Bibi yang Malang

Rupanya sangat mudah membuatnya kacau. Aku semakin penasaran bagaimana jika alur skenario ini dilanjutkan. Kita memang sama- sama pembuat cerita yang handal, tetapi sebentar lagi ceritamu akan dikalahkan oleh kesaksianmu, Teena…

——————————

York, 1972

“Jill, sarapanmu sudah siap,” kata Finn membagunkan istrinya.

“Hem, terima kasih, Finn. Eh, kau sudah mau berangkat, ya? Maaf aku bangun terlambat,” kata Jill.

“Tidak apa- apa, sayang. Tidurlah jika kau masih mengantuk,” kata Finn.

Jill mengangguk sambil tersenyum. Finn berangkat ke kantornya dengan mengendarai mobilnya. Pekerjaan Jill sebagai penulis membuatnya kewalahan saat banyak pesanan. Ia harus terjaga sampai pagi kalau perlu. Namun ia senang karena itu memang hobinya.

Di tengah kesibukannya terkadang Jill ingat tentang ibunya. Ia ingin kembali ke Berin, tetapi ia sendiri juga belum yakin bahwa ibunya masih di sana. “Bagaimana kalau dia sudah pindah ke kota lain?” kata Jill. “Sebaiknya aku menghubungi bibi Elina,” kata Jill selanjutnya.

Kring kring kring…

Kring kring kring…

“Halo, dengan siapa ini?” jawab bibi Elina.

Ini Jill, bibi. Maaf aku mengganggumu sebentar.

“Oh, kau rupanya. Ada apa, nak? Semua baik- baik saja, bukan?”

Eh, tidak, tidak sebaik itu, bibi. Aku belum bertemu dengan ibuku saat di Berin. Sekarang aku sudah kembali ke York. Entah di mana lagi aku mencarinya, bi.

“Oh, Jill, kupikir kau sudah bersamanya saat ini. Tenangkan pikiranmu, nak. Semua akan baik- baik saja,” kata bibi Elina.

“Iya, bibi,” kata Jill.

Ia menghentikan pembicaraanya dengan bibinya. Bibi Elina adalah saudara satu- satunya yang dimiliki madan Marry. Ia tinggal sendirian di kota yang agak jauh dari Berin, yang merupakan tempat kelahiran madam Marry sendiri, di kota Sachi.

——————————

Berin, 1972

Teena memikirkan apa yang sudah dialami oleh pak Frans di rumah sakit itu. Ia menjadi ketakutan kala mendengar suara yang samar- samar memanggilnya. Ia khawatir jika itu hantu madam Marry.

Tok tok tok…

Suara ketukan pintu mengagetkan Teena. Ia memanggil Bibi, pembantunya. “Bibi, kau dengar ketukan pintu, bukan?” kata Teena setengah berteriak.

“Iya, nyonya,” jawab Bibi.

Lalu dibukanya pintu rumahnya dan ternyata yang datang adalah pak Frans, Rian dan Elle. Bibi terkejut dan merasa dikeroyok.

“Kalian mengapa datang malam- malam begini?” tanya Bibi.

Namun mereka bertiga langsung memasuki rumah tanpa menjawab pertanyaan Bibi. Dari kamarnya, Teena memanggil Bibi.

“Bibi, siapa di luar? Mengapa lama sekali kau di sana?” tanya Teena.

“Tuan Frans beserta teman- temannya, nyonya. Mereka ingin bertemu dengan anda,” jawab Bibi dengan takut.

“Apa?” kata Teena dengan terkejut. “Bukankan Frans dinyatakan meninggal tadi siang? Dan teman- temannya, mereka sendiri yang menyaksikan Frans dimakamkan. Siapa Frans yang ini?” kata Teena yang tidak berani menengok ke belakang, ke arah pintu kamarnya.

“Teena, Teena… Teena, Teena,…” kata pak Frans memanggil Teena dari luar kamarnya.

“Eh, tidak, tidak, ini hanya mimpi burukku. Mimpi buruk. Aku lebih baik tidak membuka pintu itu. Aku kembali tidur saja. Pintu dan jendela sudah kukunci rapat- rapat jadi tidak seorang pun bisa memaksa masuk ke sini,” kata Teena sambil menarik selimut tebalnya.

“Teena, Teenaa, keluarlah. Apa yang kau lakukan di dalam?” kata pak Frans masih memanggil- manggil Teena agar keluar.

Teena membuka matanya yang masih dilindungi selimutnya setelah mendengar suara pak Frans yang semakin jelas. Ia mencoba menutupi telinganya agar tidak mendengarnya lagi.

“Suara itu terasa di dekatku, oh jangan- jangan…,” bisik Teena.

Namun suara panggilan itu sudah menghilang. Tidak ada lagi yang memanggilnya. Teena bernapas lega dan ia masih tetap ingin berada di balik selimut tebalnya sampai pagi datang…

Malam yang aneh dan menyeramkan bagi Teena.

Pagi hari, sinar matahari sudah menerobos masuk di celah- celah jendela kamar Teena. Teena terkejut karena ia bangun pukul 8 pagi. Sangat siang ia bangun.

“Astaga, mengapa Bibi tidak membangunkanku pukul 7? Aku harus menjemput Henof di stasiun Morell pagi ini,” kata Teena.

Ia segera bergegas menuju dapur. Namun ia malah dikejutkan dengan sosok yang sudah tidak bernyawa di depan pintu kamarnya.

“Bibi?! Bibi?! Oh, Tuhan, Bibi, jangan Bibi!” kata Teena sambil menangis. Ia ketakutan dan berlari ke luar rumah untuk meminta bantuan tetangganya.

Di luar rumah juga ada keramaian yang membuat Teena penasaran.

“Apa yang terjadi di sini, tuan?” tanya Teena kepada seorang pria di kerumunan itu.

“Ada orang yang habis ditembak, nyonya. Saya melihatnya berjalan menuju rumah anda lalu entah dari mana tembakan itu,…” kata pria itu menjelaskan.

Teena lalu menemui seorang polisi di lokasi kejadian itu. Ia melaporkan peristiwa terbunuhnya Bibi. Dengan segera ia dan beberapa polisi lainnya kembali ke rumah untuk memeriksa jenazah Bibi.

“Apa dia kerabat anda, nyonya?” tanya polisi wanita yang memeriksa tubuh Bibi.

“Bukan, tapi dia sudah kuanggap sebagai kerabatku sejak dulu,” jawab Teena.

Seorang polisi lain menelepon mobil ambulans. Teena merasa dirinya kurang enak badan. Kepalanya tiba- tiba pusing, tubuhnya bergemetar, dahinya mengeluarkan keringat dingin. Kakinya tiba- tiba tidak kuat menyangga tubuhnya berdiri untuk beberapa saat, pandangannya kabur, lalu ia pingsan…

Ikan dan Hadiah

Di hari Jumat yang istimewa ayah Yusuf berpakaian rapi sebelum kerdipan sinar mentari menerangi langit. Ia menarik jaket tahan cuacanya yang besar dan topi wol hijau yang menutupi telinganya. Ia pamit dengan melambaikan tangan kepada anaknya. Mata Yusuf berbinar ketika Papa berkata, “Hari ini saatnya papa akan memancing ikan dan membawa pulang sebuah hadiah untukmu.”

Ikan dan hadiah? Oh, bagaimana bisa? Papa mengayuh sepeda menuju Pantai Muizenberg. Roda- rodanya berdecit sepanjang ke Simpang Surfer.

Burung camar terbang mengelilingi langit. “Apaaa? Apaaa? Apaaa?” mereka berteriak- teriak. “Apa yang akan kau bawa pulang untuk Yusuf?”

Papa membunyikan belnya. “Tunggu dan lihatlah apa itu!”

Para nelayan melihat matahari sudah terbit. Mereka memeriksa jaringnya. Mereka juga memeriksa dayungnya. Mereka merasakan angin. Mereka menarik perahunya menuju ke air. Kakek Yusuf, Oupa Salie adalah seorang nelayan yang sering melakukan perjalanan. Sebelumnya ayahnya, Oupagrootjie Ridwaan, juga akrab dengan samudera.

Perahunya dijalankan di atas ombak. Papa merentangkan lengannya saat memegang dayung. Ia menahan kedua kakinya ke samping. Lehernya tegang, otot punggungnya bereaksi.

Papa bernyanyi saat ia bekerja: “Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Sepanjang hari Yusuf melihat ke langit. Langit yang cerah dan tidak ada angin. Ikan dan hadiah! Bagaimana bisa Papa membawanya pulang dari laut? Kadang- kadang ia membawa kerang yang cantik. Kadang kala ia membawa permata hijau dari kaca yang terbilas oleh ombak.

Suatu hari ayah Yusuf bercerita. Saat mereka menemukan penyu laut di hamparan pasir pantai, berjumlah ratusan yang terdampar karena badai.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak para burung camar. “Apa yang akan kau lakukan untuk membantu penyu- penyu itu?”

Papa berkata, “Kita selamatkan penyu- penyu itu, aku berkata sungguh- sungguh. Kita kembalikan mereka ke laut, sampai yang terakhir.”

Papa selalu bernyanyi. Ia menyanyi sambil mendayung. Ia menyanyi sambil menarik jaring. Ia menyanyi saat menggulung tali. Ia bernyanyi sambil mengayuh sepedanya menuju rumah. “Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Ouma Safiya ingin satu buntut kuning yang gemuk untuk makan malamnya. Ibu ingin pakaian baru.

“Jangan bodoh,” kata Ouma. “Kau akan beruntung jika mereka bisa menangkap kepiting yang sangat kecil pun. Kemungkinan akan menjadi hari Jumat buntut ikan. Tidak ada banyak ikan di laut sana.

Yusuf menggandeng tangan Ouma. Mereka menyeberang jalan ke kamar mandi.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar itu yang bertengger di atap. “Apa makan malamnya?”

Tahun yang lalu nelayan berkelahi dengan peselancar. Saling marah dan memukul, dan melontarkan kata- kata.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar.

“Laut itu cukup luas untuk semua orang,” kata ayah Yusuf. Ia menunjukkan kepada mereka surat lisensi memancing yang telah dimiliki oleh Oupa Salie. “Ombak untuk semua. Air untuk kebebasan.”

Ouma Safiya melihat melalui lensa binokulernya, dilingkarkannya jarinya dengan rasa penasaran. Alarm hiu bersuara. Orang- orang yang berenang berlari kembali ke daratan pasir dan mengambil handuk mereka. Para peselancar buru- buru ke pantai, dengan menjepit papan mereka di bawah lengan. Di bawah pancuran mereka menanggalkan pakaian selam mereka.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar. “Apa yang akan dibawa pulang ayah Yusuf dari lautan?”

Ayah, paman dan sepupu Yusuf mendorong dan menarik. Seekor hiu kecil telah ditangkap. Ikan hiu itu terombang- ambing oleh ombak dan menjadi bangkai di laut. Ayah Yusuf membentangkan jaring, bernyanyi untuk hiu: Jatuh dan hempaskan. Temukan ikan. Tarik dan ceburkan. Jangan berhenti.”

Saat hiu itu terakhir bergerak ia membalikkan badannya ke dalam ombak, dengan menyisakan ekor kuningnya yang gemuk di jaring. Ouma Safiya akan senang.

Pria itu menarik perahunya dan menggulung kabel. Benda segitiga putih yang keras menempel di jari Papa.

“Apaaa? Apaaa? Apaaa?” teriak burung- burung camar. “Apa yang kau bawakan untuk Yusuf?”

Saat matahari terbenam, Papa menjawab pertanyaan burung camar. “Sebuah gigi hiu keberuntungan untuk anakku.”

Di rumah Yusuf mengangkat hadiahnya ke arah bintang- bintang.

TAMAT. Diadaptasi dari cerita A Fish and a Gift

Madam Marry

Rian terkejut telah melihat madam Marry di rumah pak Frans. Selang beberapa jam tamu yang dimaksud mengetuk pintu rumah itu.

“Masuklah, kawan, pintu tidak dikunci,” kata madam Marry. Dan seketika orang itu masuk. Ada dua orang yang nampaknya suami istri. Mereka langsung duduk di ruang tamu itu. Madam Marry mengenalkan mereka kepada Rian.

“Rian, mereka adalah pembantu di rumah tuan Noris, dahulu,” kata madam Marry.

Rian menatap mereka satu per satu. Ia masih bingung dengan kenyataan. Ia sama sekali tidak mengenal mereka, namun ia malah masuk dalam perkara yang tidak diinginkan.

“Eh, maaf madam, saya tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, apa anda sengaja meninggalkan keluarga anda?” tanya Rian.

“Oh, ehm, sebenarnya aku tidak masalah kau bertanya begitu, tetapi apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanya madam Marry.

“Tidak ada, madam. Saya hanya bingung soal teman saya yang bekerja di sini. Ia pernah menyinggung soal anda beberapa hari yang lalu. Dan setelah itu nasib buruk menimpanya kemarin,” jawab Rian.

“Aku turut prihatin, Rian. Semoga lekas membaik. Ya, aku tahu maksud perkataanmu itu. Temanmu bersama madam Teena, bukan?” tanya madam Marry.

“Iya, betul, madam. Anda bisa tahu lalu apa jangan- jangan anda sebenarnya tidak menghilang dari kota Berin?” kata Rian.

Madam Marry tidak langsung menjawab pertanyaan Rian. Ia melihat ke arah sepasang suami istri itu. Keriput di kening si pria bertambah jelas karena ia menanggapi tatapan mata madam Marry. Itu seperti menaikkan kedua alis.

“Madam Marry sebenarnya tidak kemana- mana, nak. Dia hanya ingin hidup tenang di luar sana. Pertengkaran dengan tuan Noris tidak bisa dihentikan sampai putrinya lahir. Kami ikut pergi bersamanya karena tidak ingin melihat hal mengerikan lagi di rumah itu sekaligus membuktikan bahwa kami sangat mencintai madam Marry,” pria itu berkata menjelaskan.

“Oke, aku mengerti. Yang masih membuatku bingung mengapa madam Teena mau memenjarakanmu madam Marry? Kudengar bahwa dia menyebutmu sebagai pembunuh suaminya,”

“Oh, Tuhan,” kata istri si pria itu tiba- tiba. “Nyonya, apa kau akan tetap bersembunyi di sini sementara wanita itu berusaha menyingkirkanmu dari rumahmu sendiri,” katanya melanjutkan.

“Eh, tidak usah berlebihan, Viviana. Aku tahu yang harus kulakukan,” kata madam Marry.

“Yang dikatakannya itu benar, madam. Anda harus segera bertindak agar semua masalahmu selesai,” kata Rian. “Dan aku bisa secepatnya kembali ke Marrow,” lanjut Rian.

“Oh, kau bukan orang sini?” tanya pria itu.

“Bukan. Saya di sini hanya diajak oleh teman, si pemilik rumah ini,” jawab Rian.

“Ehm begitu ya? Kalau begitu sebaiknya kau tidak usah ikuti temanmu karena dia sendiri malah celaka. Kau juga tidak ingin seperti dia, bukan? Hem?” kata madam Marry.

“Maksud anda? Saya benar- benar tidak mengerti, maksud saya memang kalau bisa saya tidak mengalami nasib buruk seperti teman saya itu. Tetapi bagaimnapun dia tetap teman saya dan saya harus membantunya,” kata Rian mulai agak kesal.

Madam Marry dan kedua pembantunya saling berpandangan. Kemudian ia menuangkan air dari dalam botol bir ke gelas- gelas kecil itu. Disodorkannya satu gelas untuk Rian.

“Ayo minum dahulu, nak,” kata madam Marry.

“Eh, tidak tidak, saya tidak suka bir,” kata Rian dengan khawatir.

“He, baik kalau begitu. Ini Leon, untukmu saja,” kata madam Marry yang memberikan segelas minuman kepada pria itu.

Pria bernama Leon menerima gelas itu dengan agak gugup, kemudian ia meminumnya satu tegukan saja. Begitu juga madam Marry. Rian heran dengan apa yang ia lihat barusan.

“Eh, madam, kau bilang tadi bahwa kau bukan seorang peminum. Lalu mengapa kau melakukan itu?” tanya Rian.

Madam Marry, Leon dan Viviana tertawa terbahak- bahak. Mimik wajah Rian memerah karena malu.

“Nak, ini hanya air lemon biasa. Jangan dianggap serius,” kata Leon sambil menuangkan air dari botol bor itu lagi. “Kau mau?…” tanyanya menawarkan minuman itu kepada Rian. Tetapi Rian hanya diam dan menghindari minuman itu. Leon meminumnya lagi.

“Kalau ini bir, aku sudah pusing dan tidak sadar. Oh, tetapi ruangan ini agak sedikit bau ya? Aku mempunyai parfum yang cocok untuk ruangan ini,” kata madam Marry yang mengeluarkan sebotol minyak wangi dari dalam tas nya. csst…csst…cssst… Ia menyemprot- nyemprotkan itu ke segala arah.

“Ahh, lebih baik, bukan?” kata madam Marry.

Namun Rian tidak menikmatinya. Ia pusing setelah menghirup aroma minyak wangi itu. “Oh, aku tidak suka aroma parfum anda, madam, maaf…” kata Rian. brukkk… Badan Rian ambruk di sofa yang ia duduki.

Viviana menghampiri Rian untuk membangunkannya. “Hei, Rian, Rian… Nak?” katanya sambil menggoyang- goyang tubuh Rian.

Kemudian ia melihat madam Marry dan berkata, “Apa ini tidak berbahaya, nyonya?”

“Tentu saja tidak. Dia hanya pingsan untuk sementara waktu. Kita harus pergi sekarang,” kata madam Marry. Ia beranjak dari sofa lalu meninggalkan Rian sendirian di rumah itu. Kedua pembantunya juga ikut pergi.

——————————

Rumah Sakit, 1972

“Frans, maafkan aku. Seharusnya kau tidak menjadi penghuni kamar ini,” kata Teena dengan menangis.

“Tolong, jangan menangis, Teena. Aku sudah baik- baik saja. Lihat, luka- luka ini sudah kering dan pasti hari ini bisa pulang,” kata pak Frans sambil mengusap rambut Teena.

“Siapa yang melakukan ini, Frans? Katakan padaku,” tanya Teena agak mendesak.

“Entahlah, semua terjadi begitu saja. Aku bangun sudah berada di ruangan yang aneh dan mengerikan. Gelap, bau, dan banyak gangguan,” kata pak Frans menjelaskan. “Dan yang paling mengerikan adalah ketika aku didekati oleh hantu seorang wanita di sana, ia menggerayangi tubuhku sambil berkata tolong bawa aku pergi dari sini,” kata pak Frans lagi.

Teena memghentikan tangisnya. Mimik wajahnya menegang, lalu berkata, “Lalu kau membawanya pergi bersamamu?”

“Tidak, Teena. Kau tahu aku paling takut dengan hantu. Jangankan membawanya, melihatnya pun aku tidak sudi. Setelah dia berkata seperti itu, aku langsung tidak ingat apa- apa dan tiba- tiba ada di sini,” kata pak Frans.

Teena diam penuh curiga. Ia kemudian pamit untuk pulang kepada pak Frans. “Oke, aku percaya, Frans. Aku harus pergi sekarang,” kata Teena.

Pak Frans hanya memandanginya saat Teena berjalan meninggalkan ruangan…

Kedatangan Seseorang

Hal buruk di Berin yang menimpa pak Frans membuat Rian dan Elle ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Elle masih mengingat cincin berlian yang dibawa oleh pak Frans sama persis yang dipakai oleh nyonya Noris alias Teena. Di ruang tunggu, di rumah sakit banyak orang yang membicarakan soal yang dialami oleh pak Frans. Bahkan tiga orang di samping Elle, yang dua wanita duduk di sebelahnya dan yang pria berdiri di samping wanita satunya, sedang mengobrol agak serius. Nada bicara mereka agak keras sehingga Elle bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Seumur- umur aku baru menemui hal mengerikan seperti kemarin di depan kedai NikCola itu. Kelihatannya seperti si ahli hukum yang terkenal itu ya?” kata wanita yang memakai topi, dan duduk di sebelah kiri Elle. “Apa ada kaitannya dengan keluarga baru itu ya?” lanjutnya.

“Kudengar iya. Bukankah kita tahu seperti apa mereka? Hilangnya madam Marry juga pasti gara- gara wanita itu. Namun mereka sangat pandai menyimpan rahasia itu rapat- rapat. Sampai almarhum tuan Noris tidak mengetahui sebabnya,” kata pria yang berdiri itu.

“He, apa kau yakin, tuan? Kalau yang Anda maksud adalah… madam Teena, tetapi dia baik menurutku. Dia tidak ada tanda- tanda yang buruk seperti itu. Kulihat dahulu dia sangat menyayangi anak tirinya, nona Jill itu,” kata wanita satunya yang agak muda.

“Ya, itu menurutmu, nona. Saya lebih lama tinggal di Berin dan rumah saya persis di seberang rumah almarhum tuan Noris. Pastinya saya sudah hafal gerak- gerik mereka,” kata pria itu.

“Oh, Tuhan. Seandainya benar begitu, sangat disayangkan. Lebih lagi madam Marry yang baik itu malah mengalah demi istri baru tuan Noris. Kasian anaknya,” kata wanita bertopi itu.

Elle tidak bisa menahan rasa ingin tahunya sehingga ia bertanya kepada wanita yang lebih muda. “Eh, maaf nyonya, apakah Anda pernah bertemu dengan madam Teena sebelumnya?” tanya Elle.

“Iya, nona Elle, saya agak sering bertemu dengannya akhir- akhir ini. Ya, walaupun sekedar menyapa,” jawab wanita muda itu.

“Oh, iya. Lalu apa anda melihat pak Frans bersamanya waktu itu?” tanya Elle lagi.

“Um, kalau waktu itu saya tidak tahu, nona, tetapi waktu malam hari sekitar pukul 10 saya melihat dia masuk ke rumah madam Teena, sendirian,” jawab wanita muda itu.

“Apa kau yakin, nona?” tanya pria yang berdiri di sampingnya dengan tiba- tiba.

“Kuharap aku tidak yakin, tuan. Waktu itu saya hanya melintasi rumah madam Teena dan kau tahu lampu jalan di kompleks itu sangat tidak terang,” jawab si wanita muda itu.

“Dan kau nona, memangnya ada apa dengan si Frans itu? Sepertinya kau sangat tahu tentangnya?” tanya wanita bertopi itu.

Elle terkejut ketika wanita itu bertanya soal pak Frans kepadanya. Lalu ia menjawab, “Ah kami hanya berteman biasa, nyonya.”

Rian sudah keluar dari kamar pasien, yaitu kamar pak Frans. Ia tidak berkata apa- apa dan langsung mengajak Elle pulang. Elle pamit kepada ketiga orang itu.

Tiba- tiba wanita bertopi itu berkata, “Apa pria itu pacar si nona itu ya?”

“Entahlah, nyonya,” jawab wanita muda itu dengan cueknya.

——————————

Rian mengantar Elle ke rumah kosnya. Madam Maria menuruhnya mampir tetapi ia menolaknya. Rian ingin segera kembali ke rumah pak Frans.

Rupanya mereka tidak tahu kalau sedang dibuntuti oleh seseorang. Orang itu mengintai mereka dari dalam mobilnya. Setelah Rian pamit kepada Elle dan madam Maria, ia langsung menyetir mobilnya ke rumah pak Frans. Sosok yang mengintainya juga mengikutinya ke arah Rian pergi.

Ia berhenti agak jauh dari mobil Rian. Ketika Rian sudah masuk ke rumah, orang itu mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat yang berbunyi Aku sudah di depan rumahnya. Tidak jauh dari rumah pak Darwis, tukang roti keliling di stasiun Morell. Kemudian ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Setelah mengamati rumah pak Frans agak lama, ia memutar balik mobilnya dan pergi.

Rian menutup rapat pintu rumah itu. Ia merasa sangat lelah dan pusing sehingga ingin segera tidur. Kamarnya ada di lantai dua, jadi ia memilih tiduran di sofa. Sebenarnya ia masih memikirkan masalah sahabatnya itu, tetapi ia bingung bagaimana cara membantunya. Ia tiduran menghadap meja dan terkejut karena ada dua botol bir dan dua gelas kecil di depannya.

“Apa- apaan ini?” kata Rian. Ia mendudukkan badannya di sofa itu.

Dari atas ia mendengar langkah kaki yang mantap menyentuh lantai. Rian lebih terkejut lagi ketika melihat siapa yang turun dari tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua.

Rupanya ada seorang wanita separuh baya yang sudah lebih dahulu di dalam rumah pak Frans. Dan ia semakin mendekati Rian.

“Anda siapa? Tolong jangan terlalu dekat,” kata Rian dengan gugup.

Wanita itu menjawab, “Jangan takut, nak. Maafkan aku yang sudah memasuki rumahmu tanpa ijin.” Ia lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Rian. Rian panik dan gugup ketika wanita itu mengajaknya bersalaman. “Aku, Meghan. Marry Meghan,” kata wanita itu.

Rian terbelalak karena tidak menyangka akan bertemu orang yang akan diurus pak Frans. “A..aku, Rian,” kata Rian dengan terbata- bata. “Anda yang meletakkan minuman dan gelas ini?” tanya Rian sambil menunjuk benda- benda itu.

“Iya, betul. Sebenarnya aku bukan peminum. Itu untuk suguhan saja,” kata madam Marry.

“Suguhan untuk siapa, madam?” tanya Rian lagi.

“Nanti kau akan tahu sendiri, Rian,” jawab madam Marry.

Rian semakin tidak bisa menahan rasa khawatirnya apalagi sahabatnya sedang sakit dan tidak bersamamya. Ia ingat janjinya akan melindunginya apapun yang terjadi. Benar- benar membuatnya bingung tentang apa yang harus ia lakukan.

Kejadian di Berin

“Hai, Jill. Apa kau benar- benar akan pulang hari ini? Bagaimana dengan rencanamu mencari ibu kandungmu?” kata Elle saat berjumpa dengan Jill di stasiun Morell.

Jill menarik napas panjang, lalu berkata, “Iya, Elle. Aku dan suamiku tidak bisa meninggalkan Meza lama- lama di York. Kami harus menjemputnya hari ini dan kembali ke tempat tinggal kami, di apartemen.” Suami Jill sudah selesai mengurusi tiket perjalanan mereka menuju York. Tetapi ia lapar kemudian membeli roti di penjual roti yang mondar- mandir sejak tadi.

“Elle, sebenarnya aku masih ingin di Berin, tetapi nanti setelah urusanku di kantor selesai. Madam Marry memang sangat penting bagiku, bahkan aku masih penasaran mengapa beliau meninggalkanki.” Jill berkata kepada Elle, sahabatnya, sebelum naik kereta.

“Sayang, ayo kita pergi,” kata Finn sambil mengangkat koper yang agak berat.

Elle dan Jill berpelukan sebelum berpisah. Air mata Elle mengalir di pipinya yang merona saat melihat temannya pergi. Dan kereta melaju perlahan menuju York.

Telepon genggam di sakunya berbunyi dan mengagetkannya. Telepon dari Rian. “Halo,” kata Elle menjawab teleponnya.

He, kau sebaiknya kembali ke kedaimu sekarang. Cepat.

“Eh, ap…,” Belum sempat berkata- kata teleponnya buru- buru mati. Elle segera pergi ke kedai NikCola.

Sampai di sana, Elle bingung karena banyak orang yang berkumpul dan seperti melihat sesuatu. Ia mendusel kerumunan orang- orang itu, dan astaga, batinnya. Ia melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa ada orang yang tergeletak di jalan di depan kedainya. Badannya tengkurap, kepalanya terluka seperti habis dipukul, dan matanya terpejam. Elle tidak berani mendekatinya namun ia penasaran. Dari belakang Rian menarik tangan Elle untuk keluar dari kerumunan orang itu.

“Eh, Rian, apa- apaan kau ini!” kata Elle dengan kesal karena tangannya ditarik agak keras.

“Dengar, kau ingin tahu dia siapa, bukan?” kata Rian.

“Iya, siapa orang itu, Rian? Jangan tambah membuatku penasaran,”

“Itu, Frans,” kata Rian yang masih memegang erat tangan Elle.

“Apa?!” kata Elle terkejut mendengar jawaban Rian. Ia ingin melihatnya lagi lebih dekat tetapi Rian memegangnya dengan kuat.

“He, Elle, tidak usah ke sana, kumohon,”

“Mengapa? Bukannya dia juga temanmu, rekanmu, sahabatmu?” kata Elle heran.

“Iya, tetapi kalau kau sampai memegang tubuhnya, atau kita, nanti bisa dipenjara. Kita tidak tahu dia masih hidup atau sudah tidak bernyawa. Jadi, tolong tenanglah sampai ada ambulans dan polisi yang datang. Aku juga ingin tahu sepertimu,” Rian berkata panjang lebar untuk membuat Elle tenang. Ia melepaskan tangannya.

“Oke, aku mengerti,” kata Elle sambil menyedekapkan kedu tangannya.

Suara mobil ambulans terdengar dan dua mobil polisi menyusul. Para petugas ambulans mengangkat badan pak Frans dengan hati- hati. Polisi yang satu membubarkan orang- orang, dan yang lainnya menyelidiki bekas yang ditinggalkan dari tubuh pak Frans di tanah. Ada darah dan benda kecil yang berkilauan seperti cincin berlian.

Rian dan Elle masih melihatnya dari kejauhan. Setelah kerumunan orang bubar, mereka lalu mendekati tempat kejadian itu. Tetapi tidak langsung dekat- dekat. Terutama Elle yang sudah ingin tahu sejak tadi, ia melihat apa yang diperiksa pak polisi itu.

“Rian, kemarilah,” kata Elle memanggil Rian untuk melihatnya lebih dekat.

“Kau lihat cincin berlian itu?” Elle bertanya. Rian hanya menganggukkan kepalanya. “Aku ingat saat pak Frans sedang berbincang dengan nyonya Noris, cincin itu dipakai oleh nyonya Noris. Tetapi mengapa sekarang ada di sini dan bersama pak Frans?” katanya melanjutkan.

“Eh, Elle, sebenarnya aku sudah mencurigai nyonya Noris sejak lama. Bahkan sejak Frans menghilang beberapa hari yang lalu. Aku merasa kalau wanita itu terlibat dalam masalah ini. Tetapi aku juga belum tahu pasti,” kata Rian.

“Baiklah, sebaiknya kita pergi saja. Kita bisa membicarakannya nanti di rumah kosku, hem?”

“Ide yang bagus, ayo,”

Rian dan Elle pergi ke rumah kos madam Maria. Mereka naik mobil taksi menuju ke sana. Sementara para polisi masih menyelidiki perkara ini. Beruntung kedai NikCola sedang tutup, jadi tidak menambah keresahan pelanggannya.

——————————

Jill dan suaminya sudah sampai di stasiun York. Ibu mertua dan anaknya sudah menjemput mereka di sana.

“Mama,” kata Meza kepada Jill. Ia memeluk ibunya dan bergantian memeluk ayahnya.

Kemudian mereka berjalan menuju ke ruang tunggu di depan stasiun itu. Madam Nirin bertanya kepada Jill, “Sudah selesaikah semuanya, nak?”

“Oh, belum Ma. Kemarin kami sudah meminta bantuan polisi untuk mencari madam Marry. Masih dalam proses pencarian dan kuharap aku bisa bertemu dengannya,” kata Jill kepada ibu mertuanya.

“Kau yang sabar ya, nak. Semua pasti baik- baik saja. Aku yakin itu,” madam Nirin berkata sambil memeluk Jill dengan penuh kasih sayang.

Mobil jemputan untuk Jill dan keluarga kecilnya sudah datang. Di stasiun York mereka berpamitan kepada madam Nirin. Meza melambaikan tangannya kepada neneknya itu sambil berkata, “bye bye, nenek, bye bye…,”

Setelah itu madam Nirin juga meninggalkan stasiun dan pulang ke rumahnya.

——————————

Di rumah kos, Rian dan Elle membicarakan masalah yang terjadi pada pak Frans. Rian benar- benar tidak menyangka jika pertemuannya dengan pak Frans adalah hal yang buruk sekaligus menegangkan. Sementara Elle memikirkan dua hal yang berbeda sekaligus, yaitu tentang madam Marry dan pak Frans.

“Mengapa harus terjadi lagi hal mengerikan itu?” kata Elle yang bertanya kepada dirinya sendiri.

“Hem, apa mksudmu?” tanya Rian.

“Peristiwa yang dialami oleh pak Frans itu juga dialami oleh orang yang bermasalah dengan keluargaku dahulu. Namun lebih tragis dan mengerikan,” kata Elle menjawab pertanyaan Rian.

“Sebenarnya siapa orang yang kau maksud itu, Elle?” tanya Rian lagi.

“Dia adalah orang suruhan anak laki- laki nyonya Noris,” jawab Elle.

“Jadi wanita itu mempunyai anak yang lain selain Jill? Lalu apa hubungannya dengan kejadian yang menimpa pak Frans?” tanya Rian.

“Oh, aku juga tidak mengerti, Rian. Kepalaku pusing sekarang. Yang jelas aku melihat ada yang aneh dengan kejadian ini, yang baru saja terjadi,” kata Elle.

“Apa karena nyonya Noris? Pasti dia yang melakukannya,” kata Rian mulai marah.

“He, kau jangan sembarangan menuduh orang dahulu. Kau juga tidak tahu ke mana selama ini pak Frans pergi,  bukan? Dan tahu- tahu tubuhnya tergeletak di depan tempat kerjaku,” kata Elle.

Rian mencoba menenangkan dirinya agar suaranya tidak keras dan terdengar oleh penghuni rumah kos yang lain. Ia menyeruput minumannya, teh lemon dan kemudian memakan satu keping biskuit gandum cokelat.

Awan hitam di langit mulai berkumpul lagi untuk menurunkan hujan. Cuaca yang tadinya panas tiba- tiba menjadi dingin karena akan turun hujan. Rian masih betah berada di ruang tamu di rumah kos Elle, sambil menghangatkan tubuhnya di dekat perapian. Sementara Elle, ia mengirimkan pesan singkat kepada Jill.

Hai, kawan, semoga kau segera ke Berin lagi. Kami akan membantumu.

Pesan singkat dari Elle sudah dibaca oleh Jill yang sudah berada di apartemen, di York. Jill diam dengan pandangan yang kosong ke depan. Finn melihatnya dengan heran, lalu bertanya, “Kenapa sayang?”

Jill terkejut dan tersadar dari lamunannya. “Oh ini, Elle mengirimkan pesan singkat kepadaku. Dia ingin aku kembali lagi ke Berin,” jawab Jill.

“Iya, pasti kita ke sana lagi,” kata Finn sambil membelai rambut Jill. Jill pun tersenyum.

Dany dan Katak bag.3

Dany mengambil sebuah batu, diletakkannya di ketapelnya, ditarik talinya ke belakang dan membidik ke arah burung itu. Batu dilemparkan ke udara, tetapi tidak mengenai burung itu. Dengan seketika ia mengambil batu lagi. Ditembakkannya ke udara, tetapi masih meleset. Ia tidak akan putus asa setelah mengingat kata- kata Kyle kepadanya:

“Teruslah berlatih dan suatu saat kau pasti mengenai sasaran.”

Ia mengambil lagi batu yang lain dan membidik burung yang terbang melingkar itu sekali lagi.

Akhirnya batu mengenai burung hitam di bagian perutnya. “Ya, aku berhasil,” kata Dany dengan bersemangat, tetapi kemenangannya tidak berlangsung lama. Si burung berteriak kesakitan dan menjatuhkan sang raja katak. Oh tidak, batin Dany ketika melihat si burung kabur dan raja katak jatuh dengan kecepatan tinggi ke tanah.

Semua katak terpaku diam menyaksikan sang raja jatuh. Dany bergerak dengan cepat sebisanya, melengkungkan tangannya untuk menangkap raja katak. Katak- katak lainnya pun bernapas lega setelah sang raja mendarat dengan aman di tangan Dany.

“Terima kasih banyak Dan, kau sudah menyelamatkan nyawaku,” kata sang raja katak.

“Dengan senang hati yang mulia,” kata Dany kemudian meletakkan sang raja dengan hati- hati di tanah.

Sang Raja melompat menemui katak Rich dan berkata,”Sekarang aku berkata baik- baik, kuingin kau melepaskan rakyatku,”

“Jawabannya masih tidak mau,” kata katak Rich dengan keras kepala.

Dany tidak bisa membiarkannya lagi. Ia berjalan menuju katak Rich dan mengankat kakinya dan berkata, “Jika kau tidak mau membebaskan mereka aku akan menginjakmu,”

“Kau tidak akan bisa!” kata katak Rich.

“Yang mulia, bolehkah aku melakukannya untuk mengakhiri hidupnya?” Dany meminta ijin kepada raja katak. “Ya, kau boleh melakukannya, Dan,” kata raja katak sambil melirikkan matanya kepada Dany.

Dengan perlahan- lahan Dany menurunkan kakinya ke arah katak Rich.

“Oke, oke, beri aku kesempatan hidup dan ambilah katak- katakmu,” kata katak Rich. “Sekarang pergi dan bawa juga manusiamu,” lanjutnya.

“Masih ada satu lagi. Kau tidak pantas memakai itu,” kata James lalu mengambil mahkota dari kepala katak Rich dan dikembalikan kepada sang raja. “Ah ya, itu lebih baik” kata raja katak yang meletakkan kembali mahkota ke kepalanya.

Katak- katak yang mengelilinginya meminta maaf karena sudah meninggalkannya dan berterima kasih sebab sang raja tidak melupakan mereka.

“Tidak perlu meminta maaf sekarang. Kita bisa melompat pulang ke rumah, bukan?” tanya raja katak.

“Yang mulia, apa yang kita lakukan kepada katak Rich?” Dany bertanya.

“Tidak perlu Dan, dia suda kalah dalam pertempuran. Itu hukuman yang sudah cukup,” jawab raja katak.

“Terserah anda, yang mulia,” kata Dany, tetapi ia kembali kepada katak Rich dan berkata, “Jika kau masih mendekati kerajaan mereka atau mencoba menyiksa mereka, aku dan kakiku akan menemukanmu, itu janjiku! Kau mengerti katak?”

“Ya, aku mengerti,” kata katak Rich yang menunduk kalah lalu melihat mereka pergi.

“Akhirnya semua kembali dengan baik,” kata Dany setelah sampai di The Ponds.

“Memang benar, tetapi kami tidak mau lagi tinggal di sini Dan, tidak ada yang berguna untuk kami jadi kami akan berusaha mencari tempat tinggal yang lain,” kata raja katak.

“Jangan terburu- buru untuk pergi yang mulia. Aku punya rencana,” kata Dany. Ia pamit kepada sang raja dan katak lainnya, dan memulai perjalanannya ke rumah di atas bukit.

Hari- hari berlalu di The Ponds dan tidak ada tanda- tanda kedatangan Dany. “Aku takut jika dia tidak kembali, yang mulia,” kata James.

“Kupikir kau benar, James. Kita akan bersiap- siap. Kita akan meninggalkan The Ponds satu atau dua hari lagi. Tolong kirimkan pesan kepada rakyat kita,” kata sang raja.

“Kuak, kuak, kuak,” mereka mendengar dari luar bebatuan.

“Ada tiga kali kuak; itu artinya para manusi datang,” kata James.

“Mungkin itu gerombolan orang piknik yang lain. Ayo James, kita harus saling waspada,” kata sang raja.

“Yang mulia, yang mulia!” salah satu katak berteriak melompat ke hadapan sang raja.

“Apa yang terjadi sampai kau sangat gugup?” raja bertanya kepada katak yang menghadapnya.

“Itu Dany, dia kembali bersama manusia yang lain,” jawab katak itu.

“Sekarang aku mau bertemu! Ayo James,” kata sang raja. 

“Halo Dany, kau telah kembali,” kata sang raja.

“Iya, yang mulia, mereka adalah teman- temanku. Mereka juga tinggal di desa yang dekat dari sini dan ketika aku menceritakan yang terjadi di The Ponds mereka dengan segera mereka bersedia membantu,” kata Dany.

“Ini waktunya kami bertanggung jawab atas apa yang sudah kami lakukan. Kami minta maaf; kami tidak tahu jika ini akan terjadi pada The Ponds. Kami datang kemari untuk membersihkan The Ponds,” kata Kyle mewakili teman- temannya yang menganggukkan kepala tanda setuju dan kemudian mulai bekerja.

Butuh beberapa waktu The Ponds mendapatkan kejayaannya lagi, namun setelah selesai, sang raja teringat oleh Dany ketika ia sedang menikmati kolamnya yang sudah bersih.

“Air sudah bersih; para katak sedang beristirahat di atas rerumputan bersama bunga- bunga. Aku tidak tahu bagaimana berterima kasih kepadamu, Dan,” kata raja katak.

“Tidak perlu seperti itu, yang mulia; ini dilakukan demi kebaikan bersama.”
***S E L E S A I***
(Diadaptasi dari cerita Dan and the Frog)

Dany dan Katak bag.2

Dany bersama teman- teman kataknya masih di The Ponds. Dan ia sudah mengerti.

“Baiklah, aku mengerti,” kata Dany.

“Senang betemu denganmu, Dany, tetapi James dan aku harus melompat jauh, kami akan menempuh perjalanan yang panjang ke sana,” kata raja katak.

“Ribbit,” James mengiyakan.

Dany diam sebentar, ia melihat mereka pergi sambil pikir- pikir dan akhirnya ia berteriak, “Tunggu, aku ikut!”

“Terima kasih, tetapi ini bukan permasalahanmu nak,” kata raja katak.

“Aku bisa membantu, yang mulia, aku bisa membawamu agar perjalananmu lebih cepat,” kata Dany.

“Ide yang bagus, yang mulia, kita bisa menyusul katak yang lain secepatnya dengan bantuan anak ini,” kata James.

“Tepat sekali, aku sangat berterima kasih untuk bantuanmu yang murah hati, Dany,” kata raja katak. Dany berlutut dan membuka kedua telapak tangannya, satu per satu naik ke telapak tangan, dan ia mulai melangkah ke arah yang ditunjukkan oleh James.

Setelah beberapa lama mereka menempuh jalan yang penuh dengan batu- batuan besar. “Kita sudah semakin dekat,” kata James.

“Tetapi hanya ada batu- batu besar di sini,” kata Dany.

“Mereka ada dibalik batu- batu besar itu,” kata James, menunjuk dengan jari kecil hijaunya yang berselaput.

“Dany, kau bisa menurunkan kami sekarang,” kata raja katak. “Kami akan maju sendiri dari sini, Dan. Tolong sembunyilah di balik batu- batu besar yang lain. Kami akan memanggilmu jika diperlukan,” kata sang raja. Kemudian kedua katak itu melompat jauh dari Dany.

Dibalik batu- batu besar itu para katak bekerja keras, membangun rumah baru katak Rich. “Lebih cepat! Kita tak punya banyak waktu! Jeraminya harus segera disambung sebelum matahari terbenam!” Katak Rich memberi perintah. Ia duduk di tempat yang ia sebut singgasana sambil berteriak- teriak memerintah.

“Semua katak terlihat sangat lelah. Mengapa kau tidak mengijinkan mereka istirahat sementara kita berbincang?” kata sang raja kepada katak Rich serta mendekatinya. “Mereka adalah rakyatku sekarang dan akan kusuruh mereka istirahat pada waktunya. Apa yang kau lakukan di sini,kau sudah memutuskan untuk bergabung denganku?” tanya katak Rich. “Sebenarnya aku datang untuk menjemput rakyatku; mereka akan pulang bersamaku!” perintah sang raja.

Para katak mulai bersorak gembira. “Perintah, perintah!” gerutu katak Rich. “Tidak ada yang pergi, kalian tidak akan pergi kemana pun! Apa kau lupa tentang apa yang terjadi di The Ponds?” lanjutnya. Senyuman tenggelam dari wajah para katak setelah mereka ingat.

“Ya, itu benar; The Ponds tidak seperti yang dahulu. Meskipun begitu, mereka akan merasa bebas bersamaku. Jadi katak Rich, biarkan rakyatku pergi!” kata raja katak. “Tidak, mereka milikku sekarang! Mereka tidak akan pergi!” kata katak Rich.

“Aku tidak akan memaksa lagi, katak Rich, biarkan katak- katakku pergi!” kata raja katak yang mulai marah.

“Ku bilang tidak! Aku akan membuatmu mengerti bahwa kau tidak seharusnya di sini,” kata katak Rich.

Ia bersiul kepada burung hitam yang terbang berkeliling di atasnya. Dengan segera burung itu menatap katak Rich. “Makan mereka, binatang kesayanganku,” perintah katak Rich. Burung itu segera berhenti berkeliling, lalu melihat tajam raj katak dan menukik ke hadapannya.

“Awas, yang mulia!” James berteriak berusaha melindungi rajanya, tetapi terlambat. Burung itu berhasil mendapatkan sang raja dahulu dan dengan kepakan sayapnya ia mengangkat sang raja semakin tinggi dan tinggi ke atas langit.

“Kau sudah lihat akibatnya jika tidak menurutiku? Kembali bekerja! Kau juga James; tidak ada tempat untuk pahlawan.” kata katak Rich.

Tiba- tiba bayangan hitam muncul. Bayangan hitam itu semakin meluas ke seluruh tempat di mana katak- katak berkumpul. “Dia manusia!” para katak berteriak.

“Siapa?” kata katak Rich yang terkejut bukan main. “Tetapi itu tidak mungkin, mereka tidak bisa sampai ke batu- batu besar,” lanjutnya. Dany berdiri di atas katak- katak seolah raksasa, mengambil ketapel dari sakunya.

“Lindungi diri kalian, dia bukan manusia yang baik; dia memiliki senjata!” para katak berteriak ketakutan. Mereka lari kalang- kabut melompat- lompat ke berbagai arah. “Tunggu semua, dia tidak akan melukai kita, dia ke sini untuk membantu kita!” James berteriak mencoba menenangkan rakyatnya…