Kisah Lama

Jill dan suaminya heran dengan sikap Rian saat mereka bertemu di kedai NikCola. Akhirnya Jill memutuskan untuk menemui Elle di rumah kosnya.

“Permisi, Elle, ini aku, Jill,” kata Jill.

Elle yang sedang berbaring di temoat tidurnya kemudian bangun. Ia mendengar suara temannya di luar.

“Jill kah itu?” kata Elle. Lalu ia keluar dari kamarnya dan membuka pintu.

“Hai, Elle,” kata Jill. “Apa kau sakit?”

“Ayo masuklah. Kita mengobrol di dalam saja,” kata Elle.

Jill bingung dengan sikap Elle yang tidak seperti biasanya saat mereka bertemu.

“Kau kenapa? Tadi Rian sekarang kau. Sebenarnya ada masalah apa, Elle?” tanya Jill.

Elle menggelengkan kepalanya. Wajahnya kelihatan sangat pucat.

“Maaf Jill, jika sikapku berbeda hari ini. Sedang banyak pikiran. Sebenarnya aku mau meneleponmu kemarin tetapi pulsaku sudah habis,” kata Elle menjelaskan.

“Lalu kau menyuruh Rian untuj meneleponku tadi malam?” tanya Jill.

“Em tidak, tidak begitu. Aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk menelepon teman- temanku terutama kau, Jill. Lagipula Rian tidak tahu nomormu,” kata Elle, “tetapi mungkin ada orang lain yang berpura- pura menjadi Rian lalu meneleponmu,”

“Hm, menyebalkan sekali orang itu. Dia dengan mendadak menyuruhku ke Berin untuk bertemu dengannya di kedai NikCola. Dan ternyata Rian bilang bahwa dia tidak meneleponku tadi malam. Malah dia buru- buru pergi lalu menyuruhku untuk datang ke sini,” kata Jill dengan kesal.

“Benarkah begitu?” tanya Elle.

“Iya. Finn saksinya,” jawab Jill. “Jadi, aku benar- benar tidak mengerti. Apa maksud Rian palsu itu?”

“Lalu saat kau berada di kedai NikCola apa kau sudah bertemu dengannya? Rian palsu,” Elle bertanya.

“Nyatanya tidak. Tidak ada yang menemuiku di sana tadi. Kalau dia tahu tentangku pasti dia akan langsung menemuiku,” jawab Jill.

Elle diam dan memikirkan sesuatu. Ia tiba- tiba ingat pak Frans. Ia ingat perilaku Rian palsu itu sama persis dengannya. Sebab Elle pernah dikerjai olehnya dengan berpura- pura menjadi teman kerjanya, hanya ingin bertemu dengannya. Tetapi tidak di kedai NikCola. Mereka bertemu di tempat lain.

“Elle, Elle,” kata Jill memanggil Elle.

“Oh, maaf. Aku melamun tadi he,” kata Elle gelagapan. “Oya, kau tahu pak Frans tidak?” tanya Elle melanjutkan.

“Pak Frans si pengacara itu? Ya, aku tahu tetapi tidak begitu mengenalnya. Memangnya kenapa?” kata Jill.

“Dia sudah meninggal,” kata Elle.

“Apa?!” kata Jill dan Finn terkejut.

“Maaf aku menyela, nona Elle,” kata Finn, “tetapi aku melihatnya masih baik- baik saja. Tadi di kedai NikCola,”

“Apa kau bercanda, tuan Finn?” tanya Elle terkejut.

“Tunggu,” kata Finn. Ia mengeluarkan telepon genggamnya dari tas kecilnya lalu menunjukkan sebuah foto kepada Elle. “Coba lihat ini,”

Elle melihat foto itu dengan seksama. Layar handphone milik Finn sangat terang dan bagus sehingga foto itu terlihat sangat jelas dan tidak buram walaupun untuk memfoto jarak jauh. Elle begitu terkejut setelah melihat apa yang ada di dalam foto itu.

“Oh astaga itu sangat tidak mungkin,” kata Elle, “tetapi sosok ini sama persis dengan pak Frans,”

Elle mengembalikan handphone kepada Finn. Mukanya berkeringat. Kelihatan dari wajahnya ekspresi ketakutan.

“Apa mungkin dia hantu?” tanya Elle merinding.

“Tidak, dia manusia. Dia juga minum kopi tadi. Bahkan juga tengah berbicara dengan seseorang. Mungkin temannya,” kata Finn.

“Kau tidak memberitahuku, Finn,” kata Jill tiba- tiba.

Finn hanya tersenyum kepada Jill. Tidak menjawab pertanyaannya.

“Apa karena itu Rian buru- buru pulang seperti katamu tadi?” kata Elle, “karena tadinya dia ingin ke toko buku,”

“Aku juga tidak mengerti,” kata Jill. “Oya apa kau sudah mendengar berita tentang ibuku lagi, Elle?”

“Seharusnya Rian yang menjawab sebab dia sudah bertemu dengan madam Marry di rumah pak Frans,” jawab Elle.

“Hm, masalahnya aku tidak bisa lama di Berin. Ah, mereka benar- benar membingungkan. Ibu kandung dan ibu tiri. Aku yakin penyebab ayahku meninggal adalah karena sikap mereka sendiri yang kekanak- kanakan,” kata Jill.

“Hei, jika memang begitu mengapa ada yang terbunuh? Dan kau sendiri juga belum paham seperti apa madam Marry, bukan?” kata Elle.

“Aku tahu tentangnya dari orang lain saja. Ayahku tidak bercerita banyak tentangnya, bahkan seolah dia membencinya. Karena ibuku itu meninggalkan kami begitu saja,” kata Jill.

Di tengah pembicaraan mereka, di balik pintu kamar madam Maria sudah mendengarkan semuanya. Ia ingin menceritakan hal yang sebenarnya tetapi ia tidak tega dengan Jill. Ia tidak ingin Jill sedih. Namun, suatu saat ia harus memberi tahu Jill tentang apa yang ia tahu…

———————————-

Rumah Sakit Anelise, 1972

Teena terbangun dari mimpi buruknya. Di samping ranjangnya sudah ada putranya, Henof. Ia masih tidur dan mendengkur. Seharusnya Teena menjemputnya di stasiun Morell tetapi nasib buruk telah menimpanya.

Kepalanya dibalut perban sehingga menjadi agak risih. Sudah empat hari ia dirawat di rumah sakit tetapi belum jelas kapan dibolehkan untuk pulang. Dokter Anne merawatnya dengan sangat baik.

“Hari ini nyonya Noris sudah boleh pulang dan ini resep untuk obatnya,” kata dokter Anne.

“Baik, dokter,” kata madam Maria.

Madam Maria masuk ke kamar Teena bersama dua orang suster. Ia membangunkan Henof dan menyuruhnya untuk berkemas- kemas.

“Nyonya Noris hari ini Anda sudah diperbolehkan pulang,” kata salah satu suster.

“Harus bersama dia?” tanya Teena dengan menunjuk madam Maria.

“Sudahlah ibu, ayo kita bersiap- siap,” kata Henof.

“Jika aku tidak diperlukan lagi, lebih baik aku pulang saja. Sudah ada putramu yang akan membantumu. Permisi,” kata madam Maria.

“Tunggu madam Maria,” kata Henof menghentikan langkah madam Maria, “aku ucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu, dan maafkan ibuku jika dia kasar padamu,”

“Oh tidak apa- apa, nak. Ibumu hanya perlu banyak istirahat dan tidak boleh berpikir berat. Maaf aku tidak bisa ikut mengantar ibumu. Permisi,” kata madam Maria lalu meninggalkan rumah sakit.

Henof melanjutkan berkemas- kemas. Saat ia merogoh tas yang tergeser di bawah ranjang, ia menemukan sebuah foto berbingkai kayu dengan ukiran klasik. Di dalam foto itu ada tiga orang remaja perempuan yang salah satunya adalah ibunya sendiri. Dua orang lainnya adalah madam Maria dan madam Marry. Mereka memakai baju dengan motif yang sama. Namun di antara ibunya dan madam Marry, foto itu seperti ada bekas sobekan. Mereka saling melihat satu sama lain tetapi tangan mereka seperti menggandeng seseorang. Lalu ia simpan foto itu ke dalam tasnya. Dan ia segera membantu ibunya berjalan keluar dari rumah sakit.

Di tengah perjalanan, Teena melamun. Ia memikirkan tentang kematian pak Frans. Dan orang yang begitu mirip dengan pak Frans yang sempat dilihatnya saat di rumah sakit sebelum ia pingsan. Ia ketakutan karena sering diteror soal pembunuhan. Bahkan ia sendiri menjadi korban. Teena masih menduga jika semua itu ulah madam Marry karena ia tahu jika madam Marry tidak senang tuan Noris menikahinya. Hanya soal klasik…

———————————-

Sementara Rian juga ketakutan akan hantu temannya. Ia juga masih hapal keusilan pak Frans yang senang berpura- pura menjadi orang lain saat menelepon. Ia ingin kembali ke Marrow dan cepat- cepat pergi dari Berin. 

Saat matanya akan terpejam, ia mendengar ada suara sepatu yang sama persis seperti milik pak Frans. Irama langkahnya sama. Ia lupa jika pintu kamarnya masih terbuka lebar. Seseorang itu masuk ke kamar Rian hanya sampai ke kursi di samping pintu. Orang itu lalu duduk sambil menyalakan sebatang rokok. Rian tidak ingin melihatnya tetapi ia sudah mendengarnya. Orang itu lalu memanggil Rian.

“Hei, Rian,” kata orang itu. “Apa yang sedang kau lakukan di balik selimut?”

“Hah, itu suara Frans,” bisik Rian, “tapi itu tidak mungkin…

Advertisements

7 thoughts on “Kisah Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s