Kedatangan Seseorang

Hal buruk di Berin yang menimpa pak Frans membuat Rian dan Elle ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Elle masih mengingat cincin berlian yang dibawa oleh pak Frans sama persis yang dipakai oleh nyonya Noris alias Teena. Di ruang tunggu, di rumah sakit banyak orang yang membicarakan soal yang dialami oleh pak Frans. Bahkan tiga orang di samping Elle, yang dua wanita duduk di sebelahnya dan yang pria berdiri di samping wanita satunya, sedang mengobrol agak serius. Nada bicara mereka agak keras sehingga Elle bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Seumur- umur aku baru menemui hal mengerikan seperti kemarin di depan kedai NikCola itu. Kelihatannya seperti si ahli hukum yang terkenal itu ya?” kata wanita yang memakai topi, dan duduk di sebelah kiri Elle. “Apa ada kaitannya dengan keluarga baru itu ya?” lanjutnya.

“Kudengar iya. Bukankah kita tahu seperti apa mereka? Hilangnya madam Marry juga pasti gara- gara wanita itu. Namun mereka sangat pandai menyimpan rahasia itu rapat- rapat. Sampai almarhum tuan Noris tidak mengetahui sebabnya,” kata pria yang berdiri itu.

“He, apa kau yakin, tuan? Kalau yang Anda maksud adalah… madam Teena, tetapi dia baik menurutku. Dia tidak ada tanda- tanda yang buruk seperti itu. Kulihat dahulu dia sangat menyayangi anak tirinya, nona Jill itu,” kata wanita satunya yang agak muda.

“Ya, itu menurutmu, nona. Saya lebih lama tinggal di Berin dan rumah saya persis di seberang rumah almarhum tuan Noris. Pastinya saya sudah hafal gerak- gerik mereka,” kata pria itu.

“Oh, Tuhan. Seandainya benar begitu, sangat disayangkan. Lebih lagi madam Marry yang baik itu malah mengalah demi istri baru tuan Noris. Kasian anaknya,” kata wanita bertopi itu.

Elle tidak bisa menahan rasa ingin tahunya sehingga ia bertanya kepada wanita yang lebih muda. “Eh, maaf nyonya, apakah Anda pernah bertemu dengan madam Teena sebelumnya?” tanya Elle.

“Iya, nona Elle, saya agak sering bertemu dengannya akhir- akhir ini. Ya, walaupun sekedar menyapa,” jawab wanita muda itu.

“Oh, iya. Lalu apa anda melihat pak Frans bersamanya waktu itu?” tanya Elle lagi.

“Um, kalau waktu itu saya tidak tahu, nona, tetapi waktu malam hari sekitar pukul 10 saya melihat dia masuk ke rumah madam Teena, sendirian,” jawab wanita muda itu.

“Apa kau yakin, nona?” tanya pria yang berdiri di sampingnya dengan tiba- tiba.

“Kuharap aku tidak yakin, tuan. Waktu itu saya hanya melintasi rumah madam Teena dan kau tahu lampu jalan di kompleks itu sangat tidak terang,” jawab si wanita muda itu.

“Dan kau nona, memangnya ada apa dengan si Frans itu? Sepertinya kau sangat tahu tentangnya?” tanya wanita bertopi itu.

Elle terkejut ketika wanita itu bertanya soal pak Frans kepadanya. Lalu ia menjawab, “Ah kami hanya berteman biasa, nyonya.”

Rian sudah keluar dari kamar pasien, yaitu kamar pak Frans. Ia tidak berkata apa- apa dan langsung mengajak Elle pulang. Elle pamit kepada ketiga orang itu.

Tiba- tiba wanita bertopi itu berkata, “Apa pria itu pacar si nona itu ya?”

“Entahlah, nyonya,” jawab wanita muda itu dengan cueknya.

——————————

Rian mengantar Elle ke rumah kosnya. Madam Maria menuruhnya mampir tetapi ia menolaknya. Rian ingin segera kembali ke rumah pak Frans.

Rupanya mereka tidak tahu kalau sedang dibuntuti oleh seseorang. Orang itu mengintai mereka dari dalam mobilnya. Setelah Rian pamit kepada Elle dan madam Maria, ia langsung menyetir mobilnya ke rumah pak Frans. Sosok yang mengintainya juga mengikutinya ke arah Rian pergi.

Ia berhenti agak jauh dari mobil Rian. Ketika Rian sudah masuk ke rumah, orang itu mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat yang berbunyi Aku sudah di depan rumahnya. Tidak jauh dari rumah pak Darwis, tukang roti keliling di stasiun Morell. Kemudian ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Setelah mengamati rumah pak Frans agak lama, ia memutar balik mobilnya dan pergi.

Rian menutup rapat pintu rumah itu. Ia merasa sangat lelah dan pusing sehingga ingin segera tidur. Kamarnya ada di lantai dua, jadi ia memilih tiduran di sofa. Sebenarnya ia masih memikirkan masalah sahabatnya itu, tetapi ia bingung bagaimana cara membantunya. Ia tiduran menghadap meja dan terkejut karena ada dua botol bir dan dua gelas kecil di depannya.

“Apa- apaan ini?” kata Rian. Ia mendudukkan badannya di sofa itu.

Dari atas ia mendengar langkah kaki yang mantap menyentuh lantai. Rian lebih terkejut lagi ketika melihat siapa yang turun dari tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.

Rupanya ada seorang wanita separuh baya yang sudah lebih dahulu di dalam rumah pak Frans. Dan ia semakin mendekati Rian.

“Anda siapa? Tolong jangan terlalu dekat,” kata Rian dengan gugup.

Wanita itu menjawab, “Jangan takut, nak. Maafkan aku yang sudah memasuki rumahmu tanpa ijin.” Ia lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Rian. Rian panik dan gugup ketika wanita itu mengajaknya bersalaman. “Aku, Meghan. Marry Meghan,” kata wanita itu.

Rian terbelalak karena tidak menyangka akan bertemu orang yang akan diurus pak Frans. “A..aku, Rian,” kata Rian dengan terbata- bata. “Anda yang meletakkan minuman dan gelas ini?” tanya Rian sambil menunjuk benda- benda itu.

“Iya, betul. Sebenarnya aku bukan peminum. Itu untuk suguhan saja,” kata madam Marry.

“Suguhan untuk siapa, madam?” tanya Rian lagi.

“Nanti kau akan tahu sendiri, Rian,” jawab madam Marry.

Rian semakin tidak bisa menahan rasa khawatirnya apalagi sahabatnya sedang sakit dan tidak bersamamya. Ia ingat janjinya akan melindunginya apapun yang terjadi. Benar- benar membuatnya bingung tentang apa yang harus ia lakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s