Angka Romawi

Baru dua ratus meter jaraknya dari rumah, Widia meraba pergelangan tangan kirinya dan ingat jika jam tangannya tidak terpasang. Tanpa ragu ia kembali ke rumah dan langsung menuju kamar, menyambar arlojinya.

“Sudah tidak ada yang ketinggalan? Hp, dompet…”

“Sudah, Buk. Saya berangkat,” pertanyaan ibunya diputus Widia setelah melihat jam tangannya sudsh menunjukkan jam tujuh pagi.

Mulai kerja masih jam delapan, tetapi karena kantornya cukup jauh dan melewati jalan- jalan langganan macet, Widia harus berangkat lebih awal. Khawatir kalau telat. Peraturan kantornya, paling tidak 15 menit sudah masuk, siap online agar tidak terlihat ngos- ngosan setelah berlarian. Kalau sampai telat, bisa menurunkan nilai kinerja alias nantinya bakal dikenai hukuman yang bisa mengurangi bayaran.

“Tumben, jam segini baru datang?” tanya Ranti temannya yang sudah hafal jam datangnya Widia yang pasti paling pagi.

“Iya, tadi balik ke rumah lagi sebab jamku ketinggalan,” jawabnya sambil menaruh tasnya di laci meja.

“Kok maksa banget. Sekarang tidak lihat jam tangan kan bisa. Di HP juga ada,” kata Ranti.

“Belum puas kalau gak lihat jam tangan. HP kan harus merogoh kantong atau buka tas. Kalau jam tangan cuma tinggal menggeser lengan hem atau jaket. Gak ribet kalau lagi di jalan,” jawabnya Widia. Ranti mengerti. Memang susah kalau harus melihat jam di HP. Lebih leluasa melirik jam yang menempel di pergelangan tangan.

“Jam tanganmu cuma satu itu ya? Gak mau ganti? Sasmi jualan jam tangan harganya murah- murah lho. Talinya bisa digonta- ganti. Kelirnya bervariasi,” kata Ranti.

“Iya, jamku hanya satu ini. Tidak pengin beli lagi. Habis batreinya ya diganti, kalau rusak direparasi,” jawab Widia tenang.

“Dari kapan jammu itu?” tanya Ranti.

“Dari aku kuliah semester tiga. Jadi sudah ada lima tahunan lah jam ini ikut aku.”

“Awer bener ya?”

“Lumayan. Juga tahan air, soalnya sudah sering kehujanan, malah pernah nyemplung bak cucian. Sampai seperti itu masih tetap menyala. Karena itu ini jam kesayangan,” ucapnya sambil tersenyum.

Gak bosan?”

Enggak. Justru aku sudah bosan kalau harus ngeluarin duit buat membeli jam baru.”

“Sama saja,” kata Ranti sambil tertawa.

“Hehehe, kelihatan kalau aku pelit ya?” tanya Widia.

“Bukan. Cuma kelihatan iriiiiiit…” jawab Ranti yang masih ketawa. Dan semakin seru.

Bagi Widia, jam tangan kesayangan ini bukan hanya benda untuk menunjukkan waktu, tetapi juga ada kenangan yang ada di baliknya yang tidak mudah dilupakan.

Sebulan setelah masuk kuliah, Widia mulai dekat dengan salah satu temannya yang sudah dikenalnya ketika ospek. Tinggalnya di dekat rumahnya. Asli dari luar kota, di Surabaya tinggal di rumah budenya. Meski berbeda jurusan, tetapi masih satu fakultas. Jadi mereka masih sering saling menyapa.

Soal wajah dan penampilan, Dinar sebenarnya biasa saja. Tidak kelihatan spesial, yang lebih ganteng daripada teman lainnya. Namun yang menyebabkan Widia suka mendekati Dinar karena wawasannya yang luas. Cerita apapun pasti bisa disambungkan dengan literatur. Misalkan sedang main ke rumah Widia saat malam hari yang langitnya cerah berhiaskan kerlap- kerlip bintang- bintang, Dinar bisa menjelaskan bermacam- macam. Tentang galaksi, mengapa bintang bisa kelihatan menyilaukan, tentang tata surya, sampai tentang satelit- satelit yang sudah pernah diluncurkan manusia, lengkap dengan nama satelit dan negara mana saja yang sudah meluncurkan.

Atau ketika melihat bunga bagus di pinggir jalan, dan kebetulan di dekat gerobak es dawet. Dinar bisa menjelaskan sampai lancar tentang berbagai macam tanaman yang bagus untuk taman- taman di kota besar seperti Surabaya. Tanaman apa saja yang dapat menyerap polusi, yang sedap dipandang, malah lengkap dengan nama latinnya. Widia bisanya hanya mengangguk- angguk seolah mengerti, padahal tidak begitu memahami.

Walaupun begitu ada yang membosankan dari anak itu, sebab seperti perpustakaan berjalan, tetapi Widia sangat menyukai kemampuan pengetahuannya. Ia menjadi senang membaca untuk membuktikan benar- tidaknya ucapan Dinar. Tidak seperti dahulu yang hanya suka membaca majalah- majalah yang isisnya hiburan saja. Kalau wujudnya buku, tidak akan dibuka selain buku pelajaran. Itu pun terpaksa.

“Minggu besok mau menemaniku beli jam tangan?” tanya Widia suatu hari.

“Oke. Aku juga ingin jalan- jalan,” jawab Dinar sembari mengangguk senang.

“Mau jam tangan yang seperti apa?” tanya Dinar setelah sampai di dalam toko jam. Widia masih memilih- milih jam yang disediakan oleh mbak pramuniaga. Diperlihatkannya bermacam- macam jam tangan untuk wanita yang terlihat bagus- bagus, membuat Widia ingin mengambil semuanya.

“Bantuin dong! Aku bingung. Semua bagus- bagus,” jawab Widia sambil mengerutkan dahinya. Maksudnya mengajak Dinar ke toko jam memang untuk dimintai pertimbangan memilih jam yang mana yang pantas dibeli.

“Lha kamu suka yang seperti apa? Jam yang pakai angka biasa, atau pakai angka romawi, atau cuma titik- titik tanpa angka?” tanya Dinar ikut bingung.

Widia tidak menjawab. Tetapi matanya memelototi jam tangan yang bertali kalep warna cokelat. Tidak terlalu besar tetapi juga tidak begitu kecil. Pas saat dicoba pada tangan Widia yang tidak begitu gemuk.

“Sip. Bagus. Cocok dengan kulitmu,” Danar memuji.

“Bagus ini?” Widia masih ragu. Dinar mengangguk sambil mengacungkan dua jempol. Matanya melihat sebentar jam yang dipakai Widia.

“Angkanya besar- besar, enak dipandang. Angka romawi,” Dinar meneruskan keterangannya.

“Mengapa jika angka romawi?” tanya Widia.

“Bagus aja. Kamu tahu tidak sejarah angka romawi? Angka yang pada mulanya ditandai dengan isyarat jari. Diciptakan oleh bangsa Romawi di periode pewarisan bangsa Etruscan. Namun angka romawi ini memiliki kekurangan, hanya sebatas untuk angka- angka kecil, juga tidak ada angka nol. Darilada susah- susah, oleh Ali bin Abu Thalib diganti dengan angka arab yang lebih mudah ditulis. Ali bin Abu Thalib juga lebih menyederhanakan angka romawi yang panjang, seperti sepuluh diganti ‘X’, seratus ‘C’ dan seribu ‘M’. Begitu seterusnya,” Dinar menjelaskan panjang lebar.

“Oh begitu ya,” ucap Widia seolah mengerti. Sebenarnya ia tidak begitu peduli soal angka. Angka romawi, angka arab, atau jam yang tidak ada angkanya, cuma ada titik- titik untuk tanda, yang penting cocok di hati dan dompet, sudah. Jika bukan Dinar yang bicara pasti sudah dicuekin. Tidak penting. Akhirny jam itu yang dibeli. Dipakai sampai bertahun- tahun lamanya. Ternyata, jamnya masih awet walaupun sudah berkali- kali kehujanan.

Sampai sekarang, Widia sudah putus hubungan dengan Dinar sebab ia bekerja di luar pulau dan kehilangan kontak, tidak tahu kabarnya. Jam itu masih tetap setia menemaninya setiap hari. Tidak butuh baru, jika batreinya habis ya diganti, kalepnya putus ya dibelikan yang baru dan dipasang di tokonya sekalian. Hanya itu. Tidak sampai rusak yang tidak bisa diperbaiki lagi.

“Wid, aku minta tolong bisa ‘kan? tanya Niar membuyarkan Widia yang sedang melamunkan tentang jam tangannya.

“Minta tolong apa?” Widia giliran bertanya.

“Mengganti foto profil yang ada di portalku. Aku mau membuang foto di portalku. Ingin minta tolong Mbak Ana SPV sungkan. Nanti malah ditanya kenapa mesti ganti. Aku malas kalau disuruh cerita. Tolong ya…” pinta Niar.

Widia bukannya segera menjawab malah melihat jam tangannya, sudah menunjukkan jam delapan kurang lima menit. Sebentar lagi mulai bekerja.

“Nanti saat istirahat saja ya,” Widia menawarkan. Niar mengangguk karena memang sudah mendekati waktu online.

“Jangan lupa ya, istirahat nanti datang ke tempatku,” Niar mengingatkan. Widia mengangguk dan mengacungkan jempolnya.

Setiap komputer di kantornya Widia ada aplikasi untuk setiap karyawan, yaitu yang disebut portal. Di halaman depan ada tempat untuk memasang foto. Terserah foto siapa atau foto apa. Widia sendiri memasang foto tokoh anime kesukaannya, Samurai X.

Di saat waktu istirahat, Widia menemui Niar di tempat kerjanya. Niar lalu membuka portalnya. Menunjukkan yang akan diganti. Seketika Widia terperangah melihat gambar yang ada di komputernya Niar. Seorang pria sedang menggendong anak kecil.

“Foto ini diganti saja. Ini ada foto di flashdiskku. Pilih gambar anakku saja,” kata Niar sambik menyerahkan mouse kepada Widia. Widia masih terbayang- bayang melihat foto itu.

“Ini siapa, Yar?” tanya Widia.

“Ya ini suamiku yang sekarang ada di Kalimantan. Tetapi sekarang sudah mantan. Aku minta cerai. Ternyata, di sana dia memiliki anak dan istri lagi. Aku tidak mau melihat dia lagi. Itu sebabnya aku minta tolong kamu untuk menghapusnya. Aku sendiri tidak bisa. Kata yang lain kamu bisa. Tolong ya,” pinta Niar. Meskipun masih kaget tetapi Widia segera memegang mouse dan mulai menghapus foto itu.

“Umur berapa anakmu, Yar” tanyanya sambil tetap mengurusi komputer.

“Tiga tahun. Sedang lucu- lucunya begitu kok bapaknya tega banget tergila- gila dengan wanita lain,” Niar bercerita tanpa ditanya. Seperti akan melampiaskan kemarahannya. Widia hanya diam. Umur tiga tahun, pas waktu pisah dengan Dinar yang pamit mau merantau di Sumatera ikut pakdenya.

“Dulu bagaimana bisa ketemu bapaknya? Kok sekarang sampai cerai?” tanya Widia lagi.

“Tetangga desa. Waktu menikah dulu sebenarnya dia belum lulus kuliahnya. Tetapi orang tua sudah mendesak, ya bagaimana lagi,” jawab Niar dengan bernapas panjang.

Widia sudah tidak mau bertanya lagi. Ternyata, Dinar yang ia sukai karena kepintarannya dalam menerangkan berbagai macam hal, menyimpan rahasia yang tidak diketahui begitu lamanya oleh Widia. Baru hari ini ia mengerti. Memang Widia tidak berteman dekat dengan Niar, atau karena Widia yang tidak ingin tahu rumah tangga orang lain, maka ia tidak tahu hal ini walaupun sudah berteman dengan dengan Niar hampir tiga tahun. Beruntungnya Widia tidak di posisi Niar. Untungnya…

Kopi di Gelas Belimbing

Siapa yang tidak kenal dengan kopi? Minuman yang terbuat dari tanaman yang sudah banyak ditemukan di pulau- pulau nusantara, sampai terkenal Indonesia sebagai penghasil kopi paling banyak nomer tiga sedunia, setelah Brasil dan Vietnam. Buahnya disangrai sampai menjadi cokelat tua, ditumbuk halus, jika diseduh dengan air panas tanpa gula rasanya sangat pahit. Jelas semuanya.

Anak- anak suka kopi? Tidak sedikit. Awalnya cuma ikut- ikutan Mbah Kung, lalu lama- lama jadi ketagihan. Termasuk Arman, anak SMA kelas dua yang berperawakan ideal, memakai kacamata. Sekilas mirip penyanyi muda yang terkenal dengan nama Afghan. Pakaiannya harus serba modis menurut gaya busana jaman sekarang dan gaul.

Arman sudah gemar minum kopi sejak masih berumur tiga tahun. Ketika itu, ia sering sakit demam, sampai kejang. Menurut kata tetangga sekitarnya, anak kecil yang sering sakit sejenis itu lebih baik diberi minuman kopi. Ibunya Arman menurut saja. Setiap pagi, saat ibunya membuatkan kopi untuk Mbah Kungnya, Arman diberi satu tatakan. Lama- kelamaan, Arman senang ngopi, hingga sekarang.

Jika dilihat dari perawakannya, mestinya Arman juga seperti teman- temannya yang gemar ngopi di cafe- cafe yang menawarkan berbagai macam minuman kopi. Mulai dari kopi espresso, capucino, kopi dari luar negeri yang modelnya bermacam- macam, sampai kopi yang terkenal mahalnya yaitu kopi luwak. Tetapi Arman itu beda. Kesenangannya hanya satu, kopi tubruk. Mau ke mana saja, ya harus ada itu. Kopi kesenangan Mbah Kungnya. Kopi robusta yang disangrai dan ditumbuk oleh ibunya sendiri.

“Man, nanti ikut aku, ke Cafe Cangkir. Kau suka kopi ‘kan? Ini ada cafe baru, baru buka. Ada promosi bagi yang suka kopi,” ajak Fahmi teman lesnya. Fahmi juga senang kopi. Bedanya, Fahmi suka minum kopi yang sudah dicampur, seperti capucino, maracino, caffe latte, sedangkan Arman hanya mau kopi tubruk, itu cuma buatan ibunya, bukan yang ada di cafe- cafe.

“Ayo dong, sekali- kali,” ulang Fahmi.

“Tidak ah, Mi, aku ada tugas makalah yang belum selesai kukerjakan, besuk harus dikumpulkan. Kapan- kapan saja kalau longgar,” tolak Arman.

Fahmi hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Arman.

Kalau hanya diajak ke cafe itu sudah sering. Pertama kali dengan kakaknya atau dengan teman sekolahnya. Baru tahu mesin espresso pertama kalinya sebenarnya ya kagum. Ada yang untuk membuat buih dari susu yang kemudian dituangkan di atas kopi yang sudah berada di cangkir, ditaburi cokelat lalu dibentuk gambar sesuai pesanan. Ada yang menggambar daun waru, wajah seseorang, atau bunga. Memang menakjubkan, sampai Arman merasa sayang saat mau menyeruputnya. Rasanya jelas berbeda dengan buatan ibunya di rumah, yang hanya kopi dicampur air panas terus diaduk. Ini beda, sebab kopinya ditaruh di semacam sendok takaran kecil yang ada gagangnya, lalu ditekan, air kopinya ditampung di cangkir. Tidak ada ampasnya seperti yang dibuat ibunya.

Arman pikir- pikir, enak mungkin kalau ibunya dibelikan mesin seperti itu. Kalau hanya untuk membuatkan orang serumah pasti rugi, sebab pasti mesin itu sangat mahal, cocok untuk yang membuka warung kopi. Jadi, buat orang rumah saja enaknya cuma pakai gelas belimbing dan sendok kecil.

Sebetulnya ada juga alat yang lebih kecil tetapi kurang lebih hasilnya sama persis seperti mesin espresso. Namanya French Press, modelnya seperti teko, tetapi dalamnya ada alat pengepres untuk memisahkan ampas dan air. Namun semurah- murahnya masih tetap mahal bagi dompet keluarga Arman. Tetap lebih baik gelas belimbing dan sendok kecil. Lebih mantab.

“Apa itu, Ka?” tanya Arman pada Fika, adiknya yang sedang membawa cangkir bundar warna putih.

“Kopi,” jawabnya yang mulai menyeruput kopinya sambil berdiri. Dengan penasaran Arman melihat isi cangkirnya. Kopi, tetapi tidak hitam. Pasti kopi dari membeli di warung, kopi sachet, keluaran pabrik yang dibungkus plastik kecil, sudah komplit dengan gula dan susu.

“Kopi kok gak hitam,” Arman nyeletuk.

“Lho, jangan salah. Kopi itu gak harus hitam. Ini adalah white coffee. Kopi putih,” jawab Fika dengan bergaya sok Inggris yang logatnya dibuat mirip seperti tokoh Harry Potter, namun malah terdengar seperti Heri Puter tetangganya di kampung yang suka mengelilingi kampung dengan sepeda mininya.

“Kenapa kok disebut kopi putih?” tanya Arman.

“Karena kopinya sudah dicampuri susu, jadi berubah warnanya, tidak hitam, tapi putih…,” jawab Fika.

“Hahaha… kau keliru…,” Arman tertawa mendengar jawaban adiknya.

“Apanya?” Fika melengos.

“Yang disebut kopi putih itu bukan karena kopi dicampur susu, tetapi karena kopi itu disangrai tidak sampai berwarna cokelat tua seperti biasanya, jadi saat masih berwarna putih ditiriskan lalu ditumbuk. Itu yang disebut kopi putih. Kalau cuma ditambah susu itu disebut cappucino, caffe latte dan sebagainya…” Arman menjelaskan.

“Hehehe, kupikir karena ada susunya…” Fika meringis, lalu kembali menyeruput kopinya. Ia kemudian melanjutkan bicara, “Tapi yang menarik wadahnya ini, Mas.”

“Ada apa memang?”

Fika memperlihatkan cangkir bundar yang dibawanya. Cangkir bundar warna putih itu diputar- putar di depan Arman.

“Kenapa sih?” tanya Arman yang tidak mengerti maksud adiknya.

“Bagus.”

“Bagus?”

“Iya, gak seperti gelas belimbingmu yang kuno itu. Ini lebih pantas buat minum kopi, seperti di TV dan majalah- majalah itu lho, Mas.”

“Halah, cuma wadah kok. Setelah ini aku malah mau minun kopi di rantang,” jawabnya sambil beranjak menuju meja makan, teringat kopinya yang belum diminum. Fika melengos mendengar ucapan kakaknya.

Wadah minum saja kok dipersoalkan. Memang di luar, terutama di warung- warung modern yang disebut cafe, umumnya memiliki gelas bermacam rupa. Seperti cangkir putih yang dimiliki adiknya atau cangkir bening yang tingginya berbeda- beda, menurut Arman yang bagus hanya gelas belimbing. Lebih terasa di rumah. Kalau ditakar sebenarnya juga sama saja, gelas belimbing dengan gelas lainnya.

Mengapa gelas belimbing?

Hal itu yang sering membuat penasaran adiknya atau teman- temannya ketika melihat Arman sering minum kopi memakai gelas itu. Tidak ada yang khusus, kecuali gelas itu hanya mengingatkan kepada almarhum Mbah Kungnya yang sudah meninggal empat tahun lalu.

Beliau yang pertama kali mengenalkan Arman pada kopi. Mbah Kungnya yang setiap pagi, sehabis jalan- jalan, lanjut minum kopi. Saat kopinya masih panas, Mbah Kungnya yang menaruh kopi di tatakan gelas agar panas lebih cepat menguap. Sebelum diberi tahu oleh tetangga soal guna kopi yang baik untuk anak yang sakit deman sampai kejang, ibunya sering menyuruh Arman minta kopi kepada Mbah Kungnya. Beliau malah senang jika Arman minta kopinya. Walaupun sedikit, bagi Arman sudah melegakan. Bukan karena rasa kopinya, melainkan karena rasa kasih sayang Mbah Kung yang sifatnya memang baik dan tidak pernah marah, terutama kepada Arman.

Selain itu, ada sebuah peristiwa yang membuat Arman semakin senang dengan gelas belimbing. Suatu hari, siang- siang waktu pulang sekolah, kira- kira tiga ratus meter dari sekolahnya, Arman melihat beberapa anak SMA terserempet sepeda motor ketika menyeberang jalan. Orang ugal- ugalan, ia bukannya berhenti, malah tancap gas kencang meninggalkan korbannya. Saat didekati, ternyata itu Lani, teman SMP nya yang sekarang juga menjadi teman SMA nya namun beda kelas. Dengan segera Arman menolongnya.

“Bisa jalan ‘kan, Lan?” tanya Arman saat Lani sudah diajak menepi. Lani mengusap- usap pelan siku dan lututnya yang terluka.

“Bisa,” jawabnya.

“Benar? Kalau gak bisa, sini kuboncengkan.”

Gak usah, nanti merepotkan.”

Enggak enggak, aku gak bakal merepotkan. Nanti aku tidak meminta upah.”

“Bukan itu,” jawab Lani sambil menahan ketawa, Arman berkata dengan serius.

“Bukan ngrepotin aku, tapi ngrepotin kamu,” Lani meneruskan ucapannya.

“Lho kenapa?”

Mboncengin aku apa tidak merepotkan? Nanti kau tidak bisa segera sampai di rumah.”

Gak apa- apa, aku tidak buru- buru kok.”

“Aku gendut, berat, apa bisa kau mboncengin aku?”

“Kau takut kuboncengkan ya?” tanya Arman yang merasa Lani tidak enak dibonceng olehnya.

“Meskipun aku kurus tetapi kuat kok.”

Akhirnya, Arman mengantarkan Lani pulang. Sampai di rumahnya Lani maunya langsung pulang, tetapi ditahan oleh ibunya Lani. Arman akan diajak makan siang sekalian, sebagai ucapan terima kasih sudah menolong dan mengantar Lani pulang. Namun Arman menolak. Tak disangka, hujan turun dengan tiba- tiba. Sampai deras pula. Ibunya Lani mempersilakan Arman untuk berteduh dahulu di rumah Lani.

“Maaf lho, Man. Kau jadi terjebak hujan di sini,” kata Lani.

“Tidak apa- apa kok. Kalau aku langsung pulang mungkin juga kehujanan di tengah jalan,” jawab Arman sambil ngemil suguhan dari ibunya Lani. Pisang goreng yang diolesi cokelat dan ditaburi keju. Lainnya yang di dalam toples, seperti kue sus kering, kue semprit mawar, dan kue kering keju. Memang sudah lapar. Kalau tidak sungkan pasti semua sudah raib dimakan, tetapi malu.

“Rumahnya masih jauh ya, Mas?” tanya ibunya Lani sambil membawa dua gelas kopi susu. Arman melihat sekilas, gelas belimbing seperti yang ada di rumahnya.

“Eh… iya, lumayan,” jawabnya gelagapan. Ibunya Lani tersenyum.

“Sudah, ayo diminum, mumpung masih hangat.”

“Iya, terima kasih.”

Suasananya memang pas. Hujan deras, ngemil pisang goreng hangat, sambil minum kopi panas. Di hadapannya ada cewek manis. Ah, berteman selama tiga tahun, baru sekarang ia sadar jika Lani itu sebenarnya manis. Meskipun badannnya agak gemuk, tetapi lesung di pipinya menambah manis di wajahnya. Tetapi Arman adalah tipe cowok yang anti pacaran. Malas katanya. Namun tidak bisa disangkal jika ada rasa suka yang terselip di hatinya kepada Lani. Arman masih cowok normal kok. Jadi, semakin banyak saja kenangan di dalam gelas belimbing yang dipangku Arman…

Mas Gulu-Gundhek

Tidak satu pun orang yang senang jika cerita tidak menyenangkan masa lalu teringat lagi. Kalau bisa dikubur dalam- dalam pasti tidak muncul lagi. Orang berjalan pasti ke depan kan, termasuk aku sendiri!

Tetapi, seperti pepatah Jawa “ndhelika neng lenge semut, yen wayahe ketemu, arep piye maneh?” Mau tidak mau kejadian yang lalu terpaksa teringat lagi. Layaknya kaca benggala bagi hidupku. Kalau ditanya, ini ada apa sih sebenarnya?

Begini ceritanya, aku ‘kan ikut lomba mengarang di kampus dalam rangka Hari Ibu. Tidak tahunya hasil karyaku didiskualifikasi panitia. Alasannya, karanganku sama dengan karangan yang lain yang sudah dikumpulkan lebih dahulu. Apa ada, itu cerpen, hasil imajinasi, kok ada yang menyamai? Kok ada yang meniru? Apalagi, buatku yang sudah sering ikut lomba, niat plagiat itu tidak ada dalam kamus otakku.

…maaf, karangan Anda yang berjudul “Kasih Ibu Tiada Bandingnya” didiskualifikasi, karena sama persis dengan karangan salah satu peserta lainnya. Terima kasih…

Bagai disambar petir saat aku membaca email dari panitia. Segera aku menuju ruang panitia di ruang Senat Mahasiswa. Jalan di dalam kampus tidak seberapa ramai, musimnya remidi semester, banyak mahasiswa yang sibuk di kelasnya masing- masing. Jadi aku bisa berjalan setengah berlari.

“Mbak, kok bisa karanganku yang didiskualifikasi, mestinya kan dimusyawarahkan dahulu. Dikupas bersama- sama, mana yang asli dan mana yang meniru,” aku langsung mengomeli mbak panitia yang bertugas menerima protes. Namanya Dyah di name-tag nya.

“Tunggu dahulu sebentar, panitia masih rapat,” jawabnya enteng sambil melanjutkan mengetik di depan laptop. Aku celingak- celinguk memang di dalam ruangan ada suara ramai bersahutan seperti sedang diskusi.

Lama sekali, kutunggu hingga setengah jam. Biar tidak terasa kualihkan dengan membuka- buka facebook. Malah, Mbak Ayu sudah beranjak dari kursinya… Ah… kalau saja tidak ingat membela karyaku sendiri, tidak sudi aku menunggu lama seperti ini. Sampai…

“Mbak Reyna Hanna, mari silakan masuk untuk berbicara kepada saksi lomba mengarang,” panggil Mbak Ayu dari ruang sebelahnya.

“Iya, Mbak,” jawabku sambil langsung berdiri.

Aroma ruangan di sini berbeda dengan ruangan di luar. Wangi. Dan lebih bersih.

“Langsung saja, Mbak Reyna. Karangan Anda ini sama persis dengan karangan milik salah satu peserta lainnya. Ini, coba dibaca!” Mbak Saksi Mengarang memberikan dua karangan. Aku terkejut. Judulnya memang sama, tetapi isinya… baris demi baris persis. Alurnya sama. Endingnya juga.

“Karena dua karangan ini masuknya tidak bersamaan, panitia mendiskualifikasi karangan yang masuk setelahnya. Ya milik Mbak Reyna!”

“Ini karangan siapa?” aku bertanya setelah membacanya dua kali.

Mbak Andrea tertawa. “Ya rahasia panitia, Mbak. Jaga- jaga kalau ada apa- apa antara Mbak dengan dia.”

“Lho, Mbak. Siapa tahu kalau dia yang meniru ideku?” jawabku ketus.

“Ya tidak mungkin,” sentak suara laki- laki dari belakang kursiku lalu duduk di depanku. Aku langsung menunduk melihat meja setelah tahu siapa yang bersuara.

“Ini Mas Rahadian Amiguno, Ketua Panitia, Mbak Reyna,” Mbak Andrea mengenalkan. Aku tetap menunduk, sampai ia mengajak bersalaman. Mas Gugun, Gugun… aduh, kok ya ketemu di sini?

Aku tidak bakal lupa dengannya yang kusebut Gulu Gundhek dua tahun yang lalu. Lalu bagaimana asalnya istilah itu?

Ibuku sebelumnya menyuruh adikku untuk les privat, mendatangkan guru. Bukan guru sih sebenarnya, karena masih anak kuliahan, ia anak teman ibu yang sering menang Olimpiade. Ibu kalau memuji hm…tinggi sekali.

“Hanna, Mas Gugun ini sudah pintar mencari uang sendiri. Membuka les privat, sering ikut perlombaan, umurnya lho cuma selisih sedikit denganmu, kalau kamu ini kebiasaanmu apa?”

“Setiap orang itu punya bakat sendiri- sendiri, Bu,” jawabku setengah cuek.

“Maksudnya ibu, coba ditelusuri keahlianmu apa? Tahun depan sudah mau kuliah, mau mengambil jurusan apa?” Ibu meneruskan pembicaraannya.

“Sudah lah, Bu. Bosan aku membahas masalah itu terus,” aku lalu pergi. Awas, ya… lihat saja. Belum tahu siapa aku ini, batinku sebal.

Maka dari itu setelahnya, setiap guru itu datang aku bersuara kencang. “Adik, itu lho Pak Gugun, Gulu- Gundhekmu sudah tiba.”

Memang pak gurunya adikku itu berbadan besar gagah perkasa. Perkiraan se lehernya gundek! Dalam bahasa Jawa menjadi gulu- gundhek, cocok. Ternyata ia tidak membalas berkata apa- apa walaupun sebenarnya mendengar.

Hingga sore saat itu di teras…

“Mbak Hanna, ini bukumu, kan? Hm, karangannya bagus- bagus, lho,” suaranya Mas guru di dekat telingaku. Aku sedang santai membaca majalah.

“He, jangan berani- berani mengusik buku- bukuku,” jawabku ketus sambil menarik buku yang dipegangnya.

“Ih, Mbak Hanna, buku itu aku yang meminjam. Aku tidak mengerti jenis- jenisnya karangan, jadi…” Bagas bersuara.

“Aku mengerti, kalau Anda ini pintar, tidak usah memuji- muji. Aku tidak punya uang receh!” kataku sambil langsung pergi.

“Mbak, awas kulaporkan kepada ibu,” adikku berteriak. Aku tidak peduli! Mas Gugun ya seperti tidak peduli. Tetap saja mencorat- coret di whiteboard.

Buku kumpulan karanganku kudekap rapat- rapat. Hanya satu ini kebiasaan rutinku. Mengarang. Aku senang menulis cerita. Ada yang sudah kuketik dan ku share di blog-ku. Hanya iseng saja lah…

Dari dalam kulihat bukuku, astaga, tulisanku seperti habis dikoreksi. Titik koma, huruf besar, penulisan judul,… tidak terima aku kembali ke ruang depan lagi.

“Mas, beraninya mencoreti tulisanku. Ayo, dihapus semua!” kataku sambil melemparkan bukuku yang kemudian ditangkap tangannya.

“Bagas, masuk dulu, ya. Aku mau mengobrol sebentar dengan kakakmu,” Mas Gugun menyuruh Bagas. Lalu menarik tanganku untuk diajak duduk berhadapan. Tanganku digenggam erat, matanya tajam menatapku. Tanganku kutarik dengan sekuat tenaga tetapi kalah kuat. Aku giliran memandang matanya.

“Hanna, Mbak Hanna yang cuantiikk. Dengarkan perkataanku, jangan disela dahulu. Satu, aku tidak pernah mengusikmu. Kamu sendiri yang terus menggangguku sampai memanggilku dengan sebutan Gulu Gundhek, Gulu Gundhek. Seumpama ibumu bukan teman ibuku, aku sudah sejak awal tidak mau datang ke sini!” Oh… mataku tidak kuat memandangnya lagi, aku mengalihkan pandangan ke benda lain.

“Dua, Anda ini ibarat hape yang tidak pernah dices. Sok tau, merasa benar sendiri. Tidak mau mendengarkan perkataan siapa saja! Banyak yang bilang, Bagas, ibu, malah kakakmu yang teman kuliahku itu mengeluh sama!” mulutku hanya membungkam berbeda dengan isi hatiku yang ingin membalas perkataannya!

“Tiga, yang terakhir. Anda ini mempunyai potensi di bidang mengarang. Ayo dikembangkan. Karanganmu bagus- bagus, apalagi kalau mau ikut lomba, hm…” Mas Gugun melepaskan tanganku.

Mulutku yang hampir mengatainya, hanya diam rapat- rapat setelah mendengar perkataannya yang terakhir. Apa aku tidak salah dengar? Aku dipuji setelah dikupas kesalahanku! Sumpah, belum ada yang pernah memuji tulisanku, ya baru sekarang ini! Bukuku dikembalikan, dan aku mau menerimanya. Apalagi aku tadi disebut apa… Mbak Hanna yang cuantiikk?!

Sejak peristiwa itu aku sudah tidak pernah berbicara atau menyapanya. Aku menjauh. Hanya kupetik hikmahnya setelah itu aku mulai ikut lomba- lomba menulis cerita, sampai sekarang. Walaupun aku tahu kami sekampus, hingga setahun aku tidak pernah menyapa. Karena beda fakultas, juga beda jurusan!

Sampai hari ini tadi… bertemu langsung satu meja! Bagaimana ini, bertemu sekali saja, saat aku terkena kasus, hahaha…

Tiba- tiba Mbak Andrea keluar. Aku gelagapan. Mas Gugun memukul- mukulkan pulpennya di meja.

“Ya, ya sudah saya pamit. Perkara lomba saya…”

Belum selesai mulutku berbicara, Mas Gugun sudah menyambung, “Hanna, Hanna… aku kangen kau panggil Gulu Gundhek. Kok sekarang berubah?”

Aku cuma membatin, “Tidak hanya sekarang aku berubah. Tetapi sejak kejadian dahulu itu.”

“Sekarang tanggal berapa, Han?” Mas Gugun bertanya.

“Tidak tahu, tidak hafal,” jawabku jujur.

“Penulis memang sering lupa waktu, ya?” katanya, “Sekarang tanggal 16 Januari, ingat?” tanyanya lagi.

Aku hanya menggeleng- geleng. Apa sih maksudnya? Aku pasti ingat hari ini ‘kan tanggal kelahiranku.

Mas Gugun menarik file tebal dari tasnya. “Ini semua karanganmu yang kau share di blog-mu. Yang warna pink itu karanganmu yang pernah kau ikutkan lomba dan menjadi juara. Selamat, ya? Hannaku memang hebat!” Mas Gugun mengacungkan dua jempol, aku hanya ikut senang. Mbak Andrea masuk lagi.

“Hm…, mutiara yang hilang sudah ketemu?” celetuknya menggoda, “Ini segera ditandatangani keputusan hasil lomba.”

Hingga malam setelah hari itu aku masih merenung dan mencoba mengingat- ingat apa saja yang dikatakan oleh Mas Gugun. Hm, siapa yang tidak iri kepadaku, acungkan jari coba… sebab setelah itu aku diajak ke kantin kampus dan ditraktir untuk merayakan ulang tahun, hehehe…

“Karanganmu tidak ada yang meniru. Itu hanya rekayasaku supaya bisa bertemu denganmu…” dan seterusnya, dan seterusnya…

Singkatnya, selama ini ia selalu memperhatikan kiprahku sampai masuk ke blog-ku. Aku tidak bisa membantah. Hatiku semuanya ada di situ. Sudah terbaca oleh Mas Gugun dengan sangat jelas.

“Aku minta maaf jika perkataanku dahulu membuat Hanna sakit hati atau bagaimana…” kata Mas Gugun mengakhiri pertemuan sore tadi.

“Tidak, kok. Sama sekali tidak… Perkataan Mas itu malah seperti jamu untuk saya…” jawabku mantab. Kulihat mata Mas Gugun berbinar senang. Aku juga.

Terlihat jelas bayangannya ketika ada sms masuk… Hanna, misalkan aku tidak hanya mengunduh tulisanmu, tetapi juga mengunduh hatimu, boleh apa tidak?…

Gulingku kudekap erat karena jantungku berdegup kencang sekali. Benar- benar kencang sekali, dengar kan sampai sana?

***