Masalah Kura- Kura

Mama bertanya kepadaku, mengapa lantai kamarku basah.

“Tidak tahu.” jawabku.

Mama kemudian melihat sebuah ember yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Mengapa ada ember di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

Lalu mama mengambil seekor kura- kura yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Dan apa yang sedang dilakukan kura- kura ini di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

“Ember dan kura- kura tidak boleh ditaruh ke dalam bak mandi.” kata Mama.

Aku menemukan si kura- kura di kebun, dan membawanya ke tempat yang banyak air, tetapi aku tidak sengaja menumpahkan airnya ke lantai.

Aku tidak ingin berbohong lagi. Dan tidak ingin Mama marah. Jadi, aku bilang kepada Mama bahwa tidak aka meletakkan kura- kura ke bak mandi lagi. Akan tetapi, Mama tidak marah dengan si kura- kura; ia hanya tidak senang karena aku tidak berkata jujur.

“Mama mau kok merawat kura- kura ini.” kata Mama.

Berpikir! Berpikir! Berpikir! Oh, aku mengerti!

Berkata jujur lebih baik daripada berbohong. Aku akan berusaha melakukannya mulai sekarang.


Diterjemahkan dari Turtle Trouble/ penulis: Amy Upshaw

Advertisements

Rumah Darurat Pino

Di hari Sabtu yang istimewa, SD Taman Siswa mengadakan acara lomba antar sekolah. Sebagai tuan rumah, Bu Astri selaku kepala sekolah menyambut dengan hangat para murid perwakilan dari sekolah lain beserta guru pendampingnya. Setiap sekolah mengambil 5 sampai 7 murid untuk diikutkan dalam perlombaan. Dan lomba yang diadakan adalah lomba kesenian, dan keterampilan.

Acara dimulai pukul setengah delapan pagi, di halaman dalam sekolah dasar Taman Siswa. Halaman dalam sekolah itu cukup luas untuk peserta lomba yang kurang lebih ada 100 orang. Pino dan keempat kawannya, yaitu Darma, Tasya, Meida, dan Janu, sudah menempatkan diri di kotak nomor 3. Guru pendamping mereka adalah Pak Wasis, yang juga menjadi guru kesenian dan keterampilan.

“Anak- anak, semua peralatan dan perlengkapan lomba sudah siap?” tanya Pak Wasis memastikan.

“SUDAH, PAK!” jawab mereka serempak.

Pino ditunjuk teman- temannya menjadi ketua kelompok. Jadi, ia harus mampu bertanggung jawab atas kekompakan kelompoknya. Ia sendiri memiliki ide untuk membuat rumah- rumahan yang terbuat dari gypsum. Sebab, ia berpikir karyanya akan bermanfaat dan bisa ditinggali. Dari kelompok kotak nomor 4, terdengar suara keributan, yang agak mengganggu konsentrasi kelompok lainnya, termasuk kelompok Pino.

“Kita mau membuat apa sih?” kata Asta kepada ketua regu mereka. “Aku bingung.”

“Asta, jangan ngambek begitu. Kita ‘kan mau membuat gedung bertingkat seperti yang ada di Dubai itu,” kata Denis sombong sambil melirik kelompok Pino.

Pino melihat banyak triplek di kotak nomor 4. Dan lem kayu, dan tali. Gedung bertingkat di Dubai? pikirnya. Ia kemudian tersadar setelah Janu menyikut kakinya, yang terlihat gemetaran. “Kau gugup, kawan?” tanya Janu sambil mengerjakan tugasnya.

“Sstt, iya sedikit. Kulihat sketsa gambar mereka bagus sekali. Gedung bertingkat di Dubai,” kata Pino dengan rasa kagum.

“Sebaiknya kau lebih memperhatikan karya kita, Pino. Ini ‘kan idemu,” kata Meida menyela. “Walaupun sketsanya tidak sebagus mereka, tetapi aku yakin karya kita berguna.”

“Betul itu,” timpal Darma.

Sementara Tasya sedang memotong- motong plastik besar sesuai dengan polanya. Pino memutuskan untuk mulai membentuk kerangka rumah yang terbuat dari triplek tebal dan lebih tebal dari milik kelompok kotak nomor 4. Saat Pino sudah selesai membuat rangka bangunan, tiba- tiba Denis menertawakannya.

“Kau mau menginap di rumah itu ya? Hahaha…,” ejek Denis. “Waktu kurang 30 menit lagi, dan temanmu masih megaduk- aduk gypsum. Oh, semoga saja tidak hujan,” ejeknya lagi.

“Heh, dasar sombong, kau lebih baik membantu teman- temanmu itu daripada terus- terusan mengganggu kami. Lihat triplek kalian banyak yang patah karena terlalu tipis, hahaha…,” kata Tasya membalas ejekan Denis.

“Eh, sudah- sudah, tenang anak- anak!” kata Pak Wasis tiba- tiba.

Pino mencoba untuk tetap tenang dan sabar karena ia yang dituakan, meskipun badannya paling kecil. Darma mulai membuat tembok- tembok rumah dengan adonan gypsum dan dibantu oleh Janu. Pino dan yang lainnya membantu merapikan. Darma sangat senang mengutak- atik bangunan sehingga ia sudah paham strategi membangun rumah- rumahan yang baik.

Waktu tinggal 15 menit lagi, hari semakin siang dan panas. “Wah, ternyata kita tidak perlu menyalakan alat pengering rambut,” kata Darma senang. Ia sudah menyelesaikan tugasnya, dan kemudian memasang atapnya. Pino membantu Darma melekatkan atap ke kerangkanya. Dan akhirnya rumah- rumahan Pino dan kawan- kawannya selesai dengan sempurna.

Namun, panas yang terik malah membuat lemnya mencair di beberapa tempat. Dan waktu tinggal 5 menit lagi. Pino menjadi khawatir jika karyanya gagal dan tidak menang. Ia melihat ada warna yang aneh yang menempel di tembok gypsum yang sudah dicat warna biru muda. Ia kemudian meminta Darma dan Janu untuk memperbaikinya.

“Bagaimana, Darma?” tanya Pino panik.

“Tenang, bro, lemnya aman. Ini bukan cairan lem, tetapi air yang masih tersisa di gypsum,” kata Darma dengan tenang.

“Kalau seperti itu terus, bagaimana kalau gypsumnya pecah?” tanya Asta tiba- tiba.

Darma diam sejenak untuk memikirkan cara aman di detik- detik terakhir perlombaan. Ia memegang tembok luar, dan terasa basah. Kemudian ia menempelkan tangannya ke tembok dalam, dan rasanya… Hm…, Darma tersenyum.

“Eh, lihat warna temboknya!” pekik Tasya. “Indah sekali.”

“Ternyata yang kau khawatirkan tidak terjadi, Pino. Itu adalah proses pengeringan alami, jadi rumah kita tidak akan hancur,” kata Darma menenangkan Pino.

Setelah tembok- temboknya kering, Janu akan menempelkan plastik anti air transparan di atap dan tembok. Meida yang bertugas merapikannya. Setelah itu alarm berbunyi tanda waktu berkarya sudah selesai.

“Hahahahaha…,” tawa Denis ketika ia melihat kelompok Pino mengangkat rumah kecil hasil karyanya bersama teman- temannya. “Kau seperti pawang hujan, Pino. Panas- panas begini rumahmu memakai jas hujan. Kau sudah yakin akan hujan hari ini, ya?” ejek Denis.

Pino tidak menghiraukan ejekan Denis. Ia dan teman- temannya berkumpul di samping karya mereka untuk mengisi data di lembaran daftar karya lomba. Bu Sisil, yang menjadi salah satu juri lomba melihat- lihat hasil karya kelompok Pino. Ia tidak berkata apa- apa dan terus mencatat. Setelah semua peserta lomba selesai dengan urusan data- mendata, Bu Astri mengumumkan bahwa hasil penilaian akan diberikan setelah pukul 12 siang, paling lambat pukul 1 siang. Semua hasil karya ditinggal di tempat yang sudah disediakan, dan semua peserta tidak boleh menyentuhnya lagi.

Pino dan kawan- kawannya senang karena bisa menyelesaikan karyanya, sekaligus deg- deg-an karena ini adalah lomba. Pak Wasis menemui Pino untuk memberikan jajanan dan jus jeruk, serta memberikan selamat atas kekompakan kelompoknya.

“Tanganmu dingin sekali, Pino. Apa kau sakit?” kata Pak Wasis khawatir.

“Tidak, Pak, Pino hanya gugup, hihi…” sela Darma dengan becanda.

“Oh, tidak usah khawatir, menang atau kalah itu tidak penting. Yang terpenting adalah kalian bisa menyelesaikan tugas dengan baik tanpa ribut. Dan siapa tahu rumah kecil itu bisa berguna,” Pak Wasis berkata. “Ayo semua, ini dimakan dulu,”

Di saat istirahat, Pino masih memandangi rumah kecilnya yang berada di lapangan basket. Cuaca panas tiba- tiba berubah menjadi mendung. Aroma tanah basah mulai tercium. Walaupun di lapangan basket sudah dipasang terop, tetapi Pino khawatir rumah kecilnya tidak bisa bertahan lama jika tidak segera diambil. Dan ternyata, gerimis sudah mendahului penilaian para juri.

“Pak, apa kami boleh mengambil karya kami? Karena sudah gerimis, dan saya takut jika air hujan semakin deras dan merusak hasil karya kami,” kata Pino khawatir.

“Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa- apa pada karya kalian,” kata Pak Wasis tenang.

Tidak hanya hujan yang membuat Pino khawatir, tetapi juga ada seekor anak anjing yang sejak tadi menggonggong mencari induknya. Anak anjing itu milik Pak Parmin, si penjaga sekolah. Beliau sudah tua namun belum pikun, dan masih senang merawat sekolah Pino. Gerimis tipis semakin menebal, tetapi tidak sampai hujan deras. Anak anjing itu tiba- tiba menghilang, suara gonggongan kecilnya sudah tidak kedengaran.

Dan waktu untuk penilaian sudah habis. Pukul setengah 1 siang sudah bisa dimumkan hasil penilaian karya seni oleh para juri. Saat itu juga gerimis sudah berhenti. Namun, semua peserta lomba belum diperbolehkan menyentuh karyanya. Dua orang juri mengambil lima buah hasil karya saja yang dinilai paling bagus. Pino melihat rumah kecilnya juga diangkat dan dijajarkan bersama karya- karya terpilih lainnya.

“Kau lihat itu, bro, rumah kecil biasa kita menjadi luar biasa jika pindah tempat di sana,” kata Janu senang kepada Pino.

Tasya dan Meida juga senang dan deg-deg-an. Sementara kelompok Denis kepalanya semakin mendongak ke atas, sebab miniatur gedung Burj Khalifa mereka berada diurutan nomor 2. Dan hasil karya kategori paling indah adalah…

Kelompok Kotak Nomor 2, yaitu Taman Flora Mini.

Tepuk tangan riuh bergema di lapangan. Peserta kelompok kotak nomor 2 mendapat penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya kategori paling indah. Setelah keramaian berhenti, Bu Sisil mengumumkan bahwa hasil karya dengan kategori paling baik adalah…

Peserta Kelompok Kotak Nomor 3, yaitu Rumah Darurat Pino.

“YEYY!” teriak Tasya dan Meida bersamaan. Pino dan kawan- kawannya maju ke depan untuk mendapatkan penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya terbaik. Bu Astri dan Pak Wasis ikut bertepuk tangan dengan meriah dan bangga.

“Dan sesuai dengan namanya, ya,” kata Bu Sisil kemudian, “ada seekor anak anjing yang berlindung di rumah mini ini rupanya,”

Bu Sisil kemudian menyerahkan anak anjing itu kepada Pak Parmin yang sudah mencari- carinya sejak tadi pagi. Dan memberi selamat kepada Pino dan kawan- kawan atas keberhasilan mereka.

Selanjutnya, hasil karya dengan kategori paling kreatif adalah… Peserta Kelompok Kotak Nomor 5, yaitu Lukisan Otomatis. Dan hasil karya dengan kategori paling canggih adalah Peserta Kelompok Kotak Nomor 7, yaitu Kulkas Dimana Saja.

Denis kelihatan kecewa karena ia pikir perlombaan ini ada juara 1, 2 dan 3. Pino bisa melihat Denis dan kelompoknya menunduk lesu karena hasil karya mereka hanya masuk kategori paling mirip dengan aslinya.

 

Penulis: DCS

Anak Penyihir

Pada suatu hari, hiduplah seorang penyihir yang jahat dan buruk rupa. Ia seburuk puding kismis yang gosong. Ia memiliki seorang anak, yang bernama Broccolina, dan ia juga tidak lebih baik daripada ibunya. Si penyihir ingin mengajari anaknya ilmu- sihir, agar bisa meneruskan jejaknya.

Namun, belum seberapa ilmu yang diajarkan oleh ibunya, Broccolina tidak sedikit pun tertarik. Ia tidak pernah mau menjadi tukang sihir maupun pekerja rumah tangga. Ia hanya ingin menjadi cantik.

Broccolina sangat mengkhawatirkan dengan penampilan buruknya, dan ia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan cermin, untuk merias wajah. Ia memoles wajahnya dengan pewarna dan mengecat kuku- kukunya sampai terlihat berkilau. Ia menata rambutnya setiap pagi, siang, dan malam, dalam berbagai bentuk yang menurutnya pantas. Ia ingin terlihat secantik mungkin, tetapi kenyataannya bahwa semua yang sudah dilakukannya hanya membuat penampilannya semakin jelek.

Suatu hari, ibunya telah pergi ke suatu tempat yang jauh. Ia berpesan kepada Broccolina untuk tetap mengaduk ramuan sihir, yang sedang direbus, sampai ia kembali.

“Mengapa aku yang harus melakukannya?” Broccolina protes.

“Kau tahu aku sangat benci mengaduk ramuan. Sendok besar ini mengelupaskan cat warna kukuku, dan uap nya membuat riasan wajahku luntur.”

“Ini harus dikerjakan!” kata ibunya sambil berjalan ke luar pintu.

“Aku akan kembali segera mungkin. Saat ini juga, teruslah mengaduk periuk itu!”

“Ini tidak adil!” Broccolina menggerutu.

Ia mengambil sendok besar dan memulai mengaduk.

Setelah beberapa lama, ia mendengar suara yang aneh di telinganya. Itu seperti sekawanan lebah yang terbang di atasnya. Ia mendongak ke atas untuk melihat apa itu.

“Oh!” ia memekik. Itu adalah bidadari baik hati, yang terbang di atasnya.

Mata Broccolina terbelalak saat melihatnya.

“Sungguh cantik bidadari itu! Seandainya aku bisa secantik dia!” ia berkata dengan iri sambil menatap sang bidadari.

“Bagaimana dia bisa sangat cantik? Pasti ada rahasianya,” ia berpikir.

“Jika aku bisa menangkapnya, mungkin aku bisa mendapatkan rahasianya. Ya, aku harus cepat dan menangkapnya.” Ia meninggalkan periuk mendidih di atas tungku, dan berlari ke dalam rumah untuk mengambil karpet ajaib.

Tetapi ibunya telah membawanya pergi.

“Oh, tidak!” ia merengut. Ia sangat kecewa karena tidak dapat menangkap sang bidadari. Ia kembali ke tempat ketel besar itu, dan mendongkol.

“Oh, bagaimana caranya agar aku bisa menjadi secantik itu?”

Ia berpikir, berpikir, dan berpikir, tetapi belum ada hal yang muncul di dalam pikirannya.

Tiba- tiba ia mendapatkan sebuah ide.

“Mungkin ibuku mempunyai resep ramuan di buku- buku sihirnya, yang untuk membuat diriku cantik seperti bidadari itu. Pasti, ia pasti punya.”

Kemudian ia berlari kembali ke dalam rumah, dan menuju ke lemari ibunya.

Ia menggeledah lemari, mencari- cari resep, membolak- balik semua buku resep sihir ibunya satu per satu. Akan tetapi ia tidak menemukan resep apapun untuk menjadi cantik seperti bidadari. Ia sangat kecewa. Ia tidak berhenti memikirkan sang bidadari cantik itu. Ia mondar- mandir dan agak emosi, tidak ingin menyerah begitu saja.

“Baiklah,” ia berpikir, “aku akan membuat sendiri resep itu, untuk menjadikanku cantik.”

Ia kemudian kembali ke tempat periuk yang sudah mendidih itu dan mengaduknya, ia masih mencoba memikirkan resepnya. “Apa bahan- bahan yang harus kugunakan untuk membuat ramuan sihir itu?” ia bertanya kepada dirinya sendiri. Ia berpikir dan berpikir, tetapi ia tidak bisa berpikir tentang cara menjadikannya cantik.

Selang beberapa lama, Broccolina merasakan ada sesuatu yang menjilati pergelangan kakinya. Itu adalah kucing abu- abu ibunya. “Pergi,” ia berkata. Kucing itu menggeliat manja di kaki Broccolina, mengeong. Ia sepertinya kesepian. Broccolina, yang sudah sejak tadi marah, menjadi semakin marah karena itu.

“Kubilang pergi!” ia membentak.

Ketika kucing itu tidak mau pergi, Broccolina menarik ekornya dan melemparkannya ke luar pintu. ‘Yeeoow!’ Kucing malang itu meraung dan berlari dengan menaikkan ekornya.

Tidak disadarinya, sebuah ekor yang sangat panjang muncul dari punggung Broccolina. Tetapi, ia masih asyik melamun jika ia menjadi secantik bidadari, hingga ia tidak mempedulikan itu. Ia mengaduk ramuannya lebih cepat, memikirkan bahan- bahan yanga harus ia masukkan.

Burung gagak ibunya melihat sesuatu yang aneh yang muncul di punggung Broccolina dan bergoyang- goyang. Dikiranya itu adalah ular, lalu ia mematuk dan menariknya keluar.

Broccolina marah karena terganggu lagi. Ia memukul burung gagak itu menggunakan sendok pengaduk. Kaki kurus burung gagak itu terlukai oleh sendok itu dan beberapa cairan ramuan tumpah di atas tanah.

Burung gagak yang malang itu memekik kesakitan dan buru- buru pergi dengan kaki pincang. Broccolina memang sengaja, ia tidak peduli telah memukul burung gagak itu. Bahkan ia tidak meminta maaf kepadanya. Ia melanjutkan mengaduk ramuan di panci besar itu. Tidak lama kemudian, ada luka- luka kecil yang muncul ke seluruh tubuhnya. Namun, ia terus memikirkan untuk menjadi cantik, hingga ia tidak menyadarinya.

Seekor kambing, yang akan disembelih ibunya untuk makan malam, mencium bau ramuan ajaib yang menetes di tanah. Ia bangun tidur dari tempat tidur jeraminya lalu menjilati tetesan ramuan itu, sebab ia sangat haus. Hal itu membuat marah Broccolina dan bahkan semakin marah, kemudian ia menendang kambing itu. Kasihan sekali, kambing yang kehausan itu berjalan sempoyongan, ketakutan dan kesakitan.

Dan, tidak berlangsung lama, Broccolina memiliki jenggot abu- abu seperti kambing itu, yang tumbuh meruncing dari dagunya dan rambutnya menjadi kasar dan kaku seperti jerami. Namun Broccolina tidak memperhatikan itu, karena ia sangat sibuk, memikirkan tentang bahan- bahan yang harus ia masukkan untuk membuat ramuan kecantikan.

Sapi yang ada di kandang, melihat rambut jerami Broccolina yang segar dan menggiurkan. Ia sangat lapar dan berpikir bahwa itu adalah tumpukan jerami, jadi ia datang untuk memakannya.

Broccolina, tanpa menyadari mengapa sapi itu mendatanginya, dengan marah melemparkan kayu bakar kepadanya. Kayu itu mengenai tanduknya dan kemudian sapi yang malang itu kabur, melenguh ketakutan.

Selang beberapa detik kemudian, dua benjolan muncul dari dua sisi kepala Broccolina dan tumbuh menjadi dua tanduk yang besar. Namun, ia tetap tidak memperhatikan!

Ketika anjing penjaga ibunya melihat makhluk asing ini, ia tidak mengetahui bahwa itu adalah Broccolina. Ia meloncat- loncat di hadapannya, menggonggong, dan menggeram.

Broccolina begitu terganggu karena gonggongannya lalu ia memukul anjing itu dengan penutup panci besar itu. Benda itu mengenai mulut si anjing sehingga ia berlari ketakutan sambil berteriak- teriak.

Tiba- tiba setengah dari semua gigi Broccolina jatuh ke dalam panci besar itu, saat ia mengaduk ramuan. Tetapi Broccolina tidak mengetahuinya, sebab ia sangat keras memikirkan cara menjadi cantik seperti bidadari.

Burung beo kecil terbangun karena mendengar keributan. Ketika ia melihat Broccolina, ia menjadi ketakutan dan terbang ke sana kemari di dalam sangkarnya.

“Oh! Broccolina,” burung beo itu berteriak, “apa yang terjadi padamu? Kau menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan kau menjadi terburuk yang pernah kulihat,” burung beo mengoceh, merasa ngeri. Broccolina geram. Ia menggoyang- goyangkan sangkarnya dan memaki- makinya. Saat ia memaki, suaranya serak dan menjadi parau, seperti berkuak- kuak.

“Oh! Ada apa ini?” Broccolina sangat kebingungan dan merasa ada yang salah. Ia berlari menuju cermin.

Saat ia melihat dirinya di cermin, ia sangat terkejut.

“Oh, tidak! Tidak, tidaaaak…” ia berteriak histeris.

“Oh, tidak, aku ingin menjadi cantik seperti bidadari.”

Ia berlari ke luar rumah, berteriak- teriak dengan kasar. Ia menjadi semakin marah. Ia menangis meraung- raung dan berguling- guling di tanah, mengutuk bidadari.

Mendengar raungan Broccolina, sang bidadari, yang terbang dalam perjalanan ke surga, datang untuk melihat apa yang terjadi. Ketika Broccolina melihat sang bidadari, ia sangat marah dan dengki.

“Kau bidadari jahat! Kau bidadari jahat!” Broccolina berteriak dengan marah, sambil mengangkat tangannya.

“Mengapa kau terbang di atasku? Sejak saat itu aku ingin menjadi bidadari sepertimu.”

Sang bidadari mendengarkan dengan tenang. Broccolina memprotes.

“Lihat apa yang terjadi padaku? Akhirnya aku menjadi mengerikan. Kau harus bertanggung jawab untuk semua ini. Sekarang, kau harus bilang kepadaku, rahasia menjadi cantik seperti bidadari. Kecuali aku akan mengajarkanmu sebuah pelajaran saat aku menangkapmu,” Broccolina berteriak dengan geram.

Sang bidadari mendengarkan dengan sepenuh hati dan berbicara kepadanya dengan tenang.

“Broccolina, tidak ada ramuan sihir yang bisa membuat siapa pun cantik seperti bidadari. Ini bukanlah rahasia. Jika kau mencintai dan menyayangi sesama, bersikaplah rendah hati dan sabar, dan hanya melakukan perbuatan baik, saat itulah kau terlihat cantik seperti bidadari. Cinta di dalam hatimu untuk sesama yang sesungguhnya membuatmu cantik.”

Dengan mulut ternganga, Broccolina mendengarkan dengan sungguh- sungguh nasihat bidadari.

“Beberapa waktu yang lalu, kau memperlakukan hewan- hewan malang ini dengan tidak baik. Itulah mengapa kau menjadi buruk. Semakin hatimu terisi dengan amarah dan dendam, keburukan datang kepadamu,” kata sang bidadari.

“Broccolina, sekarang kau harus menemui siapa pun yang sudah kau sakiti, dan rawatlah hingga mereka sembuh. Kau harus menyayangi mereka dan berbicara kepada mereka dengan penuh kasih sayang. Kau tidak boleh berbicara kasar kepada siapa pun. Maka suaramu akan menjadi lebih baik.” Sang bidadari kemudian pergi, mengepakkan sayap emasnya.

Broccolina berlari- lari dengan panik, mencari si kucing, si burung gagak, si kambing, sapi, anjing dan burung beo. Mereka semua bersembunyi darinya, di belakang kandang, memar- memar, dan merasa sangat ketakutan dan kesakitan. Ketika melihatnya, mereka semakin ketakutan. Tetapi saat ia berkata kepada mereka dengan baik, mereka menjadi terkejut, lupa akan ketakutan dan kesakitan yang mereka alami. Broccolina merawat mereka dengan sepenuh hati dan menyembuhkan luka- luka mereka dengan sabar.

Mereka semua senang dan kagum mendengar perkataan baik dari mulutnya. Sedikit demi sedikit, saat ia berbicara dengan baik kepada mereka, suaranya berubah menjadi lembut dan lembut. Saat ia mengobati luka- luka para hewan itu dengan penug kesabaran, kulitnya menjadi bersih dan memancarkan cahaya.

Ketika ia merawat mereka dengan kasih sayang, rambutnya menjadi halus dan berkilau. Ketika ia memperhatikan mereka dengan sorot mata yang lembut, matanya menjadi lebih bercahaya dan bening. Sedikit demi sedikit, ia menjadi cantik, seperti bidadari.

Dengan cepat, dua benjolan yang muncul di punggungnya berubah menjadi sayap- sayap yang indah.

“Oh!” ia terkejut, sangat bahagia dengan perubahannya. Ia melayang di udara, sambil mengepakkan sayapnya. Broccolina akhirnya menjadi bidadari dan terbang menuju surga. Setelah itu ia tidak pernah menyakiti siapa pun dan selalu menyayangi semuanya.
Diterjemahkan dari The Witch’s Daughter/ penulis: Janaki Sooriyarachchi

Jalan Tikus

Amba sedang mengamati lubang yang tidak kecil, sebesar kepalan tangannya di bawah tembok kamarnya. Ada suara kressk… kressk…  ketika menempelkan telinga kanannya di lubang itu.

Ia tidak tahu ada sepasang mata kecil, berwarna merah menyala yang bergerak ke telinganya saat menempel di lubang itu. Dan hampir menyentuhnya. Tiba- tiba…

“Kakaaak…” BRUKK! Bayu dan Bima, adik kembarnya yang masih kecil dan polos menubruknya. “Lagi ngapain?” Bayu bertanya.

“Eh kalian ini mengagetkan kakak, ya,” kata Amba sambil membenahi kucir rambutnya yang copot.

“Habis dari tadi kakak dipanggil mama tidak menjawab,” kata Bayu dengan polosnya.

“Iya deh kakak lagi sibuk tadi. Habis melihat,…” Amba tidak meneruskan kata- katanya.

“Moeleihat oapoa, Kak?” tanya Bima menirukan suara slow motion dengan mengekspresikan gaya zombie.

“Hihihi…, tidak melihat apa- apa, Bimaku sayang hmm,” jawab Amba sambil memeluk erat adiknya itu. “Sudah, yuk makan,” Amba berkata lalu menggandeng kedua adiknya, “pasti mama sudah masak makanan kesukaan kita…”

Sup lagi, Kak…

Si mata merah itu perlahan- lahan menunjukkan hidungnya ke luar lubang setelah mereka pergi. Ia mengendus- endus lantai yang masih di sekitar lubang.

“Huh, manusia- manusia itu sangat membuatku takut. Syukurlah mereka sudah keluar,” katanya.

“Lopi, tunggu apa lagi? Ayo kita segera mengambil makanan itu, yang di bawah tempat tidur itu sebelum mereka kembali,” kata teman si mata merah itu.

“Kalau begitu ayo Lompa,” kata Lopi yang duluan berjalan keluar.

Tikus Lopi dan Lompa akhirnya keluar dari sarangnya. Dengan cepat mereka memburu plastik berisi keripik singkong yang tinggal remah- remahnya saja.

“Kau lihat Lopi, keripiknya tinggal segini. Biasanya kita mendapat lebih banyak,” Lompa berkata dengan kesal.

“Maafkan aku, Lompa. Aku terlalu lama bersembunyi karena takut dilihat oleh manusia itu,” kata Lopi sedih.

“Ya, lupakan saja. Lumayan masih ada sisa buat kita. Ayo cepat kita bawa,” kata Lompa bersemangat.

“Ayo, dorong Lopi, nampakny makanan ini lebih berat dari yang kukira, uughh…,” kata Lompa sambil menarik bungkusan itu dengan susah payah.

Tikus Lompa dan Lopi berusaha dengan sekuat tenaga membawa makanan ringan itu dengan kaki- kakinya. Namun terlambat, Amba sudah masuk ke kamarnya. 

Tidak lama kemudian disusul Bayu dan Bima. Mereka berlarian sambil membawa sosis panggang yang baru saja matang. Aroma sosis panggang menggelitik hidung Lompa. Langsung saja ia berlari ke arah datangnya aroma yang lezat itu.

“Hai tunggu Lompa! Jangan ke sana,” teriak Lopi khawatir.

Tetapi Lompa tidak mempedulikan larangan Lopi. Ia seperti sudah terhipnotis dengan bau sedap sosis panggang.

Lopi tidak ingin membiarkan temannya terkena masalah, dan lalu ia menyusul Lompa.

Lompa sudah berada di dekat kaki Bima. Kaki Bima yang kecil berayun- ayun ke depan ke belakang. Lompa masih keras kepala menuruti keinginannya yang berbahaya. Ia sudah tidak peduli bagaimana akibatnya, dam terus melompat ke kaki Bima sampai lutut.

“Hah, Kakaakk ada tikus di kakiku!” jerit Bima panik

Jelas sekali Bima langsung terkejut. Kakinya digoyang- goyang agar tikus Lompa jatuh. Sebaliknya, Bayu yang tidak takut pada tikus akan memegang Lompa. Sebelum ia memegangnya, Lompa segera sadar lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dan langsung berlari tidak beraturan karena panik.

Amba juga tidak takut dengan hewan itu dan ia membantu Bayu mengejar Lompa.

“Lompa cepatlah kemari!” Lopi berteriak dari dalam lubang. “Ayo lebih cepat!”

Saking takutnya, Lopi meninggalkan Lompa sendirian dikejar- kejar oleh dua manusia itu. Ia membalikkan badannya, berlari kencang, mendahului temannya untuk kembali ke sarangnya.

Lompa sudah hampir masuk ke dalam lubang lalu masuklah ia. Semakin lama ruangan menjadi gelap. Akan tetapi, Lompa merasa masih dikejar- kejar oleh Amba dan kedua adiknya. Tiba- tiba ia menghentikan langkah seribunya dan berkata, 

“Berhenti semua!” 

Amba dan si kembar Bayu dan Bima berhenti mengejar. Lompa melihat ke belakang, di mana manusia yang mengejarnya itu berada. Dan terkejutlah ia…

“Ha, lihatlah diri kalian, wahai manusia,” kata Lompa, “bahwa tubuh kalian sebesar tubuhku sekarang”

Mereka bingung karena tidak bisa melihat apapun dengan jelas. Tak lama kemudian, mereka menyadarinya. Di dalam gelap mata Lompa yang merah bersinar.

“Kak, kakak, tikus itu semakin besar, Kak. Mengerikan sekali,” Bima berkata dengan gemetaran.

“Oh tidak, tidak. Bukan tikus itu yang semakin besar, tetapi tubuh kita yang menjadi kecil. Bagaimana bisa terjadi?” kata Amba khawatir.

“Bagaimana jika mama tahu hal ini? Bagaimana jika ia mengira kita sudah mati? Bagaimana…”

“Cukup!” kata Lompa geram. “Kalian sedang berada di lorong jalan tikus. Sekarang kalian tidak bisa kembali, tetapi… jika kalian mau membantu kami dengan setulus hati, maka sebelum sore menjelang kalian akan berubah menjadi manusia lagi,” kata Lompa menjelaskan.

“He, kami memang manusia, dasar tikus jelek!” teriak Bima kasar.

“Benarkah? Coba kalian raba mulut kalian, telinga, dan pantat. Apa manusia seperti itu? Hihihi…,” Lompa berkata dan tertawa geli.

Mereka bertiga melakukan apa yang disuruh Lompa. Lalu secara bersamaan berkata, “Oh tidak,” ups suara mereka menjadi kecil juga, “Tidaaakk, tolong tuan tikus kembalikan kami”

“Enak saja. Salah kalian sendiri yang masuk ke lubang itu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengubah kalian menjadi sedia kala lagi,” kata Lompa dengan angkuh.

Bima sedih dan mulai menangis. Suara cit cit nya yang kencang terpantul di dinding jalan tikus itu hingga membuat yang lainnya menyumbat telinga mereka dengan batu kecil. Tiba- tiba ada suara gong yang berbunyi tiga kali.

GOONGG… GOONGG… GOONGG…

Bima menghentikan tangisnya. Ia melihat seekor tikus putih yang lucu memakai mahkota emas kecil di kepalanya keluar dari persembunyiannya. Ia adalah sang ratu para tikus yang ikut menghuni rumah Amba.

“Lompa, apa yang sudah kau lakukan kepada para manusia itu?” kata sang ratu dengan lembut.

“Maafkan aku, Ratu Mimi, mereka telah mengejarku sampai di sini. Mereka sendiri yang masuk ke lubang tikus kita, Ratu,” kata Lompa menjelaskan kepada sang ratu.

“Benarkah begitu, Amba?” tanya sang ratu.

“I..iya Ratu. Kami mengejarnya karena dia akan mengambil makanan kami yang baru saja matang, dan menakuti adikku, Bima. Seperti itu, maafkan kami, Ratu,” kata Amba memelas.

“Hm, sebaiknya kalian ikut ke rumah kami dahulu. Jika terlalu lama di sini, maka aku tidak bisa membantumu tetap hidup,” kata Ratu Mimi.

“Apa maksudnya, Ratu?” tanya Amba terkejut.

Lopi tiba- tiba muncul dari belakang Ratu Mimi. Ia ingin menjawabnya.

“Ada binatang lain selain kami para tikus. Dia lebih mengerikan, dan bahkan memakan tikus. Kami adalah tikus baik, yang hanya mengambil sisa- sisa makanan kalian di tempat sampah…” kata Lopi, “kecuali tikus Lompa, dia memang rakus”

“Maafkan aku Ratu Mimi, aku sangat lapar,” kata Lompa menyesali perbuatannya.

Tidak lama setelah Lompa berbicara, dinding jalan tikus bergetar. Itu pertanda si pemangsa tikus sudah datang.

“Sudah, sudah. Ayo segera kita ke rumah,” perintah sang Ratu.

Ngeoongg… ngeoongg…

“Oh tidak, Ratu, monster itu sudah masuk di lorong jalan tikus,” kata Lopi sambil terus berlari.

Ngeoongg…

Ngeoongg…

“Kakak, itu ‘kan suara… suara… si Puspus, iya si PusPus,” kata Bima, “lalu mengapa kita ikut berlari, kak? Dia ‘kan kucing kesayangan kita.” tambahnya.

“Bima, kita masih tikus sekarang. Kau mau jika kita dimakan sama Puspus?” Amba berkata.

Bima hanya menggeleng karena ia sudah tidak kuat berbicara lagi.

Sampai di depan pintu gerbang istana tikus, Ratu Mimi menyuruh Lopi dan Lompa memasang jaring pelindung untuk menutup lorong jalan tikus. Tetapi tangan si Puspus yang gemuk sudah masuk hampir mencapai gerbang istana tikus.

“Wow, si Puspus besar sekali,” kata Bayu dengan takjub.

“Husshh… husshh! Pergilah kau monster jahat si pemakan tikus, husshh!” Lompa memercikkan air ke tangan Puspus. Tak lama kemudian si Puspus berhenti mengeong dan mengganggu tikus- tikus itu. Untuk sementara waktu.

“Aneh, Ratu Mimi,” kata Amba heran, “ketika kami melalui jalan tikus tubuh kami berubah menjadi kecil dan bahkan berubah seperti tikus, tetapi mengapa si Puspus tidak berubah?”

“Karena dia juga binatang, Amba,” sang Ratu menjawab dengan tersenyum. “Maka dari itu dia tidak berubah seperti kalian. Memang kedengarannya aneh dan mengherankan, tetapi itulah yang kau lihat”

“Apa kucing kami selalu mengganggu tikus- tikus di sini, Ratu?” Bayu bertanya.

“Tidak kucing kalian, akan tetapi kucing yang di belakangnya, yang dari tadi sudah mengintip untuk menerkam kami sewaktu- waktu,” jawab Ratu Mimi.

“Kakak, kucing itu kucing tetangga kita. Dia teman si Puspus dan sering main ke rumah kita,” kata Bima yang terus bersembunyi di balik punggung Amba.

“Apa iya seperti itu?” tanya Amba kepada Bayu.

“Benar, Kak, aku lihat dia selalu memasukkan tangannya ke dalam lubang di dinding kamar kakak. Sepertinya dia mencari- cari sesuatu,” kata Bayu.

“Kalau begitu kita hadapi saja mereka, Bayu, Bima. Kita kan manusia, bukan tikus,” Amba berkata dengan tegas.

“Tunggu, Amba, kau yakin akan menghadapinya sendirian bersama tubuh sekecil ini?” Ratu Mimi kemudian memukul gong tiga kali.

GOONGG… GOONGG… GOONGG…

Dari dalam istana keluarlah tikus- tikus yang sangat banyak dan mereka berbaris seperti prajurit perang.

“Wow, lucu sekali mereka, Kakak lihat mereka! Hihihi,” kata Bima senang.

Tikus- tikus itu kemudian membentuk kelompok yang berbeda. Kelompok tikus putih berada di barisan tengah, sedangkan kelompok tikus abu- abu menjadi pagar depan dan belakang para tikus putih.

Ratu Mimi memanggil ketua pasukan putih dan abu- abu, dan berkata, “Lindungi Amba dan kedua adiknya. Jika tidak perlu berperang, lebih baik segera kembali.”

“Baik, Yang Mulia,” kata ketua pasukan.

Amba memberanikan diri mengahadapi kucing- kucing yang masih menunggu di luar pintu gerbang dan ditemani pasukan tikus- tikus Ratu Mimi.

Lompa dan Lopi mundur, segera masuk ke halaman istana tikus bersama Bayu, Bima, dan Ratu Mimi.

“Apa kakak tidak apa- apa, Ratu?” Bima bertanya.

“Tenanglah, Bima, dia akan baik- baik saja,” kata Ratu Mimi.

Amba sudah berada di lorong jalan tikus, di tempat para kucing berada. Para pasukan tikus bersiaga di belakangnya. Suasana menjadi tegang, Amba dan si Puspus saling berhadapan. Puspus melihat Amba dengan wajah gemuknya yang polos. Sesekali ia melihat ke belakang, ke arah temannya, dan berkata,

“Ngeoongg”

Lalu Puspus mendekati Amba dengan menengkurapkan tubuhnya. Jaraknya hanya satu telapak kaki si Puspus.

“Ngeong,” kata Puspus dengan manja.

Amba kemudian mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia mengelus kepala si Puspus dengan lembut. Puspus semakin menurunkan kepalanya ke bawah hingga menempel di tanah. Dan Amba terus mengelus- elus kepalanya.

Bima dan Bayu memberanikan diri untuk pergi ke tempat Amba berada. Mereka berjalan melalui barisan tikus yang masih berdiri rapi. Mereka melihat Amba sedang mengelus kepala si Puspus dan kucing yang lain sudah pergi meninggalkannya.

“Kakak,” kata Bima dan Bayu bersamaan dan berlari ke arah kakak mereka.

“Sepertinya, kita bisa pulang sekarang anak- anak,” kata Amba tidak lama kemudian. “Di mana Ratu Mimi?”

“Aku sudah di sini, Amba. Dan terima kasih kau sudah menyelamatkan nyawa kami para tikus,” kata Ratu Mimi.

“Sama- sama, Ratu Mimi. Dan maafkan si Puspus juga yang sudah mengganggu kalian. Mungkin sebaiknya lubang jalan tikus ditutup saja agar tidak ada yang meemakan tikus- tikusmu lagi,” Amba berkata dengan sedikit menyesal.

Ratu Mimi mengangguk tanda setuju. Ia kemudian membubarkan barisan tikus dan memerintah mereka kembali ke istana bersamanya.

Bima dan Bayu memanggil si Puspus, dan si Puspus segera beranjak untuk mengikuti tuannya. Amba berjalan di belakangnya. 

Mereka berjalan dan terus berjalan di sepanjang lorong jalan tikus sampai tidak menyadari jika tubuh mungil mereka, kecuali si Puspus, berubah menjadi normal kembali.

“Hore… hore…, kita bukan tikus lagi, hore…,” sorak Bima dan Bayu ketika sudah keluar dari lubang kecil di kamar Amba.

“Eh, kalian jangan bilang ke siapa- siapa ya,” kata Amba dengan serius.

“Siap, bos,” kata Bima dan Bayu bersamaan.

Tiba- tiba mama masuk ke kamar sambil membawa sapu, lalu berkata, “Ada tikus ya? Di mana? Mana?”

“Itu di sa… lho sudah tidak ada kok Ma, hihihi,” kata Amba. Ia lalu melihat si Puspus dengan tersenyum.

Si Puspus ternyata berdiri di depan lubang jalan tikus untuk menutupinya agar mama tidak tahu. Dan berkata,

“Ngeoongg”
S e l e s a i

Boris Sangat Bosan!

Boris telah bermain dengan semua mainannya. Ia telah membaca semua buku- bukunya. Namun, sekarang ia tidak tahu apa yang dilakukan selanjutnya. Ia berpikir dan berpikir, tetapi ia belum bisa berpikir apa yang bisa dilakukan.

Boris sangat bosan.

Akhirnya Boris beranjak dan pergi menemui ayahnya. Ia meniup terumpetnya dan berkata, “Ayo kita melakukan sesuatu.”

“Ayah sedang melakukan sesuatu,” kata sang ayah. “Ayah sedang sibuk mengecat. Mengapa kau tidak pergi memancing saja?”

“Memancing tidak menyenangkan jika sendirian,” kata Boris. “Kumohon lakukan sesuatu bersamaku.”

“Ayah tidak bisa sekarang,” kata sang ayah. “Mengapa kau tidak membaca buku?”

“Aku sudah lelah membaca buku!” jawab Boris.

Boris berharap ibunya mau melakukan sesuatu bersamanya.

“Ibu ingin sekali,” kata sang ibu, “tetapi ibu sudah berjanji kepada adikmu untuk membuat banyak kue bersamanya. Mengapa kau tidak membantu kami saja?”

“Tidak, tidak, tidak!” teriak Boris. “Aku tidak senang dengan adikku— dan aku tidak senang membuat kue!”

Dan ia mengentakkan kaki kembali ke kamarnya.

Boris bisa mendengar suara kegembiraan yang datang dari dapur. Ocehan dan candaan membuatnya merasa semakin sedih. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah pohonnya.

“Mungkin di sana ada sesuatu yang bisa dilakukan,” ia berkata. Ia membawa terumpetnya, hanya berjaga- jaga jika di sana tidak ada.

Akan tetapi ketika Boris sudah memanjat ke atas pohon itu, ia tidak melihat apapun yang bisa dimainkan. Itu juga membosankan seperti berada di kamarnya.

“Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kumainkan?” ia bertanya pada dirinya sendiri berulang- ulang.

Sebenarnya ada banyak sekali benda— tetapi ia tidak menginginkannya. Ia benar- benar tidak ingin memainkannya.

Tiba- tiba sebuah kardus besar datang dan berjalan di bawahnya. Dari dalam terdengar suara adik Boris yang sedang menyanyi, “Aku akan  membangun sebuah istana. Tetapi jangan ada yang tahu di mana. Ini adalah rahasia!”

Dari rumah pohonnya, Boris dapat melihat dengan jelas ke mana ia pergi. “Membangun istana!” ia berpikir. “Hal yang membosankan. Jika aku mempunyai kardus itu,  aku mau membuat sebuah pesawat ruang angkasa yang besar sekali!”

Ia masih melihat adiknya dan teman- temannya yang sudah mulai bekerja.

Selanjutnya Boris melihat mereka menempelkan guntingan pola kertas dan kancing baju ke istana itu lalu membuat lukisan di dindingnya.

Sebenarnya Boris tahu apa yang akan ia lakukan. Sebuah pesawat ruang angkasa akan memerlukan roket dan antena dan banyak benda lainnya.

Tetapi kemudian ia ingat kebosanannya untuk melakukan apapun.

Di waktu selanjutnya Boris melihat adiknya dan teman- temannya membawa ular- ularan dan kertas krep.

“Aku menduga mereka akan mengadakan sebuah pesta,” Boris bepikir. “Lalu apa! Aku tidak senang pesta!” Tetapi ia tetap melihat mereka berjalan dari rumah pohonnya.

“Ibu memberikan kita semua perhiasan dan baju lamanya untuk bermain peran,” adik kecilnya berkata dengan lantang seraya ia melewati di bawah rumah pohon Boris beberapa menit kemudian. “Aku akan menjadi seorang putri. Tetapi kau tidak ingin melihatnya!” ia menambahkan.

Tentu saja ia mau melihatnya, Boris berbicara dalam hati— dan ia berpura- pura seolah- olah ia tidak pernah tertarik.

Permainan peran itu terdengar sangat ribut dan menyenangkan.

Boris mengkhayal peran apa yang ia inginkan, jika itu adalah pestanya— yaitu menjadi astronot, atau bahkan menjadi alien dari planet yang asing!

Kemudian Boris melihat teman- teman adiknya sangat menikmati hari yang menyenangkan. Hal itu membuatnya merasa semakin tidak senang.

Ketika mereka berpose dan sang putri yang mengambil gambar mereka menggunakan sebuah kamera, Boris menjatuhkan ranting- ranting kering ke arah mereka. Namun mereka lebih menikmati waktu bersenang- senang.

Lalu adiknya berkata kepada teman- temannya, “Ayo kita berpesta— oh, tidak, maksudku pesta keajaan!” — ingat, ia adalah sang putri.

Ia berjalan dengan bangga melewati rumah pohon Boris lagi, dengan membawa sebuah mangkuk berisi penuh dengan kue- kue hangat.

Aroma lezat dari kue- kue yang baru saja diangkat dari pemanggang naik ke atas menuju rumah pohon Boris. Tuangan jus buah dari poci kaca membuatnya haus. Namun, siapapun tidak memperhatikannya. Mereka sangat sibuk tertawa, makan, dan menikmati waktu bersama- sama.

“Ini sudah berlebihan!” kata Boris.

Boris tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ia mengambil terumpetnya dan ditiupnya sekeras- kerasnya.

Pwaaat!

Lalu lagi. Dan lagi! Pwaaat! Pwaaat!

Saat ia berhenti meniup terumpet, suasana menjadi diam! Tidak ada ocehan atau tawaan. Suara berisik terumpet telah bekerja! Ia telah menghentikan kesenangan mereka dan pesta yang membosankan. Boris sangat bangga kepada dirinya sendiri.

Tetapi tiba- tiba ia mendengar namanya dipanggil dari bawah.

“Boris, si peniup terumpet juga dibutuhkan dalam pesta kerajaan!” teriak salah satu dari mereka. “Bagaimana? Maukah kau menjadi peniup terumpet untuk sang raja?”

Boris mengatakan beberapa patah kata yang sangat tidak sopan. Namun kemudian ia berpikir sejenak dan berkata, “Mungkin aku mau menjadi peniup terumpet. Tetapi aku akan melakukannya jika diberi dua puluh kue dahulu!”

“Bagaimana jika tiga?” tanya adiknya, yang melihat isi mangkuk sudah hampir kosong.

“Oke,” kata Boris, “itu bayaran yang adil.” Lalu ia turun dari rumah pohon.

Pesta itu berlangsung begitu meriah! Si peniup terumpet mulai membunyikan terumpetnya. Sang raja menabuh dram. Semua penghuni kerajaan menari bersama- sama. Dan Boris sudah lupa dengan semua kebosanannya dan hal- hal yang tidak bisa dilakukannya.

Akan tetapi ia tidak lupa dengan kue- kue yang sudah disimpan oleh sang putri yang khusus untuknya.

 

Diterjemahkan dari Totally Bored Boris! | penulis: HANS WILHELM

Rumah untuk Tikus

Di sebuah rumah, di dalam ruangan yang sangat gelap, keheningan malam hari membangunkan Whiskers. Ia menguap.

Whiskers melompat untuk menjelajah. Sinar lampu kuning pucat membuat bayangan ungu di lantai. Rumah yang sepi…

Ia berlari di sepanjang gang yang terang. Rumah ini sangat cocok untuk seekor tikus yang lapar.

Hidung merah mudanya menempel di karpet, Whiskers mencium aroma yang luar biasa. Ia menyelip ke bawah pintu berwarna cokelat tua di ujung ruang utama.

Dengan cepat Whiskers memanjat ke sebuah selimut tebal dan sangat lebar. Ia buru- buru melintasi medan yang tidak rata dan meluncur ke gundukan curam, dan licin.

Ia berguling ke kepingan kacang, remah- remah roti dan potongan keripik. Baru saja ia mau memakannya, gundukan selimut itu bergerak di bawah kakinya. Teriakan menggemparkan ruangan, mengerikan Whiskers.

Ia terpental. Melambung ke awang- awang bersama keripik dan selimut. Cahaya terang menyilaukan matanya. Ia melompat ke lantai dan berlari menuju pintu. Ketika ia berjalan keluar, sebuah benda menimpa ekornya dengan keras.

Whiskers berlari kencang menuju tempat tidurnya yang hangat dan bersembunyi di bawah adiknya. “Ada keributan apa ini?” teriak Cheesepuff, seekor tikus putih kecil.

“Ada monster besar di rumah ini,” kata Whiskers gelagapan, “sebesar gunung yang matanya bersinar, menyilaukan dan pemukul ekor yang mengerikan.”

Cheesepuff mengendus udara dan tubuhnya gemetaran, “Itu manusia. Sudah kubilang padamu rumah ini tidak aman. Kita harus pindah. Kita perlu rumah khusus tikus.”

“Tetapi,” kata Whiskers, “rumah ini rumah kita.”

“Lalu mereka yang harus pergi,” Cheesepuff menegaskan.

“Tidak,” kata Whiskers, “kita harus tinggal bersama- sama.”

Keesokan harinya mobil van oranye berhenti di depan rumah. Seorang pria berkemeja putih meletakkan jebakan lengket ke seluruh rumah dan berikutnya di tempat perburuan kesukaan Whiskers dan Cheesepuff.

Malamnya, Whiskers mengendus- endus baki beraroma lezat dan dengan hati- hati ia mencelupkan kakinya ke dalam bubur yang kelihatan lezat. Kakinya terjebak, menempel di dalam bubur itu lalu ia berteriak kencang memanggil adiknya. Cheesepuff menyentakkan dan menarik ekornya hingga kakinya keluar dari bubur yang lengket itu.

Tikus- tikus itu menunggu beberapa hari agar jebakan itu hilang. Mereka sangat lapar. Kemudian Whiskers mempunyai ide. “Ayo kita memberikan manusia itu sebuah hadiah, lalu mungkin mereka akan membiarkan kita untuk tinggal.”

Menurut Cheesepuff itu bukan ide yang bagus, dan ia bersembunyi di tempat tidurnya sementara Whiskers dengan hati- hati mengambil sayuran segar dan bunga- bunga. Ia menarik sebuah tas kecil dari kotak harta karun mereka dan mengisinya penuh dengan wewangian bunga lavender dan bunga- bunga merah muda.

Cheesepuff melihat saat Whiskers meletakkan hadiah mereka dengan baki mengerikan itu di ruang keluarga. Ia menandai seluruh tas itu dengan cap kakinya.

Esok hari, tikus- tikus itu mendengar teriakan, suara, dan tangisan. Segera, semua jebakan menghilang.

Ketika tikus kakak- beradik itu mengintip dapur malam itu, ada sebuah bungkusan besar di mana jebakan itu diletakkan. Whiskers curiga. “Jangan terlalu dekat,” ia berbisik seraya melihat sesuatu yang aneh.

“Tetapi mereka memberikan kita sebuah hadiah yang indah,” kata Cheesepuff sambil mengendus kertas pembungkus berwarna merah muda bermotif bulat- bulat dengan hidungnya.

Kedua tikus itu menyobek kertasnya dan menemukan sebuah susunan benda yang membuat mereka ingin tahu. Whiskers berguling- guling ke serutan kayu yang lembut di lantai dan menceburkan diri ke sebuah mangkok yang penuh dengan kepingan kacang, remah- remah kue dan potongan keripik. Ia berlari ke roda besar yang terus berputar dan berputar. Cheesepuff mengikutinya dan menemukan sebuah wortel di tempat lain.

“Aku basah kuyup,” teriaknya ketika ia bersandar pada botol minuman. “Inilah rumah!” kata Cheesepuff. “Benar- benar rumah kita. Sebuah rumah yang dibuat sesuai ukuran kita.”

Diterjemahkan dari A House for A Mouse | penulis: REBECCA WESTBERG

Hari yang Sibuk Kodok Barnaby

Di hari yang cerah kodok Barnaby sedang menyanyikan lagu “Seorang Polisi” dari Mikado.

Mikado adalah sebuah pertunjukan musik yang diciptakan oleh Pak Gilbert dan Pak Sulivan dan sering dinyanyikan oleh para kodok, sebab suara mereka sangat bersemangat.

Barnaby mengambil suara tinggi dengan mendongak ke langit.

Tiba- tiba ia berhenti menyanyi.

Ada burung Ork putih yang sangat besar melintas di angkasa.

Ork itu akan memangsa kodok Barnaby kecil untuk sarapan.

Barnaby melompat ke benda terdekatnya untuk berlindung. Ternyata ini adalah ember susu yang terbalik.

Dari celah bawah ember, Barnaby melihat Daisy Mazy, si gadis pemerah susu yang datang untuk memerah susu si Butterpob sapi.

Barnaby perlu tempat lain untuk bersembunyi. Ia sangat berharap sebisa mungkin.

Melompat,

Melompat- lompat,

Melompat, melompat, dan melompat…

Barnaby menceburkan diri ke bak air milik Percy si babi agar aman. Ork putih besar masih berputar- putar di atasnya di angkasa.

Mendengar suara percikan air, si Babi ingat ia sedang haus, lalu berlari menuju bak air itu.

Barnaby melihat Percy berlari sangat kencang dan terlihat sangat kehausan.

Barnaby tidak mau dirinya ikut terminum dan masuk ke dalam tubuh Percy.

Kemudian Barnaby berenang dan melompat sangat tinggi, ia mendarat di dekat tempat kubangan air.

Bukan tempat terbaik untuk bersembunyi karena terlalu sempit dan dingin.

Sebuah bekas wajan yang dibuang oleh seorang petani.

Barnaby kebigungan, apa yang harus ia lakukan.

Ketika si Percy babi berlari mendekatinya.

Kaki belakang Percy menyandung tangkai panci wajan itu. Membuat kodok Barnaby terlempar keluar dan terguling- guling.

Tidak pernah terbayangkan jika Barnaby terbang dengan sangat tinggi sekali. Namun, ia mampu, pikirnya.

Yang akhirnya melambung tinggi ke angkasa.

Ork putih besar melihat sarapannya terpelanting ke atas, lalu ia mengepakkan sayapnya berbalik arah untuk menyambar Barnaby yang malang.

Kodok Barnaby, ia terjun ke bawah.

Namun Ork putih besar hampir dekat, tidak ada yang bisa menghalanginya.

Ia bisa menangkap Barnaby kecil, tidak diragukan lagi.

Tiba- tiba ,

Dengan ceburan agak keras,

Barnaby mendarat ke kolam perairan sawah.

Barnaby bersembunyi di balik rumput- rumput liar dan bebatuan,

di dalam dasar kolam perairan sawah.

Yang Barnaby pikirkan,

ia tidak mau pindah,

Ia cukup senang, untuk satu hari yang cerah.

Diterjemahkan dari Barnaby Frog Busy Day | author: Tony J Moon

Kumbang Bobby Takut Terbang

Kumbang Bobby kecil adalah seekor anak kumbang. Lebah kumbang bisa terbang, tetapi kumbang Bobby tidak.

Ia tinggal di tempat yang sangat tinggi, di atas tanah, jauh sejauh mata memandang, di dalam sebuah sarang yang menggantung di ranting tertinggi dari pohon sycamore tua. Dan di dalam sarang yang sangat tinggi dan aman, ia bersama saudara- saudaranya laki- laki dan perempuan, dan ibunya, Ratu Marie.

Bobby memiliki sangat banyak saudara laki- laki yang ia sendiri tidak bisa menyebut nama mereka semuanya, tetapi tiga kesukaannya, yang semuda dengannya, adalah Johnny, George, dan Paul. Mereka selalu bermain bersama— selalu berempat dan tidak pernah lebih; karena yang lain sudah terlalu tua untuk bermain dan pasti sangat membosankan.

Dan kita mulai saja ceritanya di musim semi yang cerah dan indah, ketika Bobby, Johnny, George, dan Paul bermain di luar rumah. Mereka telah menghabiskan hari- hari mereka di dalam rumah, tetapi sekarang hujan sudah reda; dan waktunya meninggalkan sarang untuk sedikit kesenangan kumbang.

Pada saat bermain, tiba- tiba Johnny berpikir nakal— pikirnya mereka akan mau mengikutinya. Ia berkata, “Hei! Apa kalian melihat ranting di sana sepanjang hari? Aku bertaruh kita bisa terbang ke sana. Aku yang akan pergi duluan dan memimpin jalan.

“Kita tidak diijinkan untuk terbang jauh- jauh,” kata Bobby dengan gusar. “Kita hanya mendapatkan satu pelajaran dan belum selesai mempelajarinya. Kita boleh terbang jauh setelah kita menyelesaikan ujian terbang, tetapi sekarang, kita tidak diperbolehkan pergi terlalu jauh keluar batas.”

“Oh, jangan seperti bayi lebah,” kata Johnny sambil melirik. “Kelihatannya sangat mudah, terbang ke sana dan kemari.”

“Kita pasti mendapat masalah,” Bobby berkata. “Kita tidak akan pergi! Salah satu dari kita bisa jatuh ke tanah di bawah sana.”

“Aku akan pergi!” tegas Johnny. “Kita memiliki sayap! Kita tidak bisa jatuh! Kau bisa menunggu di sini jika kau memang penakut— memang kau tidak mempunyai keberanian.”

“Dan bagaiman dengan kalian berdua?” Johnny bertanya kepada George dan Paul. “Apa kalian cukup berani untuk terbang, atau kalian sama- sama penakut?”

“Kami bukan penakut seperti lebah Bobby kecil kita,” jawab Paul.

“Aku mau ikut!” tambah George, lalu mereka hanya bertiga.

Dan kemudian mereka mulai mendengung— mendengung sangat cepat, sementara Bobby berdiri di sana melihat mereka dengan takjub. Mereka naik melambung di udara dan berputar- putar di atas kepala Bobby.

“Kau adalah pena- pen- penakut, bayi lebah,” mereka mengejek.

Mereka bertiga terbang semakin tinggi di udara, tanpa ada yang peduli dengan Bobby. Mereka bertiga terbang membentuk pola zigzag dan berzigzag ke sana dan kemari. Mereka berhasil sampai ke ranting itu tanpa beristirahat. Jika sayap mereka sangat lelah, mereka bisa menggunakan bulunya.

Kemudian Johnny berteriak, “HEI BOBBY, KEMARILAH JIKA KAU BERANI!”

“Kalau kau bisa melakukannya, begitu juga aku,” kata Bobby, dengan terpaksa melakukannya. Lalu ia mengepakkan sayapnya sedikit demi sedikit dan bernapas panjang. Dengan mendengung keras, ia naik perlahan- lahan dan terus mendengung, terhuyung- huyung ke kanan dan ke kiri. Ia sangat takut, dan tidak yakin. Dengan gumpalan yang menempel di lehernya, semua bulunya tersibak ke atas menutupi wajahnya, sehingga ia terbang dengan susah payah karena ada benda yang menempel di matanya…

Benda itu jatuh ke tanah yang sangat sangat jauh di bawah langit— cukup jauh sehingga membuatnya gemetaran— cukup jauh yang bisa membuatnya mati. “ITU TINGGI SEKALI!” Bobby menangis. “OH ASTAGA! ITU SANGAT SANGAT TINGGI!” Kemudian ia kembali duduk di ranting, menundukkan kepalanya dan menangis tersedu- sedu, “Mengapa, jika aku seekor kumbang, sangat takut terbang?”

Bobby memilih kembali ke dalam sarangnya meninggalkan Johnny yang sedang menertawakannya. Ia mendongkol, mendongkol dan mendongkol, sedih dan putus asa. Bobby bersembunyi seharian di dalam sarang lebah kumbang. Ia sudah tidak tahan menampakkan wajahnya ke luar rumahnya…

… Sampai suatu hari, Ratu Marie menemukan tempat persembunyiannya, dan berkata, “Hei Bobby, mengapa kau cemberut?”

Bobby berkata, “Aku tidak bisa terbang. Aku adalah seekor kumbang yang buruk. Aku takut jatuh ke bawah pohon. Kurasa ada yang salah, sangat salah denganku.”

“Itu sangat bermasalah,” kata sang Ratu, “kau harus mengatasinya, tetapi kau tidak bisa terus- terusan di dalam rumah sepanjang hari dan menjadi seekor kumbang pemalas. Ada bunga- bunga yang harus diserbuki, pembuatan madu; ada pekerjaan yang perlu diselesaikan; karena kita adalah lebah kumbang yang terampil. Mungkin kau perlu belajar dari lebah kumbang tertua. Dia bisa mengajarkanmu cara terbang. Dia bisa mengajarkanmu untuk tidak jatuh. Namanya adalah kumbang Ringo, dan dia besar, mirip bola. Lebarnya sekitar dua inci, tingginya juga sekitar dua inci. Dan jika kau mau mengunjunginya, kita akan pergi sekarang.”

Lalu pergilah mereka, keluar dari sarang untuk bertemu dengan lebah Ringo ini. Tempatnya tidak begitu sulit— sangat mudah untuk menemukannya. Ratu Marie tidak bergurau ketika ia berkata, “dia besar”; juga ramah dan bersemangat. Badannya penuh dengan bulu halus kumbang.

“Aku mempunyai sedikit masalah,” kata sang Ratu, “untuk menyenangkan pikiran. Bobby perlu sedikit pelatihan— agar bisa menyelesaikan ujian terbangnya. Jadi bawalah dia dengan sayapmu dan buatlah dia sesiap mungkin. Ajari dia cara terbang— melambung tinggi di udara sama sepertimu.”

Lalu Ringo berkata, “Lompatlah ke punggungku. Kita akan berangkat.” Bobby menurut, dan dengan dua genggaman, ia menarik rambut Ringo keluar dari persembunyiannya. Mereka mulai mendengung. Ringo berteriak, “BERPEGANGAN ERAT!” Kemudian mereka meluncur ke tanah, sampai membuat tubuh Bobby bergetar ketakutan. Bobby yang malang memegang erat tengkuk Ringo sekuat tenaga.

Ringo membawa Bobby ke suatu tempat untuk mengejarinya semua yang ia tahu. Ia berkata, “Dengarkan aku, dan aku akan memberitahukanmu apa saja yang dilakukan.” Ringo memegang tangan Bobby dan menatap matanya, dan berkata,

“Tugas terbang ini ringan. Sungguh, lebih ringan daripada kue pai. Semua yang harus kau ketahui, ada dua hal yang penting:

satu: kau adalah seekor kumbang

dua:  kau memiliki sayap.

Dan jika kau mempelanting seolah- olah kakimu seperti pegas, tandanya kau bisa melambung di udara dan biarkan sayapmu yang melakukan tugasnya.”

Bobby mulai menghentakkan kakinya beberapa kali sambil menggerakkan sayapnya. Semakin lama kepakan sayapnya semakin cepat hingga tubuhnya melayang. Ia berkata, “Aku sudah siap— aku siap mencoba.”

“Kalau kau sudah siap,” Kumbang Ringo berkata, “terbanglah ke angkasa.”

Dengan senyuman di wajahnya dan kedipan di matanya, Bobby mempelantingkan diri ke atas, mencapai lebih dari dua kaki. “AKU BISA!” teriak Bobby, “AKU BISA! AKU BISA TERBANG!”

Namun ketika ia melambung terlalu tinggi, ia kembali dipenuhi oleh rasa takut. Ada yang salah lagi, ia melihat sekelilingnya. Bagaimana bisa? Mendengarkan lebih dekat, ia bisa mendengarnya, hampir terdengar jelas, suara yang terdengar seperti seekor lebah yang sangat kecil. Itu adalah Ringo yang jauh berada di bawahnya, sekarang terlihat lebih kecil dari seekor kutu. Ia melihat ke atas dengan sangat bangga, lalu berteriak, “ITU DIA, BOB-BY!”

Meskipun ia telah terbang sekitar dua kaki, mungkin tiga, ketinggian itu masih membuatnya gemetaran— yang membuatnya sangat ketakutan yaitu ketika sayapnya tiba- tiba berhenti mendengung, oh sangat tiba- tiba. Akibatnya Bobby jatuh, ia berteriak, “OH TIDAK!” Ia membentur tanah sangat keras sehingga kaki kumbangnya hampir patah.

“Itu tidak masalah. Kau melakukannya dengan baik,” kata Ringo dengan tersenyum. “Kau melakukan seperti kumbang ahli, dan terbang sangat tinggi.”

“Tetapi aku merasa,” kata Bobby dengan sedih. “aku tidak mengira akan jatuh. Kurasa aku telah menjadi kumbang terburuk dari mereka semua.”

“Omong kosong!” tegas Ringo. “Aku akan mengatakan sesuatu tentang apa yang kau perlukan. Lebih sering berlatih dengan sungguh- sungguh. Kita akan berlatih setiap hari. Kita akan latihan di tempat ini. Aku mau mengajari dan kau akan belajar, atau kumbang Ringo tidak mau lagi.”

Seterusnya Ringo yang mengajari, dan Bobby mempelajari; mereka berlatih setiap hari. Tetapi obby tetap jatuh dengan cara yang sama. “Aku menyerah! Aku tidak bisa melakukannya,” Bobby berkata setelah mencoba sekali lagi. “Aku kumbang yang salah, aku memang tidak bisa terbang.”

Kemudian Ringo menyuruhnya duduk dan menenangkannya dengan memegang tangannya. Ia berkata, “Aku harus mengatakan satu hal lagi kepadamu, dan kuharap kau mengerti. Jika kau menjaga sayapmu untuk tetap mendengung, kau tidak akan pernah jatuh. Ada keajaiban di balik sayapmu dan suara dengungan kumbang.”

“Keajaiban?” kata Bobby. “Aku hanya tidak percaya itu benar. Aku tidak percaya hal itu ada padaku atau padamu.”

“Itulah sebabnya kau jatuh,” Kumbang Ringo berkata dengan bijak. “Kau tidak mendengarkan sayapmu; kau hanya mendengarkan kepalamu. Kau bukan takut terbang; yang menakutimu adalah ketinggian. Dan karena melihat ke bawah rupanya membuat sayap kumbangmu kaku dan tertahan sehingga tidak bekerja dengan baik. Jadi ingatlah apa yang kukatakan kepadamu, dan renungkan hal ini nanti malam:

Seekor kumbang selalu mendengung dan sayap mereka selalu benar. Ada keajaiban di dalam dengungan kita. Mendengung menjaga lebah tetap terbang. Maka jagalah selalu dengungan sayapmu. Buzz— buzz— buzz dengan segenap tenagamu.”


Keesokan harinya, Bobby pergi keluar untuk berjalan- jalan di pohon. Ia mencari Ringo untuk berbicara antar kumbang. Ia telah merenungkan kata- kata Ringo sampai hampir larut malam, dan ia penasaran untuk membuktikan jika kata- kata Ringo itu benar. Ia sudah siap untuk pelajarannya. Ia sudah siap untuk terbang lagi. Namun, kumbang Ringo tidak terlihat di mana pun…

Dan saat ia melangkah sedikit lebih jauh, hanya melewati satu atau dua taman, Bobby berpapasan dengan saudara- saudara kumbangnya, Johnny, George, dan Paul. Mereka berdiri terpaku di sana tanpa mengeluarkan suara. Mereka melihat sesuatu yang mengerikan di bawah di tanah lapang.

“Ada apa?” Bobby bertanya. “Apa yang kalian lihat di bawah sana?” Dan ketika ia melihat apa yang mereka lihat, sesuatu membuatnya sangat takut. Itu Ringo yang akan diinjak oleh manusia. Manusia itu mendorong mesin pemotong rumput tanpa ragu. Ringo tidak mendengar kedatangannya; ia tidak bisa melindungi dirinya. Ia sedang menyerbuki bunga daisy yang tumbuh di taman. Tetapi manusia itu juga tidak bersalah; ia tidak tahu jika Ringo ada di sana. Tidak ada cara agar Ringo melihatnya, sejujurnya, sesungguhnya.

“Sayap kumbangnya patah!” Bobby terkejut. “Dia tidak bisa terbang! Dan mesin pemotong rumput itu semakin dekat! Kita harus menolongnya atau dia akan mati!”

“Apa kau sudah gila?” kata Johnny. “Dia sangat berat! Tidak mungkin kita bisa mengangkatnya. Dan kita berempat bisa jatuh.”

“Apa kau takut?” Bobby bertanya kepadanya, lalu melihat George dan Paul. Tetapi mereka bertiga hanya berdiri di sana, diam tidak menjawab.

“Aku akan pergi!” kata Bobby mantap. “Aku akan menyelamatkannya sementara kalian bertiga hanya duduk di sini di pohon ini. Aku akan mengangkatnya sendirian. Aku akan membawanya ke sarang. Aku akan menyelamatkannya dari mesin pemotong rumput. Aku akan membantunya untuk tetap hidup.”

Dan kemudian Bobby mulai mendengung— mulai mendengung sangat cepat, sedangkan Johnny, George dan Pal berdiri di sana melihat dengan takjub. Bobby melambung ke udara dan berputar- putar di atas kepala Johnny, dan ia lebih baik menjaga lidahnya daripada mengejeknya.

Ia terbang, melambung di udara, dan meluncur ke tanah. Dengan sayap kumbangnya ia mendengung dengan sekuat tenaga. Ia bisa melihat kumbang Ringonya dalam bahaya.

Dengan kecepatan tinggi, ia menuju ke sana dan mendarat di tanah. Ia berdiri di sebelah Ringo. Jantung kumbangnya berdetak kencang. Bulu Ringo sangat kotor, dan ekornya terpelintir. Ia mengalami patah di beberapa tulangnya, dan pergelangan tangannya keseleo. Tidak ada bagian lain tubuh Ringo yang lolos dari kaki manusia itu.

“Kau lihat!” kata Ringo dengan bangga. “Semua ada keajaiban. Kau menjaga sayapmu tetap mendengung, dan kau terbang, kau tidak jatuh.”

“Tetapi kau seharusnya tidak di sini,” Ringo berkata dengan lirih kepada Bobby. “Selamatkan dirimu selagi bisa, Bobby. Terbanglah sendirian.”

Tidak ada waktu lagi. Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Tidak ada waktu berpikir atau berhenti untuk merenung. Mesin pemotong rumput sudah dekat dan berjalan begitu saja dan memotong baik rumput hijau maupun rumput liar.

Secepat mungkin Bobby meraih tangan Ringo, lalu dengan kuat ia menginjakkan kakinya di tanah berpasir. Suara dengungan mulai terdengar, ia siap untuk terbang. Dengan napas panjang kumbangnya, ia melihat ke atas langit, dan berkata, “Jangan khawatir, Ringo. Aku tidak akan membiarkanmu mati.”

Melihat mesin pemotong rumput sudah di belakangnya, Bobby mempelantingkan tubuhnya. Ia merasa lebih ringan dari udara— sangat ringan. Mata pisau mesin pemotong rumput berputar sangat cepat. Oh iya, mesin itu sudah mendekat— hanya kurang dari tiga inci. Dan dengan sekali mempelanting, ia meluncur seperti roket, hampir menarik lengan Ringo yang sakit keluar dari persendiannya. Lalu naik, naik dengan mendengung keras seraya mesin pemotong rumput itu berjalan ke tanah mereka berada tadi.

Lalu ia naik dan terus naik, memegang erat tangan Ringo, sambil menjaga dengungan sayapnya sekuat tenaga lebah kumbang. Mereka mendengung sangat keras— sekeras yang ia bisa dengar. Mereka mendengung semakin tinggi— terdengar nyaring di telinga mereka. Dan sekitar dalam jarak mil kau bisa mendengarnya cukup jelas; Kumbang Bobby akhirnya telah mengalahkan ketakutannya.

Dengan Ringo yang masih digandengnya, Bobby terbang menuju ke sarang. Mereka berada di salah satu ruang di sarang kumbang, dan mereka berhasil sampai di rumah hidup- hidup. Segera mungkin Bobby memanggil dokter Kumbang untuk mengobati kumbang Ringo yang sedang dalam keadaan darurat. Ia menambal kedua sayapnya dan membalut sekeliling pergelangan tangannya, dan berkata, “Dia akan segera membaik, tetapi aku meminta dengan tegas kalau untuk tujuh hari ke depan— paling sedikit 168 jam, dia harus tinggal di rumah dan tidak boleh pergi untuk menyerbuki bunga.”

Kemudian, Ratu Marie mengumumkan bahwa Kumbang Bobby adalah penerbang terbaik. Malam itu ia mengadakan sebuah pesta, dan di depan para tamu, ia
menggantungkan sebuah medali emas di dada kumbangnya. Medali besar, dan berkilau, dan merupakan puncak keberhasilan. Lalu sang Ratu berkata dengan bangga, “Kumbang Bobby, aku terkesan sekali. Kau telah membuktikan kemampuanmu dan  lebih baik dari yang lain. Dan aku menyatakan, dengan medali simbol terbang, kau telah menyelesaikan ujian terbangmu.”

Dan tidak ada yang mengerti ketika Bobby begitu kuatnya mengangkat Ringo seperti sebuah crane. Tidak ada yang tahu atau bahkan bertanya alasannya mengapa ia tiba- tiba sangat berani terbang ke angkasa. Mungkin karena keajaiban di dalam dengungan yang ia buat. Atau mungkin dengungan ajaib putaran mata pisau mesin pemotong rumput. Sebenarnya tidak masalah tentang apa yang telah dianugerahkan padanya, melainkan hampir semua yang mereka kerjakan selesai dengan baik.

Dan setiap ia mengistirahatkan kepala kumbangnya di malam hari, Bobby memikirkan kata- kata Ringo sebelum ia mematikan lampu tidur kumbangnya:

“Seekor kumbang selalu mendengung, dan sayap mereka selalu benar. Ada keajaiban di dalam dengungan kita. Mendengung menjaga lebah agar tetap terbang.”

Dan ia tidak pernah melupakan dua hal penting yang dikatakan oleh Ringo:

satu: ia adalah seekor Kumbang.

dua: ia memiliki sayap.

 

Diterjemahkan dari Bobby Bumble’s Afraid to Fly | Author: Ethan Crownberry

Pengakuan

Orang itu meletakkan cerutunya di lantai di samping kaki kanan kursi yang ia duduki. Sepertinya ia sudah tidak tahan melihat perilaku Rian yang seperti melihat hantu atau monster. Lalu didekatinya Rian, ia duduk di tempat tidur tepat di belakang punggungnya. Rian merasakannya, mendengar nafasnya agak sesak, semakin menambahnya khawatir jika dibunuh.

Rian menggeser tubuhnya menjaga jarak jauh- jauh dari orang itu. Namun, orang itu malah menertawakannya, lalu berkata,

“Kau pikir aku hantu he?” Lalu tertawa lagi. “Aku ini Frans, benar- benar manusia. Kalau tidak yakin kau bisa memukulku atau menendangku. Coba saja,” tambahnya.

“Tidak. Kau Frans palsu. Frans yang sebenarnya sudah meninggal. Aku sendiri menyaksikan pemakamannya beberapa hari yang lalu,” Rian berkata dengan gemetaran.

“Apa kau bilang barusan?” tanya orang itu sambil memegang kaki Rian yang bergemetar.

“Frans s..sudah mati dan kau pasti b..bukan Frans, iya ‘kan?” Rian berteriak. “Pergilah kau! Jangan menggangguku, tolong pergilah,” kata Rian lagi. Kali ini nada suaranya mulai menurun.

Orang berjaket cokelat muda itu sudah habis kesabarannya. Ia lalu berdiri dari tempat tidur dengan raut muka kecewa. Dilihatnya cerutunya masih menyala dan asapnya masih mengepul. Ia melangkah menuju kursi yang sempat ia duduki tadi. Sebelum mendudukinya lagi, ia mengambil cerutunya yang sudah hampir setengah batang. Dengan tanpa ragu ia menghisapnya kembali sambil duduk. Kemudian ia mulai mengatakan sesuatu yang sebenarnya kepada Rian.

“Baik, aku mengerti. Sebenarnya, Frans tidak mati. Dia tidak dimakamkan seperti yang kau saksikan. Dan orang yang terlihat seperti Frans itu adalah… memang diriku. Itu adalah rencanaku, Rian, untuk bisa bertemu dengan madam Marry sendiri,” pak Frans berkata menjelaskan.

Rian masih sama, masih menutupi badannya dengan selimut abu- abu tebal. Ia masih ragu dengan pengakuan orang itu, yang mengaku sebagai pak Frans. Semakin lama dengan gaya tidur yang tetap, membuat kakinya kesemutan. Ia lalu merubah posisi tidurnya menghadap ke pintu sekaligus berhadapan dengan pak Frans.

“Heh kau masih bersembunyi saja, Rian. Dasar penakut. Sungguh sia- sia aku membawa sertamu ke Berin jika kau menjadi konyol seperti itu. Apa kau ingin pulang ke Marrow sekarang, he?” kata pak Frans.

“Ya, sejujurnya iya. Setelah kau dinyatakan mati aku bingung tidak mengerti apa- apa. Dengan Elle pun, dia sebenarnya menyukaimu, mungkin juga mencintaimu, aku tidak bisa terus menerima teror pembunuhan lagi,” Rian menjawab dengan lantang tetapi dibalik selimut.

“Kalau begitu segera kemasi barang- barangmu lalu kuantar kau ke stasiun sekarang. Ayo, tunggu apa lagi, Rian?” kata pak Frans setelah menghabiskan rokoknya.

“Dan sekali lagi. Aku adalah temanmu, Frans. Frans belum mati,” tegas pak Frans.

Rian sedikit mulai mempercayainya. Ia mengintipnya dari balik selimut. Ia melihat pak Frans duduk di kursi itu. Cerutunya? Ya, itu cerutu yang selalu dihisap olehnya. Pakaiannya memang seperti itu seringnya. Dan memakai topi hitam.

Dengan seluruh keberaniannya, Rian menyingkapkan selimut dari badannya. Ia sudah tidak takut melihatnya. Namun, ia masih sedikit ragu untuk mendekatinya. Ia menarik napas panjang, lalu berkata,

“Mengapa kau tidak memberitahuku soal rencanamu itu, Frans? Jika memang kau adalah Frans temanku, kau tahu minuman kesukaanku. Apa itu?” tanya Rian.

“Kau penyuka teh, apalagi teh lemon, serta senang makan biskuit cokelat,” jawab pak Frans.

“Baiklah,” kata Rian.

“Hanya itu?” kata pak Frans, “mudah sekali,”

“Jadi kau ke mana saja selama ini, Frans?” Rian bertanya sambil menyingkirkan selimut tebalny.

“Maafkan aku, aku terpaksa tidak memberitahumu dahulu karena terburu- buru. Setelah tersekap di tempat gelap itu, aku kemudian membuntuti seorang wanita yang mengaku sebagai madam Marry. Dia sebelumnya juga berada di ruangan itu, malah lebih buruk lagi. Sampai aku kehilangan jejaknya untuk sementara waktu. Setelah kau dan Elle pergi, lalu Teena, lalu madam Marry yang terakhir menjengukku di rumah sakit. Wajahnya sangat berbeda saat kutemui sebelumnya. Ia lebih cantik,” kata pak Frans menjelaskan.

“Lalu kalian bersekongkol membuat cerita ‘kau mati’? Mengapa seperti itu?” tanya Rian agak mendesak pak Frans.

“Supaya Teena tidak mengikutiku. Dan aku bisa lebih fokus mencari solusinya. Kau tahu tidak jika madam Marry sebenarnya tidak ke mana- mana? Dia masih di Berin. Dan yang membunuh bekas suaminya adalah… nona Jill, putrinya sendiri,” pak Frans berkata dengan jelas.

“A..apa? Kau bilang nona Jill yang membunuh ayah kandungnya sendiri? Itu tidak mungkin, kawan. Tidak masuk akal,” kata Rian terkejut.

“Ya, awalnya aku tidak yakin, tetapi semua keterangan yang datang padaku mengarah kepada Jill. Dan memang mengejutkan sekali ya.” Pak Frans berkata sambil melepas topi hitamnya.

“Jadi, aku harus menghubungi Elle segera. Jangan sampai dia menjadi korban selanjutnya,” kata Rian. Ia mencari handphone nya di tempat tidur.

“Apa kau mencari ini?” tanya pak Frans sambil menunjukkan sebuah handphone yang ia bawa.

“Oh iya, biar ku telepon Elle agar dia waspada sebab Jill berada di rumah kos nya,” Rian berkata. “Tolong berikan padaku handphoneku, Frans,”

Rian akhirnya mau mendekati pak Frans yang masih membawa handphonenya. Ia kemudian mundur lagi setelah pak Frans memberikannya.

———————————-

Orca, 1972

Rumah kos madam Maria masih kelihatan sepi. Jill dan suaminya masih di sana. Handphone Elle berdering nyaring terdengar suaranya dari luar kamar. Elle segera menuju ke kamarnya untuk menjawab teleponnya.

“Halo, ya, Rian,” kata Elle sembari menutup pintu kamarnya sedikit.

Apa Jill masih di situ?

“Iya, kenapa kalau iya?”

Ternyata dia yang sudah membuat tuan Noris meninggal, Elle.

“A..apa?! Jangan bicara sembarangan. Kau tahu dari siapa?” Elle berbisik.

Frans yang mengatakannya. Ia memiliki semua buktinya. Mungkin kau harus berhati- hati sekarang, Elle.

“Tidak. Aku sama sekali tidak percaya, Rian. Jill bukan seorang pembunuh. Dia bahkan sangat menyayangi tuan Noris dan sangat berat untuk meninggalkannya. Lalu Frans? Kau sudah bertemu dengannya?”

Iya dia ada di sini sekarang. Di rumah.

“Apa kau yakin dia benar- benar pak Frans? Atau jangan- jangan dia hanya berpura- pura menjadi pak Frans?”

Tutt. Belum terjawab pertanyaan Elle karena tiba- tiba sambungan teleponnya terputus.

“Halo, Rian, Rian…”

Elle menjadi bingung setelah mendengar kabar dari Rian. Lalu ia melihat Jill dari celah pintu yang terbuka sedikit. Jill melihatnya dengan rasa curiga. Dengan seluruh tekadnya Elle memberanikan diri untuk menemuinya. Dan ingin Jill menjelaskannya.

“Jill kau yang telah melakukannya? Kupikir kau ke sini ingin bertemu dengan ibu kandungmu, tetapi kau sendiri yang… membuat masalah,” Elle berkata dengan marah.

“Apa maksudmu? Kau menuduhku yang membunuh ayahku, begitu?” kata Jill. “Oh,” Jill menutup mulutnya. 

Finn melihatnya dengan tatapan tajam, dan berkata, “Jill, kau?”

“Tidak, bukan seperti itu yang sebenarnya. Dan kau, Elle, mengapa kau begitu yakin jika aku yang melakukannya? Siapa yang meneleponmu tadi?” tanya Jill dengan gelagapan.

“Hem, Rian. Dan pak Frans ada bersamanya,” Elle menjawab agak ketakutan.

Tidak lama Rian bersama pak Frans masuk ke rumah kos Elle dengan terengah- engah. Jill terkejut melihat kedatangan mereka yang sangat mendadak. Ia merasa terpojok karena tuduhan itu.

“Nona Jill, sebaiknya kau menyerahkan diri sekarang,” kata pak Frans.

“Apa- apaan ini?! Elle kau harus percaya padaku kalau aku bukan pelakunya, tolonglah, Finn bagaimana ini?” kata Jill panik.

“Sebentar, tuan- tuan sekalian. Sebaiknya kau jelaskan apa yang membuatmu berpikir jika Jill pelakunya, dan jangan terburu- buru,” kata Finn menengahi.

“Madam Marry melihat Jill membawa tubuh tuan Noris di suatu tempat. Tempat yang sama ketika ia disekap. Tetapi tuan Noris disembunyikan di ruang yang lain. Saat itu aku juga mendengarkan suara seorang pria yang menyedihkan. Ia ingin keluar dari tempat itu,” pak Frans menjelaskan.

“Lalu kau tahu tempat itu di mana, tuan Frans?” tanya Finn.

“Ya, aku juga berada di sana tiba- tiba setelah dari rumah madam Teena. Entahlah siapa yang membawaku saat itu. Pasti juga kau, nona Jill,” kata pak Frans seraya menunjuk Jill dengan cerutunya.

Jill menatap pak Frans dengan tajam. Kemudian ia bertanya, “Kalau begitu di mana dia sekarang?”

“Dia ada bersamaku sekarang, Nak,” kata madam Maria tiba- tiba. Ia keluar dari kamar bersama madam Marry. “Kau harus menceritakan yang sebenarnya, Jill,”

“Baiklah, aku mulai mengatakannya sekarang,” Jill berkata dengan gemetaran. “Tetapi aku tidak membunuh siapapun, termasuk ayahku dan Bibi. Mereka masih hidup. Mereka memang kusembunyikan,”

“Tetapi mengapa kau juga menyembunyikan madam Marry?” tanya Elle penasaran.

“Karena… dia sendiri yang menginginkan itu. Sesungguhnya ibu sendiri yang menyuruhku melakukan teror- teror mengerikan itu. Ya, karena dia ingin menghukum Teena dan ayah, yang tidak tulus mencintainya,” kata Jill dengan menangis. “Bicaralah ibu,”

Semua orang diam dan tidak menduga jika apa yang terjadi selama ini adalah rekayasa. Madam Marry memeluk Jill seraya berkata, “Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu,”

“Dan polisi- polisi itu? Dan petugas rumah sakit itu? Apa juga hanya berpura- pura?” Rian bertanya.

“Tidak. Mereka sungguhan melakukan penyelidikan. Tetapi Bibi yang sudah mengatur semuanya. Bibi memang asisten yang baik,” jawab madam Marry.

“Jadi kau memata- mataiku selama ini, madam Marry? Dan aku hanya menjadi bahan permainan dalam cerita ini. Baik. Sudah cukup,” pak Frans berkata lalu pergi keluar rumah kos. Ia duduk di luar sambil merokok.

“Dan apa madam Teena sudah tahu jika tuan Noris masih hidup?” tanya Elle kepada madam Marry.

“Sebaiknya dia tidak perlu mengetahuinya dan ingin tahu keberadaannya sekarang. Biarkan dia seperti apa adanya sekarang,” jawab madam Marry.

———————————-

Setelah pihak berwenang melakukan penyelidikan lebih lanjut, ketiga korban teror pembunuhan dinyatakan masih hidup. Namun polisi belum mengetahui siapa para pelaku teror tersebut dan masih dalam pencarian…

“Dia bilang apa?” Teena terperangah mendengar pernyataan pelapor berita di televisi. “Berarti mereka tidak benar- benar mati. Tidak mati,”

“Ada apa, ibu?” tanya Henof yang muncul dari belakang tiba- tiba.

Teena menengok ke belakang, lalu menjawab, “Noris masih hidup, begitu juga yang lain,”

Henof terkejut mendengar jawaban Teena.

“Oh astaga, mereka semua menipuku, dan pasti ulah Marry,” Teena berkata dengan marah. “Dia ingin memisahkanku dengan ayahmu, Nak. Tidak bisa dimaafkan,”

“Ibu sebaiknya tidak usah berhubungan dengannya lagi. Dan lagipula sebenarnya aku bukan keturunan Noris, bukan?” Henof berkata dengan sinis.

Teena lebih terkejut dengan perkataan putranya. Ia tidak mengira anaknya akan mengetahui hal itu. 

“Dan kau sudah mendapatkan apa yang kau mau di rumah ini. Jadi, tenanglah ibuku sayang,” tambah Henof lalu mengecup kening Teena.

T A M A T

Kisah Lama

Jill dan suaminya heran dengan sikap Rian saat mereka bertemu di kedai NikCola. Akhirnya Jill memutuskan untuk menemui Elle di rumah kosnya.

“Permisi, Elle, ini aku, Jill,” kata Jill.

Elle yang sedang berbaring di temoat tidurnya kemudian bangun. Ia mendengar suara temannya di luar.

“Jill kah itu?” kata Elle. Lalu ia keluar dari kamarnya dan membuka pintu.

“Hai, Elle,” kata Jill. “Apa kau sakit?”

“Ayo masuklah. Kita mengobrol di dalam saja,” kata Elle.

Jill bingung dengan sikap Elle yang tidak seperti biasanya saat mereka bertemu.

“Kau kenapa? Tadi Rian sekarang kau. Sebenarnya ada masalah apa, Elle?” tanya Jill.

Elle menggelengkan kepalanya. Wajahnya kelihatan sangat pucat.

“Maaf Jill, jika sikapku berbeda hari ini. Sedang banyak pikiran. Sebenarnya aku mau meneleponmu kemarin tetapi pulsaku sudah habis,” kata Elle menjelaskan.

“Lalu kau menyuruh Rian untuj meneleponku tadi malam?” tanya Jill.

“Em tidak, tidak begitu. Aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk menelepon teman- temanku terutama kau, Jill. Lagipula Rian tidak tahu nomormu,” kata Elle, “tetapi mungkin ada orang lain yang berpura- pura menjadi Rian lalu meneleponmu,”

“Hm, menyebalkan sekali orang itu. Dia dengan mendadak menyuruhku ke Berin untuk bertemu dengannya di kedai NikCola. Dan ternyata Rian bilang bahwa dia tidak meneleponku tadi malam. Malah dia buru- buru pergi lalu menyuruhku untuk datang ke sini,” kata Jill dengan kesal.

“Benarkah begitu?” tanya Elle.

“Iya. Finn saksinya,” jawab Jill. “Jadi, aku benar- benar tidak mengerti. Apa maksud Rian palsu itu?”

“Lalu saat kau berada di kedai NikCola apa kau sudah bertemu dengannya? Rian palsu,” Elle bertanya.

“Nyatanya tidak. Tidak ada yang menemuiku di sana tadi. Kalau dia tahu tentangku pasti dia akan langsung menemuiku,” jawab Jill.

Elle diam dan memikirkan sesuatu. Ia tiba- tiba ingat pak Frans. Ia ingat perilaku Rian palsu itu sama persis dengannya. Sebab Elle pernah dikerjai olehnya dengan berpura- pura menjadi teman kerjanya, hanya ingin bertemu dengannya. Tetapi tidak di kedai NikCola. Mereka bertemu di tempat lain.

“Elle, Elle,” kata Jill memanggil Elle.

“Oh, maaf. Aku melamun tadi he,” kata Elle gelagapan. “Oya, kau tahu pak Frans tidak?” tanya Elle melanjutkan.

“Pak Frans si pengacara itu? Ya, aku tahu tetapi tidak begitu mengenalnya. Memangnya kenapa?” kata Jill.

“Dia sudah meninggal,” kata Elle.

“Apa?!” kata Jill dan Finn terkejut.

“Maaf aku menyela, nona Elle,” kata Finn, “tetapi aku melihatnya masih baik- baik saja. Tadi di kedai NikCola,”

“Apa kau bercanda, tuan Finn?” tanya Elle terkejut.

“Tunggu,” kata Finn. Ia mengeluarkan telepon genggamnya dari tas kecilnya lalu menunjukkan sebuah foto kepada Elle. “Coba lihat ini,”

Elle melihat foto itu dengan seksama. Layar handphone milik Finn sangat terang dan bagus sehingga foto itu terlihat sangat jelas dan tidak buram walaupun untuk memfoto jarak jauh. Elle begitu terkejut setelah melihat apa yang ada di dalam foto itu.

“Oh astaga itu sangat tidak mungkin,” kata Elle, “tetapi sosok ini sama persis dengan pak Frans,”

Elle mengembalikan handphone kepada Finn. Mukanya berkeringat. Kelihatan dari wajahnya ekspresi ketakutan.

“Apa mungkin dia hantu?” tanya Elle merinding.

“Tidak, dia manusia. Dia juga minum kopi tadi. Bahkan juga tengah berbicara dengan seseorang. Mungkin temannya,” kata Finn.

“Kau tidak memberitahuku, Finn,” kata Jill tiba- tiba.

Finn hanya tersenyum kepada Jill. Tidak menjawab pertanyaannya.

“Apa karena itu Rian buru- buru pulang seperti katamu tadi?” kata Elle, “karena tadinya dia ingin ke toko buku,”

“Aku juga tidak mengerti,” kata Jill. “Oya apa kau sudah mendengar berita tentang ibuku lagi, Elle?”

“Seharusnya Rian yang menjawab sebab dia sudah bertemu dengan madam Marry di rumah pak Frans,” jawab Elle.

“Hm, masalahnya aku tidak bisa lama di Berin. Ah, mereka benar- benar membingungkan. Ibu kandung dan ibu tiri. Aku yakin penyebab ayahku meninggal adalah karena sikap mereka sendiri yang kekanak- kanakan,” kata Jill.

“Hei, jika memang begitu mengapa ada yang terbunuh? Dan kau sendiri juga belum paham seperti apa madam Marry, bukan?” kata Elle.

“Aku tahu tentangnya dari orang lain saja. Ayahku tidak bercerita banyak tentangnya, bahkan seolah dia membencinya. Karena ibuku itu meninggalkan kami begitu saja,” kata Jill.

Di tengah pembicaraan mereka, di balik pintu kamar madam Maria sudah mendengarkan semuanya. Ia ingin menceritakan hal yang sebenarnya tetapi ia tidak tega dengan Jill. Ia tidak ingin Jill sedih. Namun, suatu saat ia harus memberi tahu Jill tentang apa yang ia tahu…

———————————-

Rumah Sakit Anelise, 1972

Teena terbangun dari mimpi buruknya. Di samping ranjangnya sudah ada putranya, Henof. Ia masih tidur dan mendengkur. Seharusnya Teena menjemputnya di stasiun Morell tetapi nasib buruk telah menimpanya.

Kepalanya dibalut perban sehingga menjadi agak risih. Sudah empat hari ia dirawat di rumah sakit tetapi belum jelas kapan dibolehkan untuk pulang. Dokter Anne merawatnya dengan sangat baik.

“Hari ini nyonya Noris sudah boleh pulang dan ini resep untuk obatnya,” kata dokter Anne.

“Baik, dokter,” kata madam Maria.

Madam Maria masuk ke kamar Teena bersama dua orang suster. Ia membangunkan Henof dan menyuruhnya untuk berkemas- kemas.

“Nyonya Noris hari ini Anda sudah diperbolehkan pulang,” kata salah satu suster.

“Harus bersama dia?” tanya Teena dengan menunjuk madam Maria.

“Sudahlah ibu, ayo kita bersiap- siap,” kata Henof.

“Jika aku tidak diperlukan lagi, lebih baik aku pulang saja. Sudah ada putramu yang akan membantumu. Permisi,” kata madam Maria.

“Tunggu madam Maria,” kata Henof menghentikan langkah madam Maria, “aku ucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu, dan maafkan ibuku jika dia kasar padamu,”

“Oh tidak apa- apa, nak. Ibumu hanya perlu banyak istirahat dan tidak boleh berpikir berat. Maaf aku tidak bisa ikut mengantar ibumu. Permisi,” kata madam Maria lalu meninggalkan rumah sakit.

Henof melanjutkan berkemas- kemas. Saat ia merogoh tas yang tergeser di bawah ranjang, ia menemukan sebuah foto berbingkai kayu dengan ukiran klasik. Di dalam foto itu ada tiga orang remaja perempuan yang salah satunya adalah ibunya sendiri. Dua orang lainnya adalah madam Maria dan madam Marry. Mereka memakai baju dengan motif yang sama. Namun di antara ibunya dan madam Marry, foto itu seperti ada bekas sobekan. Mereka saling melihat satu sama lain tetapi tangan mereka seperti menggandeng seseorang. Lalu ia simpan foto itu ke dalam tasnya. Dan ia segera membantu ibunya berjalan keluar dari rumah sakit.

Di tengah perjalanan, Teena melamun. Ia memikirkan tentang kematian pak Frans. Dan orang yang begitu mirip dengan pak Frans yang sempat dilihatnya saat di rumah sakit sebelum ia pingsan. Ia ketakutan karena sering diteror soal pembunuhan. Bahkan ia sendiri menjadi korban. Teena masih menduga jika semua itu ulah madam Marry karena ia tahu jika madam Marry tidak senang tuan Noris menikahinya. Hanya soal klasik…

———————————-

Sementara Rian juga ketakutan akan hantu temannya. Ia juga masih hapal keusilan pak Frans yang senang berpura- pura menjadi orang lain saat menelepon. Ia ingin kembali ke Marrow dan cepat- cepat pergi dari Berin. 

Saat matanya akan terpejam, ia mendengar ada suara sepatu yang sama persis seperti milik pak Frans. Irama langkahnya sama. Ia lupa jika pintu kamarnya masih terbuka lebar. Seseorang itu masuk ke kamar Rian hanya sampai ke kursi di samping pintu. Orang itu lalu duduk sambil menyalakan sebatang rokok. Rian tidak ingin melihatnya tetapi ia sudah mendengarnya. Orang itu lalu memanggil Rian.

“Hei, Rian,” kata orang itu. “Apa yang sedang kau lakukan di balik selimut?”

“Hah, itu suara Frans,” bisik Rian, “tapi itu tidak mungkin…