Kejadian di Berin

“Hai, Jill. Apa kau benar- benar akan pulang hari ini? Bagaimana dengan rencanamu mencari ibu kandungmu?” kata Elle saat berjumpa dengan Jill di stasiun Morell.

Jill menarik napas panjang, lalu berkata, “Iya, Elle. Aku dan suamiku tidak bisa meninggalkan Meza lama- lama di York. Kami harus menjemputnya hari ini dan kembali ke tempat tinggal kami, di apartemen.” Suami Jill sudah selesai mengurusi tiket perjalanan mereka menuju York. Tetapi ia lapar kemudian membeli roti di penjual roti yang mondar- mandir sejak tadi.

“Elle, sebenarnya aku masih ingin di Berin, tetapi nanti setelah urusanku di kantor selesai. Madam Marry memang sangat penting bagiku, bahkan aku masih penasaran mengapa beliau meninggalkanki.” Jill berkata kepada Elle, sahabatnya, sebelum naik kereta.

“Sayang, ayo kita pergi,” kata Finn sambil mengangkat koper yang agak berat.

Elle dan Jill berpelukan sebelum berpisah. Air mata Elle mengalir di pipinya yang merona saat melihat temannya pergi. Dan kereta melaju perlahan menuju York.

Telepon genggam di sakunya berbunyi dan mengagetkannya. Telepon dari Rian. “Halo,” kata Elle menjawab teleponnya.

He, kau sebaiknya kembali ke kedaimu sekarang. Cepat.

“Eh, ap…,” Belum sempat berkata- kata teleponnya buru- buru mati. Elle segera pergi ke kedai NikCola.

Sampai di sana, Elle bingung karena banyak orang yang berkumpul dan seperti melihat sesuatu. Ia mendusel kerumunan orang- orang itu, dan astaga, batinnya. Ia melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa ada orang yang tergeletak di jalan di depan kedainya. Badannya tengkurap, kepalanya terluka seperti habis dipukul, dan matanya terpejam. Elle tidak berani mendekatinya namun ia penasaran. Dari belakang Rian menarik tangan Elle untuk keluar dari kerumunan orang itu.

“Eh, Rian, apa- apaan kau ini!” kata Elle dengan kesal karena tangannya ditarik agak keras.

“Dengar, kau ingin tahu dia siapa, bukan?” kata Rian.

“Iya, siapa orang itu, Rian? Jangan tambah membuatku penasaran,”

“Itu, Frans,” kata Rian yang masih memegang erat tangan Elle.

“Apa?!” kata Elle terkejut mendengar jawaban Rian. Ia ingin melihatnya lagi lebih dekat tetapi Rian memegangnya dengan kuat.

“He, Elle, tidak usah ke sana, kumohon,”

“Mengapa? Bukannya dia juga temanmu, rekanmu, sahabatmu?” kata Elle heran.

“Iya, tetapi kalau kau sampai memegang tubuhnya, atau kita, nanti bisa dipenjara. Kita tidak tahu dia masih hidup atau sudah tidak bernyawa. Jadi, tolong tenanglah sampai ada ambulans dan polisi yang datang. Aku juga ingin tahu sepertimu,” Rian berkata panjang lebar untuk membuat Elle tenang. Ia melepaskan tangannya.

“Oke, aku mengerti,” kata Elle sambil menyedekapkan kedu tangannya.

Suara mobil ambulans terdengar dan dua mobil polisi menyusul. Para petugas ambulans mengangkat badan pak Frans dengan hati- hati. Polisi yang satu membubarkan orang- orang, dan yang lainnya menyelidiki bekas yang ditinggalkan dari tubuh pak Frans di tanah. Ada darah dan benda kecil yang berkilauan seperti cincin berlian.

Rian dan Elle masih melihatnya dari kejauhan. Setelah kerumunan orang bubar, mereka lalu mendekati tempat kejadian itu. Tetapi tidak langsung dekat- dekat. Terutama Elle yang sudah ingin tahu sejak tadi, ia melihat apa yang diperiksa pak polisi itu.

“Rian, kemarilah,” kata Elle memanggil Rian untuk melihatnya lebih dekat.

“Kau lihat cincin berlian itu?” Elle bertanya. Rian hanya menganggukkan kepalanya. “Aku ingat saat pak Frans sedang berbincang dengan nyonya Noris, cincin itu dipakai oleh nyonya Noris. Tetapi mengapa sekarang ada di sini dan bersama pak Frans?” katanya melanjutkan.

“Eh, Elle, sebenarnya aku sudah mencurigai nyonya Noris sejak lama. Bahkan sejak Frans menghilang beberapa hari yang lalu. Aku merasa kalau wanita itu terlibat dalam masalah ini. Tetapi aku juga belum tahu pasti,” kata Rian.

“Baiklah, sebaiknya kita pergi saja. Kita bisa membicarakannya nanti di rumah kosku, hem?”

“Ide yang bagus, ayo,”

Rian dan Elle pergi ke rumah kos madam Maria. Mereka naik mobil taksi menuju ke sana. Sementara para polisi masih menyelidiki perkara ini. Beruntung kedai NikCola sedang tutup, jadi tidak menambah keresahan pelanggannya.

——————————

Jill dan suaminya sudah sampai di stasiun York. Ibu mertua dan anaknya sudah menjemput mereka di sana.

“Mama,” kata Meza kepada Jill. Ia memeluk ibunya dan bergantian memeluk ayahnya.

Kemudian mereka berjalan menuju ke ruang tunggu di depan stasiun itu. Madam Nirin bertanya kepada Jill, “Sudah selesaikah semuanya, nak?”

“Oh, belum Ma. Kemarin kami sudah meminta bantuan polisi untuk mencari madam Marry. Masih dalam proses pencarian dan kuharap aku bisa bertemu dengannya,” kata Jill kepada ibu mertuanya.

“Kau yang sabar ya, nak. Semua pasti baik- baik saja. Aku yakin itu,” madam Nirin berkata sambil memeluk Jill dengan penuh kasih sayang.

Mobil jemputan untuk Jill dan keluarga kecilnya sudah datang. Di stasiun York mereka berpamitan kepada madam Nirin. Meza melambaikan tangannya kepada neneknya itu sambil berkata, “bye bye, nenek, bye bye…,”

Setelah itu madam Nirin juga meninggalkan stasiun dan pulang ke rumahnya.

——————————

Di rumah kos, Rian dan Elle membicarakan masalah yang terjadi pada pak Frans. Rian benar- benar tidak menyangka jika pertemuannya dengan pak Frans adalah hal yang buruk sekaligus menegangkan. Sementara Elle memikirkan dua hal yang berbeda sekaligus, yaitu tentang madam Marry dan pak Frans.

“Mengapa harus terjadi lagi hal mengerikan itu?” kata Elle yang bertanya kepada dirinya sendiri.

“Hem, apa mksudmu?” tanya Rian.

“Peristiwa yang dialami oleh pak Frans itu juga dialami oleh orang yang bermasalah dengan keluargaku dahulu. Namun lebih tragis dan mengerikan,” kata Elle menjawab pertanyaan Rian.

“Sebenarnya siapa orang yang kau maksud itu, Elle?” tanya Rian lagi.

“Dia adalah orang suruhan anak laki- laki nyonya Noris,” jawab Elle.

“Jadi wanita itu mempunyai anak yang lain selain Jill? Lalu apa hubungannya dengan kejadian yang menimpa pak Frans?” tanya Rian.

“Oh, aku juga tidak mengerti, Rian. Kepalaku pusing sekarang. Yang jelas aku melihat ada yang aneh dengan kejadian ini, yang baru saja terjadi,” kata Elle.

“Apa karena nyonya Noris? Pasti dia yang melakukannya,” kata Rian mulai marah.

“He, kau jangan sembarangan menuduh orang dahulu. Kau juga tidak tahu ke mana selama ini pak Frans pergi,  bukan? Dan tahu- tahu tubuhnya tergeletak di depan tempat kerjaku,” kata Elle.

Rian mencoba menenangkan dirinya agar suaranya tidak keras dan terdengar oleh penghuni rumah kos yang lain. Ia menyeruput minumannya, teh lemon dan kemudian memakan satu keping biskuit gandum cokelat.

Awan hitam di langit mulai berkumpul lagi untuk menurunkan hujan. Cuaca yang tadinya panas tiba- tiba menjadi dingin karena akan turun hujan. Rian masih betah berada di ruang tamu di rumah kos Elle, sambil menghangatkan tubuhnya di dekat perapian. Sementara Elle, ia mengirimkan pesan singkat kepada Jill.

Hai, kawan, semoga kau segera ke Berin lagi. Kami akan membantumu.

Pesan singkat dari Elle sudah dibaca oleh Jill yang sudah berada di apartemen, di York. Jill diam dengan pandangan yang kosong ke depan. Finn melihatnya dengan heran, lalu bertanya, “Kenapa sayang?”

Jill terkejut dan tersadar dari lamunannya. “Oh ini, Elle mengirimkan pesan singkat kepadaku. Dia ingin aku kembali lagi ke Berin,” jawab Jill.

“Iya, pasti kita ke sana lagi,” kata Finn sambil membelai rambut Jill. Jill pun tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s