Rumah Darurat Pino

Di hari Sabtu yang istimewa, SD Taman Siswa mengadakan acara lomba antar sekolah. Sebagai tuan rumah, Bu Astri selaku kepala sekolah menyambut dengan hangat para murid perwakilan dari sekolah lain beserta guru pendampingnya. Setiap sekolah mengambil 5 sampai 7 murid untuk diikutkan dalam perlombaan. Dan lomba yang diadakan adalah lomba kesenian, dan keterampilan.

Acara dimulai pukul setengah delapan pagi, di halaman dalam sekolah dasar Taman Siswa. Halaman dalam sekolah itu cukup luas untuk peserta lomba yang kurang lebih ada 100 orang. Pino dan keempat kawannya, yaitu Darma, Tasya, Meida, dan Janu, sudah menempatkan diri di kotak nomor 3. Guru pendamping mereka adalah Pak Wasis, yang juga menjadi guru kesenian dan keterampilan.

“Anak- anak, semua peralatan dan perlengkapan lomba sudah siap?” tanya Pak Wasis memastikan.

“SUDAH, PAK!” jawab mereka serempak.

Pino ditunjuk teman- temannya menjadi ketua kelompok. Jadi, ia harus mampu bertanggung jawab atas kekompakan kelompoknya. Ia sendiri memiliki ide untuk membuat rumah- rumahan yang terbuat dari gypsum. Sebab, ia berpikir karyanya akan bermanfaat dan bisa ditinggali. Dari kelompok kotak nomor 4, terdengar suara keributan, yang agak mengganggu konsentrasi kelompok lainnya, termasuk kelompok Pino.

“Kita mau membuat apa sih?” kata Asta kepada ketua regu mereka. “Aku bingung.”

“Asta, jangan ngambek begitu. Kita ‘kan mau membuat gedung bertingkat seperti yang ada di Dubai itu,” kata Denis sombong sambil melirik kelompok Pino.

Pino melihat banyak triplek di kotak nomor 4. Dan lem kayu, dan tali. Gedung bertingkat di Dubai? pikirnya. Ia kemudian tersadar setelah Janu menyikut kakinya, yang terlihat gemetaran. “Kau gugup, kawan?” tanya Janu sambil mengerjakan tugasnya.

“Sstt, iya sedikit. Kulihat sketsa gambar mereka bagus sekali. Gedung bertingkat di Dubai,” kata Pino dengan rasa kagum.

“Sebaiknya kau lebih memperhatikan karya kita, Pino. Ini ‘kan idemu,” kata Meida menyela. “Walaupun sketsanya tidak sebagus mereka, tetapi aku yakin karya kita berguna.”

“Betul itu,” timpal Darma.

Sementara Tasya sedang memotong- motong plastik besar sesuai dengan polanya. Pino memutuskan untuk mulai membentuk kerangka rumah yang terbuat dari triplek tebal dan lebih tebal dari milik kelompok kotak nomor 4. Saat Pino sudah selesai membuat rangka bangunan, tiba- tiba Denis menertawakannya.

“Kau mau menginap di rumah itu ya? Hahaha…,” ejek Denis. “Waktu kurang 30 menit lagi, dan temanmu masih megaduk- aduk gypsum. Oh, semoga saja tidak hujan,” ejeknya lagi.

“Heh, dasar sombong, kau lebih baik membantu teman- temanmu itu daripada terus- terusan mengganggu kami. Lihat triplek kalian banyak yang patah karena terlalu tipis, hahaha…,” kata Tasya membalas ejekan Denis.

“Eh, sudah- sudah, tenang anak- anak!” kata Pak Wasis tiba- tiba.

Pino mencoba untuk tetap tenang dan sabar karena ia yang dituakan, meskipun badannya paling kecil. Darma mulai membuat tembok- tembok rumah dengan adonan gypsum dan dibantu oleh Janu. Pino dan yang lainnya membantu merapikan. Darma sangat senang mengutak- atik bangunan sehingga ia sudah paham strategi membangun rumah- rumahan yang baik.

Waktu tinggal 15 menit lagi, hari semakin siang dan panas. “Wah, ternyata kita tidak perlu menyalakan alat pengering rambut,” kata Darma senang. Ia sudah menyelesaikan tugasnya, dan kemudian memasang atapnya. Pino membantu Darma melekatkan atap ke kerangkanya. Dan akhirnya rumah- rumahan Pino dan kawan- kawannya selesai dengan sempurna.

Namun, panas yang terik malah membuat lemnya mencair di beberapa tempat. Dan waktu tinggal 5 menit lagi. Pino menjadi khawatir jika karyanya gagal dan tidak menang. Ia melihat ada warna yang aneh yang menempel di tembok gypsum yang sudah dicat warna biru muda. Ia kemudian meminta Darma dan Janu untuk memperbaikinya.

“Bagaimana, Darma?” tanya Pino panik.

“Tenang, bro, lemnya aman. Ini bukan cairan lem, tetapi air yang masih tersisa di gypsum,” kata Darma dengan tenang.

“Kalau seperti itu terus, bagaimana kalau gypsumnya pecah?” tanya Asta tiba- tiba.

Darma diam sejenak untuk memikirkan cara aman di detik- detik terakhir perlombaan. Ia memegang tembok luar, dan terasa basah. Kemudian ia menempelkan tangannya ke tembok dalam, dan rasanya… Hm…, Darma tersenyum.

“Eh, lihat warna temboknya!” pekik Tasya. “Indah sekali.”

“Ternyata yang kau khawatirkan tidak terjadi, Pino. Itu adalah proses pengeringan alami, jadi rumah kita tidak akan hancur,” kata Darma menenangkan Pino.

Setelah tembok- temboknya kering, Janu akan menempelkan plastik anti air transparan di atap dan tembok. Meida yang bertugas merapikannya. Setelah itu alarm berbunyi tanda waktu berkarya sudah selesai.

“Hahahahaha…,” tawa Denis ketika ia melihat kelompok Pino mengangkat rumah kecil hasil karyanya bersama teman- temannya. “Kau seperti pawang hujan, Pino. Panas- panas begini rumahmu memakai jas hujan. Kau sudah yakin akan hujan hari ini, ya?” ejek Denis.

Pino tidak menghiraukan ejekan Denis. Ia dan teman- temannya berkumpul di samping karya mereka untuk mengisi data di lembaran daftar karya lomba. Bu Sisil, yang menjadi salah satu juri lomba melihat- lihat hasil karya kelompok Pino. Ia tidak berkata apa- apa dan terus mencatat. Setelah semua peserta lomba selesai dengan urusan data- mendata, Bu Astri mengumumkan bahwa hasil penilaian akan diberikan setelah pukul 12 siang, paling lambat pukul 1 siang. Semua hasil karya ditinggal di tempat yang sudah disediakan, dan semua peserta tidak boleh menyentuhnya lagi.

Pino dan kawan- kawannya senang karena bisa menyelesaikan karyanya, sekaligus deg- deg-an karena ini adalah lomba. Pak Wasis menemui Pino untuk memberikan jajanan dan jus jeruk, serta memberikan selamat atas kekompakan kelompoknya.

“Tanganmu dingin sekali, Pino. Apa kau sakit?” kata Pak Wasis khawatir.

“Tidak, Pak, Pino hanya gugup, hihi…” sela Darma dengan becanda.

“Oh, tidak usah khawatir, menang atau kalah itu tidak penting. Yang terpenting adalah kalian bisa menyelesaikan tugas dengan baik tanpa ribut. Dan siapa tahu rumah kecil itu bisa berguna,” Pak Wasis berkata. “Ayo semua, ini dimakan dulu,”

Di saat istirahat, Pino masih memandangi rumah kecilnya yang berada di lapangan basket. Cuaca panas tiba- tiba berubah menjadi mendung. Aroma tanah basah mulai tercium. Walaupun di lapangan basket sudah dipasang terop, tetapi Pino khawatir rumah kecilnya tidak bisa bertahan lama jika tidak segera diambil. Dan ternyata, gerimis sudah mendahului penilaian para juri.

“Pak, apa kami boleh mengambil karya kami? Karena sudah gerimis, dan saya takut jika air hujan semakin deras dan merusak hasil karya kami,” kata Pino khawatir.

“Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa- apa pada karya kalian,” kata Pak Wasis tenang.

Tidak hanya hujan yang membuat Pino khawatir, tetapi juga ada seekor anak anjing yang sejak tadi menggonggong mencari induknya. Anak anjing itu milik Pak Parmin, si penjaga sekolah. Beliau sudah tua namun belum pikun, dan masih senang merawat sekolah Pino. Gerimis tipis semakin menebal, tetapi tidak sampai hujan deras. Anak anjing itu tiba- tiba menghilang, suara gonggongan kecilnya sudah tidak kedengaran.

Dan waktu untuk penilaian sudah habis. Pukul setengah 1 siang sudah bisa dimumkan hasil penilaian karya seni oleh para juri. Saat itu juga gerimis sudah berhenti. Namun, semua peserta lomba belum diperbolehkan menyentuh karyanya. Dua orang juri mengambil lima buah hasil karya saja yang dinilai paling bagus. Pino melihat rumah kecilnya juga diangkat dan dijajarkan bersama karya- karya terpilih lainnya.

“Kau lihat itu, bro, rumah kecil biasa kita menjadi luar biasa jika pindah tempat di sana,” kata Janu senang kepada Pino.

Tasya dan Meida juga senang dan deg-deg-an. Sementara kelompok Denis kepalanya semakin mendongak ke atas, sebab miniatur gedung Burj Khalifa mereka berada diurutan nomor 2. Dan hasil karya kategori paling indah adalah…

Kelompok Kotak Nomor 2, yaitu Taman Flora Mini.

Tepuk tangan riuh bergema di lapangan. Peserta kelompok kotak nomor 2 mendapat penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya kategori paling indah. Setelah keramaian berhenti, Bu Sisil mengumumkan bahwa hasil karya dengan kategori paling baik adalah…

Peserta Kelompok Kotak Nomor 3, yaitu Rumah Darurat Pino.

“YEYY!” teriak Tasya dan Meida bersamaan. Pino dan kawan- kawannya maju ke depan untuk mendapatkan penghargaan sebagai peserta dengan hasil karya terbaik. Bu Astri dan Pak Wasis ikut bertepuk tangan dengan meriah dan bangga.

“Dan sesuai dengan namanya, ya,” kata Bu Sisil kemudian, “ada seekor anak anjing yang berlindung di rumah mini ini rupanya,”

Bu Sisil kemudian menyerahkan anak anjing itu kepada Pak Parmin yang sudah mencari- carinya sejak tadi pagi. Dan memberi selamat kepada Pino dan kawan- kawan atas keberhasilan mereka.

Selanjutnya, hasil karya dengan kategori paling kreatif adalah… Peserta Kelompok Kotak Nomor 5, yaitu Lukisan Otomatis. Dan hasil karya dengan kategori paling canggih adalah Peserta Kelompok Kotak Nomor 7, yaitu Kulkas Dimana Saja.

Denis kelihatan kecewa karena ia pikir perlombaan ini ada juara 1, 2 dan 3. Pino bisa melihat Denis dan kelompoknya menunduk lesu karena hasil karya mereka hanya masuk kategori paling mirip dengan aslinya.

 

Penulis: DCS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s