Boris Sangat Bosan!

Boris telah bermain dengan semua mainannya. Ia telah membaca semua buku- bukunya. Namun, sekarang ia tidak tahu apa yang dilakukan selanjutnya. Ia berpikir dan berpikir, tetapi ia belum bisa berpikir apa yang bisa dilakukan.

Boris sangat bosan.

Akhirnya Boris beranjak dan pergi menemui ayahnya. Ia meniup terumpetnya dan berkata, “Ayo kita melakukan sesuatu.”

“Ayah sedang melakukan sesuatu,” kata sang ayah. “Ayah sedang sibuk mengecat. Mengapa kau tidak pergi memancing saja?”

“Memancing tidak menyenangkan jika sendirian,” kata Boris. “Kumohon lakukan sesuatu bersamaku.”

“Ayah tidak bisa sekarang,” kata sang ayah. “Mengapa kau tidak membaca buku?”

“Aku sudah lelah membaca buku!” jawab Boris.

Boris berharap ibunya mau melakukan sesuatu bersamanya.

“Ibu ingin sekali,” kata sang ibu, “tetapi ibu sudah berjanji kepada adikmu untuk membuat banyak kue bersamanya. Mengapa kau tidak membantu kami saja?”

“Tidak, tidak, tidak!” teriak Boris. “Aku tidak senang dengan adikku— dan aku tidak senang membuat kue!”

Dan ia mengentakkan kaki kembali ke kamarnya.

Boris bisa mendengar suara kegembiraan yang datang dari dapur. Ocehan dan candaan membuatnya merasa semakin sedih. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah pohonnya.

“Mungkin di sana ada sesuatu yang bisa dilakukan,” ia berkata. Ia membawa terumpetnya, hanya berjaga- jaga jika di sana tidak ada.

Akan tetapi ketika Boris sudah memanjat ke atas pohon itu, ia tidak melihat apapun yang bisa dimainkan. Itu juga membosankan seperti berada di kamarnya.

“Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kumainkan?” ia bertanya pada dirinya sendiri berulang- ulang.

Sebenarnya ada banyak sekali benda— tetapi ia tidak menginginkannya. Ia benar- benar tidak ingin memainkannya.

Tiba- tiba sebuah kardus besar datang dan berjalan di bawahnya. Dari dalam terdengar suara adik Boris yang sedang menyanyi, “Aku akan  membangun sebuah istana. Tetapi jangan ada yang tahu di mana. Ini adalah rahasia!”

Dari rumah pohonnya, Boris dapat melihat dengan jelas ke mana ia pergi. “Membangun istana!” ia berpikir. “Hal yang membosankan. Jika aku mempunyai kardus itu,  aku mau membuat sebuah pesawat ruang angkasa yang besar sekali!”

Ia masih melihat adiknya dan teman- temannya yang sudah mulai bekerja.

Selanjutnya Boris melihat mereka menempelkan guntingan pola kertas dan kancing baju ke istana itu lalu membuat lukisan di dindingnya.

Sebenarnya Boris tahu apa yang akan ia lakukan. Sebuah pesawat ruang angkasa akan memerlukan roket dan antena dan banyak benda lainnya.

Tetapi kemudian ia ingat kebosanannya untuk melakukan apapun.

Di waktu selanjutnya Boris melihat adiknya dan teman- temannya membawa ular- ularan dan kertas krep.

“Aku menduga mereka akan mengadakan sebuah pesta,” Boris bepikir. “Lalu apa! Aku tidak senang pesta!” Tetapi ia tetap melihat mereka berjalan dari rumah pohonnya.

“Ibu memberikan kita semua perhiasan dan baju lamanya untuk bermain peran,” adik kecilnya berkata dengan lantang seraya ia melewati di bawah rumah pohon Boris beberapa menit kemudian. “Aku akan menjadi seorang putri. Tetapi kau tidak ingin melihatnya!” ia menambahkan.

Tentu saja ia mau melihatnya, Boris berbicara dalam hati— dan ia berpura- pura seolah- olah ia tidak pernah tertarik.

Permainan peran itu terdengar sangat ribut dan menyenangkan.

Boris mengkhayal peran apa yang ia inginkan, jika itu adalah pestanya— yaitu menjadi astronot, atau bahkan menjadi alien dari planet yang asing!

Kemudian Boris melihat teman- teman adiknya sangat menikmati hari yang menyenangkan. Hal itu membuatnya merasa semakin tidak senang.

Ketika mereka berpose dan sang putri yang mengambil gambar mereka menggunakan sebuah kamera, Boris menjatuhkan ranting- ranting kering ke arah mereka. Namun mereka lebih menikmati waktu bersenang- senang.

Lalu adiknya berkata kepada teman- temannya, “Ayo kita berpesta— oh, tidak, maksudku pesta keajaan!” — ingat, ia adalah sang putri.

Ia berjalan dengan bangga melewati rumah pohon Boris lagi, dengan membawa sebuah mangkuk berisi penuh dengan kue- kue hangat.

Aroma lezat dari kue- kue yang baru saja diangkat dari pemanggang naik ke atas menuju rumah pohon Boris. Tuangan jus buah dari poci kaca membuatnya haus. Namun, siapapun tidak memperhatikannya. Mereka sangat sibuk tertawa, makan, dan menikmati waktu bersama- sama.

“Ini sudah berlebihan!” kata Boris.

Boris tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ia mengambil terumpetnya dan ditiupnya sekeras- kerasnya.

Pwaaat!

Lalu lagi. Dan lagi! Pwaaat! Pwaaat!

Saat ia berhenti meniup terumpet, suasana menjadi diam! Tidak ada ocehan atau tawaan. Suara berisik terumpet telah bekerja! Ia telah menghentikan kesenangan mereka dan pesta yang membosankan. Boris sangat bangga kepada dirinya sendiri.

Tetapi tiba- tiba ia mendengar namanya dipanggil dari bawah.

“Boris, si peniup terumpet juga dibutuhkan dalam pesta kerajaan!” teriak salah satu dari mereka. “Bagaimana? Maukah kau menjadi peniup terumpet untuk sang raja?”

Boris mengatakan beberapa patah kata yang sangat tidak sopan. Namun kemudian ia berpikir sejenak dan berkata, “Mungkin aku mau menjadi peniup terumpet. Tetapi aku akan melakukannya jika diberi dua puluh kue dahulu!”

“Bagaimana jika tiga?” tanya adiknya, yang melihat isi mangkuk sudah hampir kosong.

“Oke,” kata Boris, “itu bayaran yang adil.” Lalu ia turun dari rumah pohon.

Pesta itu berlangsung begitu meriah! Si peniup terumpet mulai membunyikan terumpetnya. Sang raja menabuh dram. Semua penghuni kerajaan menari bersama- sama. Dan Boris sudah lupa dengan semua kebosanannya dan hal- hal yang tidak bisa dilakukannya.

Akan tetapi ia tidak lupa dengan kue- kue yang sudah disimpan oleh sang putri yang khusus untuknya.

 

Diterjemahkan dari Totally Bored Boris! | penulis: HANS WILHELM

Advertisements

Rumah untuk Tikus

Di sebuah rumah, di dalam ruangan yang sangat gelap, keheningan malam hari membangunkan Whiskers. Ia menguap.

Whiskers melompat untuk menjelajah. Sinar lampu kuning pucat membuat bayangan ungu di lantai. Rumah yang sepi…

Ia berlari di sepanjang gang yang terang. Rumah ini sangat cocok untuk seekor tikus yang lapar.

Hidung merah mudanya menempel di karpet, Whiskers mencium aroma yang luar biasa. Ia menyelip ke bawah pintu berwarna cokelat tua di ujung ruang utama.

Dengan cepat Whiskers memanjat ke sebuah selimut tebal dan sangat lebar. Ia buru- buru melintasi medan yang tidak rata dan meluncur ke gundukan curam, dan licin.

Ia berguling ke kepingan kacang, remah- remah roti dan potongan keripik. Baru saja ia mau memakannya, gundukan selimut itu bergerak di bawah kakinya. Teriakan menggemparkan ruangan, mengerikan Whiskers.

Ia terpental. Melambung ke awang- awang bersama keripik dan selimut. Cahaya terang menyilaukan matanya. Ia melompat ke lantai dan berlari menuju pintu. Ketika ia berjalan keluar, sebuah benda menimpa ekornya dengan keras.

Whiskers berlari kencang menuju tempat tidurnya yang hangat dan bersembunyi di bawah adiknya. “Ada keributan apa ini?” teriak Cheesepuff, seekor tikus putih kecil.

“Ada monster besar di rumah ini,” kata Whiskers gelagapan, “sebesar gunung yang matanya bersinar, menyilaukan dan pemukul ekor yang mengerikan.”

Cheesepuff mengendus udara dan tubuhnya gemetaran, “Itu manusia. Sudah kubilang padamu rumah ini tidak aman. Kita harus pindah. Kita perlu rumah khusus tikus.”

“Tetapi,” kata Whiskers, “rumah ini rumah kita.”

“Lalu mereka yang harus pergi,” Cheesepuff menegaskan.

“Tidak,” kata Whiskers, “kita harus tinggal bersama- sama.”

Keesokan harinya mobil van oranye berhenti di depan rumah. Seorang pria berkemeja putih meletakkan jebakan lengket ke seluruh rumah dan berikutnya di tempat perburuan kesukaan Whiskers dan Cheesepuff.

Malamnya, Whiskers mengendus- endus baki beraroma lezat dan dengan hati- hati ia mencelupkan kakinya ke dalam bubur yang kelihatan lezat. Kakinya terjebak, menempel di dalam bubur itu lalu ia berteriak kencang memanggil adiknya. Cheesepuff menyentakkan dan menarik ekornya hingga kakinya keluar dari bubur yang lengket itu.

Tikus- tikus itu menunggu beberapa hari agar jebakan itu hilang. Mereka sangat lapar. Kemudian Whiskers mempunyai ide. “Ayo kita memberikan manusia itu sebuah hadiah, lalu mungkin mereka akan membiarkan kita untuk tinggal.”

Menurut Cheesepuff itu bukan ide yang bagus, dan ia bersembunyi di tempat tidurnya sementara Whiskers dengan hati- hati mengambil sayuran segar dan bunga- bunga. Ia menarik sebuah tas kecil dari kotak harta karun mereka dan mengisinya penuh dengan wewangian bunga lavender dan bunga- bunga merah muda.

Cheesepuff melihat saat Whiskers meletakkan hadiah mereka dengan baki mengerikan itu di ruang keluarga. Ia menandai seluruh tas itu dengan cap kakinya.

Esok hari, tikus- tikus itu mendengar teriakan, suara, dan tangisan. Segera, semua jebakan menghilang.

Ketika tikus kakak- beradik itu mengintip dapur malam itu, ada sebuah bungkusan besar di mana jebakan itu diletakkan. Whiskers curiga. “Jangan terlalu dekat,” ia berbisik seraya melihat sesuatu yang aneh.

“Tetapi mereka memberikan kita sebuah hadiah yang indah,” kata Cheesepuff sambil mengendus kertas pembungkus berwarna merah muda bermotif bulat- bulat dengan hidungnya.

Kedua tikus itu menyobek kertasnya dan menemukan sebuah susunan benda yang membuat mereka ingin tahu. Whiskers berguling- guling ke serutan kayu yang lembut di lantai dan menceburkan diri ke sebuah mangkok yang penuh dengan kepingan kacang, remah- remah kue dan potongan keripik. Ia berlari ke roda besar yang terus berputar dan berputar. Cheesepuff mengikutinya dan menemukan sebuah wortel di tempat lain.

“Aku basah kuyup,” teriaknya ketika ia bersandar pada botol minuman. “Inilah rumah!” kata Cheesepuff. “Benar- benar rumah kita. Sebuah rumah yang dibuat sesuai ukuran kita.”

Diterjemahkan dari A House for A Mouse | penulis: REBECCA WESTBERG

Bunga- Bunga Teman Lebah Busy

Lebah Busy (baca: bizzi) sangat sibuk. Ia harus mengunjungi banyak bunga untuk mendapatkan nektar (sari bunga) dan serbuk sari agar dia dapat membuat madu.

Pertama, ia pergi ke tempat bunga poppy. Bunga poppy memiliki empat mahkota bunga. “Halo, Poppy,” kaya Lebah Busy. “Bolehkah aku mengambil sedikit nektar untuk diminum, dan serbuk sari untuk dibuat menjadi madu?”

“Tentu saja kau boleh mengambilnya,” bunga poppy menjawab.

“Terima kasih,” kata Lebah Busy. “Ada yang bisa kulakukan untuk membalas budi?”

“Iya,” kata poppy. “Aku ingin kau membawa beberapa serbuk sari ini kepada bunga poppy yang lain.”

“Apa itu?” tanya Lebah Busy.

“Serbuk sari adalah serbuk khusus bunga,” poppy menjelaskan. “Setiap bunga membutuhkan serbuk sari dari bunga lain yang masih sama jenisnya sehingga bisa membuat biji.”

“Aku mengerti,” kata Lebah Busy. “Aku akan menemukan poppy yang lain segera!”

Dan dengan membawanya, Lebah Busy terbang untuk mencari bunga poppy yang lain.

“Halo, Poppy,” kata Lebah Busy. “Aku membawakan beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih banyak,” kata poppy. “Kau mau nektar lagi?”

“Iya mau,” kata Lebah Busy, dan dia minum nektarnya.

Poppy mengambil sedikit serbuk sari. “Sekarang aku bisa membuat bijiku, dan tahun depan biji- bijj ini akan tumbuh menjadi bunga- bunga poppy.”

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi Daisy. Bunga- bunga daisy memiliki lebih dari sepuluh mahkota bunga, dan tengahnya berwarna kuning.

“Halo, Daisy,” kata Lebah Busy. “Bolehkah aku mengambil sedikit serbuk sari dan nektar?”

“Boleh saja,” kata daisy, “tetapi kau harus berjanji untuk membawakan beberapa serbuk sari ini kepada daisy lainnya.”

“Aku berjanji aku mau,” kata Lebah Busy, dan dengan membawanya, Lebah Busy terbang menuju daisy yang lain.

“Halo Daisy,” kata Lebah Busy. “Aku membawakan beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih,” kata bunga daisy. “Sekarang aku bisa membuat banyak biji. Kau mau sedikit serbuk sariku untuk dijadikan madu?”

“Iya, mau,” kata Lebah Busy. “Terima kasih banyak.”

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga daffodil. Bunga- bunga daffodil memiliki enam mahkota bunga.

“Halo, Daffodil,” kata Lebah Busy. “Apakah kau memiliki banyak serbuk sari untukku agar kubawakan kepada daffodil lainnya?”

“Iya, aku punya,” kata daffodil, “dan masih ada sisanya untukmu untuk dijadikan madu.”

“Terima kasih,” kata Lebah Busy, dan dengan membawanya, Lebah Busy terbang ke tempat daffodil lainnya.

“Halo Daffodil,” kata Lebah Busy. “Aku membawakan beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih,” kata bunga daffodil. “Kau boleh mengambil sedikit serbuk sariku juga.”

“Terima kasih,” kata Lebah Busy.

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga mallow. Bunga- bunga mallow memiliki lima mahkota bunga berwarna ungu.

“Halo, Mallow,” kata Lebah Busy.

“Halo, Lebah Busy,” kata mallow. “Kau mau sedikit serbuk sari dan nektar?”

“Ya, tentu,” kata Lebah Busy, “dan aku mau membawakan beberapa serbuk sarimu untuk bunga mallow lainnya.”

“Terima kasih,” kata bunga mallow.

“Sama- sama,” kata Lebah Busy, dan dengan membawanya, Lebah Busy terbang untuk mencari bunga mallow lainnya.

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga lonceng biru. Bunga- bunga lonceng biru memiliki enam mahkota bunga berwarna biru, yang berbentuk seperti lonceng.

“Halo, Lonceng Biru,” kata Lebah Busy. “Apakah kau mempunyai beberapa serbuk sari?”

“Ini dia,” kata lonceng biru. “Ambilah untuk lonceng biru yang lain dan ambilah sisanya untuk dijadikan madu.”

“Terima kasih,” kata Lebah Busy, dan dengan membawanya Lebah Busy terbang menuju bunga lonceng biru lainnya.

“Halo, lonceng biru,” kata Lebah Busy. “Aku membawa beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih,” kata bunga lonceng biru. “Kau bisa mengambil sedikit punyaku juga.”

“Terima kasih banyak,” kata Lebah Busy.

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga speedwell. Bunga- bunga speedwell memiliki empat mahkota bunga berwarna biru.

“Halo, Speedwell,” kata Lebah Busy.

“Halo, Lebah Busy,” kata speedwell. “Maukah kau membantuku mengumpulkan serbuk sariku?”

“Ya, tentu,” kata Lebah Busy, “dan aku akan membawa beberapa untuk bunga speedwell lainnya darimu.”

Bunga speedwell memberi Lebah Busy beberapa serbuj sari. “Terima kasih,” kata Lebah Busy, dan serta membawanya, Lebah Busy terbang mencari bunga speedwell yang lain.

“Halo, Speedwell,” kata Lebah Busy. “Ini ada beberapa serbuk sari.”

“Terima kasih,” kata bunga speedwell. “Sekarang aku dapat membuat banyak biji agar nanti menjadi banyak bunga speedwell di tahun depan.”

Selanjutnya, Lebah Busy mengunjungi bunga buttercup. Bunga- bunga buttercup memiliki lima mahkota bunga berwarna kuning.

“Halo, Buttercup,” kata Lebah Busy.

“Halo, Lebah Busy,” kata buttercup. “Maukah kau membantuku untuk membawakan beberapa serbuk sari untuk buttercup yang lain?”

“Ya, baik,” kata Lebah Busy. “Tidak masalah,” katanya lagi, dan besertanya, Lebah Busy terbang mencari bunga buttercup lainnya.

“Halo, Buttercup,” kata Lebah Busy.

“Aku bukan buttercup!” kata bunga itu. “Aku adalah Primrose.”

“Tetapi kau memiliki lima mahkota bunga berwarna kuning,” kata Lebah Busy.

“Ya,” kata bunga primrose, “bunga- bunga primrose juga memiliki lima mahkota bunga, tetapi mahkota bunga kami berbeda bentuknya. Lihat, di sana bunga buttercup.”

“Oh, maafkan aku,” kata Lebah Busy, dan dengan membawa serbuk sari, Lebah Busy terbang menuju buttercup.

“Halo, Buttercup,” kata Lebah Busy, “aku membawakan beberapa serbuk sari untukmu. Maaf aku terlambat.”

“Jangan khawatir,” kata bunga buttercup. “Terima kasih sudah datang.”

Kemudian Lebah Busy menemui rumput.

“Halo rumput,” kata Lebah Busy. “Apakah kau memiliki bunga?”

“Iya, aku punya,” rumput menjawab, “tetapi mereka berwarna hijau dan cokelat, dan sangat kecil.”

“Seandainya bunga- bungamu lebih besar dan berwarna cerah, aku bisa melihatnya dengan lebih jelas dan mengunjungimu sesering mungkin untuk membawakan serbuk sarimu,” Lebah Busy mengusulkan.

“Tidak, terima kasih,” kata rumput. “Angin membawakan serbuk sari untukku.”

Kemudian Lebah Busy mengunjungi sekuntum dandelion. Bunga- bunga dandelion memiliki lebih dari sepuluh mahkota bunga berwarna kuning.

“Halo, Dandelion,” kata Lebah Busy. “Apa kabarmu hari ini?”

“Sangat baik,” bunga dandelion menjawab. “Aku memiliki banyak serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih,” kata Lebah Busy, “Aku akan mengambil beberapa untuk dandelion lainnya,” dan dengannya, Lebah Busy terbang mencari bunga dandelion yang lain.

“Halo, Dandelion,” kata Lebah Busy. “Ada beberapa serbuk sari untukmu.”

“Terima kasih banyak,” kata dandelion. “Sekarang aku bisa membuat bayak biji. Lihat, dandelion itu sudah membuat biji. Biji- biji dandelion itu membentuk jam dandelion.

Lebah Busy pergi menuju jam dandelion, dan meniupnya sekencangnya.

Jam satu…

        Jam dua…

                 Jam tiga…

                          Jam empat…

Jam lima! Waktunya pulang dan minum teh.

Lain waktu saat kau berada di sebuah taman atau halaman, atau di kebun, lihatlah bunga apa saja yang bisa kau dapatkan.

Kau mungkin melihat bunga- bunga teman si Lebah Busy.

Bahkan kau mungkin melihat Lebah Busy itu sendiri, tetapi jangan mengganggunya: ingat, ia sangat sibuk!

Diterjemahkan dari Busy Bee’s Flower Friends | author: Nichola Hawkins

Dany dan Katak bag.3

Dany mengambil sebuah batu, diletakkannya di ketapelnya, ditarik talinya ke belakang dan membidik ke arah burung itu. Batu dilemparkan ke udara, tetapi tidak mengenai burung itu. Dengan seketika ia mengambil batu lagi. Ditembakkannya ke udara, tetapi masih meleset. Ia tidak akan putus asa setelah mengingat kata- kata Kyle kepadanya:

“Teruslah berlatih dan suatu saat kau pasti mengenai sasaran.”

Ia mengambil lagi batu yang lain dan membidik burung yang terbang melingkar itu sekali lagi.

Akhirnya batu mengenai burung hitam di bagian perutnya. “Ya, aku berhasil,” kata Dany dengan bersemangat, tetapi kemenangannya tidak berlangsung lama. Si burung berteriak kesakitan dan menjatuhkan sang raja katak. Oh tidak, batin Dany ketika melihat si burung kabur dan raja katak jatuh dengan kecepatan tinggi ke tanah.

Semua katak terpaku diam menyaksikan sang raja jatuh. Dany bergerak dengan cepat sebisanya, melengkungkan tangannya untuk menangkap raja katak. Katak- katak lainnya pun bernapas lega setelah sang raja mendarat dengan aman di tangan Dany.

“Terima kasih banyak Dan, kau sudah menyelamatkan nyawaku,” kata sang raja katak.

“Dengan senang hati yang mulia,” kata Dany kemudian meletakkan sang raja dengan hati- hati di tanah.

Sang Raja melompat menemui katak Rich dan berkata,”Sekarang aku berkata baik- baik, kuingin kau melepaskan rakyatku,”

“Jawabannya masih tidak mau,” kata katak Rich dengan keras kepala.

Dany tidak bisa membiarkannya lagi. Ia berjalan menuju katak Rich dan mengankat kakinya dan berkata, “Jika kau tidak mau membebaskan mereka aku akan menginjakmu,”

“Kau tidak akan bisa!” kata katak Rich.

“Yang mulia, bolehkah aku melakukannya untuk mengakhiri hidupnya?” Dany meminta ijin kepada raja katak. “Ya, kau boleh melakukannya, Dan,” kata raja katak sambil melirikkan matanya kepada Dany.

Dengan perlahan- lahan Dany menurunkan kakinya ke arah katak Rich.

“Oke, oke, beri aku kesempatan hidup dan ambilah katak- katakmu,” kata katak Rich. “Sekarang pergi dan bawa juga manusiamu,” lanjutnya.

“Masih ada satu lagi. Kau tidak pantas memakai itu,” kata James lalu mengambil mahkota dari kepala katak Rich dan dikembalikan kepada sang raja. “Ah ya, itu lebih baik” kata raja katak yang meletakkan kembali mahkota ke kepalanya.

Katak- katak yang mengelilinginya meminta maaf karena sudah meninggalkannya dan berterima kasih sebab sang raja tidak melupakan mereka.

“Tidak perlu meminta maaf sekarang. Kita bisa melompat pulang ke rumah, bukan?” tanya raja katak.

“Yang mulia, apa yang kita lakukan kepada katak Rich?” Dany bertanya.

“Tidak perlu Dan, dia suda kalah dalam pertempuran. Itu hukuman yang sudah cukup,” jawab raja katak.

“Terserah anda, yang mulia,” kata Dany, tetapi ia kembali kepada katak Rich dan berkata, “Jika kau masih mendekati kerajaan mereka atau mencoba menyiksa mereka, aku dan kakiku akan menemukanmu, itu janjiku! Kau mengerti katak?”

“Ya, aku mengerti,” kata katak Rich yang menunduk kalah lalu melihat mereka pergi.

“Akhirnya semua kembali dengan baik,” kata Dany setelah sampai di The Ponds.

“Memang benar, tetapi kami tidak mau lagi tinggal di sini Dan, tidak ada yang berguna untuk kami jadi kami akan berusaha mencari tempat tinggal yang lain,” kata raja katak.

“Jangan terburu- buru untuk pergi yang mulia. Aku punya rencana,” kata Dany. Ia pamit kepada sang raja dan katak lainnya, dan memulai perjalanannya ke rumah di atas bukit.

Hari- hari berlalu di The Ponds dan tidak ada tanda- tanda kedatangan Dany. “Aku takut jika dia tidak kembali, yang mulia,” kata James.

“Kupikir kau benar, James. Kita akan bersiap- siap. Kita akan meninggalkan The Ponds satu atau dua hari lagi. Tolong kirimkan pesan kepada rakyat kita,” kata sang raja.

“Kuak, kuak, kuak,” mereka mendengar dari luar bebatuan.

“Ada tiga kali kuak; itu artinya para manusi datang,” kata James.

“Mungkin itu gerombolan orang piknik yang lain. Ayo James, kita harus saling waspada,” kata sang raja.

“Yang mulia, yang mulia!” salah satu katak berteriak melompat ke hadapan sang raja.

“Apa yang terjadi sampai kau sangat gugup?” raja bertanya kepada katak yang menghadapnya.

“Itu Dany, dia kembali bersama manusia yang lain,” jawab katak itu.

“Sekarang aku mau bertemu! Ayo James,” kata sang raja. 

“Halo Dany, kau telah kembali,” kata sang raja.

“Iya, yang mulia, mereka adalah teman- temanku. Mereka juga tinggal di desa yang dekat dari sini dan ketika aku menceritakan yang terjadi di The Ponds mereka dengan segera mereka bersedia membantu,” kata Dany.

“Ini waktunya kami bertanggung jawab atas apa yang sudah kami lakukan. Kami minta maaf; kami tidak tahu jika ini akan terjadi pada The Ponds. Kami datang kemari untuk membersihkan The Ponds,” kata Kyle mewakili teman- temannya yang menganggukkan kepala tanda setuju dan kemudian mulai bekerja.

Butuh beberapa waktu The Ponds mendapatkan kejayaannya lagi, namun setelah selesai, sang raja teringat oleh Dany ketika ia sedang menikmati kolamnya yang sudah bersih.

“Air sudah bersih; para katak sedang beristirahat di atas rerumputan bersama bunga- bunga. Aku tidak tahu bagaimana berterima kasih kepadamu, Dan,” kata raja katak.

“Tidak perlu seperti itu, yang mulia; ini dilakukan demi kebaikan bersama.”
***S E L E S A I***
(Diadaptasi dari cerita Dan and the Frog)

Dany dan Katak bag.2

Dany bersama teman- teman kataknya masih di The Ponds. Dan ia sudah mengerti.

“Baiklah, aku mengerti,” kata Dany.

“Senang betemu denganmu, Dany, tetapi James dan aku harus melompat jauh, kami akan menempuh perjalanan yang panjang ke sana,” kata raja katak.

“Ribbit,” James mengiyakan.

Dany diam sebentar, ia melihat mereka pergi sambil pikir- pikir dan akhirnya ia berteriak, “Tunggu, aku ikut!”

“Terima kasih, tetapi ini bukan permasalahanmu nak,” kata raja katak.

“Aku bisa membantu, yang mulia, aku bisa membawamu agar perjalananmu lebih cepat,” kata Dany.

“Ide yang bagus, yang mulia, kita bisa menyusul katak yang lain secepatnya dengan bantuan anak ini,” kata James.

“Tepat sekali, aku sangat berterima kasih untuk bantuanmu yang murah hati, Dany,” kata raja katak. Dany berlutut dan membuka kedua telapak tangannya, satu per satu naik ke telapak tangan, dan ia mulai melangkah ke arah yang ditunjukkan oleh James.

Setelah beberapa lama mereka menempuh jalan yang penuh dengan batu- batuan besar. “Kita sudah semakin dekat,” kata James.

“Tetapi hanya ada batu- batu besar di sini,” kata Dany.

“Mereka ada dibalik batu- batu besar itu,” kata James, menunjuk dengan jari kecil hijaunya yang berselaput.

“Dany, kau bisa menurunkan kami sekarang,” kata raja katak. “Kami akan maju sendiri dari sini, Dan. Tolong sembunyilah di balik batu- batu besar yang lain. Kami akan memanggilmu jika diperlukan,” kata sang raja. Kemudian kedua katak itu melompat jauh dari Dany.

Dibalik batu- batu besar itu para katak bekerja keras, membangun rumah baru katak Rich. “Lebih cepat! Kita tak punya banyak waktu! Jeraminya harus segera disambung sebelum matahari terbenam!” Katak Rich memberi perintah. Ia duduk di tempat yang ia sebut singgasana sambil berteriak- teriak memerintah.

“Semua katak terlihat sangat lelah. Mengapa kau tidak mengijinkan mereka istirahat sementara kita berbincang?” kata sang raja kepada katak Rich serta mendekatinya. “Mereka adalah rakyatku sekarang dan akan kusuruh mereka istirahat pada waktunya. Apa yang kau lakukan di sini,kau sudah memutuskan untuk bergabung denganku?” tanya katak Rich. “Sebenarnya aku datang untuk menjemput rakyatku; mereka akan pulang bersamaku!” perintah sang raja.

Para katak mulai bersorak gembira. “Perintah, perintah!” gerutu katak Rich. “Tidak ada yang pergi, kalian tidak akan pergi kemana pun! Apa kau lupa tentang apa yang terjadi di The Ponds?” lanjutnya. Senyuman tenggelam dari wajah para katak setelah mereka ingat.

“Ya, itu benar; The Ponds tidak seperti yang dahulu. Meskipun begitu, mereka akan merasa bebas bersamaku. Jadi katak Rich, biarkan rakyatku pergi!” kata raja katak. “Tidak, mereka milikku sekarang! Mereka tidak akan pergi!” kata katak Rich.

“Aku tidak akan memaksa lagi, katak Rich, biarkan katak- katakku pergi!” kata raja katak yang mulai marah.

“Ku bilang tidak! Aku akan membuatmu mengerti bahwa kau tidak seharusnya di sini,” kata katak Rich.

Ia bersiul kepada burung hitam yang terbang berkeliling di atasnya. Dengan segera burung itu menatap katak Rich. “Makan mereka, binatang kesayanganku,” perintah katak Rich. Burung itu segera berhenti berkeliling, lalu melihat tajam raj katak dan menukik ke hadapannya.

“Awas, yang mulia!” James berteriak berusaha melindungi rajanya, tetapi terlambat. Burung itu berhasil mendapatkan sang raja dahulu dan dengan kepakan sayapnya ia mengangkat sang raja semakin tinggi dan tinggi ke atas langit.

“Kau sudah lihat akibatnya jika tidak menurutiku? Kembali bekerja! Kau juga James; tidak ada tempat untuk pahlawan.” kata katak Rich.

Tiba- tiba bayangan hitam muncul. Bayangan hitam itu semakin meluas ke seluruh tempat di mana katak- katak berkumpul. “Dia manusia!” para katak berteriak.

“Siapa?” kata katak Rich yang terkejut bukan main. “Tetapi itu tidak mungkin, mereka tidak bisa sampai ke batu- batu besar,” lanjutnya. Dany berdiri di atas katak- katak seolah raksasa, mengambil ketapel dari sakunya.

“Lindungi diri kalian, dia bukan manusia yang baik; dia memiliki senjata!” para katak berteriak ketakutan. Mereka lari kalang- kabut melompat- lompat ke berbagai arah. “Tunggu semua, dia tidak akan melukai kita, dia ke sini untuk membantu kita!” James berteriak mencoba menenangkan rakyatnya…

Dany dan Katak bag.1

The Ponds, tempat berdirinya kerajaan katak, telah terpapar polusi dari kelakuan manusia dan menjadi tidak layak huni. Salah satu harapan mereka para katak yaitu memiliki rumah yang lebih baik, terdapat banyak makanan dan air yang bersih. Mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggal dan Raja yang lama untuk kehidupan yang layak atau mereka akan…

Ketika Dany, seorang anak laki- laki dari desa yang tidak jauh bertemu dengan Raja katak, katak yang lain kembali ke The Ponds yang sudah kotor. Ia memberi tahu Raja bahwa para katak membutuhkan bantuan agar terbebas dari perbudakan. 

Bersama- sama, Dany dan kedua katak itu berencana menyelamatkan kerajaan katak dari penguasa baru mereka.

The Ponds terletak di Green Valley. Sebuah kolam yang ditinggali oleh kerajaan kecil katak. Raja mereka adalah pemimpin yang baik dan bijaksana namun keprihatinan rakyatnya tumbuh setiap hari. Makanan mereka dan sumber daya lainnya semakin berkurang seiring banyaknya polusi yang menyebar di sekitar The Ponds. Ia mengutus katak terbaiknya untuk menemukan tempat tinggal baru bagi rakyatnya, tetapi mereka kembali tanpa menemukan tempat tinggal yang baru untuk kerajaan.

Secercah harapan datang setelah ia melihat katak terakhir yang kembali dari perjalanannya. Ia segera menemui sang Raja dan berkata bahwa ia sudah menemukan tempat tinggal baru untuk kerajaan katak. Rapat diadakan di pusat The Ponds.

“Aku adalah Katak Rich, rumah baruku penuh dengan makanan dan air bersih,” kata Katak Rich. “Kau tidak bisa hidup seperti ini: rumah kita kotor dan tidak ada makanan, ikuti aku dan kau akan mendapatkan hidup yang bebas ditambah penjagaan,” ia menambahkan lalu menunjuk seekor burung hitam di angkasa. “Itu teman baruku dan dia akan meyakinkan bahwa tidak ada bahaya yang akan mendatangi kita.”

Sang Raja tidak bisa berbuat apa- apa selain melihat teman- teman katak meninggalkannya satu per satu. “Maafkan aku yang mulia, tetapi dia berjanji kepada kita kehidupan yang lebih baik di luar kolam ini: kehidupan yang penuh kemakmuran dan kebersihan,” kata salah satu katak lalu melewati sang raja.

“Tidak perlu meminta maaf,” kata Katak Rich sebelum sang raja menjawab. “Kau tidak bisa melindungi rakyatmu dan maka dari itu kau harus turun tahta!” Ia mengambil mahkota dari sang raja dan kemudian diletakkannya di atas kepalanya.

“Rakyatku, ikuti aku, jangan membuang lebih banyak waktu di tempat sampah ini. Rumah baru kita sudah menunggu!” seru Katak Rich.

Di desa dekat The Ponds tinggalah seorang anak laki- laki bernama Dany. Ia sedang bermain bersama beberapa temannya dari desa, yang berusaha menembak sasaran menggunakan ketapelnya. “Tidak, jangan lagi!” katanya ketika batu itu tidak mengenai botol plastik lagi. Anak- anak yang lain menertawainya.

“Kau harus melepaskan ketapelnya agak jauh Dan, kau tidak akan pernah mengenai sasaran,” kata salah satu dari mereka.

Mereka mungkin benar, ia berpikir sambil berjalan menjauhi tertawaan yang berisik itu. “Dany! Tunggu!” ia mendengar salah satu anak yang lebih tua memanggilnya. “Ya, Kyle?” kata Dany.

“Dengar, kau jangan pedulikan mereka. Kau harus belajar menggunakan ketapel, kau harus tetap berusaha. Suatu saat kau akan mengenai sasaran,” kata Kyle.

“Terima kasih, tetapi mereka benar, aku tidak pernah bisa melakukannya,” katanya dengan putus asa.

Dany memutuskan untuk terus berjalan sampai keluar dari desanya sementara waktu. Hari yang panas dan ia perlu tempat berteduh. “Aku akan pergi ke The Ponds sebab tempat itu sempurna untuk menenangkan diri dan melupakan benda ini,” ia menyimpan ketapelnya ke dalam sakunya.

Dany berjalan di atas bukit dan mengagumi rimbunnya pohon- pohon hijau dan tanaman yang merambatinya seperti selimut. Ia langsung merasa tenang, tetapi ketika ia sampai ke The Ponds ia benar- benar terkejut.

Ada sampah di mana- mana dan sebelumnya kolam yang bersih sekarang berwarna cokelat tua. Apa yang terjadi pada The Ponds? Siapa yang melakukan ini, pikirnya? “Pasti hewan yang tinggal di sini, itu masuk akal,” ia berkata dengan keras.

“Kuminta menjauhlah,” Dany mendengar suara. Ia melihat sekitarnya, bingung. Tidak ada siapa- siapa di The Ponds kecuali dirinya. “Aku di bawah sini manusia,” ia mendengar suara lagi. Dany melihat ke bawah dan di air ia melihat wajah hijau bermata putih besar. Dany semakin bingung. “Kubantu kau ke sana,” kata sosok hijau yang muncul dari air keruh itu. Kemudian Dany mendengar suara kuak kuak…

“Seekor katak, katak yang berbicara!” katanya.

“Ya, itu betul; aku hanya seekor katak. Dahulu aku lebih dari itu, tetapi saat usia masih mampu,” kata si katak lalu melompat di batu besar.

“Apa maksudmu?” tanya Dany.

“Dahulu aku menjadi Raja para katak, tetapi rakyatku meninggalkanku demi makanan dan air bersih, namun aku tidak menyalahkan mereka,” jawab si katak yang menjelaskan kepada Dany apa yang terjadi. “Sekarang aku sendirian di kolam yang terpolusi ini, tetapi cukup tentangku. Siapa namamu Nak?” lanjut sang Raja katak.

“Aku Dany dan aku mengerti bahwa The Ponds sudah berubah,” kata Dan.

“Itu sudah jelas. Kekacauan yang sempurna dan bangsamu yang bertanggung jawab!” kata sang raja, dengan kesal.

“Apa maksudmu ‘bangsaku’?” tanya Dany.

“Para manusia, nak, mereka yang bertanggung jawab. Mereka datang ke The Ponds, tetapi ketika mereka pergi, sampah dan kotorannya ditinggalkan di sini. Kami tidak bisa membersihakan The Ponds sendiri dan sekarang sudah hampir tidak layak huni,” kata raja katak.

“Ribbit, Ribbit!” dengar mereka.

“Oh halo James, kau telah kembali,” kata sang raja kepada seekor katak yang mendekat. James tiba- tiba berhenti ketika ia melihat manusia.

“Jangan khawatit, mendekatlah, dia teman dan kita bisa mempercayainya,” kata raja katak. “James, anak muda ini bernama Dany dan Dany ini James. Dia adalah katak penasehatku dahulu,” kata raja katak.

“Aku masih sama, yang mulia,” ia berkata,sambil menatap Dany dengan curiga. “Aku pergi hanya untuk memata- matai katak Rich dan melihat di mana dia membawa rakyat kita,” lanjut James.

“Apa yang kau temukan?” tanya Dany.

“Katak Rich berkhianat, yang mulia,” kata James, mengabaikan Dany. “Dia membawa katak- katak untuk dijadikan budaknya. Mereka membangun kerajaan untuknya; hanya ada sedikit makanan dan air. Untuk sementara ini mereka masih bertahan, tetapi aku takut jika tidak bisa lama.

“Kita harus menyelamatkan mereka,” kata raja katak.

“Tunggu sebentar, katak. Mengapa kau mau membantu mereka?” Dany bertanya. “Mereka sudah meninggalkanmu demi keinginannya akan hidup yang lebih baik. Biarkan saja mereka menjadi budak karena mereka memilih perfi dengan katak Rich,” Dany melanjutkan.

“Sebetulnya, dia bukan katak! Dia adalah ‘yang mulia’,” kata James dengan marah.

“Maafkan aku, yang mulia, tetapi mengapa kau mau menyelamatkan mereka?” tanya Dany.

“Mereka adalah katak yang baik; karena tidak punya pilihan mereka pergi bersama katak Rich. Itu bukan salah mereka yang berkhianat, tetapi mereka butuh bantuan kita dan kita bantu mereka sebisanya, Dany. Sudah saatnya kita melihat kebaikan untuk kebaikan bersama,” jawab sang raja katak…