Morell

Membuat apapun menjadi mudah itu tidak segampang mulut meludah. Sudah dua jam berlalu, Teena terus saja menengok kanan- kiri namun orang yang ditunggunya belum muncul. Dalam kepalanya masih kepikiran hal buruk yang terjadi tadi malam. Ia ingin meminta bantuan orang itu, tetapi masih disuruhnya ia untuk bersabar dan tenang. Dari ujung setasiun, pria bertopi hitam datang dengan membawa sebuah koper kecil berwarna cokelat. Lalu ia duduk di sebelah Teena sambil mengeluarkan sebatang cerutunya.

“Maafkan Saya, ada urusan sebentar tadi,” kata pria itu sambil menyalakan api untuk cerutunya.

“Oh, ya sudah lah. Tidak ada gunanya aku marah karena terlalu lama menunggumu di tempat ini. Jadi, apa Anda bisa melakukannya?” kata Teena setelah agak tenang.

“Hm, jika Nyonya sendiri sudah tenang, kita bisa dengan mudah melakukannya,” pria itu berkata sambil terus mengepulkan asap cerutunya.

“Kau terus saja menyuruhku tenang sementara ini masalah yang sangat serius. Apa yang sebenarnya Kau pikirkan, he?” Teena berkata lirih namun bernada jengkel. “Anda tidak melihatnya secara langsung, Pak. Tidak,” Teena berkata sambil menangis. Ia menutupi wajahnya dengan tangannya. Diusapi air matanya dengan sapu tangan biru sampai kering. Pria itu menatap Teena dengan tidak tega, lalu ia menginjak cerutunya yang sudah habis. Matanya merah karena habis menangis menatap pria itu dengan tajam lalu berkata, “Tolong bantu Saya secepatnya.”

Pria bertopi hitam yang tadinya bersikap tenang kemudian raut mukanya berubah menjadi tegang. Teena pergi meninggalkannya sendirian di setasiun. Masih pagi, namun keramaian orang di tempat itu membuat hari seperti sudah siang. Pria itu mengeluarkan ponsel kecil hitamnya dari dalam koper. Ia menelepon seseorang,

Tuut Tuut…

Halo, Frans. Ada apa?

“Kau ke rumahku sekarang juga,” kata pria yang dipanggil Frans itu dengan singkat dan segera mematikan ponselnya.

Pria itu lalu beranjak dari setasiun dan masuk ke kereta yang sudah ditunggunya. Ia meninggalkan keramaian setasiun Morell karena akan pergi ke kota tempat kelahirannya, kota Marrow.

Di sisi lain, Teena membongkar lemari pakaiannya dan menemukan berkas- berkas penting dari almarhum kakeknya. Ia masih agak panik. Dan masih menunggu bantuan pak Frans yang ditinggalkannya di setasiun tadi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s