Kopi di Gelas Belimbing

Siapa yang tidak kenal dengan kopi? Minuman yang terbuat dari tanaman yang sudah banyak ditemukan di pulau- pulau nusantara, sampai terkenal Indonesia sebagai penghasil kopi paling banyak nomer tiga sedunia, setelah Brasil dan Vietnam. Buahnya disangrai sampai menjadi cokelat tua, ditumbuk halus, jika diseduh dengan air panas tanpa gula rasanya sangat pahit. Jelas semuanya.

Anak- anak suka kopi? Tidak sedikit. Awalnya cuma ikut- ikutan Mbah Kung, lalu lama- lama jadi ketagihan. Termasuk Arman, anak SMA kelas dua yang berperawakan ideal, memakai kacamata. Sekilas mirip penyanyi muda yang terkenal dengan nama Afghan. Pakaiannya harus serba modis menurut gaya busana jaman sekarang dan gaul.

Arman sudah gemar minum kopi sejak masih berumur tiga tahun. Ketika itu, ia sering sakit demam, sampai kejang. Menurut kata tetangga sekitarnya, anak kecil yang sering sakit sejenis itu lebih baik diberi minuman kopi. Ibunya Arman menurut saja. Setiap pagi, saat ibunya membuatkan kopi untuk Mbah Kungnya, Arman diberi satu tatakan. Lama- kelamaan, Arman senang ngopi, hingga sekarang.

Jika dilihat dari perawakannya, mestinya Arman juga seperti teman- temannya yang gemar ngopi di cafe- cafe yang menawarkan berbagai macam minuman kopi. Mulai dari kopi espresso, capucino, kopi dari luar negeri yang modelnya bermacam- macam, sampai kopi yang terkenal mahalnya yaitu kopi luwak. Tetapi Arman itu beda. Kesenangannya hanya satu, kopi tubruk. Mau ke mana saja, ya harus ada itu. Kopi kesenangan Mbah Kungnya. Kopi robusta yang disangrai dan ditumbuk oleh ibunya sendiri.

“Man, nanti ikut aku, ke Cafe Cangkir. Kau suka kopi ‘kan? Ini ada cafe baru, baru buka. Ada promosi bagi yang suka kopi,” ajak Fahmi teman lesnya. Fahmi juga senang kopi. Bedanya, Fahmi suka minum kopi yang sudah dicampur, seperti capucino, maracino, caffe latte, sedangkan Arman hanya mau kopi tubruk, itu cuma buatan ibunya, bukan yang ada di cafe- cafe.

“Ayo dong, sekali- kali,” ulang Fahmi.

“Tidak ah, Mi, aku ada tugas makalah yang belum selesai kukerjakan, besuk harus dikumpulkan. Kapan- kapan saja kalau longgar,” tolak Arman.

Fahmi hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Arman.

Kalau hanya diajak ke cafe itu sudah sering. Pertama kali dengan kakaknya atau dengan teman sekolahnya. Baru tahu mesin espresso pertama kalinya sebenarnya ya kagum. Ada yang untuk membuat buih dari susu yang kemudian dituangkan di atas kopi yang sudah berada di cangkir, ditaburi cokelat lalu dibentuk gambar sesuai pesanan. Ada yang menggambar daun waru, wajah seseorang, atau bunga. Memang menakjubkan, sampai Arman merasa sayang saat mau menyeruputnya. Rasanya jelas berbeda dengan buatan ibunya di rumah, yang hanya kopi dicampur air panas terus diaduk. Ini beda, sebab kopinya ditaruh di semacam sendok takaran kecil yang ada gagangnya, lalu ditekan, air kopinya ditampung di cangkir. Tidak ada ampasnya seperti yang dibuat ibunya.

Arman pikir- pikir, enak mungkin kalau ibunya dibelikan mesin seperti itu. Kalau hanya untuk membuatkan orang serumah pasti rugi, sebab pasti mesin itu sangat mahal, cocok untuk yang membuka warung kopi. Jadi, buat orang rumah saja enaknya cuma pakai gelas belimbing dan sendok kecil.

Sebetulnya ada juga alat yang lebih kecil tetapi kurang lebih hasilnya sama persis seperti mesin espresso. Namanya French Press, modelnya seperti teko, tetapi dalamnya ada alat pengepres untuk memisahkan ampas dan air. Namun semurah- murahnya masih tetap mahal bagi dompet keluarga Arman. Tetap lebih baik gelas belimbing dan sendok kecil. Lebih mantab.

“Apa itu, Ka?” tanya Arman pada Fika, adiknya yang sedang membawa cangkir bundar warna putih.

“Kopi,” jawabnya yang mulai menyeruput kopinya sambil berdiri. Dengan penasaran Arman melihat isi cangkirnya. Kopi, tetapi tidak hitam. Pasti kopi dari membeli di warung, kopi sachet, keluaran pabrik yang dibungkus plastik kecil, sudah komplit dengan gula dan susu.

“Kopi kok gak hitam,” Arman nyeletuk.

“Lho, jangan salah. Kopi itu gak harus hitam. Ini adalah white coffee. Kopi putih,” jawab Fika dengan bergaya sok Inggris yang logatnya dibuat mirip seperti tokoh Harry Potter, namun malah terdengar seperti Heri Puter tetangganya di kampung yang suka mengelilingi kampung dengan sepeda mininya.

“Kenapa kok disebut kopi putih?” tanya Arman.

“Karena kopinya sudah dicampuri susu, jadi berubah warnanya, tidak hitam, tapi putih…,” jawab Fika.

“Hahaha… kau keliru…,” Arman tertawa mendengar jawaban adiknya.

“Apanya?” Fika melengos.

“Yang disebut kopi putih itu bukan karena kopi dicampur susu, tetapi karena kopi itu disangrai tidak sampai berwarna cokelat tua seperti biasanya, jadi saat masih berwarna putih ditiriskan lalu ditumbuk. Itu yang disebut kopi putih. Kalau cuma ditambah susu itu disebut cappucino, caffe latte dan sebagainya…” Arman menjelaskan.

“Hehehe, kupikir karena ada susunya…” Fika meringis, lalu kembali menyeruput kopinya. Ia kemudian melanjutkan bicara, “Tapi yang menarik wadahnya ini, Mas.”

“Ada apa memang?”

Fika memperlihatkan cangkir bundar yang dibawanya. Cangkir bundar warna putih itu diputar- putar di depan Arman.

“Kenapa sih?” tanya Arman yang tidak mengerti maksud adiknya.

“Bagus.”

“Bagus?”

“Iya, gak seperti gelas belimbingmu yang kuno itu. Ini lebih pantas buat minum kopi, seperti di TV dan majalah- majalah itu lho, Mas.”

“Halah, cuma wadah kok. Setelah ini aku malah mau minun kopi di rantang,” jawabnya sambil beranjak menuju meja makan, teringat kopinya yang belum diminum. Fika melengos mendengar ucapan kakaknya.

Wadah minum saja kok dipersoalkan. Memang di luar, terutama di warung- warung modern yang disebut cafe, umumnya memiliki gelas bermacam rupa. Seperti cangkir putih yang dimiliki adiknya atau cangkir bening yang tingginya berbeda- beda, menurut Arman yang bagus hanya gelas belimbing. Lebih terasa di rumah. Kalau ditakar sebenarnya juga sama saja, gelas belimbing dengan gelas lainnya.

Mengapa gelas belimbing?

Hal itu yang sering membuat penasaran adiknya atau teman- temannya ketika melihat Arman sering minum kopi memakai gelas itu. Tidak ada yang khusus, kecuali gelas itu hanya mengingatkan kepada almarhum Mbah Kungnya yang sudah meninggal empat tahun lalu.

Beliau yang pertama kali mengenalkan Arman pada kopi. Mbah Kungnya yang setiap pagi, sehabis jalan- jalan, lanjut minum kopi. Saat kopinya masih panas, Mbah Kungnya yang menaruh kopi di tatakan gelas agar panas lebih cepat menguap. Sebelum diberi tahu oleh tetangga soal guna kopi yang baik untuk anak yang sakit deman sampai kejang, ibunya sering menyuruh Arman minta kopi kepada Mbah Kungnya. Beliau malah senang jika Arman minta kopinya. Walaupun sedikit, bagi Arman sudah melegakan. Bukan karena rasa kopinya, melainkan karena rasa kasih sayang Mbah Kung yang sifatnya memang baik dan tidak pernah marah, terutama kepada Arman.

Selain itu, ada sebuah peristiwa yang membuat Arman semakin senang dengan gelas belimbing. Suatu hari, siang- siang waktu pulang sekolah, kira- kira tiga ratus meter dari sekolahnya, Arman melihat beberapa anak SMA terserempet sepeda motor ketika menyeberang jalan. Orang ugal- ugalan, ia bukannya berhenti, malah tancap gas kencang meninggalkan korbannya. Saat didekati, ternyata itu Lani, teman SMP nya yang sekarang juga menjadi teman SMA nya namun beda kelas. Dengan segera Arman menolongnya.

“Bisa jalan ‘kan, Lan?” tanya Arman saat Lani sudah diajak menepi. Lani mengusap- usap pelan siku dan lututnya yang terluka.

“Bisa,” jawabnya.

“Benar? Kalau gak bisa, sini kuboncengkan.”

Gak usah, nanti merepotkan.”

Enggak enggak, aku gak bakal merepotkan. Nanti aku tidak meminta upah.”

“Bukan itu,” jawab Lani sambil menahan ketawa, Arman berkata dengan serius.

“Bukan ngrepotin aku, tapi ngrepotin kamu,” Lani meneruskan ucapannya.

“Lho kenapa?”

Mboncengin aku apa tidak merepotkan? Nanti kau tidak bisa segera sampai di rumah.”

Gak apa- apa, aku tidak buru- buru kok.”

“Aku gendut, berat, apa bisa kau mboncengin aku?”

“Kau takut kuboncengkan ya?” tanya Arman yang merasa Lani tidak enak dibonceng olehnya.

“Meskipun aku kurus tetapi kuat kok.”

Akhirnya, Arman mengantarkan Lani pulang. Sampai di rumahnya Lani maunya langsung pulang, tetapi ditahan oleh ibunya Lani. Arman akan diajak makan siang sekalian, sebagai ucapan terima kasih sudah menolong dan mengantar Lani pulang. Namun Arman menolak. Tak disangka, hujan turun dengan tiba- tiba. Sampai deras pula. Ibunya Lani mempersilakan Arman untuk berteduh dahulu di rumah Lani.

“Maaf lho, Man. Kau jadi terjebak hujan di sini,” kata Lani.

“Tidak apa- apa kok. Kalau aku langsung pulang mungkin juga kehujanan di tengah jalan,” jawab Arman sambil ngemil suguhan dari ibunya Lani. Pisang goreng yang diolesi cokelat dan ditaburi keju. Lainnya yang di dalam toples, seperti kue sus kering, kue semprit mawar, dan kue kering keju. Memang sudah lapar. Kalau tidak sungkan pasti semua sudah raib dimakan, tetapi malu.

“Rumahnya masih jauh ya, Mas?” tanya ibunya Lani sambil membawa dua gelas kopi susu. Arman melihat sekilas, gelas belimbing seperti yang ada di rumahnya.

“Eh… iya, lumayan,” jawabnya gelagapan. Ibunya Lani tersenyum.

“Sudah, ayo diminum, mumpung masih hangat.”

“Iya, terima kasih.”

Suasananya memang pas. Hujan deras, ngemil pisang goreng hangat, sambil minum kopi panas. Di hadapannya ada cewek manis. Ah, berteman selama tiga tahun, baru sekarang ia sadar jika Lani itu sebenarnya manis. Meskipun badannnya agak gemuk, tetapi lesung di pipinya menambah manis di wajahnya. Tetapi Arman adalah tipe cowok yang anti pacaran. Malas katanya. Namun tidak bisa disangkal jika ada rasa suka yang terselip di hatinya kepada Lani. Arman masih cowok normal kok. Jadi, semakin banyak saja kenangan di dalam gelas belimbing yang dipangku Arman…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s