Chuskit Pergi Sekolah

Chuskit bangun pagi lebih awal. Ini adalah hari yang sangat istimewa dan ia begitu semangat setelah bangun tidur. Ia dengan semangat melihat luar dari jendela kamarnya di samping tempat tidurnya. Di Ladakh sedang musim semi dan bunga- bunga pohon aprikot bermekaran. Dua ekor burung magpie telah memulai harinya dengan sibuk mencari serangga untuk dimakan. Ama- ley juga sudah bangun. Ia bisa mendengar suaranya di dapur, sedang membuat teh gur- gur.

Chuskit sudah bangun satu jam yang lalu. Ini adalah hari yang akan selalu ia ingat. Kau bisa menebaknya mengapa?

Tidak, bukan soal Losar, festival Tahun Baru. Masih ada banyak bulan lagi. Bukan juga soal hari istimewa di desanya, seperti festival gonpa, atau hari pernikahan.

Hari ini merupakan hari pertama Chuskit ke sekolah. Selama sembilan tahun, ia telah menunggunya dengan sangat dan sangat lama.

Sekolahnya berada tidak jauh dari rumahnya. Untuk pergi ke sana, kau harus berjalan di jalan utama.

Sebelum kuil sembahyang, kau ambil jalan sebelah kiri yang membentang di sepanjang sungai kecil.

Di dekat pohon poplar kau harus menyeberangi sungai kecil itu dengan melompat ke atas batu- batu besar. Setelah sampai ke seberang, kau berjalan di jalan pendek yang landai sampai ke sekolah. Semua anak dari Skitpo Yul, desa tempat tinggal Chuskit, berjalan kaki ke sekolah dengan leluasa setiap hari. Tetapi tidak bagi Chuskit kecil. Ia seorang penyandang disable dan tidak bisa berjalan.

Chuskit lahir dengan kedua kaki yang tidak bisa berfungsi normal seperti kaki- kaki orang pada umumnya. Ayahnya membawanya ke desa amchi dan kemudian ke para dokter di Leh. Akan tetapi tidak ada obat yang membantunya bisa berjalan. Pada awalnya, Chuskit tidak menyangka akan menjadi berbeda dengan Stobdan, adiknya, atau sepupunya. Namun nanti ada banyak hal yang tidak bisa ia lakukan semudah mereka melakukannya. “Tidak apa- apa,” hibur Aba- ley sewaktu- waktu jika ia sedih.

“Kau bisa menjahit lebih baik dari  mereka. Dan kau bisa menggambar dengan sangat bagus.”Aba- ley sering membawakan pensil warnanya dari Leh.

Chuskit duduk di jendela dapur setiap hari dan menggambar apa pun yang ia lihat sementara Ama- ley memasak. Ia melihat hewan- hewan ternak milik keluarganya makan rumput setiap pagi. Ia melihat birunya air sungai yang mengalir mendekat. Dan ia menjadi orang pertama yang memberi kabar kedatangan tamu ke rumahnya!

Chuskit menggunakan kursi yang dilengkapi roda untuk berjalan. Orang tua menyebutnya ‘kursi roda’. Kau bisa bergerak ke segala arah- maju, ke kiri, ke kanan, dan bahkan mundur- dengan menggerakkan rodanya menggunakan kedua tanganmu. Kau hanya perlu kekuatan lengan untuk mendorong berat badanmu dan kursinya.

Ketika Aba- ley membawakan kursi roda pertama kali ke rumah, setiap orang yang merupakan keluarganya sangat senang.

“Sekarang aku tidak perlu menggendong Chuskit kemana pun, aku bisa mendorongnya,” kata Ama- ley, yang mengeluarkan air mata bahagia di matanya.

“Dan aku bisa pergi kemana pun yang kumau!” sorak Chuskit dengan gembira.

“Apa aku boleh memakai kursi rodamu sekali saja? Kumohon,” rengek Stobdan. Ia juga ingin berkeliling menggunakan kursi roda. Kelihatannya menyenangkan.

Billa, si kucing hitam besar, melompat ke kursi roda dan membentangkan badannya di kursi. “Ya, ini jauh lebih nyaman daripada karung kain yang kutiduri,” katanya dengan mendengkur.

Pelan- pelan, Chuskit belajar menggunakan kursi rodanya. Ia meminta ibunya untuk mendudukkannya ke kursi roda di luar rumah setiap sore. Dari sini ia bisa melihat anak- anak pulang sekolah, mengobrol dan tertawa riang bersama.

Sementara itu, bus sore telah kembali dari Leh, membawa pulang orang- orang dari bekerja dan tempat berdagang. Begitu indahnya dunia jika dilihat dari sini daripada dari jendela dapur!

Suatu sore ketika Chuskit sedang duduk di luar rumah bersama kakeknya, seorang anak muda mendekatinya. Ia membawa sepucuk surat lalu ia serahkan kepada kakeknya. “Julley! Sopir bus itu memintaku memberikan ini kepadamu,” katanya.

“Namaku Abdul,” ia berkata pada Chuskit. “Aku belajar di kelas 6 di Sekolah Pemerintah. Aku penasaran mengapa kau tidak hadir ke sekolah,”

Julley, Abdul,” kata Chuskit. “Aku tidak pernah ke sekolah. Jalan menuju sekolah tidak rata dan penuh kerikil dan kursi rodaku akan tergelincir. Di samping itu, aku tidak bisa menyeberangi sungai kecil di depan sekolah. Sangat susah bagi orang tuaku untuk menggendongku ke sekolah dan pulang setiap hari.”

“Tetapi maukah kau pergi ke sekolah?” tanya Abdul.

“Tentu saja!” jawab Chuskit. “Aku mendengarkan celotehan adikku tentang semua yang dia lakukan di sekolah. Aku ingin belajar seperti semua orang sepertimu, punya banyak teman, bermain, memakai seragam, dan mengikuti ujian. Kadang- kadang adikku mengajariku bernyanyi yang sudah ia pelajari di sekolah, dan aku menyukainya. Kau mungkin tidak percaya, tetapi terkadang aku memimpikan memakai tas sekolah, membawa bekal makan siang…”

“Cukup! Cukup!” sela kakeknya. “Berhenti bermimpi, Chuskit. Kau tahu kau tidak bisa pergi ke sekolah. Kakek sudah mengatakan itu berkali- kali. Belajarlah apapun yang kau bisa di rumah.”

“Meme- ley, kumohon,” kata Chuskit pelan menyanggah sambil menangis ketika kakeknya meninggalkannya dengan marah. “Meme- ley tidak mengerti perasanku,” kata Chuskit.

“Aku ingat saat adikku menceritakan tentang mejanya dengan bangga, juga saat dia belajar membaca! Orang tua ku sangat senang sebab mereka tidak pernah ke sekolah. Aku juga ingin belajar membaca dan berhitung. Kau mengerti?”

“Iya,” kata Abdul. “Chuskit, sampai jumpa lagi. Aku harus pergi sekarang. Ibuku sudah menungguku. Julley!

Di hari selanjutnya, Abdul menghadap di ruang kepala sekolah setelah pertemuan. “Julley, Azhang- ley!” katanya. “Saya ingin berbicara dengan Anda tentang seorang gadis dari desa kita yang tidak bisa pergi ke sekolah. Namanya Chuskit. Dia adalah kakak Stobdan.”

“Oh iya,” jawab kepala sekolah. “Aku tahu dia. Dia seorang penyandang disable, bukan?”

“Iya, Azhang- ley. Dia menggunakan kursi roda untuk berjalan tetapi tidak bisa ke sekolah, sebab jalan dari rumahnya sangat jelek dan tidak rata. Saya berharap kalau kita bisa melakukan apapun untuk membantunya, Azhang- ley. Kita bisa melakukannya bersama- sama dan meratakan jalan dan juga membangun jembatan kecil untuk menyeberangi sungai.”

“Kau sangat bijaksana, Abdul,” kata kepala sekolah sambil menepuk punggungnya. “Apa yang membuatmu peduli kepada Chuskit dan masalahnya?”

“Azhang- ley, minggu lalu kita mempelajari tentang hak asasi manusia di kelas kewarganegaraan kita. Semua anak berhak mengenyam pendidikan. Itu termasuk Chuskit juga, bukan?”

“Ya, kau benar, Abdul. Biarkan aku membicarakan ini dengan guru- guru lainnya dahulu,” jawab kepala sekolah.

Di hari selanjutnya kepala sekolah memanggil semua guru untuk rapat. Beliau menceritakan saran Abdul kepada mereka dan meminta para guru untuk menanggapinya.

“Tidak mungkin!” kata salah satu dari mereka. “Bagaimana mungkin kita memiliki murid yang disable di sekolah kita? Bagaimana dia akan menulis, bermain dan pergi ke toilet seperti yang dilakukan oleh anak- anak lainnya?”

“Itu yang harus kita kerjakan sebenarnya,” kata kepala sekolah. “Saya dengar di desa Mentok Yul, komite pendidikan desa telah membantu pembangunan toilet khusus untuk salah satu anak- anak penyandang disable mereka. Kita bisa menanyakannya apa yang sudah mereka kerjakan. Tetapi pertama- tama kita ijinkan Chuskit ke sekolah dahulu. Setelah itu kita pikirkan cara membantunya melakukan hal- hal di sekolah.”

Dua minggu kemudian ada keramaian di Sekolah Pemerintah. Semua anak berkumpul di taman bermain.

Mereka datang ke sekolah tanpa membawa tas sekolah mereka: akan tidak ada kelas hari ini!

Para guru membagi muridnya ke dalam kelompok. Satu kelompok bekerja di depan rumah Chuskit, dan lainnya di jalan sepanjang sungai. Kelompok tiga bersama beberapa murid yang lebih tua bekerja keras membantu beberapa gurunya yang membangun jembatan kayu yang kokoh menyeberangi sungai.

Anak- anak tertawa dan bernyanyi saat mereka memindahkan batu batu kecil dan besar, meratakan jalan, dan menggotong papan ke sungai.

Kepala sekolah menemui satu kelompok ke kelompok lainnya, memastikan jika semua berjalan sesuai rencana.

Orang tua Chuskit menyuguhkan teh panas dan kue- kue kepada setiap orang. Kakek Chuskit duduk di bawah pohon willow di dekat sungai melihat kesibukan anak- anak sekolah. “Aku tidak pernah menyangka akan mengalami hari seperti ini!” ia berbicara kepada dirinya sendiri sambil menyeka air mata yang mengalir jatuh ke pipinya.

Di saat terakhir hari ini semua sangat lelah tetapi sekumpulan anak- anak itu gembira ketika kembali ke rumah masing- masing. Jalan dari rumah Chuskit menuju sekolah sudah jadi sekarang!

Chuskit akan pergi ke sekolah untuk pertama kali dalam hidupnya. Dan itulah mengapa ia sangat bersemangat!

***

(adapted from Chuskit goes to School)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s