Cerita Sepanjang Jalan

Pukul setengah 1 siang, aku baru saja melewati terminal Kedunggalar. Setelah jembatan 5 menit kemudian, kuparkir sepeda motor maticku di dekat lincak yang biasanya untuk berjualan es degan berjajaran di pinggir hutan Banjarejo. Kupikir hari ini aku bisa beristirahat dan berteduh di bawah naungan hutan jati sambil menikmati kesegaran air kelapa muda. Namun, kecele’. Siang ini tidak ada satu pun orang yang membuka warungnya. Terpaksa ku menahan rasa haus. Jakunku naik turun mengobati serak. Tanganku mencari- cari rokok di semua saku baju, kucabut sebatang lalu kunyalakan.

Lincak menjerit ketika tertimpa badanku. Aku merebahkan diri sambil meregangkan tulang belakang yang sudah terasa linu. Sudah hampir 5 jam bermotoran tanpa istirahat sejak berangkat dari kota Malang pukul 7 pagi tadi. Perkiraanku setengah jam lagi bisa sampai di rumah. Sambil tiduran, angan- anganku mengingatkan tentang jalan- jalan yang sudah kulewati. Tikungan jalan di tepi jurang Songgoriti yang meliuk- liuk seperti ular berjalan, sepintas saja. Lalu teringat kakak perempuanku yang baru kujenguk. Kasihan aku jika mengingat itu. Sudah ditinggal suaminya meninggal dunia saat anak- anaknya masih membutuhkan biaya.

Sayang, hanya bisa merasa iba sebab tidak bisa membantu apa- apa selain doa dan menjenguknya di sela- sela pekerjaan longgar seperti saat ini, kebetulan saat memperingati 7 hari kematian kakak iparku. Semoga Gusti selalu memberi ketabahan dan jalan terang, doaku dalam batin.

Karena terbawa capek dan mata sudah pedas, hampir saja aku tertidur. Baru mau terlelap tiba- tiba dikagetkan oleh suara raungan sepeda motor yang direm kencang. Sepertinya ada juga yang mau beristirahat di tempat ini. Aku bangun dengan agak malas. Rokok kuhisap sekali lagi sebelum kubuang. Dengan mata kriyip- kriyip, aku mengamati seorang pria setengah baya itu berjalan mendekati lincak tempatku beristirahat. Ia diikuti oleh seorang wanita yang menggendong tas besar, seperti mau bepergian jauh.

“Permisi, saya ikut leren di sini ya, Mas.” Tanpa menunggu jawabanku pria itu langsung duduk di sampingku sambil menyuruh wanita tadi supaya ikut duduk.

“Iya, silakan. Saya juga sama, sedang beristirahat,” jawabku sambil melihat- lihat sepeda motor yang diparkir agak jauh. “Dari bepergian jauh ya, Mas?” tanyaku setelah memastikan asal sepeda motor dari plat nomornya.

“Mau ke Jogja, Mas, dari Sidoarjo,” jawab pria itu. Aku mengangguk. Aku bisa merasakan betapa lelahnya badan, dari Sidoarjo menuju Jogja hanya bermotoran sebab diriku sendiri yang dari Malang saja rasanya sudah tidak karuan.

“Saya juga baru dari Malang kok Pak, menjenguk saudara,” tanpa ditanya aku membuka pembicaraan. Daripada hanya diam kok malah tidak enak. Setelah membuka pembicaraan, aku berkenalan dengan mereka yang menjadi teman beristirahat di hutan Banjarjo ini.

Parlan, singkat saja ia menyebutkan namanya. Lalu wanita di sebelahnya diaku istrinya bernama Prihatin. Bu Prihatin asli orang Jogja, sedangkan Pak Parlan asli orang Sidoarjo. Mereka berangkat dari Sidoarjo lebih pagi dariku pukul 5 pagi. Sempat tersesat keliru memilih jalan ke Jombang. Malah ban sepeda motornya juga habis bocor terkena paku di Karangjati. Pak Parlan bercerita panjang lebar sementara aku lebih senang mendengarkannya saja. Tidak terasa sudah hampir satu jam. Ceritanya tidak selesai- selesai sampai membicarakan hal yang termasuk pribadi.

“Sudah hampir limabelas tahun saya dan istri tidak menjenguk orang tua, Mas,” Pak Parlan meneruskan ceritanya.

“Sejak saya berumah tangga dengan ibunya anak- anak ini masih belum direstui oleh orang tuanya, terutama ibu. Ya mungkin wajar karena saya ini duda beranak satu dan Prih masih perawan.” Pak Parlan menghentikan ceritanya. Matanya mengikuti jalannya bus yang baru lewat. Setelah suara gemuruh mesin bus semakin menjauh kemudian dilanjutkan lagi ceritanya.

“Waktu itu, saya dan Prih sudah bertekad bekerja menjadi apapun agar bisa bertahan hidup dengan berbagai resikonya. Dan seperti dibuang, setelah menikah saya langsung disuruh pergi dan tidak boleh pulang sebelum ibu memberi restu. Walaupun begitu, setiap tahun saya selalu mengirim surat, untuk minta maaf kepada ibu agar mau menerima saya lagi, eh ternyata ibu belum mau, Mas. Apa karena saking marahnya atau bagaimana, hidup saya dengan Prih ini terasa berat, mencari rejeki tidak lancar,” Pak Parlan kembali menghentikan cerita. Matanya berkaca- kaca, begitu pula dengan Bu Prih, istrinya.

“Terus sekarang kok mau pulang ke Jogja?” selaku.

“Kemarin saya menerima surat, sudah dua minggu ini ibu sakit Mas, isi suratnya, ibu ingin saya dan Prih menjenguk beliau. Maka dari itu saya agak tergesa- gesa berangkat. Bekal uang ya hanya seadanya itu juga meminjam dari teman. Belum sarapan, cuma membawa air mineral ini saja. E.. kok ya tersesat, ban terkena paku, ada saja halangannya di jalan. Jujur saja Mas, uang saya untuk bekal tinggal duapuluh ribu, sementara perjalanan masih jauh. Untuk bensin saja apa ya cukup? Saya dan istri sudah musyawarah, kalau uangnya tidak cukup untuk bekal perjalanan terpaksa sepeda motor itu dijual di jalan saja. Lalu kami meneruskan ke Jogja dengan naik bus. Pokoknya harus bisa sungkem ibu, itu saja tekad saya, Mas.”

“Jlebb…!” rasanya hatiku seperti ditusuk. Tumbuh rasa iba dengan cerita Pak Parlan. Tadinya memang ada prasangka buruk. Jangan- jangan ceritanya Pak Parlan ini hanya modus orang berniat jahat yang memanfaatkan belas kasihan orang. Namun segera prasangka itu kubuang jauh- jauh. Sepintas, angan- anganku kembali kepada kakak perempuanku yang baru saja kujenguk. Sementara suasana menjadi hening. Hanya kedengaran suara angin yang menghempas dedaunan di antara gemuruh mesin kendaraan yang berlalu- lalang. Memang jalan ini tidak pernah sepi.

Aku ingat di saku celanaku masih ada sisa uang tujuhpuluh-empat ribu. Perkiraanku bensin di motor maticku juga masih cukup hanya untuk sampai ke rumah. Pegangan duapuluh ribu cuma untuk berjaga- jaga jika ingin beli minuman di jalan. Kulirik Pak Parlan yang kelihatan merenung.

Nuwun sewu, Pak. Ini ada sisa uang. Bisa kalau untuk beli bensin saja,” kataku sambil menyalami Pak Parlan. Lembaran limapuluh ribu kuselipkan di tangannya. Pak Parlan terkejut. Ada rasa bingung dan tidak enak.

“Tidak apa- apa, Pak. Ini diterima saja.” Dengan setengah memaksa tangannya Pak Parlan kugenggam erat sekalian berpamitan.

“Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih,” Mata Pak Parlan berkaca- kaca ketika berterima kasih kepadaku. Matahari mulai bergulir ke barat ketika moto matic yang kutunggangi meninggalkan pinggiran hutan Banjarjo. Meninggalkan Pak Parlan, istrinya dan cerita panjang yang menjerat kehidupannya. Kuteruskan perjalanan menurut jalan- jalan sepanjang hutan, yang berbelok- belok seperti nasib manusia…

***

Sebenarnya aku sudah hampir lupa tentang peristiwa di hutan jati Banjarjo itu apalagi sudah hampir dua tahun yang lalu. Tetapi orang yang baru saja masuk ke rumah makan dan langsung ke belakang meja kasir itu mengingatkanku akan peristiwa yang lalu. Jika diperhatikan, sekarang badannya agak berisi dan kulitnya kelihatan bersih. Kuseruput kopiku yang masih hangat. Kuamati jalan kota Jogja yang dijejali banyak kendaraan. Sudah mirip Jakarta saja, batinku. Hari ini hari terakhirku menyelesaikan tugas pelatihan, jadi mumpung ada waktu sebelum pulang kupuaskan berkeliling kota Jogja. Dan kebetulan sampai ring-road keluar kota sudah menjelang waktu ashar, perutku juga terasa lapar lalu mampir ke sebuah rumah makan yang terlihat ramai pengunjungnya.

Kulihat pria yang di belakang meja kasir itu, yang masih memberi arahan para pegawainya. Siapa tahu ia yang memiliki rumah makan ini. Kupastikan lagi, apa betul pria itu Pak Parlan. Setelah menghabiskan wedang kopi di gelasku, langsung saja aku berdiri. Melangkah mendekati meja kasir.

“Sudah Mbak, rawon dan kopi tambah krupuknya dua.” Dompet kucabut. Sengaja aku mengeraskan suara agar menarik perhatian pria itu. Dan benar ia menengok ke arahku dan mengamatiku. Beberapa detik aku dan pria itu saling melihat dan mengingat.

“Mas Arif ya?!” teriak pria itu yang duluan menyapa.

“Pak Parlan?” balasku menyapa.

Wis- wis Ndhuk, jajannya Mas ini tidak usah dimasukkan. Wah mimpi apa ini tadi, sudah datang saja. Mari, Mas duduk dahulu, mari duduk,” dengan tergopoh- gopoh pria yang ternyata Pak Parlan itu mengajakku. Tanganku ditarik menjauhi meja kasir, menuju meja di pojok rumah makan.

Tidak bisa diungkapkan sangat bahagianya Pak Parlan dan aku yang bisa bertemu kembali. Ceritanya tetap panjang lebar seperti dahulu sampai tidak bisa disela. Apalagi saat menceritakan kelanjutan setelah berpisah di pinggiran hutan Banjarjo.

“Saya sampai Jogja sini pas Maghrib Mas. Wah, seumpama saya tidak bertemu Njenengan di hutan kala itu, ya tidak tahu lah Mas.”

Keningku mengkerut menunggu cerita selanjutnya.

“Ibu meninggal sehari setelah saya dan Prih datan ke rumah, Mas. Saya beruntung masih diberi kesempatan untuk meminta maaf. Begitu juga ibu, ya sudah bisa ikhlas menerima keadaan saya dan Prih. Malah, sebelum meninggal dengan disaksikan semua putra, memberi wasiat agar saya dan Prih meneruskan usaha Rumah Makan ini, Mas.”

Tidak banyak yang kukatakan. Sampai Pak Parlan selesai bercerita dan aku pamit pulang sebab waktu semakin sore. Sebenarnya Pak Parlan ingin aku menginap di rumahnya. Tetapi karena sudah pamit kepada ibunya anak- anak hanya tiga hari jadi aku nekat pulang saja. Dan kutinggalkan kota Jogja ketika azan Maghrib berkumandang. Melewati jalan jurusan Solo yang selalu ramai oleh kendaraan. Muyeg seperti cerita kehidupan manusia.

***

Rumah Darurat Pino

Di hari Sabtu yang istimewa, SD Taman Siswa mengadakan acara lomba antar sekolah. Sebagai tuan rumah, Bu Astri selaku kepala sekolah menyambut dengan hangat para murid perwakilan dari sekolah lain beserta guru pendampingnya. Setiap sekolah mengambil 5 sampai 7 murid untuk diikutkan dalam perlombaan. Dan lomba yang diadakan adalah lomba kesenian, dan keterampilan.

Acara dimulai pukul setengah delapan pagi, di halaman dalam sekolah dasar Taman Siswa. Halaman dalam sekolah itu cukup luas untuk peserta lomba yang kurang lebih ada 100 orang. Pino dan keempat kawannya, yaitu Darma, Tasya, Meida, dan Janu, sudah menempatkan diri di kotak nomor 3. Guru pendamping mereka adalah Pak Wasis, yang juga menjadi guru kesenian dan keterampilan.

“Anak- anak, semua peralatan dan perlengkapan lomba sudah siap?” tanya Pak Wasis memastikan.

“SUDAH, PAK!” jawab mereka serempak.

Pino ditunjuk teman- temannya menjadi ketua kelompok. Jadi, ia harus mampu bertanggung jawab atas kekompakan kelompoknya. Ia sendiri memiliki ide untuk membuat rumah- rumahan yang terbuat dari gypsum. Sebab, ia berpikir karyanya akan bermanfaat dan bisa ditinggali. Dari kelompok kotak nomor 4, terdengar suara keributan, yang agak mengganggu konsentrasi kelompok lainnya, termasuk kelompok Pino.

“Kita mau membuat apa sih?” kata Asta kepada ketua regu mereka. “Aku bingung.”

“Asta, jangan ngambek begitu. Kita ‘kan mau membuat gedung bertingkat seperti yang ada di Dubai itu,” kata Denis sombong sambil melirik kelompok Pino.

Pino melihat banyak triplek di kotak nomor 4. Dan lem kayu, dan tali. Gedung bertingkat di Dubai? pikirnya. Ia kemudian tersadar setelah Janu menyikut kakinya, yang terlihat gemetaran. “Kau gugup, kawan?” tanya Janu sambil mengerjakan tugasnya.

“Sstt, iya sedikit. Kulihat sketsa gambar mereka bagus sekali. Gedung bertingkat di Dubai,” kata Pino dengan rasa kagum.

“Sebaiknya kau lebih memperhatikan karya kita, Pino. Ini ‘kan idemu,” kata Meida menyela. “Walaupun sketsanya tidak sebagus mereka, tetapi aku yakin karya kita berguna.”

“Betul itu,” timpal Darma.

Sementara Tasya sedang memotong- motong plastik besar sesuai dengan polanya. Pino memutuskan untuk mulai membentuk kerangka rumah yang terbuat dari triplek tebal dan lebih tebal dari milik kelompok kotak nomor 4. Saat Pino sudah selesai membuat rangka bangunan, tiba- tiba Denis menertawakannya.

“Kau mau menginap di rumah itu ya? Hahaha…,” ejek Denis. “Waktu kurang 30 menit lagi, dan temanmu masih megaduk- aduk gypsum. Oh, semoga saja tidak hujan,” ejeknya lagi.

“Heh, dasar sombong, kau lebih baik membantu teman- temanmu itu daripada terus- terusan mengganggu kami. Lihat triplek kalian banyak yang patah karena terlalu tipis, hahaha…,” kata Tasya membalas ejekan Denis.

“Eh, sudah- sudah, tenang anak- anak!” kata Pak Wasis tiba- tiba.

Pino mencoba untuk tetap tenang dan sabar karena ia yang dituakan, meskipun badannya paling kecil. Darma mulai membuat tembok- tembok rumah dengan adonan gypsum dan dibantu oleh Janu. Pino dan yang lainnya membantu merapikan. Darma sangat senang mengutak- atik bangunan sehingga ia sudah paham strategi membangun rumah- rumahan yang baik.

Waktu tinggal 15 menit lagi, hari semakin siang dan panas. “Wah, ternyata kita tidak perlu menyalakan alat pengering rambut,” kata Darma senang. Ia sudah menyelesaikan tugasnya, dan kemudian memasang atapnya. Pino membantu Darma melekatkan atap ke kerangkanya. Dan akhirnya rumah- rumahan Pino dan kawan- kawannya selesai dengan sempurna.

Namun, panas yang terik malah membuat lemnya mencair di beberapa tempat. Dan waktu tinggal 5 menit lagi. Pino menjadi khawatir jika karyanya gagal dan tidak menang. Ia melihat ada warna yang aneh yang menempel di tembok gypsum yang sudah dicat warna biru muda. Ia kemudian meminta Darma dan Janu untuk memperbaikinya.

“Bagaimana, Darma?” tanya Pino panik.

“Tenang, bro, lemnya aman. Ini bukan cairan lem, tetapi air yang masih tersisa di gypsum,” kata Darma dengan tenang.

“Kalau seperti itu terus, bagaimana kalau gypsumnya pecah?” tanya Asta tiba- tiba.

Darma diam sejenak untuk memikirkan cara aman di detik- detik terakhir perlombaan. Ia memegang tembok luar, dan terasa basah. Kemudian ia menempelkan tangannya ke tembok dalam, dan rasanya… Hm…, Darma tersenyum.

“Eh, lihat warna temboknya!” pekik Tasya. “Indah sekali.”

“Ternyata yang kau khawatirkan tidak terjadi, Pino. Itu adalah proses pengeringan alami, jadi rumah kita tidak akan hancur,” kata Darma menenangkan Pino.

Setelah tembok- temboknya kering, Janu akan menempelkan plastik anti air transparan di atap dan tembok. Meida yang bertugas merapikannya. Setelah itu alarm berbunyi tanda waktu berkarya sudah selesai.

“Hahahahaha…,” tawa Denis ketika ia melihat kelompok Pino mengangkat rumah kecil hasil karyanya bersama teman- temannya. “Kau seperti pawang hujan, Pino. Panas- panas begini rumahmu memakai jas hujan. Kau sudah yakin akan hujan hari ini, ya?” ejek Denis.

Pino tidak menghiraukan ejekan Denis. Ia dan teman- temannya berkumpul di samping karya mereka untuk mengisi data di lembaran daftar karya lomba. Bu Sisil, yang menjadi salah satu juri lomba melihat- lihat hasil karya kelompok Pino. Ia tidak berkata apa- apa dan terus mencatat. Setelah semua peserta lomba selesai dengan urusan data- mendata, Bu Astri mengumumkan bahwa hasil penilaian akan diberikan setelah pukul 12 siang, paling lambat pukul 1 siang. Semua hasil karya ditinggal di tempat yang sudah disediakan, dan semua peserta tidak boleh menyentuhnya lagi.

Pino dan kawan- kawannya senang karena bisa menyelesaikan karyanya, sekaligus deg- deg-an karena ini adalah lomba. Pak Wasis menemui Pino untuk memberikan jajanan dan jus jeruk, serta memberikan selamat atas kekompakan kelompoknya.

“Tanganmu dingin sekali, Pino. Apa kau sakit?” kata Pak Wasis khawatir.

“Tidak, Pak, Pino hanya gugup, hihi…” sela Darma dengan becanda.

“Oh, tidak usah khawatir, menang atau kalah itu tidak penting. Yang terpenting adalah kalian bisa menyelesaikan tugas dengan baik tanpa ribut. Dan siapa tahu rumah kecil itu bisa berguna,” Pak Wasis berkata. “Ayo semua, ini dimakan dulu,”

Di saat istirahat, Pino masih memandangi rumah kecilnya yang berada di lapangan basket. Cuaca panas tiba- tiba berubah menjadi mendung. Aroma tanah basah mulai tercium. Walaupun di lapangan basket sudah dipasang terop, tetapi Pino khawatir rumah kecilnya tidak bisa bertahan lama jika tidak segera diambil. Dan ternyata, gerimis sudah mendahului penilaian para juri.

“Pak, apa kami boleh mengambil karya kami? Karena sudah gerimis, dan saya takut jika air hujan semakin deras dan merusak hasil karya kami,” kata Pino khawatir.

“Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa- apa pada karya kalian,” kata Pak Wasis tenang.

Tidak hanya hujan yang membuat Pino khawatir, tetapi juga ada seekor anak anjing yang sejak tadi menggonggong mencari induknya. Anak anjing itu milik Pak Parmin, si penjaga sekolah. Beliau sudah tua namun belum pikun, dan masih senang merawat sekolah Pino. Gerimis tipis semakin menebal, tetapi tidak sampai hujan deras. Anak anjing itu tiba- tiba menghilang, suara gonggongan kecilnya sudah tidak kedengaran.

Dan waktu untuk penilaian sudah habis. Pukul setengah 1 siang sudah bisa dimumkan hasil penilaian karya seni oleh para juri. Saat itu juga gerimis sudah berhenti. Namun, semua peserta lomba belum diperbolehkan menyentuh karyanya. Dua orang juri mengambil lima buah hasil karya saja yang dinilai paling bagus. Pino melihat rumah kecilnya juga diangkat dan dijajarkan bersama karya- karya terpilih lainnya.

“Kau lihat itu, bro, rumah kecil biasa kita menjadi luar biasa jika pindah tempat di sana,” kata Janu senang kepada Pino.

Tasya dan Meida juga senang dan deg-deg-an. Sementara kelompok Denis kepalanya semakin mendongak ke atas, sebab miniatur gedung Burj Khalifa mereka berada diurutan nomor 2. Dan hasil karya kategori paling indah adalah…

Kelompok Kotak Nomor 2, yaitu Taman Flora Mini.

Tepuk tangan riuh bergema di lapangan. Peserta kelompok kotak nomor 2 mendapat penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya kategori paling indah. Setelah keramaian berhenti, Bu Sisil mengumumkan bahwa hasil karya dengan kategori paling baik adalah…

Peserta Kelompok Kotak Nomor 3, yaitu Rumah Darurat Pino.

“YEYY!” teriak Tasya dan Meida bersamaan. Pino dan kawan- kawannya maju ke depan untuk mendapatkan penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya terbaik. Bu Astri dan Pak Wasis ikut bertepuk tangan dengan meriah dan bangga.

“Dan sesuai dengan namanya, ya,” kata Bu Sisil kemudian, “ada seekor anak anjing yang berlindung di rumah mini ini rupanya,”

Bu Sisil kemudian menyerahkan anak anjing itu kepada Pak Parmin yang sudah mencari- carinya sejak tadi pagi. Dan memberi selamat kepada Pino dan kawan- kawan atas keberhasilan mereka.

Selanjutnya, hasil karya dengan kategori paling kreatif adalah… Peserta Kelompok Kotak Nomor 5, yaitu Lukisan Otomatis. Dan hasil karya dengan kategori paling canggih adalah Peserta Kelompok Kotak Nomor 7, yaitu Kulkas Dimana Saja.

Denis kelihatan kecewa karena ia pikir perlombaan ini ada juara 1, 2 dan 3. Pino bisa melihat Denis dan kelompoknya menunduk lesu karena hasil karya mereka hanya masuk kategori paling mirip dengan aslinya.

 

Penulis: DCS

Anak Penyihir

Pada suatu hari, hiduplah seorang penyihir yang jahat dan buruk rupa. Ia seburuk puding kismis yang gosong. Ia memiliki seorang anak, yang bernama Broccolina, dan ia juga tidak lebih baik daripada ibunya. Si penyihir ingin mengajari anaknya ilmu- sihir, agar bisa meneruskan jejaknya.

Namun, belum seberapa ilmu yang diajarkan oleh ibunya, Broccolina tidak sedikit pun tertarik. Ia tidak pernah mau menjadi tukang sihir maupun pekerja rumah tangga. Ia hanya ingin menjadi cantik.

Broccolina sangat mengkhawatirkan dengan penampilan buruknya, dan ia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan cermin, untuk merias wajah. Ia memoles wajahnya dengan pewarna dan mengecat kuku- kukunya sampai terlihat berkilau. Ia menata rambutnya setiap pagi, siang, dan malam, dalam berbagai bentuk yang menurutnya pantas. Ia ingin terlihat secantik mungkin, tetapi kenyataannya bahwa semua yang sudah dilakukannya hanya membuat penampilannya semakin jelek.

Suatu hari, ibunya telah pergi ke suatu tempat yang jauh. Ia berpesan kepada Broccolina untuk tetap mengaduk ramuan sihir, yang sedang direbus, sampai ia kembali.

“Mengapa aku yang harus melakukannya?” Broccolina protes.

“Kau tahu aku sangat benci mengaduk ramuan. Sendok besar ini mengelupaskan cat warna kukuku, dan uap nya membuat riasan wajahku luntur.”

“Ini harus dikerjakan!” kata ibunya sambil berjalan ke luar pintu.

“Aku akan kembali segera mungkin. Saat ini juga, teruslah mengaduk periuk itu!”

“Ini tidak adil!” Broccolina menggerutu.

Ia mengambil sendok besar dan memulai mengaduk.

Setelah beberapa lama, ia mendengar suara yang aneh di telinganya. Itu seperti sekawanan lebah yang terbang di atasnya. Ia mendongak ke atas untuk melihat apa itu.

“Oh!” ia memekik. Itu adalah bidadari baik hati, yang terbang di atasnya.

Mata Broccolina terbelalak saat melihatnya.

“Sungguh cantik bidadari itu! Seandainya aku bisa secantik dia!” ia berkata dengan iri sambil menatap sang bidadari.

“Bagaimana dia bisa sangat cantik? Pasti ada rahasianya,” ia berpikir.

“Jika aku bisa menangkapnya, mungkin aku bisa mendapatkan rahasianya. Ya, aku harus cepat dan menangkapnya.” Ia meninggalkan periuk mendidih di atas tungku, dan berlari ke dalam rumah untuk mengambil karpet ajaib.

Tetapi ibunya telah membawanya pergi.

“Oh, tidak!” ia merengut. Ia sangat kecewa karena tidak dapat menangkap sang bidadari. Ia kembali ke tempat ketel besar itu, dan mendongkol.

“Oh, bagaimana caranya agar aku bisa menjadi secantik itu?”

Ia berpikir, berpikir, dan berpikir, tetapi belum ada hal yang muncul di dalam pikirannya.

Tiba- tiba ia mendapatkan sebuah ide.

“Mungkin ibuku mempunyai resep ramuan di buku- buku sihirnya, yang untuk membuat diriku cantik seperti bidadari itu. Pasti, ia pasti punya.”

Kemudian ia berlari kembali ke dalam rumah, dan menuju ke lemari ibunya.

Ia menggeledah lemari, mencari- cari resep, membolak- balik semua buku resep sihir ibunya satu per satu. Akan tetapi ia tidak menemukan resep apapun untuk menjadi cantik seperti bidadari. Ia sangat kecewa. Ia tidak berhenti memikirkan sang bidadari cantik itu. Ia mondar- mandir dan agak emosi, tidak ingin menyerah begitu saja.

“Baiklah,” ia berpikir, “aku akan membuat sendiri resep itu, untuk menjadikanku cantik.”

Ia kemudian kembali ke tempat periuk yang sudah mendidih itu dan mengaduknya, ia masih mencoba memikirkan resepnya. “Apa bahan- bahan yang harus kugunakan untuk membuat ramuan sihir itu?” ia bertanya kepada dirinya sendiri. Ia berpikir dan berpikir, tetapi ia tidak bisa berpikir tentang cara menjadikannya cantik.

Selang beberapa lama, Broccolina merasakan ada sesuatu yang menjilati pergelangan kakinya. Itu adalah kucing abu- abu ibunya. “Pergi,” ia berkata. Kucing itu menggeliat manja di kaki Broccolina, mengeong. Ia sepertinya kesepian. Broccolina, yang sudah sejak tadi marah, menjadi semakin marah karena itu.

“Kubilang pergi!” ia membentak.

Ketika kucing itu tidak mau pergi, Broccolina menarik ekornya dan melemparkannya ke luar pintu. ‘Yeeoow!’ Kucing malang itu meraung dan berlari dengan menaikkan ekornya.

Tidak disadarinya, sebuah ekor yang sangat panjang muncul dari punggung Broccolina. Tetapi, ia masih asyik melamun jika ia menjadi secantik bidadari, hingga ia tidak mempedulikan itu. Ia mengaduk ramuannya lebih cepat, memikirkan bahan- bahan yanga harus ia masukkan.

Burung gagak ibunya melihat sesuatu yang aneh yang muncul di punggung Broccolina dan bergoyang- goyang. Dikiranya itu adalah ular, lalu ia mematuk dan menariknya keluar.

Broccolina marah karena terganggu lagi. Ia memukul burung gagak itu menggunakan sendok pengaduk. Kaki kurus burung gagak itu terlukai oleh sendok itu dan beberapa cairan ramuan tumpah di atas tanah.

Burung gagak yang malang itu memekik kesakitan dan buru- buru pergi dengan kaki pincang. Broccolina memang sengaja, ia tidak peduli telah memukul burung gagak itu. Bahkan ia tidak meminta maaf kepadanya. Ia melanjutkan mengaduk ramuan di panci besar itu. Tidak lama kemudian, ada luka- luka kecil yang muncul ke seluruh tubuhnya. Namun, ia terus memikirkan untuk menjadi cantik, hingga ia tidak menyadarinya.

Seekor kambing, yang akan disembelih ibunya untuk makan malam, mencium bau ramuan ajaib yang menetes di tanah. Ia bangun tidur dari tempat tidur jeraminya lalu menjilati tetesan ramuan itu, sebab ia sangat haus. Hal itu membuat marah Broccolina dan bahkan semakin marah, kemudian ia menendang kambing itu. Kasihan sekali, kambing yang kehausan itu berjalan sempoyongan, ketakutan dan kesakitan.

Dan, tidak berlangsung lama, Broccolina memiliki jenggot abu- abu seperti kambing itu, yang tumbuh meruncing dari dagunya dan rambutnya menjadi kasar dan kaku seperti jerami. Namun Broccolina tidak memperhatikan itu, karena ia sangat sibuk, memikirkan tentang bahan- bahan yang harus ia masukkan untuk membuat ramuan kecantikan.

Sapi yang ada di kandang, melihat rambut jerami Broccolina yang segar dan menggiurkan. Ia sangat lapar dan berpikir bahwa itu adalah tumpukan jerami, jadi ia datang untuk memakannya.

Broccolina, tanpa menyadari mengapa sapi itu mendatanginya, dengan marah melemparkan kayu bakar kepadanya. Kayu itu mengenai tanduknya dan kemudian sapi yang malang itu kabur, melenguh ketakutan.

Selang beberapa detik kemudian, dua benjolan muncul dari dua sisi kepala Broccolina dan tumbuh menjadi dua tanduk yang besar. Namun, ia tetap tidak memperhatikan!

Ketika anjing penjaga ibunya melihat makhluk asing ini, ia tidak mengetahui bahwa itu adalah Broccolina. Ia meloncat- loncat di hadapannya, menggonggong, dan menggeram.

Broccolina begitu terganggu karena gonggongannya lalu ia memukul anjing itu dengan penutup panci besar itu. Benda itu mengenai mulut si anjing sehingga ia berlari ketakutan sambil berteriak- teriak.

Tiba- tiba setengah dari semua gigi Broccolina jatuh ke dalam panci besar itu, saat ia mengaduk ramuan. Tetapi Broccolina tidak mengetahuinya, sebab ia sangat keras memikirkan cara menjadi cantik seperti bidadari.

Burung beo kecil terbangun karena mendengar keributan. Ketika ia melihat Broccolina, ia menjadi ketakutan dan terbang ke sana kemari di dalam sangkarnya.

“Oh! Broccolina,” burung beo itu berteriak, “apa yang terjadi padamu? Kau menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan kau menjadi terburuk yang pernah kulihat,” burung beo mengoceh, merasa ngeri. Broccolina geram. Ia menggoyang- goyangkan sangkarnya dan memaki- makinya. Saat ia memaki, suaranya serak dan menjadi parau, seperti berkuak- kuak.

“Oh! Ada apa ini?” Broccolina sangat kebingungan dan merasa ada yang salah. Ia berlari menuju cermin.

Saat ia melihat dirinya di cermin, ia sangat terkejut.

“Oh, tidak! Tidak, tidaaaak…” ia berteriak histeris.

“Oh, tidak, aku ingin menjadi cantik seperti bidadari.”

Ia berlari ke luar rumah, berteriak- teriak dengan kasar. Ia menjadi semakin marah. Ia menangis meraung- raung dan berguling- guling di tanah, mengutuk bidadari.

Mendengar raungan Broccolina, sang bidadari, yang terbang dalam perjalanan ke surga, datang untuk melihat apa yang terjadi. Ketika Broccolina melihat sang bidadari, ia sangat marah dan dengki.

“Kau bidadari jahat! Kau bidadari jahat!” Broccolina berteriak dengan marah, sambil mengangkat tangannya.

“Mengapa kau terbang di atasku? Sejak saat itu aku ingin menjadi bidadari sepertimu.”

Sang bidadari mendengarkan dengan tenang. Broccolina memprotes.

“Lihat apa yang terjadi padaku? Akhirnya aku menjadi mengerikan. Kau harus bertanggung jawab untuk semua ini. Sekarang, kau harus bilang kepadaku, rahasia menjadi cantik seperti bidadari. Kecuali aku akan mengajarkanmu sebuah pelajaran saat aku menangkapmu,” Broccolina berteriak dengan geram.

Sang bidadari mendengarkan dengan sepenuh hati dan berbicara kepadanya dengan tenang.

“Broccolina, tidak ada ramuan sihir yang bisa membuat siapa pun cantik seperti bidadari. Ini bukanlah rahasia. Jika kau mencintai dan menyayangi sesama, bersikaplah rendah hati dan sabar, dan hanya melakukan perbuatan baik, saat itulah kau terlihat cantik seperti bidadari. Cinta di dalam hatimu untuk sesama yang sesungguhnya membuatmu cantik.”

Dengan mulut ternganga, Broccolina mendengarkan dengan sungguh- sungguh nasihat bidadari.

“Beberapa waktu yang lalu, kau memperlakukan hewan- hewan malang ini dengan tidak baik. Itulah mengapa kau menjadi buruk. Semakin hatimu terisi dengan amarah dan dendam, keburukan datang kepadamu,” kata sang bidadari.

“Broccolina, sekarang kau harus menemui siapa pun yang sudah kau sakiti, dan rawatlah hingga mereka sembuh. Kau harus menyayangi mereka dan berbicara kepada mereka dengan penuh kasih sayang. Kau tidak boleh berbicara kasar kepada siapa pun. Maka suaramu akan menjadi lebih baik.” Sang bidadari kemudian pergi, mengepakkan sayap emasnya.

Broccolina berlari- lari dengan panik, mencari si kucing, si burung gagak, si kambing, sapi, anjing dan burung beo. Mereka semua bersembunyi darinya, di belakang kandang, memar- memar, dan merasa sangat ketakutan dan kesakitan. Ketika melihatnya, mereka semakin ketakutan. Tetapi saat ia berkata kepada mereka dengan baik, mereka menjadi terkejut, lupa akan ketakutan dan kesakitan yang mereka alami. Broccolina merawat mereka dengan sepenuh hati dan menyembuhkan luka- luka mereka dengan sabar.

Mereka semua senang dan kagum mendengar perkataan baik dari mulutnya. Sedikit demi sedikit, saat ia berbicara dengan baik kepada mereka, suaranya berubah menjadi lembut dan lembut. Saat ia mengobati luka- luka para hewan itu dengan penug kesabaran, kulitnya menjadi bersih dan memancarkan cahaya.

Ketika ia merawat mereka dengan kasih sayang, rambutnya menjadi halus dan berkilau. Ketika ia memperhatikan mereka dengan sorot mata yang lembut, matanya menjadi lebih bercahaya dan bening. Sedikit demi sedikit, ia menjadi cantik, seperti bidadari.

Dengan cepat, dua benjolan yang muncul di punggungnya berubah menjadi sayap- sayap yang indah.

“Oh!” ia terkejut, sangat bahagia dengan perubahannya. Ia melayang di udara, sambil mengepakkan sayapnya. Broccolina akhirnya menjadi bidadari dan terbang menuju surga. Setelah itu ia tidak pernah menyakiti siapa pun dan selalu menyayangi semuanya.
Diterjemahkan dari The Witch’s Daughter/ penulis: Janaki Sooriyarachchi