Tersangka

York, 1972

Finn sedang membaca surat kabar di ruang tamu. Surat kabar yang didapatkannya tadi pagi itu agak basah terkena embun. Ia membaca kolom berita terhangat yang memuat berita tentang kota Berin. Matanya membaca kata per kata dengan sangat serius. Ketika ia membaca judul ‘Percobaan Pembunuhan di Rumah Sakit Anelise’, dengan spontan ia memanggil istrinya, Jill.

“Hei, Jill, Jill kemarilah, cepat!” kata Finn. Ia lalu meneguk kopinya yang sudah hampir dingin. Jill yang sedang membuat camilan di dapur segera meninggalkan aktifitasnya untuk memenuhi panggilan suaminya.

“Iya, sayang. Ada apa?” kata Jill. Ia duduk di samping Finn sambil mengelap keringat dengan tisu.

“Kau masih ingat ibu Teena, bukan? Dia menjadi sasaran pembunuhan di rumah sakit itu. Tempat di mana kau dilahirkan oleh ibu kandungmu,” kata Finn dengan wajah serius.

Jill menatap wajah Finn dengan serius juga, lalu berkata, “I..ibu Teena? Di rumah sakit Anelise?”

“Ya,” jawab Finn sambil mengangguk.

“Sedang apa dia di sana? Dan siapa yang ingin membunuhnya?” tanya Jill. Ia menggesek- gesek telapak tangannya yang agak dingin karena gugup.

“Ibu Teena dikabarkan pingsan saat berada di rumahnya. Saat itu pembantunya yang bernama Bibi itu sudah menjadi mayat dan tergeletak di depan pintu kamar ibu Teena. Mungkin karena dia sangat kaget, lalu tiba- tiba dia pingsan,” jawab Finn.

Jill mengernyitkan dahi karena jawaban Finn tidak memuaskan. Lalu ia memberi pertanyaan yang lain.

“Apa di koran itu ada keterangan tentang pelakunya?” tanya Jill.

“Di sini dinyatakan kalau salah seorang pihak rumah sakit ditemui oleh seseorang yang memakai jaket kulit berwarna cokelat muda dan bertopi hitam. Tetapi ia tidak membawa senjata apapun bentuknya,” jawab Finn.

“Lalu apa yang dilakukan oleh orang itu?” tanya Jill lagi.

“Hem aku tidak menemukan jawabannya di koran ini, Jill, maaf. Ya, mungkin saja orang itu tidak ada hubungannya dengan ibu Teena. Mungkin saja orang itu hanya orang biasa yang ingin menjenguk kerabanya yang sakit,” jawab Finn.

“Hei Finn, ini juga masalah yang serius. Jika orang itu mendekati ibu Teena mungkin saja dia juga tahu tentang ibuku. Jika orang itu dikabarkan di koran berarti dia juga ada dalam kasus ini,” kata Jill.

“Kau mencurigai orang itu sebagai pelakunya?” tanya Finn. Lalu Finn tertawa pelan. “Sudahlah, Jill, sudah cukup membahas kasus itu dan saatnya kita beristirahat, oke?” tambah Finn.

“Hem, baiklah, aku membersihkan diri dahulu,” kata Jill lalu beranjak ke dapur lagi untuk membereskan peralatan dapurnya dan mencuci tangannya.

Finn berjalan menuju ke kamarnya. “Oya, sayang, camilannya sekalian kau bawa ke atas. Aku menjadi lapar, he,” kata Finn.

Di dapur, Jill mencuci tangannya di wastafel. Setelah itu ia membawa camilannya ke kamarnya. Namun ketika ia akan menaiki tangga, telepon genggamnya berbunyi. Ia meletakkan camilannya di meja telepon.

“Halo,” jawab Jill.

Nona Jill, ini aku Rian…

“Rian? Rian siapa?” tanya Jill.

Aku teman Elle di Berin. Elle ingin bertemu denganmu besok di sini. Apa kau bisa?

“Oh, tetapi mengapa tidak Elle sendiri yang menghubungiku? Ada apa dengannya?” tanya Jill dengan khawatir.

Maafkan dia nona, Elle sendiri yang menyuruhku meneleponmu dengan nomorku. Elle baik- baik saja di sini. Bagaimana nona?

“Baik, baik, aku ke sana besok bersama suamiku,” kata Jill.

Kita bertemu di kedai NikCola…

“Oke, baik,” kata Jill. Jill diam merenung memikirkan apa yang diinginkan oleh Elle. Mengapa ia mendadak menyuruhnya datang ke Berin besok?

“Jill, sayang, ayolah,” kata Finn dengan berteriak.

Panggilan Finn membuyarkan lamunan Jill seketika. Dan ia segera membawa camilannya ke kamarnya.


 

Orca, 1972, Rumah Kos

Elle berencana tidak masuk kerja hari ini. Ia ingin mengistirahatkan diri di rumah. Badannya sedang tidak enak, sehingga ia terpaksa ijin meliburkan diri. Ia pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi hitam. Madam Maria sudah meniggalkan kos pagi- pagi sekali untuk berbelanja ke pasar. Memang sudah menjadi kebiasaannya bangun pagi- pagi, lebih pagi dari jam bangun Elle dan penghuni kos yang lain. Ketika Elle sedang menikmati kopinya di ruang tamu, salah satu teman kosnya yang bernama Liza menegurnya,

“Elle, itu gelasku. Mengapa kau memakainya?”

“Oya? Aduh maaf Liz, aku benar- benar tidak tahu kalau gelas ini milikmu, maaf,” kata Elle menyesal.

“Heh, sudahlah kau pakai saja. Oya Elle, pacarmu sudah tidak ke sini lagi ya?” tanya Liza.

“Pacar? Siapa memangnya?” tanya Elle dengan terkejut.

“Ah, itu Rian!” seru Liza ketika melihat Rian datang.

Elle tersenyum ketika Rian masuk ke rumahnya.

“Selamat pagi, Elle,” kata Rian menyapa Elle.

“Selamat pagi, Rian,” kata Elle. “Sudah lama kau tidak kemari. Ada masalah?” tanya Elle.

“Eh aku malas keluar rumah saja, Elle. Oya, kau sudah ijin, bukan?” tanya Rian.

“Sudah. Apa kita harus pergi sekarang?” kata Elle.

“Tidak usah buru- buru. Lagipula kau harus banyak- banyak istirahat. Apa Jill sudah menghubungimu lagi?” tanya Rian.

“Ah, belum. Kemarin aku tidak bisa menghubunginya karena pulsaku habis,” jawab Elle.

“Hem, baiklah,” kata Rian.

“Kalau saja semua ini tidak terjadi pasti kota Berin selalu aman,” kata Elle tiba- tiba.

Rian melihat Elle dengan heran, lalu berkata, “Sudah nasibnya, Elle,”

“Nyonya Noris maksudmu?” tanya Elle.

“Iya. Siapa lagi,” jawab Rian. “Kalau saja dia segera mengakui perbuatannya, kota ini tidak dipenuhi berita teror pembunuhan, bukan?” kata Rian melanjutkan. Ia lalu mengambil biskuit cokelat di meja.

“Ya, kau benar. Tetapi aku belum yakin kalau yang membunuh pak Frans adalah nyonya Noris. Sebab dia juga mencintainya, kelihatannya,” kata Elle.

“Lalu siapa lagi kalau bukan dia, Elle? Apa kau mencurigai orang lain?” tanya Rian.

“Ya, yang pasti …pasti ada yang lain, entahlah,” kata Elle.

“Hem, kau sangat capek kelihatannya. Apa kau perlu istirahat?” tanya Rian.

“Iya sepertinya. Ini tujuanku tidak masuk kerja, he,” jawab Elle. “Kau tidak apa- apa ‘kan Rian jika kutinggal tidur di kamar?”

“Oh, tidak masalah, Elle. Silakan kau tidur dan aku juga akan pulang,” kata Rian lalu tersenyum.

Elle mengangguk lalu pergi ke kamarnya. Rian pun keluar dari rumah kos untuk pulang. Ia mengendarai sepeda saja agar tidak susah memarkirkannya ketika ia mampir ke toko buku. Ketika ia melewati kedai NikCola, ia melihat Jill dan suaminya di sana. Dengan segera ia menghampiri mereka di tempat itu. Rian agak buru- buru memarkirkan sepedanya.


 

“Jill?” sapa Rian.

“Eh, kau Rian?” tanya Jill.

“Iya, saya Rian, teman Elle,” jawab Rian.

“Ada keperluan apa kita bertemu di sini?” tanya Jill.

“Apa? Keperluan? Ah saya tadi melihatmu dan suamimu di sini ketika melewati kedai ini. Jadi, sekalian saya mampir. Lalu mengapa kau tidak menelepon Elle? Saya tadi baru saja dari rumah kosnya dan katanya dia sedang sakit,” kata Rian.

“Apa kau sedang bercanda, Rian?” tanya Jill.

“Tidak, saya serius. Memangnya ada apa, Jill?” kata Rian dengan penuh penasaran.

“Astaga, lalu Rian siapa yang meneleponku kemarin sore? Dia yang menyuruhku ke kedai ini untuk bertemu dengannya,” kata Jill mulai khawatir.

“Dia mengaku sebagai aku? Jangan- jangan…,” kata Rian.

“Jangan- jangan apa? Kau kenal dia?” tanya Jill menginterogasi.

“Bukan begitu maksudku. Tolong jangan salah paham. Maaf saya harus pulang sekarang. Lebih baik jika kalian ke rumah kos madam Maria sekarang. Permisi,” kata Rian.

Jill dan Finn saling memandang dengan tidak percaya. Jill sangat bingung. Rian sudah tancap gas menuju rumahnya. Rencananya akan ke toko buku ia batalkan begitu saja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s