Inspirasi Lokasi Pernikahan Unik

6 Lokasi Pernikahan Unik, Ada Yang Nikah Di Bus

http://m.tokovips.id/indo/news/201703230939572149/detail?access_token=eyJhbGciOiJIUzI1NiIsInR5cCI6IkpXVCJ9.eyJleHAiOjE0OTAzNTI0ODksInVzZXJfbmFtZSI6IjExMzMxMCIsInNjb3BlIjpbInJlYWQiLCJ3cml0ZSJdLCJhdXRob3JpdGllcyI6WyJST0xFX1VTRVIiXSwianRpIjoiMjBjODBiMTctMjFlZS00Yjk0LTk2N2MtZDRmMzFhYTJlZDEzIiwiY2xpZW50X2lkIjoidG9rb3ZpcHMtYW5kcm9pZCJ9.vukrSbTTYzO61GY9hLZfyuA5RKQ9olX0TrhjTL-Hnmc&userID=113310

Kumbang Bobby Takut Terbang

Kumbang Bobby kecil adalah seekor anak kumbang. Lebah kumbang bisa terbang, tetapi kumbang Bobby tidak.

Ia tinggal di tempat yang sangat tinggi, di atas tanah, jauh sejauh mata memandang, di dalam sebuah sarang yang menggantung di ranting tertinggi dari pohon sycamore tua. Dan di dalam sarang yang sangat tinggi dan aman, ia bersama saudara- saudaranya laki- laki dan perempuan, dan ibunya, Ratu Marie.

Bobby memiliki sangat banyak saudara laki- laki yang ia sendiri tidak bisa menyebut nama mereka semuanya, tetapi tiga kesukaannya, yang semuda dengannya, adalah Johnny, George, dan Paul. Mereka selalu bermain bersama— selalu berempat dan tidak pernah lebih; karena yang lain sudah terlalu tua untuk bermain dan pasti sangat membosankan.

Dan kita mulai saja ceritanya di musim semi yang cerah dan indah, ketika Bobby, Johnny, George, dan Paul bermain di luar rumah. Mereka telah menghabiskan hari- hari mereka di dalam rumah, tetapi sekarang hujan sudah reda; dan waktunya meninggalkan sarang untuk sedikit kesenangan kumbang.

Pada saat bermain, tiba- tiba Johnny berpikir nakal— pikirnya mereka akan mau mengikutinya. Ia berkata, “Hei! Apa kalian melihat ranting di sana sepanjang hari? Aku bertaruh kita bisa terbang ke sana. Aku yang akan pergi duluan dan memimpin jalan.

“Kita tidak diijinkan untuk terbang jauh- jauh,” kata Bobby dengan gusar. “Kita hanya mendapatkan satu pelajaran dan belum selesai mempelajarinya. Kita boleh terbang jauh setelah kita menyelesaikan ujian terbang, tetapi sekarang, kita tidak diperbolehkan pergi terlalu jauh keluar batas.”

“Oh, jangan seperti bayi lebah,” kata Johnny sambil melirik. “Kelihatannya sangat mudah, terbang ke sana dan kemari.”

“Kita pasti mendapat masalah,” Bobby berkata. “Kita tidak akan pergi! Salah satu dari kita bisa jatuh ke tanah di bawah sana.”

“Aku akan pergi!” tegas Johnny. “Kita memiliki sayap! Kita tidak bisa jatuh! Kau bisa menunggu di sini jika kau memang penakut— memang kau tidak mempunyai keberanian.”

“Dan bagaiman dengan kalian berdua?” Johnny bertanya kepada George dan Paul. “Apa kalian cukup berani untuk terbang, atau kalian sama- sama penakut?”

“Kami bukan penakut seperti lebah Bobby kecil kita,” jawab Paul.

“Aku mau ikut!” tambah George, lalu mereka hanya bertiga.

Dan kemudian mereka mulai mendengung— mendengung sangat cepat, sementara Bobby berdiri di sana melihat mereka dengan takjub. Mereka naik melambung di udara dan berputar- putar di atas kepala Bobby.

“Kau adalah pena- pen- penakut, bayi lebah,” mereka mengejek.

Mereka bertiga terbang semakin tinggi di udara, tanpa ada yang peduli dengan Bobby. Mereka bertiga terbang membentuk pola zigzag dan berzigzag ke sana dan kemari. Mereka berhasil sampai ke ranting itu tanpa beristirahat. Jika sayap mereka sangat lelah, mereka bisa menggunakan bulunya.

Kemudian Johnny berteriak, “HEI BOBBY, KEMARILAH JIKA KAU BERANI!”

“Kalau kau bisa melakukannya, begitu juga aku,” kata Bobby, dengan terpaksa melakukannya. Lalu ia mengepakkan sayapnya sedikit demi sedikit dan bernapas panjang. Dengan mendengung keras, ia naik perlahan- lahan dan terus mendengung, terhuyung- huyung ke kanan dan ke kiri. Ia sangat takut, dan tidak yakin. Dengan gumpalan yang menempel di lehernya, semua bulunya tersibak ke atas menutupi wajahnya, sehingga ia terbang dengan susah payah karena ada benda yang menempel di matanya…

Benda itu jatuh ke tanah yang sangat sangat jauh di bawah langit— cukup jauh sehingga membuatnya gemetaran— cukup jauh yang bisa membuatnya mati. “ITU TINGGI SEKALI!” Bobby menangis. “OH ASTAGA! ITU SANGAT SANGAT TINGGI!” Kemudian ia kembali duduk di ranting, menundukkan kepalanya dan menangis tersedu- sedu, “Mengapa, jika aku seekor kumbang, sangat takut terbang?”

Bobby memilih kembali ke dalam sarangnya meninggalkan Johnny yang sedang menertawakannya. Ia mendongkol, mendongkol dan mendongkol, sedih dan putus asa. Bobby bersembunyi seharian di dalam sarang lebah kumbang. Ia sudah tidak tahan menampakkan wajahnya ke luar rumahnya…

… Sampai suatu hari, Ratu Marie menemukan tempat persembunyiannya, dan berkata, “Hei Bobby, mengapa kau cemberut?”

Bobby berkata, “Aku tidak bisa terbang. Aku adalah seekor kumbang yang buruk. Aku takut jatuh ke bawah pohon. Kurasa ada yang salah, sangat salah denganku.”

“Itu sangat bermasalah,” kata sang Ratu, “kau harus mengatasinya, tetapi kau tidak bisa terus- terusan di dalam rumah sepanjang hari dan menjadi seekor kumbang pemalas. Ada bunga- bunga yang harus diserbuki, pembuatan madu; ada pekerjaan yang perlu diselesaikan; karena kita adalah lebah kumbang yang terampil. Mungkin kau perlu belajar dari lebah kumbang tertua. Dia bisa mengajarkanmu cara terbang. Dia bisa mengajarkanmu untuk tidak jatuh. Namanya adalah kumbang Ringo, dan dia besar, mirip bola. Lebarnya sekitar dua inci, tingginya juga sekitar dua inci. Dan jika kau mau mengunjunginya, kita akan pergi sekarang.”

Lalu pergilah mereka, keluar dari sarang untuk bertemu dengan lebah Ringo ini. Tempatnya tidak begitu sulit— sangat mudah untuk menemukannya. Ratu Marie tidak bergurau ketika ia berkata, “dia besar”; juga ramah dan bersemangat. Badannya penuh dengan bulu halus kumbang.

“Aku mempunyai sedikit masalah,” kata sang Ratu, “untuk menyenangkan pikiran. Bobby perlu sedikit pelatihan— agar bisa menyelesaikan ujian terbangnya. Jadi bawalah dia dengan sayapmu dan buatlah dia sesiap mungkin. Ajari dia cara terbang— melambung tinggi di udara sama sepertimu.”

Lalu Ringo berkata, “Lompatlah ke punggungku. Kita akan berangkat.” Bobby menurut, dan dengan dua genggaman, ia menarik rambut Ringo keluar dari persembunyiannya. Mereka mulai mendengung. Ringo berteriak, “BERPEGANGAN ERAT!” Kemudian mereka meluncur ke tanah, sampai membuat tubuh Bobby bergetar ketakutan. Bobby yang malang memegang erat tengkuk Ringo sekuat tenaga.

Ringo membawa Bobby ke suatu tempat untuk mengejarinya semua yang ia tahu. Ia berkata, “Dengarkan aku, dan aku akan memberitahukanmu apa saja yang dilakukan.” Ringo memegang tangan Bobby dan menatap matanya, dan berkata,

“Tugas terbang ini ringan. Sungguh, lebih ringan daripada kue pai. Semua yang harus kau ketahui, ada dua hal yang penting:

satu: kau adalah seekor kumbang

dua:  kau memiliki sayap.

Dan jika kau mempelanting seolah- olah kakimu seperti pegas, tandanya kau bisa melambung di udara dan biarkan sayapmu yang melakukan tugasnya.”

Bobby mulai menghentakkan kakinya beberapa kali sambil menggerakkan sayapnya. Semakin lama kepakan sayapnya semakin cepat hingga tubuhnya melayang. Ia berkata, “Aku sudah siap— aku siap mencoba.”

“Kalau kau sudah siap,” Kumbang Ringo berkata, “terbanglah ke angkasa.”

Dengan senyuman di wajahnya dan kedipan di matanya, Bobby mempelantingkan diri ke atas, mencapai lebih dari dua kaki. “AKU BISA!” teriak Bobby, “AKU BISA! AKU BISA TERBANG!”

Namun ketika ia melambung terlalu tinggi, ia kembali dipenuhi oleh rasa takut. Ada yang salah lagi, ia melihat sekelilingnya. Bagaimana bisa? Mendengarkan lebih dekat, ia bisa mendengarnya, hampir terdengar jelas, suara yang terdengar seperti seekor lebah yang sangat kecil. Itu adalah Ringo yang jauh berada di bawahnya, sekarang terlihat lebih kecil dari seekor kutu. Ia melihat ke atas dengan sangat bangga, lalu berteriak, “ITU DIA, BOB-BY!”

Meskipun ia telah terbang sekitar dua kaki, mungkin tiga, ketinggian itu masih membuatnya gemetaran— yang membuatnya sangat ketakutan yaitu ketika sayapnya tiba- tiba berhenti mendengung, oh sangat tiba- tiba. Akibatnya Bobby jatuh, ia berteriak, “OH TIDAK!” Ia membentur tanah sangat keras sehingga kaki kumbangnya hampir patah.

“Itu tidak masalah. Kau melakukannya dengan baik,” kata Ringo dengan tersenyum. “Kau melakukan seperti kumbang ahli, dan terbang sangat tinggi.”

“Tetapi aku merasa,” kata Bobby dengan sedih. “aku tidak mengira akan jatuh. Kurasa aku telah menjadi kumbang terburuk dari mereka semua.”

“Omong kosong!” tegas Ringo. “Aku akan mengatakan sesuatu tentang apa yang kau perlukan. Lebih sering berlatih dengan sungguh- sungguh. Kita akan berlatih setiap hari. Kita akan latihan di tempat ini. Aku mau mengajari dan kau akan belajar, atau kumbang Ringo tidak mau lagi.”

Seterusnya Ringo yang mengajari, dan Bobby mempelajari; mereka berlatih setiap hari. Tetapi obby tetap jatuh dengan cara yang sama. “Aku menyerah! Aku tidak bisa melakukannya,” Bobby berkata setelah mencoba sekali lagi. “Aku kumbang yang salah, aku memang tidak bisa terbang.”

Kemudian Ringo menyuruhnya duduk dan menenangkannya dengan memegang tangannya. Ia berkata, “Aku harus mengatakan satu hal lagi kepadamu, dan kuharap kau mengerti. Jika kau menjaga sayapmu untuk tetap mendengung, kau tidak akan pernah jatuh. Ada keajaiban di balik sayapmu dan suara dengungan kumbang.”

“Keajaiban?” kata Bobby. “Aku hanya tidak percaya itu benar. Aku tidak percaya hal itu ada padaku atau padamu.”

“Itulah sebabnya kau jatuh,” Kumbang Ringo berkata dengan bijak. “Kau tidak mendengarkan sayapmu; kau hanya mendengarkan kepalamu. Kau bukan takut terbang; yang menakutimu adalah ketinggian. Dan karena melihat ke bawah rupanya membuat sayap kumbangmu kaku dan tertahan sehingga tidak bekerja dengan baik. Jadi ingatlah apa yang kukatakan kepadamu, dan renungkan hal ini nanti malam:

Seekor kumbang selalu mendengung dan sayap mereka selalu benar. Ada keajaiban di dalam dengungan kita. Mendengung menjaga lebah tetap terbang. Maka jagalah selalu dengungan sayapmu. Buzz— buzz— buzz dengan segenap tenagamu.”


Keesokan harinya, Bobby pergi keluar untuk berjalan- jalan di pohon. Ia mencari Ringo untuk berbicara antar kumbang. Ia telah merenungkan kata- kata Ringo sampai hampir larut malam, dan ia penasaran untuk membuktikan jika kata- kata Ringo itu benar. Ia sudah siap untuk pelajarannya. Ia sudah siap untuk terbang lagi. Namun, kumbang Ringo tidak terlihat di mana pun…

Dan saat ia melangkah sedikit lebih jauh, hanya melewati satu atau dua taman, Bobby berpapasan dengan saudara- saudara kumbangnya, Johnny, George, dan Paul. Mereka berdiri terpaku di sana tanpa mengeluarkan suara. Mereka melihat sesuatu yang mengerikan di bawah di tanah lapang.

“Ada apa?” Bobby bertanya. “Apa yang kalian lihat di bawah sana?” Dan ketika ia melihat apa yang mereka lihat, sesuatu membuatnya sangat takut. Itu Ringo yang akan diinjak oleh manusia. Manusia itu mendorong mesin pemotong rumput tanpa ragu. Ringo tidak mendengar kedatangannya; ia tidak bisa melindungi dirinya. Ia sedang menyerbuki bunga daisy yang tumbuh di taman. Tetapi manusia itu juga tidak bersalah; ia tidak tahu jika Ringo ada di sana. Tidak ada cara agar Ringo melihatnya, sejujurnya, sesungguhnya.

“Sayap kumbangnya patah!” Bobby terkejut. “Dia tidak bisa terbang! Dan mesin pemotong rumput itu semakin dekat! Kita harus menolongnya atau dia akan mati!”

“Apa kau sudah gila?” kata Johnny. “Dia sangat berat! Tidak mungkin kita bisa mengangkatnya. Dan kita berempat bisa jatuh.”

“Apa kau takut?” Bobby bertanya kepadanya, lalu melihat George dan Paul. Tetapi mereka bertiga hanya berdiri di sana, diam tidak menjawab.

“Aku akan pergi!” kata Bobby mantap. “Aku akan menyelamatkannya sementara kalian bertiga hanya duduk di sini di pohon ini. Aku akan mengangkatnya sendirian. Aku akan membawanya ke sarang. Aku akan menyelamatkannya dari mesin pemotong rumput. Aku akan membantunya untuk tetap hidup.”

Dan kemudian Bobby mulai mendengung— mulai mendengung sangat cepat, sedangkan Johnny, George dan Pal berdiri di sana melihat dengan takjub. Bobby melambung ke udara dan berputar- putar di atas kepala Johnny, dan ia lebih baik menjaga lidahnya daripada mengejeknya.

Ia terbang, melambung di udara, dan meluncur ke tanah. Dengan sayap kumbangnya ia mendengung dengan sekuat tenaga. Ia bisa melihat kumbang Ringonya dalam bahaya.

Dengan kecepatan tinggi, ia menuju ke sana dan mendarat di tanah. Ia berdiri di sebelah Ringo. Jantung kumbangnya berdetak kencang. Bulu Ringo sangat kotor, dan ekornya terpelintir. Ia mengalami patah di beberapa tulangnya, dan pergelangan tangannya keseleo. Tidak ada bagian lain tubuh Ringo yang lolos dari kaki manusia itu.

“Kau lihat!” kata Ringo dengan bangga. “Semua ada keajaiban. Kau menjaga sayapmu tetap mendengung, dan kau terbang, kau tidak jatuh.”

“Tetapi kau seharusnya tidak di sini,” Ringo berkata dengan lirih kepada Bobby. “Selamatkan dirimu selagi bisa, Bobby. Terbanglah sendirian.”

Tidak ada waktu lagi. Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Tidak ada waktu berpikir atau berhenti untuk merenung. Mesin pemotong rumput sudah dekat dan berjalan begitu saja dan memotong baik rumput hijau maupun rumput liar.

Secepat mungkin Bobby meraih tangan Ringo, lalu dengan kuat ia menginjakkan kakinya di tanah berpasir. Suara dengungan mulai terdengar, ia siap untuk terbang. Dengan napas panjang kumbangnya, ia melihat ke atas langit, dan berkata, “Jangan khawatir, Ringo. Aku tidak akan membiarkanmu mati.”

Melihat mesin pemotong rumput sudah di belakangnya, Bobby mempelantingkan tubuhnya. Ia merasa lebih ringan dari udara— sangat ringan. Mata pisau mesin pemotong rumput berputar sangat cepat. Oh iya, mesin itu sudah mendekat— hanya kurang dari tiga inci. Dan dengan sekali mempelanting, ia meluncur seperti roket, hampir menarik lengan Ringo yang sakit keluar dari persendiannya. Lalu naik, naik dengan mendengung keras seraya mesin pemotong rumput itu berjalan ke tanah mereka berada tadi.

Lalu ia naik dan terus naik, memegang erat tangan Ringo, sambil menjaga dengungan sayapnya sekuat tenaga lebah kumbang. Mereka mendengung sangat keras— sekeras yang ia bisa dengar. Mereka mendengung semakin tinggi— terdengar nyaring di telinga mereka. Dan sekitar dalam jarak mil kau bisa mendengarnya cukup jelas; Kumbang Bobby akhirnya telah mengalahkan ketakutannya.

Dengan Ringo yang masih digandengnya, Bobby terbang menuju ke sarang. Mereka berada di salah satu ruang di sarang kumbang, dan mereka berhasil sampai di rumah hidup- hidup. Segera mungkin Bobby memanggil dokter Kumbang untuk mengobati kumbang Ringo yang sedang dalam keadaan darurat. Ia menambal kedua sayapnya dan membalut sekeliling pergelangan tangannya, dan berkata, “Dia akan segera membaik, tetapi aku meminta dengan tegas kalau untuk tujuh hari ke depan— paling sedikit 168 jam, dia harus tinggal di rumah dan tidak boleh pergi untuk menyerbuki bunga.”

Kemudian, Ratu Marie mengumumkan bahwa Kumbang Bobby adalah penerbang terbaik. Malam itu ia mengadakan sebuah pesta, dan di depan para tamu, ia
menggantungkan sebuah medali emas di dada kumbangnya. Medali besar, dan berkilau, dan merupakan puncak keberhasilan. Lalu sang Ratu berkata dengan bangga, “Kumbang Bobby, aku terkesan sekali. Kau telah membuktikan kemampuanmu dan ┬álebih baik dari yang lain. Dan aku menyatakan, dengan medali simbol terbang, kau telah menyelesaikan ujian terbangmu.”

Dan tidak ada yang mengerti ketika Bobby begitu kuatnya mengangkat Ringo seperti sebuah crane. Tidak ada yang tahu atau bahkan bertanya alasannya mengapa ia tiba- tiba sangat berani terbang ke angkasa. Mungkin karena keajaiban di dalam dengungan yang ia buat. Atau mungkin dengungan ajaib putaran mata pisau mesin pemotong rumput. Sebenarnya tidak masalah tentang apa yang telah dianugerahkan padanya, melainkan hampir semua yang mereka kerjakan selesai dengan baik.

Dan setiap ia mengistirahatkan kepala kumbangnya di malam hari, Bobby memikirkan kata- kata Ringo sebelum ia mematikan lampu tidur kumbangnya:

“Seekor kumbang selalu mendengung, dan sayap mereka selalu benar. Ada keajaiban di dalam dengungan kita. Mendengung menjaga lebah agar tetap terbang.”

Dan ia tidak pernah melupakan dua hal penting yang dikatakan oleh Ringo:

satu: ia adalah seekor Kumbang.

dua: ia memiliki sayap.

 

Diterjemahkan dari Bobby Bumble’s Afraid to Fly | Author: Ethan Crownberry