Pengakuan

Orang itu meletakkan cerutunya di lantai di samping kaki kanan kursi yang ia duduki. Sepertinya ia sudah tidak tahan melihat perilaku Rian yang seperti melihat hantu atau monster. Lalu didekatinya Rian, ia duduk di tempat tidur tepat di belakang punggungnya. Rian merasakannya, mendengar nafasnya agak sesak, semakin menambahnya khawatir jika dibunuh.

Rian menggeser tubuhnya menjaga jarak jauh- jauh dari orang itu. Namun, orang itu malah menertawakannya, lalu berkata,

“Kau pikir aku hantu he?” Lalu tertawa lagi. “Aku ini Frans, benar- benar manusia. Kalau tidak yakin kau bisa memukulku atau menendangku. Coba saja,” tambahnya.

“Tidak. Kau Frans palsu. Frans yang sebenarnya sudah meninggal. Aku sendiri menyaksikan pemakamannya beberapa hari yang lalu,” Rian berkata dengan gemetaran.

“Apa kau bilang barusan?” tanya orang itu sambil memegang kaki Rian yang bergemetar.

“Frans s..sudah mati dan kau pasti b..bukan Frans, iya ‘kan?” Rian berteriak. “Pergilah kau! Jangan menggangguku, tolong pergilah,” kata Rian lagi. Kali ini nada suaranya mulai menurun.

Orang berjaket cokelat muda itu sudah habis kesabarannya. Ia lalu berdiri dari tempat tidur dengan raut muka kecewa. Dilihatnya cerutunya masih menyala dan asapnya masih mengepul. Ia melangkah menuju kursi yang sempat ia duduki tadi. Sebelum mendudukinya lagi, ia mengambil cerutunya yang sudah hampir setengah batang. Dengan tanpa ragu ia menghisapnya kembali sambil duduk. Kemudian ia mulai mengatakan sesuatu yang sebenarnya kepada Rian.

“Baik, aku mengerti. Sebenarnya, Frans tidak mati. Dia tidak dimakamkan seperti yang kau saksikan. Dan orang yang terlihat seperti Frans itu adalah… memang diriku. Itu adalah rencanaku, Rian, untuk bisa bertemu dengan madam Marry sendiri,” pak Frans berkata menjelaskan.

Rian masih sama, masih menutupi badannya dengan selimut abu- abu tebal. Ia masih ragu dengan pengakuan orang itu, yang mengaku sebagai pak Frans. Semakin lama dengan gaya tidur yang tetap, membuat kakinya kesemutan. Ia lalu merubah posisi tidurnya menghadap ke pintu sekaligus berhadapan dengan pak Frans.

“Heh kau masih bersembunyi saja, Rian. Dasar penakut. Sungguh sia- sia aku membawa sertamu ke Berin jika kau menjadi konyol seperti itu. Apa kau ingin pulang ke Marrow sekarang, he?” kata pak Frans.

“Ya, sejujurnya iya. Setelah kau dinyatakan mati aku bingung tidak mengerti apa- apa. Dengan Elle pun, dia sebenarnya menyukaimu, mungkin juga mencintaimu, aku tidak bisa terus menerima teror pembunuhan lagi,” Rian menjawab dengan lantang tetapi dibalik selimut.

“Kalau begitu segera kemasi barang- barangmu lalu kuantar kau ke stasiun sekarang. Ayo, tunggu apa lagi, Rian?” kata pak Frans setelah menghabiskan rokoknya.

“Dan sekali lagi. Aku adalah temanmu, Frans. Frans belum mati,” tegas pak Frans.

Rian sedikit mulai mempercayainya. Ia mengintipnya dari balik selimut. Ia melihat pak Frans duduk di kursi itu. Cerutunya? Ya, itu cerutu yang selalu dihisap olehnya. Pakaiannya memang seperti itu seringnya. Dan memakai topi hitam.

Dengan seluruh keberaniannya, Rian menyingkapkan selimut dari badannya. Ia sudah tidak takut melihatnya. Namun, ia masih sedikit ragu untuk mendekatinya. Ia menarik napas panjang, lalu berkata,

“Mengapa kau tidak memberitahuku soal rencanamu itu, Frans? Jika memang kau adalah Frans temanku, kau tahu minuman kesukaanku. Apa itu?” tanya Rian.

“Kau penyuka teh, apalagi teh lemon, serta senang makan biskuit cokelat,” jawab pak Frans.

“Baiklah,” kata Rian.

“Hanya itu?” kata pak Frans, “mudah sekali,”

“Jadi kau ke mana saja selama ini, Frans?” Rian bertanya sambil menyingkirkan selimut tebalny.

“Maafkan aku, aku terpaksa tidak memberitahumu dahulu karena terburu- buru. Setelah tersekap di tempat gelap itu, aku kemudian membuntuti seorang wanita yang mengaku sebagai madam Marry. Dia sebelumnya juga berada di ruangan itu, malah lebih buruk lagi. Sampai aku kehilangan jejaknya untuk sementara waktu. Setelah kau dan Elle pergi, lalu Teena, lalu madam Marry yang terakhir menjengukku di rumah sakit. Wajahnya sangat berbeda saat kutemui sebelumnya. Ia lebih cantik,” kata pak Frans menjelaskan.

“Lalu kalian bersekongkol membuat cerita ‘kau mati’? Mengapa seperti itu?” tanya Rian agak mendesak pak Frans.

“Supaya Teena tidak mengikutiku. Dan aku bisa lebih fokus mencari solusinya. Kau tahu tidak jika madam Marry sebenarnya tidak ke mana- mana? Dia masih di Berin. Dan yang membunuh bekas suaminya adalah… nona Jill, putrinya sendiri,” pak Frans berkata dengan jelas.

“A..apa? Kau bilang nona Jill yang membunuh ayah kandungnya sendiri? Itu tidak mungkin, kawan. Tidak masuk akal,” kata Rian terkejut.

“Ya, awalnya aku tidak yakin, tetapi semua keterangan yang datang padaku mengarah kepada Jill. Dan memang mengejutkan sekali ya.” Pak Frans berkata sambil melepas topi hitamnya.

“Jadi, aku harus menghubungi Elle segera. Jangan sampai dia menjadi korban selanjutnya,” kata Rian. Ia mencari handphone nya di tempat tidur.

“Apa kau mencari ini?” tanya pak Frans sambil menunjukkan sebuah handphone yang ia bawa.

“Oh iya, biar ku telepon Elle agar dia waspada sebab Jill berada di rumah kos nya,” Rian berkata. “Tolong berikan padaku handphoneku, Frans,”

Rian akhirnya mau mendekati pak Frans yang masih membawa handphonenya. Ia kemudian mundur lagi setelah pak Frans memberikannya.

———————————-

Orca, 1972

Rumah kos madam Maria masih kelihatan sepi. Jill dan suaminya masih di sana. Handphone Elle berdering nyaring terdengar suaranya dari luar kamar. Elle segera menuju ke kamarnya untuk menjawab teleponnya.

“Halo, ya, Rian,” kata Elle sembari menutup pintu kamarnya sedikit.

Apa Jill masih di situ?

“Iya, kenapa kalau iya?”

Ternyata dia yang sudah membuat tuan Noris meninggal, Elle.

“A..apa?! Jangan bicara sembarangan. Kau tahu dari siapa?” Elle berbisik.

Frans yang mengatakannya. Ia memiliki semua buktinya. Mungkin kau harus berhati- hati sekarang, Elle.

“Tidak. Aku sama sekali tidak percaya, Rian. Jill bukan seorang pembunuh. Dia bahkan sangat menyayangi tuan Noris dan sangat berat untuk meninggalkannya. Lalu Frans? Kau sudah bertemu dengannya?”

Iya dia ada di sini sekarang. Di rumah.

“Apa kau yakin dia benar- benar pak Frans? Atau jangan- jangan dia hanya berpura- pura menjadi pak Frans?”

Tutt. Belum terjawab pertanyaan Elle karena tiba- tiba sambungan teleponnya terputus.

“Halo, Rian, Rian…”

Elle menjadi bingung setelah mendengar kabar dari Rian. Lalu ia melihat Jill dari celah pintu yang terbuka sedikit. Jill melihatnya dengan rasa curiga. Dengan seluruh tekadnya Elle memberanikan diri untuk menemuinya. Dan ingin Jill menjelaskannya.

“Jill kau yang telah melakukannya? Kupikir kau ke sini ingin bertemu dengan ibu kandungmu, tetapi kau sendiri yang… membuat masalah,” Elle berkata dengan marah.

“Apa maksudmu? Kau menuduhku yang membunuh ayahku, begitu?” kata Jill. “Oh,” Jill menutup mulutnya. 

Finn melihatnya dengan tatapan tajam, dan berkata, “Jill, kau?”

“Tidak, bukan seperti itu yang sebenarnya. Dan kau, Elle, mengapa kau begitu yakin jika aku yang melakukannya? Siapa yang meneleponmu tadi?” tanya Jill dengan gelagapan.

“Hem, Rian. Dan pak Frans ada bersamanya,” Elle menjawab agak ketakutan.

Tidak lama Rian bersama pak Frans masuk ke rumah kos Elle dengan terengah- engah. Jill terkejut melihat kedatangan mereka yang sangat mendadak. Ia merasa terpojok karena tuduhan itu.

“Nona Jill, sebaiknya kau menyerahkan diri sekarang,” kata pak Frans.

“Apa- apaan ini?! Elle kau harus percaya padaku kalau aku bukan pelakunya, tolonglah, Finn bagaimana ini?” kata Jill panik.

“Sebentar, tuan- tuan sekalian. Sebaiknya kau jelaskan apa yang membuatmu berpikir jika Jill pelakunya, dan jangan terburu- buru,” kata Finn menengahi.

“Madam Marry melihat Jill membawa tubuh tuan Noris di suatu tempat. Tempat yang sama ketika ia disekap. Tetapi tuan Noris disembunyikan di ruang yang lain. Saat itu aku juga mendengarkan suara seorang pria yang menyedihkan. Ia ingin keluar dari tempat itu,” pak Frans menjelaskan.

“Lalu kau tahu tempat itu di mana, tuan Frans?” tanya Finn.

“Ya, aku juga berada di sana tiba- tiba setelah dari rumah madam Teena. Entahlah siapa yang membawaku saat itu. Pasti juga kau, nona Jill,” kata pak Frans seraya menunjuk Jill dengan cerutunya.

Jill menatap pak Frans dengan tajam. Kemudian ia bertanya, “Kalau begitu di mana dia sekarang?”

“Dia ada bersamaku sekarang, Nak,” kata madam Maria tiba- tiba. Ia keluar dari kamar bersama madam Marry. “Kau harus menceritakan yang sebenarnya, Jill,”

“Baiklah, aku mulai mengatakannya sekarang,” Jill berkata dengan gemetaran. “Tetapi aku tidak membunuh siapapun, termasuk ayahku dan Bibi. Mereka masih hidup. Mereka memang kusembunyikan,”

“Tetapi mengapa kau juga menyembunyikan madam Marry?” tanya Elle penasaran.

“Karena… dia sendiri yang menginginkan itu. Sesungguhnya ibu sendiri yang menyuruhku melakukan teror- teror mengerikan itu. Ya, karena dia ingin menghukum Teena dan ayah, yang tidak tulus mencintainya,” kata Jill dengan menangis. “Bicaralah ibu,”

Semua orang diam dan tidak menduga jika apa yang terjadi selama ini adalah rekayasa. Madam Marry memeluk Jill seraya berkata, “Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu,”

“Dan polisi- polisi itu? Dan petugas rumah sakit itu? Apa juga hanya berpura- pura?” Rian bertanya.

“Tidak. Mereka sungguhan melakukan penyelidikan. Tetapi Bibi yang sudah mengatur semuanya. Bibi memang asisten yang baik,” jawab madam Marry.

“Jadi kau memata- mataiku selama ini, madam Marry? Dan aku hanya menjadi bahan permainan dalam cerita ini. Baik. Sudah cukup,” pak Frans berkata lalu pergi keluar rumah kos. Ia duduk di luar sambil merokok.

“Dan apa madam Teena sudah tahu jika tuan Noris masih hidup?” tanya Elle kepada madam Marry.

“Sebaiknya dia tidak perlu mengetahuinya dan ingin tahu keberadaannya sekarang. Biarkan dia seperti apa adanya sekarang,” jawab madam Marry.

———————————-

Setelah pihak berwenang melakukan penyelidikan lebih lanjut, ketiga korban teror pembunuhan dinyatakan masih hidup. Namun polisi belum mengetahui siapa para pelaku teror tersebut dan masih dalam pencarian…

“Dia bilang apa?” Teena terperangah mendengar pernyataan pelapor berita di televisi. “Berarti mereka tidak benar- benar mati. Tidak mati,”

“Ada apa, ibu?” tanya Henof yang muncul dari belakang tiba- tiba.

Teena menengok ke belakang, lalu menjawab, “Noris masih hidup, begitu juga yang lain,”

Henof terkejut mendengar jawaban Teena.

“Oh astaga, mereka semua menipuku, dan pasti ulah Marry,” Teena berkata dengan marah. “Dia ingin memisahkanku dengan ayahmu, Nak. Tidak bisa dimaafkan,”

“Ibu sebaiknya tidak usah berhubungan dengannya lagi. Dan lagipula sebenarnya aku bukan keturunan Noris, bukan?” Henof berkata dengan sinis.

Teena lebih terkejut dengan perkataan putranya. Ia tidak mengira anaknya akan mengetahui hal itu. 

“Dan kau sudah mendapatkan apa yang kau mau di rumah ini. Jadi, tenanglah ibuku sayang,” tambah Henof lalu mengecup kening Teena.

T A M A T

Advertisements

Kisah Lama

Jill dan suaminya heran dengan sikap Rian saat mereka bertemu di kedai NikCola. Akhirnya Jill memutuskan untuk menemui Elle di rumah kosnya.

“Permisi, Elle, ini aku, Jill,” kata Jill.

Elle yang sedang berbaring di temoat tidurnya kemudian bangun. Ia mendengar suara temannya di luar.

“Jill kah itu?” kata Elle. Lalu ia keluar dari kamarnya dan membuka pintu.

“Hai, Elle,” kata Jill. “Apa kau sakit?”

“Ayo masuklah. Kita mengobrol di dalam saja,” kata Elle.

Jill bingung dengan sikap Elle yang tidak seperti biasanya saat mereka bertemu.

“Kau kenapa? Tadi Rian sekarang kau. Sebenarnya ada masalah apa, Elle?” tanya Jill.

Elle menggelengkan kepalanya. Wajahnya kelihatan sangat pucat.

“Maaf Jill, jika sikapku berbeda hari ini. Sedang banyak pikiran. Sebenarnya aku mau meneleponmu kemarin tetapi pulsaku sudah habis,” kata Elle menjelaskan.

“Lalu kau menyuruh Rian untuj meneleponku tadi malam?” tanya Jill.

“Em tidak, tidak begitu. Aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk menelepon teman- temanku terutama kau, Jill. Lagipula Rian tidak tahu nomormu,” kata Elle, “tetapi mungkin ada orang lain yang berpura- pura menjadi Rian lalu meneleponmu,”

“Hm, menyebalkan sekali orang itu. Dia dengan mendadak menyuruhku ke Berin untuk bertemu dengannya di kedai NikCola. Dan ternyata Rian bilang bahwa dia tidak meneleponku tadi malam. Malah dia buru- buru pergi lalu menyuruhku untuk datang ke sini,” kata Jill dengan kesal.

“Benarkah begitu?” tanya Elle.

“Iya. Finn saksinya,” jawab Jill. “Jadi, aku benar- benar tidak mengerti. Apa maksud Rian palsu itu?”

“Lalu saat kau berada di kedai NikCola apa kau sudah bertemu dengannya? Rian palsu,” Elle bertanya.

“Nyatanya tidak. Tidak ada yang menemuiku di sana tadi. Kalau dia tahu tentangku pasti dia akan langsung menemuiku,” jawab Jill.

Elle diam dan memikirkan sesuatu. Ia tiba- tiba ingat pak Frans. Ia ingat perilaku Rian palsu itu sama persis dengannya. Sebab Elle pernah dikerjai olehnya dengan berpura- pura menjadi teman kerjanya, hanya ingin bertemu dengannya. Tetapi tidak di kedai NikCola. Mereka bertemu di tempat lain.

“Elle, Elle,” kata Jill memanggil Elle.

“Oh, maaf. Aku melamun tadi he,” kata Elle gelagapan. “Oya, kau tahu pak Frans tidak?” tanya Elle melanjutkan.

“Pak Frans si pengacara itu? Ya, aku tahu tetapi tidak begitu mengenalnya. Memangnya kenapa?” kata Jill.

“Dia sudah meninggal,” kata Elle.

“Apa?!” kata Jill dan Finn terkejut.

“Maaf aku menyela, nona Elle,” kata Finn, “tetapi aku melihatnya masih baik- baik saja. Tadi di kedai NikCola,”

“Apa kau bercanda, tuan Finn?” tanya Elle terkejut.

“Tunggu,” kata Finn. Ia mengeluarkan telepon genggamnya dari tas kecilnya lalu menunjukkan sebuah foto kepada Elle. “Coba lihat ini,”

Elle melihat foto itu dengan seksama. Layar handphone milik Finn sangat terang dan bagus sehingga foto itu terlihat sangat jelas dan tidak buram walaupun untuk memfoto jarak jauh. Elle begitu terkejut setelah melihat apa yang ada di dalam foto itu.

“Oh astaga itu sangat tidak mungkin,” kata Elle, “tetapi sosok ini sama persis dengan pak Frans,”

Elle mengembalikan handphone kepada Finn. Mukanya berkeringat. Kelihatan dari wajahnya ekspresi ketakutan.

“Apa mungkin dia hantu?” tanya Elle merinding.

“Tidak, dia manusia. Dia juga minum kopi tadi. Bahkan juga tengah berbicara dengan seseorang. Mungkin temannya,” kata Finn.

“Kau tidak memberitahuku, Finn,” kata Jill tiba- tiba.

Finn hanya tersenyum kepada Jill. Tidak menjawab pertanyaannya.

“Apa karena itu Rian buru- buru pulang seperti katamu tadi?” kata Elle, “karena tadinya dia ingin ke toko buku,”

“Aku juga tidak mengerti,” kata Jill. “Oya apa kau sudah mendengar berita tentang ibuku lagi, Elle?”

“Seharusnya Rian yang menjawab sebab dia sudah bertemu dengan madam Marry di rumah pak Frans,” jawab Elle.

“Hm, masalahnya aku tidak bisa lama di Berin. Ah, mereka benar- benar membingungkan. Ibu kandung dan ibu tiri. Aku yakin penyebab ayahku meninggal adalah karena sikap mereka sendiri yang kekanak- kanakan,” kata Jill.

“Hei, jika memang begitu mengapa ada yang terbunuh? Dan kau sendiri juga belum paham seperti apa madam Marry, bukan?” kata Elle.

“Aku tahu tentangnya dari orang lain saja. Ayahku tidak bercerita banyak tentangnya, bahkan seolah dia membencinya. Karena ibuku itu meninggalkan kami begitu saja,” kata Jill.

Di tengah pembicaraan mereka, di balik pintu kamar madam Maria sudah mendengarkan semuanya. Ia ingin menceritakan hal yang sebenarnya tetapi ia tidak tega dengan Jill. Ia tidak ingin Jill sedih. Namun, suatu saat ia harus memberi tahu Jill tentang apa yang ia tahu…

———————————-

Rumah Sakit Anelise, 1972

Teena terbangun dari mimpi buruknya. Di samping ranjangnya sudah ada putranya, Henof. Ia masih tidur dan mendengkur. Seharusnya Teena menjemputnya di stasiun Morell tetapi nasib buruk telah menimpanya.

Kepalanya dibalut perban sehingga menjadi agak risih. Sudah empat hari ia dirawat di rumah sakit tetapi belum jelas kapan dibolehkan untuk pulang. Dokter Anne merawatnya dengan sangat baik.

“Hari ini nyonya Noris sudah boleh pulang dan ini resep untuk obatnya,” kata dokter Anne.

“Baik, dokter,” kata madam Maria.

Madam Maria masuk ke kamar Teena bersama dua orang suster. Ia membangunkan Henof dan menyuruhnya untuk berkemas- kemas.

“Nyonya Noris hari ini Anda sudah diperbolehkan pulang,” kata salah satu suster.

“Harus bersama dia?” tanya Teena dengan menunjuk madam Maria.

“Sudahlah ibu, ayo kita bersiap- siap,” kata Henof.

“Jika aku tidak diperlukan lagi, lebih baik aku pulang saja. Sudah ada putramu yang akan membantumu. Permisi,” kata madam Maria.

“Tunggu madam Maria,” kata Henof menghentikan langkah madam Maria, “aku ucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu, dan maafkan ibuku jika dia kasar padamu,”

“Oh tidak apa- apa, nak. Ibumu hanya perlu banyak istirahat dan tidak boleh berpikir berat. Maaf aku tidak bisa ikut mengantar ibumu. Permisi,” kata madam Maria lalu meninggalkan rumah sakit.

Henof melanjutkan berkemas- kemas. Saat ia merogoh tas yang tergeser di bawah ranjang, ia menemukan sebuah foto berbingkai kayu dengan ukiran klasik. Di dalam foto itu ada tiga orang remaja perempuan yang salah satunya adalah ibunya sendiri. Dua orang lainnya adalah madam Maria dan madam Marry. Mereka memakai baju dengan motif yang sama. Namun di antara ibunya dan madam Marry, foto itu seperti ada bekas sobekan. Mereka saling melihat satu sama lain tetapi tangan mereka seperti menggandeng seseorang. Lalu ia simpan foto itu ke dalam tasnya. Dan ia segera membantu ibunya berjalan keluar dari rumah sakit.

Di tengah perjalanan, Teena melamun. Ia memikirkan tentang kematian pak Frans. Dan orang yang begitu mirip dengan pak Frans yang sempat dilihatnya saat di rumah sakit sebelum ia pingsan. Ia ketakutan karena sering diteror soal pembunuhan. Bahkan ia sendiri menjadi korban. Teena masih menduga jika semua itu ulah madam Marry karena ia tahu jika madam Marry tidak senang tuan Noris menikahinya. Hanya soal klasik…

———————————-

Sementara Rian juga ketakutan akan hantu temannya. Ia juga masih hapal keusilan pak Frans yang senang berpura- pura menjadi orang lain saat menelepon. Ia ingin kembali ke Marrow dan cepat- cepat pergi dari Berin. 

Saat matanya akan terpejam, ia mendengar ada suara sepatu yang sama persis seperti milik pak Frans. Irama langkahnya sama. Ia lupa jika pintu kamarnya masih terbuka lebar. Seseorang itu masuk ke kamar Rian hanya sampai ke kursi di samping pintu. Orang itu lalu duduk sambil menyalakan sebatang rokok. Rian tidak ingin melihatnya tetapi ia sudah mendengarnya. Orang itu lalu memanggil Rian.

“Hei, Rian,” kata orang itu. “Apa yang sedang kau lakukan di balik selimut?”

“Hah, itu suara Frans,” bisik Rian, “tapi itu tidak mungkin…

Tersangka

York, 1972

Finn sedang membaca surat kabar di ruang tamu. Surat kabar yang didapatkannya tadi pagi itu agak basah terkena embun. Ia membaca kolom berita terhangat yang memuat berita tentang kota Berin. Matanya membaca kata per kata dengan sangat serius. Ketika ia membaca judul ‘Percobaan Pembunuhan di Rumah Sakit Anelise’, dengan spontan ia memanggil istrinya, Jill.

“Hei, Jill, Jill kemarilah, cepat!” kata Finn. Ia lalu meneguk kopinya yang sudah hampir dingin. Jill yang sedang membuat camilan di dapur segera meninggalkan aktifitasnya untuk memenuhi panggilan suaminya.

“Iya, sayang. Ada apa?” kata Jill. Ia duduk di samping Finn sambil mengelap keringat dengan tisu.

“Kau masih ingat ibu Teena, bukan? Dia menjadi sasaran pembunuhan di rumah sakit itu. Tempat di mana kau dilahirkan oleh ibu kandungmu,” kata Finn dengan wajah serius.

Jill menatap wajah Finn dengan serius juga, lalu berkata, “I..ibu Teena? Di rumah sakit Anelise?”

“Ya,” jawab Finn sambil mengangguk.

“Sedang apa dia di sana? Dan siapa yang ingin membunuhnya?” tanya Jill. Ia menggesek- gesek telapak tangannya yang agak dingin karena gugup.

“Ibu Teena dikabarkan pingsan saat berada di rumahnya. Saat itu pembantunya yang bernama Bibi itu sudah menjadi mayat dan tergeletak di depan pintu kamar ibu Teena. Mungkin karena dia sangat kaget, lalu tiba- tiba dia pingsan,” jawab Finn.

Jill mengernyitkan dahi karena jawaban Finn tidak memuaskan. Lalu ia memberi pertanyaan yang lain.

“Apa di koran itu ada keterangan tentang pelakunya?” tanya Jill.

“Di sini dinyatakan kalau salah seorang pihak rumah sakit ditemui oleh seseorang yang memakai jaket kulit berwarna cokelat muda dan bertopi hitam. Tetapi ia tidak membawa senjata apapun bentuknya,” jawab Finn.

“Lalu apa yang dilakukan oleh orang itu?” tanya Jill lagi.

“Hem aku tidak menemukan jawabannya di koran ini, Jill, maaf. Ya, mungkin saja orang itu tidak ada hubungannya dengan ibu Teena. Mungkin saja orang itu hanya orang biasa yang ingin menjenguk kerabanya yang sakit,” jawab Finn.

“Hei Finn, ini juga masalah yang serius. Jika orang itu mendekati ibu Teena mungkin saja dia juga tahu tentang ibuku. Jika orang itu dikabarkan di koran berarti dia juga ada dalam kasus ini,” kata Jill.

“Kau mencurigai orang itu sebagai pelakunya?” tanya Finn. Lalu Finn tertawa pelan. “Sudahlah, Jill, sudah cukup membahas kasus itu dan saatnya kita beristirahat, oke?” tambah Finn.

“Hem, baiklah, aku membersihkan diri dahulu,” kata Jill lalu beranjak ke dapur lagi untuk membereskan peralatan dapurnya dan mencuci tangannya.

Finn berjalan menuju ke kamarnya. “Oya, sayang, camilannya sekalian kau bawa ke atas. Aku menjadi lapar, he,” kata Finn.

Di dapur, Jill mencuci tangannya di wastafel. Setelah itu ia membawa camilannya ke kamarnya. Namun ketika ia akan menaiki tangga, telepon genggamnya berbunyi. Ia meletakkan camilannya di meja telepon.

“Halo,” jawab Jill.

Nona Jill, ini aku Rian…

“Rian? Rian siapa?” tanya Jill.

Aku teman Elle di Berin. Elle ingin bertemu denganmu besok di sini. Apa kau bisa?

“Oh, tetapi mengapa tidak Elle sendiri yang menghubungiku? Ada apa dengannya?” tanya Jill dengan khawatir.

Maafkan dia nona, Elle sendiri yang menyuruhku meneleponmu dengan nomorku. Elle baik- baik saja di sini. Bagaimana nona?

“Baik, baik, aku ke sana besok bersama suamiku,” kata Jill.

Kita bertemu di kedai NikCola…

“Oke, baik,” kata Jill. Jill diam merenung memikirkan apa yang diinginkan oleh Elle. Mengapa ia mendadak menyuruhnya datang ke Berin besok?

“Jill, sayang, ayolah,” kata Finn dengan berteriak.

Panggilan Finn membuyarkan lamunan Jill seketika. Dan ia segera membawa camilannya ke kamarnya.


 

Orca, 1972, Rumah Kos

Elle berencana tidak masuk kerja hari ini. Ia ingin mengistirahatkan diri di rumah. Badannya sedang tidak enak, sehingga ia terpaksa ijin meliburkan diri. Ia pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi hitam. Madam Maria sudah meniggalkan kos pagi- pagi sekali untuk berbelanja ke pasar. Memang sudah menjadi kebiasaannya bangun pagi- pagi, lebih pagi dari jam bangun Elle dan penghuni kos yang lain. Ketika Elle sedang menikmati kopinya di ruang tamu, salah satu teman kosnya yang bernama Liza menegurnya,

“Elle, itu gelasku. Mengapa kau memakainya?”

“Oya? Aduh maaf Liz, aku benar- benar tidak tahu kalau gelas ini milikmu, maaf,” kata Elle menyesal.

“Heh, sudahlah kau pakai saja. Oya Elle, pacarmu sudah tidak ke sini lagi ya?” tanya Liza.

“Pacar? Siapa memangnya?” tanya Elle dengan terkejut.

“Ah, itu Rian!” seru Liza ketika melihat Rian datang.

Elle tersenyum ketika Rian masuk ke rumahnya.

“Selamat pagi, Elle,” kata Rian menyapa Elle.

“Selamat pagi, Rian,” kata Elle. “Sudah lama kau tidak kemari. Ada masalah?” tanya Elle.

“Eh aku malas keluar rumah saja, Elle. Oya, kau sudah ijin, bukan?” tanya Rian.

“Sudah. Apa kita harus pergi sekarang?” kata Elle.

“Tidak usah buru- buru. Lagipula kau harus banyak- banyak istirahat. Apa Jill sudah menghubungimu lagi?” tanya Rian.

“Ah, belum. Kemarin aku tidak bisa menghubunginya karena pulsaku habis,” jawab Elle.

“Hem, baiklah,” kata Rian.

“Kalau saja semua ini tidak terjadi pasti kota Berin selalu aman,” kata Elle tiba- tiba.

Rian melihat Elle dengan heran, lalu berkata, “Sudah nasibnya, Elle,”

“Nyonya Noris maksudmu?” tanya Elle.

“Iya. Siapa lagi,” jawab Rian. “Kalau saja dia segera mengakui perbuatannya, kota ini tidak dipenuhi berita teror pembunuhan, bukan?” kata Rian melanjutkan. Ia lalu mengambil biskuit cokelat di meja.

“Ya, kau benar. Tetapi aku belum yakin kalau yang membunuh pak Frans adalah nyonya Noris. Sebab dia juga mencintainya, kelihatannya,” kata Elle.

“Lalu siapa lagi kalau bukan dia, Elle? Apa kau mencurigai orang lain?” tanya Rian.

“Ya, yang pasti …pasti ada yang lain, entahlah,” kata Elle.

“Hem, kau sangat capek kelihatannya. Apa kau perlu istirahat?” tanya Rian.

“Iya sepertinya. Ini tujuanku tidak masuk kerja, he,” jawab Elle. “Kau tidak apa- apa ‘kan Rian jika kutinggal tidur di kamar?”

“Oh, tidak masalah, Elle. Silakan kau tidur dan aku juga akan pulang,” kata Rian lalu tersenyum.

Elle mengangguk lalu pergi ke kamarnya. Rian pun keluar dari rumah kos untuk pulang. Ia mengendarai sepeda saja agar tidak susah memarkirkannya ketika ia mampir ke toko buku. Ketika ia melewati kedai NikCola, ia melihat Jill dan suaminya di sana. Dengan segera ia menghampiri mereka di tempat itu. Rian agak buru- buru memarkirkan sepedanya.


 

“Jill?” sapa Rian.

“Eh, kau Rian?” tanya Jill.

“Iya, saya Rian, teman Elle,” jawab Rian.

“Ada keperluan apa kita bertemu di sini?” tanya Jill.

“Apa? Keperluan? Ah saya tadi melihatmu dan suamimu di sini ketika melewati kedai ini. Jadi, sekalian saya mampir. Lalu mengapa kau tidak menelepon Elle? Saya tadi baru saja dari rumah kosnya dan katanya dia sedang sakit,” kata Rian.

“Apa kau sedang bercanda, Rian?” tanya Jill.

“Tidak, saya serius. Memangnya ada apa, Jill?” kata Rian dengan penuh penasaran.

“Astaga, lalu Rian siapa yang meneleponku kemarin sore? Dia yang menyuruhku ke kedai ini untuk bertemu dengannya,” kata Jill mulai khawatir.

“Dia mengaku sebagai aku? Jangan- jangan…,” kata Rian.

“Jangan- jangan apa? Kau kenal dia?” tanya Jill menginterogasi.

“Bukan begitu maksudku. Tolong jangan salah paham. Maaf saya harus pulang sekarang. Lebih baik jika kalian ke rumah kos madam Maria sekarang. Permisi,” kata Rian.

Jill dan Finn saling memandang dengan tidak percaya. Jill sangat bingung. Rian sudah tancap gas menuju rumahnya. Rencananya akan ke toko buku ia batalkan begitu saja…

Kenangan Teena

Berin 1972, Rumah Sakit Anelise

Di rumah sakit Anelise, Teena berbaring lemah di ranjangnya. Matanya masih terpejam. Kabel infus di hidungnya sepertinya membuatnya tidak nyaman. Seumur- umur ia baru sekali ini diinfus.

Di luar kamarnya, banyak orang yang ingin menjenguknya. Namun, entah ragu atau apa mereka belum juga masuk di ruangan itu. Salah satu dari mereka bertanya soal keadaan Teena kepada seorang dokter yang baru saja keluar dari kamarnya. Dokter itu baru selesai memeriksa kondisi Teena.

“Apa dia baik- baik saja, dokter?” tanya orang itu.

“Ya, dia akan sadar beberapa saat lagi. Tetapi Anda sebaiknya tidak mengajaknya bicara dahulu. Permisi,” jawab dokter itu

Dari dalam kamar, kedua telinga Teena bisa mendengarkan percakapan kedua orang itu samar- samar. Lalu matanya terbuka pelan- pelan. Ia mencoba menggerakkan tangannya yang juga diinfus. Ia merasakan sakit di kepalanya sehingga ia ingin memejamkan kedua matanya saja.

Ah, apa yang terjadi padaku…, batin Teena.

Selang beberapa detik ada seseorang yang masuk ke kamar Teena. Ia adalah madam Maria si pemilik rumah kos yang ditempati oleh Elle.

“Teena,” kata madam Maria dengan suara pelan.

Teena tidak menjawab panggilan madam Maria. Ia hanya membuka mata dan sudah mengetahui bahwa orang yang masuk adalah madam Maria.

“Apa yang sudah terjadi padamu?” tanya madam Maria.

Lagi- lagi Teena tidak mempedulikan madam Maria. Ia mengalihkan matanya dari madam Maria. Ia menggerakkan kepalanya menengok ke kanan, ke arah botol infus.

“Kau masih marah padaku, Teena? Apa gunanya itu? Sudah sejak lama kita berteman tetapi tiba- tiba sikapmu berubah setelah menikah dengan suami barumu itu,” kata madam Maria.

“Lalu apa maumu?” tanya Teena.

“Hem, kau masih angkuh rupanya. Apa kau tidak ingat siapa yang mengenalkanmu dengan Noris itu? Ya, sekarang dia sudah mati, jadi aku tidak perlu sungkan hanya memanggil namanya,” kata madam Maria.

Teena hanya diam saja. Ia tidak menanggapi omongan madam Maria. Namun hatinya kesal karena madam Maria mengungkit masa lalunya. Lalu madam Maria meletakkan parsel buah di atas meja di samping televisi. Ia kemudian berjalan mendekati Teena dan duduk di kursi di samping ranjang.

“Sayang sekali kau sedang tidak berdaya sekarang. Mungkin ini yang namanya karma, Teena. Kau mesti memperbaikinya mulai sekarang sebelum ada pemakaman lagi,” kata madam Maria.

“Apa maksudmu tentang pemakaman? Apa kau yang sudah merencanakan semua ini? Bicara padaku Maria!” kata Teena dengan suara meninggi.

“He, jangan menuduhku Teena. Aku tidak tahu soal kematian orang- orang dekatmu itu. Yang jelas pasti ada yang tidak suka denganmu. Dan itu bukan berarti aku.” kata madam Maria dengan suara pelan. “Barangkali kau memiliki masalah dengan keluarga Noris. Dengan anaknya atau istrinya? Dan kau tahu kalau Jill datang di rumahku kemarin?” tanya madam Maria.

“Jill? Gadis itu? Apa dia berkata sesuatu tentang ibunya?” tanya Teena.

“Eh, tidak. Dia hanya bicara soal keinginannya untuk bertemu madam Marry. Mengapa kau terlihat gugup?” tanya madam Maria.

“Benarkah? Aku tidak apa- apa. Tolong kau jangan membicarakan soal Marry di sini. Aku muak dengannya karena dia sudah menikahi Noris. Seharusnya aku menjadi istri Noris untuk pertama kali, bukan dia,” kata Teena.

“Lalu apa kau sudah tahu keberadaan madam Marry?” tanya madam Maria.

“Tidak. Seharusnya dia sudah dipenjara karena sudah membunuh Noris,” jawab Teena.

“Dia? Kau punya bukti apa soal Marry? He, kau jangan menuduhnya kalau kau tidak punya bukti yang akurat. Hanya karena kau tidak suka padanya lalu kau sebut dia sebagai tersangka,” kata madam Maria.

“Lalu kau membelanya? Aku yang seharusnya kau dukung,” kata Teena. “Aduh, kepalaku sakit sekali,” katanya lagi.

Teena memegang kepalanya dengan tangan kiri. Sakit kepalanya kambuh.

“Teena kau kenapa?” tanya madam Maria mulai panik. “Kupanggilkan dokter sekarang. Kau harus tenang,” katanya melanjutkan.

Madam Maria segera keluar untuk memanggil dokter. Teena berusaha menahan sakit kepalanya sendirian. Matanya berkunang- kunang sehingga tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Namun ada sosok yang terlihat sedikit jelas mendekatinya dengan membawa sebuah benda. Sosok itu berbaju cokelat dan bertopi. Lalu… Bukk! Teena tidak sadarkan diri. Badannya tergeletak di lantai dengan mata terbuka. Jarum infusnya terlepas dari tangannya karena ketarik ke bawah. Sosok itu melihat kondisi Teena sebentar lalu ia menjepitkan sebuah tongkat baseball di tangan kiri Teena. Kemudian ia pergi sambil tersenyum puas…

Beberapa saat kemudian madam Maria dan dokter serta dua perawatnya kembali ke ruangan Teena. Mereka terkejut sekali melihat kondisi Teena.

“Oh Tuhan, Teena! Teena! Bangunlah,” kata madam Maria dengan suara histeris. “Dokter tolong dia, tolong,” katanya melanjutkan.

Tubuh Teena diangkat lalu dibaringkan di ranjangnya. Tongkat baseball masih tergeletak di lantai. Madam Maria akan mengambilnya tetapi salah satu perawat melarangnya.

“Maaf nyonya sebaiknya tidak menyentuh benda itu sebab nanti akan diperiksa oleh polisi,” kata perawat laki- laki.

“Ah, iya,” kata madam Maria.

Ia tidak jadi mengambil benda itu tetapi ia masih melihatinya dengan penasaran. Ia melihat setiap detail tongkat baseball itu. Yang ia temukan adalah huruf F dengan dua titik di atasnya.

Sepertinya ada orang yang mencoba ingin membunuhnya. Apa mungkin dia itu Frans? Ah, aku tidak yakin dan itu tidak akan mungkin, kata madam Maria dalam hati.

Madam Maria mengalihkan pandangannya ke Teena. Ia tidak menduga jika temannya itu akan seperti ini kondisinya. Matanya sudah tertutup dan infusnya sudah dikembalikan ke tempat semula. Dokter menyarankan madam Maria untuk meninggalkan ruang pasien. Lalu mereka keluar dari kamar Teena.

Madam Maria dipersilakan untuk masuk ke ruang dokter. Dia adalah dokter Anne.

“Maaf dokter, sebenarnya teman saya sakit apa?” tanya madam Maria.

Dokter Anne melepas kacamatanya lalu menjawab, “pasien tadi terkena pukulan dari benda yang keras sehingga beliau mengalami gangguan syaraf di otaknya.”

“Astaga, lalu bagaimana solusinya, dokter?” tanya madam Maria.

“Sementara beliau jangan dijenguk dahulu, nyonya, agar masa pengobatannya lebih efektif. Dan setiap hari beliau harus menjalani pemeriksaan di laboratorium di rumah sakit ini,” jawab dokter Anne.

“Eh, iya dokter. Saya serahkan teman saya kepada dokter. Saya sudah percaya,” kata madam Maria.

“Terima kasih, nyonya. Dan saya juga salut dengan nyonya karena Anda sangat baik terhadap teman Anda. Beruntung nyonya Teena bisa segera dirawat di sini dan Anda yang mengantarkannya,” kata dokter Anne.

“Iya, dokter. Kalau begitu saya permisi dahulu, dokter. Tolong sembuhkan Teena,” kata madam Maria.

Dokter Anne mengangguk lalu berkata, “Pasti, nyonya,”

Madam Maria keluar dari ruang dokter Anne. Ia masih merasa bingung tentang Teena. Dan tongkat baseball yang ada ditangannya. Pikirannya sempat macam- macam karena melihat huruf F dengan dua titik hitam di atasnya. Ia berharap bukan pak Frans yang melakukannya…

Bibi yang Malang

Rupanya sangat mudah membuatnya kacau. Aku semakin penasaran bagaimana jika alur skenario ini dilanjutkan. Kita memang sama- sama pembuat cerita yang handal, tetapi sebentar lagi ceritamu akan dikalahkan oleh kesaksianmu, Teena…

——————————

York, 1972

“Jill, sarapanmu sudah siap,” kata Finn membagunkan istrinya.

“Hem, terima kasih, Finn. Eh, kau sudah mau berangkat, ya? Maaf aku bangun terlambat,” kata Jill.

“Tidak apa- apa, sayang. Tidurlah jika kau masih mengantuk,” kata Finn.

Jill mengangguk sambil tersenyum. Finn berangkat ke kantornya dengan mengendarai mobilnya. Pekerjaan Jill sebagai penulis membuatnya kewalahan saat banyak pesanan. Ia harus terjaga sampai pagi kalau perlu. Namun ia senang karena itu memang hobinya.

Di tengah kesibukannya terkadang Jill ingat tentang ibunya. Ia ingin kembali ke Berin, tetapi ia sendiri juga belum yakin bahwa ibunya masih di sana. “Bagaimana kalau dia sudah pindah ke kota lain?” kata Jill. “Sebaiknya aku menghubungi bibi Elina,” kata Jill selanjutnya.

Kring kring kring…

Kring kring kring…

“Halo, dengan siapa ini?” jawab bibi Elina.

Ini Jill, bibi. Maaf aku mengganggumu sebentar.

“Oh, kau rupanya. Ada apa, nak? Semua baik- baik saja, bukan?”

Eh, tidak, tidak sebaik itu, bibi. Aku belum bertemu dengan ibuku saat di Berin. Sekarang aku sudah kembali ke York. Entah di mana lagi aku mencarinya, bi.

“Oh, Jill, kupikir kau sudah bersamanya saat ini. Tenangkan pikiranmu, nak. Semua akan baik- baik saja,” kata bibi Elina.

“Iya, bibi,” kata Jill.

Ia menghentikan pembicaraanya dengan bibinya. Bibi Elina adalah saudara satu- satunya yang dimiliki madan Marry. Ia tinggal sendirian di kota yang agak jauh dari Berin, yang merupakan tempat kelahiran madam Marry sendiri, di kota Sachi.

——————————

Berin, 1972

Teena memikirkan apa yang sudah dialami oleh pak Frans di rumah sakit itu. Ia menjadi ketakutan kala mendengar suara yang samar- samar memanggilnya. Ia khawatir jika itu hantu madam Marry.

Tok tok tok…

Suara ketukan pintu mengagetkan Teena. Ia memanggil Bibi, pembantunya. “Bibi, kau dengar ketukan pintu, bukan?” kata Teena setengah berteriak.

“Iya, nyonya,” jawab Bibi.

Lalu dibukanya pintu rumahnya dan ternyata yang datang adalah pak Frans, Rian dan Elle. Bibi terkejut dan merasa dikeroyok.

“Kalian mengapa datang malam- malam begini?” tanya Bibi.

Namun mereka bertiga langsung memasuki rumah tanpa menjawab pertanyaan Bibi. Dari kamarnya, Teena memanggil Bibi.

“Bibi, siapa di luar? Mengapa lama sekali kau di sana?” tanya Teena.

“Tuan Frans beserta teman- temannya, nyonya. Mereka ingin bertemu dengan anda,” jawab Bibi dengan takut.

“Apa?” kata Teena dengan terkejut. “Bukankan Frans dinyatakan meninggal tadi siang? Dan teman- temannya, mereka sendiri yang menyaksikan Frans dimakamkan. Siapa Frans yang ini?” kata Teena yang tidak berani menengok ke belakang, ke arah pintu kamarnya.

“Teena, Teena… Teena, Teena,…” kata pak Frans memanggil Teena dari luar kamarnya.

“Eh, tidak, tidak, ini hanya mimpi burukku. Mimpi buruk. Aku lebih baik tidak membuka pintu itu. Aku kembali tidur saja. Pintu dan jendela sudah kukunci rapat- rapat jadi tidak seorang pun bisa memaksa masuk ke sini,” kata Teena sambil menarik selimut tebalnya.

“Teena, Teenaa, keluarlah. Apa yang kau lakukan di dalam?” kata pak Frans masih memanggil- manggil Teena agar keluar.

Teena membuka matanya yang masih dilindungi selimutnya setelah mendengar suara pak Frans yang semakin jelas. Ia mencoba menutupi telinganya agar tidak mendengarnya lagi.

“Suara itu terasa di dekatku, oh jangan- jangan…,” bisik Teena.

Namun suara panggilan itu sudah menghilang. Tidak ada lagi yang memanggilnya. Teena bernapas lega dan ia masih tetap ingin berada di balik selimut tebalnya sampai pagi datang…

Malam yang aneh dan menyeramkan bagi Teena.

Pagi hari, sinar matahari sudah menerobos masuk di celah- celah jendela kamar Teena. Teena terkejut karena ia bangun pukul 8 pagi. Sangat siang ia bangun.

“Astaga, mengapa Bibi tidak membangunkanku pukul 7? Aku harus menjemput Henof di stasiun Morell pagi ini,” kata Teena.

Ia segera bergegas menuju dapur. Namun ia malah dikejutkan dengan sosok yang sudah tidak bernyawa di depan pintu kamarnya.

“Bibi?! Bibi?! Oh, Tuhan, Bibi, jangan Bibi!” kata Teena sambil menangis. Ia ketakutan dan berlari ke luar rumah untuk meminta bantuan tetangganya.

Di luar rumah juga ada keramaian yang membuat Teena penasaran.

“Apa yang terjadi di sini, tuan?” tanya Teena kepada seorang pria di kerumunan itu.

“Ada orang yang habis ditembak, nyonya. Saya melihatnya berjalan menuju rumah anda lalu entah dari mana tembakan itu,…” kata pria itu menjelaskan.

Teena lalu menemui seorang polisi di lokasi kejadian itu. Ia melaporkan peristiwa terbunuhnya Bibi. Dengan segera ia dan beberapa polisi lainnya kembali ke rumah untuk memeriksa jenazah Bibi.

“Apa dia kerabat anda, nyonya?” tanya polisi wanita yang memeriksa tubuh Bibi.

“Bukan, tapi dia sudah kuanggap sebagai kerabatku sejak dulu,” jawab Teena.

Seorang polisi lain menelepon mobil ambulans. Teena merasa dirinya kurang enak badan. Kepalanya tiba- tiba pusing, tubuhnya bergemetar, dahinya mengeluarkan keringat dingin. Kakinya tiba- tiba tidak kuat menyangga tubuhnya berdiri untuk beberapa saat, pandangannya kabur, lalu ia pingsan…

Madam Marry

Rian terkejut telah melihat madam Marry di rumah pak Frans. Selang beberapa jam tamu yang dimaksud mengetuk pintu rumah itu.

“Masuklah, kawan, pintu tidak dikunci,” kata madam Marry. Dan seketika orang itu masuk. Ada dua orang yang nampaknya suami istri. Mereka langsung duduk di ruang tamu itu. Madam Marry mengenalkan mereka kepada Rian.

“Rian, mereka adalah pembantu di rumah tuan Noris, dahulu,” kata madam Marry.

Rian menatap mereka satu per satu. Ia masih bingung dengan kenyataan. Ia sama sekali tidak mengenal mereka, namun ia malah masuk dalam perkara yang tidak diinginkan.

“Eh, maaf madam, saya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, apa anda sengaja meninggalkan keluarga anda?” tanya Rian.

“Oh, ehm, sebenarnya aku tidak masalah kau bertanya begitu, tetapi apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanya madam Marry.

“Tidak ada, madam. Saya hanya bingung soal teman saya yang bekerja di sini. Ia pernah menyinggung soal anda beberapa hari yang lalu. Dan setelah itu nasib buruk menimpanya kemarin,” jawab Rian.

“Aku turut prihatin, Rian. Semoga lekas membaik. Ya, aku tahu maksud perkataanmu itu. Temanmu bersama madam Teena, bukan?” tanya madam Marry.

“Iya, betul, madam. Anda bisa tahu lalu apa jangan- jangan anda sebenarnya tidak menghilang dari kota Berin?” kata Rian.

Madam Marry tidak langsung menjawab pertanyaan Rian. Ia melihat ke arah sepasang suami istri itu. Keriput di kening si pria bertambah jelas karena ia menanggapi tatapan mata madam Marry. Itu seperti menaikkan kedua alis.

“Madam Marry sebenarnya tidak kemana- mana, nak. Dia hanya ingin hidup tenang di luar sana. Pertengkaran dengan tuan Noris tidak bisa dihentikan sampai putrinya lahir. Kami ikut pergi bersamanya karena tidak ingin melihat hal mengerikan lagi di rumah itu sekaligus membuktikan bahwa kami sangat mencintai madam Marry,” pria itu berkata menjelaskan.

“Oke, aku mengerti. Yang masih membuatku bingung mengapa madam Teena mau memenjarakanmu madam Marry? Kudengar bahwa dia menyebutmu sebagai pembunuh suaminya,”

“Oh, Tuhan,” kata istri si pria itu tiba- tiba. “Nyonya, apa kau akan tetap bersembunyi di sini sementara wanita itu berusaha menyingkirkanmu dari rumahmu sendiri,” katanya melanjutkan.

“Eh, tidak usah berlebihan, Viviana. Aku tahu yang harus kulakukan,” kata madam Marry.

“Yang dikatakannya itu benar, madam. Anda harus segera bertindak agar semua masalahmu selesai,” kata Rian. “Dan aku bisa secepatnya kembali ke Marrow,” lanjut Rian.

“Oh, kau bukan orang sini?” tanya pria itu.

“Bukan. Saya di sini hanya diajak oleh teman, si pemilik rumah ini,” jawab Rian.

“Ehm begitu ya? Kalau begitu sebaiknya kau tidak usah ikuti temanmu karena dia sendiri malah celaka. Kau juga tidak ingin seperti dia, bukan? Hem?” kata madam Marry.

“Maksud anda? Saya benar- benar tidak mengerti, maksud saya memang kalau bisa saya tidak mengalami nasib buruk seperti teman saya itu. Tetapi bagaimnapun dia tetap teman saya dan saya harus membantunya,” kata Rian mulai agak kesal.

Madam Marry dan kedua pembantunya saling berpandangan. Kemudian ia menuangkan air dari dalam botol bir ke gelas- gelas kecil itu. Disodorkannya satu gelas untuk Rian.

“Ayo minum dahulu, nak,” kata madam Marry.

“Eh, tidak tidak, saya tidak suka bir,” kata Rian dengan khawatir.

“He, baik kalau begitu. Ini Leon, untukmu saja,” kata madam Marry yang memberikan segelas minuman kepada pria itu.

Pria bernama Leon menerima gelas itu dengan agak gugup, kemudian ia meminumnya satu tegukan saja. Begitu juga madam Marry. Rian heran dengan apa yang ia lihat barusan.

“Eh, madam, kau bilang tadi bahwa kau bukan seorang peminum. Lalu mengapa kau melakukan itu?” tanya Rian.

Madam Marry, Leon dan Viviana tertawa terbahak- bahak. Mimik wajah Rian memerah karena malu.

“Nak, ini hanya air lemon biasa. Jangan dianggap serius,” kata Leon sambil menuangkan air dari botol bor itu lagi. “Kau mau?…” tanyanya menawarkan minuman itu kepada Rian. Tetapi Rian hanya diam dan menghindari minuman itu. Leon meminumnya lagi.

“Kalau ini bir, aku sudah pusing dan tidak sadar. Oh, tetapi ruangan ini agak sedikit bau ya? Aku mempunyai parfum yang cocok untuk ruangan ini,” kata madam Marry yang mengeluarkan sebotol minyak wangi dari dalam tas nya. csst…csst…cssst… Ia menyemprot- nyemprotkan itu ke segala arah.

“Ahh, lebih baik, bukan?” kata madam Marry.

Namun Rian tidak menikmatinya. Ia pusing setelah menghirup aroma minyak wangi itu. “Oh, aku tidak suka aroma parfum anda, madam, maaf…” kata Rian. brukkk… Badan Rian ambruk di sofa yang ia duduki.

Viviana menghampiri Rian untuk membangunkannya. “Hei, Rian, Rian… Nak?” katanya sambil menggoyang- goyang tubuh Rian.

Kemudian ia melihat madam Marry dan berkata, “Apa ini tidak berbahaya, nyonya?”

“Tentu saja tidak. Dia hanya pingsan untuk sementara waktu. Kita harus pergi sekarang,” kata madam Marry. Ia beranjak dari sofa lalu meninggalkan Rian sendirian di rumah itu. Kedua pembantunya juga ikut pergi.

——————————

Rumah Sakit, 1972

“Frans, maafkan aku. Seharusnya kau tidak menjadi penghuni kamar ini,” kata Teena dengan menangis.

“Tolong, jangan menangis, Teena. Aku sudah baik- baik saja. Lihat, luka- luka ini sudah kering dan pasti hari ini bisa pulang,” kata pak Frans sambil mengusap rambut Teena.

“Siapa yang melakukan ini, Frans? Katakan padaku,” tanya Teena agak mendesak.

“Entahlah, semua terjadi begitu saja. Aku bangun sudah berada di ruangan yang aneh dan mengerikan. Gelap, bau, dan banyak gangguan,” kata pak Frans menjelaskan. “Dan yang paling mengerikan adalah ketika aku didekati oleh hantu seorang wanita di sana, ia menggerayangi tubuhku sambil berkata tolong bawa aku pergi dari sini,” kata pak Frans lagi.

Teena memghentikan tangisnya. Mimik wajahnya menegang, lalu berkata, “Lalu kau membawanya pergi bersamamu?”

“Tidak, Teena. Kau tahu aku paling takut dengan hantu. Jangankan membawanya, melihatnya pun aku tidak sudi. Setelah dia berkata seperti itu, aku langsung tidak ingat apa- apa dan tiba- tiba ada di sini,” kata pak Frans.

Teena diam penuh curiga. Ia kemudian pamit untuk pulang kepada pak Frans. “Oke, aku percaya, Frans. Aku harus pergi sekarang,” kata Teena.

Pak Frans hanya memandanginya saat Teena berjalan meninggalkan ruangan…

Kedatangan Seseorang

Hal buruk di Berin yang menimpa pak Frans membuat Rian dan Elle ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Elle masih mengingat cincin berlian yang dibawa oleh pak Frans sama persis yang dipakai oleh nyonya Noris alias Teena. Di ruang tunggu, di rumah sakit banyak orang yang membicarakan soal yang dialami oleh pak Frans. Bahkan tiga orang di samping Elle, yang dua wanita duduk di sebelahnya dan yang pria berdiri di samping wanita satunya, sedang mengobrol agak serius. Nada bicara mereka agak keras sehingga Elle bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Seumur- umur aku baru menemui hal mengerikan seperti kemarin di depan kedai NikCola itu. Kelihatannya seperti si ahli hukum yang terkenal itu ya?” kata wanita yang memakai topi, dan duduk di sebelah kiri Elle. “Apa ada kaitannya dengan keluarga baru itu ya?” lanjutnya.

“Kudengar iya. Bukankah kita tahu seperti apa mereka? Hilangnya madam Marry juga pasti gara- gara wanita itu. Namun mereka sangat pandai menyimpan rahasia itu rapat- rapat. Sampai almarhum tuan Noris tidak mengetahui sebabnya,” kata pria yang berdiri itu.

“He, apa kau yakin, tuan? Kalau yang Anda maksud adalah… madam Teena, tetapi dia baik menurutku. Dia tidak ada tanda- tanda yang buruk seperti itu. Kulihat dahulu dia sangat menyayangi anak tirinya, nona Jill itu,” kata wanita satunya yang agak muda.

“Ya, itu menurutmu, nona. Saya lebih lama tinggal di Berin dan rumah saya persis di seberang rumah almarhum tuan Noris. Pastinya saya sudah hafal gerak- gerik mereka,” kata pria itu.

“Oh, Tuhan. Seandainya benar begitu, sangat disayangkan. Lebih lagi madam Marry yang baik itu malah mengalah demi istri baru tuan Noris. Kasian anaknya,” kata wanita bertopi itu.

Elle tidak bisa menahan rasa ingin tahunya sehingga ia bertanya kepada wanita yang lebih muda. “Eh, maaf nyonya, apakah Anda pernah bertemu dengan madam Teena sebelumnya?” tanya Elle.

“Iya, nona Elle, saya agak sering bertemu dengannya akhir- akhir ini. Ya, walaupun sekedar menyapa,” jawab wanita muda itu.

“Oh, iya. Lalu apa anda melihat pak Frans bersamanya waktu itu?” tanya Elle lagi.

“Um, kalau waktu itu saya tidak tahu, nona, tetapi waktu malam hari sekitar pukul 10 saya melihat dia masuk ke rumah madam Teena, sendirian,” jawab wanita muda itu.

“Apa kau yakin, nona?” tanya pria yang berdiri di sampingnya dengan tiba- tiba.

“Kuharap aku tidak yakin, tuan. Waktu itu saya hanya melintasi rumah madam Teena dan kau tahu lampu jalan di kompleks itu sangat tidak terang,” jawab si wanita muda itu.

“Dan kau nona, memangnya ada apa dengan si Frans itu? Sepertinya kau sangat tahu tentangnya?” tanya wanita bertopi itu.

Elle terkejut ketika wanita itu bertanya soal pak Frans kepadanya. Lalu ia menjawab, “Ah kami hanya berteman biasa, nyonya.”

Rian sudah keluar dari kamar pasien, yaitu kamar pak Frans. Ia tidak berkata apa- apa dan langsung mengajak Elle pulang. Elle pamit kepada ketiga orang itu.

Tiba- tiba wanita bertopi itu berkata, “Apa pria itu pacar si nona itu ya?”

“Entahlah, nyonya,” jawab wanita muda itu dengan cueknya.

——————————

Rian mengantar Elle ke rumah kosnya. Madam Maria menuruhnya mampir tetapi ia menolaknya. Rian ingin segera kembali ke rumah pak Frans.

Rupanya mereka tidak tahu kalau sedang dibuntuti oleh seseorang. Orang itu mengintai mereka dari dalam mobilnya. Setelah Rian pamit kepada Elle dan madam Maria, ia langsung menyetir mobilnya ke rumah pak Frans. Sosok yang mengintainya juga mengikutinya ke arah Rian pergi.

Ia berhenti agak jauh dari mobil Rian. Ketika Rian sudah masuk ke rumah, orang itu mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat yang berbunyi Aku sudah di depan rumahnya. Tidak jauh dari rumah pak Darwis, tukang roti keliling di stasiun Morell. Kemudian ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Setelah mengamati rumah pak Frans agak lama, ia memutar balik mobilnya dan pergi.

Rian menutup rapat pintu rumah itu. Ia merasa sangat lelah dan pusing sehingga ingin segera tidur. Kamarnya ada di lantai dua, jadi ia memilih tiduran di sofa. Sebenarnya ia masih memikirkan masalah sahabatnya itu, tetapi ia bingung bagaimana cara membantunya. Ia tiduran menghadap meja dan terkejut karena ada dua botol bir dan dua gelas kecil di depannya.

“Apa- apaan ini?” kata Rian. Ia mendudukkan badannya di sofa itu.

Dari atas ia mendengar langkah kaki yang mantap menyentuh lantai. Rian lebih terkejut lagi ketika melihat siapa yang turun dari tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.

Rupanya ada seorang wanita separuh baya yang sudah lebih dahulu di dalam rumah pak Frans. Dan ia semakin mendekati Rian.

“Anda siapa? Tolong jangan terlalu dekat,” kata Rian dengan gugup.

Wanita itu menjawab, “Jangan takut, nak. Maafkan aku yang sudah memasuki rumahmu tanpa ijin.” Ia lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Rian. Rian panik dan gugup ketika wanita itu mengajaknya bersalaman. “Aku, Meghan. Marry Meghan,” kata wanita itu.

Rian terbelalak karena tidak menyangka akan bertemu orang yang akan diurus pak Frans. “A..aku, Rian,” kata Rian dengan terbata- bata. “Anda yang meletakkan minuman dan gelas ini?” tanya Rian sambil menunjuk benda- benda itu.

“Iya, betul. Sebenarnya aku bukan peminum. Itu untuk suguhan saja,” kata madam Marry.

“Suguhan untuk siapa, madam?” tanya Rian lagi.

“Nanti kau akan tahu sendiri, Rian,” jawab madam Marry.

Rian semakin tidak bisa menahan rasa khawatirnya apalagi sahabatnya sedang sakit dan tidak bersamamya. Ia ingat janjinya akan melindunginya apapun yang terjadi. Benar- benar membuatnya bingung tentang apa yang harus ia lakukan.

Kejadian di Berin

“Hai, Jill. Apa kau benar- benar akan pulang hari ini? Bagaimana dengan rencanamu mencari ibu kandungmu?” kata Elle saat berjumpa dengan Jill di stasiun Morell.

Jill menarik napas panjang, lalu berkata, “Iya, Elle. Aku dan suamiku tidak bisa meninggalkan Meza lama- lama di York. Kami harus menjemputnya hari ini dan kembali ke tempat tinggal kami, di apartemen.” Suami Jill sudah selesai mengurusi tiket perjalanan mereka menuju York. Tetapi ia lapar kemudian membeli roti di penjual roti yang mondar- mandir sejak tadi.

“Elle, sebenarnya aku masih ingin di Berin, tetapi nanti setelah urusanku di kantor selesai. Madam Marry memang sangat penting bagiku, bahkan aku masih penasaran mengapa beliau meninggalkanki.” Jill berkata kepada Elle, sahabatnya, sebelum naik kereta.

“Sayang, ayo kita pergi,” kata Finn sambil mengangkat koper yang agak berat.

Elle dan Jill berpelukan sebelum berpisah. Air mata Elle mengalir di pipinya yang merona saat melihat temannya pergi. Dan kereta melaju perlahan menuju York.

Telepon genggam di sakunya berbunyi dan mengagetkannya. Telepon dari Rian. “Halo,” kata Elle menjawab teleponnya.

He, kau sebaiknya kembali ke kedaimu sekarang. Cepat.

“Eh, ap…,” Belum sempat berkata- kata teleponnya buru- buru mati. Elle segera pergi ke kedai NikCola.

Sampai di sana, Elle bingung karena banyak orang yang berkumpul dan seperti melihat sesuatu. Ia mendusel kerumunan orang- orang itu, dan astaga, batinnya. Ia melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa ada orang yang tergeletak di jalan di depan kedainya. Badannya tengkurap, kepalanya terluka seperti habis dipukul, dan matanya terpejam. Elle tidak berani mendekatinya namun ia penasaran. Dari belakang Rian menarik tangan Elle untuk keluar dari kerumunan orang itu.

“Eh, Rian, apa- apaan kau ini!” kata Elle dengan kesal karena tangannya ditarik agak keras.

“Dengar, kau ingin tahu dia siapa, bukan?” kata Rian.

“Iya, siapa orang itu, Rian? Jangan tambah membuatku penasaran,”

“Itu, Frans,” kata Rian yang masih memegang erat tangan Elle.

“Apa?!” kata Elle terkejut mendengar jawaban Rian. Ia ingin melihatnya lagi lebih dekat tetapi Rian memegangnya dengan kuat.

“He, Elle, tidak usah ke sana, kumohon,”

“Mengapa? Bukannya dia juga temanmu, rekanmu, sahabatmu?” kata Elle heran.

“Iya, tetapi kalau kau sampai memegang tubuhnya, atau kita, nanti bisa dipenjara. Kita tidak tahu dia masih hidup atau sudah tidak bernyawa. Jadi, tolong tenanglah sampai ada ambulans dan polisi yang datang. Aku juga ingin tahu sepertimu,” Rian berkata panjang lebar untuk membuat Elle tenang. Ia melepaskan tangannya.

“Oke, aku mengerti,” kata Elle sambil menyedekapkan kedu tangannya.

Suara mobil ambulans terdengar dan dua mobil polisi menyusul. Para petugas ambulans mengangkat badan pak Frans dengan hati- hati. Polisi yang satu membubarkan orang- orang, dan yang lainnya menyelidiki bekas yang ditinggalkan dari tubuh pak Frans di tanah. Ada darah dan benda kecil yang berkilauan seperti cincin berlian.

Rian dan Elle masih melihatnya dari kejauhan. Setelah kerumunan orang bubar, mereka lalu mendekati tempat kejadian itu. Tetapi tidak langsung dekat- dekat. Terutama Elle yang sudah ingin tahu sejak tadi, ia melihat apa yang diperiksa pak polisi itu.

“Rian, kemarilah,” kata Elle memanggil Rian untuk melihatnya lebih dekat.

“Kau lihat cincin berlian itu?” Elle bertanya. Rian hanya menganggukkan kepalanya. “Aku ingat saat pak Frans sedang berbincang dengan nyonya Noris, cincin itu dipakai oleh nyonya Noris. Tetapi mengapa sekarang ada di sini dan bersama pak Frans?” katanya melanjutkan.

“Eh, Elle, sebenarnya aku sudah mencurigai nyonya Noris sejak lama. Bahkan sejak Frans menghilang beberapa hari yang lalu. Aku merasa kalau wanita itu terlibat dalam masalah ini. Tetapi aku juga belum tahu pasti,” kata Rian.

“Baiklah, sebaiknya kita pergi saja. Kita bisa membicarakannya nanti di rumah kosku, hem?”

“Ide yang bagus, ayo,”

Rian dan Elle pergi ke rumah kos madam Maria. Mereka naik mobil taksi menuju ke sana. Sementara para polisi masih menyelidiki perkara ini. Beruntung kedai NikCola sedang tutup, jadi tidak menambah keresahan pelanggannya.

——————————

Jill dan suaminya sudah sampai di stasiun York. Ibu mertua dan anaknya sudah menjemput mereka di sana.

“Mama,” kata Meza kepada Jill. Ia memeluk ibunya dan bergantian memeluk ayahnya.

Kemudian mereka berjalan menuju ke ruang tunggu di depan stasiun itu. Madam Nirin bertanya kepada Jill, “Sudah selesaikah semuanya, nak?”

“Oh, belum Ma. Kemarin kami sudah meminta bantuan polisi untuk mencari madam Marry. Masih dalam proses pencarian dan kuharap aku bisa bertemu dengannya,” kata Jill kepada ibu mertuanya.

“Kau yang sabar ya, nak. Semua pasti baik- baik saja. Aku yakin itu,” madam Nirin berkata sambil memeluk Jill dengan penuh kasih sayang.

Mobil jemputan untuk Jill dan keluarga kecilnya sudah datang. Di stasiun York mereka berpamitan kepada madam Nirin. Meza melambaikan tangannya kepada neneknya itu sambil berkata, “bye bye, nenek, bye bye…,”

Setelah itu madam Nirin juga meninggalkan stasiun dan pulang ke rumahnya.

——————————

Di rumah kos, Rian dan Elle membicarakan masalah yang terjadi pada pak Frans. Rian benar- benar tidak menyangka jika pertemuannya dengan pak Frans adalah hal yang buruk sekaligus menegangkan. Sementara Elle memikirkan dua hal yang berbeda sekaligus, yaitu tentang madam Marry dan pak Frans.

“Mengapa harus terjadi lagi hal mengerikan itu?” kata Elle yang bertanya kepada dirinya sendiri.

“Hem, apa mksudmu?” tanya Rian.

“Peristiwa yang dialami oleh pak Frans itu juga dialami oleh orang yang bermasalah dengan keluargaku dahulu. Namun lebih tragis dan mengerikan,” kata Elle menjawab pertanyaan Rian.

“Sebenarnya siapa orang yang kau maksud itu, Elle?” tanya Rian lagi.

“Dia adalah orang suruhan anak laki- laki nyonya Noris,” jawab Elle.

“Jadi wanita itu mempunyai anak yang lain selain Jill? Lalu apa hubungannya dengan kejadian yang menimpa pak Frans?” tanya Rian.

“Oh, aku juga tidak mengerti, Rian. Kepalaku pusing sekarang. Yang jelas aku melihat ada yang aneh dengan kejadian ini, yang baru saja terjadi,” kata Elle.

“Apa karena nyonya Noris? Pasti dia yang melakukannya,” kata Rian mulai marah.

“He, kau jangan sembarangan menuduh orang dahulu. Kau juga tidak tahu ke mana selama ini pak Frans pergi,  bukan? Dan tahu- tahu tubuhnya tergeletak di depan tempat kerjaku,” kata Elle.

Rian mencoba menenangkan dirinya agar suaranya tidak keras dan terdengar oleh penghuni rumah kos yang lain. Ia menyeruput minumannya, teh lemon dan kemudian memakan satu keping biskuit gandum cokelat.

Awan hitam di langit mulai berkumpul lagi untuk menurunkan hujan. Cuaca yang tadinya panas tiba- tiba menjadi dingin karena akan turun hujan. Rian masih betah berada di ruang tamu di rumah kos Elle, sambil menghangatkan tubuhnya di dekat perapian. Sementara Elle, ia mengirimkan pesan singkat kepada Jill.

Hai, kawan, semoga kau segera ke Berin lagi. Kami akan membantumu.

Pesan singkat dari Elle sudah dibaca oleh Jill yang sudah berada di apartemen, di York. Jill diam dengan pandangan yang kosong ke depan. Finn melihatnya dengan heran, lalu bertanya, “Kenapa sayang?”

Jill terkejut dan tersadar dari lamunannya. “Oh ini, Elle mengirimkan pesan singkat kepadaku. Dia ingin aku kembali lagi ke Berin,” jawab Jill.

“Iya, pasti kita ke sana lagi,” kata Finn sambil membelai rambut Jill. Jill pun tersenyum.

Hilangnya sang Pengacara

Rian tidak mengira temannya itu menghilang. Tadi malam ia hanya pamit mau keluar menemui seseorang tetapi tidak menyebutkan nama orang itu. Pikiran Rian hanya kepada Elle sebab ia tahu pak Frans menyukainya. Siapa lagi?

Elle melihat Rian gelisah dan melamun di tempat duduknya. Ia membuatkan teh hitam manis dan biskuit cokelat untuk Rian.

“Kau kenapa, he?” tanya Elle menghampiri tempat duduk Rian.

Rian diam sejenak lalu menjawab, “Aku hanya bingung soal Frans. Dia pergi tadi malam tetapi sampai pagi belum pulang. Bahkan saat ini dia tidak mengabariku ada di mana dia sekarang,”

Elle mengernyitkan dahi, lalu berkata, “Apa dia tidak bilang kalau…mau menemuiku?”

“Tidak, Elle. Dia tidak bilang mau bertemu dengan siapa. Hanya berkata mau bertemu dengan seseorang,” kata Rian. Ia mengambil biskuit cokelat yang sudah disuguhkan untuknya. “Dan katanya sangat penting,” tambahnya.

“Ehm, sebenarnya pak Frans sudah berjanji akan mengajakku makan malam, tetapi dia tidak datang,”

“Oya? Lalu, apa dia memberi kabar atau alasan apa sebab tidak datang?”

“Tidak juga. Aku ingin marah padanya kalau bertemu dengannya. Kupikir kau datang bersamanya,”

Elle mengambil biskuit cokelat lalu memakannya dengan agak gemas. Ia kecewa karena tidak jadi berkencan dengan pak Frans tadi malam. Ia menyesal sudah membatalkan acaranya dengan teman- temannya. Ada Jill juga yang tinggal sehari lagi di Berin.

Kedua orang itu saling diam dan makan biskuit cokelat yang lezat menu camilan andalan kedai NikCola. Tiba- tiba bunyi ponsel Elle berbunyi.

“Halo,”

Elle, benar ini kau?

“Iya. Siapa ini?”

Aku Frans

Elle terkejut dan membisikkan, “Frans?” Rian menghentikan makannya dan dengan cepat ia mengambil ponsel Elle.

“He, bedebah, di mana saja kau? Kau pikir bisa seenaknya pergi begitu lama, he? …”

Elle merebut kembali ponselnya dari tangan Rian. Lalu berkata pada pak Frans, “Ehm, pak Frans ada di mana sekarang? Saya sangat khawatir dengan anda,”

Aku ada di rumah, di ru…, Tut. Telepon terputus.

“Halo, pak. Pak Frans?”

Elle merasa gelisah setelah telepon terputus. Rian masih marah dengan pak Frans karena pertanyaannya belum sempat dijawab.

“Apa maksudnya ini?” kata Rian dengan kesal.

“Sstt, pelankan suaramu, Rian. Sudah banyak orang di sini. Lihat, mereka melihat ke arah kita. Jangan sampai mereka tahu,”

“Oh, iya, maafkan aku. Paling tidak Frans mengirim pesan kepadaku. Ponselku pun masih menyala sampai saat ini dan belum juga dia menghubungiku,”

“Eh, sabar, Rian. Kita pasti segera menemukan pak Frans. Tenang,”

Elle mengelus tangan Rian agar ia tenang. Rian tidak habis pikir bahwa temannya pergi dengan tujuan yang tidak jelas. Dan belum lagi permasalahan mengenai nyonya Noris yang belum bisa dimengerti olehnya. Elle juga berpikir keras tentang di mana ia bisa mengetahui keberadaan pak Frans yang sebenarnya.

——————————

Di ruang yang sangat gelap, pak Frans bangun dengan terkejut. Ia tidak bisa melihat dengan jelas isi ruangan itu. Namun ia mendengar suara tangisan seorang wanita di ruangan itu. Pak Frans merinding dan berusaha untuk tenang.

“Sial. Oh, tidak, jangan mendekatiku, please…please…,” bisik pak Frans. Ia menutup telinganya dengan tangannya. Ia juga memejamkan matanya rapat- rapat. Mulutnya berkomat- kamit membaca doa. Tetapi suara itu malah semakin mendekat diiringi suara benda yang diseret ke lantai…

Rencana Teena

Tepat pukul 10 malam pak Frans sampai di rumah nyonya Noris alias Teena. Ia dipersilakan masuk oleh asisten rumah tangganya dengan terpaksa. Bibi adalah orang yang satu- satunya masih bertahan menjadi pembantu di rumah itu sejak pak Noris meninggal.

“He, Tuan mengapa datang kemari malam- malam begini? Anda tidak pernah tidur malam ya?” katanya sambil menguap.

“Maaf saya sudah mengganggumu, Bi. Saya juga tidak tahu mengapa disuruh ke sini malam- malam oleh nyonya Noris,”

“Oh, baiklah, baiklah. Akan kupanggil…,”

“Eehm,” Tiba- tiba saja Teena sudah di ruang tamu. Ia mengangkat alisnya sebelah, memberi kode kepada Bibi untuk pergi. Dan Bibi pun mengerti.

“Oya, tolong buatkan dua cangkir kopi moka ya, Bi,”

“Eh, iya Nyonya,” kata Bibi segera pergi ke dapur.

Teena memandangi pak Frans dari atas ke bawah. Ia heran dengan penampilannya yang selalu sama walaupun malam sudah larut. Pak Frans hanya melihat- lihat dekorasi langit- langit rumah yang dari tadi menarik penglihatannya. Rumah yang mewah, bergaya ke Eropa nan. Teena lalu menggeser tempat duduknya ke samping pak Frans. Tanpa ragu ia memegang tangannya yang agak gemetaran.

“Ehm, apa Anda kedinginan, pak Frans?” 

Pak Frans terkejut dengan perilaku Teena yang tiba- tiba mendekatinya.

“Tidak, hanya sedikit dingin karena terlalu lama berada di luar tadi,” katanya sambil melepaskan tangan Teena.

Teena tersenyum, lalu tertawa karena mendengar perkataan pak Frans. “Kau memang tidak bisa berbohong, Frans. Hem?”

“Apa maksud, Nyonya?” tanya pak Frans dengan heran.

“Coba lihat ini, pegangalah,” Teena menunjuk lengan baju pak Frans yang basah karena habis kehujanan. “Paling tidak kau mau mengganti pakaianmu dahulu agar tidak gemetaran,”

“Oh, iya. Tetapi saya tidak akan lama di sini kan, Nyonya?”

“Panggil saja Teena,”

“Iya, Teena,” kata pak Frans agak malu- malu.

Bibi yang sedari tadi belum muncul dipanggil Teena untuk ke ruang tamu.

“Bibi…, cepat kemarilah,”

“Baik, Nyonya,”

Dengan langkah agak dipercepat ia membawa nampan dengan dua cangkir moka panas di atasnya menuju ruang tamu. Cahaya di ruang tamu remang- remang sehingga membuat Bibi agak mengeriyip untuk memperjelas pandangannya.

“Ini kopinya, silakan diminum, Tuan,” kata Bibi sambil menyuguhkan kopi untuk pak Frans. “Dan ini untuk, Nyonya,” katanya lagi bergantian menyuguhkan kopi untuk Teena.

“Oya, nyonya ada perlu apa memanggil saya?”

“Tolong kau antarkan tuan Frans untuk berganti pakaian. Sudah kusiapkan di kamar,”

“Eh, nyonya, eh maksudku Teena jangan seperti itu. Saya masih ada janji dengan seseorang malam ini untuk sebuah urusan, jadi saya harus pamit,” kata pak Frans yang terburu- buru akan keluar dari rumah Teena.

Teena segera menarik lengan pak Frans dengan agak keras.

“Kau tidak akan pergi begitu saja, tuan Frans. Sekarang juga, ganti pakaianmu di kamar yang telah kusediakan khusus utuk tamu istimewaku ini,”

Teena menggandeng tangan pak Frans lalu mengantarkannya ke sebuah ruangan yang dahulu ditempati oleh madam Marry Meghan, yaitu ibu kandung Jill.

Ruangan yang sudah ditata begitu rapi dan beraroma bunga lavender itu sekarang dipergunakan sebagai kamar tamu. Bibi sebenarnya keberatan dengan ide Teena itu, sebab ia tahu bahwa madam Marry adalah orang yang sangat baik. Tidak seperti yang selama ini diceritakan oleh Teena kepada orang- orang, termasuk pak Frans. Namun sayang, kepergiannya yang entah ke mana membuat pak Noris terserang penyakit jantung hingga meninggal. Masih belum bisa dimengerti mengapa madam Marry sampai pergi meninggalkan pak Noris setelah melahirkan putri kecil semata wayangnya.

“Di sini, kemarilah, Frans,” Teena meminta pak Frans duduk dengannya di sebuah tempat tidur bersprei halus dan wangi.

“Eh, di mana pakaian gantinya, Teena?” kata pak Frans memgalihkan pandangannya dari Teena. Ia berusaha tidak berdekatan dengannya.

“Nanti saja…,”

Bibi sudah mengetahui niat Teena yang agak tidak masuk akal. Tetapi ia lebih memilih untuk diam daripada diusir dari rumah itu…

——————————

Kedai NikCola, 1972

Pukul 7 pagi, Elle sudah di dalam kedai NikCola bersama salah satu rekan kerjanya yang bernama Aries. Ia dan Aries selalu tepat waktu datang ke tempat kerja mereka. Bahkan, Elle bisa lebih awal berada di kedai itu untuk memastikan barang- barang di dalamnya tidak berantakan karena diobrak- abrik oleh musang peliharaan Niko.

“Selamat pagi,” kata Aries menyapa seorang gadis yang baru masuk. Gadis itu tersenyum pada Aries dan tersipu.

Elle yang melihat tingkah gadis itu langsung menyuruhnya segera duduk, “ayo silakan duduk, nona,”

Elle mengeplak lengan Aries agak keras dan mengejeknya. “Kau ini. Yang gadis saja kau mau maju dan menyambutnya. Lihat itu ada pacarnya, he…,”

Ternyata gadis yang disapa oleh Aries suda memiliki pacar. Elle menertawai raut muka Aries yang kecewa.

Kemudian Rian masuk dan lansung menemui Elle yang sedang bekerja. Elle bingung karena tiba- tiba ada Rian di depannya.

“Rian, kapan kau datang?”

“Baru saja. Ehm Elle, apa Frans di rumah kosmu?”

Pertanyaan Rian menghentikan Elle saat sedang mengelap gelas- gelas kecil untuk minuman kopi. Ia meletakkan gelasnya dengan pelan dan menatap Rian dengan tajam.

“Ti…dak,” jawab Elle dengan singkat. Lalu ia meneruskan pekerjaannya.

Rian masih belum percaya dengan jawaban Elle yang begitu singkat. Ia merasa Elle sangan menyukai Frans jadi ia curiga jika Frans menemuinya tadi malam. Dan sampai saat ini Frans belum pulang ke rumah…