Bibi yang Malang

Rupanya sangat mudah membuatnya kacau. Aku semakin penasaran bagaimana jika alur skenario ini dilanjutkan. Kita memang sama- sama pembuat cerita yang handal, tetapi sebentar lagi ceritamu akan dikalahkan oleh kesaksianmu, Teena…

——————————

York, 1972

“Jill, sarapanmu sudah siap,” kata Finn membagunkan istrinya.

“Hem, terima kasih, Finn. Eh, kau sudah mau berangkat, ya? Maaf aku bangun terlambat,” kata Jill.

“Tidak apa- apa, sayang. Tidurlah jika kau masih mengantuk,” kata Finn.

Jill mengangguk sambil tersenyum. Finn berangkat ke kantornya dengan mengendarai mobilnya. Pekerjaan Jill sebagai penulis membuatnya kewalahan saat banyak pesanan. Ia harus terjaga sampai pagi kalau perlu. Namun ia senang karena itu memang hobinya.

Di tengah kesibukannya terkadang Jill ingat tentang ibunya. Ia ingin kembali ke Berin, tetapi ia sendiri juga belum yakin bahwa ibunya masih di sana. “Bagaimana kalau dia sudah pindah ke kota lain?” kata Jill. “Sebaiknya aku menghubungi bibi Elina,” kata Jill selanjutnya.

Kring kring kring…

Kring kring kring…

“Halo, dengan siapa ini?” jawab bibi Elina.

Ini Jill, bibi. Maaf aku mengganggumu sebentar.

“Oh, kau rupanya. Ada apa, nak? Semua baik- baik saja, bukan?”

Eh, tidak, tidak sebaik itu, bibi. Aku belum bertemu dengan ibuku saat di Berin. Sekarang aku sudah kembali ke York. Entah di mana lagi aku mencarinya, bi.

“Oh, Jill, kupikir kau sudah bersamanya saat ini. Tenangkan pikiranmu, nak. Semua akan baik- baik saja,” kata bibi Elina.

“Iya, bibi,” kata Jill.

Ia menghentikan pembicaraanya dengan bibinya. Bibi Elina adalah saudara satu- satunya yang dimiliki madan Marry. Ia tinggal sendirian di kota yang agak jauh dari Berin, yang merupakan tempat kelahiran madam Marry sendiri, di kota Sachi.

——————————

Berin, 1972

Teena memikirkan apa yang sudah dialami oleh pak Frans di rumah sakit itu. Ia menjadi ketakutan kala mendengar suara yang samar- samar memanggilnya. Ia khawatir jika itu hantu madam Marry.

Tok tok tok…

Suara ketukan pintu mengagetkan Teena. Ia memanggil Bibi, pembantunya. “Bibi, kau dengar ketukan pintu, bukan?” kata Teena setengah berteriak.

“Iya, nyonya,” jawab Bibi.

Lalu dibukanya pintu rumahnya dan ternyata yang datang adalah pak Frans, Rian dan Elle. Bibi terkejut dan merasa dikeroyok.

“Kalian mengapa datang malam- malam begini?” tanya Bibi.

Namun mereka bertiga langsung memasuki rumah tanpa menjawab pertanyaan Bibi. Dari kamarnya, Teena memanggil Bibi.

“Bibi, siapa di luar? Mengapa lama sekali kau di sana?” tanya Teena.

“Tuan Frans beserta teman- temannya, nyonya. Mereka ingin bertemu dengan anda,” jawab Bibi dengan takut.

“Apa?” kata Teena dengan terkejut. “Bukankan Frans dinyatakan meninggal tadi siang? Dan teman- temannya, mereka sendiri yang menyaksikan Frans dimakamkan. Siapa Frans yang ini?” kata Teena yang tidak berani menengok ke belakang, ke arah pintu kamarnya.

“Teena, Teena… Teena, Teena,…” kata pak Frans memanggil Teena dari luar kamarnya.

“Eh, tidak, tidak, ini hanya mimpi burukku. Mimpi buruk. Aku lebih baik tidak membuka pintu itu. Aku kembali tidur saja. Pintu dan jendela sudah kukunci rapat- rapat jadi tidak seorang pun bisa memaksa masuk ke sini,” kata Teena sambil menarik selimut tebalnya.

“Teena, Teenaa, keluarlah. Apa yang kau lakukan di dalam?” kata pak Frans masih memanggil- manggil Teena agar keluar.

Teena membuka matanya yang masih dilindungi selimutnya setelah mendengar suara pak Frans yang semakin jelas. Ia mencoba menutupi telinganya agar tidak mendengarnya lagi.

“Suara itu terasa di dekatku, oh jangan- jangan…,” bisik Teena.

Namun suara panggilan itu sudah menghilang. Tidak ada lagi yang memanggilnya. Teena bernapas lega dan ia masih tetap ingin berada di balik selimut tebalnya sampai pagi datang…

Malam yang aneh dan menyeramkan bagi Teena.

Pagi hari, sinar matahari sudah menerobos masuk di celah- celah jendela kamar Teena. Teena terkejut karena ia bangun pukul 8 pagi. Sangat siang ia bangun.

“Astaga, mengapa Bibi tidak membangunkanku pukul 7? Aku harus menjemput Henof di stasiun Morell pagi ini,” kata Teena.

Ia segera bergegas menuju dapur. Namun ia malah dikejutkan dengan sosok yang sudah tidak bernyawa di depan pintu kamarnya.

“Bibi?! Bibi?! Oh, Tuhan, Bibi, jangan Bibi!” kata Teena sambil menangis. Ia ketakutan dan berlari ke luar rumah untuk meminta bantuan tetangganya.

Di luar rumah juga ada keramaian yang membuat Teena penasaran.

“Apa yang terjadi di sini, tuan?” tanya Teena kepada seorang pria di kerumunan itu.

“Ada orang yang habis ditembak, nyonya. Saya melihatnya berjalan menuju rumah anda lalu entah dari mana tembakan itu,…” kata pria itu menjelaskan.

Teena lalu menemui seorang polisi di lokasi kejadian itu. Ia melaporkan peristiwa terbunuhnya Bibi. Dengan segera ia dan beberapa polisi lainnya kembali ke rumah untuk memeriksa jenazah Bibi.

“Apa dia kerabat anda, nyonya?” tanya polisi wanita yang memeriksa tubuh Bibi.

“Bukan, tapi dia sudah kuanggap sebagai kerabatku sejak dulu,” jawab Teena.

Seorang polisi lain menelepon mobil ambulans. Teena merasa dirinya kurang enak badan. Kepalanya tiba- tiba pusing, tubuhnya bergemetar, dahinya mengeluarkan keringat dingin. Kakinya tiba- tiba tidak kuat menyangga tubuhnya berdiri untuk beberapa saat, pandangannya kabur, lalu ia pingsan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s