Angka Romawi

Baru dua ratus meter jaraknya dari rumah, Widia meraba pergelangan tangan kirinya dan ingat jika jam tangannya tidak terpasang. Tanpa ragu ia kembali ke rumah dan langsung menuju kamar, menyambar arlojinya.

“Sudah tidak ada yang ketinggalan? Hp, dompet…”

“Sudah, Buk. Saya berangkat,” pertanyaan ibunya diputus Widia setelah melihat jam tangannya sudsh menunjukkan jam tujuh pagi.

Mulai kerja masih jam delapan, tetapi karena kantornya cukup jauh dan melewati jalan- jalan langganan macet, Widia harus berangkat lebih awal. Khawatir kalau telat. Peraturan kantornya, paling tidak 15 menit sudah masuk, siap online agar tidak terlihat ngos- ngosan setelah berlarian. Kalau sampai telat, bisa menurunkan nilai kinerja alias nantinya bakal dikenai hukuman yang bisa mengurangi bayaran.

“Tumben, jam segini baru datang?” tanya Ranti temannya yang sudah hafal jam datangnya Widia yang pasti paling pagi.

“Iya, tadi balik ke rumah lagi sebab jamku ketinggalan,” jawabnya sambil menaruh tasnya di laci meja.

“Kok maksa banget. Sekarang tidak lihat jam tangan kan bisa. Di HP juga ada,” kata Ranti.

“Belum puas kalau gak lihat jam tangan. HP kan harus merogoh kantong atau buka tas. Kalau jam tangan cuma tinggal menggeser lengan hem atau jaket. Gak ribet kalau lagi di jalan,” jawabnya Widia. Ranti mengerti. Memang susah kalau harus melihat jam di HP. Lebih leluasa melirik jam yang menempel di pergelangan tangan.

“Jam tanganmu cuma satu itu ya? Gak mau ganti? Sasmi jualan jam tangan harganya murah- murah lho. Talinya bisa digonta- ganti. Kelirnya bervariasi,” kata Ranti.

“Iya, jamku hanya satu ini. Tidak pengin beli lagi. Habis batreinya ya diganti, kalau rusak direparasi,” jawab Widia tenang.

“Dari kapan jammu itu?” tanya Ranti.

“Dari aku kuliah semester tiga. Jadi sudah ada lima tahunan lah jam ini ikut aku.”

“Awer bener ya?”

“Lumayan. Juga tahan air, soalnya sudah sering kehujanan, malah pernah nyemplung bak cucian. Sampai seperti itu masih tetap menyala. Karena itu ini jam kesayangan,” ucapnya sambil tersenyum.

Gak bosan?”

Enggak. Justru aku sudah bosan kalau harus ngeluarin duit buat membeli jam baru.”

“Sama saja,” kata Ranti sambil tertawa.

“Hehehe, kelihatan kalau aku pelit ya?” tanya Widia.

“Bukan. Cuma kelihatan iriiiiiit…” jawab Ranti yang masih ketawa. Dan semakin seru.

Bagi Widia, jam tangan kesayangan ini bukan hanya benda untuk menunjukkan waktu, tetapi juga ada kenangan yang ada di baliknya yang tidak mudah dilupakan.

Sebulan setelah masuk kuliah, Widia mulai dekat dengan salah satu temannya yang sudah dikenalnya ketika ospek. Tinggalnya di dekat rumahnya. Asli dari luar kota, di Surabaya tinggal di rumah budenya. Meski berbeda jurusan, tetapi masih satu fakultas. Jadi mereka masih sering saling menyapa.

Soal wajah dan penampilan, Dinar sebenarnya biasa saja. Tidak kelihatan spesial, yang lebih ganteng daripada teman lainnya. Namun yang menyebabkan Widia suka mendekati Dinar karena wawasannya yang luas. Cerita apapun pasti bisa disambungkan dengan literatur. Misalkan sedang main ke rumah Widia saat malam hari yang langitnya cerah berhiaskan kerlap- kerlip bintang- bintang, Dinar bisa menjelaskan bermacam- macam. Tentang galaksi, mengapa bintang bisa kelihatan menyilaukan, tentang tata surya, sampai tentang satelit- satelit yang sudah pernah diluncurkan manusia, lengkap dengan nama satelit dan negara mana saja yang sudah meluncurkan.

Atau ketika melihat bunga bagus di pinggir jalan, dan kebetulan di dekat gerobak es dawet. Dinar bisa menjelaskan sampai lancar tentang berbagai macam tanaman yang bagus untuk taman- taman di kota besar seperti Surabaya. Tanaman apa saja yang dapat menyerap polusi, yang sedap dipandang, malah lengkap dengan nama latinnya. Widia bisanya hanya mengangguk- angguk seolah mengerti, padahal tidak begitu memahami.

Walaupun begitu ada yang membosankan dari anak itu, sebab seperti perpustakaan berjalan, tetapi Widia sangat menyukai kemampuan pengetahuannya. Ia menjadi senang membaca untuk membuktikan benar- tidaknya ucapan Dinar. Tidak seperti dahulu yang hanya suka membaca majalah- majalah yang isisnya hiburan saja. Kalau wujudnya buku, tidak akan dibuka selain buku pelajaran. Itu pun terpaksa.

“Minggu besok mau menemaniku beli jam tangan?” tanya Widia suatu hari.

“Oke. Aku juga ingin jalan- jalan,” jawab Dinar sembari mengangguk senang.

“Mau jam tangan yang seperti apa?” tanya Dinar setelah sampai di dalam toko jam. Widia masih memilih- milih jam yang disediakan oleh mbak pramuniaga. Diperlihatkannya bermacam- macam jam tangan untuk wanita yang terlihat bagus- bagus, membuat Widia ingin mengambil semuanya.

“Bantuin dong! Aku bingung. Semua bagus- bagus,” jawab Widia sambil mengerutkan dahinya. Maksudnya mengajak Dinar ke toko jam memang untuk dimintai pertimbangan memilih jam yang mana yang pantas dibeli.

“Lha kamu suka yang seperti apa? Jam yang pakai angka biasa, atau pakai angka romawi, atau cuma titik- titik tanpa angka?” tanya Dinar ikut bingung.

Widia tidak menjawab. Tetapi matanya memelototi jam tangan yang bertali kalep warna cokelat. Tidak terlalu besar tetapi juga tidak begitu kecil. Pas saat dicoba pada tangan Widia yang tidak begitu gemuk.

“Sip. Bagus. Cocok dengan kulitmu,” Danar memuji.

“Bagus ini?” Widia masih ragu. Dinar mengangguk sambil mengacungkan dua jempol. Matanya melihat sebentar jam yang dipakai Widia.

“Angkanya besar- besar, enak dipandang. Angka romawi,” Dinar meneruskan keterangannya.

“Mengapa jika angka romawi?” tanya Widia.

“Bagus aja. Kamu tahu tidak sejarah angka romawi? Angka yang pada mulanya ditandai dengan isyarat jari. Diciptakan oleh bangsa Romawi di periode pewarisan bangsa Etruscan. Namun angka romawi ini memiliki kekurangan, hanya sebatas untuk angka- angka kecil, juga tidak ada angka nol. Darilada susah- susah, oleh Ali bin Abu Thalib diganti dengan angka arab yang lebih mudah ditulis. Ali bin Abu Thalib juga lebih menyederhanakan angka romawi yang panjang, seperti sepuluh diganti ‘X’, seratus ‘C’ dan seribu ‘M’. Begitu seterusnya,” Dinar menjelaskan panjang lebar.

“Oh begitu ya,” ucap Widia seolah mengerti. Sebenarnya ia tidak begitu peduli soal angka. Angka romawi, angka arab, atau jam yang tidak ada angkanya, cuma ada titik- titik untuk tanda, yang penting cocok di hati dan dompet, sudah. Jika bukan Dinar yang bicara pasti sudah dicuekin. Tidak penting. Akhirny jam itu yang dibeli. Dipakai sampai bertahun- tahun lamanya. Ternyata, jamnya masih awet walaupun sudah berkali- kali kehujanan.

Sampai sekarang, Widia sudah putus hubungan dengan Dinar sebab ia bekerja di luar pulau dan kehilangan kontak, tidak tahu kabarnya. Jam itu masih tetap setia menemaninya setiap hari. Tidak butuh baru, jika batreinya habis ya diganti, kalepnya putus ya dibelikan yang baru dan dipasang di tokonya sekalian. Hanya itu. Tidak sampai rusak yang tidak bisa diperbaiki lagi.

“Wid, aku minta tolong bisa ‘kan? tanya Niar membuyarkan Widia yang sedang melamunkan tentang jam tangannya.

“Minta tolong apa?” Widia giliran bertanya.

“Mengganti foto profil yang ada di portalku. Aku mau membuang foto di portalku. Ingin minta tolong Mbak Ana SPV sungkan. Nanti malah ditanya kenapa mesti ganti. Aku malas kalau disuruh cerita. Tolong ya…” pinta Niar.

Widia bukannya segera menjawab malah melihat jam tangannya, sudah menunjukkan jam delapan kurang lima menit. Sebentar lagi mulai bekerja.

“Nanti saat istirahat saja ya,” Widia menawarkan. Niar mengangguk karena memang sudah mendekati waktu online.

“Jangan lupa ya, istirahat nanti datang ke tempatku,” Niar mengingatkan. Widia mengangguk dan mengacungkan jempolnya.

Setiap komputer di kantornya Widia ada aplikasi untuk setiap karyawan, yaitu yang disebut portal. Di halaman depan ada tempat untuk memasang foto. Terserah foto siapa atau foto apa. Widia sendiri memasang foto tokoh anime kesukaannya, Samurai X.

Di saat waktu istirahat, Widia menemui Niar di tempat kerjanya. Niar lalu membuka portalnya. Menunjukkan yang akan diganti. Seketika Widia terperangah melihat gambar yang ada di komputernya Niar. Seorang pria sedang menggendong anak kecil.

“Foto ini diganti saja. Ini ada foto di flashdiskku. Pilih gambar anakku saja,” kata Niar sambik menyerahkan mouse kepada Widia. Widia masih terbayang- bayang melihat foto itu.

“Ini siapa, Yar?” tanya Widia.

“Ya ini suamiku yang sekarang ada di Kalimantan. Tetapi sekarang sudah mantan. Aku minta cerai. Ternyata, di sana dia memiliki anak dan istri lagi. Aku tidak mau melihat dia lagi. Itu sebabnya aku minta tolong kamu untuk menghapusnya. Aku sendiri tidak bisa. Kata yang lain kamu bisa. Tolong ya,” pinta Niar. Meskipun masih kaget tetapi Widia segera memegang mouse dan mulai menghapus foto itu.

“Umur berapa anakmu, Yar” tanyanya sambil tetap mengurusi komputer.

“Tiga tahun. Sedang lucu- lucunya begitu kok bapaknya tega banget tergila- gila dengan wanita lain,” Niar bercerita tanpa ditanya. Seperti akan melampiaskan kemarahannya. Widia hanya diam. Umur tiga tahun, pas waktu pisah dengan Dinar yang pamit mau merantau di Sumatera ikut pakdenya.

“Dulu bagaimana bisa ketemu bapaknya? Kok sekarang sampai cerai?” tanya Widia lagi.

“Tetangga desa. Waktu menikah dulu sebenarnya dia belum lulus kuliahnya. Tetapi orang tua sudah mendesak, ya bagaimana lagi,” jawab Niar dengan bernapas panjang.

Widia sudah tidak mau bertanya lagi. Ternyata, Dinar yang ia sukai karena kepintarannya dalam menerangkan berbagai macam hal, menyimpan rahasia yang tidak diketahui begitu lamanya oleh Widia. Baru hari ini ia mengerti. Memang Widia tidak berteman dekat dengan Niar, atau karena Widia yang tidak ingin tahu rumah tangga orang lain, maka ia tidak tahu hal ini walaupun sudah berteman dengan dengan Niar hampir tiga tahun. Beruntungnya Widia tidak di posisi Niar. Untungnya…