Mas Gulu-Gundhek

Tidak satu pun orang yang senang jika cerita tidak menyenangkan masa lalu teringat lagi. Kalau bisa dikubur dalam- dalam pasti tidak muncul lagi. Orang berjalan pasti ke depan kan, termasuk aku sendiri!

Tetapi, seperti pepatah Jawa “ndhelika neng lenge semut, yen wayahe ketemu, arep piye maneh?” Mau tidak mau kejadian yang lalu terpaksa teringat lagi. Layaknya kaca benggala bagi hidupku. Kalau ditanya, ini ada apa sih sebenarnya?

Begini ceritanya, aku ‘kan ikut lomba mengarang di kampus dalam rangka Hari Ibu. Tidak tahunya hasil karyaku didiskualifikasi panitia. Alasannya, karanganku sama dengan karangan yang lain yang sudah dikumpulkan lebih dahulu. Apa ada, itu cerpen, hasil imajinasi, kok ada yang menyamai? Kok ada yang meniru? Apalagi, buatku yang sudah sering ikut lomba, niat plagiat itu tidak ada dalam kamus otakku.

…maaf, karangan Anda yang berjudul “Kasih Ibu Tiada Bandingnya” didiskualifikasi, karena sama persis dengan karangan salah satu peserta lainnya. Terima kasih…

Bagai disambar petir saat aku membaca email dari panitia. Segera aku menuju ruang panitia di ruang Senat Mahasiswa. Jalan di dalam kampus tidak seberapa ramai, musimnya remidi semester, banyak mahasiswa yang sibuk di kelasnya masing- masing. Jadi aku bisa berjalan setengah berlari.

“Mbak, kok bisa karanganku yang didiskualifikasi, mestinya kan dimusyawarahkan dahulu. Dikupas bersama- sama, mana yang asli dan mana yang meniru,” aku langsung mengomeli mbak panitia yang bertugas menerima protes. Namanya Dyah di name-tag nya.

“Tunggu dahulu sebentar, panitia masih rapat,” jawabnya enteng sambil melanjutkan mengetik di depan laptop. Aku celingak- celinguk memang di dalam ruangan ada suara ramai bersahutan seperti sedang diskusi.

Lama sekali, kutunggu hingga setengah jam. Biar tidak terasa kualihkan dengan membuka- buka facebook. Malah, Mbak Ayu sudah beranjak dari kursinya… Ah… kalau saja tidak ingat membela karyaku sendiri, tidak sudi aku menunggu lama seperti ini. Sampai…

“Mbak Reyna Hanna, mari silakan masuk untuk berbicara kepada saksi lomba mengarang,” panggil Mbak Ayu dari ruang sebelahnya.

“Iya, Mbak,” jawabku sambil langsung berdiri.

Aroma ruangan di sini berbeda dengan ruangan di luar. Wangi. Dan lebih bersih.

“Langsung saja, Mbak Reyna. Karangan Anda ini sama persis dengan karangan milik salah satu peserta lainnya. Ini, coba dibaca!” Mbak Saksi Mengarang memberikan dua karangan. Aku terkejut. Judulnya memang sama, tetapi isinya… baris demi baris persis. Alurnya sama. Endingnya juga.

“Karena dua karangan ini masuknya tidak bersamaan, panitia mendiskualifikasi karangan yang masuk setelahnya. Ya milik Mbak Reyna!”

“Ini karangan siapa?” aku bertanya setelah membacanya dua kali.

Mbak Andrea tertawa. “Ya rahasia panitia, Mbak. Jaga- jaga kalau ada apa- apa antara Mbak dengan dia.”

“Lho, Mbak. Siapa tahu kalau dia yang meniru ideku?” jawabku ketus.

“Ya tidak mungkin,” sentak suara laki- laki dari belakang kursiku lalu duduk di depanku. Aku langsung menunduk melihat meja setelah tahu siapa yang bersuara.

“Ini Mas Rahadian Amiguno, Ketua Panitia, Mbak Reyna,” Mbak Andrea mengenalkan. Aku tetap menunduk, sampai ia mengajak bersalaman. Mas Gugun, Gugun… aduh, kok ya ketemu di sini?

Aku tidak bakal lupa dengannya yang kusebut Gulu Gundhek dua tahun yang lalu. Lalu bagaimana asalnya istilah itu?

Ibuku sebelumnya menyuruh adikku untuk les privat, mendatangkan guru. Bukan guru sih sebenarnya, karena masih anak kuliahan, ia anak teman ibu yang sering menang Olimpiade. Ibu kalau memuji hm…tinggi sekali.

“Hanna, Mas Gugun ini sudah pintar mencari uang sendiri. Membuka les privat, sering ikut perlombaan, umurnya lho cuma selisih sedikit denganmu, kalau kamu ini kebiasaanmu apa?”

“Setiap orang itu punya bakat sendiri- sendiri, Bu,” jawabku setengah cuek.

“Maksudnya ibu, coba ditelusuri keahlianmu apa? Tahun depan sudah mau kuliah, mau mengambil jurusan apa?” Ibu meneruskan pembicaraannya.

“Sudah lah, Bu. Bosan aku membahas masalah itu terus,” aku lalu pergi. Awas, ya… lihat saja. Belum tahu siapa aku ini, batinku sebal.

Maka dari itu setelahnya, setiap guru itu datang aku bersuara kencang. “Adik, itu lho Pak Gugun, Gulu- Gundhekmu sudah tiba.”

Memang pak gurunya adikku itu berbadan besar gagah perkasa. Perkiraan se lehernya gundek! Dalam bahasa Jawa menjadi gulu- gundhek, cocok. Ternyata ia tidak membalas berkata apa- apa walaupun sebenarnya mendengar.

Hingga sore saat itu di teras…

“Mbak Hanna, ini bukumu, kan? Hm, karangannya bagus- bagus, lho,” suaranya Mas guru di dekat telingaku. Aku sedang santai membaca majalah.

“He, jangan berani- berani mengusik buku- bukuku,” jawabku ketus sambil menarik buku yang dipegangnya.

“Ih, Mbak Hanna, buku itu aku yang meminjam. Aku tidak mengerti jenis- jenisnya karangan, jadi…” Bagas bersuara.

“Aku mengerti, kalau Anda ini pintar, tidak usah memuji- muji. Aku tidak punya uang receh!” kataku sambil langsung pergi.

“Mbak, awas kulaporkan kepada ibu,” adikku berteriak. Aku tidak peduli! Mas Gugun ya seperti tidak peduli. Tetap saja mencorat- coret di whiteboard.

Buku kumpulan karanganku kudekap rapat- rapat. Hanya satu ini kebiasaan rutinku. Mengarang. Aku senang menulis cerita. Ada yang sudah kuketik dan ku share di blog-ku. Hanya iseng saja lah…

Dari dalam kulihat bukuku, astaga, tulisanku seperti habis dikoreksi. Titik koma, huruf besar, penulisan judul,… tidak terima aku kembali ke ruang depan lagi.

“Mas, beraninya mencoreti tulisanku. Ayo, dihapus semua!” kataku sambil melemparkan bukuku yang kemudian ditangkap tangannya.

“Bagas, masuk dulu, ya. Aku mau mengobrol sebentar dengan kakakmu,” Mas Gugun menyuruh Bagas. Lalu menarik tanganku untuk diajak duduk berhadapan. Tanganku digenggam erat, matanya tajam menatapku. Tanganku kutarik dengan sekuat tenaga tetapi kalah kuat. Aku giliran memandang matanya.

“Hanna, Mbak Hanna yang cuantiikk. Dengarkan perkataanku, jangan disela dahulu. Satu, aku tidak pernah mengusikmu. Kamu sendiri yang terus menggangguku sampai memanggilku dengan sebutan Gulu Gundhek, Gulu Gundhek. Seumpama ibumu bukan teman ibuku, aku sudah sejak awal tidak mau datang ke sini!” Oh… mataku tidak kuat memandangnya lagi, aku mengalihkan pandangan ke benda lain.

“Dua, Anda ini ibarat hape yang tidak pernah dices. Sok tau, merasa benar sendiri. Tidak mau mendengarkan perkataan siapa saja! Banyak yang bilang, Bagas, ibu, malah kakakmu yang teman kuliahku itu mengeluh sama!” mulutku hanya membungkam berbeda dengan isi hatiku yang ingin membalas perkataannya!

“Tiga, yang terakhir. Anda ini mempunyai potensi di bidang mengarang. Ayo dikembangkan. Karanganmu bagus- bagus, apalagi kalau mau ikut lomba, hm…” Mas Gugun melepaskan tanganku.

Mulutku yang hampir mengatainya, hanya diam rapat- rapat setelah mendengar perkataannya yang terakhir. Apa aku tidak salah dengar? Aku dipuji setelah dikupas kesalahanku! Sumpah, belum ada yang pernah memuji tulisanku, ya baru sekarang ini! Bukuku dikembalikan, dan aku mau menerimanya. Apalagi aku tadi disebut apa… Mbak Hanna yang cuantiikk?!

Sejak peristiwa itu aku sudah tidak pernah berbicara atau menyapanya. Aku menjauh. Hanya kupetik hikmahnya setelah itu aku mulai ikut lomba- lomba menulis cerita, sampai sekarang. Walaupun aku tahu kami sekampus, hingga setahun aku tidak pernah menyapa. Karena beda fakultas, juga beda jurusan!

Sampai hari ini tadi… bertemu langsung satu meja! Bagaimana ini, bertemu sekali saja, saat aku terkena kasus, hahaha…

Tiba- tiba Mbak Andrea keluar. Aku gelagapan. Mas Gugun memukul- mukulkan pulpennya di meja.

“Ya, ya sudah saya pamit. Perkara lomba saya…”

Belum selesai mulutku berbicara, Mas Gugun sudah menyambung, “Hanna, Hanna… aku kangen kau panggil Gulu Gundhek. Kok sekarang berubah?”

Aku cuma membatin, “Tidak hanya sekarang aku berubah. Tetapi sejak kejadian dahulu itu.”

“Sekarang tanggal berapa, Han?” Mas Gugun bertanya.

“Tidak tahu, tidak hafal,” jawabku jujur.

“Penulis memang sering lupa waktu, ya?” katanya, “Sekarang tanggal 16 Januari, ingat?” tanyanya lagi.

Aku hanya menggeleng- geleng. Apa sih maksudnya? Aku pasti ingat hari ini ‘kan tanggal kelahiranku.

Mas Gugun menarik file tebal dari tasnya. “Ini semua karanganmu yang kau share di blog-mu. Yang warna pink itu karanganmu yang pernah kau ikutkan lomba dan menjadi juara. Selamat, ya? Hannaku memang hebat!” Mas Gugun mengacungkan dua jempol, aku hanya ikut senang. Mbak Andrea masuk lagi.

“Hm…, mutiara yang hilang sudah ketemu?” celetuknya menggoda, “Ini segera ditandatangani keputusan hasil lomba.”

Hingga malam setelah hari itu aku masih merenung dan mencoba mengingat- ingat apa saja yang dikatakan oleh Mas Gugun. Hm, siapa yang tidak iri kepadaku, acungkan jari coba… sebab setelah itu aku diajak ke kantin kampus dan ditraktir untuk merayakan ulang tahun, hehehe…

“Karanganmu tidak ada yang meniru. Itu hanya rekayasaku supaya bisa bertemu denganmu…” dan seterusnya, dan seterusnya…

Singkatnya, selama ini ia selalu memperhatikan kiprahku sampai masuk ke blog-ku. Aku tidak bisa membantah. Hatiku semuanya ada di situ. Sudah terbaca oleh Mas Gugun dengan sangat jelas.

“Aku minta maaf jika perkataanku dahulu membuat Hanna sakit hati atau bagaimana…” kata Mas Gugun mengakhiri pertemuan sore tadi.

“Tidak, kok. Sama sekali tidak… Perkataan Mas itu malah seperti jamu untuk saya…” jawabku mantab. Kulihat mata Mas Gugun berbinar senang. Aku juga.

Terlihat jelas bayangannya ketika ada sms masuk… Hanna, misalkan aku tidak hanya mengunduh tulisanmu, tetapi juga mengunduh hatimu, boleh apa tidak?…

Gulingku kudekap erat karena jantungku berdegup kencang sekali. Benar- benar kencang sekali, dengar kan sampai sana?

***

Advertisements

Cerita Sepanjang Jalan

Pukul setengah 1 siang, aku baru saja melewati terminal Kedunggalar. Setelah jembatan 5 menit kemudian, kuparkir sepeda motor maticku di dekat lincak yang biasanya untuk berjualan es degan berjajaran di pinggir hutan Banjarejo. Kupikir hari ini aku bisa beristirahat dan berteduh di bawah naungan hutan jati sambil menikmati kesegaran air kelapa muda. Namun, kecele’. Siang ini tidak ada satu pun orang yang membuka warungnya. Terpaksa ku menahan rasa haus. Jakunku naik turun mengobati serak. Tanganku mencari- cari rokok di semua saku baju, kucabut sebatang lalu kunyalakan.

Lincak menjerit ketika tertimpa badanku. Aku merebahkan diri sambil meregangkan tulang belakang yang sudah terasa linu. Sudah hampir 5 jam bermotoran tanpa istirahat sejak berangkat dari kota Malang pukul 7 pagi tadi. Perkiraanku setengah jam lagi bisa sampai di rumah. Sambil tiduran, angan- anganku mengingatkan tentang jalan- jalan yang sudah kulewati. Tikungan jalan di tepi jurang Songgoriti yang meliuk- liuk seperti ular berjalan, sepintas saja. Lalu teringat kakak perempuanku yang baru kujenguk. Kasihan aku jika mengingat itu. Sudah ditinggal suaminya meninggal dunia saat anak- anaknya masih membutuhkan biaya.

Sayang, hanya bisa merasa iba sebab tidak bisa membantu apa- apa selain doa dan menjenguknya di sela- sela pekerjaan longgar seperti saat ini, kebetulan saat memperingati 7 hari kematian kakak iparku. Semoga Gusti selalu memberi ketabahan dan jalan terang, doaku dalam batin.

Karena terbawa capek dan mata sudah pedas, hampir saja aku tertidur. Baru mau terlelap tiba- tiba dikagetkan oleh suara raungan sepeda motor yang direm kencang. Sepertinya ada juga yang mau beristirahat di tempat ini. Aku bangun dengan agak malas. Rokok kuhisap sekali lagi sebelum kubuang. Dengan mata kriyip- kriyip, aku mengamati seorang pria setengah baya itu berjalan mendekati lincak tempatku beristirahat. Ia diikuti oleh seorang wanita yang menggendong tas besar, seperti mau bepergian jauh.

“Permisi, saya ikut leren di sini ya, Mas.” Tanpa menunggu jawabanku pria itu langsung duduk di sampingku sambil menyuruh wanita tadi supaya ikut duduk.

“Iya, silakan. Saya juga sama, sedang beristirahat,” jawabku sambil melihat- lihat sepeda motor yang diparkir agak jauh. “Dari bepergian jauh ya, Mas?” tanyaku setelah memastikan asal sepeda motor dari plat nomornya.

“Mau ke Jogja, Mas, dari Sidoarjo,” jawab pria itu. Aku mengangguk. Aku bisa merasakan betapa lelahnya badan, dari Sidoarjo menuju Jogja hanya bermotoran sebab diriku sendiri yang dari Malang saja rasanya sudah tidak karuan.

“Saya juga baru dari Malang kok Pak, menjenguk saudara,” tanpa ditanya aku membuka pembicaraan. Daripada hanya diam kok malah tidak enak. Setelah membuka pembicaraan, aku berkenalan dengan mereka yang menjadi teman beristirahat di hutan Banjarjo ini.

Parlan, singkat saja ia menyebutkan namanya. Lalu wanita di sebelahnya diaku istrinya bernama Prihatin. Bu Prihatin asli orang Jogja, sedangkan Pak Parlan asli orang Sidoarjo. Mereka berangkat dari Sidoarjo lebih pagi dariku pukul 5 pagi. Sempat tersesat keliru memilih jalan ke Jombang. Malah ban sepeda motornya juga habis bocor terkena paku di Karangjati. Pak Parlan bercerita panjang lebar sementara aku lebih senang mendengarkannya saja. Tidak terasa sudah hampir satu jam. Ceritanya tidak selesai- selesai sampai membicarakan hal yang termasuk pribadi.

“Sudah hampir limabelas tahun saya dan istri tidak menjenguk orang tua, Mas,” Pak Parlan meneruskan ceritanya.

“Sejak saya berumah tangga dengan ibunya anak- anak ini masih belum direstui oleh orang tuanya, terutama ibu. Ya mungkin wajar karena saya ini duda beranak satu dan Prih masih perawan.” Pak Parlan menghentikan ceritanya. Matanya mengikuti jalannya bus yang baru lewat. Setelah suara gemuruh mesin bus semakin menjauh kemudian dilanjutkan lagi ceritanya.

“Waktu itu, saya dan Prih sudah bertekad bekerja menjadi apapun agar bisa bertahan hidup dengan berbagai resikonya. Dan seperti dibuang, setelah menikah saya langsung disuruh pergi dan tidak boleh pulang sebelum ibu memberi restu. Walaupun begitu, setiap tahun saya selalu mengirim surat, untuk minta maaf kepada ibu agar mau menerima saya lagi, eh ternyata ibu belum mau, Mas. Apa karena saking marahnya atau bagaimana, hidup saya dengan Prih ini terasa berat, mencari rejeki tidak lancar,” Pak Parlan kembali menghentikan cerita. Matanya berkaca- kaca, begitu pula dengan Bu Prih, istrinya.

“Terus sekarang kok mau pulang ke Jogja?” selaku.

“Kemarin saya menerima surat, sudah dua minggu ini ibu sakit Mas, isi suratnya, ibu ingin saya dan Prih menjenguk beliau. Maka dari itu saya agak tergesa- gesa berangkat. Bekal uang ya hanya seadanya itu juga meminjam dari teman. Belum sarapan, cuma membawa air mineral ini saja. E.. kok ya tersesat, ban terkena paku, ada saja halangannya di jalan. Jujur saja Mas, uang saya untuk bekal tinggal duapuluh ribu, sementara perjalanan masih jauh. Untuk bensin saja apa ya cukup? Saya dan istri sudah musyawarah, kalau uangnya tidak cukup untuk bekal perjalanan terpaksa sepeda motor itu dijual di jalan saja. Lalu kami meneruskan ke Jogja dengan naik bus. Pokoknya harus bisa sungkem ibu, itu saja tekad saya, Mas.”

“Jlebb…!” rasanya hatiku seperti ditusuk. Tumbuh rasa iba dengan cerita Pak Parlan. Tadinya memang ada prasangka buruk. Jangan- jangan ceritanya Pak Parlan ini hanya modus orang berniat jahat yang memanfaatkan belas kasihan orang. Namun segera prasangka itu kubuang jauh- jauh. Sepintas, angan- anganku kembali kepada kakak perempuanku yang baru saja kujenguk. Sementara suasana menjadi hening. Hanya kedengaran suara angin yang menghempas dedaunan di antara gemuruh mesin kendaraan yang berlalu- lalang. Memang jalan ini tidak pernah sepi.

Aku ingat di saku celanaku masih ada sisa uang tujuhpuluh-empat ribu. Perkiraanku bensin di motor maticku juga masih cukup hanya untuk sampai ke rumah. Pegangan duapuluh ribu cuma untuk berjaga- jaga jika ingin beli minuman di jalan. Kulirik Pak Parlan yang kelihatan merenung.

Nuwun sewu, Pak. Ini ada sisa uang. Bisa kalau untuk beli bensin saja,” kataku sambil menyalami Pak Parlan. Lembaran limapuluh ribu kuselipkan di tangannya. Pak Parlan terkejut. Ada rasa bingung dan tidak enak.

“Tidak apa- apa, Pak. Ini diterima saja.” Dengan setengah memaksa tangannya Pak Parlan kugenggam erat sekalian berpamitan.

“Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih,” Mata Pak Parlan berkaca- kaca ketika berterima kasih kepadaku. Matahari mulai bergulir ke barat ketika moto matic yang kutunggangi meninggalkan pinggiran hutan Banjarjo. Meninggalkan Pak Parlan, istrinya dan cerita panjang yang menjerat kehidupannya. Kuteruskan perjalanan menurut jalan- jalan sepanjang hutan, yang berbelok- belok seperti nasib manusia…

***

Sebenarnya aku sudah hampir lupa tentang peristiwa di hutan jati Banjarjo itu apalagi sudah hampir dua tahun yang lalu. Tetapi orang yang baru saja masuk ke rumah makan dan langsung ke belakang meja kasir itu mengingatkanku akan peristiwa yang lalu. Jika diperhatikan, sekarang badannya agak berisi dan kulitnya kelihatan bersih. Kuseruput kopiku yang masih hangat. Kuamati jalan kota Jogja yang dijejali banyak kendaraan. Sudah mirip Jakarta saja, batinku. Hari ini hari terakhirku menyelesaikan tugas pelatihan, jadi mumpung ada waktu sebelum pulang kupuaskan berkeliling kota Jogja. Dan kebetulan sampai ring-road keluar kota sudah menjelang waktu ashar, perutku juga terasa lapar lalu mampir ke sebuah rumah makan yang terlihat ramai pengunjungnya.

Kulihat pria yang di belakang meja kasir itu, yang masih memberi arahan para pegawainya. Siapa tahu ia yang memiliki rumah makan ini. Kupastikan lagi, apa betul pria itu Pak Parlan. Setelah menghabiskan wedang kopi di gelasku, langsung saja aku berdiri. Melangkah mendekati meja kasir.

“Sudah Mbak, rawon dan kopi tambah krupuknya dua.” Dompet kucabut. Sengaja aku mengeraskan suara agar menarik perhatian pria itu. Dan benar ia menengok ke arahku dan mengamatiku. Beberapa detik aku dan pria itu saling melihat dan mengingat.

“Mas Arif ya?!” teriak pria itu yang duluan menyapa.

“Pak Parlan?” balasku menyapa.

Wis- wis Ndhuk, jajannya Mas ini tidak usah dimasukkan. Wah mimpi apa ini tadi, sudah datang saja. Mari, Mas duduk dahulu, mari duduk,” dengan tergopoh- gopoh pria yang ternyata Pak Parlan itu mengajakku. Tanganku ditarik menjauhi meja kasir, menuju meja di pojok rumah makan.

Tidak bisa diungkapkan sangat bahagianya Pak Parlan dan aku yang bisa bertemu kembali. Ceritanya tetap panjang lebar seperti dahulu sampai tidak bisa disela. Apalagi saat menceritakan kelanjutan setelah berpisah di pinggiran hutan Banjarjo.

“Saya sampai Jogja sini pas Maghrib Mas. Wah, seumpama saya tidak bertemu Njenengan di hutan kala itu, ya tidak tahu lah Mas.”

Keningku mengkerut menunggu cerita selanjutnya.

“Ibu meninggal sehari setelah saya dan Prih datan ke rumah, Mas. Saya beruntung masih diberi kesempatan untuk meminta maaf. Begitu juga ibu, ya sudah bisa ikhlas menerima keadaan saya dan Prih. Malah, sebelum meninggal dengan disaksikan semua putra, memberi wasiat agar saya dan Prih meneruskan usaha Rumah Makan ini, Mas.”

Tidak banyak yang kukatakan. Sampai Pak Parlan selesai bercerita dan aku pamit pulang sebab waktu semakin sore. Sebenarnya Pak Parlan ingin aku menginap di rumahnya. Tetapi karena sudah pamit kepada ibunya anak- anak hanya tiga hari jadi aku nekat pulang saja. Dan kutinggalkan kota Jogja ketika azan Maghrib berkumandang. Melewati jalan jurusan Solo yang selalu ramai oleh kendaraan. Muyeg seperti cerita kehidupan manusia.

***

Tempat Tidur yang Susah Diatur

“Ma, aku tidak mau merapikan tempat tidurku. Itu membuatku kesulitan dan sangat lama. Bisakah Mama merapikannya untukku?”

“Bisa, tetapi nanti akan meninggalkan waktu yang sudah Mama jadwalkan untuk mengerjakan hal lain untukmu. Pekerjaan manakah yang dapat kau kerjakan untuk Mama, sementara Mama merapikan tempat tidurmu?”

“Aku bisa menyajikan sarapan sendiri,” jawab Kay.

“Ya, itu sudah kau lakukan, bukan?” kata Mama.

“Iya… Oh, aku tidak tahu. Tidak ada hal lainnya yang bisa kukerjakan,” kata Kay.

“Jika Mama merapikan tempat tidurmu, bisakah kau merapikan tempat tidur Mama?” tanya Mama.

“Atau, bisakah kau mencuci piring untuk sarapan atau mencuci baju, sementara Mama merapikan tempat tidurmu?”

“Aku sedang berpikir,” kata Kay.

——————————-

“Sudah kuputuskan bahwa aku akan merapikan tempat tidurku saja. Dengan begitu aku bisa berlatih melakukannya, agar aku bisa merapikannya lebih baik lagi dan lebih cepat.”

“Kedengarannya ide yang bagus,” kata Mama. “Sekarang Mama bisa menyelesaikan memasak untuk sarapan. Dan kita akan menikmatinya bersama- sama, setelah kau segera merapikan tempat tidurmu.”

“Awas, tempat tidur berantakan. Aku datang!” kata Kay bersemangat.

Mendorong anak-anak untuk berlatih bertanggung jawab, alih-alih usaha agar orang tua dapat mengerjakan hal- hal untuk mereka (anak-anak).

Diterjemahkan dari Bed Making Blues | penulis: Agnes dan Salemde Bezenac

Misteri Kebun Binatang

Di hari musim panas, seorang gadis kecil sedang bermain bersama anjingnya. Mama dan Ayah sedang duduk di ruang tamu. Ayah sedang membaca koran.

“Kalian sudah mendengar kabar?

Salah satu jerapah telah hilang dari kebun binatang,” Ayah berkata.

Si gadis kecil lalu berhenti bermain. “Ke mana dia pergi?”

“Entahlah,” Ayah berkata, “pagi ini penjaga kebun binatang mencari- cari jerapah yang hilang itu. Tidak ada yang tahu dimana dia dan mereka akan memberikan hadiah kepada siapa saja yang dapat menemukannya.”

“Kita harus ke sana dan menyelidiki,” Mama berkata.

Setelah perjalanan yang tidak jauh, mereka sampai di kebun binatang. “Kita lihat binatang- binatang di sini.

Kita pasti mendapatkan petunjuk,” kata Mama dengan wajah serius.

“Benar!” Ayah berkata.

Mereka melihat seekor gajah. Seekor singa. Seekor badak. Seekor kudanil. Dan seekor unta.

Seorang wanita tua berkata, “Apa kau sudah mendengar kabar hilangnya si jerapah?”

“Itulah mengapa kami datang ke kebun binatang,” Ayah menjawab.

“Hmm,” si gadis kecil memperhatikan wanita tua itu.

Mereka melanjutkan melihat- lihat para binatang.

Ada seekor monyet. Seekor beruang. Seekor rusa jantan. Seekor kanguru. Dan… seorang  pria mengendarai sepeda.

“Hmm,” kata si gadis kecil sambil memperhatikan pria bersepeda itu.

“Ayo kita melihat para binatang lagi,” kata Mama.

Mereka melihat seekor burung unta. Ular. Anjing laut. Seekor panda. Lalu ketika tiba- tiba ada cahaya menyilaukan mata mereka, hanya ada seseorang tukang foto.

“Hmm,” kata si gadis kecil lagi.

“Mama?

Ayah?”

“Iya!?!” jawab Mama dan Ayah bersamaan.

“Wanita itu… dan pria bersepeda… dan tukang foto itu… adalah si jerapah!”

“Hah?!?” kata Mama dan Ayah terkejut.

Ia benar. Kemudian Mama, Ayah dan si gadis kecil melapor kepada penjaga kebun binatang…

“AH HA!” kata penjaga kebun binatang gembira.

“Ini hadiah untuk kalian yang sudah berhasil menemukan si jerapah. Tiket gratis ke kebun binatang. Dan foto keluarga kalian yang diambil oleh si tukang foto jerapah”

“Terima kasih!”

Bagian perjalanan ke kebun binatang yang paling mengesankan hari ini adalah hasil foto dari si jerapah.

Selesai…


Diterjemahkan dari The Zoo Mystery | penulis: Daniel Buchholz

Masalah Kura- Kura

Mama bertanya kepadaku, mengapa lantai kamarku basah.

“Tidak tahu.” jawabku.

Mama kemudian melihat sebuah ember yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Mengapa ada ember di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

Lalu mama mengambil seekor kura- kura yang kusembunyikan ke dalam bak mandi. “Dan apa yang sedang dilakukan kura- kura ini di sini?” ia bertanya.

“Tidak tahu.” jawabku.

“Ember dan kura- kura tidak boleh ditaruh ke dalam bak mandi.” kata Mama.

Aku menemukan si kura- kura di kebun, dan membawanya ke tempat yang banyak air, tetapi aku tidak sengaja menumpahkan airnya ke lantai.

Aku tidak ingin berbohong lagi. Dan tidak ingin Mama marah. Jadi, aku bilang kepada Mama bahwa tidak aka meletakkan kura- kura ke bak mandi lagi. Akan tetapi, Mama tidak marah dengan si kura- kura; ia hanya tidak senang karena aku tidak berkata jujur.

“Mama mau kok merawat kura- kura ini.” kata Mama.

Berpikir! Berpikir! Berpikir! Oh, aku mengerti!

Berkata jujur lebih baik daripada berbohong. Aku akan berusaha melakukannya mulai sekarang.


Diterjemahkan dari Turtle Trouble/ penulis: Amy Upshaw