Pengakuan

Orang itu meletakkan cerutunya di lantai di samping kaki kanan kursi yang ia duduki. Sepertinya ia sudah tidak tahan melihat perilaku Rian yang seperti melihat hantu atau monster. Lalu didekatinya Rian, ia duduk di tempat tidur tepat di belakang punggungnya. Rian merasakannya, mendengar nafasnya agak sesak, semakin menambahnya khawatir jika dibunuh.

Rian menggeser tubuhnya menjaga jarak jauh- jauh dari orang itu. Namun, orang itu malah menertawakannya, lalu berkata,

“Kau pikir aku hantu he?” Lalu tertawa lagi. “Aku ini Frans, benar- benar manusia. Kalau tidak yakin kau bisa memukulku atau menendangku. Coba saja,” tambahnya.

“Tidak. Kau Frans palsu. Frans yang sebenarnya sudah meninggal. Aku sendiri menyaksikan pemakamannya beberapa hari yang lalu,” Rian berkata dengan gemetaran.

“Apa kau bilang barusan?” tanya orang itu sambil memegang kaki Rian yang bergemetar.

“Frans s..sudah mati dan kau pasti b..bukan Frans, iya ‘kan?” Rian berteriak. “Pergilah kau! Jangan menggangguku, tolong pergilah,” kata Rian lagi. Kali ini nada suaranya mulai menurun.

Orang berjaket cokelat muda itu sudah habis kesabarannya. Ia lalu berdiri dari tempat tidur dengan raut muka kecewa. Dilihatnya cerutunya masih menyala dan asapnya masih mengepul. Ia melangkah menuju kursi yang sempat ia duduki tadi. Sebelum mendudukinya lagi, ia mengambil cerutunya yang sudah hampir setengah batang. Dengan tanpa ragu ia menghisapnya kembali sambil duduk. Kemudian ia mulai mengatakan sesuatu yang sebenarnya kepada Rian.

“Baik, aku mengerti. Sebenarnya, Frans tidak mati. Dia tidak dimakamkan seperti yang kau saksikan. Dan orang yang terlihat seperti Frans itu adalah… memang diriku. Itu adalah rencanaku, Rian, untuk bisa bertemu dengan madam Marry sendiri,” pak Frans berkata menjelaskan.

Rian masih sama, masih menutupi badannya dengan selimut abu- abu tebal. Ia masih ragu dengan pengakuan orang itu, yang mengaku sebagai pak Frans. Semakin lama dengan gaya tidur yang tetap, membuat kakinya kesemutan. Ia lalu merubah posisi tidurnya menghadap ke pintu sekaligus berhadapan dengan pak Frans.

“Heh kau masih bersembunyi saja, Rian. Dasar penakut. Sungguh sia- sia aku membawa sertamu ke Berin jika kau menjadi konyol seperti itu. Apa kau ingin pulang ke Marrow sekarang, he?” kata pak Frans.

“Ya, sejujurnya iya. Setelah kau dinyatakan mati aku bingung tidak mengerti apa- apa. Dengan Elle pun, dia sebenarnya menyukaimu, mungkin juga mencintaimu, aku tidak bisa terus menerima teror pembunuhan lagi,” Rian menjawab dengan lantang tetapi dibalik selimut.

“Kalau begitu segera kemasi barang- barangmu lalu kuantar kau ke stasiun sekarang. Ayo, tunggu apa lagi, Rian?” kata pak Frans setelah menghabiskan rokoknya.

“Dan sekali lagi. Aku adalah temanmu, Frans. Frans belum mati,” tegas pak Frans.

Rian sedikit mulai mempercayainya. Ia mengintipnya dari balik selimut. Ia melihat pak Frans duduk di kursi itu. Cerutunya? Ya, itu cerutu yang selalu dihisap olehnya. Pakaiannya memang seperti itu seringnya. Dan memakai topi hitam.

Dengan seluruh keberaniannya, Rian menyingkapkan selimut dari badannya. Ia sudah tidak takut melihatnya. Namun, ia masih sedikit ragu untuk mendekatinya. Ia menarik napas panjang, lalu berkata,

“Mengapa kau tidak memberitahuku soal rencanamu itu, Frans? Jika memang kau adalah Frans temanku, kau tahu minuman kesukaanku. Apa itu?” tanya Rian.

“Kau penyuka teh, apalagi teh lemon, serta senang makan biskuit cokelat,” jawab pak Frans.

“Baiklah,” kata Rian.

“Hanya itu?” kata pak Frans, “mudah sekali,”

“Jadi kau ke mana saja selama ini, Frans?” Rian bertanya sambil menyingkirkan selimut tebalny.

“Maafkan aku, aku terpaksa tidak memberitahumu dahulu karena terburu- buru. Setelah tersekap di tempat gelap itu, aku kemudian membuntuti seorang wanita yang mengaku sebagai madam Marry. Dia sebelumnya juga berada di ruangan itu, malah lebih buruk lagi. Sampai aku kehilangan jejaknya untuk sementara waktu. Setelah kau dan Elle pergi, lalu Teena, lalu madam Marry yang terakhir menjengukku di rumah sakit. Wajahnya sangat berbeda saat kutemui sebelumnya. Ia lebih cantik,” kata pak Frans menjelaskan.

“Lalu kalian bersekongkol membuat cerita ‘kau mati’? Mengapa seperti itu?” tanya Rian agak mendesak pak Frans.

“Supaya Teena tidak mengikutiku. Dan aku bisa lebih fokus mencari solusinya. Kau tahu tidak jika madam Marry sebenarnya tidak ke mana- mana? Dia masih di Berin. Dan yang membunuh bekas suaminya adalah… nona Jill, putrinya sendiri,” pak Frans berkata dengan jelas.

“A..apa? Kau bilang nona Jill yang membunuh ayah kandungnya sendiri? Itu tidak mungkin, kawan. Tidak masuk akal,” kata Rian terkejut.

“Ya, awalnya aku tidak yakin, tetapi semua keterangan yang datang padaku mengarah kepada Jill. Dan memang mengejutkan sekali ya.” Pak Frans berkata sambil melepas topi hitamnya.

“Jadi, aku harus menghubungi Elle segera. Jangan sampai dia menjadi korban selanjutnya,” kata Rian. Ia mencari handphone nya di tempat tidur.

“Apa kau mencari ini?” tanya pak Frans sambil menunjukkan sebuah handphone yang ia bawa.

“Oh iya, biar ku telepon Elle agar dia waspada sebab Jill berada di rumah kos nya,” Rian berkata. “Tolong berikan padaku handphoneku, Frans,”

Rian akhirnya mau mendekati pak Frans yang masih membawa handphonenya. Ia kemudian mundur lagi setelah pak Frans memberikannya.

———————————-

Orca, 1972

Rumah kos madam Maria masih kelihatan sepi. Jill dan suaminya masih di sana. Handphone Elle berdering nyaring terdengar suaranya dari luar kamar. Elle segera menuju ke kamarnya untuk menjawab teleponnya.

“Halo, ya, Rian,” kata Elle sembari menutup pintu kamarnya sedikit.

Apa Jill masih di situ?

“Iya, kenapa kalau iya?”

Ternyata dia yang sudah membuat tuan Noris meninggal, Elle.

“A..apa?! Jangan bicara sembarangan. Kau tahu dari siapa?” Elle berbisik.

Frans yang mengatakannya. Ia memiliki semua buktinya. Mungkin kau harus berhati- hati sekarang, Elle.

“Tidak. Aku sama sekali tidak percaya, Rian. Jill bukan seorang pembunuh. Dia bahkan sangat menyayangi tuan Noris dan sangat berat untuk meninggalkannya. Lalu Frans? Kau sudah bertemu dengannya?”

Iya dia ada di sini sekarang. Di rumah.

“Apa kau yakin dia benar- benar pak Frans? Atau jangan- jangan dia hanya berpura- pura menjadi pak Frans?”

Tutt. Belum terjawab pertanyaan Elle karena tiba- tiba sambungan teleponnya terputus.

“Halo, Rian, Rian…”

Elle menjadi bingung setelah mendengar kabar dari Rian. Lalu ia melihat Jill dari celah pintu yang terbuka sedikit. Jill melihatnya dengan rasa curiga. Dengan seluruh tekadnya Elle memberanikan diri untuk menemuinya. Dan ingin Jill menjelaskannya.

“Jill kau yang telah melakukannya? Kupikir kau ke sini ingin bertemu dengan ibu kandungmu, tetapi kau sendiri yang… membuat masalah,” Elle berkata dengan marah.

“Apa maksudmu? Kau menuduhku yang membunuh ayahku, begitu?” kata Jill. “Oh,” Jill menutup mulutnya. 

Finn melihatnya dengan tatapan tajam, dan berkata, “Jill, kau?”

“Tidak, bukan seperti itu yang sebenarnya. Dan kau, Elle, mengapa kau begitu yakin jika aku yang melakukannya? Siapa yang meneleponmu tadi?” tanya Jill dengan gelagapan.

“Hem, Rian. Dan pak Frans ada bersamanya,” Elle menjawab agak ketakutan.

Tidak lama Rian bersama pak Frans masuk ke rumah kos Elle dengan terengah- engah. Jill terkejut melihat kedatangan mereka yang sangat mendadak. Ia merasa terpojok karena tuduhan itu.

“Nona Jill, sebaiknya kau menyerahkan diri sekarang,” kata pak Frans.

“Apa- apaan ini?! Elle kau harus percaya padaku kalau aku bukan pelakunya, tolonglah, Finn bagaimana ini?” kata Jill panik.

“Sebentar, tuan- tuan sekalian. Sebaiknya kau jelaskan apa yang membuatmu berpikir jika Jill pelakunya, dan jangan terburu- buru,” kata Finn menengahi.

“Madam Marry melihat Jill membawa tubuh tuan Noris di suatu tempat. Tempat yang sama ketika ia disekap. Tetapi tuan Noris disembunyikan di ruang yang lain. Saat itu aku juga mendengarkan suara seorang pria yang menyedihkan. Ia ingin keluar dari tempat itu,” pak Frans menjelaskan.

“Lalu kau tahu tempat itu di mana, tuan Frans?” tanya Finn.

“Ya, aku juga berada di sana tiba- tiba setelah dari rumah madam Teena. Entahlah siapa yang membawaku saat itu. Pasti juga kau, nona Jill,” kata pak Frans seraya menunjuk Jill dengan cerutunya.

Jill menatap pak Frans dengan tajam. Kemudian ia bertanya, “Kalau begitu di mana dia sekarang?”

“Dia ada bersamaku sekarang, Nak,” kata madam Maria tiba- tiba. Ia keluar dari kamar bersama madam Marry. “Kau harus menceritakan yang sebenarnya, Jill,”

“Baiklah, aku mulai mengatakannya sekarang,” Jill berkata dengan gemetaran. “Tetapi aku tidak membunuh siapapun, termasuk ayahku dan Bibi. Mereka masih hidup. Mereka memang kusembunyikan,”

“Tetapi mengapa kau juga menyembunyikan madam Marry?” tanya Elle penasaran.

“Karena… dia sendiri yang menginginkan itu. Sesungguhnya ibu sendiri yang menyuruhku melakukan teror- teror mengerikan itu. Ya, karena dia ingin menghukum Teena dan ayah, yang tidak tulus mencintainya,” kata Jill dengan menangis. “Bicaralah ibu,”

Semua orang diam dan tidak menduga jika apa yang terjadi selama ini adalah rekayasa. Madam Marry memeluk Jill seraya berkata, “Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu,”

“Dan polisi- polisi itu? Dan petugas rumah sakit itu? Apa juga hanya berpura- pura?” Rian bertanya.

“Tidak. Mereka sungguhan melakukan penyelidikan. Tetapi Bibi yang sudah mengatur semuanya. Bibi memang asisten yang baik,” jawab madam Marry.

“Jadi kau memata- mataiku selama ini, madam Marry? Dan aku hanya menjadi bahan permainan dalam cerita ini. Baik. Sudah cukup,” pak Frans berkata lalu pergi keluar rumah kos. Ia duduk di luar sambil merokok.

“Dan apa madam Teena sudah tahu jika tuan Noris masih hidup?” tanya Elle kepada madam Marry.

“Sebaiknya dia tidak perlu mengetahuinya dan ingin tahu keberadaannya sekarang. Biarkan dia seperti apa adanya sekarang,” jawab madam Marry.

———————————-

Setelah pihak berwenang melakukan penyelidikan lebih lanjut, ketiga korban teror pembunuhan dinyatakan masih hidup. Namun polisi belum mengetahui siapa para pelaku teror tersebut dan masih dalam pencarian…

“Dia bilang apa?” Teena terperangah mendengar pernyataan pelapor berita di televisi. “Berarti mereka tidak benar- benar mati. Tidak mati,”

“Ada apa, ibu?” tanya Henof yang muncul dari belakang tiba- tiba.

Teena menengok ke belakang, lalu menjawab, “Noris masih hidup, begitu juga yang lain,”

Henof terkejut mendengar jawaban Teena.

“Oh astaga, mereka semua menipuku, dan pasti ulah Marry,” Teena berkata dengan marah. “Dia ingin memisahkanku dengan ayahmu, Nak. Tidak bisa dimaafkan,”

“Ibu sebaiknya tidak usah berhubungan dengannya lagi. Dan lagipula sebenarnya aku bukan keturunan Noris, bukan?” Henof berkata dengan sinis.

Teena lebih terkejut dengan perkataan putranya. Ia tidak mengira anaknya akan mengetahui hal itu. 

“Dan kau sudah mendapatkan apa yang kau mau di rumah ini. Jadi, tenanglah ibuku sayang,” tambah Henof lalu mengecup kening Teena.

T A M A T

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s