Madam Marry

Rian terkejut telah melihat madam Marry di rumah pak Frans. Selang beberapa jam tamu yang dimaksud mengetuk pintu rumah itu.

“Masuklah, kawan, pintu tidak dikunci,” kata madam Marry. Dan seketika orang itu masuk. Ada dua orang yang nampaknya suami istri. Mereka langsung duduk di ruang tamu itu. Madam Marry mengenalkan mereka kepada Rian.

“Rian, mereka adalah pembantu di rumah tuan Noris, dahulu,” kata madam Marry.

Rian menatap mereka satu per satu. Ia masih bingung dengan kenyataan. Ia sama sekali tidak mengenal mereka, namun ia malah masuk dalam perkara yang tidak diinginkan.

“Eh, maaf madam, saya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, apa anda sengaja meninggalkan keluarga anda?” tanya Rian.

“Oh, ehm, sebenarnya aku tidak masalah kau bertanya begitu, tetapi apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanya madam Marry.

“Tidak ada, madam. Saya hanya bingung soal teman saya yang bekerja di sini. Ia pernah menyinggung soal anda beberapa hari yang lalu. Dan setelah itu nasib buruk menimpanya kemarin,” jawab Rian.

“Aku turut prihatin, Rian. Semoga lekas membaik. Ya, aku tahu maksud perkataanmu itu. Temanmu bersama madam Teena, bukan?” tanya madam Marry.

“Iya, betul, madam. Anda bisa tahu lalu apa jangan- jangan anda sebenarnya tidak menghilang dari kota Berin?” kata Rian.

Madam Marry tidak langsung menjawab pertanyaan Rian. Ia melihat ke arah sepasang suami istri itu. Keriput di kening si pria bertambah jelas karena ia menanggapi tatapan mata madam Marry. Itu seperti menaikkan kedua alis.

“Madam Marry sebenarnya tidak kemana- mana, nak. Dia hanya ingin hidup tenang di luar sana. Pertengkaran dengan tuan Noris tidak bisa dihentikan sampai putrinya lahir. Kami ikut pergi bersamanya karena tidak ingin melihat hal mengerikan lagi di rumah itu sekaligus membuktikan bahwa kami sangat mencintai madam Marry,” pria itu berkata menjelaskan.

“Oke, aku mengerti. Yang masih membuatku bingung mengapa madam Teena mau memenjarakanmu madam Marry? Kudengar bahwa dia menyebutmu sebagai pembunuh suaminya,”

“Oh, Tuhan,” kata istri si pria itu tiba- tiba. “Nyonya, apa kau akan tetap bersembunyi di sini sementara wanita itu berusaha menyingkirkanmu dari rumahmu sendiri,” katanya melanjutkan.

“Eh, tidak usah berlebihan, Viviana. Aku tahu yang harus kulakukan,” kata madam Marry.

“Yang dikatakannya itu benar, madam. Anda harus segera bertindak agar semua masalahmu selesai,” kata Rian. “Dan aku bisa secepatnya kembali ke Marrow,” lanjut Rian.

“Oh, kau bukan orang sini?” tanya pria itu.

“Bukan. Saya di sini hanya diajak oleh teman, si pemilik rumah ini,” jawab Rian.

“Ehm begitu ya? Kalau begitu sebaiknya kau tidak usah ikuti temanmu karena dia sendiri malah celaka. Kau juga tidak ingin seperti dia, bukan? Hem?” kata madam Marry.

“Maksud anda? Saya benar- benar tidak mengerti, maksud saya memang kalau bisa saya tidak mengalami nasib buruk seperti teman saya itu. Tetapi bagaimnapun dia tetap teman saya dan saya harus membantunya,” kata Rian mulai agak kesal.

Madam Marry dan kedua pembantunya saling berpandangan. Kemudian ia menuangkan air dari dalam botol bir ke gelas- gelas kecil itu. Disodorkannya satu gelas untuk Rian.

“Ayo minum dahulu, nak,” kata madam Marry.

“Eh, tidak tidak, saya tidak suka bir,” kata Rian dengan khawatir.

“He, baik kalau begitu. Ini Leon, untukmu saja,” kata madam Marry yang memberikan segelas minuman kepada pria itu.

Pria bernama Leon menerima gelas itu dengan agak gugup, kemudian ia meminumnya satu tegukan saja. Begitu juga madam Marry. Rian heran dengan apa yang ia lihat barusan.

“Eh, madam, kau bilang tadi bahwa kau bukan seorang peminum. Lalu mengapa kau melakukan itu?” tanya Rian.

Madam Marry, Leon dan Viviana tertawa terbahak- bahak. Mimik wajah Rian memerah karena malu.

“Nak, ini hanya air lemon biasa. Jangan dianggap serius,” kata Leon sambil menuangkan air dari botol bor itu lagi. “Kau mau?…” tanyanya menawarkan minuman itu kepada Rian. Tetapi Rian hanya diam dan menghindari minuman itu. Leon meminumnya lagi.

“Kalau ini bir, aku sudah pusing dan tidak sadar. Oh, tetapi ruangan ini agak sedikit bau ya? Aku mempunyai parfum yang cocok untuk ruangan ini,” kata madam Marry yang mengeluarkan sebotol minyak wangi dari dalam tas nya. csst…csst…cssst… Ia menyemprot- nyemprotkan itu ke segala arah.

“Ahh, lebih baik, bukan?” kata madam Marry.

Namun Rian tidak menikmatinya. Ia pusing setelah menghirup aroma minyak wangi itu. “Oh, aku tidak suka aroma parfum anda, madam, maaf…” kata Rian. brukkk… Badan Rian ambruk di sofa yang ia duduki.

Viviana menghampiri Rian untuk membangunkannya. “Hei, Rian, Rian… Nak?” katanya sambil menggoyang- goyang tubuh Rian.

Kemudian ia melihat madam Marry dan berkata, “Apa ini tidak berbahaya, nyonya?”

“Tentu saja tidak. Dia hanya pingsan untuk sementara waktu. Kita harus pergi sekarang,” kata madam Marry. Ia beranjak dari sofa lalu meninggalkan Rian sendirian di rumah itu. Kedua pembantunya juga ikut pergi.

——————————

Rumah Sakit, 1972

“Frans, maafkan aku. Seharusnya kau tidak menjadi penghuni kamar ini,” kata Teena dengan menangis.

“Tolong, jangan menangis, Teena. Aku sudah baik- baik saja. Lihat, luka- luka ini sudah kering dan pasti hari ini bisa pulang,” kata pak Frans sambil mengusap rambut Teena.

“Siapa yang melakukan ini, Frans? Katakan padaku,” tanya Teena agak mendesak.

“Entahlah, semua terjadi begitu saja. Aku bangun sudah berada di ruangan yang aneh dan mengerikan. Gelap, bau, dan banyak gangguan,” kata pak Frans menjelaskan. “Dan yang paling mengerikan adalah ketika aku didekati oleh hantu seorang wanita di sana, ia menggerayangi tubuhku sambil berkata tolong bawa aku pergi dari sini,” kata pak Frans lagi.

Teena memghentikan tangisnya. Mimik wajahnya menegang, lalu berkata, “Lalu kau membawanya pergi bersamamu?”

“Tidak, Teena. Kau tahu aku paling takut dengan hantu. Jangankan membawanya, melihatnya pun aku tidak sudi. Setelah dia berkata seperti itu, aku langsung tidak ingat apa- apa dan tiba- tiba ada di sini,” kata pak Frans.

Teena diam penuh curiga. Ia kemudian pamit untuk pulang kepada pak Frans. “Oke, aku percaya, Frans. Aku harus pergi sekarang,” kata Teena.

Pak Frans hanya memandanginya saat Teena berjalan meninggalkan ruangan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s