, dan dengan membawanya, Lebah Busy terbang menuju daisy yang lain.

“Halo Daisy,” kata Lebah Busy. “Aku membawakan beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih,” kata bunga daisy. “Sekarang aku bisa membuat banyak biji. Kau mau sedikit serbuk sariku untuk dijadikan madu?”

“Iya, mau,” kata Lebah Busy. “Terima kasih banyak.”

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga daffodil. Bunga- bunga daffodil memiliki enam mahkota bunga.

“Halo, Daffodil,” kata Lebah Busy. “Apakah kau memiliki banyak serbuk sari untukku agar kubawakan kepada daffodil lainnya?”

“Iya, aku punya,” kata daffodil, “dan masih ada sisanya untukmu untuk dijadikan madu.”

“Terima kasih,” kata Lebah Busy, dan dengan membawanya, Lebah Busy terbang ke tempat daffodil lainnya.

“Halo Daffodil,” kata Lebah Busy. “Aku membawakan beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih,” kata bunga daffodil. “Kau boleh mengambil sedikit serbuk sariku juga.”

“Terima kasih,” kata Lebah Busy.

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga mallow. Bunga- bunga mallow memiliki lima mahkota bunga berwarna ungu.

“Halo, Mallow,” kata Lebah Busy.

“Halo, Lebah Busy,” kata mallow. “Kau mau sedikit serbuk sari dan nektar?”

“Ya, tentu,” kata Lebah Busy, “dan aku mau membawakan beberapa serbuk sarimu untuk bunga mallow lainnya.”

“Terima kasih,” kata bunga mallow.

“Sama- sama,” kata Lebah Busy, dan dengan membawanya, Lebah Busy terbang untuk mencari bunga mallow lainnya.

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga lonceng biru. Bunga- bunga lonceng biru memiliki enam mahkota bunga berwarna biru, yang berbentuk seperti lonceng.

“Halo, Lonceng Biru,” kata Lebah Busy. “Apakah kau mempunyai beberapa serbuk sari?”

“Ini dia,” kata lonceng biru. “Ambilah untuk lonceng biru yang lain dan ambilah sisanya untuk dijadikan madu.”

“Terima kasih,” kata Lebah Busy, dan dengan membawanya Lebah Busy terbang menuju bunga lonceng biru lainnya.

“Halo, lonceng biru,” kata Lebah Busy. “Aku membawa beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih,” kata bunga lonceng biru. “Kau bisa mengambil sedikit punyaku juga.”

“Terima kasih banyak,” kata Lebah Busy.

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga speedwell. Bunga- bunga speedwell memiliki empat mahkota bunga berwarna biru.

“Halo, Speedwell,” kata Lebah Busy.

“Halo, Lebah Busy,” kata speedwell. “Maukah kau membantuku mengumpulkan serbuk sariku?”

“Ya, tentu,” kata Lebah Busy, “dan aku akan membawa beberapa untuk bunga speedwell lainnya darimu.”

Bunga speedwell memberi Lebah Busy beberapa serbuj sari. “Terima kasih,” kata Lebah Busy, dan serta membawanya, Lebah Busy terbang mencari bunga speedwell yang lain.

“Halo, Speedwell,” kata Lebah Busy. “Ini ada beberapa serbuk sari.”

“Terima kasih,” kata bunga speedwell. “Sekarang aku dapat membuat banyak biji agar nanti menjadi banyak bunga speedwell di tahun depan.”

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga buttercup. Bunga- bunga buttercup memiliki lima mahkota bunga berwarna kuning.

“Halo, Buttercup,” kata Lebah Busy.

“Halo, Lebah Busy,” kata buttercup. “Maukah kau membantuku untuk membawakan beberapa serbuk sari untuk buttercup yang lain?”

“Ya, baik,” kata Lebah Busy. “Tidak masalah,” katanya lagi, dan besertanya, Lebah Busy terbang mencari bunga buttercup lainnya.

“Halo, Buttercup,” kata Lebah Busy.

“Aku bukan buttercup!” kata bunga itu. “Aku adalah Primrose.”

“Tetapi kau memiliki lima mahkota bunga berwarna kuning,” kata Lebah Busy.

“Ya,” kata bunga primrose, “bunga- bunga primrose juga memiliki lima mahkota bunga, tetapi mahkota bunga kami berbeda bentuknya. Lihat, di sana bunga buttercup.”

“Oh, maafkan aku,” kata Lebah Busy, dan dengan membawa serbuk sari, Lebah Busy terbang menuju buttercup.

“Halo, Buttercup,” kata Lebah Busy, “aku membawakan beberapa serbuk sari untukmu. Maaf aku terlambat.”

“Jangan khawatir,” kata bunga buttercup. “Terima kasih sudah datang.”

Kemudian Lebah Busy menemui rumput.

“Halo rumput,” kata Lebah Busy. “Apakah kau memiliki bunga?”

“Iya, aku punya,” rumput menjawab, “tetapi mereka berwarna hijau dan cokelat, dan sangat kecil.”

“Seandainya bunga- bungamu lebih besar dan berwarna cerah, aku bisa melihatnya dengan lebih jelas dan mengunjungimu sesering mungkin untuk membawakan serbuk sarimu,” Lebah Busy mengusulkan.

“Tidak, terima kasih,” kata rumput. “Angin membawakan serbuk sari untukku.”

Kemudian Lebah Busy mengunjungi sekuntum dandelion. Bunga- bunga dandelion memiliki lebih dari sepuluh mahkota bunga berwarna kuning.

“Halo, Dandelion,” kata Lebah Busy. “Apa kabarmu hari ini?”

“Sangat baik,” bunga dandelion menjawab. “Aku memiliki banyak serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih,” kata Lebah Busy, “Aku akan mengambil beberapa untuk dandelion lainnya,” dan dengannya, Lebah Busy terbang mencari bunga dandelion yang lain.

“Halo, Dandelion,” kata Lebah Busy. “Ada beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih banyak,” kata dandelion. “Sekarang aku bisa membuat bayak biji. Lihat, dandelion itu sudah membuat biji. Biji- biji dandelion itu membentuk jam dandelion.

Lebah Busy pergi menuju jam dandelion, dan meniupnya sekencangnya.

Jam satu…

        Jam dua…

                 Jam tiga…

                          Jam empat…

Jam lima! Waktunya pulang dan minum teh.

Lain waktu saat kau berada di sebuah taman atau halaman, atau di kebun, lihatlah bunga apa saja yang bisa kau dapatkan.

Kau mungkin melihat bunga- bunga teman si Lebah Busy.

Bahkan kau mungkin melihat Lebah Busy itu sendiri, tetapi jangan mengganggunya: ingat, ia sangat sibuk!

Diterjemahkan dari Busy Bee’s Flower Friends | author: Nichola Hawkins

Ikan dan Hadiah

Di hari Jumat yang istimewa ayah Yusuf berpakaian rapi sebelum kerdipan sinar mentari menerangi langit. Ia menarik jaket tahan cuacanya yang besar dan topi wol hijau yang menutupi telinganya. Ia pamit dengan melambaikan tangan kepada anaknya. Mata Yusuf berbinar ketika Papa berkata, “Hari ini saatnya papa akan memancing ikan dan membawa pulang sebuah hadiah untukmu.”

Ikan dan hadiah? Oh, bagaimana bisa? Papa mengayuh sepeda menuju Pantai Muizenberg. Roda- rodanya berdecit sepanjang ke Simpang Surfer.

Burung camar terbang mengelilingi langit. “Apaaa? Apaaa? Apaaa?” mereka berteriak- teriak. “Apa yang akan kau bawa pulang untuk Yusuf?”

Papa membunyikan belnya. “Tunggu dan lihatlah apa itu!”

Para nelayan melihat matahari sudah terbit. Mereka memeriksa jaringnya. Mereka juga memeriksa dayungnya. Mereka merasakan angin. Mereka menarik perahunya menuju ke air. Kakek Yusuf, Oupa Salie adalah seorang nelayan yang sering melakukan perjalanan. Sebelumnya ayahnya, Oupagrootjie Ridwaan, juga akrab dengan samudera.

Perahunya dijalankan di atas ombak. Papa merentangkan lengannya saat memegang dayung. Ia menahan kedua kakinya ke samping. Lehernya tegang, otot punggungnya bereaksi.

Papa bernyanyi saat ia bekerja: “Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Sepanjang hari Yusuf melihat ke langit. Langit yang cerah dan tidak ada angin. Ikan dan hadiah! Bagaimana bisa Papa membawanya pulang dari laut? Kadang- kadang ia membawa kerang yang cantik. Kadang kala ia membawa permata hijau dari kaca yang terbilas oleh ombak.

Suatu hari ayah Yusuf bercerita. Saat mereka menemukan penyu laut di hamparan pasir pantai, berjumlah ratusan yang terdampar karena badai.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak para burung camar. “Apa yang akan kau lakukan untuk membantu penyu- penyu itu?”

Papa berkata, “Kita selamatkan penyu- penyu itu, aku berkata sungguh- sungguh. Kita kembalikan mereka ke laut, sampai yang terakhir.”

Papa selalu bernyanyi. Ia menyanyi sambil mendayung. Ia menyanyi sambil menarik jaring. Ia menyanyi saat menggulung tali. Ia bernyanyi sambil mengayuh sepedanya menuju rumah. “Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Ouma Safiya ingin satu buntut kuning yang gemuk untuk makan malamnya. Ibu ingin pakaian baru.

“Jangan bodoh,” kata Ouma. “Kau akan beruntung jika mereka bisa menangkap kepiting yang sangat kecil pun. Kemungkinan akan menjadi hari Jumat buntut ikan. Tidak ada banyak ikan di laut sana.

Yusuf menggandeng tangan Ouma. Mereka menyeberang jalan ke kamar mandi.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar itu yang bertengger di atap. “Apa makan malamnya?”

Tahun yang lalu nelayan berkelahi dengan peselancar. Saling marah dan memukul, dan melontarkan kata- kata.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar.

“Laut itu cukup luas untuk semua orang,” kata ayah Yusuf. Ia menunjukkan kepada mereka surat lisensi memancing yang telah dimiliki oleh Oupa Salie. “Ombak untuk semua. Air untuk kebebasan.”

Ouma Safiya melihat melalui lensa binokulernya, dilingkarkannya jarinya dengan rasa penasaran. Alarm hiu bersuara. Orang- orang yang berenang berlari kembali ke daratan pasir dan mengambil handuk mereka. Para peselancar buru- buru ke pantai, dengan menjepit papan mereka di bawah lengan. Di bawah pancuran mereka menanggalkan pakaian selam mereka.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar. “Apa yang akan dibawa pulang ayah Yusuf dari lautan?”

Ayah, paman dan sepupu Yusuf mendorong dan menarik. Seekor hiu kecil telah ditangkap. Ikan hiu itu terombang- ambing oleh ombak dan menjadi bangkai di laut. Ayah Yusuf membentangkan jaring, bernyanyi untuk hiu: Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Saat hiu itu terakhir bergerak ia membalikkan badannya ke dalam ombak, dengan menyisakan ekor kuningnya yang gemuk di jaring. Ouma Safiya akan senang.

Pria itu menarik perahunya dan menggulung kabel. Benda segitiga putih yang keras menempel di jari Papa.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar. “Apa yang kau bawakan untuk Yusuf?”

Saat matahari terbenam, Papa menjawab pertanyaan burung camar. “Sebuah gigi hiu keberuntungan untuk anakku.”

Di rumah Yusuf mengangkat hadiahnya ke arah bintang- bintang.

TAMAT. Diadaptasi dari cerita A Fish and a Gift

Dany dan Katak bag.3

Dany mengambil sebuah batu, diletakkannya di ketapelnya, ditarik talinya ke belakang dan membidik ke arah burung itu. Batu dilemparkan ke udara, tetapi tidak mengenai burung itu. Dengan seketika ia mengambil batu lagi. Ditembakkannya ke udara, tetapi masih meleset. Ia tidak akan putus asa setelah mengingat kata- kata Kyle kepadanya:

“Teruslah berlatih dan suatu saat kau pasti mengenai sasaran.”

Ia mengambil lagi batu yang lain dan membidik burung yang terbang melingkar itu sekali lagi.

Akhirnya batu mengenai burung hitam di bagian perutnya. “Ya, aku berhasil,” kata Dany dengan bersemangat, tetapi kemenangannya tidak berlangsung lama. Si burung berteriak kesakitan dan menjatuhkan sang raja katak. Oh tidak, batin Dany ketika melihat si burung kabur dan raja katak jatuh dengan kecepatan tinggi ke tanah.

Semua katak terpaku diam menyaksikan sang raja jatuh. Dany bergerak dengan cepat sebisanya, melengkungkan tangannya untuk menangkap raja katak. Katak- katak lainnya pun bernapas lega setelah sang raja mendarat dengan aman di tangan Dany.

“Terima kasih banyak Dan, kau sudah menyelamatkan nyawaku,” kata sang raja katak.

“Dengan senang hati yang mulia,” kata Dany kemudian meletakkan sang raja dengan hati- hati di tanah.

Sang Raja melompat menemui katak Rich dan berkata,”Sekarang aku berkata baik- baik, kuingin kau melepaskan rakyatku,”

“Jawabannya masih tidak mau,” kata katak Rich dengan keras kepala.

Dany tidak bisa membiarkannya lagi. Ia berjalan menuju katak Rich dan mengankat kakinya dan berkata, “Jika kau tidak mau membebaskan mereka aku akan menginjakmu,”

“Kau tidak akan bisa!” kata katak Rich.

“Yang mulia, bolehkah aku melakukannya untuk mengakhiri hidupnya?” Dany meminta ijin kepada raja katak. “Ya, kau boleh melakukannya, Dan,” kata raja katak sambil melirikkan matanya kepada Dany.

Dengan perlahan- lahan Dany menurunkan kakinya ke arah katak Rich.

“Oke, oke, beri aku kesempatan hidup dan ambilah katak- katakmu,” kata katak Rich. “Sekarang pergi dan bawa juga manusiamu,” lanjutnya.

“Masih ada satu lagi. Kau tidak pantas memakai itu,” kata James lalu mengambil mahkota dari kepala katak Rich dan dikembalikan kepada sang raja. “Ah ya, itu lebih baik” kata raja katak yang meletakkan kembali mahkota ke kepalanya.

Katak- katak yang mengelilinginya meminta maaf karena sudah meninggalkannya dan berterima kasih sebab sang raja tidak melupakan mereka.

“Tidak perlu meminta maaf sekarang. Kita bisa melompat pulang ke rumah, bukan?” tanya raja katak.

“Yang mulia, apa yang kita lakukan kepada katak Rich?” Dany bertanya.

“Tidak perlu Dan, dia suda kalah dalam pertempuran. Itu hukuman yang sudah cukup,” jawab raja katak.

“Terserah anda, yang mulia,” kata Dany, tetapi ia kembali kepada katak Rich dan berkata, “Jika kau masih mendekati kerajaan mereka atau mencoba menyiksa mereka, aku dan kakiku akan menemukanmu, itu janjiku! Kau mengerti katak?”

“Ya, aku mengerti,” kata katak Rich yang menunduk kalah lalu melihat mereka pergi.

“Akhirnya semua kembali dengan baik,” kata Dany setelah sampai di The Ponds.

“Memang benar, tetapi kami tidak mau lagi tinggal di sini Dan, tidak ada yang berguna untuk kami jadi kami akan berusaha mencari tempat tinggal yang lain,” kata raja katak.

“Jangan terburu- buru untuk pergi yang mulia. Aku punya rencana,” kata Dany. Ia pamit kepada sang raja dan katak lainnya, dan memulai perjalanannya ke rumah di atas bukit.

Hari- hari berlalu di The Ponds dan tidak ada tanda- tanda kedatangan Dany. “Aku takut jika dia tidak kembali, yang mulia,” kata James.

“Kupikir kau benar, James. Kita akan bersiap- siap. Kita akan meninggalkan The Ponds satu atau dua hari lagi. Tolong kirimkan pesan kepada rakyat kita,” kata sang raja.

“Kuak, kuak, kuak,” mereka mendengar dari luar bebatuan.

“Ada tiga kali kuak; itu artinya para manusi datang,” kata James.

“Mungkin itu gerombolan orang piknik yang lain. Ayo James, kita harus saling waspada,” kata sang raja.

“Yang mulia, yang mulia!” salah satu katak berteriak melompat ke hadapan sang raja.

“Apa yang terjadi sampai kau sangat gugup?” raja bertanya kepada katak yang menghadapnya.

“Itu Dany, dia kembali bersama manusia yang lain,” jawab katak itu.

“Sekarang aku mau bertemu! Ayo James,” kata sang raja. 

“Halo Dany, kau telah kembali,” kata sang raja.

“Iya, yang mulia, mereka adalah teman- temanku. Mereka juga tinggal di desa yang dekat dari sini dan ketika aku menceritakan yang terjadi di The Ponds mereka dengan segera mereka bersedia membantu,” kata Dany.

“Ini waktunya kami bertanggung jawab atas apa yang sudah kami lakukan. Kami minta maaf; kami tidak tahu jika ini akan terjadi pada The Ponds. Kami datang kemari untuk membersihkan The Ponds,” kata Kyle mewakili teman- temannya yang menganggukkan kepala tanda setuju dan kemudian mulai bekerja.

Butuh beberapa waktu The Ponds mendapatkan kejayaannya lagi, namun setelah selesai, sang raja teringat oleh Dany ketika ia sedang menikmati kolamnya yang sudah bersih.

“Air sudah bersih; para katak sedang beristirahat di atas rerumputan bersama bunga- bunga. Aku tidak tahu bagaimana berterima kasih kepadamu, Dan,” kata raja katak.

“Tidak perlu seperti itu, yang mulia; ini dilakukan demi kebaikan bersama.”
***S E L E S A I***
(Diadaptasi dari cerita Dan and the Frog)

Dany dan Katak bag.2

Dany bersama teman- teman kataknya masih di The Ponds. Dan ia sudah mengerti.

“Baiklah, aku mengerti,” kata Dany.

“Senang betemu denganmu, Dany, tetapi James dan aku harus melompat jauh, kami akan menempuh perjalanan yang panjang ke sana,” kata raja katak.

“Ribbit,” James mengiyakan.

Dany diam sebentar, ia melihat mereka pergi sambil pikir- pikir dan akhirnya ia berteriak, “Tunggu, aku ikut!”

“Terima kasih, tetapi ini bukan permasalahanmu nak,” kata raja katak.

“Aku bisa membantu, yang mulia, aku bisa membawamu agar perjalananmu lebih cepat,” kata Dany.

“Ide yang bagus, yang mulia, kita bisa menyusul katak yang lain secepatnya dengan bantuan anak ini,” kata James.

“Tepat sekali, aku sangat berterima kasih untuk bantuanmu yang murah hati, Dany,” kata raja katak. Dany berlutut dan membuka kedua telapak tangannya, satu per satu naik ke telapak tangan, dan ia mulai melangkah ke arah yang ditunjukkan oleh James.

Setelah beberapa lama mereka menempuh jalan yang penuh dengan batu- batuan besar. “Kita sudah semakin dekat,” kata James.

“Tetapi hanya ada batu- batu besar di sini,” kata Dany.

“Mereka ada dibalik batu- batu besar itu,” kata James, menunjuk dengan jari kecil hijaunya yang berselaput.

“Dany, kau bisa menurunkan kami sekarang,” kata raja katak. “Kami akan maju sendiri dari sini, Dan. Tolong sembunyilah di balik batu- batu besar yang lain. Kami akan memanggilmu jika diperlukan,” kata sang raja. Kemudian kedua katak itu melompat jauh dari Dany.

Dibalik batu- batu besar itu para katak bekerja keras, membangun rumah baru katak Rich. “Lebih cepat! Kita tak punya banyak waktu! Jeraminya harus segera disambung sebelum matahari terbenam!” Katak Rich memberi perintah. Ia duduk di tempat yang ia sebut singgasana sambil berteriak- teriak memerintah.

“Semua katak terlihat sangat lelah. Mengapa kau tidak mengijinkan mereka istirahat sementara kita berbincang?” kata sang raja kepada katak Rich serta mendekatinya. “Mereka adalah rakyatku sekarang dan akan kusuruh mereka istirahat pada waktunya. Apa yang kau lakukan di sini,kau sudah memutuskan untuk bergabung denganku?” tanya katak Rich. “Sebenarnya aku datang untuk menjemput rakyatku; mereka akan pulang bersamaku!” perintah sang raja.

Para katak mulai bersorak gembira. “Perintah, perintah!” gerutu katak Rich. “Tidak ada yang pergi, kalian tidak akan pergi kemana pun! Apa kau lupa tentang apa yang terjadi di The Ponds?” lanjutnya. Senyuman tenggelam dari wajah para katak setelah mereka ingat.

“Ya, itu benar; The Ponds tidak seperti yang dahulu. Meskipun begitu, mereka akan merasa bebas bersamaku. Jadi katak Rich, biarkan rakyatku pergi!” kata raja katak. “Tidak, mereka milikku sekarang! Mereka tidak akan pergi!” kata katak Rich.

“Aku tidak akan memaksa lagi, katak Rich, biarkan katak- katakku pergi!” kata raja katak yang mulai marah.

“Ku bilang tidak! Aku akan membuatmu mengerti bahwa kau tidak seharusnya di sini,” kata katak Rich.

Ia bersiul kepada burung hitam yang terbang berkeliling di atasnya. Dengan segera burung itu menatap katak Rich. “Makan mereka, binatang kesayanganku,” perintah katak Rich. Burung itu segera berhenti berkeliling, lalu melihat tajam raj katak dan menukik ke hadapannya.

“Awas, yang mulia!” James berteriak berusaha melindungi rajanya, tetapi terlambat. Burung itu berhasil mendapatkan sang raja dahulu dan dengan kepakan sayapnya ia mengangkat sang raja semakin tinggi dan tinggi ke atas langit.

“Kau sudah lihat akibatnya jika tidak menurutiku? Kembali bekerja! Kau juga James; tidak ada tempat untuk pahlawan.” kata katak Rich.

Tiba- tiba bayangan hitam muncul. Bayangan hitam itu semakin meluas ke seluruh tempat di mana katak- katak berkumpul. “Dia manusia!” para katak berteriak.

“Siapa?” kata katak Rich yang terkejut bukan main. “Tetapi itu tidak mungkin, mereka tidak bisa sampai ke batu- batu besar,” lanjutnya. Dany berdiri di atas katak- katak seolah raksasa, mengambil ketapel dari sakunya.

“Lindungi diri kalian, dia bukan manusia yang baik; dia memiliki senjata!” para katak berteriak ketakutan. Mereka lari kalang- kabut melompat- lompat ke berbagai arah. “Tunggu semua, dia tidak akan melukai kita, dia ke sini untuk membantu kita!” James berteriak mencoba menenangkan rakyatnya…

Dany dan Katak bag.1

The Ponds, tempat berdirinya kerajaan katak, telah terpapar polusi dari kelakuan manusia dan menjadi tidak layak huni. Salah satu harapan mereka para katak yaitu memiliki rumah yang lebih baik, terdapat banyak makanan dan air yang bersih. Mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggal dan Raja yang lama untuk kehidupan yang layak atau mereka akan…

Ketika Dany, seorang anak laki- laki dari desa yang tidak jauh bertemu dengan Raja katak, katak yang lain kembali ke The Ponds yang sudah kotor. Ia memberi tahu Raja bahwa para katak membutuhkan bantuan agar terbebas dari perbudakan. 

Bersama- sama, Dany dan kedua katak itu berencana menyelamatkan kerajaan katak dari penguasa baru mereka.

The Ponds terletak di Green Valley. Sebuah kolam yang ditinggali oleh kerajaan kecil katak. Raja mereka adalah pemimpin yang baik dan bijaksana namun keprihatinan rakyatnya tumbuh setiap hari. Makanan mereka dan sumber daya lainnya semakin berkurang seiring banyaknya polusi yang menyebar di sekitar The Ponds. Ia mengutus katak terbaiknya untuk menemukan tempat tinggal baru bagi rakyatnya, tetapi mereka kembali tanpa menemukan tempat tinggal yang baru untuk kerajaan.

Secercah harapan datang setelah ia melihat katak terakhir yang kembali dari perjalanannya. Ia segera menemui sang Raja dan berkata bahwa ia sudah menemukan tempat tinggal baru untuk kerajaan katak. Rapat diadakan di pusat The Ponds.

“Aku adalah Katak Rich, rumah baruku penuh dengan makanan dan air bersih,” kata Katak Rich. “Kau tidak bisa hidup seperti ini: rumah kita kotor dan tidak ada makanan, ikuti aku dan kau akan mendapatkan hidup yang bebas ditambah penjagaan,” ia menambahkan lalu menunjuk seekor burung hitam di angkasa. “Itu teman baruku dan dia akan meyakinkan bahwa tidak ada bahaya yang akan mendatangi kita.”

Sang Raja tidak bisa berbuat apa- apa selain melihat teman- teman katak meninggalkannya satu per satu. “Maafkan aku yang mulia, tetapi dia berjanji kepada kita kehidupan yang lebih baik di luar kolam ini: kehidupan yang penuh kemakmuran dan kebersihan,” kata salah satu katak lalu melewati sang raja.

“Tidak perlu meminta maaf,” kata Katak Rich sebelum sang raja menjawab. “Kau tidak bisa melindungi rakyatmu dan maka dari itu kau harus turun tahta!” Ia mengambil mahkota dari sang raja dan kemudian diletakkannya di atas kepalanya.

“Rakyatku, ikuti aku, jangan membuang lebih banyak waktu di tempat sampah ini. Rumah baru kita sudah menunggu!” seru Katak Rich.

Di desa dekat The Ponds tinggalah seorang anak laki- laki bernama Dany. Ia sedang bermain bersama beberapa temannya dari desa, yang berusaha menembak sasaran menggunakan ketapelnya. “Tidak, jangan lagi!” katanya ketika batu itu tidak mengenai botol plastik lagi. Anak- anak yang lain menertawainya.

“Kau harus melepaskan ketapelnya agak jauh Dan, kau tidak akan pernah mengenai sasaran,” kata salah satu dari mereka.

Mereka mungkin benar, ia berpikir sambil berjalan menjauhi tertawaan yang berisik itu. “Dany! Tunggu!” ia mendengar salah satu anak yang lebih tua memanggilnya. “Ya, Kyle?” kata Dany.

“Dengar, kau jangan pedulikan mereka. Kau harus belajar menggunakan ketapel, kau harus tetap berusaha. Suatu saat kau akan mengenai sasaran,” kata Kyle.

“Terima kasih, tetapi mereka benar, aku tidak pernah bisa melakukannya,” katanya dengan putus asa.

Dany memutuskan untuk terus berjalan sampai keluar dari desanya sementara waktu. Hari yang panas dan ia perlu tempat berteduh. “Aku akan pergi ke The Ponds sebab tempat itu sempurna untuk menenangkan diri dan melupakan benda ini,” ia menyimpan ketapelnya ke dalam sakunya.

Dany berjalan di atas bukit dan mengagumi rimbunnya pohon- pohon hijau dan tanaman yang merambatinya seperti selimut. Ia langsung merasa tenang, tetapi ketika ia sampai ke The Ponds ia benar- benar terkejut.

Ada sampah di mana- mana dan sebelumnya kolam yang bersih sekarang berwarna cokelat tua. Apa yang terjadi pada The Ponds? Siapa yang melakukan ini, pikirnya? “Pasti hewan yang tinggal di sini, itu masuk akal,” ia berkata dengan keras.

“Kuminta menjauhlah,” Dany mendengar suara. Ia melihat sekitarnya, bingung. Tidak ada siapa- siapa di The Ponds kecuali dirinya. “Aku di bawah sini manusia,” ia mendengar suara lagi. Dany melihat ke bawah dan di air ia melihat wajah hijau bermata putih besar. Dany semakin bingung. “Kubantu kau ke sana,” kata sosok hijau yang muncul dari air keruh itu. Kemudian Dany mendengar suara kuak kuak…

“Seekor katak, katak yang berbicara!” katanya.

“Ya, itu betul; aku hanya seekor katak. Dahulu aku lebih dari itu, tetapi saat usia masih mampu,” kata si katak lalu melompat di batu besar.

“Apa maksudmu?” tanya Dany.

“Dahulu aku menjadi Raja para katak, tetapi rakyatku meninggalkanku demi makanan dan air bersih, namun aku tidak menyalahkan mereka,” jawab si katak yang menjelaskan kepada Dany apa yang terjadi. “Sekarang aku sendirian di kolam yang terpolusi ini, tetapi cukup tentangku. Siapa namamu Nak?” lanjut sang Raja katak.

“Aku Dany dan aku mengerti bahwa The Ponds sudah berubah,” kata Dan.

“Itu sudah jelas. Kekacauan yang sempurna dan bangsamu yang bertanggung jawab!” kata sang raja, dengan kesal.

“Apa maksudmu ‘bangsaku’?” tanya Dany.

“Para manusia, nak, mereka yang bertanggung jawab. Mereka datang ke The Ponds, tetapi ketika mereka pergi, sampah dan kotorannya ditinggalkan di sini. Kami tidak bisa membersihakan The Ponds sendiri dan sekarang sudah hampir tidak layak huni,” kata raja katak.

“Ribbit, Ribbit!” dengar mereka.

“Oh halo James, kau telah kembali,” kata sang raja kepada seekor katak yang mendekat. James tiba- tiba berhenti ketika ia melihat manusia.

“Jangan khawatit, mendekatlah, dia teman dan kita bisa mempercayainya,” kata raja katak. “James, anak muda ini bernama Dany dan Dany ini James. Dia adalah katak penasehatku dahulu,” kata raja katak.

“Aku masih sama, yang mulia,” ia berkata,sambil menatap Dany dengan curiga. “Aku pergi hanya untuk memata- matai katak Rich dan melihat di mana dia membawa rakyat kita,” lanjut James.

“Apa yang kau temukan?” tanya Dany.

“Katak Rich berkhianat, yang mulia,” kata James, mengabaikan Dany. “Dia membawa katak- katak untuk dijadikan budaknya. Mereka membangun kerajaan untuknya; hanya ada sedikit makanan dan air. Untuk sementara ini mereka masih bertahan, tetapi aku takut jika tidak bisa lama.

“Kita harus menyelamatkan mereka,” kata raja katak.

“Tunggu sebentar, katak. Mengapa kau mau membantu mereka?” Dany bertanya. “Mereka sudah meninggalkanmu demi keinginannya akan hidup yang lebih baik. Biarkan saja mereka menjadi budak karena mereka memilih perfi dengan katak Rich,” Dany melanjutkan.

“Sebetulnya, dia bukan katak! Dia adalah ‘yang mulia’,” kata James dengan marah.

“Maafkan aku, yang mulia, tetapi mengapa kau mau menyelamatkan mereka?” tanya Dany.

“Mereka adalah katak yang baik; karena tidak punya pilihan mereka pergi bersama katak Rich. Itu bukan salah mereka yang berkhianat, tetapi mereka butuh bantuan kita dan kita bantu mereka sebisanya, Dany. Sudah saatnya kita melihat kebaikan untuk kebaikan bersama,” jawab sang raja katak…

Chuskit Pergi Sekolah

Chuskit bangun pagi lebih awal. Ini adalah hari yang sangat istimewa dan ia begitu semangat setelah bangun tidur. Ia dengan semangat melihat luar dari jendela kamarnya di samping tempat tidurnya. Di Ladakh sedang musim semi dan bunga- bunga pohon aprikot bermekaran. Dua ekor burung magpie telah memulai harinya dengan sibuk mencari serangga untuk dimakan. Ama- ley juga sudah bangun. Ia bisa mendengar suaranya di dapur, sedang membuat teh gur- gur.

Chuskit sudah bangun satu jam yang lalu. Ini adalah hari yang akan selalu ia ingat. Kau bisa menebaknya mengapa?

Tidak, bukan soal Losar, festival Tahun Baru. Masih ada banyak bulan lagi. Bukan juga soal hari istimewa di desanya, seperti festival gonpa, atau hari pernikahan.

Hari ini merupakan hari pertama Chuskit ke sekolah. Selama sembilan tahun, ia telah menunggunya dengan sangat dan sangat lama.

Sekolahnya berada tidak jauh dari rumahnya. Untuk pergi ke sana, kau harus berjalan di jalan utama.

Sebelum kuil sembahyang, kau ambil jalan sebelah kiri yang membentang di sepanjang sungai kecil.

Di dekat pohon poplar kau harus menyeberangi sungai kecil itu dengan melompat ke atas batu- batu besar. Setelah sampai ke seberang, kau berjalan di jalan pendek yang landai sampai ke sekolah. Semua anak dari Skitpo Yul, desa tempat tinggal Chuskit, berjalan kaki ke sekolah dengan leluasa setiap hari. Tetapi tidak bagi Chuskit kecil. Ia seorang penyandang disable dan tidak bisa berjalan.

Chuskit lahir dengan kedua kaki yang tidak bisa berfungsi normal seperti kaki- kaki orang pada umumnya. Ayahnya membawanya ke desa amchi dan kemudian ke para dokter di Leh. Akan tetapi tidak ada obat yang membantunya bisa berjalan. Pada awalnya, Chuskit tidak menyangka akan menjadi berbeda dengan Stobdan, adiknya, atau sepupunya. Namun nanti ada banyak hal yang tidak bisa ia lakukan semudah mereka melakukannya. “Tidak apa- apa,” hibur Aba- ley sewaktu- waktu jika ia sedih.

“Kau bisa menjahit lebih baik dari  mereka. Dan kau bisa menggambar dengan sangat bagus.”Aba- ley sering membawakan pensil warnanya dari Leh.

Chuskit duduk di jendela dapur setiap hari dan menggambar apa pun yang ia lihat sementara Ama- ley memasak. Ia melihat hewan- hewan ternak milik keluarganya makan rumput setiap pagi. Ia melihat birunya air sungai yang mengalir mendekat. Dan ia menjadi orang pertama yang memberi kabar kedatangan tamu ke rumahnya!

Chuskit menggunakan kursi yang dilengkapi roda untuk berjalan. Orang tua menyebutnya ‘kursi roda’. Kau bisa bergerak ke segala arah- maju, ke kiri, ke kanan, dan bahkan mundur- dengan menggerakkan rodanya menggunakan kedua tanganmu. Kau hanya perlu kekuatan lengan untuk mendorong berat badanmu dan kursinya.

Ketika Aba- ley membawakan kursi roda pertama kali ke rumah, setiap orang yang merupakan keluarganya sangat senang.

“Sekarang aku tidak perlu menggendong Chuskit kemana pun, aku bisa mendorongnya,” kata Ama- ley, yang mengeluarkan air mata bahagia di matanya.

“Dan aku bisa pergi kemana pun yang kumau!” sorak Chuskit dengan gembira.

“Apa aku boleh memakai kursi rodamu sekali saja? Kumohon,” rengek Stobdan. Ia juga ingin berkeliling menggunakan kursi roda. Kelihatannya menyenangkan.

Billa, si kucing hitam besar, melompat ke kursi roda dan membentangkan badannya di kursi. “Ya, ini jauh lebih nyaman daripada karung kain yang kutiduri,” katanya dengan mendengkur.

Pelan- pelan, Chuskit belajar menggunakan kursi rodanya. Ia meminta ibunya untuk mendudukkannya ke kursi roda di luar rumah setiap sore. Dari sini ia bisa melihat anak- anak pulang sekolah, mengobrol dan tertawa riang bersama.

Sementara itu, bus sore telah kembali dari Leh, membawa pulang orang- orang dari bekerja dan tempat berdagang. Begitu indahnya dunia jika dilihat dari sini daripada dari jendela dapur!

Suatu sore ketika Chuskit sedang duduk di luar rumah bersama kakeknya, seorang anak muda mendekatinya. Ia membawa sepucuk surat lalu ia serahkan kepada kakeknya. “Julley! Sopir bus itu memintaku memberikan ini kepadamu,” katanya.

“Namaku Abdul,” ia berkata pada Chuskit. “Aku belajar di kelas 6 di Sekolah Pemerintah. Aku penasaran mengapa kau tidak hadir ke sekolah,”

Julley, Abdul,” kata Chuskit. “Aku tidak pernah ke sekolah. Jalan menuju sekolah tidak rata dan penuh kerikil dan kursi rodaku akan tergelincir. Di samping itu, aku tidak bisa menyeberangi sungai kecil di depan sekolah. Sangat susah bagi orang tuaku untuk menggendongku ke sekolah dan pulang setiap hari.”

“Tetapi maukah kau pergi ke sekolah?” tanya Abdul.

“Tentu saja!” jawab Chuskit. “Aku mendengarkan celotehan adikku tentang semua yang dia lakukan di sekolah. Aku ingin belajar seperti semua orang sepertimu, punya banyak teman, bermain, memakai seragam, dan mengikuti ujian. Kadang- kadang adikku mengajariku bernyanyi yang sudah ia pelajari di sekolah, dan aku menyukainya. Kau mungkin tidak percaya, tetapi terkadang aku memimpikan memakai tas sekolah, membawa bekal makan siang…”

“Cukup! Cukup!” sela kakeknya. “Berhenti bermimpi, Chuskit. Kau tahu kau tidak bisa pergi ke sekolah. Kakek sudah mengatakan itu berkali- kali. Belajarlah apapun yang kau bisa di rumah.”

“Meme- ley, kumohon,” kata Chuskit pelan menyanggah sambil menangis ketika kakeknya meninggalkannya dengan marah. “Meme- ley tidak mengerti perasanku,” kata Chuskit.

“Aku ingat saat adikku menceritakan tentang mejanya dengan bangga, juga saat dia belajar membaca! Orang tua ku sangat senang sebab mereka tidak pernah ke sekolah. Aku juga ingin belajar membaca dan berhitung. Kau mengerti?”

“Iya,” kata Abdul. “Chuskit, sampai jumpa lagi. Aku harus pergi sekarang. Ibuku sudah menungguku. Julley!

Di hari selanjutnya, Abdul menghadap di ruang kepala sekolah setelah pertemuan. “Julley, Azhang- ley!” katanya. “Saya ingin berbicara dengan Anda tentang seorang gadis dari desa kita yang tidak bisa pergi ke sekolah. Namanya Chuskit. Dia adalah kakak Stobdan.”

“Oh iya,” jawab kepala sekolah. “Aku tahu dia. Dia seorang penyandang disable, bukan?”

“Iya, Azhang- ley. Dia menggunakan kursi roda untuk berjalan tetapi tidak bisa ke sekolah, sebab jalan dari rumahnya sangat jelek dan tidak rata. Saya berharap kalau kita bisa melakukan apapun untuk membantunya, Azhang- ley. Kita bisa melakukannya bersama- sama dan meratakan jalan dan juga membangun jembatan kecil untuk menyeberangi sungai.”

“Kau sangat bijaksana, Abdul,” kata kepala sekolah sambil menepuk punggungnya. “Apa yang membuatmu peduli kepada Chuskit dan masalahnya?”

“Azhang- ley, minggu lalu kita mempelajari tentang hak asasi manusia di kelas kewarganegaraan kita. Semua anak berhak mengenyam pendidikan. Itu termasuk Chuskit juga, bukan?”

“Ya, kau benar, Abdul. Biarkan aku membicarakan ini dengan guru- guru lainnya dahulu,” jawab kepala sekolah.

Di hari selanjutnya kepala sekolah memanggil semua guru untuk rapat. Beliau menceritakan saran Abdul kepada mereka dan meminta para guru untuk menanggapinya.

“Tidak mungkin!” kata salah satu dari mereka. “Bagaimana mungkin kita memiliki murid yang disable di sekolah kita? Bagaimana dia akan menulis, bermain dan pergi ke toilet seperti yang dilakukan oleh anak- anak lainnya?”

“Itu yang harus kita kerjakan sebenarnya,” kata kepala sekolah. “Saya dengar di desa Mentok Yul, komite pendidikan desa telah membantu pembangunan toilet khusus untuk salah satu anak- anak penyandang disable mereka. Kita bisa menanyakannya apa yang sudah mereka kerjakan. Tetapi pertama- tama kita ijinkan Chuskit ke sekolah dahulu. Setelah itu kita pikirkan cara membantunya melakukan hal- hal di sekolah.”

Dua minggu kemudian ada keramaian di Sekolah Pemerintah. Semua anak berkumpul di taman bermain.

Mereka datang ke sekolah tanpa membawa tas sekolah mereka: akan tidak ada kelas hari ini!

Para guru membagi muridnya ke dalam kelompok. Satu kelompok bekerja di depan rumah Chuskit, dan lainnya di jalan sepanjang sungai. Kelompok tiga bersama beberapa murid yang lebih tua bekerja keras membantu beberapa gurunya yang membangun jembatan kayu yang kokoh menyeberangi sungai.

Anak- anak tertawa dan bernyanyi saat mereka memindahkan batu batu kecil dan besar, meratakan jalan, dan menggotong papan ke sungai.

Kepala sekolah menemui satu kelompok ke kelompok lainnya, memastikan jika semua berjalan sesuai rencana.

Orang tua Chuskit menyuguhkan teh panas dan kue- kue kepada setiap orang. Kakek Chuskit duduk di bawah pohon willow di dekat sungai melihat kesibukan anak- anak sekolah. “Aku tidak pernah menyangka akan mengalami hari seperti ini!” ia berbicara kepada dirinya sendiri sambil menyeka air mata yang mengalir jatuh ke pipinya.

Di saat terakhir hari ini semua sangat lelah tetapi sekumpulan anak- anak itu gembira ketika kembali ke rumah masing- masing. Jalan dari rumah Chuskit menuju sekolah sudah jadi sekarang!

Chuskit akan pergi ke sekolah untuk pertama kali dalam hidupnya. Dan itulah mengapa ia sangat bersemangat!

***

(adapted from Chuskit goes to School)