Mas Gulu-Gundhek

Tidak satu pun orang yang senang jika cerita tidak menyenangkan masa lalu teringat lagi. Kalau bisa dikubur dalam- dalam pasti tidak muncul lagi. Orang berjalan pasti ke depan kan, termasuk aku sendiri!

Tetapi, seperti pepatah Jawa “ndhelika neng lenge semut, yen wayahe ketemu, arep piye maneh?” Mau tidak mau kejadian yang lalu terpaksa teringat lagi. Layaknya kaca benggala bagi hidupku. Kalau ditanya, ini ada apa sih sebenarnya?

Begini ceritanya, aku ‘kan ikut lomba mengarang di kampus dalam rangka Hari Ibu. Tidak tahunya hasil karyaku didiskualifikasi panitia. Alasannya, karanganku sama dengan karangan yang lain yang sudah dikumpulkan lebih dahulu. Apa ada, itu cerpen, hasil imajinasi, kok ada yang menyamai? Kok ada yang meniru? Apalagi, buatku yang sudah sering ikut lomba, niat plagiat itu tidak ada dalam kamus otakku.

…maaf, karangan Anda yang berjudul “Kasih Ibu Tiada Bandingnya” didiskualifikasi, karena sama persis dengan karangan salah satu peserta lainnya. Terima kasih…

Bagai disambar petir saat aku membaca email dari panitia. Segera aku menuju ruang panitia di ruang Senat Mahasiswa. Jalan di dalam kampus tidak seberapa ramai, musimnya remidi semester, banyak mahasiswa yang sibuk di kelasnya masing- masing. Jadi aku bisa berjalan setengah berlari.

“Mbak, kok bisa karanganku yang didiskualifikasi, mestinya kan dimusyawarahkan dahulu. Dikupas bersama- sama, mana yang asli dan mana yang meniru,” aku langsung mengomeli mbak panitia yang bertugas menerima protes. Namanya Dyah di name-tag nya.

“Tunggu dahulu sebentar, panitia masih rapat,” jawabnya enteng sambil melanjutkan mengetik di depan laptop. Aku celingak- celinguk memang di dalam ruangan ada suara ramai bersahutan seperti sedang diskusi.

Lama sekali, kutunggu hingga setengah jam. Biar tidak terasa kualihkan dengan membuka- buka facebook. Malah, Mbak Ayu sudah beranjak dari kursinya… Ah… kalau saja tidak ingat membela karyaku sendiri, tidak sudi aku menunggu lama seperti ini. Sampai…

“Mbak Reyna Hanna, mari silakan masuk untuk berbicara kepada saksi lomba mengarang,” panggil Mbak Ayu dari ruang sebelahnya.

“Iya, Mbak,” jawabku sambil langsung berdiri.

Aroma ruangan di sini berbeda dengan ruangan di luar. Wangi. Dan lebih bersih.

“Langsung saja, Mbak Reyna. Karangan Anda ini sama persis dengan karangan milik salah satu peserta lainnya. Ini, coba dibaca!” Mbak Saksi Mengarang memberikan dua karangan. Aku terkejut. Judulnya memang sama, tetapi isinya… baris demi baris persis. Alurnya sama. Endingnya juga.

“Karena dua karangan ini masuknya tidak bersamaan, panitia mendiskualifikasi karangan yang masuk setelahnya. Ya milik Mbak Reyna!”

“Ini karangan siapa?” aku bertanya setelah membacanya dua kali.

Mbak Andrea tertawa. “Ya rahasia panitia, Mbak. Jaga- jaga kalau ada apa- apa antara Mbak dengan dia.”

“Lho, Mbak. Siapa tahu kalau dia yang meniru ideku?” jawabku ketus.

“Ya tidak mungkin,” sentak suara laki- laki dari belakang kursiku lalu duduk di depanku. Aku langsung menunduk melihat meja setelah tahu siapa yang bersuara.

“Ini Mas Rahadian Amiguno, Ketua Panitia, Mbak Reyna,” Mbak Andrea mengenalkan. Aku tetap menunduk, sampai ia mengajak bersalaman. Mas Gugun, Gugun… aduh, kok ya ketemu di sini?

Aku tidak bakal lupa dengannya yang kusebut Gulu Gundhek dua tahun yang lalu. Lalu bagaimana asalnya istilah itu?

Ibuku sebelumnya menyuruh adikku untuk les privat, mendatangkan guru. Bukan guru sih sebenarnya, karena masih anak kuliahan, ia anak teman ibu yang sering menang Olimpiade. Ibu kalau memuji hm…tinggi sekali.

“Hanna, Mas Gugun ini sudah pintar mencari uang sendiri. Membuka les privat, sering ikut perlombaan, umurnya lho cuma selisih sedikit denganmu, kalau kamu ini kebiasaanmu apa?”

“Setiap orang itu punya bakat sendiri- sendiri, Bu,” jawabku setengah cuek.

“Maksudnya ibu, coba ditelusuri keahlianmu apa? Tahun depan sudah mau kuliah, mau mengambil jurusan apa?” Ibu meneruskan pembicaraannya.

“Sudah lah, Bu. Bosan aku membahas masalah itu terus,” aku lalu pergi. Awas, ya… lihat saja. Belum tahu siapa aku ini, batinku sebal.

Maka dari itu setelahnya, setiap guru itu datang aku bersuara kencang. “Adik, itu lho Pak Gugun, Gulu- Gundhekmu sudah tiba.”

Memang pak gurunya adikku itu berbadan besar gagah perkasa. Perkiraan se lehernya gundek! Dalam bahasa Jawa menjadi gulu- gundhek, cocok. Ternyata ia tidak membalas berkata apa- apa walaupun sebenarnya mendengar.

Hingga sore saat itu di teras…

“Mbak Hanna, ini bukumu, kan? Hm, karangannya bagus- bagus, lho,” suaranya Mas guru di dekat telingaku. Aku sedang santai membaca majalah.

“He, jangan berani- berani mengusik buku- bukuku,” jawabku ketus sambil menarik buku yang dipegangnya.

“Ih, Mbak Hanna, buku itu aku yang meminjam. Aku tidak mengerti jenis- jenisnya karangan, jadi…” Bagas bersuara.

“Aku mengerti, kalau Anda ini pintar, tidak usah memuji- muji. Aku tidak punya uang receh!” kataku sambil langsung pergi.

“Mbak, awas kulaporkan kepada ibu,” adikku berteriak. Aku tidak peduli! Mas Gugun ya seperti tidak peduli. Tetap saja mencorat- coret di whiteboard.

Buku kumpulan karanganku kudekap rapat- rapat. Hanya satu ini kebiasaan rutinku. Mengarang. Aku senang menulis cerita. Ada yang sudah kuketik dan ku share di blog-ku. Hanya iseng saja lah…

Dari dalam kulihat bukuku, astaga, tulisanku seperti habis dikoreksi. Titik koma, huruf besar, penulisan judul,… tidak terima aku kembali ke ruang depan lagi.

“Mas, beraninya mencoreti tulisanku. Ayo, dihapus semua!” kataku sambil melemparkan bukuku yang kemudian ditangkap tangannya.

“Bagas, masuk dulu, ya. Aku mau mengobrol sebentar dengan kakakmu,” Mas Gugun menyuruh Bagas. Lalu menarik tanganku untuk diajak duduk berhadapan. Tanganku digenggam erat, matanya tajam menatapku. Tanganku kutarik dengan sekuat tenaga tetapi kalah kuat. Aku giliran memandang matanya.

“Hanna, Mbak Hanna yang cuantiikk. Dengarkan perkataanku, jangan disela dahulu. Satu, aku tidak pernah mengusikmu. Kamu sendiri yang terus menggangguku sampai memanggilku dengan sebutan Gulu Gundhek, Gulu Gundhek. Seumpama ibumu bukan teman ibuku, aku sudah sejak awal tidak mau datang ke sini!” Oh… mataku tidak kuat memandangnya lagi, aku mengalihkan pandangan ke benda lain.

“Dua, Anda ini ibarat hape yang tidak pernah dices. Sok tau, merasa benar sendiri. Tidak mau mendengarkan perkataan siapa saja! Banyak yang bilang, Bagas, ibu, malah kakakmu yang teman kuliahku itu mengeluh sama!” mulutku hanya membungkam berbeda dengan isi hatiku yang ingin membalas perkataannya!

“Tiga, yang terakhir. Anda ini mempunyai potensi di bidang mengarang. Ayo dikembangkan. Karanganmu bagus- bagus, apalagi kalau mau ikut lomba, hm…” Mas Gugun melepaskan tanganku.

Mulutku yang hampir mengatainya, hanya diam rapat- rapat setelah mendengar perkataannya yang terakhir. Apa aku tidak salah dengar? Aku dipuji setelah dikupas kesalahanku! Sumpah, belum ada yang pernah memuji tulisanku, ya baru sekarang ini! Bukuku dikembalikan, dan aku mau menerimanya. Apalagi aku tadi disebut apa… Mbak Hanna yang cuantiikk?!

Sejak peristiwa itu aku sudah tidak pernah berbicara atau menyapanya. Aku menjauh. Hanya kupetik hikmahnya setelah itu aku mulai ikut lomba- lomba menulis cerita, sampai sekarang. Walaupun aku tahu kami sekampus, hingga setahun aku tidak pernah menyapa. Karena beda fakultas, juga beda jurusan!

Sampai hari ini tadi… bertemu langsung satu meja! Bagaimana ini, bertemu sekali saja, saat aku terkena kasus, hahaha…

Tiba- tiba Mbak Andrea keluar. Aku gelagapan. Mas Gugun memukul- mukulkan pulpennya di meja.

“Ya, ya sudah saya pamit. Perkara lomba saya…”

Belum selesai mulutku berbicara, Mas Gugun sudah menyambung, “Hanna, Hanna… aku kangen kau panggil Gulu Gundhek. Kok sekarang berubah?”

Aku cuma membatin, “Tidak hanya sekarang aku berubah. Tetapi sejak kejadian dahulu itu.”

“Sekarang tanggal berapa, Han?” Mas Gugun bertanya.

“Tidak tahu, tidak hafal,” jawabku jujur.

“Penulis memang sering lupa waktu, ya?” katanya, “Sekarang tanggal 16 Januari, ingat?” tanyanya lagi.

Aku hanya menggeleng- geleng. Apa sih maksudnya? Aku pasti ingat hari ini ‘kan tanggal kelahiranku.

Mas Gugun menarik file tebal dari tasnya. “Ini semua karanganmu yang kau share di blog-mu. Yang warna pink itu karanganmu yang pernah kau ikutkan lomba dan menjadi juara. Selamat, ya? Hannaku memang hebat!” Mas Gugun mengacungkan dua jempol, aku hanya ikut senang. Mbak Andrea masuk lagi.

“Hm…, mutiara yang hilang sudah ketemu?” celetuknya menggoda, “Ini segera ditandatangani keputusan hasil lomba.”

Hingga malam setelah hari itu aku masih merenung dan mencoba mengingat- ingat apa saja yang dikatakan oleh Mas Gugun. Hm, siapa yang tidak iri kepadaku, acungkan jari coba… sebab setelah itu aku diajak ke kantin kampus dan ditraktir untuk merayakan ulang tahun, hehehe…

“Karanganmu tidak ada yang meniru. Itu hanya rekayasaku supaya bisa bertemu denganmu…” dan seterusnya, dan seterusnya…

Singkatnya, selama ini ia selalu memperhatikan kiprahku sampai masuk ke blog-ku. Aku tidak bisa membantah. Hatiku semuanya ada di situ. Sudah terbaca oleh Mas Gugun dengan sangat jelas.

“Aku minta maaf jika perkataanku dahulu membuat Hanna sakit hati atau bagaimana…” kata Mas Gugun mengakhiri pertemuan sore tadi.

“Tidak, kok. Sama sekali tidak… Perkataan Mas itu malah seperti jamu untuk saya…” jawabku mantab. Kulihat mata Mas Gugun berbinar senang. Aku juga.

Terlihat jelas bayangannya ketika ada sms masuk… Hanna, misalkan aku tidak hanya mengunduh tulisanmu, tetapi juga mengunduh hatimu, boleh apa tidak?…

Gulingku kudekap erat karena jantungku berdegup kencang sekali. Benar- benar kencang sekali, dengar kan sampai sana?

***