Kereta Terbang

Di malam yang dingin, Timmy dan Nelly tidur lebih awal. Teddy dan Dolly juga tidur di samping mereka dan Puppy dan Kitty tidur di lantai, di dekat tempat tidur.

Kemudian, saat semua orang sedang terlelap, Timmy terbangun oleh suara aneh.

“Whooof…chuff…chuff…”

“Suara ribut apa itu?” Timmy berbisik, masih dalam setengah sadar.

“Dia semakin dekat!” ia berteriak.

Nelly dan yang lainnya bangun karena suara keras Timmy. Mereka semua melihat ke arah datangnya suara dan melihat pemandangan luar biasa.

“Itu kereta terbang!!!!” seru Timmy dan Nelly bersamaan.

“Ayo semua!” seru kereta itu. “Aku akan membawa kalian berkeliling di alam semesta. Naiklaaaah!”

“Apa?!!” teriak mereka.

“Berkeliling di alam semesta? Menakjubkan! Ayo naik…ayo naik.”

Lalu, Timmy, Nelly, Puppy, Kitty, Teddy dan Dolly melompat di kereta.

“Saatnya kita berangkat…”

“Whoooff… whoooff… chuff… chuff…”

Kereta itu terbang ke atas awan, berdesis, berderit, berteriak dan mengepulkan asap di sepanjang jalan. Ia terbang dari jendela. Mereka terbang tinggi di atas burung- burung, dan burung- burung itu melihat kereta terbang dengan heran. Mereka mengepakkan sayap dan melambaikan sayap kepada mereka. Semua orang melambaikan tangan kepada para burung. Timmy, Nelly dan teman- teman mereka sangat gembira. Di atas awan, di bawah awan, dan melalui awan, kereta melaju. Ia terbang, terbang dan terbang. Semua orang terbang, bersorak dan tertawa dengan gembira.

“Oh, semakin dingin di angkasa,” kata Dolly, yang mulai menggigil. Namun, kereta terbang naik dan naik. Ia pergi ke awan berkabut, jauh dan semakin jauh. Dan tiba- tiba,

“Lihat, lihat, lihat di sana!” Teddy berteriak.

“Ada gunung- gunung es krim, sungai- sungai madu, kebun- kebun yang indah, sari buah… dan bidadari- bidadari cantik.”

Timmy, Nelly dan yang lainnya belum percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka tidak sabar untuk pergi ke sana. Tetapi, kereta terburu- buru. Ia tidak mau berhenti. Jadi, mereka pergi melewati tempat menakjubkan itu, lalu melambaikan tangan kepada para bidadari. Para bidadari membalas lambaian saat mereka melintas.

“Whoooff… chuff… chuff…”

Kereta terbang melanjutkan perjalanan. Ia pergi jauh dan lebih jauh, ke atas langit.

“Di sana! Di sana! Lihat di sana!” kata Timmy.

“Bintang- bintang berkerlap- kerlip di atas langit.”

“Ya,” kata para bintang.

“Ini yang kami lakukan. Kami berkilau seperti matahari. Kami semua bersinar, kalian harus tahu.”

“Oh ya, pasti, kalian sangat indah,” kata Timmy.

Timmy dan yang lainnya melambai kepada para bintang sambil melaju.

“Ayo kita bertemu bulan,” kata Teddy.

“Oh, itu dia!” seru Dolly.

“Dia sangat cantik!”

“Bulan sangat besar, bukan?” kata Kitty.

“Aneh sekali! Saat kita melihat bulan dari bawah, dia begitu kecil. Tetapi lihat, dia sangat besar di atas sini!” seru Dolly dengan senang.

“Dan lihat, kita sangat jauh dari bumi dan sangat dekat dengan bulan. Itulah mengapa kita melihatnya sangat besar.” kata Tommy.

Sang bulan memantulkan cahaya matahari. Timmy, Nelly dan teman- teman mereka melambaikan tangan untuk meninggalkan bulan, dan pergi terbang dengan kereta.

“Oh, berhati- hatilah! Hati- hati!” teriak Nelly.

“Ada sebuah awan hujan besar!”

Tetapi kereta terbang tidak mau mendengarkan. Ia tidak takut pada apapun.

“Di sana, di sana… jangan takut.” kemudian mesin berjalan lambat untuk menenangkan para penumpangnya…

“Brr….aaaa…kkk…..!”

Kereta itu menabrak tepat ke awan hujan. Bergemuruh, titik- titik air menetes dan memercik di sekitar, membuat para penumpangnya basah kuyup. Lalu hujan sangat lebat menyembur dari awan yang bertabrakan.

Oh, tidak! Nelly berteriak. Mereka semakin basah kuyup. Namun, si kereta tidak mau berhenti terbang. Jalannya melenggak- lenggok di atas langit. Berputar- putar dan mengelilingi langit.

“Haaaa- tchhiiiih!” Nelly mulai bersin.

“Haaaaa- tchhiiiihh! Haaa- tchhiiiih!”

“Oh, jika Ibu tahu, kita akan diomeli,” kata Nelly, melihat sekitarnya, kalau- kalau ibu sedang mengawasi. Kereta terbang melaju cepat dan lebih cepat. Sangat terburu- buru kelihatannya!

Angin menjadi sangat kencang, sekencang kereta itu yang masih melaju lebih cepat.

Bumi terlihat jauh di bawah. Sangat jauh, seperti sebutir kelereng kecil.

“Oh, apa itu?” seru Kitty sambil menunjuk ke sebuah bola kemerah- merahan yang besar.

“Itu adalah sebuah planet!” kata Nelly.

“Lihat, dia akan mengelilingi matahari!” Puppy takjub.

“Ya, ya… guruku berkata bahwa planet- planet itu mengitari matahari, sama seperti planet kita,” kata Nelly.

“Lihat, lihat, ada beberapa makhluk aneh di planet itu,” kata Teddy, yang menunjuk para makhluk sangat kecil yang dapat dilihat di planet itu.

“Oh, aku tahu. Itu adalah planet Mars,” jelas Timmy.

“Kita mempelajarinya di sekolah. Itu adalah Makhluk Abu-abu Kecil. Dan lihat piring terbang mereka,”

Semua orang yang melihat planet itu penasaran untuk melihat penghuni dari planet lain.

“Ya, kami adalah Makhluk Kecil dari Mars. Kalian disambut di planet kami,” kata Makhluk- makhluk Kecil itu, melambaikan tangan ke kereta.

Timmy, Nelly dan yang lain pasti senang bertemu mereka. Tetapi, kereta terburu- buru. Tak bisa menunggu. Ia dengan tergesa- gesa meninggalkan planet Mars dan pergi jauh, lebih jauh lagi ke luar angkasa.

“Besar sekali langitnya!” seru para penumpang.

“Luar biasa!”

“Tidak ada ujungnya!”

“Lihat, lihat! Matahari terbit. Ayo, ayo… ayo lihat matahari!” seru Poppy bersemangat.

“Oh, lihat, besar sekali mataharinya! Sangat panas! Matahari bersinar seperti bola api.” Teddy berbisik dengan agak khawatir.

“Tidak, tidak! Kita tidak boleh melihat terlalu dekat,” kata Dolly.

“Dia sangat panas. Kita juga tidak bisa memandangnya. Ibu selalu berkata bahwa tidak baik melihat matahari secara langsung. Dia terlihat sangat jahat.”

“Tidak, tidak… Aku tidak jahat,” kata Matahari.

“Aku sayang kalian. Akulah yang memberi kalian penerangan, kehangatan dan lain- lain.”

“Tentu saja. Matahari memberi kita banyak hal,” Timmy menerangkan kepada teman- temannya. “Kita tidak dapat hidup tanpa matahari. Dia sangat baik pada kita.”

Melihat matahari, ia tiba- tiba teringat sesuatu.

“Oh! Ini hampir pagi!!! Kita harus bersiap- siap berangkat ke sekolah!”

“Ya, kita akan terlambat sekolah,” Nelly cemas.

Berhenti! Berhenti! Tolong…” Timmy dan Nelly berteriak bersamaan kepada mesin kereta.

Kereta masih terbang, seolah- olah tidak mendengar mereka. Ia berkeliling- keliling lebih jauh di alam semesta, dengan riang gembira. Ia terburu- buru!

“Apa yang harus kita lakukan? Kita akan terlambat ke sekolah,” kata Nelly dengan cemas.

“Ayo melompat! Ayo melompat! Ayo kita melompat keluar dari kereta,” seru Nelly.

“Ya, ya, ayo kita melompat keluar dari kereta!” kata Puppy juga.

“Tutup mata kalian. Satu- dua- tiga…,” Timmy berhitung.

Mereka melompat keluar dari kereta.

“… Thuu… ddd!”

“Oh, ibu… kakiku…, lenganku… bukk… oouuchh!” Semua orang menjerit.

Saat itu juga, Timmy mendengar suara ibunya, seperti di dalam mimpi.

“Ada apa, ada apa, mengapa kalian berisik di tengah malam begini?”

“Apa kalian bermimpi?” tanya ibu dengan segera masuk kamar.

“Oh…!” Timmy menjerit lalu bangun mengusap lutut dan sikunya yang terasa agak sakit.

Yang lainnya juga terbangun.

“Apa ini mimpi?” Timmy bergumam sambil melihat sekitarnya.

“Oh, Timmy!!” Semua orang tertawa terbahak- bahak.

Terjemahan dari The Flying Train, penulis: Janaki Sooriyarachchi

Advertisements