Tempat Tidur yang Susah Diatur

“Ma, aku tidak mau merapikan tempat tidurku. Itu membuatku kesulitan dan sangat lama. Bisakah Mama merapikannya untukku?”

“Bisa, tetapi nanti akan meninggalkan waktu yang sudah Mama jadwalkan untuk mengerjakan hal lain untukmu. Pekerjaan manakah yang dapat kau kerjakan untuk Mama, sementara Mama merapikan tempat tidurmu?”

“Aku bisa menyajikan sarapan sendiri,” jawab Kay.

“Ya, itu sudah kau lakukan, bukan?” kata Mama.

“Iya… Oh, aku tidak tahu. Tidak ada hal lainnya yang bisa kukerjakan,” kata Kay.

“Jika Mama merapikan tempat tidurmu, bisakah kau merapikan tempat tidur Mama?” tanya Mama.

“Atau, bisakah kau mencuci piring untuk sarapan atau mencuci baju, sementara Mama merapikan tempat tidurmu?”

“Aku sedang berpikir,” kata Kay.

——————————-

“Sudah kuputuskan bahwa aku akan merapikan tempat tidurku saja. Dengan begitu aku bisa berlatih melakukannya, agar aku bisa merapikannya lebih baik lagi dan lebih cepat.”

“Kedengarannya ide yang bagus,” kata Mama. “Sekarang Mama bisa menyelesaikan memasak untuk sarapan. Dan kita akan menikmatinya bersama- sama, setelah kau segera merapikan tempat tidurmu.”

“Awas, tempat tidur berantakan. Aku datang!” kata Kay bersemangat.

Mendorong anak-anak untuk berlatih bertanggung jawab, alih-alih usaha agar orang tua dapat mengerjakan hal- hal untuk mereka (anak-anak).

Diterjemahkan dari Bed Making Blues | penulis: Agnes dan Salemde Bezenac

Misteri Kebun Binatang

Di hari musim panas, seorang gadis kecil sedang bermain bersama anjingnya. Mama dan Ayah sedang duduk di ruang tamu. Ayah sedang membaca koran.

“Kalian sudah mendengar kabar?

Salah satu jerapah telah hilang dari kebun binatang,” Ayah berkata.

Si gadis kecil lalu berhenti bermain. “Ke mana dia pergi?”

“Entahlah,” Ayah berkata, “pagi ini penjaga kebun binatang mencari- cari jerapah yang hilang itu. Tidak ada yang tahu dimana dia dan mereka akan memberikan hadiah kepada siapa saja yang dapat menemukannya.”

“Kita harus ke sana dan menyelidiki,” Mama berkata.

Setelah perjalanan yang tidak jauh, mereka sampai di kebun binatang. “Kita lihat binatang- binatang di sini.

Kita pasti mendapatkan petunjuk,” kata Mama dengan wajah serius.

“Benar!” Ayah berkata.

Mereka melihat seekor gajah. Seekor singa. Seekor badak. Seekor kudanil. Dan seekor unta.

Seorang wanita tua berkata, “Apa kau sudah mendengar kabar hilangnya si jerapah?”

“Itulah mengapa kami datang ke kebun binatang,” Ayah menjawab.

“Hmm,” si gadis kecil memperhatikan wanita tua itu.

Mereka melanjutkan melihat- lihat para binatang.

Ada seekor monyet. Seekor beruang. Seekor rusa jantan. Seekor kanguru. Dan… seorang  pria mengendarai sepeda.

“Hmm,” kata si gadis kecil sambil memperhatikan pria bersepeda itu.

“Ayo kita melihat para binatang lagi,” kata Mama.

Mereka melihat seekor burung unta. Ular. Anjing laut. Seekor panda. Lalu ketika tiba- tiba ada cahaya menyilaukan mata mereka, hanya ada seseorang tukang foto.

“Hmm,” kata si gadis kecil lagi.

“Mama?

Ayah?”

“Iya!?!” jawab Mama dan Ayah bersamaan.

“Wanita itu… dan pria bersepeda… dan tukang foto itu… adalah si jerapah!”

“Hah?!?” kata Mama dan Ayah terkejut.

Ia benar. Kemudian Mama, Ayah dan si gadis kecil melapor kepada penjaga kebun binatang…

“AH HA!” kata penjaga kebun binatang gembira.

“Ini hadiah untuk kalian yang sudah berhasil menemukan si jerapah. Tiket gratis ke kebun binatang. Dan foto keluarga kalian yang diambil oleh si tukang foto jerapah”

“Terima kasih!”

Bagian perjalanan ke kebun binatang yang paling mengesankan hari ini adalah hasil foto dari si jerapah.

Selesai…


Diterjemahkan dari The Zoo Mystery | penulis: Daniel Buchholz

Masalah Kura- Kura

Mama bertanya kepadaku, mengapa lantai kamarku basah.

“Tidak tahu.” jawabku.

Mama kemudian melihat sebuah ember yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Mengapa ada ember di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

Lalu mama mengambil seekor kura- kura yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Dan apa yang sedang dilakukan kura- kura ini di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

“Ember dan kura- kura tidak boleh ditaruh ke dalam bak mandi.” kata Mama.

Aku menemukan si kura- kura di kebun, dan membawanya ke tempat yang banyak air, tetapi aku tidak sengaja menumpahkan airnya ke lantai.

Aku tidak ingin berbohong lagi. Dan tidak ingin Mama marah. Jadi, aku bilang kepada Mama bahwa tidak aka meletakkan kura- kura ke bak mandi lagi. Akan tetapi, Mama tidak marah dengan si kura- kura; ia hanya tidak senang karena aku tidak berkata jujur.

“Mama mau kok merawat kura- kura ini.” kata Mama.

Berpikir! Berpikir! Berpikir! Oh, aku mengerti!

Berkata jujur lebih baik daripada berbohong. Aku akan berusaha melakukannya mulai sekarang.


Diterjemahkan dari Turtle Trouble/ penulis: Amy Upshaw

Anak Penyihir

Pada suatu hari, hiduplah seorang penyihir yang jahat dan buruk rupa. Ia seburuk puding kismis yang gosong. Ia memiliki seorang anak, yang bernama Broccolina, dan ia juga tidak lebih baik daripada ibunya. Si penyihir ingin mengajari anaknya ilmu- sihir, agar bisa meneruskan jejaknya.

Namun, belum seberapa ilmu yang diajarkan oleh ibunya, Broccolina tidak sedikit pun tertarik. Ia tidak pernah mau menjadi tukang sihir maupun pekerja rumah tangga. Ia hanya ingin menjadi cantik.

Broccolina sangat mengkhawatirkan dengan penampilan buruknya, dan ia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan cermin, untuk merias wajah. Ia memoles wajahnya dengan pewarna dan mengecat kuku- kukunya sampai terlihat berkilau. Ia menata rambutnya setiap pagi, siang, dan malam, dalam berbagai bentuk yang menurutnya pantas. Ia ingin terlihat secantik mungkin, tetapi kenyataannya bahwa semua yang sudah dilakukannya hanya membuat penampilannya semakin jelek.

Suatu hari, ibunya telah pergi ke suatu tempat yang jauh. Ia berpesan kepada Broccolina untuk tetap mengaduk ramuan sihir, yang sedang direbus, sampai ia kembali.

“Mengapa aku yang harus melakukannya?” Broccolina protes.

“Kau tahu aku sangat benci mengaduk ramuan. Sendok besar ini mengelupaskan cat warna kukuku, dan uap nya membuat riasan wajahku luntur.”

“Ini harus dikerjakan!” kata ibunya sambil berjalan ke luar pintu.

“Aku akan kembali segera mungkin. Saat ini juga, teruslah mengaduk periuk itu!”

“Ini tidak adil!” Broccolina menggerutu.

Ia mengambil sendok besar dan memulai mengaduk.

Setelah beberapa lama, ia mendengar suara yang aneh di telinganya. Itu seperti sekawanan lebah yang terbang di atasnya. Ia mendongak ke atas untuk melihat apa itu.

“Oh!” ia memekik. Itu adalah bidadari baik hati, yang terbang di atasnya.

Mata Broccolina terbelalak saat melihatnya.

“Sungguh cantik bidadari itu! Seandainya aku bisa secantik dia!” ia berkata dengan iri sambil menatap sang bidadari.

“Bagaimana dia bisa sangat cantik? Pasti ada rahasianya,” ia berpikir.

“Jika aku bisa menangkapnya, mungkin aku bisa mendapatkan rahasianya. Ya, aku harus cepat dan menangkapnya.” Ia meninggalkan periuk mendidih di atas tungku, dan berlari ke dalam rumah untuk mengambil karpet ajaib.

Tetapi ibunya telah membawanya pergi.

“Oh, tidak!” ia merengut. Ia sangat kecewa karena tidak dapat menangkap sang bidadari. Ia kembali ke tempat ketel besar itu, dan mendongkol.

“Oh, bagaimana caranya agar aku bisa menjadi secantik itu?”

Ia berpikir, berpikir, dan berpikir, tetapi belum ada hal yang muncul di dalam pikirannya.

Tiba- tiba ia mendapatkan sebuah ide.

“Mungkin ibuku mempunyai resep ramuan di buku- buku sihirnya, yang untuk membuat diriku cantik seperti bidadari itu. Pasti, ia pasti punya.”

Kemudian ia berlari kembali ke dalam rumah, dan menuju ke lemari ibunya.

Ia menggeledah lemari, mencari- cari resep, membolak- balik semua buku resep sihir ibunya satu per satu. Akan tetapi ia tidak menemukan resep apapun untuk menjadi cantik seperti bidadari. Ia sangat kecewa. Ia tidak berhenti memikirkan sang bidadari cantik itu. Ia mondar- mandir dan agak emosi, tidak ingin menyerah begitu saja.

“Baiklah,” ia berpikir, “aku akan membuat sendiri resep itu, untuk menjadikanku cantik.”

Ia kemudian kembali ke tempat periuk yang sudah mendidih itu dan mengaduknya, ia masih mencoba memikirkan resepnya. “Apa bahan- bahan yang harus kugunakan untuk membuat ramuan sihir itu?” ia bertanya kepada dirinya sendiri. Ia berpikir dan berpikir, tetapi ia tidak bisa berpikir tentang cara menjadikannya cantik.

Selang beberapa lama, Broccolina merasakan ada sesuatu yang menjilati pergelangan kakinya. Itu adalah kucing abu- abu ibunya. “Pergi,” ia berkata. Kucing itu menggeliat manja di kaki Broccolina, mengeong. Ia sepertinya kesepian. Broccolina, yang sudah sejak tadi marah, menjadi semakin marah karena itu.

“Kubilang pergi!” ia membentak.

Ketika kucing itu tidak mau pergi, Broccolina menarik ekornya dan melemparkannya ke luar pintu. ‘Yeeoow!’ Kucing malang itu meraung dan berlari dengan menaikkan ekornya.

Tidak disadarinya, sebuah ekor yang sangat panjang muncul dari punggung Broccolina. Tetapi, ia masih asyik melamun jika ia menjadi secantik bidadari, hingga ia tidak mempedulikan itu. Ia mengaduk ramuannya lebih cepat, memikirkan bahan- bahan yanga harus ia masukkan.

Burung gagak ibunya melihat sesuatu yang aneh yang muncul di punggung Broccolina dan bergoyang- goyang. Dikiranya itu adalah ular, lalu ia mematuk dan menariknya keluar.

Broccolina marah karena terganggu lagi. Ia memukul burung gagak itu menggunakan sendok pengaduk. Kaki kurus burung gagak itu terlukai oleh sendok itu dan beberapa cairan ramuan tumpah di atas tanah.

Burung gagak yang malang itu memekik kesakitan dan buru- buru pergi dengan kaki pincang. Broccolina memang sengaja, ia tidak peduli telah memukul burung gagak itu. Bahkan ia tidak meminta maaf kepadanya. Ia melanjutkan mengaduk ramuan di panci besar itu. Tidak lama kemudian, ada luka- luka kecil yang muncul ke seluruh tubuhnya. Namun, ia terus memikirkan untuk menjadi cantik, hingga ia tidak menyadarinya.

Seekor kambing, yang akan disembelih ibunya untuk makan malam, mencium bau ramuan ajaib yang menetes di tanah. Ia bangun tidur dari tempat tidur jeraminya lalu menjilati tetesan ramuan itu, sebab ia sangat haus. Hal itu membuat marah Broccolina dan bahkan semakin marah, kemudian ia menendang kambing itu. Kasihan sekali, kambing yang kehausan itu berjalan sempoyongan, ketakutan dan kesakitan.

Dan, tidak berlangsung lama, Broccolina memiliki jenggot abu- abu seperti kambing itu, yang tumbuh meruncing dari dagunya dan rambutnya menjadi kasar dan kaku seperti jerami. Namun Broccolina tidak memperhatikan itu, karena ia sangat sibuk, memikirkan tentang bahan- bahan yang harus ia masukkan untuk membuat ramuan kecantikan.

Sapi yang ada di kandang, melihat rambut jerami Broccolina yang segar dan menggiurkan. Ia sangat lapar dan berpikir bahwa itu adalah tumpukan jerami, jadi ia datang untuk memakannya.

Broccolina, tanpa menyadari mengapa sapi itu mendatanginya, dengan marah melemparkan kayu bakar kepadanya. Kayu itu mengenai tanduknya dan kemudian sapi yang malang itu kabur, melenguh ketakutan.

Selang beberapa detik kemudian, dua benjolan muncul dari dua sisi kepala Broccolina dan tumbuh menjadi dua tanduk yang besar. Namun, ia tetap tidak memperhatikan!

Ketika anjing penjaga ibunya melihat makhluk asing ini, ia tidak mengetahui bahwa itu adalah Broccolina. Ia meloncat- loncat di hadapannya, menggonggong, dan menggeram.

Broccolina begitu terganggu karena gonggongannya lalu ia memukul anjing itu dengan penutup panci besar itu. Benda itu mengenai mulut si anjing sehingga ia berlari ketakutan sambil berteriak- teriak.

Tiba- tiba setengah dari semua gigi Broccolina jatuh ke dalam panci besar itu, saat ia mengaduk ramuan. Tetapi Broccolina tidak mengetahuinya, sebab ia sangat keras memikirkan cara menjadi cantik seperti bidadari.

Burung beo kecil terbangun karena mendengar keributan. Ketika ia melihat Broccolina, ia menjadi ketakutan dan terbang ke sana kemari di dalam sangkarnya.

“Oh! Broccolina,” burung beo itu berteriak, “apa yang terjadi padamu? Kau menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan kau menjadi terburuk yang pernah kulihat,” burung beo mengoceh, merasa ngeri. Broccolina geram. Ia menggoyang- goyangkan sangkarnya dan memaki- makinya. Saat ia memaki, suaranya serak dan menjadi parau, seperti berkuak- kuak.

“Oh! Ada apa ini?” Broccolina sangat kebingungan dan merasa ada yang salah. Ia berlari menuju cermin.

Saat ia melihat dirinya di cermin, ia sangat terkejut.

“Oh, tidak! Tidak, tidaaaak…” ia berteriak histeris.

“Oh, tidak, aku ingin menjadi cantik seperti bidadari.”

Ia berlari ke luar rumah, berteriak- teriak dengan kasar. Ia menjadi semakin marah. Ia menangis meraung- raung dan berguling- guling di tanah, mengutuk bidadari.

Mendengar raungan Broccolina, sang bidadari, yang terbang dalam perjalanan ke surga, datang untuk melihat apa yang terjadi. Ketika Broccolina melihat sang bidadari, ia sangat marah dan dengki.

“Kau bidadari jahat! Kau bidadari jahat!” Broccolina berteriak dengan marah, sambil mengangkat tangannya.

“Mengapa kau terbang di atasku? Sejak saat itu aku ingin menjadi bidadari sepertimu.”

Sang bidadari mendengarkan dengan tenang. Broccolina memprotes.

“Lihat apa yang terjadi padaku? Akhirnya aku menjadi mengerikan. Kau harus bertanggung jawab untuk semua ini. Sekarang, kau harus bilang kepadaku, rahasia menjadi cantik seperti bidadari. Kecuali aku akan mengajarkanmu sebuah pelajaran saat aku menangkapmu,” Broccolina berteriak dengan geram.

Sang bidadari mendengarkan dengan sepenuh hati dan berbicara kepadanya dengan tenang.

“Broccolina, tidak ada ramuan sihir yang bisa membuat siapa pun cantik seperti bidadari. Ini bukanlah rahasia. Jika kau mencintai dan menyayangi sesama, bersikaplah rendah hati dan sabar, dan hanya melakukan perbuatan baik, saat itulah kau terlihat cantik seperti bidadari. Cinta di dalam hatimu untuk sesama yang sesungguhnya membuatmu cantik.”

Dengan mulut ternganga, Broccolina mendengarkan dengan sungguh- sungguh nasihat bidadari.

“Beberapa waktu yang lalu, kau memperlakukan hewan- hewan malang ini dengan tidak baik. Itulah mengapa kau menjadi buruk. Semakin hatimu terisi dengan amarah dan dendam, keburukan datang kepadamu,” kata sang bidadari.

“Broccolina, sekarang kau harus menemui siapa pun yang sudah kau sakiti, dan rawatlah hingga mereka sembuh. Kau harus menyayangi mereka dan berbicara kepada mereka dengan penuh kasih sayang. Kau tidak boleh berbicara kasar kepada siapa pun. Maka suaramu akan menjadi lebih baik.” Sang bidadari kemudian pergi, mengepakkan sayap emasnya.

Broccolina berlari- lari dengan panik, mencari si kucing, si burung gagak, si kambing, sapi, anjing dan burung beo. Mereka semua bersembunyi darinya, di belakang kandang, memar- memar, dan merasa sangat ketakutan dan kesakitan. Ketika melihatnya, mereka semakin ketakutan. Tetapi saat ia berkata kepada mereka dengan baik, mereka menjadi terkejut, lupa akan ketakutan dan kesakitan yang mereka alami. Broccolina merawat mereka dengan sepenuh hati dan menyembuhkan luka- luka mereka dengan sabar.

Mereka semua senang dan kagum mendengar perkataan baik dari mulutnya. Sedikit demi sedikit, saat ia berbicara dengan baik kepada mereka, suaranya berubah menjadi lembut dan lembut. Saat ia mengobati luka- luka para hewan itu dengan penug kesabaran, kulitnya menjadi bersih dan memancarkan cahaya.

Ketika ia merawat mereka dengan kasih sayang, rambutnya menjadi halus dan berkilau. Ketika ia memperhatikan mereka dengan sorot mata yang lembut, matanya menjadi lebih bercahaya dan bening. Sedikit demi sedikit, ia menjadi cantik, seperti bidadari.

Dengan cepat, dua benjolan yang muncul di punggungnya berubah menjadi sayap- sayap yang indah.

“Oh!” ia terkejut, sangat bahagia dengan perubahannya. Ia melayang di udara, sambil mengepakkan sayapnya. Broccolina akhirnya menjadi bidadari dan terbang menuju surga. Setelah itu ia tidak pernah menyakiti siapa pun dan selalu menyayangi semuanya.
Diterjemahkan dari The Witch’s Daughter/ penulis: Janaki Sooriyarachchi

Rumah untuk Tikus

Di sebuah rumah, di dalam ruangan yang sangat gelap, keheningan malam hari membangunkan Whiskers. Ia menguap.

Whiskers melompat untuk menjelajah. Sinar lampu kuning pucat membuat bayangan ungu di lantai. Rumah yang sepi…

Ia berlari di sepanjang gang yang terang. Rumah ini sangat cocok untuk seekor tikus yang lapar.

Hidung merah mudanya menempel di karpet, Whiskers mencium aroma yang luar biasa. Ia menyelip ke bawah pintu berwarna cokelat tua di ujung ruang utama.

Dengan cepat Whiskers memanjat ke sebuah selimut tebal dan sangat lebar. Ia buru- buru melintasi medan yang tidak rata dan meluncur ke gundukan curam, dan licin.

Ia berguling ke kepingan kacang, remah- remah roti dan potongan keripik. Baru saja ia mau memakannya, gundukan selimut itu bergerak di bawah kakinya. Teriakan menggemparkan ruangan, mengerikan Whiskers.

Ia terpental. Melambung ke awang- awang bersama keripik dan selimut. Cahaya terang menyilaukan matanya. Ia melompat ke lantai dan berlari menuju pintu. Ketika ia berjalan keluar, sebuah benda menimpa ekornya dengan keras.

Whiskers berlari kencang menuju tempat tidurnya yang hangat dan bersembunyi di bawah adiknya. “Ada keributan apa ini?” teriak Cheesepuff, seekor tikus putih kecil.

“Ada monster besar di rumah ini,” kata Whiskers gelagapan, “sebesar gunung yang matanya bersinar, menyilaukan dan pemukul ekor yang mengerikan.”

Cheesepuff mengendus udara dan tubuhnya gemetaran, “Itu manusia. Sudah kubilang padamu rumah ini tidak aman. Kita harus pindah. Kita perlu rumah khusus tikus.”

“Tetapi,” kata Whiskers, “rumah ini rumah kita.”

“Lalu mereka yang harus pergi,” Cheesepuff menegaskan.

“Tidak,” kata Whiskers, “kita harus tinggal bersama- sama.”

Keesokan harinya mobil van oranye berhenti di depan rumah. Seorang pria berkemeja putih meletakkan jebakan lengket ke seluruh rumah dan berikutnya di tempat perburuan kesukaan Whiskers dan Cheesepuff.

Malamnya, Whiskers mengendus- endus baki beraroma lezat dan dengan hati- hati ia mencelupkan kakinya ke dalam bubur yang kelihatan lezat. Kakinya terjebak, menempel di dalam bubur itu lalu ia berteriak kencang memanggil adiknya. Cheesepuff menyentakkan dan menarik ekornya hingga kakinya keluar dari bubur yang lengket itu.

Tikus- tikus itu menunggu beberapa hari agar jebakan itu hilang. Mereka sangat lapar. Kemudian Whiskers mempunyai ide. “Ayo kita memberikan manusia itu sebuah hadiah, lalu mungkin mereka akan membiarkan kita untuk tinggal.”

Menurut Cheesepuff itu bukan ide yang bagus, dan ia bersembunyi di tempat tidurnya sementara Whiskers dengan hati- hati mengambil sayuran segar dan bunga- bunga. Ia menarik sebuah tas kecil dari kotak harta karun mereka dan mengisinya penuh dengan wewangian bunga lavender dan bunga- bunga merah muda.

Cheesepuff melihat saat Whiskers meletakkan hadiah mereka dengan baki mengerikan itu di ruang keluarga. Ia menandai seluruh tas itu dengan cap kakinya.

Esok hari, tikus- tikus itu mendengar teriakan, suara, dan tangisan. Segera, semua jebakan menghilang.

Ketika tikus kakak- beradik itu mengintip dapur malam itu, ada sebuah bungkusan besar di mana jebakan itu diletakkan. Whiskers curiga. “Jangan terlalu dekat,” ia berbisik seraya melihat sesuatu yang aneh.

“Tetapi mereka memberikan kita sebuah hadiah yang indah,” kata Cheesepuff sambil mengendus kertas pembungkus berwarna merah muda bermotif bulat- bulat dengan hidungnya.

Kedua tikus itu menyobek kertasnya dan menemukan sebuah susunan benda yang membuat mereka ingin tahu. Whiskers berguling- guling ke serutan kayu yang lembut di lantai dan menceburkan diri ke sebuah mangkok yang penuh dengan kepingan kacang, remah- remah kue dan potongan keripik. Ia berlari ke roda besar yang terus berputar dan berputar. Cheesepuff mengikutinya dan menemukan sebuah wortel di tempat lain.

“Aku basah kuyup,” teriaknya ketika ia bersandar pada botol minuman. “Inilah rumah!” kata Cheesepuff. “Benar- benar rumah kita. Sebuah rumah yang dibuat sesuai ukuran kita.”

Diterjemahkan dari A House for A Mouse | penulis: REBECCA WESTBERG

Hari yang Sibuk Kodok Barnaby

Di hari yang cerah kodok Barnaby sedang menyanyikan lagu “Seorang Polisi” dari Mikado.

Mikado adalah sebuah pertunjukan musik yang diciptakan oleh Pak Gilbert dan Pak Sulivan dan sering dinyanyikan oleh para kodok, sebab suara mereka sangat bersemangat.

Barnaby mengambil suara tinggi dengan mendongak ke langit.

Tiba- tiba ia berhenti menyanyi.

Ada burung Ork putih yang sangat besar melintas di angkasa.

Ork itu akan memangsa kodok Barnaby kecil untuk sarapan.

Barnaby melompat ke benda terdekatnya untuk berlindung. Ternyata ini adalah ember susu yang terbalik.

Dari celah bawah ember, Barnaby melihat Daisy Mazy, si gadis pemerah susu yang datang untuk memerah susu si Butterpob sapi.

Barnaby perlu tempat lain untuk bersembunyi. Ia sangat berharap sebisa mungkin.

Melompat,

Melompat- lompat,

Melompat, melompat, dan melompat…

Barnaby menceburkan diri ke bak air milik Percy si babi agar aman. Ork putih besar masih berputar- putar di atasnya di angkasa.

Mendengar suara percikan air, si Babi ingat ia sedang haus, lalu berlari menuju bak air itu.

Barnaby melihat Percy berlari sangat kencang dan terlihat sangat kehausan.

Barnaby tidak mau dirinya ikut terminum dan masuk ke dalam tubuh Percy.

Kemudian Barnaby berenang dan melompat sangat tinggi, ia mendarat di dekat tempat kubangan air.

Bukan tempat terbaik untuk bersembunyi karena terlalu sempit dan dingin.

Sebuah bekas wajan yang dibuang oleh seorang petani.

Barnaby kebigungan, apa yang harus ia lakukan.

Ketika si Percy babi berlari mendekatinya.

Kaki belakang Percy menyandung tangkai panci wajan itu. Membuat kodok Barnaby terlempar keluar dan terguling- guling.

Tidak pernah terbayangkan jika Barnaby terbang dengan sangat tinggi sekali. Namun, ia mampu, pikirnya.

Yang akhirnya melambung tinggi ke angkasa.

Ork putih besar melihat sarapannya terpelanting ke atas, lalu ia mengepakkan sayapnya berbalik arah untuk menyambar Barnaby yang malang.

Kodok Barnaby, ia terjun ke bawah.

Namun Ork putih besar hampir dekat, tidak ada yang bisa menghalanginya.

Ia bisa menangkap Barnaby kecil, tidak diragukan lagi.

Tiba- tiba ,

Dengan ceburan agak keras,

Barnaby mendarat ke kolam perairan sawah.

Barnaby bersembunyi di balik rumput- rumput liar dan bebatuan,

di dalam dasar kolam perairan sawah.

Yang Barnaby pikirkan,

ia tidak mau pindah,

Ia cukup senang, untuk satu hari yang cerah.

Diterjemahkan dari Barnaby Frog Busy Day | author: Tony J Moon

Kumbang Bobby Takut Terbang

Kumbang Bobby kecil adalah seekor anak kumbang. Lebah kumbang bisa terbang, tetapi kumbang Bobby tidak.

Ia tinggal di tempat yang sangat tinggi, di atas tanah, jauh sejauh mata memandang, di dalam sebuah sarang yang menggantung di ranting tertinggi dari pohon sycamore tua. Dan di dalam sarang yang sangat tinggi dan aman, ia bersama saudara- saudaranya laki- laki dan perempuan, dan ibunya, Ratu Marie.

Bobby memiliki sangat banyak saudara laki- laki yang ia sendiri tidak bisa menyebut nama mereka semuanya, tetapi tiga kesukaannya, yang semuda dengannya, adalah Johnny, George, dan Paul. Mereka selalu bermain bersama— selalu berempat dan tidak pernah lebih; karena yang lain sudah terlalu tua untuk bermain dan pasti sangat membosankan.

Dan kita mulai saja ceritanya di musim semi yang cerah dan indah, ketika Bobby, Johnny, George, dan Paul bermain di luar rumah. Mereka telah menghabiskan hari- hari mereka di dalam rumah, tetapi sekarang hujan sudah reda; dan waktunya meninggalkan sarang untuk sedikit kesenangan kumbang.

Pada saat bermain, tiba- tiba Johnny berpikir nakal— pikirnya mereka akan mau mengikutinya. Ia berkata, “Hei! Apa kalian melihat ranting di sana sepanjang hari? Aku bertaruh kita bisa terbang ke sana. Aku yang akan pergi duluan dan memimpin jalan.

“Kita tidak diijinkan untuk terbang jauh- jauh,” kata Bobby dengan gusar. “Kita hanya mendapatkan satu pelajaran dan belum selesai mempelajarinya. Kita boleh terbang jauh setelah kita menyelesaikan ujian terbang, tetapi sekarang, kita tidak diperbolehkan pergi terlalu jauh keluar batas.”

“Oh, jangan seperti bayi lebah,” kata Johnny sambil melirik. “Kelihatannya sangat mudah, terbang ke sana dan kemari.”

“Kita pasti mendapat masalah,” Bobby berkata. “Kita tidak akan pergi! Salah satu dari kita bisa jatuh ke tanah di bawah sana.”

“Aku akan pergi!” tegas Johnny. “Kita memiliki sayap! Kita tidak bisa jatuh! Kau bisa menunggu di sini jika kau memang penakut— memang kau tidak mempunyai keberanian.”

“Dan bagaiman dengan kalian berdua?” Johnny bertanya kepada George dan Paul. “Apa kalian cukup berani untuk terbang, atau kalian sama- sama penakut?”

“Kami bukan penakut seperti lebah Bobby kecil kita,” jawab Paul.

“Aku mau ikut!” tambah George, lalu mereka hanya bertiga.

Dan kemudian mereka mulai mendengung— mendengung sangat cepat, sementara Bobby berdiri di sana melihat mereka dengan takjub. Mereka naik melambung di udara dan berputar- putar di atas kepala Bobby.

“Kau adalah pena- pen- penakut, bayi lebah,” mereka mengejek.

Mereka bertiga terbang semakin tinggi di udara, tanpa ada yang peduli dengan Bobby. Mereka bertiga terbang membentuk pola zigzag dan berzigzag ke sana dan kemari. Mereka berhasil sampai ke ranting itu tanpa beristirahat. Jika sayap mereka sangat lelah, mereka bisa menggunakan bulunya.

Kemudian Johnny berteriak, “HEI BOBBY, KEMARILAH JIKA KAU BERANI!”

“Kalau kau bisa melakukannya, begitu juga aku,” kata Bobby, dengan terpaksa melakukannya. Lalu ia mengepakkan sayapnya sedikit demi sedikit dan bernapas panjang. Dengan mendengung keras, ia naik perlahan- lahan dan terus mendengung, terhuyung- huyung ke kanan dan ke kiri. Ia sangat takut, dan tidak yakin. Dengan gumpalan yang menempel di lehernya, semua bulunya tersibak ke atas menutupi wajahnya, sehingga ia terbang dengan susah payah karena ada benda yang menempel di matanya…

Benda itu jatuh ke tanah yang sangat sangat jauh di bawah langit— cukup jauh sehingga membuatnya gemetaran— cukup jauh yang bisa membuatnya mati. “ITU TINGGI SEKALI!” Bobby menangis. “OH ASTAGA! ITU SANGAT SANGAT TINGGI!” Kemudian ia kembali duduk di ranting, menundukkan kepalanya dan menangis tersedu- sedu, “Mengapa, jika aku seekor kumbang, sangat takut terbang?”

Bobby memilih kembali ke dalam sarangnya meninggalkan Johnny yang sedang menertawakannya. Ia mendongkol, mendongkol dan mendongkol, sedih dan putus asa. Bobby bersembunyi seharian di dalam sarang lebah kumbang. Ia sudah tidak tahan menampakkan wajahnya ke luar rumahnya…

… Sampai suatu hari, Ratu Marie menemukan tempat persembunyiannya, dan berkata, “Hei Bobby, mengapa kau cemberut?”

Bobby berkata, “Aku tidak bisa terbang. Aku adalah seekor kumbang yang buruk. Aku takut jatuh ke bawah pohon. Kurasa ada yang salah, sangat salah denganku.”

“Itu sangat bermasalah,” kata sang Ratu, “kau harus mengatasinya, tetapi kau tidak bisa terus- terusan di dalam rumah sepanjang hari dan menjadi seekor kumbang pemalas. Ada bunga- bunga yang harus diserbuki, pembuatan madu; ada pekerjaan yang perlu diselesaikan; karena kita adalah lebah kumbang yang terampil. Mungkin kau perlu belajar dari lebah kumbang tertua. Dia bisa mengajarkanmu cara terbang. Dia bisa mengajarkanmu untuk tidak jatuh. Namanya adalah kumbang Ringo, dan dia besar, mirip bola. Lebarnya sekitar dua inci, tingginya juga sekitar dua inci. Dan jika kau mau mengunjunginya, kita akan pergi sekarang.”

Lalu pergilah mereka, keluar dari sarang untuk bertemu dengan lebah Ringo ini. Tempatnya tidak begitu sulit— sangat mudah untuk menemukannya. Ratu Marie tidak bergurau ketika ia berkata, “dia besar”; juga ramah dan bersemangat. Badannya penuh dengan bulu halus kumbang.

“Aku mempunyai sedikit masalah,” kata sang Ratu, “untuk menyenangkan pikiran. Bobby perlu sedikit pelatihan— agar bisa menyelesaikan ujian terbangnya. Jadi bawalah dia dengan sayapmu dan buatlah dia sesiap mungkin. Ajari dia cara terbang— melambung tinggi di udara sama sepertimu.”

Lalu Ringo berkata, “Lompatlah ke punggungku. Kita akan berangkat.” Bobby menurut, dan dengan dua genggaman, ia menarik rambut Ringo keluar dari persembunyiannya. Mereka mulai mendengung. Ringo berteriak, “BERPEGANGAN ERAT!” Kemudian mereka meluncur ke tanah, sampai membuat tubuh Bobby bergetar ketakutan. Bobby yang malang memegang erat tengkuk Ringo sekuat tenaga.

Ringo membawa Bobby ke suatu tempat untuk mengejarinya semua yang ia tahu. Ia berkata, “Dengarkan aku, dan aku akan memberitahukanmu apa saja yang dilakukan.” Ringo memegang tangan Bobby dan menatap matanya, dan berkata,

“Tugas terbang ini ringan. Sungguh, lebih ringan daripada kue pai. Semua yang harus kau ketahui, ada dua hal yang penting:

satu: kau adalah seekor kumbang

dua:  kau memiliki sayap.

Dan jika kau mempelanting seolah- olah kakimu seperti pegas, tandanya kau bisa melambung di udara dan biarkan sayapmu yang melakukan tugasnya.”

Bobby mulai menghentakkan kakinya beberapa kali sambil menggerakkan sayapnya. Semakin lama kepakan sayapnya semakin cepat hingga tubuhnya melayang. Ia berkata, “Aku sudah siap— aku siap mencoba.”

“Kalau kau sudah siap,” Kumbang Ringo berkata, “terbanglah ke angkasa.”

Dengan senyuman di wajahnya dan kedipan di matanya, Bobby mempelantingkan diri ke atas, mencapai lebih dari dua kaki. “AKU BISA!” teriak Bobby, “AKU BISA! AKU BISA TERBANG!”

Namun ketika ia melambung terlalu tinggi, ia kembali dipenuhi oleh rasa takut. Ada yang salah lagi, ia melihat sekelilingnya. Bagaimana bisa? Mendengarkan lebih dekat, ia bisa mendengarnya, hampir terdengar jelas, suara yang terdengar seperti seekor lebah yang sangat kecil. Itu adalah Ringo yang jauh berada di bawahnya, sekarang terlihat lebih kecil dari seekor kutu. Ia melihat ke atas dengan sangat bangga, lalu berteriak, “ITU DIA, BOB-BY!”

Meskipun ia telah terbang sekitar dua kaki, mungkin tiga, ketinggian itu masih membuatnya gemetaran— yang membuatnya sangat ketakutan yaitu ketika sayapnya tiba- tiba berhenti mendengung, oh sangat tiba- tiba. Akibatnya Bobby jatuh, ia berteriak, “OH TIDAK!” Ia membentur tanah sangat keras sehingga kaki kumbangnya hampir patah.

“Itu tidak masalah. Kau melakukannya dengan baik,” kata Ringo dengan tersenyum. “Kau melakukan seperti kumbang ahli, dan terbang sangat tinggi.”

“Tetapi aku merasa,” kata Bobby dengan sedih. “aku tidak mengira akan jatuh. Kurasa aku telah menjadi kumbang terburuk dari mereka semua.”

“Omong kosong!” tegas Ringo. “Aku akan mengatakan sesuatu tentang apa yang kau perlukan. Lebih sering berlatih dengan sungguh- sungguh. Kita akan berlatih setiap hari. Kita akan latihan di tempat ini. Aku mau mengajari dan kau akan belajar, atau kumbang Ringo tidak mau lagi.”

Seterusnya Ringo yang mengajari, dan Bobby mempelajari; mereka berlatih setiap hari. Tetapi obby tetap jatuh dengan cara yang sama. “Aku menyerah! Aku tidak bisa melakukannya,” Bobby berkata setelah mencoba sekali lagi. “Aku kumbang yang salah, aku memang tidak bisa terbang.”

Kemudian Ringo menyuruhnya duduk dan menenangkannya dengan memegang tangannya. Ia berkata, “Aku harus mengatakan satu hal lagi kepadamu, dan kuharap kau mengerti. Jika kau menjaga sayapmu untuk tetap mendengung, kau tidak akan pernah jatuh. Ada keajaiban di balik sayapmu dan suara dengungan kumbang.”

“Keajaiban?” kata Bobby. “Aku hanya tidak percaya itu benar. Aku tidak percaya hal itu ada padaku atau padamu.”

“Itulah sebabnya kau jatuh,” Kumbang Ringo berkata dengan bijak. “Kau tidak mendengarkan sayapmu; kau hanya mendengarkan kepalamu. Kau bukan takut terbang; yang menakutimu adalah ketinggian. Dan karena melihat ke bawah rupanya membuat sayap kumbangmu kaku dan tertahan sehingga tidak bekerja dengan baik. Jadi ingatlah apa yang kukatakan kepadamu, dan renungkan hal ini nanti malam:

Seekor kumbang selalu mendengung dan sayap mereka selalu benar. Ada keajaiban di dalam dengungan kita. Mendengung menjaga lebah tetap terbang. Maka jagalah selalu dengungan sayapmu. Buzz— buzz— buzz dengan segenap tenagamu.”


Keesokan harinya, Bobby pergi keluar untuk berjalan- jalan di pohon. Ia mencari Ringo untuk berbicara antar kumbang. Ia telah merenungkan kata- kata Ringo sampai hampir larut malam, dan ia penasaran untuk membuktikan jika kata- kata Ringo itu benar. Ia sudah siap untuk pelajarannya. Ia sudah siap untuk terbang lagi. Namun, kumbang Ringo tidak terlihat di mana pun…

Dan saat ia melangkah sedikit lebih jauh, hanya melewati satu atau dua taman, Bobby berpapasan dengan saudara- saudara kumbangnya, Johnny, George, dan Paul. Mereka berdiri terpaku di sana tanpa mengeluarkan suara. Mereka melihat sesuatu yang mengerikan di bawah di tanah lapang.

“Ada apa?” Bobby bertanya. “Apa yang kalian lihat di bawah sana?” Dan ketika ia melihat apa yang mereka lihat, sesuatu membuatnya sangat takut. Itu Ringo yang akan diinjak oleh manusia. Manusia itu mendorong mesin pemotong rumput tanpa ragu. Ringo tidak mendengar kedatangannya; ia tidak bisa melindungi dirinya. Ia sedang menyerbuki bunga daisy yang tumbuh di taman. Tetapi manusia itu juga tidak bersalah; ia tidak tahu jika Ringo ada di sana. Tidak ada cara agar Ringo melihatnya, sejujurnya, sesungguhnya.

“Sayap kumbangnya patah!” Bobby terkejut. “Dia tidak bisa terbang! Dan mesin pemotong rumput itu semakin dekat! Kita harus menolongnya atau dia akan mati!”

“Apa kau sudah gila?” kata Johnny. “Dia sangat berat! Tidak mungkin kita bisa mengangkatnya. Dan kita berempat bisa jatuh.”

“Apa kau takut?” Bobby bertanya kepadanya, lalu melihat George dan Paul. Tetapi mereka bertiga hanya berdiri di sana, diam tidak menjawab.

“Aku akan pergi!” kata Bobby mantap. “Aku akan menyelamatkannya sementara kalian bertiga hanya duduk di sini di pohon ini. Aku akan mengangkatnya sendirian. Aku akan membawanya ke sarang. Aku akan menyelamatkannya dari mesin pemotong rumput. Aku akan membantunya untuk tetap hidup.”

Dan kemudian Bobby mulai mendengung— mulai mendengung sangat cepat, sedangkan Johnny, George dan Pal berdiri di sana melihat dengan takjub. Bobby melambung ke udara dan berputar- putar di atas kepala Johnny, dan ia lebih baik menjaga lidahnya daripada mengejeknya.

Ia terbang, melambung di udara, dan meluncur ke tanah. Dengan sayap kumbangnya ia mendengung dengan sekuat tenaga. Ia bisa melihat kumbang Ringonya dalam bahaya.

Dengan kecepatan tinggi, ia menuju ke sana dan mendarat di tanah. Ia berdiri di sebelah Ringo. Jantung kumbangnya berdetak kencang. Bulu Ringo sangat kotor, dan ekornya terpelintir. Ia mengalami patah di beberapa tulangnya, dan pergelangan tangannya keseleo. Tidak ada bagian lain tubuh Ringo yang lolos dari kaki manusia itu.

“Kau lihat!” kata Ringo dengan bangga. “Semua ada keajaiban. Kau menjaga sayapmu tetap mendengung, dan kau terbang, kau tidak jatuh.”

“Tetapi kau seharusnya tidak di sini,” Ringo berkata dengan lirih kepada Bobby. “Selamatkan dirimu selagi bisa, Bobby. Terbanglah sendirian.”

Tidak ada waktu lagi. Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Tidak ada waktu berpikir atau berhenti untuk merenung. Mesin pemotong rumput sudah dekat dan berjalan begitu saja dan memotong baik rumput hijau maupun rumput liar.

Secepat mungkin Bobby meraih tangan Ringo, lalu dengan kuat ia menginjakkan kakinya di tanah berpasir. Suara dengungan mulai terdengar, ia siap untuk terbang. Dengan napas panjang kumbangnya, ia melihat ke atas langit, dan berkata, “Jangan khawatir, Ringo. Aku tidak akan membiarkanmu mati.”

Melihat mesin pemotong rumput sudah di belakangnya, Bobby mempelantingkan tubuhnya. Ia merasa lebih ringan dari udara— sangat ringan. Mata pisau mesin pemotong rumput berputar sangat cepat. Oh iya, mesin itu sudah mendekat— hanya kurang dari tiga inci. Dan dengan sekali mempelanting, ia meluncur seperti roket, hampir menarik lengan Ringo yang sakit keluar dari persendiannya. Lalu naik, naik dengan mendengung keras seraya mesin pemotong rumput itu berjalan ke tanah mereka berada tadi.

Lalu ia naik dan terus naik, memegang erat tangan Ringo, sambil menjaga dengungan sayapnya sekuat tenaga lebah kumbang. Mereka mendengung sangat keras— sekeras yang ia bisa dengar. Mereka mendengung semakin tinggi— terdengar nyaring di telinga mereka. Dan sekitar dalam jarak mil kau bisa mendengarnya cukup jelas; Kumbang Bobby akhirnya telah mengalahkan ketakutannya.

Dengan Ringo yang masih digandengnya, Bobby terbang menuju ke sarang. Mereka berada di salah satu ruang di sarang kumbang, dan mereka berhasil sampai di rumah hidup- hidup. Segera mungkin Bobby memanggil dokter Kumbang untuk mengobati kumbang Ringo yang sedang dalam keadaan darurat. Ia menambal kedua sayapnya dan membalut sekeliling pergelangan tangannya, dan berkata, “Dia akan segera membaik, tetapi aku meminta dengan tegas kalau untuk tujuh hari ke depan— paling sedikit 168 jam, dia harus tinggal di rumah dan tidak boleh pergi untuk menyerbuki bunga.”

Kemudian, Ratu Marie mengumumkan bahwa Kumbang Bobby adalah penerbang terbaik. Malam itu ia mengadakan sebuah pesta, dan di depan para tamu, ia
menggantungkan sebuah medali emas di dada kumbangnya. Medali besar, dan berkilau, dan merupakan puncak keberhasilan. Lalu sang Ratu berkata dengan bangga, “Kumbang Bobby, aku terkesan sekali. Kau telah membuktikan kemampuanmu dan ┬álebih baik dari yang lain. Dan aku menyatakan, dengan medali simbol terbang, kau telah menyelesaikan ujian terbangmu.”

Dan tidak ada yang mengerti ketika Bobby begitu kuatnya mengangkat Ringo seperti sebuah crane. Tidak ada yang tahu atau bahkan bertanya alasannya mengapa ia tiba- tiba sangat berani terbang ke angkasa. Mungkin karena keajaiban di dalam dengungan yang ia buat. Atau mungkin dengungan ajaib putaran mata pisau mesin pemotong rumput. Sebenarnya tidak masalah tentang apa yang telah dianugerahkan padanya, melainkan hampir semua yang mereka kerjakan selesai dengan baik.

Dan setiap ia mengistirahatkan kepala kumbangnya di malam hari, Bobby memikirkan kata- kata Ringo sebelum ia mematikan lampu tidur kumbangnya:

“Seekor kumbang selalu mendengung, dan sayap mereka selalu benar. Ada keajaiban di dalam dengungan kita. Mendengung menjaga lebah agar tetap terbang.”

Dan ia tidak pernah melupakan dua hal penting yang dikatakan oleh Ringo:

satu: ia adalah seekor Kumbang.

dua: ia memiliki sayap.

 

Diterjemahkan dari Bobby Bumble’s Afraid to Fly | Author: Ethan Crownberry