Kenangan Teena

Berin 1972, Rumah Sakit Anelise

Di rumah sakit Anelise, Teena berbaring lemah di ranjangnya. Matanya masih terpejam. Kabel infus di hidungnya sepertinya membuatnya tidak nyaman. Seumur- umur ia baru sekali ini diinfus.

Di luar kamarnya, banyak orang yang ingin menjenguknya. Namun, entah ragu atau apa mereka belum juga masuk di ruangan itu. Salah satu dari mereka bertanya soal keadaan Teena kepada seorang dokter yang baru saja keluar dari kamarnya. Dokter itu baru selesai memeriksa kondisi Teena.

“Apa dia baik- baik saja, dokter?” tanya orang itu.

“Ya, dia akan sadar beberapa saat lagi. Tetapi Anda sebaiknya tidak mengajaknya bicara dahulu. Permisi,” jawab dokter itu

Dari dalam kamar, kedua telinga Teena bisa mendengarkan percakapan kedua orang itu samar- samar. Lalu matanya terbuka pelan- pelan. Ia mencoba menggerakkan tangannya yang juga diinfus. Ia merasakan sakit di kepalanya sehingga ia ingin memejamkan kedua matanya saja.

Ah, apa yang terjadi padaku…, batin Teena.

Selang beberapa detik ada seseorang yang masuk ke kamar Teena. Ia adalah madam Maria si pemilik rumah kos yang ditempati oleh Elle.

“Teena,” kata madam Maria dengan suara pelan.

Teena tidak menjawab panggilan madam Maria. Ia hanya membuka mata dan sudah mengetahui bahwa orang yang masuk adalah madam Maria.

“Apa yang sudah terjadi padamu?” tanya madam Maria.

Lagi- lagi Teena tidak mempedulikan madam Maria. Ia mengalihkan matanya dari madam Maria. Ia menggerakkan kepalanya menengok ke kanan, ke arah botol infus.

“Kau masih marah padaku, Teena? Apa gunanya itu? Sudah sejak lama kita berteman tetapi tiba- tiba sikapmu berubah setelah menikah dengan suami barumu itu,” kata madam Maria.

“Lalu apa maumu?” tanya Teena.

“Hem, kau masih angkuh rupanya. Apa kau tidak ingat siapa yang mengenalkanmu dengan Noris itu? Ya, sekarang dia sudah mati, jadi aku tidak perlu sungkan hanya memanggil namanya,” kata madam Maria.

Teena hanya diam saja. Ia tidak menanggapi omongan madam Maria. Namun hatinya kesal karena madam Maria mengungkit masa lalunya. Lalu madam Maria meletakkan parsel buah di atas meja di samping televisi. Ia kemudian berjalan mendekati Teena dan duduk di kursi di samping ranjang.

“Sayang sekali kau sedang tidak berdaya sekarang. Mungkin ini yang namanya karma, Teena. Kau mesti memperbaikinya mulai sekarang sebelum ada pemakaman lagi,” kata madam Maria.

“Apa maksudmu tentang pemakaman? Apa kau yang sudah merencanakan semua ini? Bicara padaku Maria!” kata Teena dengan suara meninggi.

“He, jangan menuduhku Teena. Aku tidak tahu soal kematian orang- orang dekatmu itu. Yang jelas pasti ada yang tidak suka denganmu. Dan itu bukan berarti aku.” kata madam Maria dengan suara pelan. “Barangkali kau memiliki masalah dengan keluarga Noris. Dengan anaknya atau istrinya? Dan kau tahu kalau Jill datang di rumahku kemarin?” tanya madam Maria.

“Jill? Gadis itu? Apa dia berkata sesuatu tentang ibunya?” tanya Teena.

“Eh, tidak. Dia hanya bicara soal keinginannya untuk bertemu madam Marry. Mengapa kau terlihat gugup?” tanya madam Maria.

“Benarkah? Aku tidak apa- apa. Tolong kau jangan membicarakan soal Marry di sini. Aku muak dengannya karena dia sudah menikahi Noris. Seharusnya aku menjadi istri Noris untuk pertama kali, bukan dia,” kata Teena.

“Lalu apa kau sudah tahu keberadaan madam Marry?” tanya madam Maria.

“Tidak. Seharusnya dia sudah dipenjara karena sudah membunuh Noris,” jawab Teena.

“Dia? Kau punya bukti apa soal Marry? He, kau jangan menuduhnya kalau kau tidak punya bukti yang akurat. Hanya karena kau tidak suka padanya lalu kau sebut dia sebagai tersangka,” kata madam Maria.

“Lalu kau membelanya? Aku yang seharusnya kau dukung,” kata Teena. “Aduh, kepalaku sakit sekali,” katanya lagi.

Teena memegang kepalanya dengan tangan kiri. Sakit kepalanya kambuh.

“Teena kau kenapa?” tanya madam Maria mulai panik. “Kupanggilkan dokter sekarang. Kau harus tenang,” katanya melanjutkan.

Madam Maria segera keluar untuk memanggil dokter. Teena berusaha menahan sakit kepalanya sendirian. Matanya berkunang- kunang sehingga tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Namun ada sosok yang terlihat sedikit jelas mendekatinya dengan membawa sebuah benda. Sosok itu berbaju cokelat dan bertopi. Lalu… Bukk! Teena tidak sadarkan diri. Badannya tergeletak di lantai dengan mata terbuka. Jarum infusnya terlepas dari tangannya karena ketarik ke bawah. Sosok itu melihat kondisi Teena sebentar lalu ia menjepitkan sebuah tongkat baseball di tangan kiri Teena. Kemudian ia pergi sambil tersenyum puas…

Beberapa saat kemudian madam Maria dan dokter serta dua perawatnya kembali ke ruangan Teena. Mereka terkejut sekali melihat kondisi Teena.

“Oh Tuhan, Teena! Teena! Bangunlah,” kata madam Maria dengan suara histeris. “Dokter tolong dia, tolong,” katanya melanjutkan.

Tubuh Teena diangkat lalu dibaringkan di ranjangnya. Tongkat baseball masih tergeletak di lantai. Madam Maria akan mengambilnya tetapi salah satu perawat melarangnya.

“Maaf nyonya sebaiknya tidak menyentuh benda itu sebab nanti akan diperiksa oleh polisi,” kata perawat laki- laki.

“Ah, iya,” kata madam Maria.

Ia tidak jadi mengambil benda itu tetapi ia masih melihatinya dengan penasaran. Ia melihat setiap detail tongkat baseball itu. Yang ia temukan adalah huruf F dengan dua titik di atasnya.

Sepertinya ada orang yang mencoba ingin membunuhnya. Apa mungkin dia itu Frans? Ah, aku tidak yakin dan itu tidak akan mungkin, kata madam Maria dalam hati.

Madam Maria mengalihkan pandangannya ke Teena. Ia tidak menduga jika temannya itu akan seperti ini kondisinya. Matanya sudah tertutup dan infusnya sudah dikembalikan ke tempat semula. Dokter menyarankan madam Maria untuk meninggalkan ruang pasien. Lalu mereka keluar dari kamar Teena.

Madam Maria dipersilakan untuk masuk ke ruang dokter. Dia adalah dokter Anne.

“Maaf dokter, sebenarnya teman saya sakit apa?” tanya madam Maria.

Dokter Anne melepas kacamatanya lalu menjawab, “pasien tadi terkena pukulan dari benda yang keras sehingga beliau mengalami gangguan syaraf di otaknya.”

“Astaga, lalu bagaimana solusinya, dokter?” tanya madam Maria.

“Sementara beliau jangan dijenguk dahulu, nyonya, agar masa pengobatannya lebih efektif. Dan setiap hari beliau harus menjalani pemeriksaan di laboratorium di rumah sakit ini,” jawab dokter Anne.

“Eh, iya dokter. Saya serahkan teman saya kepada dokter. Saya sudah percaya,” kata madam Maria.

“Terima kasih, nyonya. Dan saya juga salut dengan nyonya karena Anda sangat baik terhadap teman Anda. Beruntung nyonya Teena bisa segera dirawat di sini dan Anda yang mengantarkannya,” kata dokter Anne.

“Iya, dokter. Kalau begitu saya permisi dahulu, dokter. Tolong sembuhkan Teena,” kata madam Maria.

Dokter Anne mengangguk lalu berkata, “Pasti, nyonya,”

Madam Maria keluar dari ruang dokter Anne. Ia masih merasa bingung tentang Teena. Dan tongkat baseball yang ada ditangannya. Pikirannya sempat macam- macam karena melihat huruf F dengan dua titik hitam di atasnya. Ia berharap bukan pak Frans yang melakukannya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s