Hilangnya sang Pengacara

Rian tidak mengira temannya itu menghilang. Tadi malam ia hanya pamit mau keluar menemui seseorang tetapi tidak menyebutkan nama orang itu. Pikiran Rian hanya kepada Elle sebab ia tahu pak Frans menyukainya. Siapa lagi?

Elle melihat Rian gelisah dan melamun di tempat duduknya. Ia membuatkan teh hitam manis dan biskuit cokelat untuk Rian.

“Kau kenapa, he?” tanya Elle menghampiri tempat duduk Rian.

Rian diam sejenak lalu menjawab, “Aku hanya bingung soal Frans. Dia pergi tadi malam tetapi sampai pagi belum pulang. Bahkan saat ini dia tidak mengabariku ada di mana dia sekarang,”

Elle mengernyitkan dahi, lalu berkata, “Apa dia tidak bilang kalau…mau menemuiku?”

“Tidak, Elle. Dia tidak bilang mau bertemu dengan siapa. Hanya berkata mau bertemu dengan seseorang,” kata Rian. Ia mengambil biskuit cokelat yang sudah disuguhkan untuknya. “Dan katanya sangat penting,” tambahnya.

“Ehm, sebenarnya pak Frans sudah berjanji akan mengajakku makan malam, tetapi dia tidak datang,”

“Oya? Lalu, apa dia memberi kabar atau alasan apa sebab tidak datang?”

“Tidak juga. Aku ingin marah padanya kalau bertemu dengannya. Kupikir kau datang bersamanya,”

Elle mengambil biskuit cokelat lalu memakannya dengan agak gemas. Ia kecewa karena tidak jadi berkencan dengan pak Frans tadi malam. Ia menyesal sudah membatalkan acaranya dengan teman- temannya. Ada Jill juga yang tinggal sehari lagi di Berin.

Kedua orang itu saling diam dan makan biskuit cokelat yang lezat menu camilan andalan kedai NikCola. Tiba- tiba bunyi ponsel Elle berbunyi.

“Halo,”

Elle, benar ini kau?

“Iya. Siapa ini?”

Aku Frans

Elle terkejut dan membisikkan, “Frans?” Rian menghentikan makannya dan dengan cepat ia mengambil ponsel Elle.

“He, bedebah, di mana saja kau? Kau pikir bisa seenaknya pergi begitu lama, he? …”

Elle merebut kembali ponselnya dari tangan Rian. Lalu berkata pada pak Frans, “Ehm, pak Frans ada di mana sekarang? Saya sangat khawatir dengan anda,”

Aku ada di rumah, di ru…, Tut. Telepon terputus.

“Halo, pak. Pak Frans?”

Elle merasa gelisah setelah telepon terputus. Rian masih marah dengan pak Frans karena pertanyaannya belum sempat dijawab.

“Apa maksudnya ini?” kata Rian dengan kesal.

“Sstt, pelankan suaramu, Rian. Sudah banyak orang di sini. Lihat, mereka melihat ke arah kita. Jangan sampai mereka tahu,”

“Oh, iya, maafkan aku. Paling tidak Frans mengirim pesan kepadaku. Ponselku pun masih menyala sampai saat ini dan belum juga dia menghubungiku,”

“Eh, sabar, Rian. Kita pasti segera menemukan pak Frans. Tenang,”

Elle mengelus tangan Rian agar ia tenang. Rian tidak habis pikir bahwa temannya pergi dengan tujuan yang tidak jelas. Dan belum lagi permasalahan mengenai nyonya Noris yang belum bisa dimengerti olehnya. Elle juga berpikir keras tentang di mana ia bisa mengetahui keberadaan pak Frans yang sebenarnya.

——————————

Di ruang yang sangat gelap, pak Frans bangun dengan terkejut. Ia tidak bisa melihat dengan jelas isi ruangan itu. Namun ia mendengar suara tangisan seorang wanita di ruangan itu. Pak Frans merinding dan berusaha untuk tenang.

“Sial. Oh, tidak, jangan mendekatiku, please…please…,” bisik pak Frans. Ia menutup telinganya dengan tangannya. Ia juga memejamkan matanya rapat- rapat. Mulutnya berkomat- kamit membaca doa. Tetapi suara itu malah semakin mendekat diiringi suara benda yang diseret ke lantai…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s