Masalah Kura- Kura

Mama bertanya kepadaku, mengapa lantai kamarku basah.

“Tidak tahu.” jawabku.

Mama kemudian melihat sebuah ember yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Mengapa ada ember di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

Lalu mama mengambil seekor kura- kura yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Dan apa yang sedang dilakukan kura- kura ini di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

“Ember dan kura- kura tidak boleh ditaruh ke dalam bak mandi.” kata Mama.

Aku menemukan si kura- kura di kebun, dan membawanya ke tempat yang banyak air, tetapi aku tidak sengaja menumpahkan airnya ke lantai.

Aku tidak ingin berbohong lagi. Dan tidak ingin Mama marah. Jadi, aku bilang kepada Mama bahwa tidak aka meletakkan kura- kura ke bak mandi lagi. Akan tetapi, Mama tidak marah dengan si kura- kura; ia hanya tidak senang karena aku tidak berkata jujur.

“Mama mau kok merawat kura- kura ini.” kata Mama.

Berpikir! Berpikir! Berpikir! Oh, aku mengerti!

Berkata jujur lebih baik daripada berbohong. Aku akan berusaha melakukannya mulai sekarang.


Diterjemahkan dari Turtle Trouble/ penulis: Amy Upshaw

Advertisements

Rumah Darurat Pino

Di hari Sabtu yang istimewa, SD Taman Siswa mengadakan acara lomba antar sekolah. Sebagai tuan rumah, Bu Astri selaku kepala sekolah menyambut dengan hangat para murid perwakilan dari sekolah lain beserta guru pendampingnya. Setiap sekolah mengambil 5 sampai 7 murid untuk diikutkan dalam perlombaan. Dan lomba yang diadakan adalah lomba kesenian, dan keterampilan.

Acara dimulai pukul setengah delapan pagi, di halaman dalam sekolah dasar Taman Siswa. Halaman dalam sekolah itu cukup luas untuk peserta lomba yang kurang lebih ada 100 orang. Pino dan keempat kawannya, yaitu Darma, Tasya, Meida, dan Janu, sudah menempatkan diri di kotak nomor 3. Guru pendamping mereka adalah Pak Wasis, yang juga menjadi guru kesenian dan keterampilan.

“Anak- anak, semua peralatan dan perlengkapan lomba sudah siap?” tanya Pak Wasis memastikan.

“SUDAH, PAK!” jawab mereka serempak.

Pino ditunjuk teman- temannya menjadi ketua kelompok. Jadi, ia harus mampu bertanggung jawab atas kekompakan kelompoknya. Ia sendiri memiliki ide untuk membuat rumah- rumahan yang terbuat dari gypsum. Sebab, ia berpikir karyanya akan bermanfaat dan bisa ditinggali. Dari kelompok kotak nomor 4, terdengar suara keributan, yang agak mengganggu konsentrasi kelompok lainnya, termasuk kelompok Pino.

“Kita mau membuat apa sih?” kata Asta kepada ketua regu mereka. “Aku bingung.”

“Asta, jangan ngambek begitu. Kita ‘kan mau membuat gedung bertingkat seperti yang ada di Dubai itu,” kata Denis sombong sambil melirik kelompok Pino.

Pino melihat banyak triplek di kotak nomor 4. Dan lem kayu, dan tali. Gedung bertingkat di Dubai? pikirnya. Ia kemudian tersadar setelah Janu menyikut kakinya, yang terlihat gemetaran. “Kau gugup, kawan?” tanya Janu sambil mengerjakan tugasnya.

“Sstt, iya sedikit. Kulihat sketsa gambar mereka bagus sekali. Gedung bertingkat di Dubai,” kata Pino dengan rasa kagum.

“Sebaiknya kau lebih memperhatikan karya kita, Pino. Ini ‘kan idemu,” kata Meida menyela. “Walaupun sketsanya tidak sebagus mereka, tetapi aku yakin karya kita berguna.”

“Betul itu,” timpal Darma.

Sementara Tasya sedang memotong- motong plastik besar sesuai dengan polanya. Pino memutuskan untuk mulai membentuk kerangka rumah yang terbuat dari triplek tebal dan lebih tebal dari milik kelompok kotak nomor 4. Saat Pino sudah selesai membuat rangka bangunan, tiba- tiba Denis menertawakannya.

“Kau mau menginap di rumah itu ya? Hahaha…,” ejek Denis. “Waktu kurang 30 menit lagi, dan temanmu masih megaduk- aduk gypsum. Oh, semoga saja tidak hujan,” ejeknya lagi.

“Heh, dasar sombong, kau lebih baik membantu teman- temanmu itu daripada terus- terusan mengganggu kami. Lihat triplek kalian banyak yang patah karena terlalu tipis, hahaha…,” kata Tasya membalas ejekan Denis.

“Eh, sudah- sudah, tenang anak- anak!” kata Pak Wasis tiba- tiba.

Pino mencoba untuk tetap tenang dan sabar karena ia yang dituakan, meskipun badannya paling kecil. Darma mulai membuat tembok- tembok rumah dengan adonan gypsum dan dibantu oleh Janu. Pino dan yang lainnya membantu merapikan. Darma sangat senang mengutak- atik bangunan sehingga ia sudah paham strategi membangun rumah- rumahan yang baik.

Waktu tinggal 15 menit lagi, hari semakin siang dan panas. “Wah, ternyata kita tidak perlu menyalakan alat pengering rambut,” kata Darma senang. Ia sudah menyelesaikan tugasnya, dan kemudian memasang atapnya. Pino membantu Darma melekatkan atap ke kerangkanya. Dan akhirnya rumah- rumahan Pino dan kawan- kawannya selesai dengan sempurna.

Namun, panas yang terik malah membuat lemnya mencair di beberapa tempat. Dan waktu tinggal 5 menit lagi. Pino menjadi khawatir jika karyanya gagal dan tidak menang. Ia melihat ada warna yang aneh yang menempel di tembok gypsum yang sudah dicat warna biru muda. Ia kemudian meminta Darma dan Janu untuk memperbaikinya.

“Bagaimana, Darma?” tanya Pino panik.

“Tenang, bro, lemnya aman. Ini bukan cairan lem, tetapi air yang masih tersisa di gypsum,” kata Darma dengan tenang.

“Kalau seperti itu terus, bagaimana kalau gypsumnya pecah?” tanya Asta tiba- tiba.

Darma diam sejenak untuk memikirkan cara aman di detik- detik terakhir perlombaan. Ia memegang tembok luar, dan terasa basah. Kemudian ia menempelkan tangannya ke tembok dalam, dan rasanya… Hm…, Darma tersenyum.

“Eh, lihat warna temboknya!” pekik Tasya. “Indah sekali.”

“Ternyata yang kau khawatirkan tidak terjadi, Pino. Itu adalah proses pengeringan alami, jadi rumah kita tidak akan hancur,” kata Darma menenangkan Pino.

Setelah tembok- temboknya kering, Janu akan menempelkan plastik anti air transparan di atap dan tembok. Meida yang bertugas merapikannya. Setelah itu alarm berbunyi tanda waktu berkarya sudah selesai.

“Hahahahaha…,” tawa Denis ketika ia melihat kelompok Pino mengangkat rumah kecil hasil karyanya bersama teman- temannya. “Kau seperti pawang hujan, Pino. Panas- panas begini rumahmu memakai jas hujan. Kau sudah yakin akan hujan hari ini, ya?” ejek Denis.

Pino tidak menghiraukan ejekan Denis. Ia dan teman- temannya berkumpul di samping karya mereka untuk mengisi data di lembaran daftar karya lomba. Bu Sisil, yang menjadi salah satu juri lomba melihat- lihat hasil karya kelompok Pino. Ia tidak berkata apa- apa dan terus mencatat. Setelah semua peserta lomba selesai dengan urusan data- mendata, Bu Astri mengumumkan bahwa hasil penilaian akan diberikan setelah pukul 12 siang, paling lambat pukul 1 siang. Semua hasil karya ditinggal di tempat yang sudah disediakan, dan semua peserta tidak boleh menyentuhnya lagi.

Pino dan kawan- kawannya senang karena bisa menyelesaikan karyanya, sekaligus deg- deg-an karena ini adalah lomba. Pak Wasis menemui Pino untuk memberikan jajanan dan jus jeruk, serta memberikan selamat atas kekompakan kelompoknya.

“Tanganmu dingin sekali, Pino. Apa kau sakit?” kata Pak Wasis khawatir.

“Tidak, Pak, Pino hanya gugup, hihi…” sela Darma dengan becanda.

“Oh, tidak usah khawatir, menang atau kalah itu tidak penting. Yang terpenting adalah kalian bisa menyelesaikan tugas dengan baik tanpa ribut. Dan siapa tahu rumah kecil itu bisa berguna,” Pak Wasis berkata. “Ayo semua, ini dimakan dulu,”

Di saat istirahat, Pino masih memandangi rumah kecilnya yang berada di lapangan basket. Cuaca panas tiba- tiba berubah menjadi mendung. Aroma tanah basah mulai tercium. Walaupun di lapangan basket sudah dipasang terop, tetapi Pino khawatir rumah kecilnya tidak bisa bertahan lama jika tidak segera diambil. Dan ternyata, gerimis sudah mendahului penilaian para juri.

“Pak, apa kami boleh mengambil karya kami? Karena sudah gerimis, dan saya takut jika air hujan semakin deras dan merusak hasil karya kami,” kata Pino khawatir.

“Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa- apa pada karya kalian,” kata Pak Wasis tenang.

Tidak hanya hujan yang membuat Pino khawatir, tetapi juga ada seekor anak anjing yang sejak tadi menggonggong mencari induknya. Anak anjing itu milik Pak Parmin, si penjaga sekolah. Beliau sudah tua namun belum pikun, dan masih senang merawat sekolah Pino. Gerimis tipis semakin menebal, tetapi tidak sampai hujan deras. Anak anjing itu tiba- tiba menghilang, suara gonggongan kecilnya sudah tidak kedengaran.

Dan waktu untuk penilaian sudah habis. Pukul setengah 1 siang sudah bisa dimumkan hasil penilaian karya seni oleh para juri. Saat itu juga gerimis sudah berhenti. Namun, semua peserta lomba belum diperbolehkan menyentuh karyanya. Dua orang juri mengambil lima buah hasil karya saja yang dinilai paling bagus. Pino melihat rumah kecilnya juga diangkat dan dijajarkan bersama karya- karya terpilih lainnya.

“Kau lihat itu, bro, rumah kecil biasa kita menjadi luar biasa jika pindah tempat di sana,” kata Janu senang kepada Pino.

Tasya dan Meida juga senang dan deg-deg-an. Sementara kelompok Denis kepalanya semakin mendongak ke atas, sebab miniatur gedung Burj Khalifa mereka berada diurutan nomor 2. Dan hasil karya kategori paling indah adalah…

Kelompok Kotak Nomor 2, yaitu Taman Flora Mini.

Tepuk tangan riuh bergema di lapangan. Peserta kelompok kotak nomor 2 mendapat penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya kategori paling indah. Setelah keramaian berhenti, Bu Sisil mengumumkan bahwa hasil karya dengan kategori paling baik adalah…

Peserta Kelompok Kotak Nomor 3, yaitu Rumah Darurat Pino.

“YEYY!” teriak Tasya dan Meida bersamaan. Pino dan kawan- kawannya maju ke depan untuk mendapatkan penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya terbaik. Bu Astri dan Pak Wasis ikut bertepuk tangan dengan meriah dan bangga.

“Dan sesuai dengan namanya, ya,” kata Bu Sisil kemudian, “ada seekor anak anjing yang berlindung di rumah mini ini rupanya,”

Bu Sisil kemudian menyerahkan anak anjing itu kepada Pak Parmin yang sudah mencari- carinya sejak tadi pagi. Dan memberi selamat kepada Pino dan kawan- kawan atas keberhasilan mereka.

Selanjutnya, hasil karya dengan kategori paling kreatif adalah… Peserta Kelompok Kotak Nomor 5, yaitu Lukisan Otomatis. Dan hasil karya dengan kategori paling canggih adalah Peserta Kelompok Kotak Nomor 7, yaitu Kulkas Dimana Saja.

Denis kelihatan kecewa karena ia pikir perlombaan ini ada juara 1, 2 dan 3. Pino bisa melihat Denis dan kelompoknya menunduk lesu karena hasil karya mereka hanya masuk kategori paling mirip dengan aslinya.

 

Penulis: DCS

Boris Sangat Bosan!

Boris telah bermain dengan semua mainannya. Ia telah membaca semua buku- bukunya. Namun, sekarang ia tidak tahu apa yang dilakukan selanjutnya. Ia berpikir dan berpikir, tetapi ia belum bisa berpikir apa yang bisa dilakukan.

Boris sangat bosan.

Akhirnya Boris beranjak dan pergi menemui ayahnya. Ia meniup terumpetnya dan berkata, “Ayo kita melakukan sesuatu.”

“Ayah sedang melakukan sesuatu,” kata sang ayah. “Ayah sedang sibuk mengecat. Mengapa kau tidak pergi memancing saja?”

“Memancing tidak menyenangkan jika sendirian,” kata Boris. “Kumohon lakukan sesuatu bersamaku.”

“Ayah tidak bisa sekarang,” kata sang ayah. “Mengapa kau tidak membaca buku?”

“Aku sudah lelah membaca buku!” jawab Boris.

Boris berharap ibunya mau melakukan sesuatu bersamanya.

“Ibu ingin sekali,” kata sang ibu, “tetapi ibu sudah berjanji kepada adikmu untuk membuat banyak kue bersamanya. Mengapa kau tidak membantu kami saja?”

“Tidak, tidak, tidak!” teriak Boris. “Aku tidak senang dengan adikku— dan aku tidak senang membuat kue!”

Dan ia mengentakkan kaki kembali ke kamarnya.

Boris bisa mendengar suara kegembiraan yang datang dari dapur. Ocehan dan candaan membuatnya merasa semakin sedih. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah pohonnya.

“Mungkin di sana ada sesuatu yang bisa dilakukan,” ia berkata. Ia membawa terumpetnya, hanya berjaga- jaga jika di sana tidak ada.

Akan tetapi ketika Boris sudah memanjat ke atas pohon itu, ia tidak melihat apapun yang bisa dimainkan. Itu juga membosankan seperti berada di kamarnya.

“Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kumainkan?” ia bertanya pada dirinya sendiri berulang- ulang.

Sebenarnya ada banyak sekali benda— tetapi ia tidak menginginkannya. Ia benar- benar tidak ingin memainkannya.

Tiba- tiba sebuah kardus besar datang dan berjalan di bawahnya. Dari dalam terdengar suara adik Boris yang sedang menyanyi, “Aku akan  membangun sebuah istana. Tetapi jangan ada yang tahu di mana. Ini adalah rahasia!”

Dari rumah pohonnya, Boris dapat melihat dengan jelas ke mana ia pergi. “Membangun istana!” ia berpikir. “Hal yang membosankan. Jika aku mempunyai kardus itu,  aku mau membuat sebuah pesawat ruang angkasa yang besar sekali!”

Ia masih melihat adiknya dan teman- temannya yang sudah mulai bekerja.

Selanjutnya Boris melihat mereka menempelkan guntingan pola kertas dan kancing baju ke istana itu lalu membuat lukisan di dindingnya.

Sebenarnya Boris tahu apa yang akan ia lakukan. Sebuah pesawat ruang angkasa akan memerlukan roket dan antena dan banyak benda lainnya.

Tetapi kemudian ia ingat kebosanannya untuk melakukan apapun.

Di waktu selanjutnya Boris melihat adiknya dan teman- temannya membawa ular- ularan dan kertas krep.

“Aku menduga mereka akan mengadakan sebuah pesta,” Boris bepikir. “Lalu apa! Aku tidak senang pesta!” Tetapi ia tetap melihat mereka berjalan dari rumah pohonnya.

“Ibu memberikan kita semua perhiasan dan baju lamanya untuk bermain peran,” adik kecilnya berkata dengan lantang seraya ia melewati di bawah rumah pohon Boris beberapa menit kemudian. “Aku akan menjadi seorang putri. Tetapi kau tidak ingin melihatnya!” ia menambahkan.

Tentu saja ia mau melihatnya, Boris berbicara dalam hati— dan ia berpura- pura seolah- olah ia tidak pernah tertarik.

Permainan peran itu terdengar sangat ribut dan menyenangkan.

Boris mengkhayal peran apa yang ia inginkan, jika itu adalah pestanya— yaitu menjadi astronot, atau bahkan menjadi alien dari planet yang asing!

Kemudian Boris melihat teman- teman adiknya sangat menikmati hari yang menyenangkan. Hal itu membuatnya merasa semakin tidak senang.

Ketika mereka berpose dan sang putri yang mengambil gambar mereka menggunakan sebuah kamera, Boris menjatuhkan ranting- ranting kering ke arah mereka. Namun mereka lebih menikmati waktu bersenang- senang.

Lalu adiknya berkata kepada teman- temannya, “Ayo kita berpesta— oh, tidak, maksudku pesta keajaan!” — ingat, ia adalah sang putri.

Ia berjalan dengan bangga melewati rumah pohon Boris lagi, dengan membawa sebuah mangkuk berisi penuh dengan kue- kue hangat.

Aroma lezat dari kue- kue yang baru saja diangkat dari pemanggang naik ke atas menuju rumah pohon Boris. Tuangan jus buah dari poci kaca membuatnya haus. Namun, siapapun tidak memperhatikannya. Mereka sangat sibuk tertawa, makan, dan menikmati waktu bersama- sama.

“Ini sudah berlebihan!” kata Boris.

Boris tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ia mengambil terumpetnya dan ditiupnya sekeras- kerasnya.

Pwaaat!

Lalu lagi. Dan lagi! Pwaaat! Pwaaat!

Saat ia berhenti meniup terumpet, suasana menjadi diam! Tidak ada ocehan atau tawaan. Suara berisik terumpet telah bekerja! Ia telah menghentikan kesenangan mereka dan pesta yang membosankan. Boris sangat bangga kepada dirinya sendiri.

Tetapi tiba- tiba ia mendengar namanya dipanggil dari bawah.

“Boris, si peniup terumpet juga dibutuhkan dalam pesta kerajaan!” teriak salah satu dari mereka. “Bagaimana? Maukah kau menjadi peniup terumpet untuk sang raja?”

Boris mengatakan beberapa patah kata yang sangat tidak sopan. Namun kemudian ia berpikir sejenak dan berkata, “Mungkin aku mau menjadi peniup terumpet. Tetapi aku akan melakukannya jika diberi dua puluh kue dahulu!”

“Bagaimana jika tiga?” tanya adiknya, yang melihat isi mangkuk sudah hampir kosong.

“Oke,” kata Boris, “itu bayaran yang adil.” Lalu ia turun dari rumah pohon.

Pesta itu berlangsung begitu meriah! Si peniup terumpet mulai membunyikan terumpetnya. Sang raja menabuh dram. Semua penghuni kerajaan menari bersama- sama. Dan Boris sudah lupa dengan semua kebosanannya dan hal- hal yang tidak bisa dilakukannya.

Akan tetapi ia tidak lupa dengan kue- kue yang sudah disimpan oleh sang putri yang khusus untuknya.

 

Diterjemahkan dari Totally Bored Boris! | penulis: HANS WILHELM

Rumah untuk Tikus

Di sebuah rumah, di dalam ruangan yang sangat gelap, keheningan malam hari membangunkan Whiskers. Ia menguap.

Whiskers melompat untuk menjelajah. Sinar lampu kuning pucat membuat bayangan ungu di lantai. Rumah yang sepi…

Ia berlari di sepanjang gang yang terang. Rumah ini sangat cocok untuk seekor tikus yang lapar.

Hidung merah mudanya menempel di karpet, Whiskers mencium aroma yang luar biasa. Ia menyelip ke bawah pintu berwarna cokelat tua di ujung ruang utama.

Dengan cepat Whiskers memanjat ke sebuah selimut tebal dan sangat lebar. Ia buru- buru melintasi medan yang tidak rata dan meluncur ke gundukan curam, dan licin.

Ia berguling ke kepingan kacang, remah- remah roti dan potongan keripik. Baru saja ia mau memakannya, gundukan selimut itu bergerak di bawah kakinya. Teriakan menggemparkan ruangan, mengerikan Whiskers.

Ia terpental. Melambung ke awang- awang bersama keripik dan selimut. Cahaya terang menyilaukan matanya. Ia melompat ke lantai dan berlari menuju pintu. Ketika ia berjalan keluar, sebuah benda menimpa ekornya dengan keras.

Whiskers berlari kencang menuju tempat tidurnya yang hangat dan bersembunyi di bawah adiknya. “Ada keributan apa ini?” teriak Cheesepuff, seekor tikus putih kecil.

“Ada monster besar di rumah ini,” kata Whiskers gelagapan, “sebesar gunung yang matanya bersinar, menyilaukan dan pemukul ekor yang mengerikan.”

Cheesepuff mengendus udara dan tubuhnya gemetaran, “Itu manusia. Sudah kubilang padamu rumah ini tidak aman. Kita harus pindah. Kita perlu rumah khusus tikus.”

“Tetapi,” kata Whiskers, “rumah ini rumah kita.”

“Lalu mereka yang harus pergi,” Cheesepuff menegaskan.

“Tidak,” kata Whiskers, “kita harus tinggal bersama- sama.”

Keesokan harinya mobil van oranye berhenti di depan rumah. Seorang pria berkemeja putih meletakkan jebakan lengket ke seluruh rumah dan berikutnya di tempat perburuan kesukaan Whiskers dan Cheesepuff.

Malamnya, Whiskers mengendus- endus baki beraroma lezat dan dengan hati- hati ia mencelupkan kakinya ke dalam bubur yang kelihatan lezat. Kakinya terjebak, menempel di dalam bubur itu lalu ia berteriak kencang memanggil adiknya. Cheesepuff menyentakkan dan menarik ekornya hingga kakinya keluar dari bubur yang lengket itu.

Tikus- tikus itu menunggu beberapa hari agar jebakan itu hilang. Mereka sangat lapar. Kemudian Whiskers mempunyai ide. “Ayo kita memberikan manusia itu sebuah hadiah, lalu mungkin mereka akan membiarkan kita untuk tinggal.”

Menurut Cheesepuff itu bukan ide yang bagus, dan ia bersembunyi di tempat tidurnya sementara Whiskers dengan hati- hati mengambil sayuran segar dan bunga- bunga. Ia menarik sebuah tas kecil dari kotak harta karun mereka dan mengisinya penuh dengan wewangian bunga lavender dan bunga- bunga merah muda.

Cheesepuff melihat saat Whiskers meletakkan hadiah mereka dengan baki mengerikan itu di ruang keluarga. Ia menandai seluruh tas itu dengan cap kakinya.

Esok hari, tikus- tikus itu mendengar teriakan, suara, dan tangisan. Segera, semua jebakan menghilang.

Ketika tikus kakak- beradik itu mengintip dapur malam itu, ada sebuah bungkusan besar di mana jebakan itu diletakkan. Whiskers curiga. “Jangan terlalu dekat,” ia berbisik seraya melihat sesuatu yang aneh.

“Tetapi mereka memberikan kita sebuah hadiah yang indah,” kata Cheesepuff sambil mengendus kertas pembungkus berwarna merah muda bermotif bulat- bulat dengan hidungnya.

Kedua tikus itu menyobek kertasnya dan menemukan sebuah susunan benda yang membuat mereka ingin tahu. Whiskers berguling- guling ke serutan kayu yang lembut di lantai dan menceburkan diri ke sebuah mangkok yang penuh dengan kepingan kacang, remah- remah kue dan potongan keripik. Ia berlari ke roda besar yang terus berputar dan berputar. Cheesepuff mengikutinya dan menemukan sebuah wortel di tempat lain.

“Aku basah kuyup,” teriaknya ketika ia bersandar pada botol minuman. “Inilah rumah!” kata Cheesepuff. “Benar- benar rumah kita. Sebuah rumah yang dibuat sesuai ukuran kita.”

Diterjemahkan dari A House for A Mouse | penulis: REBECCA WESTBERG

Hari yang Sibuk Kodok Barnaby

Di hari yang cerah kodok Barnaby sedang menyanyikan lagu “Seorang Polisi” dari Mikado.

Mikado adalah sebuah pertunjukan musik yang diciptakan oleh Pak Gilbert dan Pak Sulivan dan sering dinyanyikan oleh para kodok, sebab suara mereka sangat bersemangat.

Barnaby mengambil suara tinggi dengan mendongak ke langit.

Tiba- tiba ia berhenti menyanyi.

Ada burung Ork putih yang sangat besar melintas di angkasa.

Ork itu akan memangsa kodok Barnaby kecil untuk sarapan.

Barnaby melompat ke benda terdekatnya untuk berlindung. Ternyata ini adalah ember susu yang terbalik.

Dari celah bawah ember, Barnaby melihat Daisy Mazy, si gadis pemerah susu yang datang untuk memerah susu si Butterpob sapi.

Barnaby perlu tempat lain untuk bersembunyi. Ia sangat berharap sebisa mungkin.

Melompat,

Melompat- lompat,

Melompat, melompat, dan melompat…

Barnaby menceburkan diri ke bak air milik Percy si babi agar aman. Ork putih besar masih berputar- putar di atasnya di angkasa.

Mendengar suara percikan air, si Babi ingat ia sedang haus, lalu berlari menuju bak air itu.

Barnaby melihat Percy berlari sangat kencang dan terlihat sangat kehausan.

Barnaby tidak mau dirinya ikut terminum dan masuk ke dalam tubuh Percy.

Kemudian Barnaby berenang dan melompat sangat tinggi, ia mendarat di dekat tempat kubangan air.

Bukan tempat terbaik untuk bersembunyi karena terlalu sempit dan dingin.

Sebuah bekas wajan yang dibuang oleh seorang petani.

Barnaby kebigungan, apa yang harus ia lakukan.

Ketika si Percy babi berlari mendekatinya.

Kaki belakang Percy menyandung tangkai panci wajan itu. Membuat kodok Barnaby terlempar keluar dan terguling- guling.

Tidak pernah terbayangkan jika Barnaby terbang dengan sangat tinggi sekali. Namun, ia mampu, pikirnya.

Yang akhirnya melambung tinggi ke angkasa.

Ork putih besar melihat sarapannya terpelanting ke atas, lalu ia mengepakkan sayapnya berbalik arah untuk menyambar Barnaby yang malang.

Kodok Barnaby, ia terjun ke bawah.

Namun Ork putih besar hampir dekat, tidak ada yang bisa menghalanginya.

Ia bisa menangkap Barnaby kecil, tidak diragukan lagi.

Tiba- tiba ,

Dengan ceburan agak keras,

Barnaby mendarat ke kolam perairan sawah.

Barnaby bersembunyi di balik rumput- rumput liar dan bebatuan,

di dalam dasar kolam perairan sawah.

Yang Barnaby pikirkan,

ia tidak mau pindah,

Ia cukup senang, untuk satu hari yang cerah.

Diterjemahkan dari Barnaby Frog Busy Day | author: Tony J Moon

Kumbang Bobby Takut Terbang

Kumbang Bobby kecil adalah seekor anak kumbang. Lebah kumbang bisa terbang, tetapi kumbang Bobby tidak.

Ia tinggal di tempat yang sangat tinggi, di atas tanah, jauh sejauh mata memandang, di dalam sebuah sarang yang menggantung di ranting tertinggi dari pohon sycamore tua. Dan di dalam sarang yang sangat tinggi dan aman, ia bersama saudara- saudaranya laki- laki dan perempuan, dan ibunya, Ratu Marie.

Bobby memiliki sangat banyak saudara laki- laki yang ia sendiri tidak bisa menyebut nama mereka semuanya, tetapi tiga kesukaannya, yang semuda dengannya, adalah Johnny, George, dan Paul. Mereka selalu bermain bersama— selalu berempat dan tidak pernah lebih; karena yang lain sudah terlalu tua untuk bermain dan pasti sangat membosankan.

Dan kita mulai saja ceritanya di musim semi yang cerah dan indah, ketika Bobby, Johnny, George, dan Paul bermain di luar rumah. Mereka telah menghabiskan hari- hari mereka di dalam rumah, tetapi sekarang hujan sudah reda; dan waktunya meninggalkan sarang untuk sedikit kesenangan kumbang.

Pada saat bermain, tiba- tiba Johnny berpikir nakal— pikirnya mereka akan mau mengikutinya. Ia berkata, “Hei! Apa kalian melihat ranting di sana sepanjang hari? Aku bertaruh kita bisa terbang ke sana. Aku yang akan pergi duluan dan memimpin jalan.

“Kita tidak diijinkan untuk terbang jauh- jauh,” kata Bobby dengan gusar. “Kita hanya mendapatkan satu pelajaran dan belum selesai mempelajarinya. Kita boleh terbang jauh setelah kita menyelesaikan ujian terbang, tetapi sekarang, kita tidak diperbolehkan pergi terlalu jauh keluar batas.”

“Oh, jangan seperti bayi lebah,” kata Johnny sambil melirik. “Kelihatannya sangat mudah, terbang ke sana dan kemari.”

“Kita pasti mendapat masalah,” Bobby berkata. “Kita tidak akan pergi! Salah satu dari kita bisa jatuh ke tanah di bawah sana.”

“Aku akan pergi!” tegas Johnny. “Kita memiliki sayap! Kita tidak bisa jatuh! Kau bisa menunggu di sini jika kau memang penakut— memang kau tidak mempunyai keberanian.”

“Dan bagaiman dengan kalian berdua?” Johnny bertanya kepada George dan Paul. “Apa kalian cukup berani untuk terbang, atau kalian sama- sama penakut?”

“Kami bukan penakut seperti lebah Bobby kecil kita,” jawab Paul.

“Aku mau ikut!” tambah George, lalu mereka hanya bertiga.

Dan kemudian mereka mulai mendengung— mendengung sangat cepat, sementara Bobby berdiri di sana melihat mereka dengan takjub. Mereka naik melambung di udara dan berputar- putar di atas kepala Bobby.

“Kau adalah pena- pen- penakut, bayi lebah,” mereka mengejek.

Mereka bertiga terbang semakin tinggi di udara, tanpa ada yang peduli dengan Bobby. Mereka bertiga terbang membentuk pola zigzag dan berzigzag ke sana dan kemari. Mereka berhasil sampai ke ranting itu tanpa beristirahat. Jika sayap mereka sangat lelah, mereka bisa menggunakan bulunya.

Kemudian Johnny berteriak, “HEI BOBBY, KEMARILAH JIKA KAU BERANI!”

“Kalau kau bisa melakukannya, begitu juga aku,” kata Bobby, dengan terpaksa melakukannya. Lalu ia mengepakkan sayapnya sedikit demi sedikit dan bernapas panjang. Dengan mendengung keras, ia naik perlahan- lahan dan terus mendengung, terhuyung- huyung ke kanan dan ke kiri. Ia sangat takut, dan tidak yakin. Dengan gumpalan yang menempel di lehernya, semua bulunya tersibak ke atas menutupi wajahnya, sehingga ia terbang dengan susah payah karena ada benda yang menempel di matanya…

Benda itu jatuh ke tanah yang sangat sangat jauh di bawah langit— cukup jauh sehingga membuatnya gemetaran— cukup jauh yang bisa membuatnya mati. “ITU TINGGI SEKALI!” Bobby menangis. “OH ASTAGA! ITU SANGAT SANGAT TINGGI!” Kemudian ia kembali duduk di ranting, menundukkan kepalanya dan menangis tersedu- sedu, “Mengapa, jika aku seekor kumbang, sangat takut terbang?”

Bobby memilih kembali ke dalam sarangnya meninggalkan Johnny yang sedang menertawakannya. Ia mendongkol, mendongkol dan mendongkol, sedih dan putus asa. Bobby bersembunyi seharian di dalam sarang lebah kumbang. Ia sudah tidak tahan menampakkan wajahnya ke luar rumahnya…

… Sampai suatu hari, Ratu Marie menemukan tempat persembunyiannya, dan berkata, “Hei Bobby, mengapa kau cemberut?”

Bobby berkata, “Aku tidak bisa terbang. Aku adalah seekor kumbang yang buruk. Aku takut jatuh ke bawah pohon. Kurasa ada yang salah, sangat salah denganku.”

“Itu sangat bermasalah,” kata sang Ratu, “kau harus mengatasinya, tetapi kau tidak bisa terus- terusan di dalam rumah sepanjang hari dan menjadi seekor kumbang pemalas. Ada bunga- bunga yang harus diserbuki, pembuatan madu; ada pekerjaan yang perlu diselesaikan; karena kita adalah lebah kumbang yang terampil. Mungkin kau perlu belajar dari lebah kumbang tertua. Dia bisa mengajarkanmu cara terbang. Dia bisa mengajarkanmu untuk tidak jatuh. Namanya adalah kumbang Ringo, dan dia besar, mirip bola. Lebarnya sekitar dua inci, tingginya juga sekitar dua inci. Dan jika kau mau mengunjunginya, kita akan pergi sekarang.”

Lalu pergilah mereka, keluar dari sarang untuk bertemu dengan lebah Ringo ini. Tempatnya tidak begitu sulit— sangat mudah untuk menemukannya. Ratu Marie tidak bergurau ketika ia berkata, “dia besar”; juga ramah dan bersemangat. Badannya penuh dengan bulu halus kumbang.

“Aku mempunyai sedikit masalah,” kata sang Ratu, “untuk menyenangkan pikiran. Bobby perlu sedikit pelatihan— agar bisa menyelesaikan ujian terbangnya. Jadi bawalah dia dengan sayapmu dan buatlah dia sesiap mungkin. Ajari dia cara terbang— melambung tinggi di udara sama sepertimu.”

Lalu Ringo berkata, “Lompatlah ke punggungku. Kita akan berangkat.” Bobby menurut, dan dengan dua genggaman, ia menarik rambut Ringo keluar dari persembunyiannya. Mereka mulai mendengung. Ringo berteriak, “BERPEGANGAN ERAT!” Kemudian mereka meluncur ke tanah, sampai membuat tubuh Bobby bergetar ketakutan. Bobby yang malang memegang erat tengkuk Ringo sekuat tenaga.

Ringo membawa Bobby ke suatu tempat untuk mengejarinya semua yang ia tahu. Ia berkata, “Dengarkan aku, dan aku akan memberitahukanmu apa saja yang dilakukan.” Ringo memegang tangan Bobby dan menatap matanya, dan berkata,

“Tugas terbang ini ringan. Sungguh, lebih ringan daripada kue pai. Semua yang harus kau ketahui, ada dua hal yang penting:

satu: kau adalah seekor kumbang

dua:  kau memiliki sayap.

Dan jika kau mempelanting seolah- olah kakimu seperti pegas, tandanya kau bisa melambung di udara dan biarkan sayapmu yang melakukan tugasnya.”

Bobby mulai menghentakkan kakinya beberapa kali sambil menggerakkan sayapnya. Semakin lama kepakan sayapnya semakin cepat hingga tubuhnya melayang. Ia berkata, “Aku sudah siap— aku siap mencoba.”

“Kalau kau sudah siap,” Kumbang Ringo berkata, “terbanglah ke angkasa.”

Dengan senyuman di wajahnya dan kedipan di matanya, Bobby mempelantingkan diri ke atas, mencapai lebih dari dua kaki. “AKU BISA!” teriak Bobby, “AKU BISA! AKU BISA TERBANG!”

Namun ketika ia melambung terlalu tinggi, ia kembali dipenuhi oleh rasa takut. Ada yang salah lagi, ia melihat sekelilingnya. Bagaimana bisa? Mendengarkan lebih dekat, ia bisa mendengarnya, hampir terdengar jelas, suara yang terdengar seperti seekor lebah yang sangat kecil. Itu adalah Ringo yang jauh berada di bawahnya, sekarang terlihat lebih kecil dari seekor kutu. Ia melihat ke atas dengan sangat bangga, lalu berteriak, “ITU DIA, BOB-BY!”

Meskipun ia telah terbang sekitar dua kaki, mungkin tiga, ketinggian itu masih membuatnya gemetaran— yang membuatnya sangat ketakutan yaitu ketika sayapnya tiba- tiba berhenti mendengung, oh sangat tiba- tiba. Akibatnya Bobby jatuh, ia berteriak, “OH TIDAK!” Ia membentur tanah sangat keras sehingga kaki kumbangnya hampir patah.

“Itu tidak masalah. Kau melakukannya dengan baik,” kata Ringo dengan tersenyum. “Kau melakukan seperti kumbang ahli, dan terbang sangat tinggi.”

“Tetapi aku merasa,” kata Bobby dengan sedih. “aku tidak mengira akan jatuh. Kurasa aku telah menjadi kumbang terburuk dari mereka semua.”

“Omong kosong!” tegas Ringo. “Aku akan mengatakan sesuatu tentang apa yang kau perlukan. Lebih sering berlatih dengan sungguh- sungguh. Kita akan berlatih setiap hari. Kita akan latihan di tempat ini. Aku mau mengajari dan kau akan belajar, atau kumbang Ringo tidak mau lagi.”

Seterusnya Ringo yang mengajari, dan Bobby mempelajari; mereka berlatih setiap hari. Tetapi obby tetap jatuh dengan cara yang sama. “Aku menyerah! Aku tidak bisa melakukannya,” Bobby berkata setelah mencoba sekali lagi. “Aku kumbang yang salah, aku memang tidak bisa terbang.”

Kemudian Ringo menyuruhnya duduk dan menenangkannya dengan memegang tangannya. Ia berkata, “Aku harus mengatakan satu hal lagi kepadamu, dan kuharap kau mengerti. Jika kau menjaga sayapmu untuk tetap mendengung, kau tidak akan pernah jatuh. Ada keajaiban di balik sayapmu dan suara dengungan kumbang.”

“Keajaiban?” kata Bobby. “Aku hanya tidak percaya itu benar. Aku tidak percaya hal itu ada padaku atau padamu.”

“Itulah sebabnya kau jatuh,” Kumbang Ringo berkata dengan bijak. “Kau tidak mendengarkan sayapmu; kau hanya mendengarkan kepalamu. Kau bukan takut terbang; yang menakutimu adalah ketinggian. Dan karena melihat ke bawah rupanya membuat sayap kumbangmu kaku dan tertahan sehingga tidak bekerja dengan baik. Jadi ingatlah apa yang kukatakan kepadamu, dan renungkan hal ini nanti malam:

Seekor kumbang selalu mendengung dan sayap mereka selalu benar. Ada keajaiban di dalam dengungan kita. Mendengung menjaga lebah tetap terbang. Maka jagalah selalu dengungan sayapmu. Buzz— buzz— buzz dengan segenap tenagamu.”


Keesokan harinya, Bobby pergi keluar untuk berjalan- jalan di pohon. Ia mencari Ringo untuk berbicara antar kumbang. Ia telah merenungkan kata- kata Ringo sampai hampir larut malam, dan ia penasaran untuk membuktikan jika kata- kata Ringo itu benar. Ia sudah siap untuk pelajarannya. Ia sudah siap untuk terbang lagi. Namun, kumbang Ringo tidak terlihat di mana pun…

Dan saat ia melangkah sedikit lebih jauh, hanya melewati satu atau dua taman, Bobby berpapasan dengan saudara- saudara kumbangnya, Johnny, George, dan Paul. Mereka berdiri terpaku di sana tanpa mengeluarkan suara. Mereka melihat sesuatu yang mengerikan di bawah di tanah lapang.

“Ada apa?” Bobby bertanya. “Apa yang kalian lihat di bawah sana?” Dan ketika ia melihat apa yang mereka lihat, sesuatu membuatnya sangat takut. Itu Ringo yang akan diinjak oleh manusia. Manusia itu mendorong mesin pemotong rumput tanpa ragu. Ringo tidak mendengar kedatangannya; ia tidak bisa melindungi dirinya. Ia sedang menyerbuki bunga daisy yang tumbuh di taman. Tetapi manusia itu juga tidak bersalah; ia tidak tahu jika Ringo ada di sana. Tidak ada cara agar Ringo melihatnya, sejujurnya, sesungguhnya.

“Sayap kumbangnya patah!” Bobby terkejut. “Dia tidak bisa terbang! Dan mesin pemotong rumput itu semakin dekat! Kita harus menolongnya atau dia akan mati!”

“Apa kau sudah gila?” kata Johnny. “Dia sangat berat! Tidak mungkin kita bisa mengangkatnya. Dan kita berempat bisa jatuh.”

“Apa kau takut?” Bobby bertanya kepadanya, lalu melihat George dan Paul. Tetapi mereka bertiga hanya berdiri di sana, diam tidak menjawab.

“Aku akan pergi!” kata Bobby mantap. “Aku akan menyelamatkannya sementara kalian bertiga hanya duduk di sini di pohon ini. Aku akan mengangkatnya sendirian. Aku akan membawanya ke sarang. Aku akan menyelamatkannya dari mesin pemotong rumput. Aku akan membantunya untuk tetap hidup.”

Dan kemudian Bobby mulai mendengung— mulai mendengung sangat cepat, sedangkan Johnny, George dan Pal berdiri di sana melihat dengan takjub. Bobby melambung ke udara dan berputar- putar di atas kepala Johnny, dan ia lebih baik menjaga lidahnya daripada mengejeknya.

Ia terbang, melambung di udara, dan meluncur ke tanah. Dengan sayap kumbangnya ia mendengung dengan sekuat tenaga. Ia bisa melihat kumbang Ringonya dalam bahaya.

Dengan kecepatan tinggi, ia menuju ke sana dan mendarat di tanah. Ia berdiri di sebelah Ringo. Jantung kumbangnya berdetak kencang. Bulu Ringo sangat kotor, dan ekornya terpelintir. Ia mengalami patah di beberapa tulangnya, dan pergelangan tangannya keseleo. Tidak ada bagian lain tubuh Ringo yang lolos dari kaki manusia itu.

“Kau lihat!” kata Ringo dengan bangga. “Semua ada keajaiban. Kau menjaga sayapmu tetap mendengung, dan kau terbang, kau tidak jatuh.”

“Tetapi kau seharusnya tidak di sini,” Ringo berkata dengan lirih kepada Bobby. “Selamatkan dirimu selagi bisa, Bobby. Terbanglah sendirian.”

Tidak ada waktu lagi. Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Tidak ada waktu berpikir atau berhenti untuk merenung. Mesin pemotong rumput sudah dekat dan berjalan begitu saja dan memotong baik rumput hijau maupun rumput liar.

Secepat mungkin Bobby meraih tangan Ringo, lalu dengan kuat ia menginjakkan kakinya di tanah berpasir. Suara dengungan mulai terdengar, ia siap untuk terbang. Dengan napas panjang kumbangnya, ia melihat ke atas langit, dan berkata, “Jangan khawatir, Ringo. Aku tidak akan membiarkanmu mati.”

Melihat mesin pemotong rumput sudah di belakangnya, Bobby mempelantingkan tubuhnya. Ia merasa lebih ringan dari udara— sangat ringan. Mata pisau mesin pemotong rumput berputar sangat cepat. Oh iya, mesin itu sudah mendekat— hanya kurang dari tiga inci. Dan dengan sekali mempelanting, ia meluncur seperti roket, hampir menarik lengan Ringo yang sakit keluar dari persendiannya. Lalu naik, naik dengan mendengung keras seraya mesin pemotong rumput itu berjalan ke tanah mereka berada tadi.

Lalu ia naik dan terus naik, memegang erat tangan Ringo, sambil menjaga dengungan sayapnya sekuat tenaga lebah kumbang. Mereka mendengung sangat keras— sekeras yang ia bisa dengar. Mereka mendengung semakin tinggi— terdengar nyaring di telinga mereka. Dan sekitar dalam jarak mil kau bisa mendengarnya cukup jelas; Kumbang Bobby akhirnya telah mengalahkan ketakutannya.

Dengan Ringo yang masih digandengnya, Bobby terbang menuju ke sarang. Mereka berada di salah satu ruang di sarang kumbang, dan mereka berhasil sampai di rumah hidup- hidup. Segera mungkin Bobby memanggil dokter Kumbang untuk mengobati kumbang Ringo yang sedang dalam keadaan darurat. Ia menambal kedua sayapnya dan membalut sekeliling pergelangan tangannya, dan berkata, “Dia akan segera membaik, tetapi aku meminta dengan tegas kalau untuk tujuh hari ke depan— paling sedikit 168 jam, dia harus tinggal di rumah dan tidak boleh pergi untuk menyerbuki bunga.”

Kemudian, Ratu Marie mengumumkan bahwa Kumbang Bobby adalah penerbang terbaik. Malam itu ia mengadakan sebuah pesta, dan di depan para tamu, ia
menggantungkan sebuah medali emas di dada kumbangnya. Medali besar, dan berkilau, dan merupakan puncak keberhasilan. Lalu sang Ratu berkata dengan bangga, “Kumbang Bobby, aku terkesan sekali. Kau telah membuktikan kemampuanmu dan ┬álebih baik dari yang lain. Dan aku menyatakan, dengan medali simbol terbang, kau telah menyelesaikan ujian terbangmu.”

Dan tidak ada yang mengerti ketika Bobby begitu kuatnya mengangkat Ringo seperti sebuah crane. Tidak ada yang tahu atau bahkan bertanya alasannya mengapa ia tiba- tiba sangat berani terbang ke angkasa. Mungkin karena keajaiban di dalam dengungan yang ia buat. Atau mungkin dengungan ajaib putaran mata pisau mesin pemotong rumput. Sebenarnya tidak masalah tentang apa yang telah dianugerahkan padanya, melainkan hampir semua yang mereka kerjakan selesai dengan baik.

Dan setiap ia mengistirahatkan kepala kumbangnya di malam hari, Bobby memikirkan kata- kata Ringo sebelum ia mematikan lampu tidur kumbangnya:

“Seekor kumbang selalu mendengung, dan sayap mereka selalu benar. Ada keajaiban di dalam dengungan kita. Mendengung menjaga lebah agar tetap terbang.”

Dan ia tidak pernah melupakan dua hal penting yang dikatakan oleh Ringo:

satu: ia adalah seekor Kumbang.

dua: ia memiliki sayap.

 

Diterjemahkan dari Bobby Bumble’s Afraid to Fly | Author: Ethan Crownberry

Ikan dan Hadiah

Di hari Jumat yang istimewa ayah Yusuf berpakaian rapi sebelum kerdipan sinar mentari menerangi langit. Ia menarik jaket tahan cuacanya yang besar dan topi wol hijau yang menutupi telinganya. Ia pamit dengan melambaikan tangan kepada anaknya. Mata Yusuf berbinar ketika Papa berkata, “Hari ini saatnya papa akan memancing ikan dan membawa pulang sebuah hadiah untukmu.”

Ikan dan hadiah? Oh, bagaimana bisa? Papa mengayuh sepeda menuju Pantai Muizenberg. Roda- rodanya berdecit sepanjang ke Simpang Surfer.

Burung camar terbang mengelilingi langit. “Apaaa? Apaaa? Apaaa?” mereka berteriak- teriak. “Apa yang akan kau bawa pulang untuk Yusuf?”

Papa membunyikan belnya. “Tunggu dan lihatlah apa itu!”

Para nelayan melihat matahari sudah terbit. Mereka memeriksa jaringnya. Mereka juga memeriksa dayungnya. Mereka merasakan angin. Mereka menarik perahunya menuju ke air. Kakek Yusuf, Oupa Salie adalah seorang nelayan yang sering melakukan perjalanan. Sebelumnya ayahnya, Oupagrootjie Ridwaan, juga akrab dengan samudera.

Perahunya dijalankan di atas ombak. Papa merentangkan lengannya saat memegang dayung. Ia menahan kedua kakinya ke samping. Lehernya tegang, otot punggungnya bereaksi.

Papa bernyanyi saat ia bekerja: “Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Sepanjang hari Yusuf melihat ke langit. Langit yang cerah dan tidak ada angin. Ikan dan hadiah! Bagaimana bisa Papa membawanya pulang dari laut? Kadang- kadang ia membawa kerang yang cantik. Kadang kala ia membawa permata hijau dari kaca yang terbilas oleh ombak.

Suatu hari ayah Yusuf bercerita. Saat mereka menemukan penyu laut di hamparan pasir pantai, berjumlah ratusan yang terdampar karena badai.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak para burung camar. “Apa yang akan kau lakukan untuk membantu penyu- penyu itu?”

Papa berkata, “Kita selamatkan penyu- penyu itu, aku berkata sungguh- sungguh. Kita kembalikan mereka ke laut, sampai yang terakhir.”

Papa selalu bernyanyi. Ia menyanyi sambil mendayung. Ia menyanyi sambil menarik jaring. Ia menyanyi saat menggulung tali. Ia bernyanyi sambil mengayuh sepedanya menuju rumah. “Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Ouma Safiya ingin satu buntut kuning yang gemuk untuk makan malamnya. Ibu ingin pakaian baru.

“Jangan bodoh,” kata Ouma. “Kau akan beruntung jika mereka bisa menangkap kepiting yang sangat kecil pun. Kemungkinan akan menjadi hari Jumat buntut ikan. Tidak ada banyak ikan di laut sana.

Yusuf menggandeng tangan Ouma. Mereka menyeberang jalan ke kamar mandi.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar itu yang bertengger di atap. “Apa makan malamnya?”

Tahun yang lalu nelayan berkelahi dengan peselancar. Saling marah dan memukul, dan melontarkan kata- kata.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar.

“Laut itu cukup luas untuk semua orang,” kata ayah Yusuf. Ia menunjukkan kepada mereka surat lisensi memancing yang telah dimiliki oleh Oupa Salie. “Ombak untuk semua. Air untuk kebebasan.”

Ouma Safiya melihat melalui lensa binokulernya, dilingkarkannya jarinya dengan rasa penasaran. Alarm hiu bersuara. Orang- orang yang berenang berlari kembali ke daratan pasir dan mengambil handuk mereka. Para peselancar buru- buru ke pantai, dengan menjepit papan mereka di bawah lengan. Di bawah pancuran mereka menanggalkan pakaian selam mereka.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar. “Apa yang akan dibawa pulang ayah Yusuf dari lautan?”

Ayah, paman dan sepupu Yusuf mendorong dan menarik. Seekor hiu kecil telah ditangkap. Ikan hiu itu terombang- ambing oleh ombak dan menjadi bangkai di laut. Ayah Yusuf membentangkan jaring, bernyanyi untuk hiu: Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Saat hiu itu terakhir bergerak ia membalikkan badannya ke dalam ombak, dengan menyisakan ekor kuningnya yang gemuk di jaring. Ouma Safiya akan senang.

Pria itu menarik perahunya dan menggulung kabel. Benda segitiga putih yang keras menempel di jari Papa.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar. “Apa yang kau bawakan untuk Yusuf?”

Saat matahari terbenam, Papa menjawab pertanyaan burung camar. “Sebuah gigi hiu keberuntungan untuk anakku.”

Di rumah Yusuf mengangkat hadiahnya ke arah bintang- bintang.

TAMAT. Diadaptasi dari cerita A Fish and a Gift

Dany dan Katak bag.3

Dany mengambil sebuah batu, diletakkannya di ketapelnya, ditarik talinya ke belakang dan membidik ke arah burung itu. Batu dilemparkan ke udara, tetapi tidak mengenai burung itu. Dengan seketika ia mengambil batu lagi. Ditembakkannya ke udara, tetapi masih meleset. Ia tidak akan putus asa setelah mengingat kata- kata Kyle kepadanya:

“Teruslah berlatih dan suatu saat kau pasti mengenai sasaran.”

Ia mengambil lagi batu yang lain dan membidik burung yang terbang melingkar itu sekali lagi.

Akhirnya batu mengenai burung hitam di bagian perutnya. “Ya, aku berhasil,” kata Dany dengan bersemangat, tetapi kemenangannya tidak berlangsung lama. Si burung berteriak kesakitan dan menjatuhkan sang raja katak. Oh tidak, batin Dany ketika melihat si burung kabur dan raja katak jatuh dengan kecepatan tinggi ke tanah.

Semua katak terpaku diam menyaksikan sang raja jatuh. Dany bergerak dengan cepat sebisanya, melengkungkan tangannya untuk menangkap raja katak. Katak- katak lainnya pun bernapas lega setelah sang raja mendarat dengan aman di tangan Dany.

“Terima kasih banyak Dan, kau sudah menyelamatkan nyawaku,” kata sang raja katak.

“Dengan senang hati yang mulia,” kata Dany kemudian meletakkan sang raja dengan hati- hati di tanah.

Sang Raja melompat menemui katak Rich dan berkata,”Sekarang aku berkata baik- baik, kuingin kau melepaskan rakyatku,”

“Jawabannya masih tidak mau,” kata katak Rich dengan keras kepala.

Dany tidak bisa membiarkannya lagi. Ia berjalan menuju katak Rich dan mengankat kakinya dan berkata, “Jika kau tidak mau membebaskan mereka aku akan menginjakmu,”

“Kau tidak akan bisa!” kata katak Rich.

“Yang mulia, bolehkah aku melakukannya untuk mengakhiri hidupnya?” Dany meminta ijin kepada raja katak. “Ya, kau boleh melakukannya, Dan,” kata raja katak sambil melirikkan matanya kepada Dany.

Dengan perlahan- lahan Dany menurunkan kakinya ke arah katak Rich.

“Oke, oke, beri aku kesempatan hidup dan ambilah katak- katakmu,” kata katak Rich. “Sekarang pergi dan bawa juga manusiamu,” lanjutnya.

“Masih ada satu lagi. Kau tidak pantas memakai itu,” kata James lalu mengambil mahkota dari kepala katak Rich dan dikembalikan kepada sang raja. “Ah ya, itu lebih baik” kata raja katak yang meletakkan kembali mahkota ke kepalanya.

Katak- katak yang mengelilinginya meminta maaf karena sudah meninggalkannya dan berterima kasih sebab sang raja tidak melupakan mereka.

“Tidak perlu meminta maaf sekarang. Kita bisa melompat pulang ke rumah, bukan?” tanya raja katak.

“Yang mulia, apa yang kita lakukan kepada katak Rich?” Dany bertanya.

“Tidak perlu Dan, dia suda kalah dalam pertempuran. Itu hukuman yang sudah cukup,” jawab raja katak.

“Terserah anda, yang mulia,” kata Dany, tetapi ia kembali kepada katak Rich dan berkata, “Jika kau masih mendekati kerajaan mereka atau mencoba menyiksa mereka, aku dan kakiku akan menemukanmu, itu janjiku! Kau mengerti katak?”

“Ya, aku mengerti,” kata katak Rich yang menunduk kalah lalu melihat mereka pergi.

“Akhirnya semua kembali dengan baik,” kata Dany setelah sampai di The Ponds.

“Memang benar, tetapi kami tidak mau lagi tinggal di sini Dan, tidak ada yang berguna untuk kami jadi kami akan berusaha mencari tempat tinggal yang lain,” kata raja katak.

“Jangan terburu- buru untuk pergi yang mulia. Aku punya rencana,” kata Dany. Ia pamit kepada sang raja dan katak lainnya, dan memulai perjalanannya ke rumah di atas bukit.

Hari- hari berlalu di The Ponds dan tidak ada tanda- tanda kedatangan Dany. “Aku takut jika dia tidak kembali, yang mulia,” kata James.

“Kupikir kau benar, James. Kita akan bersiap- siap. Kita akan meninggalkan The Ponds satu atau dua hari lagi. Tolong kirimkan pesan kepada rakyat kita,” kata sang raja.

“Kuak, kuak, kuak,” mereka mendengar dari luar bebatuan.

“Ada tiga kali kuak; itu artinya para manusi datang,” kata James.

“Mungkin itu gerombolan orang piknik yang lain. Ayo James, kita harus saling waspada,” kata sang raja.

“Yang mulia, yang mulia!” salah satu katak berteriak melompat ke hadapan sang raja.

“Apa yang terjadi sampai kau sangat gugup?” raja bertanya kepada katak yang menghadapnya.

“Itu Dany, dia kembali bersama manusia yang lain,” jawab katak itu.

“Sekarang aku mau bertemu! Ayo James,” kata sang raja. 

“Halo Dany, kau telah kembali,” kata sang raja.

“Iya, yang mulia, mereka adalah teman- temanku. Mereka juga tinggal di desa yang dekat dari sini dan ketika aku menceritakan yang terjadi di The Ponds mereka dengan segera mereka bersedia membantu,” kata Dany.

“Ini waktunya kami bertanggung jawab atas apa yang sudah kami lakukan. Kami minta maaf; kami tidak tahu jika ini akan terjadi pada The Ponds. Kami datang kemari untuk membersihkan The Ponds,” kata Kyle mewakili teman- temannya yang menganggukkan kepala tanda setuju dan kemudian mulai bekerja.

Butuh beberapa waktu The Ponds mendapatkan kejayaannya lagi, namun setelah selesai, sang raja teringat oleh Dany ketika ia sedang menikmati kolamnya yang sudah bersih.

“Air sudah bersih; para katak sedang beristirahat di atas rerumputan bersama bunga- bunga. Aku tidak tahu bagaimana berterima kasih kepadamu, Dan,” kata raja katak.

“Tidak perlu seperti itu, yang mulia; ini dilakukan demi kebaikan bersama.”
***S E L E S A I***
(Diadaptasi dari cerita Dan and the Frog)

Dany dan Katak bag.2

Dany bersama teman- teman kataknya masih di The Ponds. Dan ia sudah mengerti.

“Baiklah, aku mengerti,” kata Dany.

“Senang betemu denganmu, Dany, tetapi James dan aku harus melompat jauh, kami akan menempuh perjalanan yang panjang ke sana,” kata raja katak.

“Ribbit,” James mengiyakan.

Dany diam sebentar, ia melihat mereka pergi sambil pikir- pikir dan akhirnya ia berteriak, “Tunggu, aku ikut!”

“Terima kasih, tetapi ini bukan permasalahanmu nak,” kata raja katak.

“Aku bisa membantu, yang mulia, aku bisa membawamu agar perjalananmu lebih cepat,” kata Dany.

“Ide yang bagus, yang mulia, kita bisa menyusul katak yang lain secepatnya dengan bantuan anak ini,” kata James.

“Tepat sekali, aku sangat berterima kasih untuk bantuanmu yang murah hati, Dany,” kata raja katak. Dany berlutut dan membuka kedua telapak tangannya, satu per satu naik ke telapak tangan, dan ia mulai melangkah ke arah yang ditunjukkan oleh James.

Setelah beberapa lama mereka menempuh jalan yang penuh dengan batu- batuan besar. “Kita sudah semakin dekat,” kata James.

“Tetapi hanya ada batu- batu besar di sini,” kata Dany.

“Mereka ada dibalik batu- batu besar itu,” kata James, menunjuk dengan jari kecil hijaunya yang berselaput.

“Dany, kau bisa menurunkan kami sekarang,” kata raja katak. “Kami akan maju sendiri dari sini, Dan. Tolong sembunyilah di balik batu- batu besar yang lain. Kami akan memanggilmu jika diperlukan,” kata sang raja. Kemudian kedua katak itu melompat jauh dari Dany.

Dibalik batu- batu besar itu para katak bekerja keras, membangun rumah baru katak Rich. “Lebih cepat! Kita tak punya banyak waktu! Jeraminya harus segera disambung sebelum matahari terbenam!” Katak Rich memberi perintah. Ia duduk di tempat yang ia sebut singgasana sambil berteriak- teriak memerintah.

“Semua katak terlihat sangat lelah. Mengapa kau tidak mengijinkan mereka istirahat sementara kita berbincang?” kata sang raja kepada katak Rich serta mendekatinya. “Mereka adalah rakyatku sekarang dan akan kusuruh mereka istirahat pada waktunya. Apa yang kau lakukan di sini,kau sudah memutuskan untuk bergabung denganku?” tanya katak Rich. “Sebenarnya aku datang untuk menjemput rakyatku; mereka akan pulang bersamaku!” perintah sang raja.

Para katak mulai bersorak gembira. “Perintah, perintah!” gerutu katak Rich. “Tidak ada yang pergi, kalian tidak akan pergi kemana pun! Apa kau lupa tentang apa yang terjadi di The Ponds?” lanjutnya. Senyuman tenggelam dari wajah para katak setelah mereka ingat.

“Ya, itu benar; The Ponds tidak seperti yang dahulu. Meskipun begitu, mereka akan merasa bebas bersamaku. Jadi katak Rich, biarkan rakyatku pergi!” kata raja katak. “Tidak, mereka milikku sekarang! Mereka tidak akan pergi!” kata katak Rich.

“Aku tidak akan memaksa lagi, katak Rich, biarkan katak- katakku pergi!” kata raja katak yang mulai marah.

“Ku bilang tidak! Aku akan membuatmu mengerti bahwa kau tidak seharusnya di sini,” kata katak Rich.

Ia bersiul kepada burung hitam yang terbang berkeliling di atasnya. Dengan segera burung itu menatap katak Rich. “Makan mereka, binatang kesayanganku,” perintah katak Rich. Burung itu segera berhenti berkeliling, lalu melihat tajam raj katak dan menukik ke hadapannya.

“Awas, yang mulia!” James berteriak berusaha melindungi rajanya, tetapi terlambat. Burung itu berhasil mendapatkan sang raja dahulu dan dengan kepakan sayapnya ia mengangkat sang raja semakin tinggi dan tinggi ke atas langit.

“Kau sudah lihat akibatnya jika tidak menurutiku? Kembali bekerja! Kau juga James; tidak ada tempat untuk pahlawan.” kata katak Rich.

Tiba- tiba bayangan hitam muncul. Bayangan hitam itu semakin meluas ke seluruh tempat di mana katak- katak berkumpul. “Dia manusia!” para katak berteriak.

“Siapa?” kata katak Rich yang terkejut bukan main. “Tetapi itu tidak mungkin, mereka tidak bisa sampai ke batu- batu besar,” lanjutnya. Dany berdiri di atas katak- katak seolah raksasa, mengambil ketapel dari sakunya.

“Lindungi diri kalian, dia bukan manusia yang baik; dia memiliki senjata!” para katak berteriak ketakutan. Mereka lari kalang- kabut melompat- lompat ke berbagai arah. “Tunggu semua, dia tidak akan melukai kita, dia ke sini untuk membantu kita!” James berteriak mencoba menenangkan rakyatnya…

Chuskit Pergi Sekolah

Chuskit bangun pagi lebih awal. Ini adalah hari yang sangat istimewa dan ia begitu semangat setelah bangun tidur. Ia dengan semangat melihat luar dari jendela kamarnya di samping tempat tidurnya. Di Ladakh sedang musim semi dan bunga- bunga pohon aprikot bermekaran. Dua ekor burung magpie telah memulai harinya dengan sibuk mencari serangga untuk dimakan. Ama- ley juga sudah bangun. Ia bisa mendengar suaranya di dapur, sedang membuat teh gur- gur.

Chuskit sudah bangun satu jam yang lalu. Ini adalah hari yang akan selalu ia ingat. Kau bisa menebaknya mengapa?

Tidak, bukan soal Losar, festival Tahun Baru. Masih ada banyak bulan lagi. Bukan juga soal hari istimewa di desanya, seperti festival gonpa, atau hari pernikahan.

Hari ini merupakan hari pertama Chuskit ke sekolah. Selama sembilan tahun, ia telah menunggunya dengan sangat dan sangat lama.

Sekolahnya berada tidak jauh dari rumahnya. Untuk pergi ke sana, kau harus berjalan di jalan utama.

Sebelum kuil sembahyang, kau ambil jalan sebelah kiri yang membentang di sepanjang sungai kecil.

Di dekat pohon poplar kau harus menyeberangi sungai kecil itu dengan melompat ke atas batu- batu besar. Setelah sampai ke seberang, kau berjalan di jalan pendek yang landai sampai ke sekolah. Semua anak dari Skitpo Yul, desa tempat tinggal Chuskit, berjalan kaki ke sekolah dengan leluasa setiap hari. Tetapi tidak bagi Chuskit kecil. Ia seorang penyandang disable dan tidak bisa berjalan.

Chuskit lahir dengan kedua kaki yang tidak bisa berfungsi normal seperti kaki- kaki orang pada umumnya. Ayahnya membawanya ke desa amchi dan kemudian ke para dokter di Leh. Akan tetapi tidak ada obat yang membantunya bisa berjalan. Pada awalnya, Chuskit tidak menyangka akan menjadi berbeda dengan Stobdan, adiknya, atau sepupunya. Namun nanti ada banyak hal yang tidak bisa ia lakukan semudah mereka melakukannya. “Tidak apa- apa,” hibur Aba- ley sewaktu- waktu jika ia sedih.

“Kau bisa menjahit lebih baik dari  mereka. Dan kau bisa menggambar dengan sangat bagus.”Aba- ley sering membawakan pensil warnanya dari Leh.

Chuskit duduk di jendela dapur setiap hari dan menggambar apa pun yang ia lihat sementara Ama- ley memasak. Ia melihat hewan- hewan ternak milik keluarganya makan rumput setiap pagi. Ia melihat birunya air sungai yang mengalir mendekat. Dan ia menjadi orang pertama yang memberi kabar kedatangan tamu ke rumahnya!

Chuskit menggunakan kursi yang dilengkapi roda untuk berjalan. Orang tua menyebutnya ‘kursi roda’. Kau bisa bergerak ke segala arah- maju, ke kiri, ke kanan, dan bahkan mundur- dengan menggerakkan rodanya menggunakan kedua tanganmu. Kau hanya perlu kekuatan lengan untuk mendorong berat badanmu dan kursinya.

Ketika Aba- ley membawakan kursi roda pertama kali ke rumah, setiap orang yang merupakan keluarganya sangat senang.

“Sekarang aku tidak perlu menggendong Chuskit kemana pun, aku bisa mendorongnya,” kata Ama- ley, yang mengeluarkan air mata bahagia di matanya.

“Dan aku bisa pergi kemana pun yang kumau!” sorak Chuskit dengan gembira.

“Apa aku boleh memakai kursi rodamu sekali saja? Kumohon,” rengek Stobdan. Ia juga ingin berkeliling menggunakan kursi roda. Kelihatannya menyenangkan.

Billa, si kucing hitam besar, melompat ke kursi roda dan membentangkan badannya di kursi. “Ya, ini jauh lebih nyaman daripada karung kain yang kutiduri,” katanya dengan mendengkur.

Pelan- pelan, Chuskit belajar menggunakan kursi rodanya. Ia meminta ibunya untuk mendudukkannya ke kursi roda di luar rumah setiap sore. Dari sini ia bisa melihat anak- anak pulang sekolah, mengobrol dan tertawa riang bersama.

Sementara itu, bus sore telah kembali dari Leh, membawa pulang orang- orang dari bekerja dan tempat berdagang. Begitu indahnya dunia jika dilihat dari sini daripada dari jendela dapur!

Suatu sore ketika Chuskit sedang duduk di luar rumah bersama kakeknya, seorang anak muda mendekatinya. Ia membawa sepucuk surat lalu ia serahkan kepada kakeknya. “Julley! Sopir bus itu memintaku memberikan ini kepadamu,” katanya.

“Namaku Abdul,” ia berkata pada Chuskit. “Aku belajar di kelas 6 di Sekolah Pemerintah. Aku penasaran mengapa kau tidak hadir ke sekolah,”

Julley, Abdul,” kata Chuskit. “Aku tidak pernah ke sekolah. Jalan menuju sekolah tidak rata dan penuh kerikil dan kursi rodaku akan tergelincir. Di samping itu, aku tidak bisa menyeberangi sungai kecil di depan sekolah. Sangat susah bagi orang tuaku untuk menggendongku ke sekolah dan pulang setiap hari.”

“Tetapi maukah kau pergi ke sekolah?” tanya Abdul.

“Tentu saja!” jawab Chuskit. “Aku mendengarkan celotehan adikku tentang semua yang dia lakukan di sekolah. Aku ingin belajar seperti semua orang sepertimu, punya banyak teman, bermain, memakai seragam, dan mengikuti ujian. Kadang- kadang adikku mengajariku bernyanyi yang sudah ia pelajari di sekolah, dan aku menyukainya. Kau mungkin tidak percaya, tetapi terkadang aku memimpikan memakai tas sekolah, membawa bekal makan siang…”

“Cukup! Cukup!” sela kakeknya. “Berhenti bermimpi, Chuskit. Kau tahu kau tidak bisa pergi ke sekolah. Kakek sudah mengatakan itu berkali- kali. Belajarlah apapun yang kau bisa di rumah.”

“Meme- ley, kumohon,” kata Chuskit pelan menyanggah sambil menangis ketika kakeknya meninggalkannya dengan marah. “Meme- ley tidak mengerti perasanku,” kata Chuskit.

“Aku ingat saat adikku menceritakan tentang mejanya dengan bangga, juga saat dia belajar membaca! Orang tua ku sangat senang sebab mereka tidak pernah ke sekolah. Aku juga ingin belajar membaca dan berhitung. Kau mengerti?”

“Iya,” kata Abdul. “Chuskit, sampai jumpa lagi. Aku harus pergi sekarang. Ibuku sudah menungguku. Julley!

Di hari selanjutnya, Abdul menghadap di ruang kepala sekolah setelah pertemuan. “Julley, Azhang- ley!” katanya. “Saya ingin berbicara dengan Anda tentang seorang gadis dari desa kita yang tidak bisa pergi ke sekolah. Namanya Chuskit. Dia adalah kakak Stobdan.”

“Oh iya,” jawab kepala sekolah. “Aku tahu dia. Dia seorang penyandang disable, bukan?”

“Iya, Azhang- ley. Dia menggunakan kursi roda untuk berjalan tetapi tidak bisa ke sekolah, sebab jalan dari rumahnya sangat jelek dan tidak rata. Saya berharap kalau kita bisa melakukan apapun untuk membantunya, Azhang- ley. Kita bisa melakukannya bersama- sama dan meratakan jalan dan juga membangun jembatan kecil untuk menyeberangi sungai.”

“Kau sangat bijaksana, Abdul,” kata kepala sekolah sambil menepuk punggungnya. “Apa yang membuatmu peduli kepada Chuskit dan masalahnya?”

“Azhang- ley, minggu lalu kita mempelajari tentang hak asasi manusia di kelas kewarganegaraan kita. Semua anak berhak mengenyam pendidikan. Itu termasuk Chuskit juga, bukan?”

“Ya, kau benar, Abdul. Biarkan aku membicarakan ini dengan guru- guru lainnya dahulu,” jawab kepala sekolah.

Di hari selanjutnya kepala sekolah memanggil semua guru untuk rapat. Beliau menceritakan saran Abdul kepada mereka dan meminta para guru untuk menanggapinya.

“Tidak mungkin!” kata salah satu dari mereka. “Bagaimana mungkin kita memiliki murid yang disable di sekolah kita? Bagaimana dia akan menulis, bermain dan pergi ke toilet seperti yang dilakukan oleh anak- anak lainnya?”

“Itu yang harus kita kerjakan sebenarnya,” kata kepala sekolah. “Saya dengar di desa Mentok Yul, komite pendidikan desa telah membantu pembangunan toilet khusus untuk salah satu anak- anak penyandang disable mereka. Kita bisa menanyakannya apa yang sudah mereka kerjakan. Tetapi pertama- tama kita ijinkan Chuskit ke sekolah dahulu. Setelah itu kita pikirkan cara membantunya melakukan hal- hal di sekolah.”

Dua minggu kemudian ada keramaian di Sekolah Pemerintah. Semua anak berkumpul di taman bermain.

Mereka datang ke sekolah tanpa membawa tas sekolah mereka: akan tidak ada kelas hari ini!

Para guru membagi muridnya ke dalam kelompok. Satu kelompok bekerja di depan rumah Chuskit, dan lainnya di jalan sepanjang sungai. Kelompok tiga bersama beberapa murid yang lebih tua bekerja keras membantu beberapa gurunya yang membangun jembatan kayu yang kokoh menyeberangi sungai.

Anak- anak tertawa dan bernyanyi saat mereka memindahkan batu batu kecil dan besar, meratakan jalan, dan menggotong papan ke sungai.

Kepala sekolah menemui satu kelompok ke kelompok lainnya, memastikan jika semua berjalan sesuai rencana.

Orang tua Chuskit menyuguhkan teh panas dan kue- kue kepada setiap orang. Kakek Chuskit duduk di bawah pohon willow di dekat sungai melihat kesibukan anak- anak sekolah. “Aku tidak pernah menyangka akan mengalami hari seperti ini!” ia berbicara kepada dirinya sendiri sambil menyeka air mata yang mengalir jatuh ke pipinya.

Di saat terakhir hari ini semua sangat lelah tetapi sekumpulan anak- anak itu gembira ketika kembali ke rumah masing- masing. Jalan dari rumah Chuskit menuju sekolah sudah jadi sekarang!

Chuskit akan pergi ke sekolah untuk pertama kali dalam hidupnya. Dan itulah mengapa ia sangat bersemangat!

***

(adapted from Chuskit goes to School)