Cerita Sepanjang Jalan

Pukul setengah 1 siang, aku baru saja melewati terminal Kedunggalar. Setelah jembatan 5 menit kemudian, kuparkir sepeda motor maticku di dekat lincak yang biasanya untuk berjualan es degan berjajaran di pinggir hutan Banjarejo. Kupikir hari ini aku bisa beristirahat dan berteduh di bawah naungan hutan jati sambil menikmati kesegaran air kelapa muda. Namun, kecele’. Siang ini tidak ada satu pun orang yang membuka warungnya. Terpaksa ku menahan rasa haus. Jakunku naik turun mengobati serak. Tanganku mencari- cari rokok di semua saku baju, kucabut sebatang lalu kunyalakan.

Lincak menjerit ketika tertimpa badanku. Aku merebahkan diri sambil meregangkan tulang belakang yang sudah terasa linu. Sudah hampir 5 jam bermotoran tanpa istirahat sejak berangkat dari kota Malang pukul 7 pagi tadi. Perkiraanku setengah jam lagi bisa sampai di rumah. Sambil tiduran, angan- anganku mengingatkan tentang jalan- jalan yang sudah kulewati. Tikungan jalan di tepi jurang Songgoriti yang meliuk- liuk seperti ular berjalan, sepintas saja. Lalu teringat kakak perempuanku yang baru kujenguk. Kasihan aku jika mengingat itu. Sudah ditinggal suaminya meninggal dunia saat anak- anaknya masih membutuhkan biaya.

Sayang, hanya bisa merasa iba sebab tidak bisa membantu apa- apa selain doa dan menjenguknya di sela- sela pekerjaan longgar seperti saat ini, kebetulan saat memperingati 7 hari kematian kakak iparku. Semoga Gusti selalu memberi ketabahan dan jalan terang, doaku dalam batin.

Karena terbawa capek dan mata sudah pedas, hampir saja aku tertidur. Baru mau terlelap tiba- tiba dikagetkan oleh suara raungan sepeda motor yang direm kencang. Sepertinya ada juga yang mau beristirahat di tempat ini. Aku bangun dengan agak malas. Rokok kuhisap sekali lagi sebelum kubuang. Dengan mata kriyip- kriyip, aku mengamati seorang pria setengah baya itu berjalan mendekati lincak tempatku beristirahat. Ia diikuti oleh seorang wanita yang menggendong tas besar, seperti mau bepergian jauh.

“Permisi, saya ikut leren di sini ya, Mas.” Tanpa menunggu jawabanku pria itu langsung duduk di sampingku sambil menyuruh wanita tadi supaya ikut duduk.

“Iya, silakan. Saya juga sama, sedang beristirahat,” jawabku sambil melihat- lihat sepeda motor yang diparkir agak jauh. “Dari bepergian jauh ya, Mas?” tanyaku setelah memastikan asal sepeda motor dari plat nomornya.

“Mau ke Jogja, Mas, dari Sidoarjo,” jawab pria itu. Aku mengangguk. Aku bisa merasakan betapa lelahnya badan, dari Sidoarjo menuju Jogja hanya bermotoran sebab diriku sendiri yang dari Malang saja rasanya sudah tidak karuan.

“Saya juga baru dari Malang kok Pak, menjenguk saudara,” tanpa ditanya aku membuka pembicaraan. Daripada hanya diam kok malah tidak enak. Setelah membuka pembicaraan, aku berkenalan dengan mereka yang menjadi teman beristirahat di hutan Banjarjo ini.

Parlan, singkat saja ia menyebutkan namanya. Lalu wanita di sebelahnya diaku istrinya bernama Prihatin. Bu Prihatin asli orang Jogja, sedangkan Pak Parlan asli orang Sidoarjo. Mereka berangkat dari Sidoarjo lebih pagi dariku pukul 5 pagi. Sempat tersesat keliru memilih jalan ke Jombang. Malah ban sepeda motornya juga habis bocor terkena paku di Karangjati. Pak Parlan bercerita panjang lebar sementara aku lebih senang mendengarkannya saja. Tidak terasa sudah hampir satu jam. Ceritanya tidak selesai- selesai sampai membicarakan hal yang termasuk pribadi.

“Sudah hampir limabelas tahun saya dan istri tidak menjenguk orang tua, Mas,” Pak Parlan meneruskan ceritanya.

“Sejak saya berumah tangga dengan ibunya anak- anak ini masih belum direstui oleh orang tuanya, terutama ibu. Ya mungkin wajar karena saya ini duda beranak satu dan Prih masih perawan.” Pak Parlan menghentikan ceritanya. Matanya mengikuti jalannya bus yang baru lewat. Setelah suara gemuruh mesin bus semakin menjauh kemudian dilanjutkan lagi ceritanya.

“Waktu itu, saya dan Prih sudah bertekad bekerja menjadi apapun agar bisa bertahan hidup dengan berbagai resikonya. Dan seperti dibuang, setelah menikah saya langsung disuruh pergi dan tidak boleh pulang sebelum ibu memberi restu. Walaupun begitu, setiap tahun saya selalu mengirim surat, untuk minta maaf kepada ibu agar mau menerima saya lagi, eh ternyata ibu belum mau, Mas. Apa karena saking marahnya atau bagaimana, hidup saya dengan Prih ini terasa berat, mencari rejeki tidak lancar,” Pak Parlan kembali menghentikan cerita. Matanya berkaca- kaca, begitu pula dengan Bu Prih, istrinya.

“Terus sekarang kok mau pulang ke Jogja?” selaku.

“Kemarin saya menerima surat, sudah dua minggu ini ibu sakit Mas, isi suratnya, ibu ingin saya dan Prih menjenguk beliau. Maka dari itu saya agak tergesa- gesa berangkat. Bekal uang ya hanya seadanya itu juga meminjam dari teman. Belum sarapan, cuma membawa air mineral ini saja. E.. kok ya tersesat, ban terkena paku, ada saja halangannya di jalan. Jujur saja Mas, uang saya untuk bekal tinggal duapuluh ribu, sementara perjalanan masih jauh. Untuk bensin saja apa ya cukup? Saya dan istri sudah musyawarah, kalau uangnya tidak cukup untuk bekal perjalanan terpaksa sepeda motor itu dijual di jalan saja. Lalu kami meneruskan ke Jogja dengan naik bus. Pokoknya harus bisa sungkem ibu, itu saja tekad saya, Mas.”

“Jlebb…!” rasanya hatiku seperti ditusuk. Tumbuh rasa iba dengan cerita Pak Parlan. Tadinya memang ada prasangka buruk. Jangan- jangan ceritanya Pak Parlan ini hanya modus orang berniat jahat yang memanfaatkan belas kasihan orang. Namun segera prasangka itu kubuang jauh- jauh. Sepintas, angan- anganku kembali kepada kakak perempuanku yang baru saja kujenguk. Sementara suasana menjadi hening. Hanya kedengaran suara angin yang menghempas dedaunan di antara gemuruh mesin kendaraan yang berlalu- lalang. Memang jalan ini tidak pernah sepi.

Aku ingat di saku celanaku masih ada sisa uang tujuhpuluh-empat ribu. Perkiraanku bensin di motor maticku juga masih cukup hanya untuk sampai ke rumah. Pegangan duapuluh ribu cuma untuk berjaga- jaga jika ingin beli minuman di jalan. Kulirik Pak Parlan yang kelihatan merenung.

Nuwun sewu, Pak. Ini ada sisa uang. Bisa kalau untuk beli bensin saja,” kataku sambil menyalami Pak Parlan. Lembaran limapuluh ribu kuselipkan di tangannya. Pak Parlan terkejut. Ada rasa bingung dan tidak enak.

“Tidak apa- apa, Pak. Ini diterima saja.” Dengan setengah memaksa tangannya Pak Parlan kugenggam erat sekalian berpamitan.

“Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih,” Mata Pak Parlan berkaca- kaca ketika berterima kasih kepadaku. Matahari mulai bergulir ke barat ketika moto matic yang kutunggangi meninggalkan pinggiran hutan Banjarjo. Meninggalkan Pak Parlan, istrinya dan cerita panjang yang menjerat kehidupannya. Kuteruskan perjalanan menurut jalan- jalan sepanjang hutan, yang berbelok- belok seperti nasib manusia…

***

Sebenarnya aku sudah hampir lupa tentang peristiwa di hutan jati Banjarjo itu apalagi sudah hampir dua tahun yang lalu. Tetapi orang yang baru saja masuk ke rumah makan dan langsung ke belakang meja kasir itu mengingatkanku akan peristiwa yang lalu. Jika diperhatikan, sekarang badannya agak berisi dan kulitnya kelihatan bersih. Kuseruput kopiku yang masih hangat. Kuamati jalan kota Jogja yang dijejali banyak kendaraan. Sudah mirip Jakarta saja, batinku. Hari ini hari terakhirku menyelesaikan tugas pelatihan, jadi mumpung ada waktu sebelum pulang kupuaskan berkeliling kota Jogja. Dan kebetulan sampai ring-road keluar kota sudah menjelang waktu ashar, perutku juga terasa lapar lalu mampir ke sebuah rumah makan yang terlihat ramai pengunjungnya.

Kulihat pria yang di belakang meja kasir itu, yang masih memberi arahan para pegawainya. Siapa tahu ia yang memiliki rumah makan ini. Kupastikan lagi, apa betul pria itu Pak Parlan. Setelah menghabiskan wedang kopi di gelasku, langsung saja aku berdiri. Melangkah mendekati meja kasir.

“Sudah Mbak, rawon dan kopi tambah krupuknya dua.” Dompet kucabut. Sengaja aku mengeraskan suara agar menarik perhatian pria itu. Dan benar ia menengok ke arahku dan mengamatiku. Beberapa detik aku dan pria itu saling melihat dan mengingat.

“Mas Arif ya?!” teriak pria itu yang duluan menyapa.

“Pak Parlan?” balasku menyapa.

Wis- wis Ndhuk, jajannya Mas ini tidak usah dimasukkan. Wah mimpi apa ini tadi, sudah datang saja. Mari, Mas duduk dahulu, mari duduk,” dengan tergopoh- gopoh pria yang ternyata Pak Parlan itu mengajakku. Tanganku ditarik menjauhi meja kasir, menuju meja di pojok rumah makan.

Tidak bisa diungkapkan sangat bahagianya Pak Parlan dan aku yang bisa bertemu kembali. Ceritanya tetap panjang lebar seperti dahulu sampai tidak bisa disela. Apalagi saat menceritakan kelanjutan setelah berpisah di pinggiran hutan Banjarjo.

“Saya sampai Jogja sini pas Maghrib Mas. Wah, seumpama saya tidak bertemu Njenengan di hutan kala itu, ya tidak tahu lah Mas.”

Keningku mengkerut menunggu cerita selanjutnya.

“Ibu meninggal sehari setelah saya dan Prih datan ke rumah, Mas. Saya beruntung masih diberi kesempatan untuk meminta maaf. Begitu juga ibu, ya sudah bisa ikhlas menerima keadaan saya dan Prih. Malah, sebelum meninggal dengan disaksikan semua putra, memberi wasiat agar saya dan Prih meneruskan usaha Rumah Makan ini, Mas.”

Tidak banyak yang kukatakan. Sampai Pak Parlan selesai bercerita dan aku pamit pulang sebab waktu semakin sore. Sebenarnya Pak Parlan ingin aku menginap di rumahnya. Tetapi karena sudah pamit kepada ibunya anak- anak hanya tiga hari jadi aku nekat pulang saja. Dan kutinggalkan kota Jogja ketika azan Maghrib berkumandang. Melewati jalan jurusan Solo yang selalu ramai oleh kendaraan. Muyeg seperti cerita kehidupan manusia.

***

Rumah Darurat Pino

Di hari Sabtu yang istimewa, SD Taman Siswa mengadakan acara lomba antar sekolah. Sebagai tuan rumah, Bu Astri selaku kepala sekolah menyambut dengan hangat para murid perwakilan dari sekolah lain beserta guru pendampingnya. Setiap sekolah mengambil 5 sampai 7 murid untuk diikutkan dalam perlombaan. Dan lomba yang diadakan adalah lomba kesenian, dan keterampilan.

Acara dimulai pukul setengah delapan pagi, di halaman dalam sekolah dasar Taman Siswa. Halaman dalam sekolah itu cukup luas untuk peserta lomba yang kurang lebih ada 100 orang. Pino dan keempat kawannya, yaitu Darma, Tasya, Meida, dan Janu, sudah menempatkan diri di kotak nomor 3. Guru pendamping mereka adalah Pak Wasis, yang juga menjadi guru kesenian dan keterampilan.

“Anak- anak, semua peralatan dan perlengkapan lomba sudah siap?” tanya Pak Wasis memastikan.

“SUDAH, PAK!” jawab mereka serempak.

Pino ditunjuk teman- temannya menjadi ketua kelompok. Jadi, ia harus mampu bertanggung jawab atas kekompakan kelompoknya. Ia sendiri memiliki ide untuk membuat rumah- rumahan yang terbuat dari gypsum. Sebab, ia berpikir karyanya akan bermanfaat dan bisa ditinggali. Dari kelompok kotak nomor 4, terdengar suara keributan, yang agak mengganggu konsentrasi kelompok lainnya, termasuk kelompok Pino.

“Kita mau membuat apa sih?” kata Asta kepada ketua regu mereka. “Aku bingung.”

“Asta, jangan ngambek begitu. Kita ‘kan mau membuat gedung bertingkat seperti yang ada di Dubai itu,” kata Denis sombong sambil melirik kelompok Pino.

Pino melihat banyak triplek di kotak nomor 4. Dan lem kayu, dan tali. Gedung bertingkat di Dubai? pikirnya. Ia kemudian tersadar setelah Janu menyikut kakinya, yang terlihat gemetaran. “Kau gugup, kawan?” tanya Janu sambil mengerjakan tugasnya.

“Sstt, iya sedikit. Kulihat sketsa gambar mereka bagus sekali. Gedung bertingkat di Dubai,” kata Pino dengan rasa kagum.

“Sebaiknya kau lebih memperhatikan karya kita, Pino. Ini ‘kan idemu,” kata Meida menyela. “Walaupun sketsanya tidak sebagus mereka, tetapi aku yakin karya kita berguna.”

“Betul itu,” timpal Darma.

Sementara Tasya sedang memotong- motong plastik besar sesuai dengan polanya. Pino memutuskan untuk mulai membentuk kerangka rumah yang terbuat dari triplek tebal dan lebih tebal dari milik kelompok kotak nomor 4. Saat Pino sudah selesai membuat rangka bangunan, tiba- tiba Denis menertawakannya.

“Kau mau menginap di rumah itu ya? Hahaha…,” ejek Denis. “Waktu kurang 30 menit lagi, dan temanmu masih megaduk- aduk gypsum. Oh, semoga saja tidak hujan,” ejeknya lagi.

“Heh, dasar sombong, kau lebih baik membantu teman- temanmu itu daripada terus- terusan mengganggu kami. Lihat triplek kalian banyak yang patah karena terlalu tipis, hahaha…,” kata Tasya membalas ejekan Denis.

“Eh, sudah- sudah, tenang anak- anak!” kata Pak Wasis tiba- tiba.

Pino mencoba untuk tetap tenang dan sabar karena ia yang dituakan, meskipun badannya paling kecil. Darma mulai membuat tembok- tembok rumah dengan adonan gypsum dan dibantu oleh Janu. Pino dan yang lainnya membantu merapikan. Darma sangat senang mengutak- atik bangunan sehingga ia sudah paham strategi membangun rumah- rumahan yang baik.

Waktu tinggal 15 menit lagi, hari semakin siang dan panas. “Wah, ternyata kita tidak perlu menyalakan alat pengering rambut,” kata Darma senang. Ia sudah menyelesaikan tugasnya, dan kemudian memasang atapnya. Pino membantu Darma melekatkan atap ke kerangkanya. Dan akhirnya rumah- rumahan Pino dan kawan- kawannya selesai dengan sempurna.

Namun, panas yang terik malah membuat lemnya mencair di beberapa tempat. Dan waktu tinggal 5 menit lagi. Pino menjadi khawatir jika karyanya gagal dan tidak menang. Ia melihat ada warna yang aneh yang menempel di tembok gypsum yang sudah dicat warna biru muda. Ia kemudian meminta Darma dan Janu untuk memperbaikinya.

“Bagaimana, Darma?” tanya Pino panik.

“Tenang, bro, lemnya aman. Ini bukan cairan lem, tetapi air yang masih tersisa di gypsum,” kata Darma dengan tenang.

“Kalau seperti itu terus, bagaimana kalau gypsumnya pecah?” tanya Asta tiba- tiba.

Darma diam sejenak untuk memikirkan cara aman di detik- detik terakhir perlombaan. Ia memegang tembok luar, dan terasa basah. Kemudian ia menempelkan tangannya ke tembok dalam, dan rasanya… Hm…, Darma tersenyum.

“Eh, lihat warna temboknya!” pekik Tasya. “Indah sekali.”

“Ternyata yang kau khawatirkan tidak terjadi, Pino. Itu adalah proses pengeringan alami, jadi rumah kita tidak akan hancur,” kata Darma menenangkan Pino.

Setelah tembok- temboknya kering, Janu akan menempelkan plastik anti air transparan di atap dan tembok. Meida yang bertugas merapikannya. Setelah itu alarm berbunyi tanda waktu berkarya sudah selesai.

“Hahahahaha…,” tawa Denis ketika ia melihat kelompok Pino mengangkat rumah kecil hasil karyanya bersama teman- temannya. “Kau seperti pawang hujan, Pino. Panas- panas begini rumahmu memakai jas hujan. Kau sudah yakin akan hujan hari ini, ya?” ejek Denis.

Pino tidak menghiraukan ejekan Denis. Ia dan teman- temannya berkumpul di samping karya mereka untuk mengisi data di lembaran daftar karya lomba. Bu Sisil, yang menjadi salah satu juri lomba melihat- lihat hasil karya kelompok Pino. Ia tidak berkata apa- apa dan terus mencatat. Setelah semua peserta lomba selesai dengan urusan data- mendata, Bu Astri mengumumkan bahwa hasil penilaian akan diberikan setelah pukul 12 siang, paling lambat pukul 1 siang. Semua hasil karya ditinggal di tempat yang sudah disediakan, dan semua peserta tidak boleh menyentuhnya lagi.

Pino dan kawan- kawannya senang karena bisa menyelesaikan karyanya, sekaligus deg- deg-an karena ini adalah lomba. Pak Wasis menemui Pino untuk memberikan jajanan dan jus jeruk, serta memberikan selamat atas kekompakan kelompoknya.

“Tanganmu dingin sekali, Pino. Apa kau sakit?” kata Pak Wasis khawatir.

“Tidak, Pak, Pino hanya gugup, hihi…” sela Darma dengan becanda.

“Oh, tidak usah khawatir, menang atau kalah itu tidak penting. Yang terpenting adalah kalian bisa menyelesaikan tugas dengan baik tanpa ribut. Dan siapa tahu rumah kecil itu bisa berguna,” Pak Wasis berkata. “Ayo semua, ini dimakan dulu,”

Di saat istirahat, Pino masih memandangi rumah kecilnya yang berada di lapangan basket. Cuaca panas tiba- tiba berubah menjadi mendung. Aroma tanah basah mulai tercium. Walaupun di lapangan basket sudah dipasang terop, tetapi Pino khawatir rumah kecilnya tidak bisa bertahan lama jika tidak segera diambil. Dan ternyata, gerimis sudah mendahului penilaian para juri.

“Pak, apa kami boleh mengambil karya kami? Karena sudah gerimis, dan saya takut jika air hujan semakin deras dan merusak hasil karya kami,” kata Pino khawatir.

“Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa- apa pada karya kalian,” kata Pak Wasis tenang.

Tidak hanya hujan yang membuat Pino khawatir, tetapi juga ada seekor anak anjing yang sejak tadi menggonggong mencari induknya. Anak anjing itu milik Pak Parmin, si penjaga sekolah. Beliau sudah tua namun belum pikun, dan masih senang merawat sekolah Pino. Gerimis tipis semakin menebal, tetapi tidak sampai hujan deras. Anak anjing itu tiba- tiba menghilang, suara gonggongan kecilnya sudah tidak kedengaran.

Dan waktu untuk penilaian sudah habis. Pukul setengah 1 siang sudah bisa dimumkan hasil penilaian karya seni oleh para juri. Saat itu juga gerimis sudah berhenti. Namun, semua peserta lomba belum diperbolehkan menyentuh karyanya. Dua orang juri mengambil lima buah hasil karya saja yang dinilai paling bagus. Pino melihat rumah kecilnya juga diangkat dan dijajarkan bersama karya- karya terpilih lainnya.

“Kau lihat itu, bro, rumah kecil biasa kita menjadi luar biasa jika pindah tempat di sana,” kata Janu senang kepada Pino.

Tasya dan Meida juga senang dan deg-deg-an. Sementara kelompok Denis kepalanya semakin mendongak ke atas, sebab miniatur gedung Burj Khalifa mereka berada diurutan nomor 2. Dan hasil karya kategori paling indah adalah…

Kelompok Kotak Nomor 2, yaitu Taman Flora Mini.

Tepuk tangan riuh bergema di lapangan. Peserta kelompok kotak nomor 2 mendapat penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya kategori paling indah. Setelah keramaian berhenti, Bu Sisil mengumumkan bahwa hasil karya dengan kategori paling baik adalah…

Peserta Kelompok Kotak Nomor 3, yaitu Rumah Darurat Pino.

“YEYY!” teriak Tasya dan Meida bersamaan. Pino dan kawan- kawannya maju ke depan untuk mendapatkan penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya terbaik. Bu Astri dan Pak Wasis ikut bertepuk tangan dengan meriah dan bangga.

“Dan sesuai dengan namanya, ya,” kata Bu Sisil kemudian, “ada seekor anak anjing yang berlindung di rumah mini ini rupanya,”

Bu Sisil kemudian menyerahkan anak anjing itu kepada Pak Parmin yang sudah mencari- carinya sejak tadi pagi. Dan memberi selamat kepada Pino dan kawan- kawan atas keberhasilan mereka.

Selanjutnya, hasil karya dengan kategori paling kreatif adalah… Peserta Kelompok Kotak Nomor 5, yaitu Lukisan Otomatis. Dan hasil karya dengan kategori paling canggih adalah Peserta Kelompok Kotak Nomor 7, yaitu Kulkas Dimana Saja.

Denis kelihatan kecewa karena ia pikir perlombaan ini ada juara 1, 2 dan 3. Pino bisa melihat Denis dan kelompoknya menunduk lesu karena hasil karya mereka hanya masuk kategori paling mirip dengan aslinya.

 

Penulis: DCS

Jalan Tikus

Amba sedang mengamati lubang yang tidak kecil, sebesar kepalan tangannya di bawah tembok kamarnya. Ada suara kressk… kressk…  ketika menempelkan telinga kanannya di lubang itu.

Ia tidak tahu ada sepasang mata kecil, berwarna merah menyala yang bergerak ke telinganya saat menempel di lubang itu. Dan hampir menyentuhnya. Tiba- tiba…

“Kakaaak…” BRUKK! Bayu dan Bima, adik kembarnya yang masih kecil dan polos menubruknya. “Lagi ngapain?” Bayu bertanya.

“Eh kalian ini mengagetkan kakak, ya,” kata Amba sambil membenahi kucir rambutnya yang copot.

“Habis dari tadi kakak dipanggil mama tidak menjawab,” kata Bayu dengan polosnya.

“Iya deh kakak lagi sibuk tadi. Habis melihat,…” Amba tidak meneruskan kata- katanya.

“Moeleihat oapoa, Kak?” tanya Bima menirukan suara slow motion dengan mengekspresikan gaya zombie.

“Hihihi…, tidak melihat apa- apa, Bimaku sayang hmm,” jawab Amba sambil memeluk erat adiknya itu. “Sudah, yuk makan,” Amba berkata lalu menggandeng kedua adiknya, “pasti mama sudah masak makanan kesukaan kita…”

Sup lagi, Kak…

Si mata merah itu perlahan- lahan menunjukkan hidungnya ke luar lubang setelah mereka pergi. Ia mengendus- endus lantai yang masih di sekitar lubang.

“Huh, manusia- manusia itu sangat membuatku takut. Syukurlah mereka sudah keluar,” katanya.

“Lopi, tunggu apa lagi? Ayo kita segera mengambil makanan itu, yang di bawah tempat tidur itu sebelum mereka kembali,” kata teman si mata merah itu.

“Kalau begitu ayo Lompa,” kata Lopi yang duluan berjalan keluar.

Tikus Lopi dan Lompa akhirnya keluar dari sarangnya. Dengan cepat mereka memburu plastik berisi keripik singkong yang tinggal remah- remahnya saja.

“Kau lihat Lopi, keripiknya tinggal segini. Biasanya kita mendapat lebih banyak,” Lompa berkata dengan kesal.

“Maafkan aku, Lompa. Aku terlalu lama bersembunyi karena takut dilihat oleh manusia itu,” kata Lopi sedih.

“Ya, lupakan saja. Lumayan masih ada sisa buat kita. Ayo cepat kita bawa,” kata Lompa bersemangat.

“Ayo, dorong Lopi, nampakny makanan ini lebih berat dari yang kukira, uughh…,” kata Lompa sambil menarik bungkusan itu dengan susah payah.

Tikus Lompa dan Lopi berusaha dengan sekuat tenaga membawa makanan ringan itu dengan kaki- kakinya. Namun terlambat, Amba sudah masuk ke kamarnya. 

Tidak lama kemudian disusul Bayu dan Bima. Mereka berlarian sambil membawa sosis panggang yang baru saja matang. Aroma sosis panggang menggelitik hidung Lompa. Langsung saja ia berlari ke arah datangnya aroma yang lezat itu.

“Hai tunggu Lompa! Jangan ke sana,” teriak Lopi khawatir.

Tetapi Lompa tidak mempedulikan larangan Lopi. Ia seperti sudah terhipnotis dengan bau sedap sosis panggang.

Lopi tidak ingin membiarkan temannya terkena masalah, dan lalu ia menyusul Lompa.

Lompa sudah berada di dekat kaki Bima. Kaki Bima yang kecil berayun- ayun ke depan ke belakang. Lompa masih keras kepala menuruti keinginannya yang berbahaya. Ia sudah tidak peduli bagaimana akibatnya, dam terus melompat ke kaki Bima sampai lutut.

“Hah, Kakaakk ada tikus di kakiku!” jerit Bima panik

Jelas sekali Bima langsung terkejut. Kakinya digoyang- goyang agar tikus Lompa jatuh. Sebaliknya, Bayu yang tidak takut pada tikus akan memegang Lompa. Sebelum ia memegangnya, Lompa segera sadar lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dan langsung berlari tidak beraturan karena panik.

Amba juga tidak takut dengan hewan itu dan ia membantu Bayu mengejar Lompa.

“Lompa cepatlah kemari!” Lopi berteriak dari dalam lubang. “Ayo lebih cepat!”

Saking takutnya, Lopi meninggalkan Lompa sendirian dikejar- kejar oleh dua manusia itu. Ia membalikkan badannya, berlari kencang, mendahului temannya untuk kembali ke sarangnya.

Lompa sudah hampir masuk ke dalam lubang lalu masuklah ia. Semakin lama ruangan menjadi gelap. Akan tetapi, Lompa merasa masih dikejar- kejar oleh Amba dan kedua adiknya. Tiba- tiba ia menghentikan langkah seribunya dan berkata, 

“Berhenti semua!” 

Amba dan si kembar Bayu dan Bima berhenti mengejar. Lompa melihat ke belakang, di mana manusia yang mengejarnya itu berada. Dan terkejutlah ia…

“Ha, lihatlah diri kalian, wahai manusia,” kata Lompa, “bahwa tubuh kalian sebesar tubuhku sekarang”

Mereka bingung karena tidak bisa melihat apapun dengan jelas. Tak lama kemudian, mereka menyadarinya. Di dalam gelap mata Lompa yang merah bersinar.

“Kak, kakak, tikus itu semakin besar, Kak. Mengerikan sekali,” Bima berkata dengan gemetaran.

“Oh tidak, tidak. Bukan tikus itu yang semakin besar, tetapi tubuh kita yang menjadi kecil. Bagaimana bisa terjadi?” kata Amba khawatir.

“Bagaimana jika mama tahu hal ini? Bagaimana jika ia mengira kita sudah mati? Bagaimana…”

“Cukup!” kata Lompa geram. “Kalian sedang berada di lorong jalan tikus. Sekarang kalian tidak bisa kembali, tetapi… jika kalian mau membantu kami dengan setulus hati, maka sebelum sore menjelang kalian akan berubah menjadi manusia lagi,” kata Lompa menjelaskan.

“He, kami memang manusia, dasar tikus jelek!” teriak Bima kasar.

“Benarkah? Coba kalian raba mulut kalian, telinga, dan pantat. Apa manusia seperti itu? Hihihi…,” Lompa berkata dan tertawa geli.

Mereka bertiga melakukan apa yang disuruh Lompa. Lalu secara bersamaan berkata, “Oh tidak,” ups suara mereka menjadi kecil juga, “Tidaaakk, tolong tuan tikus kembalikan kami”

“Enak saja. Salah kalian sendiri yang masuk ke lubang itu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengubah kalian menjadi sedia kala lagi,” kata Lompa dengan angkuh.

Bima sedih dan mulai menangis. Suara cit cit nya yang kencang terpantul di dinding jalan tikus itu hingga membuat yang lainnya menyumbat telinga mereka dengan batu kecil. Tiba- tiba ada suara gong yang berbunyi tiga kali.

GOONGG… GOONGG… GOONGG…

Bima menghentikan tangisnya. Ia melihat seekor tikus putih yang lucu memakai mahkota emas kecil di kepalanya keluar dari persembunyiannya. Ia adalah sang ratu para tikus yang ikut menghuni rumah Amba.

“Lompa, apa yang sudah kau lakukan kepada para manusia itu?” kata sang ratu dengan lembut.

“Maafkan aku, Ratu Mimi, mereka telah mengejarku sampai di sini. Mereka sendiri yang masuk ke lubang tikus kita, Ratu,” kata Lompa menjelaskan kepada sang ratu.

“Benarkah begitu, Amba?” tanya sang ratu.

“I..iya Ratu. Kami mengejarnya karena dia akan mengambil makanan kami yang baru saja matang, dan menakuti adikku, Bima. Seperti itu, maafkan kami, Ratu,” kata Amba memelas.

“Hm, sebaiknya kalian ikut ke rumah kami dahulu. Jika terlalu lama di sini, maka aku tidak bisa membantumu tetap hidup,” kata Ratu Mimi.

“Apa maksudnya, Ratu?” tanya Amba terkejut.

Lopi tiba- tiba muncul dari belakang Ratu Mimi. Ia ingin menjawabnya.

“Ada binatang lain selain kami para tikus. Dia lebih mengerikan, dan bahkan memakan tikus. Kami adalah tikus baik, yang hanya mengambil sisa- sisa makanan kalian di tempat sampah…” kata Lopi, “kecuali tikus Lompa, dia memang rakus”

“Maafkan aku Ratu Mimi, aku sangat lapar,” kata Lompa menyesali perbuatannya.

Tidak lama setelah Lompa berbicara, dinding jalan tikus bergetar. Itu pertanda si pemangsa tikus sudah datang.

“Sudah, sudah. Ayo segera kita ke rumah,” perintah sang Ratu.

Ngeoongg… ngeoongg…

“Oh tidak, Ratu, monster itu sudah masuk di lorong jalan tikus,” kata Lopi sambil terus berlari.

Ngeoongg…

Ngeoongg…

“Kakak, itu ‘kan suara… suara… si Puspus, iya si PusPus,” kata Bima, “lalu mengapa kita ikut berlari, kak? Dia ‘kan kucing kesayangan kita.” tambahnya.

“Bima, kita masih tikus sekarang. Kau mau jika kita dimakan sama Puspus?” Amba berkata.

Bima hanya menggeleng karena ia sudah tidak kuat berbicara lagi.

Sampai di depan pintu gerbang istana tikus, Ratu Mimi menyuruh Lopi dan Lompa memasang jaring pelindung untuk menutup lorong jalan tikus. Tetapi tangan si Puspus yang gemuk sudah masuk hampir mencapai gerbang istana tikus.

“Wow, si Puspus besar sekali,” kata Bayu dengan takjub.

“Husshh… husshh! Pergilah kau monster jahat si pemakan tikus, husshh!” Lompa memercikkan air ke tangan Puspus. Tak lama kemudian si Puspus berhenti mengeong dan mengganggu tikus- tikus itu. Untuk sementara waktu.

“Aneh, Ratu Mimi,” kata Amba heran, “ketika kami melalui jalan tikus tubuh kami berubah menjadi kecil dan bahkan berubah seperti tikus, tetapi mengapa si Puspus tidak berubah?”

“Karena dia juga binatang, Amba,” sang Ratu menjawab dengan tersenyum. “Maka dari itu dia tidak berubah seperti kalian. Memang kedengarannya aneh dan mengherankan, tetapi itulah yang kau lihat”

“Apa kucing kami selalu mengganggu tikus- tikus di sini, Ratu?” Bayu bertanya.

“Tidak kucing kalian, akan tetapi kucing yang di belakangnya, yang dari tadi sudah mengintip untuk menerkam kami sewaktu- waktu,” jawab Ratu Mimi.

“Kakak, kucing itu kucing tetangga kita. Dia teman si Puspus dan sering main ke rumah kita,” kata Bima yang terus bersembunyi di balik punggung Amba.

“Apa iya seperti itu?” tanya Amba kepada Bayu.

“Benar, Kak, aku lihat dia selalu memasukkan tangannya ke dalam lubang di dinding kamar kakak. Sepertinya dia mencari- cari sesuatu,” kata Bayu.

“Kalau begitu kita hadapi saja mereka, Bayu, Bima. Kita kan manusia, bukan tikus,” Amba berkata dengan tegas.

“Tunggu, Amba, kau yakin akan menghadapinya sendirian bersama tubuh sekecil ini?” Ratu Mimi kemudian memukul gong tiga kali.

GOONGG… GOONGG… GOONGG…

Dari dalam istana keluarlah tikus- tikus yang sangat banyak dan mereka berbaris seperti prajurit perang.

“Wow, lucu sekali mereka, Kakak lihat mereka! Hihihi,” kata Bima senang.

Tikus- tikus itu kemudian membentuk kelompok yang berbeda. Kelompok tikus putih berada di barisan tengah, sedangkan kelompok tikus abu- abu menjadi pagar depan dan belakang para tikus putih.

Ratu Mimi memanggil ketua pasukan putih dan abu- abu, dan berkata, “Lindungi Amba dan kedua adiknya. Jika tidak perlu berperang, lebih baik segera kembali.”

“Baik, Yang Mulia,” kata ketua pasukan.

Amba memberanikan diri mengahadapi kucing- kucing yang masih menunggu di luar pintu gerbang dan ditemani pasukan tikus- tikus Ratu Mimi.

Lompa dan Lopi mundur, segera masuk ke halaman istana tikus bersama Bayu, Bima, dan Ratu Mimi.

“Apa kakak tidak apa- apa, Ratu?” Bima bertanya.

“Tenanglah, Bima, dia akan baik- baik saja,” kata Ratu Mimi.

Amba sudah berada di lorong jalan tikus, di tempat para kucing berada. Para pasukan tikus bersiaga di belakangnya. Suasana menjadi tegang, Amba dan si Puspus saling berhadapan. Puspus melihat Amba dengan wajah gemuknya yang polos. Sesekali ia melihat ke belakang, ke arah temannya, dan berkata,

“Ngeoongg”

Lalu Puspus mendekati Amba dengan menengkurapkan tubuhnya. Jaraknya hanya satu telapak kaki si Puspus.

“Ngeong,” kata Puspus dengan manja.

Amba kemudian mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia mengelus kepala si Puspus dengan lembut. Puspus semakin menurunkan kepalanya ke bawah hingga menempel di tanah. Dan Amba terus mengelus- elus kepalanya.

Bima dan Bayu memberanikan diri untuk pergi ke tempat Amba berada. Mereka berjalan melalui barisan tikus yang masih berdiri rapi. Mereka melihat Amba sedang mengelus kepala si Puspus dan kucing yang lain sudah pergi meninggalkannya.

“Kakak,” kata Bima dan Bayu bersamaan dan berlari ke arah kakak mereka.

“Sepertinya, kita bisa pulang sekarang anak- anak,” kata Amba tidak lama kemudian. “Di mana Ratu Mimi?”

“Aku sudah di sini, Amba. Dan terima kasih kau sudah menyelamatkan nyawa kami para tikus,” kata Ratu Mimi.

“Sama- sama, Ratu Mimi. Dan maafkan si Puspus juga yang sudah mengganggu kalian. Mungkin sebaiknya lubang jalan tikus ditutup saja agar tidak ada yang meemakan tikus- tikusmu lagi,” Amba berkata dengan sedikit menyesal.

Ratu Mimi mengangguk tanda setuju. Ia kemudian membubarkan barisan tikus dan memerintah mereka kembali ke istana bersamanya.

Bima dan Bayu memanggil si Puspus, dan si Puspus segera beranjak untuk mengikuti tuannya. Amba berjalan di belakangnya. 

Mereka berjalan dan terus berjalan di sepanjang lorong jalan tikus sampai tidak menyadari jika tubuh mungil mereka, kecuali si Puspus, berubah menjadi normal kembali.

“Hore… hore…, kita bukan tikus lagi, hore…,” sorak Bima dan Bayu ketika sudah keluar dari lubang kecil di kamar Amba.

“Eh, kalian jangan bilang ke siapa- siapa ya,” kata Amba dengan serius.

“Siap, bos,” kata Bima dan Bayu bersamaan.

Tiba- tiba mama masuk ke kamar sambil membawa sapu, lalu berkata, “Ada tikus ya? Di mana? Mana?”

“Itu di sa… lho sudah tidak ada kok Ma, hihihi,” kata Amba. Ia lalu melihat si Puspus dengan tersenyum.

Si Puspus ternyata berdiri di depan lubang jalan tikus untuk menutupinya agar mama tidak tahu. Dan berkata,

“Ngeoongg”
S e l e s a i

Pengakuan

Orang itu meletakkan cerutunya di lantai di samping kaki kanan kursi yang ia duduki. Sepertinya ia sudah tidak tahan melihat perilaku Rian yang seperti melihat hantu atau monster. Lalu didekatinya Rian, ia duduk di tempat tidur tepat di belakang punggungnya. Rian merasakannya, mendengar nafasnya agak sesak, semakin menambahnya khawatir jika dibunuh.

Rian menggeser tubuhnya menjaga jarak jauh- jauh dari orang itu. Namun, orang itu malah menertawakannya, lalu berkata,

“Kau pikir aku hantu he?” Lalu tertawa lagi. “Aku ini Frans, benar- benar manusia. Kalau tidak yakin kau bisa memukulku atau menendangku. Coba saja,” tambahnya.

“Tidak. Kau Frans palsu. Frans yang sebenarnya sudah meninggal. Aku sendiri menyaksikan pemakamannya beberapa hari yang lalu,” Rian berkata dengan gemetaran.

“Apa kau bilang barusan?” tanya orang itu sambil memegang kaki Rian yang bergemetar.

“Frans s..sudah mati dan kau pasti b..bukan Frans, iya ‘kan?” Rian berteriak. “Pergilah kau! Jangan menggangguku, tolong pergilah,” kata Rian lagi. Kali ini nada suaranya mulai menurun.

Orang berjaket cokelat muda itu sudah habis kesabarannya. Ia lalu berdiri dari tempat tidur dengan raut muka kecewa. Dilihatnya cerutunya masih menyala dan asapnya masih mengepul. Ia melangkah menuju kursi yang sempat ia duduki tadi. Sebelum mendudukinya lagi, ia mengambil cerutunya yang sudah hampir setengah batang. Dengan tanpa ragu ia menghisapnya kembali sambil duduk. Kemudian ia mulai mengatakan sesuatu yang sebenarnya kepada Rian.

“Baik, aku mengerti. Sebenarnya, Frans tidak mati. Dia tidak dimakamkan seperti yang kau saksikan. Dan orang yang terlihat seperti Frans itu adalah… memang diriku. Itu adalah rencanaku, Rian, untuk bisa bertemu dengan madam Marry sendiri,” pak Frans berkata menjelaskan.

Rian masih sama, masih menutupi badannya dengan selimut abu- abu tebal. Ia masih ragu dengan pengakuan orang itu, yang mengaku sebagai pak Frans. Semakin lama dengan gaya tidur yang tetap, membuat kakinya kesemutan. Ia lalu merubah posisi tidurnya menghadap ke pintu sekaligus berhadapan dengan pak Frans.

“Heh kau masih bersembunyi saja, Rian. Dasar penakut. Sungguh sia- sia aku membawa sertamu ke Berin jika kau menjadi konyol seperti itu. Apa kau ingin pulang ke Marrow sekarang, he?” kata pak Frans.

“Ya, sejujurnya iya. Setelah kau dinyatakan mati aku bingung tidak mengerti apa- apa. Dengan Elle pun, dia sebenarnya menyukaimu, mungkin juga mencintaimu, aku tidak bisa terus menerima teror pembunuhan lagi,” Rian menjawab dengan lantang tetapi dibalik selimut.

“Kalau begitu segera kemasi barang- barangmu lalu kuantar kau ke stasiun sekarang. Ayo, tunggu apa lagi, Rian?” kata pak Frans setelah menghabiskan rokoknya.

“Dan sekali lagi. Aku adalah temanmu, Frans. Frans belum mati,” tegas pak Frans.

Rian sedikit mulai mempercayainya. Ia mengintipnya dari balik selimut. Ia melihat pak Frans duduk di kursi itu. Cerutunya? Ya, itu cerutu yang selalu dihisap olehnya. Pakaiannya memang seperti itu seringnya. Dan memakai topi hitam.

Dengan seluruh keberaniannya, Rian menyingkapkan selimut dari badannya. Ia sudah tidak takut melihatnya. Namun, ia masih sedikit ragu untuk mendekatinya. Ia menarik napas panjang, lalu berkata,

“Mengapa kau tidak memberitahuku soal rencanamu itu, Frans? Jika memang kau adalah Frans temanku, kau tahu minuman kesukaanku. Apa itu?” tanya Rian.

“Kau penyuka teh, apalagi teh lemon, serta senang makan biskuit cokelat,” jawab pak Frans.

“Baiklah,” kata Rian.

“Hanya itu?” kata pak Frans, “mudah sekali,”

“Jadi kau ke mana saja selama ini, Frans?” Rian bertanya sambil menyingkirkan selimut tebalny.

“Maafkan aku, aku terpaksa tidak memberitahumu dahulu karena terburu- buru. Setelah tersekap di tempat gelap itu, aku kemudian membuntuti seorang wanita yang mengaku sebagai madam Marry. Dia sebelumnya juga berada di ruangan itu, malah lebih buruk lagi. Sampai aku kehilangan jejaknya untuk sementara waktu. Setelah kau dan Elle pergi, lalu Teena, lalu madam Marry yang terakhir menjengukku di rumah sakit. Wajahnya sangat berbeda saat kutemui sebelumnya. Ia lebih cantik,” kata pak Frans menjelaskan.

“Lalu kalian bersekongkol membuat cerita ‘kau mati’? Mengapa seperti itu?” tanya Rian agak mendesak pak Frans.

“Supaya Teena tidak mengikutiku. Dan aku bisa lebih fokus mencari solusinya. Kau tahu tidak jika madam Marry sebenarnya tidak ke mana- mana? Dia masih di Berin. Dan yang membunuh bekas suaminya adalah… nona Jill, putrinya sendiri,” pak Frans berkata dengan jelas.

“A..apa? Kau bilang nona Jill yang membunuh ayah kandungnya sendiri? Itu tidak mungkin, kawan. Tidak masuk akal,” kata Rian terkejut.

“Ya, awalnya aku tidak yakin, tetapi semua keterangan yang datang padaku mengarah kepada Jill. Dan memang mengejutkan sekali ya.” Pak Frans berkata sambil melepas topi hitamnya.

“Jadi, aku harus menghubungi Elle segera. Jangan sampai dia menjadi korban selanjutnya,” kata Rian. Ia mencari handphone nya di tempat tidur.

“Apa kau mencari ini?” tanya pak Frans sambil menunjukkan sebuah handphone yang ia bawa.

“Oh iya, biar ku telepon Elle agar dia waspada sebab Jill berada di rumah kos nya,” Rian berkata. “Tolong berikan padaku handphoneku, Frans,”

Rian akhirnya mau mendekati pak Frans yang masih membawa handphonenya. Ia kemudian mundur lagi setelah pak Frans memberikannya.

———————————-

Orca, 1972

Rumah kos madam Maria masih kelihatan sepi. Jill dan suaminya masih di sana. Handphone Elle berdering nyaring terdengar suaranya dari luar kamar. Elle segera menuju ke kamarnya untuk menjawab teleponnya.

“Halo, ya, Rian,” kata Elle sembari menutup pintu kamarnya sedikit.

Apa Jill masih di situ?

“Iya, kenapa kalau iya?”

Ternyata dia yang sudah membuat tuan Noris meninggal, Elle.

“A..apa?! Jangan bicara sembarangan. Kau tahu dari siapa?” Elle berbisik.

Frans yang mengatakannya. Ia memiliki semua buktinya. Mungkin kau harus berhati- hati sekarang, Elle.

“Tidak. Aku sama sekali tidak percaya, Rian. Jill bukan seorang pembunuh. Dia bahkan sangat menyayangi tuan Noris dan sangat berat untuk meninggalkannya. Lalu Frans? Kau sudah bertemu dengannya?”

Iya dia ada di sini sekarang. Di rumah.

“Apa kau yakin dia benar- benar pak Frans? Atau jangan- jangan dia hanya berpura- pura menjadi pak Frans?”

Tutt. Belum terjawab pertanyaan Elle karena tiba- tiba sambungan teleponnya terputus.

“Halo, Rian, Rian…”

Elle menjadi bingung setelah mendengar kabar dari Rian. Lalu ia melihat Jill dari celah pintu yang terbuka sedikit. Jill melihatnya dengan rasa curiga. Dengan seluruh tekadnya Elle memberanikan diri untuk menemuinya. Dan ingin Jill menjelaskannya.

“Jill kau yang telah melakukannya? Kupikir kau ke sini ingin bertemu dengan ibu kandungmu, tetapi kau sendiri yang… membuat masalah,” Elle berkata dengan marah.

“Apa maksudmu? Kau menuduhku yang membunuh ayahku, begitu?” kata Jill. “Oh,” Jill menutup mulutnya. 

Finn melihatnya dengan tatapan tajam, dan berkata, “Jill, kau?”

“Tidak, bukan seperti itu yang sebenarnya. Dan kau, Elle, mengapa kau begitu yakin jika aku yang melakukannya? Siapa yang meneleponmu tadi?” tanya Jill dengan gelagapan.

“Hem, Rian. Dan pak Frans ada bersamanya,” Elle menjawab agak ketakutan.

Tidak lama Rian bersama pak Frans masuk ke rumah kos Elle dengan terengah- engah. Jill terkejut melihat kedatangan mereka yang sangat mendadak. Ia merasa terpojok karena tuduhan itu.

“Nona Jill, sebaiknya kau menyerahkan diri sekarang,” kata pak Frans.

“Apa- apaan ini?! Elle kau harus percaya padaku kalau aku bukan pelakunya, tolonglah, Finn bagaimana ini?” kata Jill panik.

“Sebentar, tuan- tuan sekalian. Sebaiknya kau jelaskan apa yang membuatmu berpikir jika Jill pelakunya, dan jangan terburu- buru,” kata Finn menengahi.

“Madam Marry melihat Jill membawa tubuh tuan Noris di suatu tempat. Tempat yang sama ketika ia disekap. Tetapi tuan Noris disembunyikan di ruang yang lain. Saat itu aku juga mendengarkan suara seorang pria yang menyedihkan. Ia ingin keluar dari tempat itu,” pak Frans menjelaskan.

“Lalu kau tahu tempat itu di mana, tuan Frans?” tanya Finn.

“Ya, aku juga berada di sana tiba- tiba setelah dari rumah madam Teena. Entahlah siapa yang membawaku saat itu. Pasti juga kau, nona Jill,” kata pak Frans seraya menunjuk Jill dengan cerutunya.

Jill menatap pak Frans dengan tajam. Kemudian ia bertanya, “Kalau begitu di mana dia sekarang?”

“Dia ada bersamaku sekarang, Nak,” kata madam Maria tiba- tiba. Ia keluar dari kamar bersama madam Marry. “Kau harus menceritakan yang sebenarnya, Jill,”

“Baiklah, aku mulai mengatakannya sekarang,” Jill berkata dengan gemetaran. “Tetapi aku tidak membunuh siapapun, termasuk ayahku dan Bibi. Mereka masih hidup. Mereka memang kusembunyikan,”

“Tetapi mengapa kau juga menyembunyikan madam Marry?” tanya Elle penasaran.

“Karena… dia sendiri yang menginginkan itu. Sesungguhnya ibu sendiri yang menyuruhku melakukan teror- teror mengerikan itu. Ya, karena dia ingin menghukum Teena dan ayah, yang tidak tulus mencintainya,” kata Jill dengan menangis. “Bicaralah ibu,”

Semua orang diam dan tidak menduga jika apa yang terjadi selama ini adalah rekayasa. Madam Marry memeluk Jill seraya berkata, “Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu,”

“Dan polisi- polisi itu? Dan petugas rumah sakit itu? Apa juga hanya berpura- pura?” Rian bertanya.

“Tidak. Mereka sungguhan melakukan penyelidikan. Tetapi Bibi yang sudah mengatur semuanya. Bibi memang asisten yang baik,” jawab madam Marry.

“Jadi kau memata- mataiku selama ini, madam Marry? Dan aku hanya menjadi bahan permainan dalam cerita ini. Baik. Sudah cukup,” pak Frans berkata lalu pergi keluar rumah kos. Ia duduk di luar sambil merokok.

“Dan apa madam Teena sudah tahu jika tuan Noris masih hidup?” tanya Elle kepada madam Marry.

“Sebaiknya dia tidak perlu mengetahuinya dan ingin tahu keberadaannya sekarang. Biarkan dia seperti apa adanya sekarang,” jawab madam Marry.

———————————-

Setelah pihak berwenang melakukan penyelidikan lebih lanjut, ketiga korban teror pembunuhan dinyatakan masih hidup. Namun polisi belum mengetahui siapa para pelaku teror tersebut dan masih dalam pencarian…

“Dia bilang apa?” Teena terperangah mendengar pernyataan pelapor berita di televisi. “Berarti mereka tidak benar- benar mati. Tidak mati,”

“Ada apa, ibu?” tanya Henof yang muncul dari belakang tiba- tiba.

Teena menengok ke belakang, lalu menjawab, “Noris masih hidup, begitu juga yang lain,”

Henof terkejut mendengar jawaban Teena.

“Oh astaga, mereka semua menipuku, dan pasti ulah Marry,” Teena berkata dengan marah. “Dia ingin memisahkanku dengan ayahmu, Nak. Tidak bisa dimaafkan,”

“Ibu sebaiknya tidak usah berhubungan dengannya lagi. Dan lagipula sebenarnya aku bukan keturunan Noris, bukan?” Henof berkata dengan sinis.

Teena lebih terkejut dengan perkataan putranya. Ia tidak mengira anaknya akan mengetahui hal itu. 

“Dan kau sudah mendapatkan apa yang kau mau di rumah ini. Jadi, tenanglah ibuku sayang,” tambah Henof lalu mengecup kening Teena.

T A M A T

Kisah Lama

Jill dan suaminya heran dengan sikap Rian saat mereka bertemu di kedai NikCola. Akhirnya Jill memutuskan untuk menemui Elle di rumah kosnya.

“Permisi, Elle, ini aku, Jill,” kata Jill.

Elle yang sedang berbaring di temoat tidurnya kemudian bangun. Ia mendengar suara temannya di luar.

“Jill kah itu?” kata Elle. Lalu ia keluar dari kamarnya dan membuka pintu.

“Hai, Elle,” kata Jill. “Apa kau sakit?”

“Ayo masuklah. Kita mengobrol di dalam saja,” kata Elle.

Jill bingung dengan sikap Elle yang tidak seperti biasanya saat mereka bertemu.

“Kau kenapa? Tadi Rian sekarang kau. Sebenarnya ada masalah apa, Elle?” tanya Jill.

Elle menggelengkan kepalanya. Wajahnya kelihatan sangat pucat.

“Maaf Jill, jika sikapku berbeda hari ini. Sedang banyak pikiran. Sebenarnya aku mau meneleponmu kemarin tetapi pulsaku sudah habis,” kata Elle menjelaskan.

“Lalu kau menyuruh Rian untuj meneleponku tadi malam?” tanya Jill.

“Em tidak, tidak begitu. Aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk menelepon teman- temanku terutama kau, Jill. Lagipula Rian tidak tahu nomormu,” kata Elle, “tetapi mungkin ada orang lain yang berpura- pura menjadi Rian lalu meneleponmu,”

“Hm, menyebalkan sekali orang itu. Dia dengan mendadak menyuruhku ke Berin untuk bertemu dengannya di kedai NikCola. Dan ternyata Rian bilang bahwa dia tidak meneleponku tadi malam. Malah dia buru- buru pergi lalu menyuruhku untuk datang ke sini,” kata Jill dengan kesal.

“Benarkah begitu?” tanya Elle.

“Iya. Finn saksinya,” jawab Jill. “Jadi, aku benar- benar tidak mengerti. Apa maksud Rian palsu itu?”

“Lalu saat kau berada di kedai NikCola apa kau sudah bertemu dengannya? Rian palsu,” Elle bertanya.

“Nyatanya tidak. Tidak ada yang menemuiku di sana tadi. Kalau dia tahu tentangku pasti dia akan langsung menemuiku,” jawab Jill.

Elle diam dan memikirkan sesuatu. Ia tiba- tiba ingat pak Frans. Ia ingat perilaku Rian palsu itu sama persis dengannya. Sebab Elle pernah dikerjai olehnya dengan berpura- pura menjadi teman kerjanya, hanya ingin bertemu dengannya. Tetapi tidak di kedai NikCola. Mereka bertemu di tempat lain.

“Elle, Elle,” kata Jill memanggil Elle.

“Oh, maaf. Aku melamun tadi he,” kata Elle gelagapan. “Oya, kau tahu pak Frans tidak?” tanya Elle melanjutkan.

“Pak Frans si pengacara itu? Ya, aku tahu tetapi tidak begitu mengenalnya. Memangnya kenapa?” kata Jill.

“Dia sudah meninggal,” kata Elle.

“Apa?!” kata Jill dan Finn terkejut.

“Maaf aku menyela, nona Elle,” kata Finn, “tetapi aku melihatnya masih baik- baik saja. Tadi di kedai NikCola,”

“Apa kau bercanda, tuan Finn?” tanya Elle terkejut.

“Tunggu,” kata Finn. Ia mengeluarkan telepon genggamnya dari tas kecilnya lalu menunjukkan sebuah foto kepada Elle. “Coba lihat ini,”

Elle melihat foto itu dengan seksama. Layar handphone milik Finn sangat terang dan bagus sehingga foto itu terlihat sangat jelas dan tidak buram walaupun untuk memfoto jarak jauh. Elle begitu terkejut setelah melihat apa yang ada di dalam foto itu.

“Oh astaga itu sangat tidak mungkin,” kata Elle, “tetapi sosok ini sama persis dengan pak Frans,”

Elle mengembalikan handphone kepada Finn. Mukanya berkeringat. Kelihatan dari wajahnya ekspresi ketakutan.

“Apa mungkin dia hantu?” tanya Elle merinding.

“Tidak, dia manusia. Dia juga minum kopi tadi. Bahkan juga tengah berbicara dengan seseorang. Mungkin temannya,” kata Finn.

“Kau tidak memberitahuku, Finn,” kata Jill tiba- tiba.

Finn hanya tersenyum kepada Jill. Tidak menjawab pertanyaannya.

“Apa karena itu Rian buru- buru pulang seperti katamu tadi?” kata Elle, “karena tadinya dia ingin ke toko buku,”

“Aku juga tidak mengerti,” kata Jill. “Oya apa kau sudah mendengar berita tentang ibuku lagi, Elle?”

“Seharusnya Rian yang menjawab sebab dia sudah bertemu dengan madam Marry di rumah pak Frans,” jawab Elle.

“Hm, masalahnya aku tidak bisa lama di Berin. Ah, mereka benar- benar membingungkan. Ibu kandung dan ibu tiri. Aku yakin penyebab ayahku meninggal adalah karena sikap mereka sendiri yang kekanak- kanakan,” kata Jill.

“Hei, jika memang begitu mengapa ada yang terbunuh? Dan kau sendiri juga belum paham seperti apa madam Marry, bukan?” kata Elle.

“Aku tahu tentangnya dari orang lain saja. Ayahku tidak bercerita banyak tentangnya, bahkan seolah dia membencinya. Karena ibuku itu meninggalkan kami begitu saja,” kata Jill.

Di tengah pembicaraan mereka, di balik pintu kamar madam Maria sudah mendengarkan semuanya. Ia ingin menceritakan hal yang sebenarnya tetapi ia tidak tega dengan Jill. Ia tidak ingin Jill sedih. Namun, suatu saat ia harus memberi tahu Jill tentang apa yang ia tahu…

———————————-

Rumah Sakit Anelise, 1972

Teena terbangun dari mimpi buruknya. Di samping ranjangnya sudah ada putranya, Henof. Ia masih tidur dan mendengkur. Seharusnya Teena menjemputnya di stasiun Morell tetapi nasib buruk telah menimpanya.

Kepalanya dibalut perban sehingga menjadi agak risih. Sudah empat hari ia dirawat di rumah sakit tetapi belum jelas kapan dibolehkan untuk pulang. Dokter Anne merawatnya dengan sangat baik.

“Hari ini nyonya Noris sudah boleh pulang dan ini resep untuk obatnya,” kata dokter Anne.

“Baik, dokter,” kata madam Maria.

Madam Maria masuk ke kamar Teena bersama dua orang suster. Ia membangunkan Henof dan menyuruhnya untuk berkemas- kemas.

“Nyonya Noris hari ini Anda sudah diperbolehkan pulang,” kata salah satu suster.

“Harus bersama dia?” tanya Teena dengan menunjuk madam Maria.

“Sudahlah ibu, ayo kita bersiap- siap,” kata Henof.

“Jika aku tidak diperlukan lagi, lebih baik aku pulang saja. Sudah ada putramu yang akan membantumu. Permisi,” kata madam Maria.

“Tunggu madam Maria,” kata Henof menghentikan langkah madam Maria, “aku ucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu, dan maafkan ibuku jika dia kasar padamu,”

“Oh tidak apa- apa, nak. Ibumu hanya perlu banyak istirahat dan tidak boleh berpikir berat. Maaf aku tidak bisa ikut mengantar ibumu. Permisi,” kata madam Maria lalu meninggalkan rumah sakit.

Henof melanjutkan berkemas- kemas. Saat ia merogoh tas yang tergeser di bawah ranjang, ia menemukan sebuah foto berbingkai kayu dengan ukiran klasik. Di dalam foto itu ada tiga orang remaja perempuan yang salah satunya adalah ibunya sendiri. Dua orang lainnya adalah madam Maria dan madam Marry. Mereka memakai baju dengan motif yang sama. Namun di antara ibunya dan madam Marry, foto itu seperti ada bekas sobekan. Mereka saling melihat satu sama lain tetapi tangan mereka seperti menggandeng seseorang. Lalu ia simpan foto itu ke dalam tasnya. Dan ia segera membantu ibunya berjalan keluar dari rumah sakit.

Di tengah perjalanan, Teena melamun. Ia memikirkan tentang kematian pak Frans. Dan orang yang begitu mirip dengan pak Frans yang sempat dilihatnya saat di rumah sakit sebelum ia pingsan. Ia ketakutan karena sering diteror soal pembunuhan. Bahkan ia sendiri menjadi korban. Teena masih menduga jika semua itu ulah madam Marry karena ia tahu jika madam Marry tidak senang tuan Noris menikahinya. Hanya soal klasik…

———————————-

Sementara Rian juga ketakutan akan hantu temannya. Ia juga masih hapal keusilan pak Frans yang senang berpura- pura menjadi orang lain saat menelepon. Ia ingin kembali ke Marrow dan cepat- cepat pergi dari Berin. 

Saat matanya akan terpejam, ia mendengar ada suara sepatu yang sama persis seperti milik pak Frans. Irama langkahnya sama. Ia lupa jika pintu kamarnya masih terbuka lebar. Seseorang itu masuk ke kamar Rian hanya sampai ke kursi di samping pintu. Orang itu lalu duduk sambil menyalakan sebatang rokok. Rian tidak ingin melihatnya tetapi ia sudah mendengarnya. Orang itu lalu memanggil Rian.

“Hei, Rian,” kata orang itu. “Apa yang sedang kau lakukan di balik selimut?”

“Hah, itu suara Frans,” bisik Rian, “tapi itu tidak mungkin…

Tersangka

York, 1972

Finn sedang membaca surat kabar di ruang tamu. Surat kabar yang didapatkannya tadi pagi itu agak basah terkena embun. Ia membaca kolom berita terhangat yang memuat berita tentang kota Berin. Matanya membaca kata per kata dengan sangat serius. Ketika ia membaca judul ‘Percobaan Pembunuhan di Rumah Sakit Anelise’, dengan spontan ia memanggil istrinya, Jill.

“Hei, Jill, Jill kemarilah, cepat!” kata Finn. Ia lalu meneguk kopinya yang sudah hampir dingin. Jill yang sedang membuat camilan di dapur segera meninggalkan aktifitasnya untuk memenuhi panggilan suaminya.

“Iya, sayang. Ada apa?” kata Jill. Ia duduk di samping Finn sambil mengelap keringat dengan tisu.

“Kau masih ingat ibu Teena, bukan? Dia menjadi sasaran pembunuhan di rumah sakit itu. Tempat di mana kau dilahirkan oleh ibu kandungmu,” kata Finn dengan wajah serius.

Jill menatap wajah Finn dengan serius juga, lalu berkata, “I..ibu Teena? Di rumah sakit Anelise?”

“Ya,” jawab Finn sambil mengangguk.

“Sedang apa dia di sana? Dan siapa yang ingin membunuhnya?” tanya Jill. Ia menggesek- gesek telapak tangannya yang agak dingin karena gugup.

“Ibu Teena dikabarkan pingsan saat berada di rumahnya. Saat itu pembantunya yang bernama Bibi itu sudah menjadi mayat dan tergeletak di depan pintu kamar ibu Teena. Mungkin karena dia sangat kaget, lalu tiba- tiba dia pingsan,” jawab Finn.

Jill mengernyitkan dahi karena jawaban Finn tidak memuaskan. Lalu ia memberi pertanyaan yang lain.

“Apa di koran itu ada keterangan tentang pelakunya?” tanya Jill.

“Di sini dinyatakan kalau salah seorang pihak rumah sakit ditemui oleh seseorang yang memakai jaket kulit berwarna cokelat muda dan bertopi hitam. Tetapi ia tidak membawa senjata apapun bentuknya,” jawab Finn.

“Lalu apa yang dilakukan oleh orang itu?” tanya Jill lagi.

“Hem aku tidak menemukan jawabannya di koran ini, Jill, maaf. Ya, mungkin saja orang itu tidak ada hubungannya dengan ibu Teena. Mungkin saja orang itu hanya orang biasa yang ingin menjenguk kerabanya yang sakit,” jawab Finn.

“Hei Finn, ini juga masalah yang serius. Jika orang itu mendekati ibu Teena mungkin saja dia juga tahu tentang ibuku. Jika orang itu dikabarkan di koran berarti dia juga ada dalam kasus ini,” kata Jill.

“Kau mencurigai orang itu sebagai pelakunya?” tanya Finn. Lalu Finn tertawa pelan. “Sudahlah, Jill, sudah cukup membahas kasus itu dan saatnya kita beristirahat, oke?” tambah Finn.

“Hem, baiklah, aku membersihkan diri dahulu,” kata Jill lalu beranjak ke dapur lagi untuk membereskan peralatan dapurnya dan mencuci tangannya.

Finn berjalan menuju ke kamarnya. “Oya, sayang, camilannya sekalian kau bawa ke atas. Aku menjadi lapar, he,” kata Finn.

Di dapur, Jill mencuci tangannya di wastafel. Setelah itu ia membawa camilannya ke kamarnya. Namun ketika ia akan menaiki tangga, telepon genggamnya berbunyi. Ia meletakkan camilannya di meja telepon.

“Halo,” jawab Jill.

Nona Jill, ini aku Rian…

“Rian? Rian siapa?” tanya Jill.

Aku teman Elle di Berin. Elle ingin bertemu denganmu besok di sini. Apa kau bisa?

“Oh, tetapi mengapa tidak Elle sendiri yang menghubungiku? Ada apa dengannya?” tanya Jill dengan khawatir.

Maafkan dia nona, Elle sendiri yang menyuruhku meneleponmu dengan nomorku. Elle baik- baik saja di sini. Bagaimana nona?

“Baik, baik, aku ke sana besok bersama suamiku,” kata Jill.

Kita bertemu di kedai NikCola…

“Oke, baik,” kata Jill. Jill diam merenung memikirkan apa yang diinginkan oleh Elle. Mengapa ia mendadak menyuruhnya datang ke Berin besok?

“Jill, sayang, ayolah,” kata Finn dengan berteriak.

Panggilan Finn membuyarkan lamunan Jill seketika. Dan ia segera membawa camilannya ke kamarnya.


 

Orca, 1972, Rumah Kos

Elle berencana tidak masuk kerja hari ini. Ia ingin mengistirahatkan diri di rumah. Badannya sedang tidak enak, sehingga ia terpaksa ijin meliburkan diri. Ia pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi hitam. Madam Maria sudah meniggalkan kos pagi- pagi sekali untuk berbelanja ke pasar. Memang sudah menjadi kebiasaannya bangun pagi- pagi, lebih pagi dari jam bangun Elle dan penghuni kos yang lain. Ketika Elle sedang menikmati kopinya di ruang tamu, salah satu teman kosnya yang bernama Liza menegurnya,

“Elle, itu gelasku. Mengapa kau memakainya?”

“Oya? Aduh maaf Liz, aku benar- benar tidak tahu kalau gelas ini milikmu, maaf,” kata Elle menyesal.

“Heh, sudahlah kau pakai saja. Oya Elle, pacarmu sudah tidak ke sini lagi ya?” tanya Liza.

“Pacar? Siapa memangnya?” tanya Elle dengan terkejut.

“Ah, itu Rian!” seru Liza ketika melihat Rian datang.

Elle tersenyum ketika Rian masuk ke rumahnya.

“Selamat pagi, Elle,” kata Rian menyapa Elle.

“Selamat pagi, Rian,” kata Elle. “Sudah lama kau tidak kemari. Ada masalah?” tanya Elle.

“Eh aku malas keluar rumah saja, Elle. Oya, kau sudah ijin, bukan?” tanya Rian.

“Sudah. Apa kita harus pergi sekarang?” kata Elle.

“Tidak usah buru- buru. Lagipula kau harus banyak- banyak istirahat. Apa Jill sudah menghubungimu lagi?” tanya Rian.

“Ah, belum. Kemarin aku tidak bisa menghubunginya karena pulsaku habis,” jawab Elle.

“Hem, baiklah,” kata Rian.

“Kalau saja semua ini tidak terjadi pasti kota Berin selalu aman,” kata Elle tiba- tiba.

Rian melihat Elle dengan heran, lalu berkata, “Sudah nasibnya, Elle,”

“Nyonya Noris maksudmu?” tanya Elle.

“Iya. Siapa lagi,” jawab Rian. “Kalau saja dia segera mengakui perbuatannya, kota ini tidak dipenuhi berita teror pembunuhan, bukan?” kata Rian melanjutkan. Ia lalu mengambil biskuit cokelat di meja.

“Ya, kau benar. Tetapi aku belum yakin kalau yang membunuh pak Frans adalah nyonya Noris. Sebab dia juga mencintainya, kelihatannya,” kata Elle.

“Lalu siapa lagi kalau bukan dia, Elle? Apa kau mencurigai orang lain?” tanya Rian.

“Ya, yang pasti …pasti ada yang lain, entahlah,” kata Elle.

“Hem, kau sangat capek kelihatannya. Apa kau perlu istirahat?” tanya Rian.

“Iya sepertinya. Ini tujuanku tidak masuk kerja, he,” jawab Elle. “Kau tidak apa- apa ‘kan Rian jika kutinggal tidur di kamar?”

“Oh, tidak masalah, Elle. Silakan kau tidur dan aku juga akan pulang,” kata Rian lalu tersenyum.

Elle mengangguk lalu pergi ke kamarnya. Rian pun keluar dari rumah kos untuk pulang. Ia mengendarai sepeda saja agar tidak susah memarkirkannya ketika ia mampir ke toko buku. Ketika ia melewati kedai NikCola, ia melihat Jill dan suaminya di sana. Dengan segera ia menghampiri mereka di tempat itu. Rian agak buru- buru memarkirkan sepedanya.


 

“Jill?” sapa Rian.

“Eh, kau Rian?” tanya Jill.

“Iya, saya Rian, teman Elle,” jawab Rian.

“Ada keperluan apa kita bertemu di sini?” tanya Jill.

“Apa? Keperluan? Ah saya tadi melihatmu dan suamimu di sini ketika melewati kedai ini. Jadi, sekalian saya mampir. Lalu mengapa kau tidak menelepon Elle? Saya tadi baru saja dari rumah kosnya dan katanya dia sedang sakit,” kata Rian.

“Apa kau sedang bercanda, Rian?” tanya Jill.

“Tidak, saya serius. Memangnya ada apa, Jill?” kata Rian dengan penuh penasaran.

“Astaga, lalu Rian siapa yang meneleponku kemarin sore? Dia yang menyuruhku ke kedai ini untuk bertemu dengannya,” kata Jill mulai khawatir.

“Dia mengaku sebagai aku? Jangan- jangan…,” kata Rian.

“Jangan- jangan apa? Kau kenal dia?” tanya Jill menginterogasi.

“Bukan begitu maksudku. Tolong jangan salah paham. Maaf saya harus pulang sekarang. Lebih baik jika kalian ke rumah kos madam Maria sekarang. Permisi,” kata Rian.

Jill dan Finn saling memandang dengan tidak percaya. Jill sangat bingung. Rian sudah tancap gas menuju rumahnya. Rencananya akan ke toko buku ia batalkan begitu saja…

Kenangan Teena

Berin 1972, Rumah Sakit Anelise

Di rumah sakit Anelise, Teena berbaring lemah di ranjangnya. Matanya masih terpejam. Kabel infus di hidungnya sepertinya membuatnya tidak nyaman. Seumur- umur ia baru sekali ini diinfus.

Di luar kamarnya, banyak orang yang ingin menjenguknya. Namun, entah ragu atau apa mereka belum juga masuk di ruangan itu. Salah satu dari mereka bertanya soal keadaan Teena kepada seorang dokter yang baru saja keluar dari kamarnya. Dokter itu baru selesai memeriksa kondisi Teena.

“Apa dia baik- baik saja, dokter?” tanya orang itu.

“Ya, dia akan sadar beberapa saat lagi. Tetapi Anda sebaiknya tidak mengajaknya bicara dahulu. Permisi,” jawab dokter itu

Dari dalam kamar, kedua telinga Teena bisa mendengarkan percakapan kedua orang itu samar- samar. Lalu matanya terbuka pelan- pelan. Ia mencoba menggerakkan tangannya yang juga diinfus. Ia merasakan sakit di kepalanya sehingga ia ingin memejamkan kedua matanya saja.

Ah, apa yang terjadi padaku…, batin Teena.

Selang beberapa detik ada seseorang yang masuk ke kamar Teena. Ia adalah madam Maria si pemilik rumah kos yang ditempati oleh Elle.

“Teena,” kata madam Maria dengan suara pelan.

Teena tidak menjawab panggilan madam Maria. Ia hanya membuka mata dan sudah mengetahui bahwa orang yang masuk adalah madam Maria.

“Apa yang sudah terjadi padamu?” tanya madam Maria.

Lagi- lagi Teena tidak mempedulikan madam Maria. Ia mengalihkan matanya dari madam Maria. Ia menggerakkan kepalanya menengok ke kanan, ke arah botol infus.

“Kau masih marah padaku, Teena? Apa gunanya itu? Sudah sejak lama kita berteman tetapi tiba- tiba sikapmu berubah setelah menikah dengan suami barumu itu,” kata madam Maria.

“Lalu apa maumu?” tanya Teena.

“Hem, kau masih angkuh rupanya. Apa kau tidak ingat siapa yang mengenalkanmu dengan Noris itu? Ya, sekarang dia sudah mati, jadi aku tidak perlu sungkan hanya memanggil namanya,” kata madam Maria.

Teena hanya diam saja. Ia tidak menanggapi omongan madam Maria. Namun hatinya kesal karena madam Maria mengungkit masa lalunya. Lalu madam Maria meletakkan parsel buah di atas meja di samping televisi. Ia kemudian berjalan mendekati Teena dan duduk di kursi di samping ranjang.

“Sayang sekali kau sedang tidak berdaya sekarang. Mungkin ini yang namanya karma, Teena. Kau mesti memperbaikinya mulai sekarang sebelum ada pemakaman lagi,” kata madam Maria.

“Apa maksudmu tentang pemakaman? Apa kau yang sudah merencanakan semua ini? Bicara padaku Maria!” kata Teena dengan suara meninggi.

“He, jangan menuduhku Teena. Aku tidak tahu soal kematian orang- orang dekatmu itu. Yang jelas pasti ada yang tidak suka denganmu. Dan itu bukan berarti aku.” kata madam Maria dengan suara pelan. “Barangkali kau memiliki masalah dengan keluarga Noris. Dengan anaknya atau istrinya? Dan kau tahu kalau Jill datang di rumahku kemarin?” tanya madam Maria.

“Jill? Gadis itu? Apa dia berkata sesuatu tentang ibunya?” tanya Teena.

“Eh, tidak. Dia hanya bicara soal keinginannya untuk bertemu madam Marry. Mengapa kau terlihat gugup?” tanya madam Maria.

“Benarkah? Aku tidak apa- apa. Tolong kau jangan membicarakan soal Marry di sini. Aku muak dengannya karena dia sudah menikahi Noris. Seharusnya aku menjadi istri Noris untuk pertama kali, bukan dia,” kata Teena.

“Lalu apa kau sudah tahu keberadaan madam Marry?” tanya madam Maria.

“Tidak. Seharusnya dia sudah dipenjara karena sudah membunuh Noris,” jawab Teena.

“Dia? Kau punya bukti apa soal Marry? He, kau jangan menuduhnya kalau kau tidak punya bukti yang akurat. Hanya karena kau tidak suka padanya lalu kau sebut dia sebagai tersangka,” kata madam Maria.

“Lalu kau membelanya? Aku yang seharusnya kau dukung,” kata Teena. “Aduh, kepalaku sakit sekali,” katanya lagi.

Teena memegang kepalanya dengan tangan kiri. Sakit kepalanya kambuh.

“Teena kau kenapa?” tanya madam Maria mulai panik. “Kupanggilkan dokter sekarang. Kau harus tenang,” katanya melanjutkan.

Madam Maria segera keluar untuk memanggil dokter. Teena berusaha menahan sakit kepalanya sendirian. Matanya berkunang- kunang sehingga tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Namun ada sosok yang terlihat sedikit jelas mendekatinya dengan membawa sebuah benda. Sosok itu berbaju cokelat dan bertopi. Lalu… Bukk! Teena tidak sadarkan diri. Badannya tergeletak di lantai dengan mata terbuka. Jarum infusnya terlepas dari tangannya karena ketarik ke bawah. Sosok itu melihat kondisi Teena sebentar lalu ia menjepitkan sebuah tongkat baseball di tangan kiri Teena. Kemudian ia pergi sambil tersenyum puas…

Beberapa saat kemudian madam Maria dan dokter serta dua perawatnya kembali ke ruangan Teena. Mereka terkejut sekali melihat kondisi Teena.

“Oh Tuhan, Teena! Teena! Bangunlah,” kata madam Maria dengan suara histeris. “Dokter tolong dia, tolong,” katanya melanjutkan.

Tubuh Teena diangkat lalu dibaringkan di ranjangnya. Tongkat baseball masih tergeletak di lantai. Madam Maria akan mengambilnya tetapi salah satu perawat melarangnya.

“Maaf nyonya sebaiknya tidak menyentuh benda itu sebab nanti akan diperiksa oleh polisi,” kata perawat laki- laki.

“Ah, iya,” kata madam Maria.

Ia tidak jadi mengambil benda itu tetapi ia masih melihatinya dengan penasaran. Ia melihat setiap detail tongkat baseball itu. Yang ia temukan adalah huruf F dengan dua titik di atasnya.

Sepertinya ada orang yang mencoba ingin membunuhnya. Apa mungkin dia itu Frans? Ah, aku tidak yakin dan itu tidak akan mungkin, kata madam Maria dalam hati.

Madam Maria mengalihkan pandangannya ke Teena. Ia tidak menduga jika temannya itu akan seperti ini kondisinya. Matanya sudah tertutup dan infusnya sudah dikembalikan ke tempat semula. Dokter menyarankan madam Maria untuk meninggalkan ruang pasien. Lalu mereka keluar dari kamar Teena.

Madam Maria dipersilakan untuk masuk ke ruang dokter. Dia adalah dokter Anne.

“Maaf dokter, sebenarnya teman saya sakit apa?” tanya madam Maria.

Dokter Anne melepas kacamatanya lalu menjawab, “pasien tadi terkena pukulan dari benda yang keras sehingga beliau mengalami gangguan syaraf di otaknya.”

“Astaga, lalu bagaimana solusinya, dokter?” tanya madam Maria.

“Sementara beliau jangan dijenguk dahulu, nyonya, agar masa pengobatannya lebih efektif. Dan setiap hari beliau harus menjalani pemeriksaan di laboratorium di rumah sakit ini,” jawab dokter Anne.

“Eh, iya dokter. Saya serahkan teman saya kepada dokter. Saya sudah percaya,” kata madam Maria.

“Terima kasih, nyonya. Dan saya juga salut dengan nyonya karena Anda sangat baik terhadap teman Anda. Beruntung nyonya Teena bisa segera dirawat di sini dan Anda yang mengantarkannya,” kata dokter Anne.

“Iya, dokter. Kalau begitu saya permisi dahulu, dokter. Tolong sembuhkan Teena,” kata madam Maria.

Dokter Anne mengangguk lalu berkata, “Pasti, nyonya,”

Madam Maria keluar dari ruang dokter Anne. Ia masih merasa bingung tentang Teena. Dan tongkat baseball yang ada ditangannya. Pikirannya sempat macam- macam karena melihat huruf F dengan dua titik hitam di atasnya. Ia berharap bukan pak Frans yang melakukannya…

Bibi yang Malang

Rupanya sangat mudah membuatnya kacau. Aku semakin penasaran bagaimana jika alur skenario ini dilanjutkan. Kita memang sama- sama pembuat cerita yang handal, tetapi sebentar lagi ceritamu akan dikalahkan oleh kesaksianmu, Teena…

——————————

York, 1972

“Jill, sarapanmu sudah siap,” kata Finn membagunkan istrinya.

“Hem, terima kasih, Finn. Eh, kau sudah mau berangkat, ya? Maaf aku bangun terlambat,” kata Jill.

“Tidak apa- apa, sayang. Tidurlah jika kau masih mengantuk,” kata Finn.

Jill mengangguk sambil tersenyum. Finn berangkat ke kantornya dengan mengendarai mobilnya. Pekerjaan Jill sebagai penulis membuatnya kewalahan saat banyak pesanan. Ia harus terjaga sampai pagi kalau perlu. Namun ia senang karena itu memang hobinya.

Di tengah kesibukannya terkadang Jill ingat tentang ibunya. Ia ingin kembali ke Berin, tetapi ia sendiri juga belum yakin bahwa ibunya masih di sana. “Bagaimana kalau dia sudah pindah ke kota lain?” kata Jill. “Sebaiknya aku menghubungi bibi Elina,” kata Jill selanjutnya.

Kring kring kring…

Kring kring kring…

“Halo, dengan siapa ini?” jawab bibi Elina.

Ini Jill, bibi. Maaf aku mengganggumu sebentar.

“Oh, kau rupanya. Ada apa, nak? Semua baik- baik saja, bukan?”

Eh, tidak, tidak sebaik itu, bibi. Aku belum bertemu dengan ibuku saat di Berin. Sekarang aku sudah kembali ke York. Entah di mana lagi aku mencarinya, bi.

“Oh, Jill, kupikir kau sudah bersamanya saat ini. Tenangkan pikiranmu, nak. Semua akan baik- baik saja,” kata bibi Elina.

“Iya, bibi,” kata Jill.

Ia menghentikan pembicaraanya dengan bibinya. Bibi Elina adalah saudara satu- satunya yang dimiliki madan Marry. Ia tinggal sendirian di kota yang agak jauh dari Berin, yang merupakan tempat kelahiran madam Marry sendiri, di kota Sachi.

——————————

Berin, 1972

Teena memikirkan apa yang sudah dialami oleh pak Frans di rumah sakit itu. Ia menjadi ketakutan kala mendengar suara yang samar- samar memanggilnya. Ia khawatir jika itu hantu madam Marry.

Tok tok tok…

Suara ketukan pintu mengagetkan Teena. Ia memanggil Bibi, pembantunya. “Bibi, kau dengar ketukan pintu, bukan?” kata Teena setengah berteriak.

“Iya, nyonya,” jawab Bibi.

Lalu dibukanya pintu rumahnya dan ternyata yang datang adalah pak Frans, Rian dan Elle. Bibi terkejut dan merasa dikeroyok.

“Kalian mengapa datang malam- malam begini?” tanya Bibi.

Namun mereka bertiga langsung memasuki rumah tanpa menjawab pertanyaan Bibi. Dari kamarnya, Teena memanggil Bibi.

“Bibi, siapa di luar? Mengapa lama sekali kau di sana?” tanya Teena.

“Tuan Frans beserta teman- temannya, nyonya. Mereka ingin bertemu dengan anda,” jawab Bibi dengan takut.

“Apa?” kata Teena dengan terkejut. “Bukankan Frans dinyatakan meninggal tadi siang? Dan teman- temannya, mereka sendiri yang menyaksikan Frans dimakamkan. Siapa Frans yang ini?” kata Teena yang tidak berani menengok ke belakang, ke arah pintu kamarnya.

“Teena, Teena… Teena, Teena,…” kata pak Frans memanggil Teena dari luar kamarnya.

“Eh, tidak, tidak, ini hanya mimpi burukku. Mimpi buruk. Aku lebih baik tidak membuka pintu itu. Aku kembali tidur saja. Pintu dan jendela sudah kukunci rapat- rapat jadi tidak seorang pun bisa memaksa masuk ke sini,” kata Teena sambil menarik selimut tebalnya.

“Teena, Teenaa, keluarlah. Apa yang kau lakukan di dalam?” kata pak Frans masih memanggil- manggil Teena agar keluar.

Teena membuka matanya yang masih dilindungi selimutnya setelah mendengar suara pak Frans yang semakin jelas. Ia mencoba menutupi telinganya agar tidak mendengarnya lagi.

“Suara itu terasa di dekatku, oh jangan- jangan…,” bisik Teena.

Namun suara panggilan itu sudah menghilang. Tidak ada lagi yang memanggilnya. Teena bernapas lega dan ia masih tetap ingin berada di balik selimut tebalnya sampai pagi datang…

Malam yang aneh dan menyeramkan bagi Teena.

Pagi hari, sinar matahari sudah menerobos masuk di celah- celah jendela kamar Teena. Teena terkejut karena ia bangun pukul 8 pagi. Sangat siang ia bangun.

“Astaga, mengapa Bibi tidak membangunkanku pukul 7? Aku harus menjemput Henof di stasiun Morell pagi ini,” kata Teena.

Ia segera bergegas menuju dapur. Namun ia malah dikejutkan dengan sosok yang sudah tidak bernyawa di depan pintu kamarnya.

“Bibi?! Bibi?! Oh, Tuhan, Bibi, jangan Bibi!” kata Teena sambil menangis. Ia ketakutan dan berlari ke luar rumah untuk meminta bantuan tetangganya.

Di luar rumah juga ada keramaian yang membuat Teena penasaran.

“Apa yang terjadi di sini, tuan?” tanya Teena kepada seorang pria di kerumunan itu.

“Ada orang yang habis ditembak, nyonya. Saya melihatnya berjalan menuju rumah anda lalu entah dari mana tembakan itu,…” kata pria itu menjelaskan.

Teena lalu menemui seorang polisi di lokasi kejadian itu. Ia melaporkan peristiwa terbunuhnya Bibi. Dengan segera ia dan beberapa polisi lainnya kembali ke rumah untuk memeriksa jenazah Bibi.

“Apa dia kerabat anda, nyonya?” tanya polisi wanita yang memeriksa tubuh Bibi.

“Bukan, tapi dia sudah kuanggap sebagai kerabatku sejak dulu,” jawab Teena.

Seorang polisi lain menelepon mobil ambulans. Teena merasa dirinya kurang enak badan. Kepalanya tiba- tiba pusing, tubuhnya bergemetar, dahinya mengeluarkan keringat dingin. Kakinya tiba- tiba tidak kuat menyangga tubuhnya berdiri untuk beberapa saat, pandangannya kabur, lalu ia pingsan…

Ikan dan Hadiah

Di hari Jumat yang istimewa ayah Yusuf berpakaian rapi sebelum kerdipan sinar mentari menerangi langit. Ia menarik jaket tahan cuacanya yang besar dan topi wol hijau yang menutupi telinganya. Ia pamit dengan melambaikan tangan kepada anaknya. Mata Yusuf berbinar ketika Papa berkata, “Hari ini saatnya papa akan memancing ikan dan membawa pulang sebuah hadiah untukmu.”

Ikan dan hadiah? Oh, bagaimana bisa? Papa mengayuh sepeda menuju Pantai Muizenberg. Roda- rodanya berdecit sepanjang ke Simpang Surfer.

Burung camar terbang mengelilingi langit. “Apaaa? Apaaa? Apaaa?” mereka berteriak- teriak. “Apa yang akan kau bawa pulang untuk Yusuf?”

Papa membunyikan belnya. “Tunggu dan lihatlah apa itu!”

Para nelayan melihat matahari sudah terbit. Mereka memeriksa jaringnya. Mereka juga memeriksa dayungnya. Mereka merasakan angin. Mereka menarik perahunya menuju ke air. Kakek Yusuf, Oupa Salie adalah seorang nelayan yang sering melakukan perjalanan. Sebelumnya ayahnya, Oupagrootjie Ridwaan, juga akrab dengan samudera.

Perahunya dijalankan di atas ombak. Papa merentangkan lengannya saat memegang dayung. Ia menahan kedua kakinya ke samping. Lehernya tegang, otot punggungnya bereaksi.

Papa bernyanyi saat ia bekerja: “Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Sepanjang hari Yusuf melihat ke langit. Langit yang cerah dan tidak ada angin. Ikan dan hadiah! Bagaimana bisa Papa membawanya pulang dari laut? Kadang- kadang ia membawa kerang yang cantik. Kadang kala ia membawa permata hijau dari kaca yang terbilas oleh ombak.

Suatu hari ayah Yusuf bercerita. Saat mereka menemukan penyu laut di hamparan pasir pantai, berjumlah ratusan yang terdampar karena badai.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak para burung camar. “Apa yang akan kau lakukan untuk membantu penyu- penyu itu?”

Papa berkata, “Kita selamatkan penyu- penyu itu, aku berkata sungguh- sungguh. Kita kembalikan mereka ke laut, sampai yang terakhir.”

Papa selalu bernyanyi. Ia menyanyi sambil mendayung. Ia menyanyi sambil menarik jaring. Ia menyanyi saat menggulung tali. Ia bernyanyi sambil mengayuh sepedanya menuju rumah. “Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Ouma Safiya ingin satu buntut kuning yang gemuk untuk makan malamnya. Ibu ingin pakaian baru.

“Jangan bodoh,” kata Ouma. “Kau akan beruntung jika mereka bisa menangkap kepiting yang sangat kecil pun. Kemungkinan akan menjadi hari Jumat buntut ikan. Tidak ada banyak ikan di laut sana.

Yusuf menggandeng tangan Ouma. Mereka menyeberang jalan ke kamar mandi.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar itu yang bertengger di atap. “Apa makan malamnya?”

Tahun yang lalu nelayan berkelahi dengan peselancar. Saling marah dan memukul, dan melontarkan kata- kata.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar.

“Laut itu cukup luas untuk semua orang,” kata ayah Yusuf. Ia menunjukkan kepada mereka surat lisensi memancing yang telah dimiliki oleh Oupa Salie. “Ombak untuk semua. Air untuk kebebasan.”

Ouma Safiya melihat melalui lensa binokulernya, dilingkarkannya jarinya dengan rasa penasaran. Alarm hiu bersuara. Orang- orang yang berenang berlari kembali ke daratan pasir dan mengambil handuk mereka. Para peselancar buru- buru ke pantai, dengan menjepit papan mereka di bawah lengan. Di bawah pancuran mereka menanggalkan pakaian selam mereka.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar. “Apa yang akan dibawa pulang ayah Yusuf dari lautan?”

Ayah, paman dan sepupu Yusuf mendorong dan menarik. Seekor hiu kecil telah ditangkap. Ikan hiu itu terombang- ambing oleh ombak dan menjadi bangkai di laut. Ayah Yusuf membentangkan jaring, bernyanyi untuk hiu: Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Saat hiu itu terakhir bergerak ia membalikkan badannya ke dalam ombak, dengan menyisakan ekor kuningnya yang gemuk di jaring. Ouma Safiya akan senang.

Pria itu menarik perahunya dan menggulung kabel. Benda segitiga putih yang keras menempel di jari Papa.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar. “Apa yang kau bawakan untuk Yusuf?”

Saat matahari terbenam, Papa menjawab pertanyaan burung camar. “Sebuah gigi hiu keberuntungan untuk anakku.”

Di rumah Yusuf mengangkat hadiahnya ke arah bintang- bintang.

TAMAT. Diadaptasi dari cerita A Fish and a Gift

Madam Marry

Rian terkejut telah melihat madam Marry di rumah pak Frans. Selang beberapa jam tamu yang dimaksud mengetuk pintu rumah itu.

“Masuklah, kawan, pintu tidak dikunci,” kata madam Marry. Dan seketika orang itu masuk. Ada dua orang yang nampaknya suami istri. Mereka langsung duduk di ruang tamu itu. Madam Marry mengenalkan mereka kepada Rian.

“Rian, mereka adalah pembantu di rumah tuan Noris, dahulu,” kata madam Marry.

Rian menatap mereka satu per satu. Ia masih bingung dengan kenyataan. Ia sama sekali tidak mengenal mereka, namun ia malah masuk dalam perkara yang tidak diinginkan.

“Eh, maaf madam, saya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, apa anda sengaja meninggalkan keluarga anda?” tanya Rian.

“Oh, ehm, sebenarnya aku tidak masalah kau bertanya begitu, tetapi apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanya madam Marry.

“Tidak ada, madam. Saya hanya bingung soal teman saya yang bekerja di sini. Ia pernah menyinggung soal anda beberapa hari yang lalu. Dan setelah itu nasib buruk menimpanya kemarin,” jawab Rian.

“Aku turut prihatin, Rian. Semoga lekas membaik. Ya, aku tahu maksud perkataanmu itu. Temanmu bersama madam Teena, bukan?” tanya madam Marry.

“Iya, betul, madam. Anda bisa tahu lalu apa jangan- jangan anda sebenarnya tidak menghilang dari kota Berin?” kata Rian.

Madam Marry tidak langsung menjawab pertanyaan Rian. Ia melihat ke arah sepasang suami istri itu. Keriput di kening si pria bertambah jelas karena ia menanggapi tatapan mata madam Marry. Itu seperti menaikkan kedua alis.

“Madam Marry sebenarnya tidak kemana- mana, nak. Dia hanya ingin hidup tenang di luar sana. Pertengkaran dengan tuan Noris tidak bisa dihentikan sampai putrinya lahir. Kami ikut pergi bersamanya karena tidak ingin melihat hal mengerikan lagi di rumah itu sekaligus membuktikan bahwa kami sangat mencintai madam Marry,” pria itu berkata menjelaskan.

“Oke, aku mengerti. Yang masih membuatku bingung mengapa madam Teena mau memenjarakanmu madam Marry? Kudengar bahwa dia menyebutmu sebagai pembunuh suaminya,”

“Oh, Tuhan,” kata istri si pria itu tiba- tiba. “Nyonya, apa kau akan tetap bersembunyi di sini sementara wanita itu berusaha menyingkirkanmu dari rumahmu sendiri,” katanya melanjutkan.

“Eh, tidak usah berlebihan, Viviana. Aku tahu yang harus kulakukan,” kata madam Marry.

“Yang dikatakannya itu benar, madam. Anda harus segera bertindak agar semua masalahmu selesai,” kata Rian. “Dan aku bisa secepatnya kembali ke Marrow,” lanjut Rian.

“Oh, kau bukan orang sini?” tanya pria itu.

“Bukan. Saya di sini hanya diajak oleh teman, si pemilik rumah ini,” jawab Rian.

“Ehm begitu ya? Kalau begitu sebaiknya kau tidak usah ikuti temanmu karena dia sendiri malah celaka. Kau juga tidak ingin seperti dia, bukan? Hem?” kata madam Marry.

“Maksud anda? Saya benar- benar tidak mengerti, maksud saya memang kalau bisa saya tidak mengalami nasib buruk seperti teman saya itu. Tetapi bagaimnapun dia tetap teman saya dan saya harus membantunya,” kata Rian mulai agak kesal.

Madam Marry dan kedua pembantunya saling berpandangan. Kemudian ia menuangkan air dari dalam botol bir ke gelas- gelas kecil itu. Disodorkannya satu gelas untuk Rian.

“Ayo minum dahulu, nak,” kata madam Marry.

“Eh, tidak tidak, saya tidak suka bir,” kata Rian dengan khawatir.

“He, baik kalau begitu. Ini Leon, untukmu saja,” kata madam Marry yang memberikan segelas minuman kepada pria itu.

Pria bernama Leon menerima gelas itu dengan agak gugup, kemudian ia meminumnya satu tegukan saja. Begitu juga madam Marry. Rian heran dengan apa yang ia lihat barusan.

“Eh, madam, kau bilang tadi bahwa kau bukan seorang peminum. Lalu mengapa kau melakukan itu?” tanya Rian.

Madam Marry, Leon dan Viviana tertawa terbahak- bahak. Mimik wajah Rian memerah karena malu.

“Nak, ini hanya air lemon biasa. Jangan dianggap serius,” kata Leon sambil menuangkan air dari botol bor itu lagi. “Kau mau?…” tanyanya menawarkan minuman itu kepada Rian. Tetapi Rian hanya diam dan menghindari minuman itu. Leon meminumnya lagi.

“Kalau ini bir, aku sudah pusing dan tidak sadar. Oh, tetapi ruangan ini agak sedikit bau ya? Aku mempunyai parfum yang cocok untuk ruangan ini,” kata madam Marry yang mengeluarkan sebotol minyak wangi dari dalam tas nya. csst…csst…cssst… Ia menyemprot- nyemprotkan itu ke segala arah.

“Ahh, lebih baik, bukan?” kata madam Marry.

Namun Rian tidak menikmatinya. Ia pusing setelah menghirup aroma minyak wangi itu. “Oh, aku tidak suka aroma parfum anda, madam, maaf…” kata Rian. brukkk… Badan Rian ambruk di sofa yang ia duduki.

Viviana menghampiri Rian untuk membangunkannya. “Hei, Rian, Rian… Nak?” katanya sambil menggoyang- goyang tubuh Rian.

Kemudian ia melihat madam Marry dan berkata, “Apa ini tidak berbahaya, nyonya?”

“Tentu saja tidak. Dia hanya pingsan untuk sementara waktu. Kita harus pergi sekarang,” kata madam Marry. Ia beranjak dari sofa lalu meninggalkan Rian sendirian di rumah itu. Kedua pembantunya juga ikut pergi.

——————————

Rumah Sakit, 1972

“Frans, maafkan aku. Seharusnya kau tidak menjadi penghuni kamar ini,” kata Teena dengan menangis.

“Tolong, jangan menangis, Teena. Aku sudah baik- baik saja. Lihat, luka- luka ini sudah kering dan pasti hari ini bisa pulang,” kata pak Frans sambil mengusap rambut Teena.

“Siapa yang melakukan ini, Frans? Katakan padaku,” tanya Teena agak mendesak.

“Entahlah, semua terjadi begitu saja. Aku bangun sudah berada di ruangan yang aneh dan mengerikan. Gelap, bau, dan banyak gangguan,” kata pak Frans menjelaskan. “Dan yang paling mengerikan adalah ketika aku didekati oleh hantu seorang wanita di sana, ia menggerayangi tubuhku sambil berkata tolong bawa aku pergi dari sini,” kata pak Frans lagi.

Teena memghentikan tangisnya. Mimik wajahnya menegang, lalu berkata, “Lalu kau membawanya pergi bersamamu?”

“Tidak, Teena. Kau tahu aku paling takut dengan hantu. Jangankan membawanya, melihatnya pun aku tidak sudi. Setelah dia berkata seperti itu, aku langsung tidak ingat apa- apa dan tiba- tiba ada di sini,” kata pak Frans.

Teena diam penuh curiga. Ia kemudian pamit untuk pulang kepada pak Frans. “Oke, aku percaya, Frans. Aku harus pergi sekarang,” kata Teena.

Pak Frans hanya memandanginya saat Teena berjalan meninggalkan ruangan…