Kehangatan Rumah Kos

Rian tidak menyangka akan dilibatkan dalam kasus pembunuhan. “Oh, jadi kau dan nyonya Noris melibatkanku dalam masalah kriminal? Oke, sebaiknya aku tidak ikut, kawan. Maaf,” kata Rian lalu buru- buru akan keluar rumah.

“Hei, Rian, Rian! Mau ke mana kau?” kata pak Frans menghentikan langkah Rian.

“Kau gila Frans. Kita sudah berteman sangat lama tetapi kau tidak mengerti juga. Aku paling tidak senang dengan acara kriminal, terutama pembunuhan. Paham!”

“Lalu apa kau akan kembali ke Marrow begitu saja sendirian? Siapa yang bertanggung jawab jika kau kenapa- kenapa?”

Rian seketika diam dan masih menatap pak Frans dengan tajam. Perlahan- lahan Rian berjalan menuju ke tempat duduk, di mana Teena juga berada. Pak Frans mengambil napas dalam- dalam dan kemudian menyusul Rian ke ruang perapian.

“Maafkan saya sebelumnya, pak Frans. Mengapa anda tidak membiarkan dia pergi saja?, maksudku jangan jangan melibatkannya,” kata Teena memecah keheningan antara Rian dan pak Frans.

“Saya mengajak Rian bukan tanpa alasan, Nyonya Noris. Tetapi saya juga tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada rekan saya ini,” kata pak Frans sambil melihat Rian yang masih belum tenang.

“Apa maksud Anda terjadi sesuatu padanya, pak Frans?” kata Teena sambil berdiri. Pak Frans tidak menjawab pertanyaannya. Ia malah melihat keluar jendela.

“Rian adalah urusan saya, Nyonya Noris. Bahkan Rian juga belum tahu apa yang akan dia lakukan nanti. Jadi, Anda tidak perlu risau tentangnya,” kata pak Frans sambil menyulut cerutunya. “Dia akan baik- baik saja jika terus bersama saya,” tambahnya.

Rian masih diam saja mendengar ucapan rekannya itu. Entah masih kesal atau penasaran dengan alasan apa ia berada di sini, di kota ini. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan mengingat pertemuannya dengan Elle. 

Ah, mengapa aku sampai lupa tidak menanyakan jam berapa dia pulang kerja? kata Rian dalam hati. Tangannya menggaruk- garuk kursi sofa. Teena mengamati gerak- gerik Rian dan merasa aneh dengan perilakunya.

——————————

Orca, 1972

Tok tok tok…

“Kau yakin temanmu masih di sini?”

“Aku yakin sekali, Finn,”

Tok tok tok…, “Permisi…”

Nyonya Maria, wanita pemilik kos yang ditempati oleh Elle membuka pintu, “Iya, kalian mencari siapa?” tanyanya ramah.

“Oh, maaf mengganggumu, nyonya. Apa Elleanor masih tinggal di sini?”

“Maksud anda Elle? Iya, dia masih di sini tetapi saat ini belum pulang, nona. Um, maaf nona siapa?”

“Perkenalkan, saya Jill dan ini suami saya, Finn,” kata Jill lalu menyalami nyonya Maria. Tetapi nyonya Maria masih diam berdiri di depan pintu memandangi kedua orang itu. Ia merasa tidak asing dengan wajah perempuan muda itu.  “Boleh kami masuk, nyonya?” kata Jill membuyarkan lamunannya.

“Oh, iya silakan masuk. Maafkan saya terlalu lama membiarkan kalian di luar. Mari duduk,”

Jill dan suaminya duduk bersebelahan di kursi sofa di ruang tamu rumah kos itu. Begitu juga nyonya Maria.

“Eh, kalian mau minum apa? Biar saya buatkan,”

“Nanti saja, nyonya. Kami baru saja makan siang di restoran dan masih kenyang, he,” kata Jill lalu tersenyum kecil.

“Baik kalau begitu. Nona Jill, apa anda putri madam Marry Meghan?” 

“Sebenarnya iya, tetapi saya sudah lama tidak bertemu dengan beliau. Dan saya juga masih mencari ibu kandung saya itu, maka dari itu kami kembali ke Berin,”

“Lalu apa anda sudah tahu kabar tentang pak Noris? Beliau sudah meninggal beberapa hari yang lalu, nona,”

“Iya, saya sudah mengetahuinya. Saya sangat sedih karena ibu Teena tidak mengabari saya. Elle lah yang sudah mengirimkan pesan tentang kepergian beliau kepada saya,”

“Oh, saya ikut berduka, nona dan ikut prihatin. Elle memang anak yang baik. Dia juga sangat peduli dengan anda,”

“Betul, nyonya. Eh, masih lamakah Elle bekerja? Dia bekerja di mana?”

“Tidak, sebentar lagi sampai rumah. Dia bekerja di kedai minuman milik pak Nicki, yang sekarang dikelola oleh putranya. Namanya Nikola. Dan kedainya juga dinamai persis nama putranya itu,”

“Oh, seperti ini tulisannya?” kata Jill sambil menulis NikCola di kertas sobekan dari buku hariannya.

Nyonya Maria mengangguk mengiyakan. Selang berapa menit Elle datang. Ia terkejut melihat ada Jill di ruang tamu persis di depan kamarnya.

“Astaga! Jill?!” kata Elle lalu berjalan ke arah Jill dan merangkul sahabatnya itu. Elle terharu dan menangis setelah itu.

“Hei, mengapa kau menangis? Aku baik- baik saja, tenanglah,” kata Jill lalu merangkul Elle lagi.

Nyonya Maria ikut terharu melihat kedua sahabat itu bertemu. Ia tidak ingin mengganggu mereka lalu pergi ke dapur untuk membuatkan suguhan yang istimewa untuk tamunya.

“Oya, Elle, ini suamiku, Finn,”

Elle menyapa Finn dan sebaliknya. Jill dan Elle duduk bersama. Finn yang juga tidak ingin mengganggu mereka kemudian pindah tempat duduk berseberangan dengan Jill. 

“Kau tidak mengabariku sebelumnya kalau mau datang ke sini, mengapa?”

“Aku hanya tidak ingin mengganggu jadwal kerjamu, Elle. Dan biar kau terkejut, hm,”

“Ah, dasar kau. Eh, mana anak kalian? Sudah nambah lagi belum?”

“Belum, he. Meza kutinggal di rumah neneknya di York. Sengaja, biar tidak rewel,” kata Jill sambil melirik suaminya yang sudah mulai mengantuk.

“Ya ampun, tega sekali kau. Tetapi juga lebih aman di sana dan agar kau bisa fokus mencari ibumu, ya kan?”

“Iya. Semoga segera aku bertemu dengannya dan selesai. Aku tidak ingin berlarut dalam masalah keluarga ini, dengan ibu tiri itu,”

Nyonya Maria datang membawa suguhan yang enak, yaitu teh lemon hangat dan biskuit gandum. Aroma lezatnya menggugah Finn, yang dari tadi menguap karena mengantuk.

“Ayo disantap dahulu, anak- anak,” kata nyonya Maria dengan senang. Ia lalu menambahkan kayu untuk makanan api di perapian ruang tamu. Dan ketiga anak muda itu segera mengambil minuman dan makanan yang sudah disuguhkan di meja. Cuaca di Berin masih dingin walaupun tidak hujan. Di York juga sedang musim dingin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s