Jalan Tikus

Amba sedang mengamati lubang yang tidak kecil, sebesar kepalan tangannya di bawah tembok kamarnya. Ada suara kressk… kressk…  ketika menempelkan telinga kanannya di lubang itu.

Ia tidak tahu ada sepasang mata kecil, berwarna merah menyala yang bergerak ke telinganya saat menempel di lubang itu. Dan hampir menyentuhnya. Tiba- tiba…

“Kakaaak…” BRUKK! Bayu dan Bima, adik kembarnya yang masih kecil dan polos menubruknya. “Lagi ngapain?” Bayu bertanya.

“Eh kalian ini mengagetkan kakak, ya,” kata Amba sambil membenahi kucir rambutnya yang copot.

“Habis dari tadi kakak dipanggil mama tidak menjawab,” kata Bayu dengan polosnya.

“Iya deh kakak lagi sibuk tadi. Habis melihat,…” Amba tidak meneruskan kata- katanya.

“Moeleihat oapoa, Kak?” tanya Bima menirukan suara slow motion dengan mengekspresikan gaya zombie.

“Hihihi…, tidak melihat apa- apa, Bimaku sayang hmm,” jawab Amba sambil memeluk erat adiknya itu. “Sudah, yuk makan,” Amba berkata lalu menggandeng kedua adiknya, “pasti mama sudah masak makanan kesukaan kita…”

Sup lagi, Kak…

Si mata merah itu perlahan- lahan menunjukkan hidungnya ke luar lubang setelah mereka pergi. Ia mengendus- endus lantai yang masih di sekitar lubang.

“Huh, manusia- manusia itu sangat membuatku takut. Syukurlah mereka sudah keluar,” katanya.

“Lopi, tunggu apa lagi? Ayo kita segera mengambil makanan itu, yang di bawah tempat tidur itu sebelum mereka kembali,” kata teman si mata merah itu.

“Kalau begitu ayo Lompa,” kata Lopi yang duluan berjalan keluar.

Tikus Lopi dan Lompa akhirnya keluar dari sarangnya. Dengan cepat mereka memburu plastik berisi keripik singkong yang tinggal remah- remahnya saja.

“Kau lihat Lopi, keripiknya tinggal segini. Biasanya kita mendapat lebih banyak,” Lompa berkata dengan kesal.

“Maafkan aku, Lompa. Aku terlalu lama bersembunyi karena takut dilihat oleh manusia itu,” kata Lopi sedih.

“Ya, lupakan saja. Lumayan masih ada sisa buat kita. Ayo cepat kita bawa,” kata Lompa bersemangat.

“Ayo, dorong Lopi, nampakny makanan ini lebih berat dari yang kukira, uughh…,” kata Lompa sambil menarik bungkusan itu dengan susah payah.

Tikus Lompa dan Lopi berusaha dengan sekuat tenaga membawa makanan ringan itu dengan kaki- kakinya. Namun terlambat, Amba sudah masuk ke kamarnya. 

Tidak lama kemudian disusul Bayu dan Bima. Mereka berlarian sambil membawa sosis panggang yang baru saja matang. Aroma sosis panggang menggelitik hidung Lompa. Langsung saja ia berlari ke arah datangnya aroma yang lezat itu.

“Hai tunggu Lompa! Jangan ke sana,” teriak Lopi khawatir.

Tetapi Lompa tidak mempedulikan larangan Lopi. Ia seperti sudah terhipnotis dengan bau sedap sosis panggang.

Lopi tidak ingin membiarkan temannya terkena masalah, dan lalu ia menyusul Lompa.

Lompa sudah berada di dekat kaki Bima. Kaki Bima yang kecil berayun- ayun ke depan ke belakang. Lompa masih keras kepala menuruti keinginannya yang berbahaya. Ia sudah tidak peduli bagaimana akibatnya, dam terus melompat ke kaki Bima sampai lutut.

“Hah, Kakaakk ada tikus di kakiku!” jerit Bima panik

Jelas sekali Bima langsung terkejut. Kakinya digoyang- goyang agar tikus Lompa jatuh. Sebaliknya, Bayu yang tidak takut pada tikus akan memegang Lompa. Sebelum ia memegangnya, Lompa segera sadar lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dan langsung berlari tidak beraturan karena panik.

Amba juga tidak takut dengan hewan itu dan ia membantu Bayu mengejar Lompa.

“Lompa cepatlah kemari!” Lopi berteriak dari dalam lubang. “Ayo lebih cepat!”

Saking takutnya, Lopi meninggalkan Lompa sendirian dikejar- kejar oleh dua manusia itu. Ia membalikkan badannya, berlari kencang, mendahului temannya untuk kembali ke sarangnya.

Lompa sudah hampir masuk ke dalam lubang lalu masuklah ia. Semakin lama ruangan menjadi gelap. Akan tetapi, Lompa merasa masih dikejar- kejar oleh Amba dan kedua adiknya. Tiba- tiba ia menghentikan langkah seribunya dan berkata, 

“Berhenti semua!” 

Amba dan si kembar Bayu dan Bima berhenti mengejar. Lompa melihat ke belakang, di mana manusia yang mengejarnya itu berada. Dan terkejutlah ia…

“Ha, lihatlah diri kalian, wahai manusia,” kata Lompa, “bahwa tubuh kalian sebesar tubuhku sekarang”

Mereka bingung karena tidak bisa melihat apapun dengan jelas. Tak lama kemudian, mereka menyadarinya. Di dalam gelap mata Lompa yang merah bersinar.

“Kak, kakak, tikus itu semakin besar, Kak. Mengerikan sekali,” Bima berkata dengan gemetaran.

“Oh tidak, tidak. Bukan tikus itu yang semakin besar, tetapi tubuh kita yang menjadi kecil. Bagaimana bisa terjadi?” kata Amba khawatir.

“Bagaimana jika mama tahu hal ini? Bagaimana jika ia mengira kita sudah mati? Bagaimana…”

“Cukup!” kata Lompa geram. “Kalian sedang berada di lorong jalan tikus. Sekarang kalian tidak bisa kembali, tetapi… jika kalian mau membantu kami dengan setulus hati, maka sebelum sore menjelang kalian akan berubah menjadi manusia lagi,” kata Lompa menjelaskan.

“He, kami memang manusia, dasar tikus jelek!” teriak Bima kasar.

“Benarkah? Coba kalian raba mulut kalian, telinga, dan pantat. Apa manusia seperti itu? Hihihi…,” Lompa berkata dan tertawa geli.

Mereka bertiga melakukan apa yang disuruh Lompa. Lalu secara bersamaan berkata, “Oh tidak,” ups suara mereka menjadi kecil juga, “Tidaaakk, tolong tuan tikus kembalikan kami”

“Enak saja. Salah kalian sendiri yang masuk ke lubang itu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengubah kalian menjadi sedia kala lagi,” kata Lompa dengan angkuh.

Bima sedih dan mulai menangis. Suara cit cit nya yang kencang terpantul di dinding jalan tikus itu hingga membuat yang lainnya menyumbat telinga mereka dengan batu kecil. Tiba- tiba ada suara gong yang berbunyi tiga kali.

GOONGG… GOONGG… GOONGG…

Bima menghentikan tangisnya. Ia melihat seekor tikus putih yang lucu memakai mahkota emas kecil di kepalanya keluar dari persembunyiannya. Ia adalah sang ratu para tikus yang ikut menghuni rumah Amba.

“Lompa, apa yang sudah kau lakukan kepada para manusia itu?” kata sang ratu dengan lembut.

“Maafkan aku, Ratu Mimi, mereka telah mengejarku sampai di sini. Mereka sendiri yang masuk ke lubang tikus kita, Ratu,” kata Lompa menjelaskan kepada sang ratu.

“Benarkah begitu, Amba?” tanya sang ratu.

“I..iya Ratu. Kami mengejarnya karena dia akan mengambil makanan kami yang baru saja matang, dan menakuti adikku, Bima. Seperti itu, maafkan kami, Ratu,” kata Amba memelas.

“Hm, sebaiknya kalian ikut ke rumah kami dahulu. Jika terlalu lama di sini, maka aku tidak bisa membantumu tetap hidup,” kata Ratu Mimi.

“Apa maksudnya, Ratu?” tanya Amba terkejut.

Lopi tiba- tiba muncul dari belakang Ratu Mimi. Ia ingin menjawabnya.

“Ada binatang lain selain kami para tikus. Dia lebih mengerikan, dan bahkan memakan tikus. Kami adalah tikus baik, yang hanya mengambil sisa- sisa makanan kalian di tempat sampah…” kata Lopi, “kecuali tikus Lompa, dia memang rakus”

“Maafkan aku Ratu Mimi, aku sangat lapar,” kata Lompa menyesali perbuatannya.

Tidak lama setelah Lompa berbicara, dinding jalan tikus bergetar. Itu pertanda si pemangsa tikus sudah datang.

“Sudah, sudah. Ayo segera kita ke rumah,” perintah sang Ratu.

Ngeoongg… ngeoongg…

“Oh tidak, Ratu, monster itu sudah masuk di lorong jalan tikus,” kata Lopi sambil terus berlari.

Ngeoongg…

Ngeoongg…

“Kakak, itu ‘kan suara… suara… si Puspus, iya si PusPus,” kata Bima, “lalu mengapa kita ikut berlari, kak? Dia ‘kan kucing kesayangan kita.” tambahnya.

“Bima, kita masih tikus sekarang. Kau mau jika kita dimakan sama Puspus?” Amba berkata.

Bima hanya menggeleng karena ia sudah tidak kuat berbicara lagi.

Sampai di depan pintu gerbang istana tikus, Ratu Mimi menyuruh Lopi dan Lompa memasang jaring pelindung untuk menutup lorong jalan tikus. Tetapi tangan si Puspus yang gemuk sudah masuk hampir mencapai gerbang istana tikus.

“Wow, si Puspus besar sekali,” kata Bayu dengan takjub.

“Husshh… husshh! Pergilah kau monster jahat si pemakan tikus, husshh!” Lompa memercikkan air ke tangan Puspus. Tak lama kemudian si Puspus berhenti mengeong dan mengganggu tikus- tikus itu. Untuk sementara waktu.

“Aneh, Ratu Mimi,” kata Amba heran, “ketika kami melalui jalan tikus tubuh kami berubah menjadi kecil dan bahkan berubah seperti tikus, tetapi mengapa si Puspus tidak berubah?”

“Karena dia juga binatang, Amba,” sang Ratu menjawab dengan tersenyum. “Maka dari itu dia tidak berubah seperti kalian. Memang kedengarannya aneh dan mengherankan, tetapi itulah yang kau lihat”

“Apa kucing kami selalu mengganggu tikus- tikus di sini, Ratu?” Bayu bertanya.

“Tidak kucing kalian, akan tetapi kucing yang di belakangnya, yang dari tadi sudah mengintip untuk menerkam kami sewaktu- waktu,” jawab Ratu Mimi.

“Kakak, kucing itu kucing tetangga kita. Dia teman si Puspus dan sering main ke rumah kita,” kata Bima yang terus bersembunyi di balik punggung Amba.

“Apa iya seperti itu?” tanya Amba kepada Bayu.

“Benar, Kak, aku lihat dia selalu memasukkan tangannya ke dalam lubang di dinding kamar kakak. Sepertinya dia mencari- cari sesuatu,” kata Bayu.

“Kalau begitu kita hadapi saja mereka, Bayu, Bima. Kita kan manusia, bukan tikus,” Amba berkata dengan tegas.

“Tunggu, Amba, kau yakin akan menghadapinya sendirian bersama tubuh sekecil ini?” Ratu Mimi kemudian memukul gong tiga kali.

GOONGG… GOONGG… GOONGG…

Dari dalam istana keluarlah tikus- tikus yang sangat banyak dan mereka berbaris seperti prajurit perang.

“Wow, lucu sekali mereka, Kakak lihat mereka! Hihihi,” kata Bima senang.

Tikus- tikus itu kemudian membentuk kelompok yang berbeda. Kelompok tikus putih berada di barisan tengah, sedangkan kelompok tikus abu- abu menjadi pagar depan dan belakang para tikus putih.

Ratu Mimi memanggil ketua pasukan putih dan abu- abu, dan berkata, “Lindungi Amba dan kedua adiknya. Jika tidak perlu berperang, lebih baik segera kembali.”

“Baik, Yang Mulia,” kata ketua pasukan.

Amba memberanikan diri mengahadapi kucing- kucing yang masih menunggu di luar pintu gerbang dan ditemani pasukan tikus- tikus Ratu Mimi.

Lompa dan Lopi mundur, segera masuk ke halaman istana tikus bersama Bayu, Bima, dan Ratu Mimi.

“Apa kakak tidak apa- apa, Ratu?” Bima bertanya.

“Tenanglah, Bima, dia akan baik- baik saja,” kata Ratu Mimi.

Amba sudah berada di lorong jalan tikus, di tempat para kucing berada. Para pasukan tikus bersiaga di belakangnya. Suasana menjadi tegang, Amba dan si Puspus saling berhadapan. Puspus melihat Amba dengan wajah gemuknya yang polos. Sesekali ia melihat ke belakang, ke arah temannya, dan berkata,

“Ngeoongg”

Lalu Puspus mendekati Amba dengan menengkurapkan tubuhnya. Jaraknya hanya satu telapak kaki si Puspus.

“Ngeong,” kata Puspus dengan manja.

Amba kemudian mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia mengelus kepala si Puspus dengan lembut. Puspus semakin menurunkan kepalanya ke bawah hingga menempel di tanah. Dan Amba terus mengelus- elus kepalanya.

Bima dan Bayu memberanikan diri untuk pergi ke tempat Amba berada. Mereka berjalan melalui barisan tikus yang masih berdiri rapi. Mereka melihat Amba sedang mengelus kepala si Puspus dan kucing yang lain sudah pergi meninggalkannya.

“Kakak,” kata Bima dan Bayu bersamaan dan berlari ke arah kakak mereka.

“Sepertinya, kita bisa pulang sekarang anak- anak,” kata Amba tidak lama kemudian. “Di mana Ratu Mimi?”

“Aku sudah di sini, Amba. Dan terima kasih kau sudah menyelamatkan nyawa kami para tikus,” kata Ratu Mimi.

“Sama- sama, Ratu Mimi. Dan maafkan si Puspus juga yang sudah mengganggu kalian. Mungkin sebaiknya lubang jalan tikus ditutup saja agar tidak ada yang meemakan tikus- tikusmu lagi,” Amba berkata dengan sedikit menyesal.

Ratu Mimi mengangguk tanda setuju. Ia kemudian membubarkan barisan tikus dan memerintah mereka kembali ke istana bersamanya.

Bima dan Bayu memanggil si Puspus, dan si Puspus segera beranjak untuk mengikuti tuannya. Amba berjalan di belakangnya. 

Mereka berjalan dan terus berjalan di sepanjang lorong jalan tikus sampai tidak menyadari jika tubuh mungil mereka, kecuali si Puspus, berubah menjadi normal kembali.

“Hore… hore…, kita bukan tikus lagi, hore…,” sorak Bima dan Bayu ketika sudah keluar dari lubang kecil di kamar Amba.

“Eh, kalian jangan bilang ke siapa- siapa ya,” kata Amba dengan serius.

“Siap, bos,” kata Bima dan Bayu bersamaan.

Tiba- tiba mama masuk ke kamar sambil membawa sapu, lalu berkata, “Ada tikus ya? Di mana? Mana?”

“Itu di sa… lho sudah tidak ada kok Ma, hihihi,” kata Amba. Ia lalu melihat si Puspus dengan tersenyum.

Si Puspus ternyata berdiri di depan lubang jalan tikus untuk menutupinya agar mama tidak tahu. Dan berkata,

“Ngeoongg”
S e l e s a i

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s