NikCola

Banyak orang berlalu lalang membawa barang. Jalannya cepat seakan tidak ada waktu lagi sampai besok. Berin adalah kota industri yang kecil. Penghuninya sebagian besar bukan penduduk asli melainkan para perantau. Termasuk pak Frans.

Di antara jalan Rose dan Jasmine, pak Frans dan temannya, Rian sedang menunggu Teena. Tidak lama juga wanita paruh baya itu datang.

“Selamat pagi, Nyonya Noris, kita masuk dahulu,” kata pak Frans mengajak Teena ke dalam sebuah kedai minuman bernama NikCola.

Mereka bertiga duduk di dekat mesin pembuat kopi espresso, sebab aroma kopi membuat pak Frans lebih tenang.

“Anda suka kopi, Nyonya?” kata pak Frans memulai pembicaraan.

“Tentu, satu cangkir kopi moka saja,” kata Teena.

Pak Frans memesankan kopi untuk Teena dan dirinya ke seorang barista perempuan. “Tolong buatkan kopi hitam terenak untuk saya dan kopi moka terenak untuk wanita itu,” kata pak Frans sambil memegang tangan barista perempuan itu.

Namanya Elle. Ia adalah satu- satunya pembuat kopi sekaligus pelayan wanita di kedai itu. Ia cantik dan elegan. Agaknya pak Frans mulai tertarik dengannya.

“Silakan, ini kopinya,” kata Elle sambil menyuguhkan pesanan pak Frans dan Teena. Saat ia pergi, pak Frans terus saja melihatnya sehingga Rian mulai menggodanya dengan berpura- pura batuk. “Uhukkk! Hm, hei Frans, biarkan dia bekerja dahulu,” kata Rian diikuti tawanya. Teena hanya tersenyum.

“Oh, maaf,” kata pak Frans sambil menata kerah bajunya. “Oya, perkenalkan Nyonya ini teman saya,…

Teena dan Rian berjabat tangan saling menyebutkan nama. “Teena Noris,” kata Teena. “Rian, Rian saja,” kata Rian sambil melirik pak Frans.

“Saya sengaja membawa Rian ke sini untuk menjadi saksi atas kasus Nyonya,” kata pak Frans.

“Apa Anda sudah yakin dengan keputusan itu, pak Frans?” kata Teena agak ragu, “…sedangkan ini masalah yang rumit.”

“Boleh saya melihat aktanya?” kata pak Frans mengalihkan pembicaraan.

Teena menyerahkan berkasnya kepada pak Frans untuk diteliti. Pak Frans membacanya dengan serius. “Ternyata seperti ini… Lalu di mana putri Anda sekarang, Nyonya?” kata pak Frans agak menginterogasi.

“Dia, dia sudah pindah ke kota lain bersama suaminya. Sudah setahun yang lalu,” kata Teena sambil menundukkan kepalanya.

“Nyonya, jika Anda ingin menyelesaikan masalah ini dengan segera, tolong jangan cepat emosi,” kata pak Frans dengan tegas. Teena sampai terkejut dan merasa takut dengan sikap pak Frans. Begitu juga dengan Rian yang dari tadi hanya diam, ia merasa aneh dengan sikap temannya itu. “Jadi, oh maaf saya tidak bermaksud membentak Nyonya. Maafkan saya,” katanya menambahkan.

“Tidak apa- apa, pak Frans. Saya mengerti,” kata Teena.

Rian sudah menghabiskan minumannya yang hanya air teh lemon. Ia lalu berdiri untuk pergi ke kamar kecil. “Maaf, aku mau ke toilet sebentar,” kata Rian sambil melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja.

Teena menyeruput kopi mokanya yang sudah agak dingin. Ia merasa ingin menceritakan semua yang ia tahu kepada pak Frans saat itu juga, tetapi ia takut jika Rian juga mengetahuinya.

“Mengapa bisa terjadi Nyonya?” tanya pak Frans.

“Semua ini salahku. Seharusnya ini tidak terjadi seperti ini. Jill memang bukan anak kandungku, pak Frans, tetapi sudah menjadi anakku sejak aku menikah dengan ayahnya. Dia anak yang baik dan cantik, tetapi sayang ibunya tidak menghendaki kelahirannya. Dan bahkan mencoba untuk melenyapkannya,” kata Teena menceritakan sebagian yang ia tahu soal anak tirinya.

“Lalu, mengapa Anda merasa bersalah? Apa Anda juga tidak ingin menceritakannya seluruhnya?” kata pak Frans.

“Saya hanya tidak ingin semua orang tahu, tidak kecuali Rian. Yang saya inginkan adalah Jill bisa mendapatkan haknya sebagai anak, meskipun ia sudah berumah tangga,” kata Teena. 

Di kamar kecil, Rian masih memikirkan soal pertemuan antara pak Frans dan Teena atau nyonya Noris. Ia juga belum mengerti masalah yang akan melibatkan dirinya itu. Namun, Rian masih ingat soal akta kelahiran itu, dan ia ingat nama itu, Eigill Meza Noris.

Ia keluar dari kamar kecil dan berpapasan dengan Elle. Elle tersenyum kepadanya, begitu pula Rian. Sebelum masuk ke kamar kecil Rian menarik tangan Elle lalu bertanya, “Eh maaf, apa Anda sudah lama mengenal pak Frans, Nona?” Elle diam sejenak dan melepaskan tangan Rian. “Oh maafkan saya,” kata Rian dengan malunya. Elle tersenyum dan kemudian menjawab, “Saya baru mengenal dia sebulan yang lalu,”

“Oh, baiklah. Lalu, Anda tinggal di mana? Boleh saya ke rumah Anda jika ada waktu?” tanya Rian. Lagi- lagi Elle tersenyum. Senyumnya manis sehingga membuat Rian terpesona.

“Saya tinggal di kos- kosan dekat pabrik minuman milik pak Nicki. Di jalan Orca dan satu- satunya rumah kos di sana,” kata Elle menjelaskan letak tempat tinggalnya.

“Oke, saya akan ke sana nanti,” kata Rian. Kemudian ia kembali ke tempat duduknya yang di dekat mesin pembuat kopi. Pembicaraan itu terpaksa tidak dilanjutkan hari ini. Pak Frans menjadi harus lebih sabar karena Teena belum bisa memberikan keterangan yang lengkap kepadanya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s