Pertemuan ke- 3

Kriing… Kriing… Kriing…

Kriing… Kriing, “Halo,” jawab Elle.

“Halo…,” katanya lagi. Elle menutup teleponnya lalu kembali ke dapur meneruskan membuat minuman.

Kriing… Kriing… Kriing, “Hai, ini siapa?” kata Elle dengan nada tinggi.

Um, halo benar ini nona Elle? Saya Rian, teman pak Frans

“Oh, iya betul ini saya. Ada perlu apa pak Rian?”

Bisa kita bertemu sekarang, nona Elle? Ada hal penting yang mau saya bicarakan

“Baik, kebetulan saya bekerja siang nanti. Kita bertemu di mana, pak?”

Sebaiknya di tempat anda saja, nona. Lebih aman

“Oke kalau begitu. Saya persilakan anda datang ke sini,”

Oke, sampai nanti

“Sampai nanti,” Pluk. Elle menutup teleponnya dan kemudian membersihkan ruang tamu. Di luar sedang gerimis, cuaca dingin, Elle membuatkan minuman hangat untuk Rian sekaligus untuk dirinya.

Teet… Teet… Teet…

“El… Ada yang ingin bertemu denganmu,” kata ibu kos yang memanggil Elle.

“Iya, tunggu sebentar,” kata Elle sambil berjalan menuju ke ruang tamu. Ia tidak menutup pintu kamar agar hawa sejuk masuk ke kamarnya. Kamarnya dekat dengan ruang tamu.

Rian melihatnya memakai baju tertutup yang agak tebal seperti jaket dan celana panjang training. Ia tampak lucu mengenakan pakaian itu sehingga membuat Rian tertawa pelan.

“Eh, ada yang aneh dengan saya, pak? Mengapa anda tertawa?” kata Elle dengan polos.

“Ah, bukan begitu. Mari kita duduk,” kata Rian yang tidak menjawab pertanyaan itu.

Gerimis di luar semakin menjadi hujan lebat. Salah satu teman kos Elle yang keluar dari kamar, menyeletuk, “Ehm, El… Selamat pagi,” kemudian segera berlari ke dapur sambil tertawa.

Elle hanya tersenyum melihat tingkah temannya itu. Ia memang selalu menjadi sasaran digoda oleh temannya itu.

“Dia nampaknya sangat akrab denganmu, Elle. Maaf, nona Elle,”

“Elle saja, pak Rian. Santai saja dengan saya,”

“Kalau begitu anda juga harus memanggil saya Rian saja, tanpa pak,”

Elle mengangguk setuju. Rian semakin menyukai Elle dan wajahnya memerah. Ia mengalihkan pandangannya ke secangkir teh hangat yang sudah disuguhkan oleh Elle sebelumnya.

“Oh, silakan diminum dahulu, Rian. Cuaca sangat dingin di sini saat hujan maka dari itu saya memakai pakaian serba tebal seperti ini,”

“Iya,” kata Rian lalu meminum tehnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Rian?”

“Oh, iya. Saya sebenarnya mau menanyakan sesuatu. Sejauh mana anda mengenal pak Frans, eh Frans saja karena dia juga seumuranku,”

“Frans adalah seorang ahli hukum yang baik dan sudah terkenal di kota ini. Sudah banyak orang yang mempercayainya. Ia juga pernah membantu keluarga saya terbebas dari penjara, karena tuduhan pembunuhan. Tetapi keluarga saya memang tidak bersalah, melainkan difitnah. Saya menemuinya di kedai baru dua kali setelah hari kemarin itu yang bersama anda dan nyonya Noris,”

“Seperti itu ya? Lalu apa anda juga mengenal nyonya Noris itu?”

“Iya, bahkan putrinya adalah teman bermain saya waktu kecil. Tetapi saya tidak mengerti mengapa dia begitu takut dengan nyonya Noris, padahal beliau seorang yang baik,”

“Namanya Jill, bukan?”

“Betul. Anda sudah bertemu dengannya?”

“He, saya saja baru datang dari jauh karena diajak oleh Frans. Sepertinya anda sangat mengenal Jill. Ada masalah apa sebenarnya, Elle?”

Elle diam tidak menjawab pertanyaan itu. Ia nampak seperti menyembunyikan yang sudah diketahuinya dari Rian.

“Apa kau baik- baik saja, Elle?”

“Eh, iya, iya,” Elle nampak gugup setelah dilontari pertanyaan itu. Hujan sudah mulai reda, hawa dingin sudah menghangat. Rian menghabiskan minumannya.

Ting ting ting… Ting ting ting… Ponsel Rian berbunyi. Rupanya Frans meneleponnya.”Halo,”

Kau di mana sekarang?

“Aku tadi jalan- jalan dan berteduh di rumah orang. Baik aku ke sana sekarang,” kata Rian. “Maaf, aku harus pergi sekarang. Terima kasih atas sambutannya nona Elle,”

Elle bernapas lega setelah Rian pergi. Lalu ia membawa cangkir- cangkir itu ke dapur untuk dicuci.

——————————

Di Rumah Frans, 1972

“Jill tidak mau kembali ke rumah ayahnya sejak ia sudah menikah. Putraku, Henof, juga sudah melarangnya pergi. Sepertinya suaminya sudah mempengaruhinya. Orang yang berpengaruh seperti ibunya. Mendiang suamiku tidak ingin Jill bersama ibu kandungnya. Dia sudah terlanjur sakit hati karena perilakunya,”

“Apa yang anda katakan ini benar adanya, Nyonya?”

“Kenapa? Apa kau tidak percaya dengan penjelasanku? Oh, jangan sampai saya marah lagi, pak Frans,”

“Tidak, Nyonya. Maaf. Lalu apa yang Anda inginkan melalui saya?”

“Tolong penjarakan Meghan, ibu kandung Jill,”

“Apa yang anda katakan, nyonya? Apa buktinya kalau dia membunuh pak Noel Noris, suami anda? Jangan sampai salah menuduh orang.”

Rian tiba- tiba masuk rumah, dan mengetahui pembicaraan antara Teena dan pak Frans…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s