Marrow

Teena meneliti satu per satu dokumen penting yang ia dapatkan di lemari pakaiannya. “Ah, ini dia,” kata Teena setelah membaca tulisan AKTA KELAHIRAN di salah satu berkas yang berserakan di meja kerjanya.

Ia dengan segera mencari ponselnya untuk menelepon pak Frans, orang yang ia temui di setasiun Morell.

Tuut… Tuut… Tuut…Tuut… 

Nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Silakan hubungi beberapa saat lagi. Tut.

“Aagh, sial!” PLAKK. Nada kesal keluar dari mulut Teena seraya membanting berkas yang ia bawa. “Seharusnya dia tidak kutinggalkan begitu saja di sana. Ini benar- benar membuat kepalaku pusing. Oh Tuhan, kalau saja aku bisa mengendalikan emosiku padanya,” kata Teena yang tengah menyesali kemarahannya pada pak Frans.

——————————

Kota Marrow, 1972

Tok tok tok,

“Oh, hai, ayo masuk,” kata pak Frans mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumahnya.

“Kau kebiasaan membuatku menunggu lama, Frans. Sudah saatnya kau rubah sifat burukmu itu,” kata tamu itu sambil melepas jaketnya. “Apa kau lupa jarak tempat kerjamu di Berin dengan Marrow sangat jauh, he?” kata tamu itu menambahkan.

“Oke, oke, aku minta maaf, dan sudahi kekesalanmu itu, Rian,” kata pak Frans pada Rian, seorang tamu yang juga rekannya. “Aku buru- buru meneleponmu karena sudah panik. Begitu saja,” katanya dengan tenang.

“Panik? Apa yang sudah terjadi, Frans?” tanya Rian dengan penuh penasaran. “Tunggu, apa kau sudah bertemu dengan calon pengantinmu itu, he? Sehingga kau panik, he…” kata Rian dengan antusias. Ia memang seorang sahabat pak Frans sejak kecil di Marrow. Jika pak Frans terlihat murung, Rian lah yang selalu menghiburnya. Namun kadang ia terlalu usil sehingga keusilannya membuat pak Frans jengkel.

“Hm, sudahlah, Rian. Jangan kau ungkit masalah itu. Kau tidak paham dengan masalah itu juga,” kata pak Frans mencoba mengalihkan apa yang dibicarakan oleh Rian.

Rian diam sejenak. Kemudian ia berkata, “Baiklah, aku diam,” lalu memberi isyarat mengunci mulut dengan jarinya.

“Aku mempunyai masalah yang agak rumit, Rian. Dan aku tidak bisa menyelesaikannya dengan tanganku sendiri. Maafkan aku,” kata pak Frans seraya menundukkan kepalanya. Rian ingin berbicara lagi begitu melihat sahabatnya mengeluarkan air mata. Tetapi ia bisa menahan diri untuk tetap mendengarkan pak Frans. “Sebenarnya masalah itu adalah tugasku tetapi… maafkan aku karena akan melibatkanmu,” kata pak Frans sambil menatap Rian.

“Apa?” kata Rian dengan spontan. “Apa maksudmu, kawan? He…” Rian menjadi agak khawatir setelah mendengar ucapan pak Frans.

Pak Frans menepuk pundak Rian, lalu berkata, “Kau tenang saja, kawan, karena aku hanya meminta bantuan kecil darimu. Besok kita kembali ke Berin dan akan kuperkenalkan padamu seseorang itu,” Pak Frans menyalakan korek api gasnya untuk membakar sebatang cerutunya. Ia menghisap cerutu seperti yang dilakukannya saat di setasiun Morell.

Rian hanya diam dan memandangi pak Frans yang sedang merokok.

Frans merokok? Katanya dalam hati.

“Bagaimana? Kau mau ikut, bukan?” kata pak Frans mengagetkan Rian. Rian masih bingung dan ragu, lalu ia mengambil korek api gas milik pak Franz. “Sejak kapan kau menjadi perokok, pak pengacara?” kata Rian untuk mengalihkan alur pembicaraan.

“He, kapan saja yang kumau. Dan kau juga harus mau,” kata pak Frans sambil menunjukkan cerutunya dan hampir menyentuhkan ujungnya ke hidung Rian. Tiba- tiba dering telepon rumah berbunyi.

“Halo,” kata pak Franz menjawab teleponnya.

Hei, kemana saja, Kau?

“Maaf, Nyonya, saya sedang ada tamu penting jadi tidak sempat menjawab panggilan Anda tadi,”

Pak Frans, saya sudah menemukan akta kelahirannya. Dan besok akan saya perlihatkan kepada Anda. Ingat, apapun yang terjadi, jangan terlambat lagi.

“Baik, Nyonya,” Tut tut tut tut, sambungan telepon terputus. Pak Frans meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Ia kembali ke tempat duduknya, di dekat perapian dan menatap Rian. Dan Rian mengangguk tanda setuju…

Morell

Membuat apapun menjadi mudah itu tidak segampang mulut meludah. Sudah dua jam berlalu, Teena terus saja menengok kanan- kiri namun orang yang ditunggunya belum muncul. Dalam kepalanya masih kepikiran hal buruk yang terjadi tadi malam. Ia ingin meminta bantuan orang itu, tetapi masih disuruhnya ia untuk bersabar dan tenang. Dari ujung setasiun, pria bertopi hitam datang dengan membawa sebuah koper kecil berwarna cokelat. Lalu ia duduk di sebelah Teena sambil mengeluarkan sebatang cerutunya.

“Maafkan Saya, ada urusan sebentar tadi,” kata pria itu sambil menyalakan api untuk cerutunya.

“Oh, ya sudah lah. Tidak ada gunanya aku marah karena terlalu lama menunggumu di tempat ini. Jadi, apa Anda bisa melakukannya?” kata Teena setelah agak tenang.

“Hm, jika Nyonya sendiri sudah tenang, kita bisa dengan mudah melakukannya,” pria itu berkata sambil terus mengepulkan asap cerutunya.

“Kau terus saja menyuruhku tenang sementara ini masalah yang sangat serius. Apa yang sebenarnya Kau pikirkan, he?” Teena berkata lirih namun bernada jengkel. “Anda tidak melihatnya secara langsung, Pak. Tidak,” Teena berkata sambil menangis. Ia menutupi wajahnya dengan tangannya. Diusapi air matanya dengan sapu tangan biru sampai kering. Pria itu menatap Teena dengan tidak tega, lalu ia menginjak cerutunya yang sudah habis. Matanya merah karena habis menangis menatap pria itu dengan tajam lalu berkata, “Tolong bantu Saya secepatnya.”

Pria bertopi hitam yang tadinya bersikap tenang kemudian raut mukanya berubah menjadi tegang. Teena pergi meninggalkannya sendirian di setasiun. Masih pagi, namun keramaian orang di tempat itu membuat hari seperti sudah siang. Pria itu mengeluarkan ponsel kecil hitamnya dari dalam koper. Ia menelepon seseorang,

Tuut Tuut…

Halo, Frans. Ada apa?

“Kau ke rumahku sekarang juga,” kata pria yang dipanggil Frans itu dengan singkat dan segera mematikan ponselnya.

Pria itu lalu beranjak dari setasiun dan masuk ke kereta yang sudah ditunggunya. Ia meninggalkan keramaian setasiun Morell karena akan pergi ke kota tempat kelahirannya, kota Marrow.

Di sisi lain, Teena membongkar lemari pakaiannya dan menemukan berkas- berkas penting dari almarhum kakeknya. Ia masih agak panik. Dan masih menunggu bantuan pak Frans yang ditinggalkannya di setasiun tadi…