Rencana Teena

Tepat pukul 10 malam pak Frans sampai di rumah nyonya Noris alias Teena. Ia dipersilakan masuk oleh asisten rumah tangganya dengan terpaksa. Bibi adalah orang yang satu- satunya masih bertahan menjadi pembantu di rumah itu sejak pak Noris meninggal.

“He, Tuan mengapa datang kemari malam- malam begini? Anda tidak pernah tidur malam ya?” katanya sambil menguap.

“Maaf saya sudah mengganggumu, Bi. Saya juga tidak tahu mengapa disuruh ke sini malam- malam oleh nyonya Noris,”

“Oh, baiklah, baiklah. Akan kupanggil…,”

“Eehm,” Tiba- tiba saja Teena sudah di ruang tamu. Ia mengangkat alisnya sebelah, memberi kode kepada Bibi untuk pergi. Dan Bibi pun mengerti.

“Oya, tolong buatkan dua cangkir kopi moka ya, Bi,”

“Eh, iya Nyonya,” kata Bibi segera pergi ke dapur.

Teena memandangi pak Frans dari atas ke bawah. Ia heran dengan penampilannya yang selalu sama walaupun malam sudah larut. Pak Frans hanya melihat- lihat dekorasi langit- langit rumah yang dari tadi menarik penglihatannya. Rumah yang mewah, bergaya ke Eropa nan. Teena lalu menggeser tempat duduknya ke samping pak Frans. Tanpa ragu ia memegang tangannya yang agak gemetaran.

“Ehm, apa Anda kedinginan, pak Frans?” 

Pak Frans terkejut dengan perilaku Teena yang tiba- tiba mendekatinya.

“Tidak, hanya sedikit dingin karena terlalu lama berada di luar tadi,” katanya sambil melepaskan tangan Teena.

Teena tersenyum, lalu tertawa karena mendengar perkataan pak Frans. “Kau memang tidak bisa berbohong, Frans. Hem?”

“Apa maksud, Nyonya?” tanya pak Frans dengan heran.

“Coba lihat ini, pegangalah,” Teena menunjuk lengan baju pak Frans yang basah karena habis kehujanan. “Paling tidak kau mau mengganti pakaianmu dahulu agar tidak gemetaran,”

“Oh, iya. Tetapi saya tidak akan lama di sini kan, Nyonya?”

“Panggil saja Teena,”

“Iya, Teena,” kata pak Frans agak malu- malu.

Bibi yang sedari tadi belum muncul dipanggil Teena untuk ke ruang tamu.

“Bibi…, cepat kemarilah,”

“Baik, Nyonya,”

Dengan langkah agak dipercepat ia membawa nampan dengan dua cangkir moka panas di atasnya menuju ruang tamu. Cahaya di ruang tamu remang- remang sehingga membuat Bibi agak mengeriyip untuk memperjelas pandangannya.

“Ini kopinya, silakan diminum, Tuan,” kata Bibi sambil menyuguhkan kopi untuk pak Frans. “Dan ini untuk, Nyonya,” katanya lagi bergantian menyuguhkan kopi untuk Teena.

“Oya, nyonya ada perlu apa memanggil saya?”

“Tolong kau antarkan tuan Frans untuk berganti pakaian. Sudah kusiapkan di kamar,”

“Eh, nyonya, eh maksudku Teena jangan seperti itu. Saya masih ada janji dengan seseorang malam ini untuk sebuah urusan, jadi saya harus pamit,” kata pak Frans yang terburu- buru akan keluar dari rumah Teena.

Teena segera menarik lengan pak Frans dengan agak keras.

“Kau tidak akan pergi begitu saja, tuan Frans. Sekarang juga, ganti pakaianmu di kamar yang telah kusediakan khusus utuk tamu istimewaku ini,”

Teena menggandeng tangan pak Frans lalu mengantarkannya ke sebuah ruangan yang dahulu ditempati oleh madam Marry Meghan, yaitu ibu kandung Jill.

Ruangan yang sudah ditata begitu rapi dan beraroma bunga lavender itu sekarang dipergunakan sebagai kamar tamu. Bibi sebenarnya keberatan dengan ide Teena itu, sebab ia tahu bahwa madam Marry adalah orang yang sangat baik. Tidak seperti yang selama ini diceritakan oleh Teena kepada orang- orang, termasuk pak Frans. Namun sayang, kepergiannya yang entah ke mana membuat pak Noris terserang penyakit jantung hingga meninggal. Masih belum bisa dimengerti mengapa madam Marry sampai pergi meninggalkan pak Noris setelah melahirkan putri kecil semata wayangnya.

“Di sini, kemarilah, Frans,” Teena meminta pak Frans duduk dengannya di sebuah tempat tidur bersprei halus dan wangi.

“Eh, di mana pakaian gantinya, Teena?” kata pak Frans memgalihkan pandangannya dari Teena. Ia berusaha tidak berdekatan dengannya.

“Nanti saja…,”

Bibi sudah mengetahui niat Teena yang agak tidak masuk akal. Tetapi ia lebih memilih untuk diam daripada diusir dari rumah itu…

——————————

Kedai NikCola, 1972

Pukul 7 pagi, Elle sudah di dalam kedai NikCola bersama salah satu rekan kerjanya yang bernama Aries. Ia dan Aries selalu tepat waktu datang ke tempat kerja mereka. Bahkan, Elle bisa lebih awal berada di kedai itu untuk memastikan barang- barang di dalamnya tidak berantakan karena diobrak- abrik oleh musang peliharaan Niko.

“Selamat pagi,” kata Aries menyapa seorang gadis yang baru masuk. Gadis itu tersenyum pada Aries dan tersipu.

Elle yang melihat tingkah gadis itu langsung menyuruhnya segera duduk, “ayo silakan duduk, nona,”

Elle mengeplak lengan Aries agak keras dan mengejeknya. “Kau ini. Yang gadis saja kau mau maju dan menyambutnya. Lihat itu ada pacarnya, he…,”

Ternyata gadis yang disapa oleh Aries suda memiliki pacar. Elle menertawai raut muka Aries yang kecewa.

Kemudian Rian masuk dan lansung menemui Elle yang sedang bekerja. Elle bingung karena tiba- tiba ada Rian di depannya.

“Rian, kapan kau datang?”

“Baru saja. Ehm Elle, apa Frans di rumah kosmu?”

Pertanyaan Rian menghentikan Elle saat sedang mengelap gelas- gelas kecil untuk minuman kopi. Ia meletakkan gelasnya dengan pelan dan menatap Rian dengan tajam.

“Ti…dak,” jawab Elle dengan singkat. Lalu ia meneruskan pekerjaannya.

Rian masih belum percaya dengan jawaban Elle yang begitu singkat. Ia merasa Elle sangan menyukai Frans jadi ia curiga jika Frans menemuinya tadi malam. Dan sampai saat ini Frans belum pulang ke rumah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s