Tempat Tidur yang Susah Diatur

“Ma, aku tidak mau merapikan tempat tidurku. Itu membuatku kesulitan dan sangat lama. Bisakah Mama merapikannya untukku?”

“Bisa, tetapi nanti akan meninggalkan waktu yang sudah Mama jadwalkan untuk mengerjakan hal lain untukmu. Pekerjaan manakah yang dapat kau kerjakan untuk Mama, sementara Mama merapikan tempat tidurmu?”

“Aku bisa menyajikan sarapan sendiri,” jawab Kay.

“Ya, itu sudah kau lakukan, bukan?” kata Mama.

“Iya… Oh, aku tidak tahu. Tidak ada hal lainnya yang bisa kukerjakan,” kata Kay.

“Jika Mama merapikan tempat tidurmu, bisakah kau merapikan tempat tidur Mama?” tanya Mama.

“Atau, bisakah kau mencuci piring untuk sarapan atau mencuci baju, sementara Mama merapikan tempat tidurmu?”

“Aku sedang berpikir,” kata Kay.

——————————-

“Sudah kuputuskan bahwa aku akan merapikan tempat tidurku saja. Dengan begitu aku bisa berlatih melakukannya, agar aku bisa merapikannya lebih baik lagi dan lebih cepat.”

“Kedengarannya ide yang bagus,” kata Mama. “Sekarang Mama bisa menyelesaikan memasak untuk sarapan. Dan kita akan menikmatinya bersama- sama, setelah kau segera merapikan tempat tidurmu.”

“Awas, tempat tidur berantakan. Aku datang!” kata Kay bersemangat.

Mendorong anak-anak untuk berlatih bertanggung jawab, alih-alih usaha agar orang tua dapat mengerjakan hal- hal untuk mereka (anak-anak).

Diterjemahkan dari Bed Making Blues | penulis: Agnes dan Salemde Bezenac

Misteri Kebun Binatang

Di hari musim panas, seorang gadis kecil sedang bermain bersama anjingnya. Mama dan Ayah sedang duduk di ruang tamu. Ayah sedang membaca koran.

“Kalian sudah mendengar kabar?

Salah satu jerapah telah hilang dari kebun binatang,” Ayah berkata.

Si gadis kecil lalu berhenti bermain. “Ke mana dia pergi?”

“Entahlah,” Ayah berkata, “pagi ini penjaga kebun binatang mencari- cari jerapah yang hilang itu. Tidak ada yang tahu dimana dia dan mereka akan memberikan hadiah kepada siapa saja yang dapat menemukannya.”

“Kita harus ke sana dan menyelidiki,” Mama berkata.

Setelah perjalanan yang tidak jauh, mereka sampai di kebun binatang. “Kita lihat binatang- binatang di sini.

Kita pasti mendapatkan petunjuk,” kata Mama dengan wajah serius.

“Benar!” Ayah berkata.

Mereka melihat seekor gajah. Seekor singa. Seekor badak. Seekor kudanil. Dan seekor unta.

Seorang wanita tua berkata, “Apa kau sudah mendengar kabar hilangnya si jerapah?”

“Itulah mengapa kami datang ke kebun binatang,” Ayah menjawab.

“Hmm,” si gadis kecil memperhatikan wanita tua itu.

Mereka melanjutkan melihat- lihat para binatang.

Ada seekor monyet. Seekor beruang. Seekor rusa jantan. Seekor kanguru. Dan… seorang  pria mengendarai sepeda.

“Hmm,” kata si gadis kecil sambil memperhatikan pria bersepeda itu.

“Ayo kita melihat para binatang lagi,” kata Mama.

Mereka melihat seekor burung unta. Ular. Anjing laut. Seekor panda. Lalu ketika tiba- tiba ada cahaya menyilaukan mata mereka, hanya ada seseorang tukang foto.

“Hmm,” kata si gadis kecil lagi.

“Mama?

Ayah?”

“Iya!?!” jawab Mama dan Ayah bersamaan.

“Wanita itu… dan pria bersepeda… dan tukang foto itu… adalah si jerapah!”

“Hah?!?” kata Mama dan Ayah terkejut.

Ia benar. Kemudian Mama, Ayah dan si gadis kecil melapor kepada penjaga kebun binatang…

“AH HA!” kata penjaga kebun binatang gembira.

“Ini hadiah untuk kalian yang sudah berhasil menemukan si jerapah. Tiket gratis ke kebun binatang. Dan foto keluarga kalian yang diambil oleh si tukang foto jerapah”

“Terima kasih!”

Bagian perjalanan ke kebun binatang yang paling mengesankan hari ini adalah hasil foto dari si jerapah.

Selesai…


Diterjemahkan dari The Zoo Mystery | penulis: Daniel Buchholz

Masalah Kura- Kura

Mama bertanya kepadaku, mengapa lantai kamarku basah.

“Tidak tahu.” jawabku.

Mama kemudian melihat sebuah ember yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Mengapa ada ember di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

Lalu mama mengambil seekor kura- kura yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Dan apa yang sedang dilakukan kura- kura ini di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

“Ember dan kura- kura tidak boleh ditaruh ke dalam bak mandi.” kata Mama.

Aku menemukan si kura- kura di kebun, dan membawanya ke tempat yang banyak air, tetapi aku tidak sengaja menumpahkan airnya ke lantai.

Aku tidak ingin berbohong lagi. Dan tidak ingin Mama marah. Jadi, aku bilang kepada Mama bahwa tidak aka meletakkan kura- kura ke bak mandi lagi. Akan tetapi, Mama tidak marah dengan si kura- kura; ia hanya tidak senang karena aku tidak berkata jujur.

“Mama mau kok merawat kura- kura ini.” kata Mama.

Berpikir! Berpikir! Berpikir! Oh, aku mengerti!

Berkata jujur lebih baik daripada berbohong. Aku akan berusaha melakukannya mulai sekarang.


Diterjemahkan dari Turtle Trouble/ penulis: Amy Upshaw

Anak Penyihir

Pada suatu hari, hiduplah seorang penyihir yang jahat dan buruk rupa. Ia seburuk puding kismis yang gosong. Ia memiliki seorang anak, yang bernama Broccolina, dan ia juga tidak lebih baik daripada ibunya. Si penyihir ingin mengajari anaknya ilmu- sihir, agar bisa meneruskan jejaknya.

Namun, belum seberapa ilmu yang diajarkan oleh ibunya, Broccolina tidak sedikit pun tertarik. Ia tidak pernah mau menjadi tukang sihir maupun pekerja rumah tangga. Ia hanya ingin menjadi cantik.

Broccolina sangat mengkhawatirkan dengan penampilan buruknya, dan ia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan cermin, untuk merias wajah. Ia memoles wajahnya dengan pewarna dan mengecat kuku- kukunya sampai terlihat berkilau. Ia menata rambutnya setiap pagi, siang, dan malam, dalam berbagai bentuk yang menurutnya pantas. Ia ingin terlihat secantik mungkin, tetapi kenyataannya bahwa semua yang sudah dilakukannya hanya membuat penampilannya semakin jelek.

Suatu hari, ibunya telah pergi ke suatu tempat yang jauh. Ia berpesan kepada Broccolina untuk tetap mengaduk ramuan sihir, yang sedang direbus, sampai ia kembali.

“Mengapa aku yang harus melakukannya?” Broccolina protes.

“Kau tahu aku sangat benci mengaduk ramuan. Sendok besar ini mengelupaskan cat warna kukuku, dan uap nya membuat riasan wajahku luntur.”

“Ini harus dikerjakan!” kata ibunya sambil berjalan ke luar pintu.

“Aku akan kembali segera mungkin. Saat ini juga, teruslah mengaduk periuk itu!”

“Ini tidak adil!” Broccolina menggerutu.

Ia mengambil sendok besar dan memulai mengaduk.

Setelah beberapa lama, ia mendengar suara yang aneh di telinganya. Itu seperti sekawanan lebah yang terbang di atasnya. Ia mendongak ke atas untuk melihat apa itu.

“Oh!” ia memekik. Itu adalah bidadari baik hati, yang terbang di atasnya.

Mata Broccolina terbelalak saat melihatnya.

“Sungguh cantik bidadari itu! Seandainya aku bisa secantik dia!” ia berkata dengan iri sambil menatap sang bidadari.

“Bagaimana dia bisa sangat cantik? Pasti ada rahasianya,” ia berpikir.

“Jika aku bisa menangkapnya, mungkin aku bisa mendapatkan rahasianya. Ya, aku harus cepat dan menangkapnya.” Ia meninggalkan periuk mendidih di atas tungku, dan berlari ke dalam rumah untuk mengambil karpet ajaib.

Tetapi ibunya telah membawanya pergi.

“Oh, tidak!” ia merengut. Ia sangat kecewa karena tidak dapat menangkap sang bidadari. Ia kembali ke tempat ketel besar itu, dan mendongkol.

“Oh, bagaimana caranya agar aku bisa menjadi secantik itu?”

Ia berpikir, berpikir, dan berpikir, tetapi belum ada hal yang muncul di dalam pikirannya.

Tiba- tiba ia mendapatkan sebuah ide.

“Mungkin ibuku mempunyai resep ramuan di buku- buku sihirnya, yang untuk membuat diriku cantik seperti bidadari itu. Pasti, ia pasti punya.”

Kemudian ia berlari kembali ke dalam rumah, dan menuju ke lemari ibunya.

Ia menggeledah lemari, mencari- cari resep, membolak- balik semua buku resep sihir ibunya satu per satu. Akan tetapi ia tidak menemukan resep apapun untuk menjadi cantik seperti bidadari. Ia sangat kecewa. Ia tidak berhenti memikirkan sang bidadari cantik itu. Ia mondar- mandir dan agak emosi, tidak ingin menyerah begitu saja.

“Baiklah,” ia berpikir, “aku akan membuat sendiri resep itu, untuk menjadikanku cantik.”

Ia kemudian kembali ke tempat periuk yang sudah mendidih itu dan mengaduknya, ia masih mencoba memikirkan resepnya. “Apa bahan- bahan yang harus kugunakan untuk membuat ramuan sihir itu?” ia bertanya kepada dirinya sendiri. Ia berpikir dan berpikir, tetapi ia tidak bisa berpikir tentang cara menjadikannya cantik.

Selang beberapa lama, Broccolina merasakan ada sesuatu yang menjilati pergelangan kakinya. Itu adalah kucing abu- abu ibunya. “Pergi,” ia berkata. Kucing itu menggeliat manja di kaki Broccolina, mengeong. Ia sepertinya kesepian. Broccolina, yang sudah sejak tadi marah, menjadi semakin marah karena itu.

“Kubilang pergi!” ia membentak.

Ketika kucing itu tidak mau pergi, Broccolina menarik ekornya dan melemparkannya ke luar pintu. ‘Yeeoow!’ Kucing malang itu meraung dan berlari dengan menaikkan ekornya.

Tidak disadarinya, sebuah ekor yang sangat panjang muncul dari punggung Broccolina. Tetapi, ia masih asyik melamun jika ia menjadi secantik bidadari, hingga ia tidak mempedulikan itu. Ia mengaduk ramuannya lebih cepat, memikirkan bahan- bahan yanga harus ia masukkan.

Burung gagak ibunya melihat sesuatu yang aneh yang muncul di punggung Broccolina dan bergoyang- goyang. Dikiranya itu adalah ular, lalu ia mematuk dan menariknya keluar.

Broccolina marah karena terganggu lagi. Ia memukul burung gagak itu menggunakan sendok pengaduk. Kaki kurus burung gagak itu terlukai oleh sendok itu dan beberapa cairan ramuan tumpah di atas tanah.

Burung gagak yang malang itu memekik kesakitan dan buru- buru pergi dengan kaki pincang. Broccolina memang sengaja, ia tidak peduli telah memukul burung gagak itu. Bahkan ia tidak meminta maaf kepadanya. Ia melanjutkan mengaduk ramuan di panci besar itu. Tidak lama kemudian, ada luka- luka kecil yang muncul ke seluruh tubuhnya. Namun, ia terus memikirkan untuk menjadi cantik, hingga ia tidak menyadarinya.

Seekor kambing, yang akan disembelih ibunya untuk makan malam, mencium bau ramuan ajaib yang menetes di tanah. Ia bangun tidur dari tempat tidur jeraminya lalu menjilati tetesan ramuan itu, sebab ia sangat haus. Hal itu membuat marah Broccolina dan bahkan semakin marah, kemudian ia menendang kambing itu. Kasihan sekali, kambing yang kehausan itu berjalan sempoyongan, ketakutan dan kesakitan.

Dan, tidak berlangsung lama, Broccolina memiliki jenggot abu- abu seperti kambing itu, yang tumbuh meruncing dari dagunya dan rambutnya menjadi kasar dan kaku seperti jerami. Namun Broccolina tidak memperhatikan itu, karena ia sangat sibuk, memikirkan tentang bahan- bahan yang harus ia masukkan untuk membuat ramuan kecantikan.

Sapi yang ada di kandang, melihat rambut jerami Broccolina yang segar dan menggiurkan. Ia sangat lapar dan berpikir bahwa itu adalah tumpukan jerami, jadi ia datang untuk memakannya.

Broccolina, tanpa menyadari mengapa sapi itu mendatanginya, dengan marah melemparkan kayu bakar kepadanya. Kayu itu mengenai tanduknya dan kemudian sapi yang malang itu kabur, melenguh ketakutan.

Selang beberapa detik kemudian, dua benjolan muncul dari dua sisi kepala Broccolina dan tumbuh menjadi dua tanduk yang besar. Namun, ia tetap tidak memperhatikan!

Ketika anjing penjaga ibunya melihat makhluk asing ini, ia tidak mengetahui bahwa itu adalah Broccolina. Ia meloncat- loncat di hadapannya, menggonggong, dan menggeram.

Broccolina begitu terganggu karena gonggongannya lalu ia memukul anjing itu dengan penutup panci besar itu. Benda itu mengenai mulut si anjing sehingga ia berlari ketakutan sambil berteriak- teriak.

Tiba- tiba setengah dari semua gigi Broccolina jatuh ke dalam panci besar itu, saat ia mengaduk ramuan. Tetapi Broccolina tidak mengetahuinya, sebab ia sangat keras memikirkan cara menjadi cantik seperti bidadari.

Burung beo kecil terbangun karena mendengar keributan. Ketika ia melihat Broccolina, ia menjadi ketakutan dan terbang ke sana kemari di dalam sangkarnya.

“Oh! Broccolina,” burung beo itu berteriak, “apa yang terjadi padamu? Kau menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan kau menjadi terburuk yang pernah kulihat,” burung beo mengoceh, merasa ngeri. Broccolina geram. Ia menggoyang- goyangkan sangkarnya dan memaki- makinya. Saat ia memaki, suaranya serak dan menjadi parau, seperti berkuak- kuak.

“Oh! Ada apa ini?” Broccolina sangat kebingungan dan merasa ada yang salah. Ia berlari menuju cermin.

Saat ia melihat dirinya di cermin, ia sangat terkejut.

“Oh, tidak! Tidak, tidaaaak…” ia berteriak histeris.

“Oh, tidak, aku ingin menjadi cantik seperti bidadari.”

Ia berlari ke luar rumah, berteriak- teriak dengan kasar. Ia menjadi semakin marah. Ia menangis meraung- raung dan berguling- guling di tanah, mengutuk bidadari.

Mendengar raungan Broccolina, sang bidadari, yang terbang dalam perjalanan ke surga, datang untuk melihat apa yang terjadi. Ketika Broccolina melihat sang bidadari, ia sangat marah dan dengki.

“Kau bidadari jahat! Kau bidadari jahat!” Broccolina berteriak dengan marah, sambil mengangkat tangannya.

“Mengapa kau terbang di atasku? Sejak saat itu aku ingin menjadi bidadari sepertimu.”

Sang bidadari mendengarkan dengan tenang. Broccolina memprotes.

“Lihat apa yang terjadi padaku? Akhirnya aku menjadi mengerikan. Kau harus bertanggung jawab untuk semua ini. Sekarang, kau harus bilang kepadaku, rahasia menjadi cantik seperti bidadari. Kecuali aku akan mengajarkanmu sebuah pelajaran saat aku menangkapmu,” Broccolina berteriak dengan geram.

Sang bidadari mendengarkan dengan sepenuh hati dan berbicara kepadanya dengan tenang.

“Broccolina, tidak ada ramuan sihir yang bisa membuat siapa pun cantik seperti bidadari. Ini bukanlah rahasia. Jika kau mencintai dan menyayangi sesama, bersikaplah rendah hati dan sabar, dan hanya melakukan perbuatan baik, saat itulah kau terlihat cantik seperti bidadari. Cinta di dalam hatimu untuk sesama yang sesungguhnya membuatmu cantik.”

Dengan mulut ternganga, Broccolina mendengarkan dengan sungguh- sungguh nasihat bidadari.

“Beberapa waktu yang lalu, kau memperlakukan hewan- hewan malang ini dengan tidak baik. Itulah mengapa kau menjadi buruk. Semakin hatimu terisi dengan amarah dan dendam, keburukan datang kepadamu,” kata sang bidadari.

“Broccolina, sekarang kau harus menemui siapa pun yang sudah kau sakiti, dan rawatlah hingga mereka sembuh. Kau harus menyayangi mereka dan berbicara kepada mereka dengan penuh kasih sayang. Kau tidak boleh berbicara kasar kepada siapa pun. Maka suaramu akan menjadi lebih baik.” Sang bidadari kemudian pergi, mengepakkan sayap emasnya.

Broccolina berlari- lari dengan panik, mencari si kucing, si burung gagak, si kambing, sapi, anjing dan burung beo. Mereka semua bersembunyi darinya, di belakang kandang, memar- memar, dan merasa sangat ketakutan dan kesakitan. Ketika melihatnya, mereka semakin ketakutan. Tetapi saat ia berkata kepada mereka dengan baik, mereka menjadi terkejut, lupa akan ketakutan dan kesakitan yang mereka alami. Broccolina merawat mereka dengan sepenuh hati dan menyembuhkan luka- luka mereka dengan sabar.

Mereka semua senang dan kagum mendengar perkataan baik dari mulutnya. Sedikit demi sedikit, saat ia berbicara dengan baik kepada mereka, suaranya berubah menjadi lembut dan lembut. Saat ia mengobati luka- luka para hewan itu dengan penug kesabaran, kulitnya menjadi bersih dan memancarkan cahaya.

Ketika ia merawat mereka dengan kasih sayang, rambutnya menjadi halus dan berkilau. Ketika ia memperhatikan mereka dengan sorot mata yang lembut, matanya menjadi lebih bercahaya dan bening. Sedikit demi sedikit, ia menjadi cantik, seperti bidadari.

Dengan cepat, dua benjolan yang muncul di punggungnya berubah menjadi sayap- sayap yang indah.

“Oh!” ia terkejut, sangat bahagia dengan perubahannya. Ia melayang di udara, sambil mengepakkan sayapnya. Broccolina akhirnya menjadi bidadari dan terbang menuju surga. Setelah itu ia tidak pernah menyakiti siapa pun dan selalu menyayangi semuanya.
Diterjemahkan dari The Witch’s Daughter/ penulis: Janaki Sooriyarachchi

Boris Sangat Bosan!

Boris telah bermain dengan semua mainannya. Ia telah membaca semua buku- bukunya. Namun, sekarang ia tidak tahu apa yang dilakukan selanjutnya. Ia berpikir dan berpikir, tetapi ia belum bisa berpikir apa yang bisa dilakukan.

Boris sangat bosan.

Akhirnya Boris beranjak dan pergi menemui ayahnya. Ia meniup terumpetnya dan berkata, “Ayo kita melakukan sesuatu.”

“Ayah sedang melakukan sesuatu,” kata sang ayah. “Ayah sedang sibuk mengecat. Mengapa kau tidak pergi memancing saja?”

“Memancing tidak menyenangkan jika sendirian,” kata Boris. “Kumohon lakukan sesuatu bersamaku.”

“Ayah tidak bisa sekarang,” kata sang ayah. “Mengapa kau tidak membaca buku?”

“Aku sudah lelah membaca buku!” jawab Boris.

Boris berharap ibunya mau melakukan sesuatu bersamanya.

“Ibu ingin sekali,” kata sang ibu, “tetapi ibu sudah berjanji kepada adikmu untuk membuat banyak kue bersamanya. Mengapa kau tidak membantu kami saja?”

“Tidak, tidak, tidak!” teriak Boris. “Aku tidak senang dengan adikku— dan aku tidak senang membuat kue!”

Dan ia mengentakkan kaki kembali ke kamarnya.

Boris bisa mendengar suara kegembiraan yang datang dari dapur. Ocehan dan candaan membuatnya merasa semakin sedih. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah pohonnya.

“Mungkin di sana ada sesuatu yang bisa dilakukan,” ia berkata. Ia membawa terumpetnya, hanya berjaga- jaga jika di sana tidak ada.

Akan tetapi ketika Boris sudah memanjat ke atas pohon itu, ia tidak melihat apapun yang bisa dimainkan. Itu juga membosankan seperti berada di kamarnya.

“Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kumainkan?” ia bertanya pada dirinya sendiri berulang- ulang.

Sebenarnya ada banyak sekali benda— tetapi ia tidak menginginkannya. Ia benar- benar tidak ingin memainkannya.

Tiba- tiba sebuah kardus besar datang dan berjalan di bawahnya. Dari dalam terdengar suara adik Boris yang sedang menyanyi, “Aku akan  membangun sebuah istana. Tetapi jangan ada yang tahu di mana. Ini adalah rahasia!”

Dari rumah pohonnya, Boris dapat melihat dengan jelas ke mana ia pergi. “Membangun istana!” ia berpikir. “Hal yang membosankan. Jika aku mempunyai kardus itu,  aku mau membuat sebuah pesawat ruang angkasa yang besar sekali!”

Ia masih melihat adiknya dan teman- temannya yang sudah mulai bekerja.

Selanjutnya Boris melihat mereka menempelkan guntingan pola kertas dan kancing baju ke istana itu lalu membuat lukisan di dindingnya.

Sebenarnya Boris tahu apa yang akan ia lakukan. Sebuah pesawat ruang angkasa akan memerlukan roket dan antena dan banyak benda lainnya.

Tetapi kemudian ia ingat kebosanannya untuk melakukan apapun.

Di waktu selanjutnya Boris melihat adiknya dan teman- temannya membawa ular- ularan dan kertas krep.

“Aku menduga mereka akan mengadakan sebuah pesta,” Boris bepikir. “Lalu apa! Aku tidak senang pesta!” Tetapi ia tetap melihat mereka berjalan dari rumah pohonnya.

“Ibu memberikan kita semua perhiasan dan baju lamanya untuk bermain peran,” adik kecilnya berkata dengan lantang seraya ia melewati di bawah rumah pohon Boris beberapa menit kemudian. “Aku akan menjadi seorang putri. Tetapi kau tidak ingin melihatnya!” ia menambahkan.

Tentu saja ia mau melihatnya, Boris berbicara dalam hati— dan ia berpura- pura seolah- olah ia tidak pernah tertarik.

Permainan peran itu terdengar sangat ribut dan menyenangkan.

Boris mengkhayal peran apa yang ia inginkan, jika itu adalah pestanya— yaitu menjadi astronot, atau bahkan menjadi alien dari planet yang asing!

Kemudian Boris melihat teman- teman adiknya sangat menikmati hari yang menyenangkan. Hal itu membuatnya merasa semakin tidak senang.

Ketika mereka berpose dan sang putri yang mengambil gambar mereka menggunakan sebuah kamera, Boris menjatuhkan ranting- ranting kering ke arah mereka. Namun mereka lebih menikmati waktu bersenang- senang.

Lalu adiknya berkata kepada teman- temannya, “Ayo kita berpesta— oh, tidak, maksudku pesta keajaan!” — ingat, ia adalah sang putri.

Ia berjalan dengan bangga melewati rumah pohon Boris lagi, dengan membawa sebuah mangkuk berisi penuh dengan kue- kue hangat.

Aroma lezat dari kue- kue yang baru saja diangkat dari pemanggang naik ke atas menuju rumah pohon Boris. Tuangan jus buah dari poci kaca membuatnya haus. Namun, siapapun tidak memperhatikannya. Mereka sangat sibuk tertawa, makan, dan menikmati waktu bersama- sama.

“Ini sudah berlebihan!” kata Boris.

Boris tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ia mengambil terumpetnya dan ditiupnya sekeras- kerasnya.

Pwaaat!

Lalu lagi. Dan lagi! Pwaaat! Pwaaat!

Saat ia berhenti meniup terumpet, suasana menjadi diam! Tidak ada ocehan atau tawaan. Suara berisik terumpet telah bekerja! Ia telah menghentikan kesenangan mereka dan pesta yang membosankan. Boris sangat bangga kepada dirinya sendiri.

Tetapi tiba- tiba ia mendengar namanya dipanggil dari bawah.

“Boris, si peniup terumpet juga dibutuhkan dalam pesta kerajaan!” teriak salah satu dari mereka. “Bagaimana? Maukah kau menjadi peniup terumpet untuk sang raja?”

Boris mengatakan beberapa patah kata yang sangat tidak sopan. Namun kemudian ia berpikir sejenak dan berkata, “Mungkin aku mau menjadi peniup terumpet. Tetapi aku akan melakukannya jika diberi dua puluh kue dahulu!”

“Bagaimana jika tiga?” tanya adiknya, yang melihat isi mangkuk sudah hampir kosong.

“Oke,” kata Boris, “itu bayaran yang adil.” Lalu ia turun dari rumah pohon.

Pesta itu berlangsung begitu meriah! Si peniup terumpet mulai membunyikan terumpetnya. Sang raja menabuh dram. Semua penghuni kerajaan menari bersama- sama. Dan Boris sudah lupa dengan semua kebosanannya dan hal- hal yang tidak bisa dilakukannya.

Akan tetapi ia tidak lupa dengan kue- kue yang sudah disimpan oleh sang putri yang khusus untuknya.

 

Diterjemahkan dari Totally Bored Boris! | penulis: HANS WILHELM

Rumah untuk Tikus

Di sebuah rumah, di dalam ruangan yang sangat gelap, keheningan malam hari membangunkan Whiskers. Ia menguap.

Whiskers melompat untuk menjelajah. Sinar lampu kuning pucat membuat bayangan ungu di lantai. Rumah yang sepi…

Ia berlari di sepanjang gang yang terang. Rumah ini sangat cocok untuk seekor tikus yang lapar.

Hidung merah mudanya menempel di karpet, Whiskers mencium aroma yang luar biasa. Ia menyelip ke bawah pintu berwarna cokelat tua di ujung ruang utama.

Dengan cepat Whiskers memanjat ke sebuah selimut tebal dan sangat lebar. Ia buru- buru melintasi medan yang tidak rata dan meluncur ke gundukan curam, dan licin.

Ia berguling ke kepingan kacang, remah- remah roti dan potongan keripik. Baru saja ia mau memakannya, gundukan selimut itu bergerak di bawah kakinya. Teriakan menggemparkan ruangan, mengerikan Whiskers.

Ia terpental. Melambung ke awang- awang bersama keripik dan selimut. Cahaya terang menyilaukan matanya. Ia melompat ke lantai dan berlari menuju pintu. Ketika ia berjalan keluar, sebuah benda menimpa ekornya dengan keras.

Whiskers berlari kencang menuju tempat tidurnya yang hangat dan bersembunyi di bawah adiknya. “Ada keributan apa ini?” teriak Cheesepuff, seekor tikus putih kecil.

“Ada monster besar di rumah ini,” kata Whiskers gelagapan, “sebesar gunung yang matanya bersinar, menyilaukan dan pemukul ekor yang mengerikan.”

Cheesepuff mengendus udara dan tubuhnya gemetaran, “Itu manusia. Sudah kubilang padamu rumah ini tidak aman. Kita harus pindah. Kita perlu rumah khusus tikus.”

“Tetapi,” kata Whiskers, “rumah ini rumah kita.”

“Lalu mereka yang harus pergi,” Cheesepuff menegaskan.

“Tidak,” kata Whiskers, “kita harus tinggal bersama- sama.”

Keesokan harinya mobil van oranye berhenti di depan rumah. Seorang pria berkemeja putih meletakkan jebakan lengket ke seluruh rumah dan berikutnya di tempat perburuan kesukaan Whiskers dan Cheesepuff.

Malamnya, Whiskers mengendus- endus baki beraroma lezat dan dengan hati- hati ia mencelupkan kakinya ke dalam bubur yang kelihatan lezat. Kakinya terjebak, menempel di dalam bubur itu lalu ia berteriak kencang memanggil adiknya. Cheesepuff menyentakkan dan menarik ekornya hingga kakinya keluar dari bubur yang lengket itu.

Tikus- tikus itu menunggu beberapa hari agar jebakan itu hilang. Mereka sangat lapar. Kemudian Whiskers mempunyai ide. “Ayo kita memberikan manusia itu sebuah hadiah, lalu mungkin mereka akan membiarkan kita untuk tinggal.”

Menurut Cheesepuff itu bukan ide yang bagus, dan ia bersembunyi di tempat tidurnya sementara Whiskers dengan hati- hati mengambil sayuran segar dan bunga- bunga. Ia menarik sebuah tas kecil dari kotak harta karun mereka dan mengisinya penuh dengan wewangian bunga lavender dan bunga- bunga merah muda.

Cheesepuff melihat saat Whiskers meletakkan hadiah mereka dengan baki mengerikan itu di ruang keluarga. Ia menandai seluruh tas itu dengan cap kakinya.

Esok hari, tikus- tikus itu mendengar teriakan, suara, dan tangisan. Segera, semua jebakan menghilang.

Ketika tikus kakak- beradik itu mengintip dapur malam itu, ada sebuah bungkusan besar di mana jebakan itu diletakkan. Whiskers curiga. “Jangan terlalu dekat,” ia berbisik seraya melihat sesuatu yang aneh.

“Tetapi mereka memberikan kita sebuah hadiah yang indah,” kata Cheesepuff sambil mengendus kertas pembungkus berwarna merah muda bermotif bulat- bulat dengan hidungnya.

Kedua tikus itu menyobek kertasnya dan menemukan sebuah susunan benda yang membuat mereka ingin tahu. Whiskers berguling- guling ke serutan kayu yang lembut di lantai dan menceburkan diri ke sebuah mangkok yang penuh dengan kepingan kacang, remah- remah kue dan potongan keripik. Ia berlari ke roda besar yang terus berputar dan berputar. Cheesepuff mengikutinya dan menemukan sebuah wortel di tempat lain.

“Aku basah kuyup,” teriaknya ketika ia bersandar pada botol minuman. “Inilah rumah!” kata Cheesepuff. “Benar- benar rumah kita. Sebuah rumah yang dibuat sesuai ukuran kita.”

Diterjemahkan dari A House for A Mouse | penulis: REBECCA WESTBERG

Hari yang Sibuk Kodok Barnaby

Di hari yang cerah kodok Barnaby sedang menyanyikan lagu “Seorang Polisi” dari Mikado.

Mikado adalah sebuah pertunjukan musik yang diciptakan oleh Pak Gilbert dan Pak Sulivan dan sering dinyanyikan oleh para kodok, sebab suara mereka sangat bersemangat.

Barnaby mengambil suara tinggi dengan mendongak ke langit.

Tiba- tiba ia berhenti menyanyi.

Ada burung Ork putih yang sangat besar melintas di angkasa.

Ork itu akan memangsa kodok Barnaby kecil untuk sarapan.

Barnaby melompat ke benda terdekatnya untuk berlindung. Ternyata ini adalah ember susu yang terbalik.

Dari celah bawah ember, Barnaby melihat Daisy Mazy, si gadis pemerah susu yang datang untuk memerah susu si Butterpob sapi.

Barnaby perlu tempat lain untuk bersembunyi. Ia sangat berharap sebisa mungkin.

Melompat,

Melompat- lompat,

Melompat, melompat, dan melompat…

Barnaby menceburkan diri ke bak air milik Percy si babi agar aman. Ork putih besar masih berputar- putar di atasnya di angkasa.

Mendengar suara percikan air, si Babi ingat ia sedang haus, lalu berlari menuju bak air itu.

Barnaby melihat Percy berlari sangat kencang dan terlihat sangat kehausan.

Barnaby tidak mau dirinya ikut terminum dan masuk ke dalam tubuh Percy.

Kemudian Barnaby berenang dan melompat sangat tinggi, ia mendarat di dekat tempat kubangan air.

Bukan tempat terbaik untuk bersembunyi karena terlalu sempit dan dingin.

Sebuah bekas wajan yang dibuang oleh seorang petani.

Barnaby kebigungan, apa yang harus ia lakukan.

Ketika si Percy babi berlari mendekatinya.

Kaki belakang Percy menyandung tangkai panci wajan itu. Membuat kodok Barnaby terlempar keluar dan terguling- guling.

Tidak pernah terbayangkan jika Barnaby terbang dengan sangat tinggi sekali. Namun, ia mampu, pikirnya.

Yang akhirnya melambung tinggi ke angkasa.

Ork putih besar melihat sarapannya terpelanting ke atas, lalu ia mengepakkan sayapnya berbalik arah untuk menyambar Barnaby yang malang.

Kodok Barnaby, ia terjun ke bawah.

Namun Ork putih besar hampir dekat, tidak ada yang bisa menghalanginya.

Ia bisa menangkap Barnaby kecil, tidak diragukan lagi.

Tiba- tiba ,

Dengan ceburan agak keras,

Barnaby mendarat ke kolam perairan sawah.

Barnaby bersembunyi di balik rumput- rumput liar dan bebatuan,

di dalam dasar kolam perairan sawah.

Yang Barnaby pikirkan,

ia tidak mau pindah,

Ia cukup senang, untuk satu hari yang cerah.

Diterjemahkan dari Barnaby Frog Busy Day | author: Tony J Moon